Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
Bab 61.Bertemu Calon Mertua.


__ADS_3

Gue tau siapa yang melakukannya...Pikiran Khaffa menerka orang yang sudah berani mengirimi Anayra bunga.


Khaffa merenung memikirkan satu orang sembari fokus menatap jalanan ibukota disore hari sambil tangannya sibuk mengemudi.


Anayra POV.


Ketika diperjalanan menuju ke kediaman keluarganya.Kami berbincang ringan membahas soal bunga yang dikirim untukku ke butik.


Aku terlonjak karena terkejut ternyata bukan dia yang mengirimiku bunga itu.Seketika hatiku bertanya-tanya 'lalu siapa yang mengirimiku bunga kalo bukan dia?'.


Kulihat ekspresi wajahnya sangat serius tengah memikirkan sesuatu selama diperjalanan.


Dag,dig,dug.


Setibanya ditujuan jantungku berdebar tak karuan saat melewati pintu gerbang berpagar luas dan tinggi.Sang petugas dengan sigap membukakan pintu gerbang setelah mengetahui kedatangan mobil sport warna hitam majikannya.


Khaffa memasukan mobilnya ke halaman rumah dikawasan elit.Halaman yang terhampar luas dan indah meskipun pencahayaannya tidak sejelas disiang hari tapi menyuguhkan pemandangan yang indah.


Setelah mobil berhenti didepan garasi,aku dan dia membuka seat belt masing-masing.


"Honey ayo kita keluar!.".Pintanya saat menoleh padaku seraya tersenyum mengajakku keluar dari mobil.


Dan aku diam saja sembari mengatur nafasku untuk menstabilkan detak jantungku.


Dan dia keluar dari mobil ketika melihatku tetap bergeming.


"Apa kamu gugup hon'?.".Tanyanya ketika membukakan pintu untukku kemudian menggenggam tanganku sambil menatapku dengan penuh cinta.


"Iya!,menurutku ini lebih menegangkan daripada naik Roller coaster!.".Sambil menatapnya aku menjawab pertanyaannya dengan konyol hingga membuat dia tergelak.


"Hahaha...Santai saja jangan gugup!.Aku yakin mereka akan menyambut kedatanganmu dengan baik dan menerimamu dengan senang hati.Ayo keluarlah!.".Sambil menggengam tanganku dia menuntunku keluar.


Setelah menutup pintu mobil kami berjalan menyusuri teras rumah sembari bergandengan tangan.Dengan kaki bergetar kuberjalan mengikuti irama langkahnya memasuki rumah yang sudah terbuka pintunya.


Sesampainya didalam mataku tak berhenti menatap takjub seluruh isi ruangan.Seketika aku tersadar perbedaan kami yang sangat kentara sekali.Dia jauh diatasku ibarat langit dan bumi.


Kudengar sayup-sayup suara beberapa orang sedang bercengkrama saat kami akan melangkah menuju ruang tengah hingga langkah kami pun tiba-tiba terhenti dan berdiri dibalik dinding ruang tamu.


"Terima kasih Tante!.Kecantikanku adalah anugerah yang diturunkan dari Mama,iya kan Pa?.".Ucap seorang gadis yang suaranya sangat familiar seperti pernah kudengar.


"Ya benar!,Mama mu memang cantik dan dia mirip sekali seperti kamu saat gadisnya makanya Papa mengejarnya sampai dia bilang 'iya' setelah menolak Papa 7 kali,hahaha...".Jawab seorang pria paruh baya karena dari suaranya terdengar jelas tidak muda.


"Hahaha,beneran Pa?.".Jawab gadis itu lagi.


"Benar Na!.Mama mu salah satu kembang dikampus kami tapi Papamu sangat beruntung karena bisa mendapatkannya!.Om rasa mata mama mu rabun waktu itu sebab dia tidak bisa membedakan mana pria tampan dan mana kutu air,hahaha...".Suara pria paruh baya yang lainnya.


"Hahaha...".Kudengar suara gelak tawa dari yang lainnya.


Khaffa menggengam tanganku menyalurkan kekuatannya sambil menatapku dengan mata berbinar.


