
Setelah berlarian tadi.Mereka duduk dikursi taman untuk melepaskan lelah.Nafas mereka terengah-engah saking asyiknya tadi kejar-kejaran seperti dua anak kecil.Sebelumnya mereka tak pernah melakukan itu ditempat umum seperti ini.Namun mereka ingin menikmati waktu luang bersama dengan indahnya dikota Anayra selagi masih disana.Sebab rencananya esok sore mereka kembali ke Jakarta.
"Honey,tunggu sebentar disini!.Aku ke toilet dulu.".Ucap Khaffa seraya beranjak dan meletakkan kaleng bekas minumannya ditempat duduknya.
Anayra mengangguk mengerti.Entah berapa botol minuman yang Khaffa habiskan dan yang terakhir sekaleng softdrink sampai bolak-balik ke toilet.Apalagi saat nonton di bioskop,Khaffa memilih film horor untuk menakuti Anayra.Namun bukannya Anayra yang ketakutan malah sebaliknya.
Tiba-tiba tercetus ide cemerlang diotak Anayra setelah Khaffa pergi.Diambilnya kaleng bekas minuman Khaffa lalu Anayra berjongkok ditanah dan dicarinya sebilah kayu kecil dibawah kursi lalu ditancapkan ditanah menggunakan batu.Diletakkannya kaleng itu diatas kayu dengan posisi terbalik.
"Selesai.".Lalu berdiri dan menepuk-nepukan tangannya serta menyeringai licik.
Khaffa kembali dari toilet umum dan berdiri dihadapannya.
"Honey,ayo kita pulang!?.Kita mampir dulu ke mesjid Agung untuk sholat berjamaah.".Khaffa mengulurkan tangannya pada Anayra.
Waktu yang tepat untuk Khaffa menunaikan ibadah magrib sebelum pulang.Saat itu bertepatan dengan terdengarnya suara adzan berkumandang.
"Baik..".Anayra berdiri dan memegang tangan Khaffa.
"Sayang,tunggu dulu!,coba tendang kaleng itu!.Seberapa kuat tendangan mu dan sejauh mana kalengnya jatuh?.".Anayra dengan serius meminta Khaffa untuk melakukan sesuatu yang tak dipahami Khaffa.
Saat akan melangkahkan kakinya,Khaffa tertahankan.Menoleh ke samping dan berdecak aneh.
"Ckkk.Untuk apa?.Lelucon mu seperti anak kecil.Tidak baik dilihat orang lain.".Khaffa menganggap konyol permintaan Anayra maka tak heran jika menolaknya.
"Ayolah!.Ini tidak akan memakan waktu lama.?.Lagi pula permintaan ku tidak sulit.".Anayra memaksa dan mendesak Khaffa dengan menggoyangkan tangan mereka yang bertaut.
"Tidak.Itu ke kanak-kanakan.".Khaffa menggelengkan kepala,menolak mentah-mentah.
"Baiklah.Jika begitu,aku akan pulang sendiri.".
"Baiklah.".Khaffa mengalah dan menghela nafas panjang.
Anayra menggertaknya,mau tak mau Khaffa harus menuruti keinginan istrinya.Tanpa merasa curiga Khaffa menurut saja walaupun terpaksa.Tak mau mendengar ocehannya terus jika tak diturutinya.
Khaffa mengambil ancang-ancang lebih dulu dan ditendangnya kaleng itu sekuat tenaganya supaya terlontar sejauh mungkin.
"Akhhh...".
Bukannya terlepas dan terbang melayang kaleng itu malah kakinya kesakitan dan linu.
"Honeeey.". Khaffa menggeram dan meringis kesakitan akibat ulah jahil istrinya.
Tertatih Khaffa mengejar Anayra yang tertawa terpingkal-pingkal,dan berlari menuju mesjid besar yang menjadi ikon kota asalnya,setelah berhasil mengelabui Khaffa.
Tiba ditempat,mereka menunaikan ibadahnya dahulu dan berdamai sebelum pulang.Perjalanan kerumah memakan waktu sekitar kurang lebih satu jam melewati jalan tol.Rumah kediaman keluarga Anayra terletak diluar pusat kota.
Malamnya sepulang dari jalan-jalan.Anayra duduk disaung belakang rumahnya dengan menikmati secangkir teh manis hangat.Memandang kelap-kelip bintang-bintang seperti kilauan emas yang terlihat sebesar biji kelereng dicakrawala yang gelap.
