Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
119.Getar-getar Cinta.


__ADS_3

Dikediaman Al.


Lenni menghampiri Daniel dikolam renang yang biasanya menghabiskan waktunya dengan berenang di pagi hari,dengan membawa kimono handuk warna putih dan segelas wedang jahe merah hangat di kedua tangannya.


Daniel yang tengah asyik membelah air di kolam renang dengan kepakan tangannya,menepi ke pinggir saat melihat ibunya berdiri di tepi kolam itu.


"Jangan terlalu lama,kamu sudah menghabiskan waktu lebih dari satu jam disini.".Lenni menyerahkan kimono itu pada Daniel yang tengah menaiki tangga kolam.


"Berenang bisa menenangkan hati dan pikiran ku.".Daniel meraih kimono nya dan memakai nya,menutupi tubuh nya yang mengenakan celana pendek ketat saja.


Berenang memang menjadi pelarian Daniel untuk menenangkan hati dan pikirannya setiap menghadapi masalah,selain berolahraga untuk kesehatan tubuhnya.Tetapi tak acap kali berenang,kadang menghabiskan waktunya dengan gym.


"Mama pasti tau,apa yang ku pikirkan dan yang ku rasakan saat ini!?.".Daniel duduk dikursi taman yang menyatu dengan kolam renang itu,dan meraih gelas dari tangan ibunya yang ikut duduk disampingnya.


Kejadian semalam,telah menyita pikiran Daniel.Hatinya tak tenang dan pikirannya bercabang-cabang memikirkan Alma dan calon bayi mereka.


"Itu sebabnya Mama kemari.Mama tidak bisa tidur nyenyak semalaman.Lihatlah!,mata Mama juga sembab.".Lenni menunjuk kantung mata nya yang membengkak dan diperlihatkan pada Daniel.


Tanpa dijelaskan Lenni secara gamblang.Daniel bisa tahu dan bisa menebaknya.lbunya pasti menangis terus menerus karena sesuatu yang terjadi tadi malam.


"Mama terlalu dramatis.".Daniel tersenyum masam dengan ulah ibunya yang menanggapi sikap Alma terlalu dramatis,hingga bersimpuh dihadapan Alma.


Cibiran Daniel ditanggapi Lenni biasa saja dan tak hirau."Bagaimana dengan mu?.Apa yang kamu pikirkan tentang ini?.".Usai kejadian semalam,Lenni belum tahu tanggapan Daniel dan bagaimana cara Daniel menyikapinya sekarang ini.


Pasalnya saat tiba dirumah tadi malam,mereka langsung masuk ke dalam kamarnya masing-masing,dan tak membahas panjang soal itu lagi.


"Apa mau Mama,dariku?.".Daniel balik bertanya meskipun bisa menebak jawabannya,sekedar memastikan saja,siapa tahu ibunya berubah pikiran.


"Tentu saja,kamu tetap harus menikahi Alma!.Mama tidak pernah berubah pikiran.".Tandas Lenni dan bersilang tangan.


Daniel kecewa dan tersenyum getir.Keinginan ibunya sangat gigih sekali,ingin melihatnya menikah dengan Alma,dan tetap bersikeras mempertahankan Alma untuk dijadikan menantunya.


"Berhentilah berharap!,Mama.Sudah jelas dia menolak ku,lagi!.".Daniel menghela nafas saat teringat penolakan Alma yang kedua kalinya.


"Lagi?.".Lenni mengernyit heran akan kata 'lagi' yang diucapkan Daniel,itu artinya Daniel menyatakan pernah ditolak Alma."Abang pernah memintanya untuk menikahinya?,dan ditolak?.".Tak pernah menyangka,Daniel pernah melakukan itu tanpa sepengetahuannya.


"Hemh.".Tanpa ragu Daniel mengangguk mengiyakan,menampilkan ekspresi wajah jika hatinya tengah kecewa dan bersedih saat ini.


Lenni terenyuh dan merasa iba,putra tampan dan semata wayangnya ini yang dikenal playboy,bisa merasakan patah hati juga.


