Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
109.Rencana Al dan Lenni.


__ADS_3

Daniel merenung saat mengemudi menatap jalanan gelap di malam hari.Entah berapa lama Daniel dan Alma berbincang tadi hingga tak terasa sudah jam 19:30 malam.


Daniel geleng-geleng tak percaya.Tak habis pikir akan ditolak lagi."Dua kali di tolak.Cih,memalukan!.".Menyeringai tipis menertawai nasibnya yang tak mujur.


Anayra gadis pertama yang menolaknya,dan kedua Alma.


"Sebelumnya aku tidak pernah sesial ini.".Daniel tak menyangka ternyata dua gadis itu tak terjerat ke dalam pesonanya dan tak terlena ketampanannya."Kuharap ini bukan hukum karma!.".Menghela nafas pasrah dan berharap jika yang terjadi saat ini bukanlah hukum karma.


Hukuman akibat sering mempermainkan teman kencan satu malamnya.Beberapa dari mereka tak sedikit mengharapkan hubungan yang lebih dari sekedar teman kencan dan cinta Daniel.Tetapi dengan tegas Daniel selalu menolak dan mengatakan 'Jangan berani berharap lebih dari ini.Setelah ini,anggap tidak pernah bertemu dan tidak pernah saling mengenal!',kata itu terus diingat mereka hingga tak berani dicintai Daniel.


"Konyol sekali!.Tiba-tiba mengajaknya menikah?,kenapa aku memikirkan permintaan Mama,dan saran Papa?.".Daniel menjambak rambutnya sendiri,frustasi dan merasa konyol tiba-tiba melamar Alma tanpa pikir panjang dulu.


Bagaimana reaksi dan tanggapan Alma nantinya,akan menerima atau menolaknya.Akhirnya begini jadinya jika melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya.Kalau saja waktu bisa diputar ulang Daniel takkan mengucapkan kalimat itu.Jika saja Alma menerimanya,mungkin Daniel akan merasakan sebaliknya dan tak menyesalinya.


Dengan pikiran semrawut Daniel melajukan kencang mobilnya pulang ke rumah,dalam kondisi lelah dan diserang rasa kantuk juga.


Diapartemen,Alma pulang dalam keadaan basah kuyup dan menggigil kedinginan.


Ita tengah menata piring-piring di meja makan untuk makan malam terkejut saat Alma berlari dari arah pintu masuk menuju kamar mandi dekat Pantry hingga meninggalkan jejak genangan air dilantai dari tetesan pakaiannya yang basah."Kenapa gak menunggu hujan reda dulu,Alma?.".Ita geleng-geleng kepala,heran Alma lebih baik pulang berbasah-basahan daripada menunggu hujan reda."Seperti anak kecil saja.Memangnya menyenangkan hujan-hujanan dimalam hari?.Bagaimana kalau nanti sakit?.".Ita geleng-geleng kepala melihat kekonyolan putrinya.


Alma tertahan didepan pintu kamar mandi."Aku baik-baik saja Bu!.".Alma menatap lta sejenak,meyakinkan ibunya jika dirinya baik-baik saja meski menggigil dan giginya bergemeletuk merasakan dinginnya akibat terguyur lama air hujan.


Membuka pintu,masuk dan menutup pintu.Melepaskan seluruh pakaiannya dan membersihkan diri dengan air hangat.


Ita menuju kamar Alma mengambilkan baju gantinya,kembali ke kamar mandi dan mengetuk pintunya."Buka pintunya sebentar!,ini pakaian gantimu!.".


Alma membukanya sedikit dan meraih pakaian ditangan ibunya dengan kepala menyembul keluar."Terima kasih ibu cantik.Aku melewatkan makan malam?.".Menatap lta yang berdiri didepan pintu kamar mandi.


"Tidak.Cepatlah mandinya!.Ayah dan ibumu sudah kelaparan.".Ita tersenyum masam melihat Alma cengar-cengir saja kemudian berlalu menuju ruang makan.


Alma menutup pintunya kembali melanjutkan aktivitas nya yang belum selesai.


Dimeja makan Ceppy sudah dikursinya."Hujan lebat membuat ku jadi semakin lapar.".Ceppy menyodorkan piringnya pada lta meminta di isi nasi.


"Alma pulang basah kuyup.".Ita meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya pada Ceppy."Anak itu,seharusnya berteduh dulu daripada menantang bahaya dijalanan licin dan gelap.".Ita berpikir seperti itu karena khawatir dan cemas akan keselamatan Alma.