Di teras dapur,Khaffa tersenyum memandangi Anayra yang tampak asyik menikmati keheningan malam.
"Ekhm...".
Anayra mengulum senyum dan menoleh pada Khaffa yang tengah berdiri dan menatapnya."Kakimu masih sakit,sayang?.".Perhatian Anayra langsung tertuju ke bawah dan menunjuk kaki Khaffa.
Khaffa berjalan menghampiri Anayra dan duduk disampingnya."Lebih baik daripada sebelumnya setelah dikompres dengan es batu.".
"Maaf!,jika aku keterlaluan.".Anayra memasang raut wajah menyesal.
"Semua ada didalam dirimu.Seperti inikah dirimu yang sebenarnya?.".Khaffa mengacak-acak puncak rambut Anayra dengan gemasnya.
Beginilah ternyata sosok istrinya.Jahil dan usil,selain cerewet dan ketus.Khaffa baru mengetahui itu sekarang,dan sialnya tak terbaca oleh nya saat Anayra akan menjahilinya.
"Tidak ada manusia yang sempurna.Anggap saja itu kelebihan yang ku miliki,dan sisi lain dari diriku.".Anayra menunjukkan sikap bijak kali ini."Apa suamiku keberatan dengan sifat asli ku?.".
Halus dan lembut tutur kata Anayra serta bijaknya,Khaffa terenyuh dan memandanginya.
"Aku menerima mu apa adanya dirimu,bukan karena ada apanya kamu.Seperti mu,saat menerima pinangan ku.".Khaffa mengelus pipi mulus Anayra dan lekat-lekat menatap nya."Tanpa ragu mengabulkan permintaan ku,dan tanpa melihat sisi buruk perangai ku.".
Anayra tersenyum kala mengingat momen itu.Dimana Khaffa datang melamarnya sendirian,tanpa didampingi siapa pun.Anayra terkagum dengan keberanian dan nyali besar yang ditunjukkan Khaffa saat meminta ijin dan restu pada orang tuanya.
"Sepertinya kita sehati dan serasi.Itu sebabnya kita disandingkan untuk hidup bersama.Sayang,mari kita menjadi teman hidup bersama selamanya,hingga akhir hayat kita!?.".Percikan api cinta tersirat nyata dimata Anayra saat meminta Khaffa untuk selalu mendampinginya,selamanya.
Rona bahagia terpancar dimata dan wajah Khaffa.
"Dengan senang hati.".Direngkuhnya Anayra ke dalam pelukannya,penuh cinta dan sayang.
Anayra tak menyia-nyiakan momen indah malam hari di sudut rumahnya.Balas memeluk Khaffa erat-erat dan membenamkan kepalanya didada Khaffa yang hangat.Menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.
__ADS_1
Khaffa mengecup kening Anayra sekilas,mengurai pelukannya dan dengan syahdu menatap Anayra.Bersamaan saat Anayra mendongakkan wajahnya dan iris mata nya balas menatap Khaffa.
"Bagaimana jika kita ber olah raga malam?.".Khaffa terpancing hasratnya saat memeluk Anayra,maka dari itu mengajak Anayra.
Kata-kata Khaffa sulit dimengerti Anayra,tak ayal mengkerutkan kening nya."Olah raga malam?.Bukankah sekarang waktunya untuk tidur?.".
Melihat Anayra kebingungan,Khaffa pun menjelaskan dengan halus dan hati-hati.
"Untuk membuat bayi.Agar cepat hadir seorang bayi mungil yang lucu dan menggemaskan disini?.".Lirihnya Khaffa,saat mengatakan nya dan tangan meraba-raba perut Anayra.
Anayra bisa melihat tatapan Khaffa yang berkabut hasrat membara,menyelimuti kornea matanya.Saat meminta dengan sangat agar dirinya mengabulkan keinginannya.
Namun bukannya mengiyakan,Anayra terbelalak dan pipinya mendadak bersemu kemerahan.
"Aaaku,akan ke kamar.Mau merapikan tempat tidur dulu.Aku sudah mengantuk,he,he,he...".Anayra beranjak berdiri dengan gugup dan salah tingkah.
Sadar jika ucapannya absurd dan bisa membuat Khaffa salah paham.Anayra menutup mulutnya sendiri dan terbelalak.Bisa diartikan kata-katanya adalah sebagai ungkapan lain dari menyambut baik keinginan Khaffa.