Meskipun Lenni tak pernah sekalipun melihat Daniel membawa gadis manapun kerumah,namun kabar itu sampai ke telinga nya dari Al,suaminya sendiri.


Pelan-pelan Lenni menepuk-nepuk punggung Daniel."Jangan putus asa!,Mama yakin kali ini Alma tidak akan menolak lagi.Dia sedang berpikir saja.".Menatap wajah putranya yang ditekuk.


Lenni berusaha menyemangati Daniel,meskipun dirinya sendiri merasa galau saat ini.Ucapan Alma semalam masih terngiang di telinga Lenni yang meminta memberinya waktu untuk berpikir.Dari ucapan Alma itu,Lenni berasumsi sendiri jika masih ada kesempatan dari Alma,untuk menerima Daniel,dan mengabulkan permintaannya untuk menikah dengan putranya.


Daniel tertegun,kala memikirkan sesuatu."Bagaimana jika kali ini aku yang menolak?.".Menyeruput minuman hangatnya perlahan,dan seketika tubuhnya yang menggigil kedinginan terasa hangat.


Daniel tak yakin dengan dirinya sendiri akan mampu meyakinkan hati Alma.Sungguh luar biasa sakit hatinya kala mendengar penolakan Alma tuk kesekian kalinya,dan tak siap mendengar kata itu lagi.Maka,lebih baik mundur sebelum perang daripada menerima kekalahan dan kekecewaan lagi nantinya.


"Lebih baik kamu mendekam lagi disel tahanan!.".Lenni menegaskan itu.


"Aku takut Alma tidak menerima ku.Lebih baik aku mundur!.".Daniel merasa putus asa dan patah semangat.


Lenni berdecak tak percaya,belum apa-apa nyali Daniel sudah menciut duluan dan menyerah."Itu artinya,kamu sedang menggali tanah untuk kuburan Mama mu ini!.".Itu senjata yang cukup ampuh untuk membuat Daniel tak bisa mengelak dan menghindar,menurut Lenni.


"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain.".Daniel menghela nafas pasrah mendengar ucapan ibunya yang terasa menusuk ulu hatinya,dan jika sudah begitu,dirinya tak bisa memilih jalan lain selain menuruti keinginan ibunya ini.


Seulas senyum menghiasi wajah Lenni,ucapannya berhasil membuat Daniel terpojok."Tepat sekali!.lni keputusan akhir Mama.".Lenni tersenyum penuh kemenangan,akhirnya bisa meluluhkan hati Daniel.


"Mama egois!.".Daniel merasa tertekan dan mengacak-acak rambutnya yang basah.


Daniel paham akan maksud dibalik ucapan Lenni.Keputusan ibunya ini tak bisa diganggu gugat lagi,dan tak bisa dibubah lagi.


"Ini demi kebaikan kita semua,termasuk calon generasi penerus mu.".Dengan penuh rasa sayang,Lenni merangkul pundak putra kesayangannya.


Bukan tanpa alasan Lenni menunjukkan sikap egois nya itu,dan bukan hanya memikirkan dirinya sendiri.


Daniel seketika termenung kala Lenni membahas soal jabang bayi yang ada di rahim Alma."Itu yang mengusik pikiran ku saat ini.".Harapan Daniel sangat besar untuk bisa melihat wajah darah dagingnya sendiri jika ditakdirkan terlahir ke dunia."Tapi,bagaimana caranya untuk bisa meyakinkan Alma?.".Rasa ragu dan putus asa menghantui pikirannya.

__ADS_1


"Pikirkan sendiri!,kamu lebih pintar dari Mama.".Lenni yakin,Daniel bisa melakukannya mengingat otak putranya yang jenius dan pintar.


Daniel tak memungkiri itu,tetapi bingung harus berbuat apa?."Aku ragu.Gadis itu keras kepala dan kasar.".Seringnya berinteraksi dengan Alma dari jarak dekat,hatinya menjadi rancu setelah mengenali karakter Alma.


"Dia tidak sekeras dan sekasar yang kamu lihat.Dibalik sikap kerasnya,ada kelembutan dan kebaikan.Mama bisa melihat itu diwajahnya.".Lenni menepis anggapan Daniel.