"Kamu siap honey?.".Tanyanya seraya tersenyum.


Dan aku mengangguk saja.


"Mmm,tapi sepertinya ada tamu.".Kataku menyela.


"Itu mungkin temannya Papi dan Mami!.Ga pa-pa ayo kita hampiri mereka!.".Ajaknya sambil menggandeng tanganku.


Aku menghela nafas panjang untuk mengumpulkan rasa percaya diriku saat melangkah bersamanya.


Deg.


Tak bisa kuhindari rasa terkejutku hingga langkahku terhenti ketika melihat wajah seseorang yang kukenal.Dia sedang duduk disamping ibunya Khaffa.


Aku menautkan kedua alisku karena terheran dengan keberadaannya disini.


"Assalamu alaikum?.".Sapa Khaffa mewakili mengucapkan kalimat salam disaat lidahku kelu.


"Waalaikum salam!.".Ucap mereka serempak sambil menoleh lalu beranjak berdiri bersamaan.

__ADS_1


Dan dia pun terlonjak kaget tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihatku.Seketika kami saling bertatapan sambil terheran-heran.


Setelah sekian lama akhirnya kami bertemu lagi didalam situasi yang sulit.'Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi disaat aku mau melangkah menuju kebahagiaanku'...Hatiku bertanya-tanya.


"Abang,kamu datang nak?.Kenapa ga bilang kalo mau kemari?.".Ucap ibunya sambil tersenyum dan beranjak lalu menghampiri kami.


Khaffa mengecup pipi ibunya dan aku segera mencium punggung tangannya.Ibunya mengkerutkan keningnya karena terheran melihatku berdiri didepannya.


Keberadaanku disini pasti menimbulkan banyak pertanyaan dihatinya.


"Kenapa kamu ada disini?,apa kalian datang bersama?.Abang kenapa kamu datang bersamanya?.".Tanya ibunya sambil menunjuk wajahku dan menatapku dengan dingin lalu bertanya pada putranya.


Aku semakin gugup dan tegang.Sementara gadis itu masih terheran-heran melihatku disini.Dan kedua pria paruh baya itu tampak kebingungan melihat interaksi kami.


"Mmm...Mi ada yang mau abang sampaikan sama Mami dan Papi!.".Ucap Khaffa sambil memegang kedua tangan ibunya.


"Abang,kemarilah!.".Ucap pria paruh baya yang bisa kutebak adalah ayahnya.


Karena terlihat kemiripan diwajah mereka dengan versi berbeda,muda dan tua tapi sama tampannya.


Khaffa menghampiri sofa dimana ayahnya berada dan aku berdiri terpaku ditempatku sementara ibunya berjalan mengikutinya tanpa memperdulikan aku yang terpaku seorang diri.


Ku membuang nafasku dengan kasar sambil memejamkan mataku.'Beginikah rasanya jadi orang yang ga dianggap?...Batinku menangis sedih dan mataku mulai berkaca-kaca saat menahan gejolak dihatiku.Dengan segera ku menarik nafas dalam-dalam lalu menghempasnya keluar untuk membuang rasa galau dihatiku dan supaya air mataku tidak menetes keluar.


"Abang,kenalkan ini Om Dani dan ini putrinya Sabrina!.".Ucap ayahnya mengenalkan mereka.


"Apa kabar nak?.".Ucap ayah gadis itu sambil mengulurkan tangannya.


"Baik om!.".Jawab Khaffa sambil menyalaminya.


"Bang,ini Sabrina dia cantik kan?.".Ucap ibunya saat berdiri disamping gadis itu sambil merangkulnya.


Ibunya lalu menoleh padaku dan menatapku dengan tajam seraya tersenyum miring.Seolah ingin menunjukkan padaku posisi gadis itu dirumah ini dan dihatinya.


Dan Khaffa hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Honey kemarilah!.".Katanya sambil mengulurkan tangannya saat dia melihatku berdiri jauh dibelakangnya.


Dengan langkah perlahan aku menghampiri mereka yang sedang menatapku.


"Honey,maksud abang apa?.".Tanya ibunya penasaran sambil terkesiap.


