
Rumah kediaman keluarga Al Devandra.(Google)
Suasana di pagi hari tampak cerah seolah menyambut kedatangan mereka.Sinar mentari menyapa alam dengan ramahnya.Udaranya pun sangat sejuk saat Daniel dan orang tuanya tiba dirumah kediaman keluarganya.
Tinnn.
Penjaga pintu sigap membuka gerbang saat terdengar suara klakson mobil,itu tanda sang majikan datang.Dua mobil masuk beriringan ke pelataran rumah.
Daniel menepikan mobilnya didepan garasi.Al sigap turun untuk mengeluarkan kursi roda Lenni dari bagian belakang mobil.Perlahan Lenni keluar dituntun Al untuk menduduki kursi rodanya.Daniel sudah standby diluar lalu mendorong tubuh ibunya dikursi roda menuju teras rumah.Al mengambil tas ransel di jok belakang mobil.Sedangkan Andika masih didalam mobilnya.
Al yang tak melihat Andika menghampiri dan mengetuk kacanya."Kau tidak turun Dika?.".Saat Andika perlahan menurunkan kaca mobilnya.
"Tidak.Kutunggu disini saja.Sepertinya Rena sakit dan mau pulang!.".Dalih Andika.
Saat diperjalanan,Rena menghubungi Andika,setibanya Lenni dirumah akan langsung pulang tak enak badan.Rena dan Khaira berangkat bersama kerumah Al pagi-pagi sekali tadi.
"Baiklah,aku mengerti.".Al kembali menuju Daniel dan Lenni.
Khaira dan Rena keluar dari rumah itu dan berdiri diteras menyambut Lenni saat terdengar suara klakson mobil.
"Selamat datang Bunda!.".Khaira menyambutnya hangat dan merentangkan tangannya.
Membungkuk dan memeluk Lenni yang dianggap ibu keduanya.Saat masih kecil Khaira sering diasuh Lenni jika Rena sibuk dan repot mengurus keperluan Khaffa.
"Selamat datang kembali dirumah,mbak.".Rena menyalami Lenni.
"Terima kasih.Ayo kita masuk!.".
Namun Rena menolak ajakan Lenni."Maaf!.sepertinya aku harus pulang.Kepalaku terasa pusing dan tidak enak badan.Mungkin gejala flu dan masuk angin.".Ujar Rena lemah dan memeluk tubuhnya sendiri.
Syal tebal melilit dileher Rena dan mengenakan sweater tebal.Hidung Rena tampak kemerahan efek bersin-bersin terus.Rena memaksakan pergi ke rumah Al untuk membantu persiapan disana,padahal sejak bangun tidur sudah merasakan sakit dan ngilu.Dari lubang hidungnya pun mengeluarkan cairan bening dan kental.
Lenni menjadi merasa bersalah dan beranggapan Rena sakit karena dirinya."Ya ampun,kamu pasti kerepotan disini untuk menyambut ku.Baiklah,istirahatlah dirumah mu!.Semoga lekas sembuh!.".
"Terima kasih.Aku senang mbak pulang,tapi maaf tidak bisa tetap disini.".Rena merengut sedih.
Dengan bijak Lenni menanggapi dan memakluminya."Sudahlah,tidak mengapa!.Khai',bagaimana denganmu?.".Menatap seraut wajah gadis yang dianggapnya seperti putri sendiri.
Lenni tak memiliki anak perempuan sehingga sangat mengharapkan kehadirannya.Tetapi kondisinya tak memungkinkan karena kandungannya sangat lemah hingga tak bisa hamil lagi.Belum lagi kondisinya fisiknya yang rentan dan sederet penyakit lain yang dideritanya.
Tiba-tiba Khaira memelas sedih dan merajuk."Bundaaa,sepertinya aku harus pergi.Ada telpon dari kantor,ada masalah disana.".Menatap Lenni penuh penyesalan sebab tak bisa tetap disana.
Sebenarnya Lenni agak kecewa dihari kepulangannya dari rumah sakit,rumahnya pasti akan terasa sepi tanpa mereka.Tetapi apa mau dikata dan terpaksa mengijinkannya pergi.
"Pergilah Khai!.Bunda mengerti.Sepertinya kerja mu bagus dan sangat diandalkan sebagai wakil kakakmu.".Lenni dengan penuh pengertian.