Sebagai sesama wanita,Lenni memiliki hati nurani dan naluri yang sama dengan Alma.Belum lagi,teringat akan Alma yang menunjukkan perhatiannya dan rasa pedulinya pada orang lain,kala Alma menanggapi keluhan Al.Sewaktu Al menghiba dan memohon lkebebasan Daniel saat masih dipenjara,demi keselamatan dirinya.


"Kurasa Mama sangat mengenal Alma dengan baik,daripada aku!?.".Daniel merasa kalah,padahal dirinya pernah berjuang keras untuk mendapatkan perhatian Alma dan pernah berusaha untuk menaklukkan hati Alma.


Lenni tersenyum bangga."Tentu!.".Itu mudah baginya,tanpa harus bersusah payah mencari tahu dari orang lain atau dari orang terdekat Alma."Setahu Mama,Alma memiliki hati yang mulia dan penyayang.Dia tidak akan tega melihat orang lain bersedih.".Sumber informasi itu tak lain adalah Al,ayah Daniel sendiri.".Mama yakin,dengan akting Mama kemarin,Alma pasti memikirkan keadaan Mama sekarang ini.".Merasa yakin akan hal itu,Lenni tersenyum dengan penuh percaya diri.


Lenni yakin jika Alma pasti akan bersedia mewujudkan keinginan nya yang diutarakan pada Alma tadi malam.Matanya menerawang jauh dan geleng-geleng kepala tatkala mengingat lelucon konyol nya semalam yang berakting dengan dramatisnya dihadapan Alma.


Fyuhhh.


Daniel yang tengah meneguk minumannya,hampir saja tersedak dan menyemburkan minuman nya hingga keluar lagi dari mulutnya.


"Sulit ku percaya.".Menggeleng-gelengkan kepala dan melongo tak percaya,tak habis pikir dengan tingkah laku ibunya ini."Mama berakting sangat baik dan meyakinkan,hingga mampu mengelabui semua orang,ck,ck,ck.".Dan hingga mengundang decak kagumnya."Aku salut,and l'm proud of you!,Mom.".Menatap ibunya dengan terkagum-kagum.


Sungguh,Daniel tak menduga dan tak curiga sama sekali,ternyata drama yang ditunjukkan ibunya tadi malam didepan orang banyak,hanyalah akting semata.


Lenni semakin melebarkan senyumnya akan sanjungan yang diberikan putranya,dan itu suatu kebanggaan tersendiri bagi Lenni.


Namun,ketika teringat sesuatu,Daniel menjadi goyah."Tapi aku tidak sependapat dengan Mama,dan tidak seyakin Mama!.".Lagi-lagi,watak Alma menjadi alasan Daniel meragukan kepercayaan diri dan keyakinan ibunya.


Lenni merogoh saku bajunya,dan memberikan sehelai kartu nama pada Daniel."Bawalah Alma kesana.".Menunjuk nama tempat yang tertera di kartu nama itu."Kamu pasti tau yang harus kamu lakukan!?.".Yakin, jika Daniel bisa membaca pikiran nya dan memahami maksudnya.


Daniel tersenyum miring kala membaca tulisan dikartu nama itu,dan memahaminya."Aku mengerti.".Bangkit berdiri meninggalkan ibunya.


Lenni menghela nafas dan memandangi punggung putranya yang masuk ke dalam rumah dengan bersemangat."Kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.".Menatap hamparan bunga-bunga indah dan berwarna warni yang bermekaran ditaman,dan ditanamnya sendiri.


'Kuharap perjuangan mu tidak sia-sia.Aku akan selalu mendukung mu!,nak.'...Berharap dalam hatinya supaya Daniel berhasil dan bisa melakukan tugasnya dengan baik.


Ditaman berbentuk labirin.


Kakinya melangkah begitu saja menyusuri jalan setapak di taman berbentuk labirin itu.Alma berharap menemukan jalan keluar untuk bisa keluar dari taman yang berliku itu,dan bisa terbebas dari tempat berdinding tumbuhan yang berdiri tegak tinggi hingga melebihi tinggi tubuhnya itu.


Krakkk.