Dan Khaffa tampak acuh tidak menjawab pertanyaan ibunya malah menarik tanganku.


''Pi,kenalkan ini Anayra!.Honey,ini Papiku,om Dani dan Sabrina!.".Ucap Khaffa mengenalkan mereka satu-persatu ketika aku berdiri disampingnya.


Sembari membungkuk aku mencium punggung tangan ayahnya lalu ayah gadis itu kemudian bersalaman dengan gadis itu sambil bertatapan dengan dingin.Sikap kami tampak kaku dan acuh tanpa berniat saling menyapa atau berbasa-basi.


"Abang,cepat katakan!.Kenapa kamu mengajaknya kemari dan memanggilnya honey?.".Tanya Ibunya tampak tidak sabar dan penasaran sambil menarik lengannya.


"Karena abang-...".


"Mi jangan begitu!,biarkan mereka duduk dulu!.Ayo kalian duduklah!.".Ayahnya menyela lalu meminta kami untuk duduk.


Aku dan Khaffa lalu duduk berdua disofa dihadapan mereka dibatasi oleh meja.Sementara mereka duduk disofa yang berbentuk huruf L.


Suasana tampak tegang kurasakan ketika mereka mengamati kami berdua lalu kulihat Khaffa menghela nafasnya sebelum berbicara.


"To the poin saja Papi,Mami abang mau menikah dengan Anayra!.".Dengan lantang dan yakin Khaffa mengatakannya hingga membuat semua orang yang duduk dihadapan kami tersentak dan terbelalak.


Aku bergeming dan Khaffa tampak harap-harap cemas menanti tanggapan dari kedua orang tuanya.Tapi tiba-tiba ibunya tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha...Abang,sudah jangan becanda lagi!,akhiri sandiwara mu itu ya!.".Ibunya tampak tidak percaya dengan ucapannya dan hanya menganggap lelucon saja pernyataannya.


"Apa maksud Mami?.".Khaffa bertanya karena tidak mengerti dengan ucapan ibunya.


"Ckkk,ayolah ga usah pura-pura lagi!,hubungan kalian kan cuma settingan!.Dia itu cuma kekasih pura-puramu kan!?.".Sahut ibunya sambil menyilangkan kedua tangannya.


Sontak aku tertunduk lesu sambil mencengkram tasku erat-erat karena merasa malu dan rendah diri.Sementara Khaffa tampak salah tingkah.

__ADS_1


"Abang,kamu pasti sudah tau kedatangan om Dani dan Sabrina kemari kan?.Apa kamu ingat ucapan Mami tempo hari?.".Sambil menatap Khaffa dengan intens ibunya bertanya.


Khaffa tertegun mencerna kata-kata ibunya.


"Sabrina adalah gadis yang akan kami jodohkan sama kamu bang!.".Jelas ibunya.


Glekkk.


Dengan susah payah aku menelan salivaku dan tersentak kaget lalu refleks aku dan Khaffa saling berpandangan.


"Tapi Mi,abang mau menikahi Anayra!.".Khaffa berusaha meyakinkan ibunya saat menoleh padanya.


"Sudah Mami bilang akhiri sandiwaramu!,kamu melakukan ini supaya bisa bebas dari perjodohan ini kan?.".Sentak ibunya kemudian beralih menatapku.


"Hei gadis butik!,beraninya kamu berpura-pura menjadi kekasih anakku dan sekarang berpura-pura menjadi calon istrinya lalu mau menikah dengannya!?.Kamu benar-benar gadis yang kurang ajar dan ga tau diri!.".Sentak ibunya dengan wajah geram.


Khaffa tersentak kaget dan aku refleks menundukkan kepalaku.Sementara yang lainnya hanya mendengarkan interaksi keduanya saja.


"Mi,itu bukan salahnya tapi abang yang salah karena sudah melibatkan dia!.Anayra itu gadis baik-baik ga seperti yang Mami katakan!.".Sanggahnya membela diriku.


Dan ibunya menyeringai sambil bergumam.


"Hmhhh,kalo dia gadis baik-baik mana mungkin dia berani menginap di rumah pria yang bukan muhrimnya!.".


Deg.