Lebih baik pulang terlambat dari pada tergesa-gesa ingin cepat sampai ke rumah.Sangat berbahaya saat kondisi diluar tak aman.


Ceppy mulai menyantap makanannya."Dia keras kepala seperti mu!.Jangan salahkan putri mu jika mirip seperti ibunya.".Berbicara dengan mulut penuh makanan.


Ita kesal dengan sindiran suaminya."Jangan bicara saat makan!.".Ceppy menahan tawanya melihat istrinya cemberut dan mendelik."Haisss,tertawalah!,jangan menahannya?.Membuatku kesal saja.".lta melototi Ceppy,sedangkan tangannya bergerak cepat memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Hahaha..."Akhirnya tawa Ceppy meledak saking gemasnya melihat lta mengunyah makanan dengan wajah kesal dan menatap tajam dirinya.


Usai mandi dan berpakaian,Alma langsung bergegas menuju ruang makan menyusul orang tua nya."Ayah,ibu mau makan tanpa aku?.".Duduk disamping ibunya.


Alma mengambil piring,menyiduk nasi dan lauknya."Mmm...Sepertinya makanan ini sangat enak!.Firasatku mengatakan,ini masakan terakhir ibu yang akan ku makan.".Alma tergugah melihat makanan didepannya.


Perkataan Alma yang polos memancing lta kesal lagi yang sudah merasa tenang saat digoda Ceppy.Ita menatap tajam Alma."Anak ini,kamu mendo'akan ibu cepat mati?.".Ita salah paham.


Alma melongo dan mengerutkan kening heran,tiba-tiba ibunya marah dan berkata itu."Apa ucapanku salah Ayah?.".lngin tahu tanggapan Ayahnya.


Ceppy menggedikkan bahunya,tanda tak mengerti dan tak tahu maksud perkataan putrinya."Mungkin!.".Dingin dan datar.


Alma memutar bola matanya merasa percuma bertanya pada ayahnya."Ku rasa ayah dan ibu memang ditakdirkan bersama dan sepaket.Teman hidup yang solid dan kompak,untuk menyudutkan putrimu sendiri.".Mencibir halus orang tua nya."Maksudku,ibu dan ayah akan pulang sebentar lagi,bukan?.Jadi,aku akan melewatkan makanan yang ibu masak!.".Alma menjelaskan maksudnya yang tak dipahami orang tua nya.


"Berbicara lah dengan benar dan jelas!,jadi ibu tidak salah paham.".Ita menegaskan."Kamu mau kemana?.".Ita menghentikan Alma saat berdiri.

__ADS_1


"Aku makan dikamar!.Selera makanku disini jadi hilang.".Berlalu pergi ke kamar membawa piring makannya.


Alma merasa terusik ketenangannya untuk makan malam bersama keluarga.Jadi lebih baik hengkang dan memilih makan sendiri dikamar.


"Anak ini...Tadi pagi masih bermanja-manja dan membela ku,tapi sekarang...".Ita merutuki tingkah laku putrinya yang berubah-ubah.


Tadi pagi berapi-api membelanya dan bermanja-manja,sekarang tampak uring-uringan.Membuat lta bingung dan heran.


Cepat-cepat Ceppy memotong perkataan lta."Sudahlah,biarkan saja.Jangan kesal.Ingat,dia itu...".


"Putri mu juga,bukan cuma putri ku saja.Darah Ayah lebih banyak mengalir ditubuhnya daripada darahku.".Ita balas memotong perkataan Ceppy dan meneruskan kalimatnya yang sudah pasti akan mengatakan itu.


Seakan-akan lta bisa membaca pikiran suaminya dan menebak isi hatinya.


Ceppy lagi-lagi tertawa geli melihat istrinya merengut kesal,tetapi tak membalasnya.Tanpa membahas soal itu lagi,keduanya meneruskan acara makan malamnya hingga habis.


Alma dikamar duduk disofa dengan piring diatas pangkuannya."Apa dia serius?.".Memikirkan perkataan Daniel yang tak diduga dan mengejutkannya,saat tiba-tiba mengajaknya menikah."Kurasa,dia gak sedang bercanda juga.".Mengaduk makanan dengan sendoknya tanpa menyantapnya.