Menatap Khaira yang berdiri dihadapannya dan tersenyum bangga atas prestasi yang diraihnya.Kerja kerasnya ternyata membuahkan hasil yang maksimal.Semua tak menduga Khaira akan secepat itu bisa berhasil dalam mengerjakan tugasnya,padahal sebelumnya sangat meragukannya.
Khaira seperti ditaburi bunga-bunga mendapat pujian dari Lenni."Sepertinya begitu,hahaha...".Tertawa keras saking senangnya."Bunda aku janji,sepulang kerja nanti akan mampir kemari.Ok!?.".Membentuk huruf O jari tangannya.
Lenni tersenyum tipis melihatnya dan berkata."Terserah padamu Khai',jangan memaksakan diri jika lelah.Kalian menyambutku disini sudah cukup membuatku senang.".
"Baiklah,kami pergi dulu!.".Rena mencium pipi kanan kiri Lenni dan Khaira mencium punggung tangannya.
Rena menyalami Al dan merangkul Daniel sejenak."Jaga Mama mu baik-baik,jangan membantah dan melawannya.Turuti kemauan nya dan jadilah anak yang baik.".Rena berbisik pelan ditelinga Daniel.
Dibalas anggukan pelan kepala Daniel dan tersenyum samar."Terima kasih,Tante.".
Usai itu keduanya pamit."Assalamu alaikum.".Salam Rena dan Khaira.
__ADS_1
"Waalaikum salam.".Sahut Daniel dan orang tuanya.
Daniel,Lenni dan Al memandangi keduanya.Rena masuk kedalam mobil yang Andika tumpangi dan Andika pun sudah menunggunya dikursi kemudi.Sedangkan Khaira menuju mobilnya sendiri yang ada disisi kiri halaman.
"Khai',take care and good luck!.".Seru Daniel mengacungkan jempolnya sebelum Khaira masuk kedalam mobilnya.
"Thanks!,aku pergi.".Khaira melambaikan tangannya kearah Daniel dan masuk ke mobil.
Mobil Andika dan Khaira keluar beriringan.Akhirnya tinggal mereka bertiga disana.Daniel mendorong Lenni lagi dan Al mengikuti dibelakang sembari menenteng tas ransel.
"Mama mau makan sesuatu?.".Tawar Daniel sesampainya diruang tengah.
"Tidak,Mama mau seorang menantu?.".Balas Lenni dengan serius tanpa ada raut wajah bercanda.
Lenni tersenyum tipis sesudah mengatakannya dan mengalihkan pandangannya menatap televisi besar yang dinyalakan Al.
Daniel berdiri di belakang Lenni terdiam seribu bahasa.Tak mampu berpikir apalagi berkata-kata.Dihempaskan tubuhnya disofa sembari membuka jas kasual warna kremnya yang dipadukan celana panjang hitam dan kaos hitam polos.Jas itu diletakkan disampingnya.Daniel menghela nafas panjang untuk melepaskan rasa sesak yang menekan dadanya,akibat dari perkataan Lenni.
Mustahil dan tak mungkin.Kemauan ibunya sangat berat dan sulit bagi Daniel.Tak mungkin bisa dikabulkan Daniel dan mustahil diwujudkan hari ini atau esok hari.Tetapi bukannya tak mau,melainkan bingung harus menikahi gadis yang mana?.Jangankan calon istri,kekasih saja tak punya.Apalagi harus menikah dan memberikan menantu untuk ibunya.
Namun jikalau gadis-gadis yang pernah dikencani Daniel tak terhitung lagi jumlahnya.Kendati demikian,Daniel tak pernah berniat untuk menjadikan salah satu dari mereka kekasih apalagi istri.Jelas saja,Daniel hanya ingin bersenang-senang dan memuaskan hasratnya bersama mereka.Tanpa menyimpan bibit benih generasi penerusnya dirahim gadis-gadis itu.Tetapi itu dulu dan tidak masa sekarang.Daniel sudah sadar dan insyaf,entah terlambat atau tidak namun Daniel sudah banyak berubah.
Sejak jatuh cinta pada Anayra,Daniel sudah membuang kebiasaan buruknya itu.Dalam hatinya bertekad takkan pernah bermaksiat lagi,takkan melakukan zina dan menyentuh minuman keras lagi.Namun ternyata takdir berkata lain.