Saat mendengar ranting diinjak seseorang,Alma memutar tubuhnya ke belakang."Heiii,siapa kamu?.".Seorang bocah laki-laki berdiri tak jauh dari nya dan tengah menatapnya."Tunggu,jangan pergi!.".Alma mengejar anak kecil itu yang berlari ketakutan melihat Alma dan menyusuri jalan taman itu tanpa menoleh ke belakang."Berhenti!.".Semakin terus Alma mengejar,anak itu semakin cepat larinya.


Srettt.


"Tolong,selamatkan aku!.".


Alma menyelamatkan anak yang usianya berkisar 7 tahun itu,saat anak itu terjerat akar pohon yang melingkari tubuhnya.


Alma mengamati wajah tampan anak itu yang mirip sekali dengan seseorang."Siapa kau?,apa yang kamu lakukan disini?.".Menatap anak yang tak pernah dilihatnya sebelumnya.


"Kumohon,jangan membuang ku!.".Mata polos anak itu,menyorot tajam pada Alma."Aku anakmu!.".Menunjuk Alma dengan jari telunjuknya yang kecil dan mungil.


Pengakuan anak itu mengundang rasa terkejut Alma."Apa?.".Tercengang dan menatapi anak yang tinggi nya sebatas perutnya itu."Tidak mungkin!.".Menggelengkan kepalanya jika yang didengarnya itu tidak benar,dan yang dikatakan anak itu bohong.


Anak itu menatap dingin Alma yang berdiri dihadapannya."Ibuku bukan seorang pembunuh!.".Perlahan mundur kebelakang,dan secepatnya berlari menjauhi Alma."Bukan pembunuh...".Kata itu terus diteriakkan anak itu tanpa menghentikan langkahnya.


"Tidaaak...".Alma terbangun dari tidurnya dan terduduk di atas tempat tidurnya."Ha...ha...ha...".Nafasnya terengah-engah saat tersadar dari mimpinya."Itu hanya mimpi,jangan dipikirkan!.".Geleng-geleng kepala mengusir bayangan dimimpi nya terlintas dipikirannya."Sepertinya aku ketiduran.".Diambilnya ponsel yang tergeletak di nakas,menguap lebar dan mengucek matanya."Ya ampun,sudah jam 7 pagi.".Terbelalak saat melihat waktu dan segera beranjak dari tempat tidur."Kenapa ibu tidak membangunkan ku?." .Bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Usai menunaikan ibadah Subuh tadi,Alma tertidur lelap lagi.Kejadian semalam,begitu menguras energi dan pikirannya hingga enggan untuk bergerak dan melakukan aktifitas dipagi hari.Biasanya,pagi hari Alma akan membantu ibunya memasak di dapur untuk membuat sarapan pagi.


Ita dan Ceppy masih setia menemani Alma dan mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumahnya sendiri di kota Bandung.Banyaknya halangan dan rintangan menghadang kepulangan mereka,hingga menunda waktu pulang.Satu persatu masalah bermunculan terjadi,hingga menghalau niat mereka untuk kembali ke kota asalnya.


Dikamar lain yang luas dan mewah.


"Kamu sangat menggemaskan!,honey.".Khaffa berbisik lirih dan memandangi wajah istrinya yang tengah terpejam ketakutan,tanpa beranjak dari posisinya.


Anayra Meleng*uh dan mendes*h saat Khaffa bermain dan menelusuri bukit kembarnya,dalam posisi masih sama seperti sebelumnya.


Semakin lama permainan Khaffa semakin membakar hasrat Anayra,dan tangannya bergerak meremasi rambut Khaffa.Saat mendengar suara ******* nafas Anayra,Khaffa tak mengulur waktu lagi untuk menuntaskan hasratnya yang bergelora dan sudah membuncah.

__ADS_1


"Ini hukuman atas kesalahan yang kamu lakukan.".Penuh semangat yang membara,Khaffa memacu cepat gerakannya yang tengah memberikan istrinya kenikmatan yang luar biasa.