Alma malah asyik melamun memikirkan ekspresi wajah Daniel yang serius saat itu.


"Aku sangat suka saat dia menatapku dengan matanya yang tajam?.Apa dia selalu begitu saat menatap gadis lain?.".Membayangkan tatapan Daniel menatap gadis lain selain dirinya.


Jika boleh egois,Alma berharap Daniel hanya menatapnya saja."Aaakhhh...Selera makan ku jadi hilang,karena terus memikirkan dia!.".Alma mengacak-acak rambutnya karena mulai frustasi."Kenapa mengajak ku menikah diwaktu yang gak tepat?,kenapa mau menikahi ku setelah mencuri kesucian ku?.Kasihan padaku atau ada alasan lainnya,hahhh?.".Alma seolah bertanya dan berbicara pada Daniel."Heiii,pria pengecut dan pecundang.Seharusnya menikahi ku dulu,baru suka rela ku berikan mahkota berhargaku,tanpa harus memaksa dan mencurinya dariku!.".Mencaci Daniel yang seakan ada dihadapannya.


Alma berpikir Daniel tak mungkin tak memiliki alasan saat mengutarakan permintaannya,setelah melewati peristiwa yang dialami bersamanya.Alma berasumsi,Daniel hanya iba dan kasihan akan kondisinya sekarang.


Usai makan malam.Ita membereskan meja makan dan mencuci piring,setelah itu menyusul Ceppy ke kamar."Apa yang ayah pikirkan?.".Ita membuyarkan lamunan Ceppy yang duduk ditepi tempat tidur,sedangkan lta naik ke tempat tidur.


Ita menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya yang kedinginan.Hujan mereda tetapi suhu ruangan masih terasa dingin.


"Nasib putri kita.Lambat laun pasti akan terjadi perubahan ditubuhnya.Kurasa kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti,terutama Alma.Saat ini dia tidak sadar dan tidak tahu yang akan terjadi padanya.Sepertinya Alma tidak memikirkan soal itu.".Ceppy berbicara tanpa mengubah posisi duduknya,memunggungi lta yang berbaring di tempat tidur.


Ceppy mengerti dan tersenyum samar.Ceppy berbalik menatap lta yang berbaring di tempat tidur."Pernah kah ibu berpikir yang akan terjadi saat Alma dan Daniel melakukan hubungan intim?.Maksudku,Daniel yang memaksa melakukan itu.Saat itu terjadi maka...Akan tumbuh janin dirahim Alma!?.".Menjelaskan yang membuat lta tak paham.


Ita terhenyak mendengar penjelasan Ceppy."Tidak pernah terpikirkan soal itu karena sibuk mengurus Alma sakit.".Menghela nafas pendek karena hal itu tak pernah terlintas dipikirannya sama sekali."Ayah benar!,kuharap itu tidak terjadi.Tapi apa yang harus kita lakukan jika kita terlambat mengetahuinya?.Saat ini mungkin Alma sedang mengandung darah daging Daniel?.".Merenungkan kemungkinan yang terjadi pada Alma meski belum memastikan dengan jelas hal itu.


Alma hamil atau tidak masih misteri dan belum diketahui.Alma pasti akan memperlihatkan gejala atau tanda-tanda kehamilan,lta belum melihat itu dari Alma.Sehingga lta tak pernah berpikir kesana dan mengira Alma baik-baik saja.Namun lta sadar,tak semua wanita hamil menunjukkan reaksi itu.


"Secepatnya harus menikahkan Alma dan Daniel!.".Ceppy mengatakan itu dengan serius.


"Alma akan setuju dan mau menerima nya?.".Ita tak yakin dan ragu mengingat Alma membenci Daniel.


Hati Alma terlukai,sakit dan benci saat kesuciannya direnggut paksa Daniel,hingga berniat mengakhiri hidupnya kala itu juga.


"Harus!.Mau tidak mau dan suka tidak suka.Anak itu tidak bersalah dan tidak berdosa.Meski jalannya salah,tapi tetaplah diciptakan suci oleh sang maha pencipta.".Ceppy menegaskan meski tak yakin sepenuhnya jika Alma akan setuju dengan permintaannya.


Ceppy memikirkan masa depan Alma dan calon buah hatinya.Meski anak itu tak pernah di inginkan dan diharapkan Alma,akan tetapi akan menjadi dosa besar jika membuangnya dan tak mengakuinya.Ceppy juga merasa menyesal karena terlambat menyadari hal itu.