Al yang mengerti suasana hati Daniel tak bergeming."Sebaiknya Mama istirahat dikamar!.Mama pasti merindukan kamar kita kan?.".Mendorong Lenni menuju kamarnya yang ada dilantai bawah,kamar utama diarea ruang tengah.
Lenni berbaring di tempat tidur dan Al menyelimutinya."Tidurlah yang nyenyak dan tenang disini.Papa akan suruh Mbak Nengsih nanti membuatkan makanan manis,lembut dan enak untuk Mama.".Mengusap puncak kepala Lenni penuh kasih sayang.
Tak ada jawaban,hanya anggukan kecil dari Lenni.Al meninggalkan Lenni dan keluar dari kamar.Menatap sesaat wajah Lenni ditempat tidur yang sudah terpejam dan pelan-pelan menutup pintunya.
Kini perhatian Al fokus pada Daniel.Sebagai seorang ayah,Al bisa menebak isi hati dan pikiran Daniel.Maka dari itu tak mau membuat Daniel tertekan jika Lenni membahas panjang soal itu.Al tahu jika Daniel tak memiliki kekasih dan calon untuk dijadikan istri.Selama ini Daniel tak pernah membawa satu gadis pun kerumah dan dikenalkan padanya dan Lenni serta sanak saudaranya.
Daniel merebahkan tubuhnya di sofa berbentuk leter L atau sofa multi fungsi.Kepalanya disangga bantal sofa dan memainkan remot tv ditangannya.Mengganti-ganti salurannya tanpa niat menonton acara televisi itu.Mata Daniel menatap hampa tv LED besar itu dalam posisi terlentang dan sepatu masih terpasang dikakinya.
Al menepuk bahu Daniel."Sudahlah,jangan dipikirkan.Lupakan kemauan Mama mu tadi.".Tak tega melihat Daniel melamun terus."Tapi Papa penasaran,Abang adakah niatmu untuk menikah dan memberi kami cucu?.".Sangat hati-hati mengatakannya karena takut Daniel tersinggung.
Al sebenarnya berat bertanya soal itu,tetapi karena penasaran dan ingin tahu isi hati kecilnya.Apalagi saat melihat Lenni sangat berharap agar Daniel segera menikah.
Ditanya begitu Daniel tersenyum kecut."Menurut Papa,masih pantaskah aku menikah dan memiliki istri?.Masih adakah yang mau menerima pria brengsek seperti ku?.".Tanpa menoleh pada Al,dan menatap langit-langit yang tinggi diruangan yang luas itu.
Seakan Daniel putus harapan dan tak memiliki masa depan seiring perlakuan tak senonohnya yang melecehkan Alma.Daniel mulai sadar,jika tak semua gadis yang rela menyerahkan dirinya sendiri untuk dijadikan budak pemuas nafsunya.
Alma yang sangat mempertahankan harga dirinya saat akan direnggut kesuciannya oleh Daniel.Walaupun tak berhasil dan akhirnya Daniel yang menang bisa menerobos dinding lembut Alma.
Anayra yang sangat sulit ditaklukkan hatinya oleh Daniel sebelum dinikahi Khaffa.Lebih memilih Khaffa dan melabuhkan cintanya padanya.Ternyata pesonanya tak menggoyahkan hati Alma dan Anayra.
Al tertawa renyah mendengar perkataan Daniel yang seolah putus asa,takkan dicintai dan mendapatkan jodoh."Hahaha...Mana putra hebatku yang dikenal Don Juan sejati tampan dan kaya,cerdas dan sukses itu?.".
Daniel langsung terperanjat duduk dan mendesah kesal."Ahhh,Papa.Itu pujian atau hinaan?.Lagi pula dari mana Papa tau itu?.".Menatap Al dengan wajah penasaran.
"Itu ledekan bukan hinaan!.Itu bukan rahasia lagi dihotel.".Al menyeringai menatap putranya yang memiliki julukan Don Juan sejati dihotel.
Sebenarnya Al merasa risih mendengarnya,tetapi kabar itu sudah santer terdengar dan tersebar luas.Al tak bisa berbuat apa-apa selain diam.
Daniel tak terkejut sama sekali mendengarnya dan tersenyum miring.Akhirnya kabar itu sampai juga ke telinga ayahnya,dan tak bisa menyembunyikannya.Tak bisa menutup mulut orang yang menyebar berita itu dan tak bisa menyalahkan mereka.