Dalam keadaan pintu balkon kamar terbuka,Khaffa dan Anayra mereguk manisnya cinta yang indahnya tiada terkira,diatas tempat tidur yang empuk dan luas untuk yang kesekian kalinya.Tanpa ditutupi sehelai benang pun,dan diterpa semilir angin pagi yang berhembus kencang dari luar,keduanya saling memadu kasih yang sudah dilakukan hampir satu jam lamanya.


Anayra kelelahan hingga nafasnya terengah-engah,karena Khaffa terus memicu keringat nya untuk bercucuran keluar.Bahkan tubuhnya terasa remuk redam saat ini,karena berulang kali Khaffa tanpa merasa lelah menghujam terus menerus area privat nya, meskipun Khaffa sudah melakukan pelepasan.


Anayra semakin terkapar tak berdaya,kala Khaffa melakukannya dengan berbagai macam gaya,dan melanjutkan permainan nya dikamar mandi dengan berendam bersama di bathtub yang besar,dan dibawah kucuran air shower.


Khaffa tak hentinya mendes*h nikmat selama permainan nya,Anayra menger*ng keras diruangan kedap suara itu hingga akhirnya suaranya melemah karena keletihan.


Usai membersihkan diri,setelah mengarungi lautan berpeluh keringat tadi.Khaffa bersiap diri dengan pakaian kerjanya."Kamu sangat pintar memuaskan ku,tapi itu belum seberapa.Tadi hanya sekedar pemanasan saja.".Khaffa tersenyum puas dan bangga.


Senang dan puas hati Khaffa,Anayra semakin lihai saat mengikuti permainan nya,dan bangga bisa mengerjai dan menggoda istrinya tadi yang akhirnya berujung manis.


"Apa?.".Anayra yang berdiri menghadap Khaffa,tercengang saat membantu Khaffa memasangkan dasinya berwarna abu tua bermotif garis-garis,hingga Dasi yang dipadukan kemeja putih dan jas warna abu muda milik Khaffa itu tak tersimpul dengan benar,dan terikat asal saja."Pemanasan?.".Karena kata itu tangan Anayra terhempas ke bawah.


"Honey,mulai sekarang satu kesalahan yang kamu lakukan dan satu kata yang salah terucap dari bibir mu,aku akan menghukum mu selama satu pekan!.".Tangan nakal Khaffa usil,meremasi payudara Anayra yang semakin terlihat seksi.


Anayra menepis tangan Khaffa yang jahil itu."Kamu mau mematahkan tulang ku hingga remuk,hemh?,yang benar saja!?.".Tersenyum masam,menertawakan lelucon konyol suaminya."Aku tidak mau!.".Geleng-geleng kepala menolak keras ultimatum suaminya.


"Tidak ada penolakan!.".Penuh dengan ketegasan Khaffa mengingatkan Anayra.".Tapi kupikir itu bagus!.Satu kali penolakan,maka hukuman mu bertambah menjadi dua kali lipat.".Anayra melongo tak percaya akan kata-kata suaminya.".Hukuman mu yang tadi belum selesai,dan masih berhutang pada ku.".Ultimatum dari Khaffa membuat Anayra mati kutu,tetapi membuat Khaffa tersenyum bangga.


Ya ampun...Sejak kapan dia berubah hyper seperti ini.Habislah aku...


Tak bisa Anayra bayangkan jika harus melakukannya setiap hari demi melayani kebutuhan batin sang suami."Kamu mau menyiksa...".


Khaffa tak membiarkan Anayra protes."Ingat!,aturan itu berlaku mulai hari ini.".Mengatakannya tanpa mimik muka bercanda sama sekali,tetapi hatinya dilanda rasa menyesal.


Maaf!.Hanya cara ini untuk bisa membuat mu bungkam dan tidak selalu memprotes ku...


Pasalnya,Anayra kadangkala masih selalu bersikap ketus dan selalu membantah ucapan nya.Wataknya yang keras kepala ingin selalu menang sendiri dan kadang membuat Khaffa harus selalu mengalah.Tetapi bukannya Khaffa tak mau mengalah,melainkan harus bertindak tegas sebagai suaminya.Namun,itu semua tak merubah dan tak mengikis rasa cinta dan sayang nya pada Anayra.