Sambil mendongak sontak kupegang dadaku karena jantungku terasa ditusuk oleh sembilu dan hatiku seperti diiris-iris.Dan Khaffa sontak menoleh padaku lalu menggenggam tanganku.


"Itu semua ga disengaja karena ada alasannya!.Mami salah paham jadi jangan memojokkan dia terus!.".Khaffa berargumen.


Dan ibunya memutar bola matanya.


"Alasan aja!,kamu membelanya karena dia mau membantumu untuk menggagalkan rencana kami kan?.".Kilah ibunya berasumsi.


"Cukup,sudah cukup!.Apa kalian ga malu berdebat didepan tamu kita?.Mas,maafkan anak dan istriku ini!.".Dengan tegasnya ayahnya angkat bicara melerai pertikaian antara istri dan anaknya lalu meminta maaf pada ayah gadis itu.


"Tidak apa-apa!.Kami yang salah karena sepertinya kami datang diwaktu yang tidak tepat jadi mungkin lebih baik kami pulang saja!.Ayo Na kita pulang!.".Ucap ayah gadis itu lalu bangkit berdiri bersama gadis itu.


"Tunggu!.".Ibunya mencekal lengan gadis itu sambil berdiri.


"Sabrina,Tante mau tanya apa kamu mau dan bersedia dijodohkan dengan Khaffa?.".Tanya Ibunya penasaran sambil memegang tangannya.


"A-aku...".Gadis itu menatapku sekilas lalu memalingkan wajahnya ketika aku menatapnya dengan tajam.


Sembari menggedikkan bahunya gadis itu berkata."Eentahlah tante!.Kalo dilihat dari situasi saat ini ga mungkin aku bisa menjawabnya!,dan benar kata Papa sebaiknya kami pulang aja!.".Gadis itu berargumen sambil menatap ibunya Khaffa.


Dan ibunya Khaffa menganggguk mengiyakan.


"Baiklah,mungkin sebaiknya begitu mas!.Nanti kukabari lagi dan sekali lagi maafkan aku!.''.Ayah Khaffa menyetujui pendapat mereka karena situasi saat ini mulai tidak kondusif.


Sambil mengangguk dan tersenyum ayah gadis itu berkata."Tenang saja!,aku memakluminya karena posisi kita sama sebagai seorang kepala keluarga.Selesaikan dulu urusan keluargamu baru urusan kita!.Baiklah,kami pergi dulu!.".Ucap ayah gadis itu lalu menjabat tangan ayah dan Ibunya Khaffa.


Disusul gadis itu dan ibunya saling cipika-cipiki lalu menyalami ayahnya Khaffa kemudian menatapku sekilas ketika la melangkah pergi bersama ayahnya.


Sepeninggal kedua orang tuanya duduk kembali dihadapan kami yang tetap bergeming duduk disofa.


"Ekhm...Abang sekarang jelaskan yang sebenarnya!,apa alasanmu membawanya dan mengajaknya kemari?.".Ayahnya membuka topik pembicaraan.


"Papi,Mami,abang mau mengenalkan Anayra sebagai calon istri abang yang sebenarnya bukan seperti yang Mami tuduhkan!.".Ungkapnya dengan serius.


"Halahhh,mana mungkin Mami percaya gitu aja setelah apa yang kalian lakukan kemarin!.".Sambil geleng-geleng kepala ibunya berkata-kata.


"Tapi ini benar Mi,abang udah bicara sama kedua orang tuanya kemarin malam!.".Jelasnya terus meyakinkan ibunya.


Sembari mengibaskan tangannya ibunya berkata."Omong kosong!,kenapa kamu ga cerita apapun soal itu sebelumnya pada kami?.".Lalu melipat kedua tangannya.


"Maaf kalo abang ga diskusikan soal ini lebih dulu sama Papi dan Mami sebab semua terjadi begitu mendadak dan cepat!.Abang mohon mengertilah Pi,Mi'!.".Sambil mengatupkan kedua tangannya Khaffa memelas.


"Ughhh,kepala Mami jadi pusing!.Lebih baik Mami tidur saja!.".Sambil memijat pelipisnya ibunya mengeluh lalu beranjak berdiri kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2