Bergegas pergi Anayra meninggalkan Khaffa yang senyum-senyum sendiri ke kamar.Lekas Khaffa menyusul Anayra.enutup dan mengunci pintu pelan-pelan.Sebelum Anayra sampai ketempat tidur,Khaffa langsung menarik tangannya lalu menggendongnya.
"Kyaaa...
Teriakan Anayra sampai terdengar keluar saking kerasnya.
Tok,tok.
"Ada apa kak?.".Seru Hani didepan pintu saat melewati kamar Anayra.
"Gga ada apa Bu!,aanu iitu ada kecoa ditempat tidur.".Sahut Anayra beralasan.
"Ouh,dikira kenapa.".Seru Hani sambil berlalu pergi.
Takut terjadi sesuatu pada putri satu-satunya atau menantu kesayangannya,Khaffa.
"Apaan sih bikin kaget aja tau!.Gimana kalo jantung aku copot nanti?.".Oceh Anayra sambil memukuli dada bidang Khaffa pelan.
Membuat Khaffa geli bukannya sakit.
"Udah jangan ngoceh terus,yuk kita mulai olahraga nya!.".Ucap Khaffa sambil membaringkan tubuh Anayra ditempat tidur lalu mengungkungnya dibawahnya.
Mulai mengerti maksud ucapan Khaffa.
"Wajar aja!,kita kan pengantin baru!.".Sambil membuka kaosnya.
"Ga mau!,jangan paksa aku!.Tolooong!,aku mau diperko-..Mphhh.".Segera membungkam mulut Anayra dengan tangannya.
"Sttt,honey diamlah!.Nanti ayah dan ibu dengar,aku yang malu nanti!.".Protes Khaffa sambil meletakkan jari telunjuknya dibibirnya sendiri.
Anayra menghempaskan tangan Khaffa hendak protes.
"Makanya jangan mak-...Mphhh.".Khaffa Membungkam bibir Anayra lagi tapi dengan bibirnya sebelum panjang urusannya.
Pasrah saja Anayra menuruti kemauannya walaupun lelah dan mengantuk.Mungkin seperti inilah sifat laki-laki harus tertuntaskan hasratnya.
Drttt,drttt.
Aktivitas mereka terhenti saat Khaffa dikejutkan getaran disaku celananya saat melakukan pemanasan sedang berci*man.Saat melihat nomor yang tak dikenalnya,Khaffa mengernyit sambil menatap layar ponselnya.Tetapi karena penasaran la menjawabnya.
"Hallo,siapa ini?.".
"M**aaf tuan Khaffa,saya Ranu asisten tuan Daniel.Beliau meminta saya untuk mengabari kalau teman istri anda nona Alma sekarang dirawat dirumah sakit Medika.".
Mendengar berita mengejutkan seperti itu yang tak disangkanya,Khaffa langsung memandang wajah istrinya yang ada dibawahnya.Anayra mengernyit heran dan aneh melihat ekspresi wajahnya.
"Sayang ada apa?.".Tanya Anayra keheranan.
"Hon,sebaiknya kita ke Jakarta sekarang!.Ada masalah darurat.".Ucap Khaffa sambil menutup ponselnya lalu memakai kaosnya kembali.
"Sayang,ceritakan kenapa kita buru-buru?.".Tanya Anayra sambil beranjak dari tempat tidur.
"Nanti saja ceritanya dijalan!.Ayo bersiaplah!.".Ucap Khaffa sambil meraih kunci mobilnya.
Tanpa ba-bi-bu lagi bergegas Anayra bersiap diri dan merapikan barang-barang Khaffa saja.Anayra tak membawa apa-apa selain barang pribadinya sendiri.Dia sengaja meninggalkan beberapa potong pakaian dilemari pakaiannya supaya tak kerepotan membawa apapun saat bolak-balik Jakarta-Bandung dan sebaliknya nanti.
Setelah semua siap mereka berpamitan pada kedua orang tuanya.Keduanya pergi meninggalkan rumah menggunakan mobil Khaffa.Walaupun aneh dan heran tetapi Ridwan dan Hani paham situasi dan kondisinya setelah mengatakan ada masalah darurat namun tak secara gamblang Khaffa menjelaskannya karena ingin tahu dulu keadaan Alma yang sebenarnya.