"Sama saja,bagiku itu hinaan.".Daniel menyanggahnya.
"Baiklah,anggap saja itu cibiran dan lelucon.".Al.
"Lebih buruk lagi,kurasa.Selera humor Papa payah.".Daniel merengut dan menghela nafas kesal.
__ADS_1
"Kau seperti anak kecil tidak diberi uang jajan saja.".Al menggodanya dan geleng-geleng kepala melihat bibir Daniel yang meruncing kedepan."Nak,kau ingat dan mendengar Mama mu berkata apa?,sewaktu melihat Alma dijalan?.".Lanjut Al bertanya.
Daniel ingat itu tetapi mengelak dan menyangkalnya."Entah Pa,aku lupa?.Memang apa yang dikatakan Mama?.".Menggedikan bahunya dan memilih membuka salah satu toples dimeja berisi cemilan ringan favoritnya,keripik singkong berbentuk zig-zag dan berasa manis pedas.
Daniel melahap dan mengunyahnya tanpa hirau jika Al tengah menatapnya penuh arti.Al sudah tahu jika Daniel berbohong dan mendengarkan perkataan Lenni.Jelas dan keras sekali Lenni mengatakannya,Al saja yang pendengarannya sudah mulai kurang baik bisa mendengar itu.Apalagi Daniel yang masih normal,masih muda,sehat dan segar bugar.
Namun Al mengingatkan lagi.".Mama mu seperti nya tertarik pada Alma untuk dijadikan menantu,dan...lstri mu.Apa Abang berpendapat sama,dan mau menikahi Alma?.".Dengan raut wajah penasarannya.
Daniel tak terkejut namun terhenyak saat mendengar kata 'menikahi Alma."Entahlah,aku tidak tau!.".Daniel menggedikkan bahunya lagi.
Kata-kata yang membingungkan Al,tetapi Al tak menyerah dan terus menghasut Daniel."Papa pikir itu ada benarnya.Anggaplah untuk menebus dosa dan kesalahanmu kemarin.Selain itu,untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu.Bukankah itu bagus demi menjaga nama baik mu dan kehormatan Alma?,mengingat kondisi Alma sekarang sudah...".
Daniel langsung menoleh menatap tajam Al dan menyelanya."Bukan gadis suci lagi,itu yang mau Papa katakan?.".Meneruskan kalimat yang ingin dikatakan ayahnya.
Al terdiam,memandang kebawah dan tak menyangkalnya.Memang benar itu yang mau dikatakan Al.Tetapi dalam lubuk hatinya,Al sangat berharap sama seperti Lenni,jika Alma bisa menjadi istri Daniel dan menjadi menantunya.
"Aku tau aku salah,Alma begitu karena perbuatanku.Aku tau jika Alma gadis baik dan,cantik.".Daniel membayangkan wajah Alma.Tetapi kecewa,tak pernah melihatnya saat tersenyum."Tapi,apa dia mau bersanding dengan ku,dan mau menerimaku sebagai suami?.Setelah yang aku lakukan padanya?.".Merasa putus asa dan tertekan.
Daniel tak yakin dan tak percaya diri jika Alma mau menerima jika Daniel melamarnya.Menganggapnya suami jika sudah menikahinya dan memandangnya baik.Alma pasti akan menatapnya penuh kebencian dan jijik jika benar itu terjadi,menurut pemikiran Daniel.
Al duduk disamping Daniel."Mungkin saja itu benar,tapi bisa juga dugaan mu salah.Akan tetapi,apa salahnya dicoba?.Diterima atau tidak,itu masalah nanti!.Bagaimana menurut mu?.".Al meyakinkan dan merangkul pundaknya.
Berusaha mendesak terus Daniel.Sangat berharap untuk bisa meminang Alma menjadi menantunya,sama halnya dengan Lenni.Al berpikir,Alma sangat cocok untuk menjadi istri Daniel.
Al jatuh hati pada kebaikan Alma yang menanggapi keluh kesahnya.Bersikap bijaksana dan berpikir dewasa,selain itu Alma tampaknya gadis yang ramah dan periang.Sifat Alma sangat mendominasi Daniel yang dingin,acuh dan datar.
"Entahlah!.".Kata itu ketiga kalinya meluncur dari mulut Daniel.