"Kali ini ibu sependapat!.Ini sudah malam,sebaiknya kita tidur!.Besok kita cari ide dan cara untuk menyampaikan itu pada Alma,dan di waktu yang tepat.".Ita menepuk bantal tidur,mengisyaratkan Ceppy untuk tidur disampingnya.


Ceppy perlahan berbaring di samping lta dan memejamkan matanya.Dikamar lain,Alma berbaring di tempat tidur usai menghabiskan makanannya.Namun hatinya gelisah dan tak bisa terlelap juga meski sudah berdo'a dan berdzikir.


Pikirannya terus fokus pada Daniel."Hahhh,aku menyerah!.".Alma membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya."Gak mungkin aku suka padanya sampai memikirkan dia terus!.Aku benci dia!.".Menggelengkan kepala dan meyakinkan hatinya jika saat ini sangat membencinya dan tak ada rasa suka pada Daniel.


Alma terbangun duduk bersandar di bahu tempat tidur."Apa yang harus kulakukan?.".Berpikir mencari ide."Membaca cerita!.Ku harap bisa membantu!.".Alma mengambil novel dilaci nakas,membacanya dengan seksama dan serius.


Berharap dengan membaca bisa membuatnya mengantuk lalu tertidur.Benar saja,Alma akhirnya tertidur pulas dengan wajah ditutupi novel saat baru beberapa bab membacanya.

__ADS_1


Satu jam lalu Daniel sudah sampai di rumah.Sesampainya Daniel langsung menuju kamarnya,membersihkan diri dikamar mandi dan berpakaian.Daniel melewatkan makan malam di rumah,untungnya diperjalanan tadi sudah makan di restoran,usai keluar dari hotel.Dirumah,Daniel hanya minum air hangat saja untuk menetralkan suhu tubuhnya yang terasa dingin.


Saat ini Daniel rebahan di tempat tidurnya."Aku terjebak dua kali diantara dua gadis cantik.".Daniel membayangkan dua raut wajah dipikirannya."Khaffa lebih dulu mendapatkan cinta Anayra dan aku ditolak.".Teringat akan saat mengajak Khaffa bersaing dan masih terbayang akan penolakan Anayra."Sekarang Alma menolakku juga.".Pertemuan dengan Alma tanpa sengaja berbuah pahit,Daniel mengajaknya menikah dan saat itu juga ditolak Alma.".Dua gadis itu sangat sulit ditaklukkan hatinya.Tim yang tangguh dan kuat.".Daniel tersenyum masam akan nasibnya yang belum beruntung."Lalu bagaimana cara Khaffa menaklukkan hati Anayra?.Haruskah ku berguru padanya?.".Berpikir untuk mencari tahunya pada Khaffa.


Daniel mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.Menarik selimut dan tidur.Hari ini hari yang sangat menyibukkan bagi Daniel,hingga tubuhnya terasa lelah dan mengantuk.


***


Saat matahari telah terbit sejak 3 jam yang lalu,Daniel baru bangun dari tidurnya.Efek bincang-bincang dengan Alma kemarin malam membuat Daniel karena terus menyesali kebodohannya.


Daniel menuju kamar mandi membasuh muka dengan air diwastafel dan menatap wajahnya dicermin besar."Tidak ada kegiatan.Haruskah ku cari pekerjaan lain?.".Bingung yang akan dilakukannya saat ini.


Setelah kehilangan pekerjaan Daniel menjadi pengangguran.Namun tak takut jatuh miskin,kekayaannya dan kekayaan keluarganya masih dalam posisi aman.Pemasukan sebagai salah satu pemegang saham hotel pun masih mengalir deras ke rekening ayahnya.Al memberikan 40 persen pada Daniel pendapatan dari sahamnya itu yang berjumlah fantastis sebagai uang saku.


Tetapi sebagai pria pekerja keras Daniel tak mau diam saja dan tak biasa menganggur.Meskipun memiliki usaha lainnya dibidang properti dan berinvestasi dalam usaha itu yang dirintis bersama teman-teman terdekatnya.Tetapi Daniel tak harus ikut sibuk mengurus itu.Cukup menunggu aliran transferan yang masuk ke rekening nya saja.Namun Daniel tetap memantau perkembangannya.