Dirumah sakit.
__ADS_1
Dinginnya angin malam diruangan serba putih itu dan rasa kantuknya tak menyurutkan niatnya untuk menemani Alma.Daniel duduk sambil memandangi wajah pucat Alma yang berbaring di ranjang ruang perawatannya.Sakit hatinya melihat selang infus ditangannya dan oksigen serta perban membalut pergelangan tangannya.Tetapi la bernafas lega sebab Dokter mengabarkan jika Alma baik-baik saja setelah melewati masa kritis tadi.Alma sempat kehabisan darah namun karena stok darah yang sesuai dengan golongan darah Alma banyak sehingga nyawanya bisa selamat dan tertolong.
Mengelus pipi Alma yang pucat pasi.Matanya kelihatan sembab karena terlalu banyak menangis tadi.Menyesal pun kini tak ada artinya sebab sudah terjadi.Merenung memikirkan sesuatu yang harus dilakukannya saat ini pada Alma.Dia tak berniat menyakiti dan membuatnya seperti ini tetapi tetap saja harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Diperjalanan menuju ke Jakarta.Khaffa menceritakan alasannya mendadak kembali ke Jakarta.Anayra syok mendengarnya dan tak hentinya menangis tersedu-sedu.Khaffa berusaha menenangkannya namun tak berhasil malah meminta Khaffa mempercepat laju mobilnya.Untung saja jalanan yang lengang memudahkan mereka membelah jalan melewati tol.
Hari semakin larut saat mereka tiba dirumah sakit.Saat masuk kedalam mereka mencari tahu keberadaan Alma pada pegawai resepsionis.Setelah tahu bergegas pergi menuju keruangannya.Anayra langsung merosot duduk dilantai saat melihat keadaan Alma sambil menangis histeris tanpa bersuara.Khaffa geram saat melihat wajah pria yang duduk disofa ruangan itu.Dengan cengkraman tangannya yang kuat,Khaffa menarik lengan pria itu dan menyeretnya terus keluar.
Daniel terperanjat berdiri saat melihat Khaffa menghampiri.Dan pasrah saja saat Khaffa berlaku kasar padahal sebelumnya tak pernah berani melakukan itu padanya.
"Ikut aku!.".Pinta Khaffa sambil berjalan didepannya.
Mengajak Daniel menjauhi gedung rumah sakit sebab tak mau membuat keributan seperti dulu seperti bersama Lefrand dulu.
"Cepat katakan apa yang terjadi pada Alma?,kenapa abang bisa bersama Alma dan bisa kenal dia?.Apa yang abang lakukan padanya sampai dia seperti itu dan abang apakan dia?.".Cecar Khaffa bertubi-tubi dingin dan datar.
"Dia mau mengakhiri hidupnya sendiri.".Ungkap Daniel lemah menjelaskan.
Tentu saja membuat Khaffa syok.
"Apa?.Kenapa dan apa alasannya?.".Sambil mengangkat satu alisnya.
"Aaku khilaf sudah me nodainya.".Aku Daniel sambil tertunduk malu dan rendah diri.
Diarea taman yang remang-remang dan sunyi itu.Tak ayal membuat Khaffa langsung menghadiahi Daniel pukulan keras diwajahnya karena tiba-tiba naik pitam.
Bughhh.
Daniel limbung dan terjatuh sambil mengiris kesakitan la menyeka bibirnya yang terasa nyeri dan terluka.Khaffa benar-benar murka dan dikuasai amarah setelah mendengar penjelasan Daniel.
"B*jingan!.Beraninya kau lakukan itu padanya.Dia gadis baik-baik ga seperti gadis-gadis j*lang yang biasa kau tiduri dan dibayar setelah melampiaskan nafsumu itu.".Ucap Khaffa sambil menarik kerah kemeja Daniel dan mencengkeramnya.
Daniel sudah berpakaian lengkap dan rapi setelah Ranu datang kerumah sakit tadi.
"Aaku ga sengaja melakukannya karena mabuk.Tapi ini karena salahmu dan ulahmu sendiri.".Kilah Daniel sambil mengurai cengkaraman tangan Khaffa di kemejanya.
"Apa salahku dan apa hubungannya dengan dia?,kenapa kau lampiaskan amarahmu padanya?.".Sambil menunjuk-nunjuk kesana kemari karena kesal.