Daniel bangkit berdiri dan berjalan dengan menenteng jasnya,menaiki tangga menuju kamarnya dilantai atas.Menuju kamar mandi dan membuka pakaiannya.Membersihkan dirinya dibawah kucuran air shower.Menyeka tubuhnya dengan sabun beraroma menenangkan.Membilas rambut menggunakan shampo,dan menyiram seluruh tubuh atletisnya dan berkulit putih.
Al duduk termangu dan merenung disofa sembari menghela nafas berat."Kuharap dia mau mempertimbangkannya.Sepertinya ini kesempatan emas dan alasannya sangat kuat.Kurasa harus turun tangan sendiri dan bertindak cepat.".
Al berdiri dan berjalan menuju dapur mencari ART nya."Mbak Nengsih...".Tetapi tak ada sahutan darinya.
Hanya ada Dini anak Mbak Nengsih berusia remaja yang tengah sibuk mencuci piring.Dini baru lulus sekolah dan sekarang membantu ibunya sembari menunggu masuk kuliah yang dibiayai Al.Sebagai balas budi,Dini ikut membantu pekerjaan ibunya dirumah itu.
"Dini,mana ibumu?.".Al berdiri didekat pintu dapur.
Dini menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke samping kanannya."Belanja ke pasar membeli sayuran dan buah-buahan Pak besar.".Dini menatap pria yang semakin menua wajahnya.
Dini memanggil Al 'Pak besar',berbeda dengan Nengsih yang memanggilnya 'Tuan besar'.
"Jika ibumu kembali,buatkan puding untuk ibu besar!.".Al memintanya dengan lembut.
"Baik Pak besar.".Dini mengangguk hormat dan meneruskan aktivitasnya setelah Al berlalu pergi.
Di Mall.
Alma dan ketiga juniornya berjejer rapi duduk disofa yang ada di butik usai sarapan bersama.Tadi pagi saat tiba di butik langsung menyantap makanan yang dibawa Alma dari rumah.
"Terima kasih,Mbak.Nasi gorengnya mantap.".Melly mengacungkan jempolnya keatas sehabis makan.
Ini hari pertama Alma kerja lagi,maka tak ayal membuat juniornya senang."Senangnya mbak Alma kembali kerja.Tapi sayang,mbak Anayra sepertinya gak berniat kerja lagi.".Santi dengan girangnya,lalu menekuk wajahnya.
Santi sedih tak melihat Anayra lagi dibutik dan tak bisa bersama-sama menghabiskan waktu kerjanya dengan Anayra.
Sejak menikah,Anayra belum kerja lagi.Entah mengundurkan diri atau tidak namun belum ada kabar yang pasti.Lulla pun belum mendapat surat pengunduran diri resmi dari Anayra,atau berbicara langsung menghadap Lulla untuk 'resign'.Tetapi Lulla santai saja dan tak memikirkan hal itu.Lulla memahami posisi Anayra,setahunya Anayra tengah hamil saat ini.
Entahlah,Anayra belum mau mengklarifikasi soal itu.Padahal sangat berpengaruh pada nama baiknya sendiri.
Dea selalu menukas kata-kata Santi dan Melly,jika menurutnya konyol atau salah."Ya iyalah!.Secara,mbak Anayra sekarang gak selevel kita lagi,istri CEO disini.".Mengingat posisi Anayra sekarang."Hahhh...".Menghela nafas berat."Sepertinya kita akan dilupakan begitu saja.Mungkin yang paling terburuk,gak diakui dan gak dianggap lagi.".Dea beranjak berdiri dan menuju meja Kassa nya untuk bersiap.
__ADS_1
Benar adanya dan tak dipungkiri Alma.Tetapi Alma sangat paham benar sosok Anayra seperti apa dan sangat mengenal baik karakternya."Asumsimu berlebihan Dea.Anayra gak mungkin seperti itu.".Menggelengkan kepala menyangkal prasangka buruk Dea."Mungkin belum dapat ijin dari suaminya untuk kerja lagi.".Membela dan memberikan kesan baik tentang Anayra.
Alma bangkit dan melenggang menuju meja kerjanya.Santi dan Melly bersiap diri berdiri didekat pintu masuk butik seiring terdengarnya melodi 'jingle',lagu pengiring pembukaan Mall.Dua gadis manis itu membenahi penampilannya dan menyunggingkan senyum manis saat customer datang.