Diruang tengah Al dan Lenni tengah bersiap diri untuk pergi.Sopir pribadinya menghampiri Al dan Lenni yang duduk di sofa dan berdiri dihadapan keduanya."Mobilnya sudah siap tuan besar!.".


"Baiklah!.Mama siap?.".Al bertanya pada Lenni yang duduk disampingnya dan dibalas anggukan kecil Lenni.


Al dan Lenni bangkit dari duduknya.Lenni menggamit lengan Al menuju keluar.Masuk ke dalam mobil yang diparkir di halaman rumah kediaman keluarga Al.


Sopir melajukan mobil yang ditumpangi Al dan Lenni yang duduk dikursi belakang.Hari ini Al dan Lenni berinisiatif dan berencana melakukan sesuatu yang penting.


"Mama yakin akan kesana?.".Al menatap Lenni disampingnya.


Al bertanya itu mengingat kondisi Lenni yang belum sehat benar.Masih lemah dan masih dalam proses pemulihan.


Lenni mengangguk yakin."Aku cukup kuat untuk pergi melakukan tugas penting.".Lenni tersenyum sumringah dan matanya berbinar-binar.


"Hari ini Mama antusias sekali dan bersemangat!.".Al senang dan bahagia karena Lenni menunjukkan perubahan yang signifikan dari sebelumnya.


"Demi putra kita satu-satunya,ini harus dilakukan.Aku tidak mau pikir panjang lagi dan tidak mau terlambat.".Penuh semangat Lenni mengatakan itu."Bergerak cepat sebelum dia diambil orang lain dan menjadi milik pria lain.Aku akan kecewa dan menyesal jika itu terjadi.".


Al mengerti rasa antusiasme Lenni."Tanpa mendiskusikan dulu dengan Abang?.".Ragu usahanya nanti akan berhasil,apalagi tanpa diskusi dulu dengan Daniel.


"Kurasa Papa pasti sudah tahu jawabannya kalau membicarakan dulu dengan Abang soal ini.".Lenni berasumsi demikian karena sangat tahu betul sifat Daniel,akan menjawab dan menolak dengan seribu alasan.


"Benar!.Mama sangat mengenal watak putra kita dengan baik.".Al mengangguk setuju perkataan Lenni.


"Tentu saja karena aku ibunya.Yang merawat dan membesarkannya hingga setinggi itu.".Dengan bangga Lenni menepuk dadanya sendiri.


Al tersenyum mendengarnya."Bahkan tinggi ku hanya sebatas bahunya.Mama merawatnya dengan baik sekali.Tapi aku gagal mendidiknya.".Menghela nafas kecewa dan menyesal.


Al tak pernah berhenti menyesali dan terus menyalahkan diri sendiri,merasa telah gagal mendidik Daniel.


"Sudahlah!.Hal itu jangan dibahas lagi!.Waktunya untuk kita memperbaikinya dan introspeksi diri.".Lenni menyemangati menggenggam tangan suaminya,tersenyum manis memandang wajah pria yang terus mendampingi hidupnya disaat suka dan duka,dalam situasi dan kondisi apapun.


Al pun selalu setia disampingnya dan tak pernah berpaling ke lain hati,selama masa perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga.Begitu juga Lenni,menjadikan Al pria pertama dan terakhir dalam hidupnya.


Al menebar senyum lebar."Baiklah,terserah!.Papa percaya kan soal ini pada Mama.".Membalas dengan pelukan hangat wanita terkasihnya,yang sangat dicintai dan disayanginya.


Al dan Lenni tiba di ditujuan."Yudi,pergilah minum kopi!.Akan ku hubungi jika kami sudah selesai nanti.".Al menatap Yudi yang duduk di kursi kemudi,menyuruhnya bersantai supaya tak jenuh berdiam diri di dalam mobil saat menunggunya.


"Baik tuan!.".Yudi mengangguk mengerti maksud majikannya.


Yudi pemuda berusia sebaya dengan Daniel.Sopir pribadi keluarga Al saat dibutuhkan.Al dan Lenni keluar dari mobil saat mobil berhenti dibasement gedung bertingkat.Usai majikannya pergi,Yudi mencari kedai kopi untuk bersantai mengikuti saran Al,dengan minum kopi dan cemilannya.

__ADS_1


Al dan Lenni menuju lift,masuk dan naik ke lantai atas.Lenni mengatur nafasnya karena gugup bercampur takut,tetapi senang karena ini hari yang dinantikannya.


__ADS_2