Selain menghela nafas pasrah,Anayra tak bisa berkata-kata lagi.Dengan langkah gontai dan menenteng tas kerja Khaffa,mengikuti langkah suaminya keluar dari kamar.


Kurasa dia mau balas dendam pada ku...


Anayra menatapi punggung suaminya dan menyangka yang tidak-tidak akan ultimatum yang dikatakan Khaffa.Pikirnya,Khaffa ingin membalas dendam atas ucapan nya yang salah tadi.


Mengesampingkan egonya dan kekesalannya saat ini.Anayra seperti biasa mengantarkan Khaffa hingga masuk kedalam mobilnya dan mengulas senyum manis demi menjaga suasana hati suaminya,dan mengunci mulutnya agar tidak salah berucap kata.


Di apartemen.


Alma baru keluar dari lift dan menginjakkan kakinya di basement.Baru akan melangkah menuju area parkir motor,untuk mengambil motornya.Kakinya dijegal seorang pria tampan yang telah merusak suasana hatinya selama ini.


"Kamu?.".Terkejut-kejut Alma melototi pria berperawakan tinggi dan atletis itu."Apa yang kamu lakukan disini?.".Sepagi ini Daniel tiba-tiba muncul dihadapannya.".Darimana tau tempat tinggal ku?.".Setahunya tak pernah memberikan alamat tempat tinggalnya pada pria yang dibencinya ini.


"Itu mudah untuk ku.".Tanpa ekspresi sedikitpun Daniel menatap gadis yang membuatnya marah dan tersinggung semalam."Ikut aku!,ada yang harus kita lakukan.".Daniel menarik lengan pelan Alma,dan langsung ditepis kasar Alma.


"Aku tidak mau!.Jangan memaksaku!.".Alma menolak mentah-mentah keinginan Daniel dan memberikan tatapan tajam.


Daniel tak kehabisan akal dan tersenyum licik."Baiklah,jika cara halus tidak mempan.Ku gunakan cara kasar.".Setengah terpaksa Daniel mengangkat tubuh Alma dan menggendong nya masuk kedalam mobil nya.


"Turunkan aku!.".Alma berusaha keras meronta dan mencengkram kuat-kuat kemeja warna toska Daniel.


"Diamlah,jangan berisik!.Telingaku sakit!.".Menghardik keras Alma untuk membuat mulutnya berhenti mengoceh dan supaya bersikap tenang.


Alma pasrah saja saat Daniel mendudukkan dirinya dikursi depan sebelah kiri mobilnya,dan terus memandangi Daniel hingga masuk kedalam dan duduk disampingnya."Kamu akan membawa ku kemana?.Aku harus pergi kerja!?.".Membuat alasan agar bisa terlepas dari Daniel.


"Aku sudah memintakan ijin untuk mu hari ini,pada bu Lulla.".Daniel memasang seat beltnya tanpa dan menjawab dengan acuh tak acuh tanpa menatap Alma."Pasang seat belt mu!.".Tangannya bergerak menstarter mobil,tetapi saat akan melajukan mobilnya Daniel teralihkan pada gadis yang tengah bersilang tangan dan merengut terus.


Sama sekali Alma tak menggubris perkataan Daniel,malah menatap lurus kedepan dan memasang raut wajah kesal.Akhirnya Daniel mengalah dan menghela nafas kasar.Cekatan Daniel melakukan sendiri yang tidak dilakukan Alma,hingga melepaskan dulu seat belt yang terpasang di dadanya.


Alma terhenyak dan jantungnya berdebar kencang saat mendapat perlakuan manis Daniel,dan tanpa sengaja kulit tangannya bersentuhan dengan tangan Daniel.


Perasaan apa ini?,kenapa jantung ku berdetak keras seperti ini?...


Alma terus mengawasi gerak-gerik Daniel yang tak canggung sama sekali.


Daniel menatap gadis cantik yang berhadapan dengannya dan tengah menatapnya intens.Pesona Alma yang menggetarkan hati nya dan selalu menarik perhatian nya,membuat nya mengerjapkan mata.

__ADS_1


__ADS_2