Menganggap sikap Daniel pengecut dan tak masuk akal.
"Kau sudah menikahi Anayra lebih dulu dan melawanku.Harusnya kau mengalah dan melepaskan dia tapi tanpa setauku kau malah jadikan dia istri.Bukannya dia pernah menolakmu dulu?.".Daniel berargumen dan membela dirinya dengan wajah terheran.
Setahunya Khaffa dan Anayra tak menjalin hubungan karena Anayra tak membalas perasaan Khaffa saat menyatakan cintanya.
"Hemh,jadi itu alasannya?.Kau merasa iri dan cemburu?,karena kalah saing denganku?.Lalu kau jadikan Alma pelampiasan kemarahan mu padaku dan jadikan dia budak nafsumu?.Benar-benar lucu.".Ucap Khaffa sarkastik.
Membuat Khaffa tersenyum miring dan geleng-geleng kepala.Sikap Daniel lebih dari seorang pecundang sejati dan bukan 'Gentleman',menurutnya.
Plakkk.
Tanpa persiapan Daniel menoleh kesamping saat Khaffa menampar pipinya dan seketika merasakan panas diwajahnya.
"Ini untuk kebejatanmu berani melecehkan Alma.".Ucap Khaffa geram setelah melayangkan tangannya dipipi Daniel.
Bukkk.
Daniel membungkuk saat Khaffa meninju perutnya membuat tercekat nafasnya.Namun la bergeming tak melawannya karena sadar diri dan mengakui kesalahannya.
"Ini untuk ke br*ngsekan mu dan ket*lolanmu sebagai pecundang sejati,beraninya menyerang gadis yang lemah dan ga berdosa.Rasakan dan terima akibatnya sekarang!,aku ga akan memikirkan status persaudaraan kita lagi untuk masalah ini.".
Dengan brutalnya terus-menerus menghantam anggota tubuh Daniel.Tetapi tak diam saja lalu Daniel membalasnya.Saat mendengar suara gaduh ditaman,Ranu mencari-cari sumber suara itu setelah mencari makanan untuk Daniel saat menunggui Alma nanti.Segera Ranu melerai keduanya dan hampir menjadi korban salah sasaran tangan mereka.
"Stoppp!.Tolong hentikan ini!,ingat kita diarea rumah sakit sekarang.Jangan sampai petugas keamanan tau dan mengusir anda berdua.Selesaikan masalah ini dengan baik-baik sebab kekerasan tak mengubah keadaan.Semua sudah terjadi dan tak akan membuat nona Alma membaik.".
"Keselamatan nona Alma lebih penting sekarang dan yang harus dilakukan adalah merawat nona Alma sampai sembuh dan kembali sehat sekarang.".Ucap pria berusia 27 tahun berperawakan kurus dan pendek itu.
Asisten yang baru bekerja beberapa Minggu yang lalu dikantor Daniel.Merasa malu oleh ucapan pria yang lebih muda dari mereka sampai membuat Daniel dan Khaffa tertunduk.
"Pergilah!,bawa tuan terkutukmu itu dari sini.".Ucap Khaffa pada Ranu.
"Dan kau,jangan pernah injak tempat ini lagi dan jauhi dia!.Jangan pernah beraninya menyentuh dia lagi dan menampakkan diri mu disekitar kami!,paham?.".Ancam Khaffa mengintimidasi.
Setelah puas melampiaskan amarahnya,Khaffa kembali keruang perawatan Alma untuk menemani Anayra.Dan Ranu mengajak Daniel pulang bersamanya ke kastil mewah milik Daniel diatap gedung Hotel.
Diruang Alma dirawat.Melihat kondisi sahabatnya yang mengenaskan dan menyedihkan seperti itu,bagaikan mimpi saja bagi Anayra.Menggeleng tak percaya jika gadis yang terbaring di ranjang rumah sakit itu adalah Alma.Telaga air mata Anayra hampir mengering dan tenggorokannya terasa seret efek menangis terus menerus.
Baru tadi siang mereka berpelukan saat Alma berpamitan akan kembali ke Jakarta.Dinggenggamnya tangan Alma yang lemah dan tak berdaya sambil menatap wajahnya dengan perasaan iba dan sedih.Ini pertama kalinya melihat Alma seperti ini sebab biasanya melihat sikap Alma yang genit,centil dan jenaka.
__ADS_1