
Akhirnya Lefrand tahu Khaira bekerja diMall dan mengajak Khaira berbincang ringan di coffe shop yang ada diseberang gedung Mall.
Khaira menyetujui ajakan Lefrand dan saat memang sudah mau pulang.Waktu juga sudah menunjukkan lebih dari jam 7 malam.Sebelem pergi,Khaira terlebih dahulu lmenuju meja informasi untuk memberikan tumpukan flyer itu.
Setengah berlari Khaira menghampiri Lefrand yang menunggu didepan pintu utama Mall.Lefrand berdiri bersandar dipagar besi pembatas yang ada diteras Mall sembari menyilangkan kedua tangan.Tersenyum tipis menyambut Khaira datang.
Khaira mendekati Lefrand sembari menenteng tasnya."Yuk kak,kita pergi!.".Berjalan berdampingan bersama Lefrand menuju coffe shop tanpa rasa canggung dan risih.
Sesampainya dicoffe shop.Lefrand memesan cappucino untuknya dan caramel machiato untuk Khaira dan langsung membayarnya.
Duduk dikursi dan menarik kursi kosong disampingnya untuk Khaira duduki.Khaira mengerti oleh isyarat yang ditunjukkan spontan duduk dikursi itu.
Sembari menunggu menu pesanan datang Lefrand membuka obrolan."Khaira,sejak kapan kerja disini?,digerai mana?.".Tanya Lefrand penasaran dan keningnya berkerut.
Lefrand memang baru tahu Khaira bekerja di Mall.Tetapi bukan pertama kalinya mendengar jika Khaira akan bekerja disana.Teringat saat pertama kali melihatnya di taman bersama Mia,dan saat itu juga membahas soal itu.Namun tak menyangka akan bekerja juga di Mall,padahal saat itu Khaira menolak dan menampik keras untuk bekerja sebagai sekretaris dikantor kakaknya.
Tetapi Lefrand tak menyinggung soal itu dan mendengarkan percakapan Khaira dan Mia.Jika mengakuinya,mukanya akan ditaruh dimana kalau ketahuan menguping.Bukankah terdengar konyol seorang pria mencuri dengar obrolan gadis-gadis?.
"Lebih dari sepekan,dan aku sekertaris kakakku!.".Ungkap Khaira tanpa menjelaskan secara gamblang sosok kakaknya.
Obrolan terhenti saat pelayan datang membawa pesanan dan pergi setelah menyajikannya dimeja.
Lefrand menyeruput capuccino nya sejenak dan kembali fokus pada Khaira."Sekertaris kakakmu,siapa dia?.".Lefrand ingin tahu kakaknya Khaira yang belum pernah ditemuinya.
"CEO di Mall ini!.".Jawab Khaira santai dan apa adanya.
Lefrand sangat terkejut meski Khaira tak menyebutkan namanya tetapi tahu siapa sosok kakaknya itu."Apa?.Kkamu,adiknya CEO Mall ini?,maksud kamu Khaffa?.".
Kurasa aku ingat,Khaira dan Mia pernah menyinggung soal kakaknya,tapi kupikir bukan Khaffa yang diceritakan itu.Gak menyangka sama sekali...Menjadi teringat percakapan Khaira dan Mia kala ditaman itu.
Benar-benar tak menduga sama sekali dan sangat mengejutkan Lefrand.Untung saja Lefrand sudah menyeruput capuccino nya tadi,jika disaat bersamaan mungkin sudah menyembur keluar lagi.
Kenapa dunia sesempit ini?...Lefrand memijat pelipisnya sendiri,mendadak kepalanya terasa pusing.
Bingung juga oleh situasi yang dialaminya sekarang.Masih teringat jelas dipikirannya saat bersama Khaffa adu jotos dirumah sakit.Saling mengumpat dan menyalahkan atas insiden yang dialami Anayra.Bukan hanya itu saja alasannya,Khaffa menyebut Anayra kekasihnya dan menciumnya mesra didepan mata kepalanya sendiri.
Lefrand menghela nafas kasar,nafasnya tiba-tiba terasa sesak dan dadanya berat.Khaira iba dan kasihan melihat Lefrand yang murung dan sedih.Khaira mengerti dan paham yang dirasakan Lefrand saat ini.
"Kakak baik-baik saja?.".Mengamati wajah Lefrand yang ditekuk kebawah.
Entah apa yang dipikirkannya.Kepala Lefrand menggeleng pelan,lalu mengangguk sampai membuat Khaira kebingungan.
Dia baik-baik saja apa enggak sih?.Jadi bingung gue**....Pikir Khaira dan menggaruk kepalanya.
Dengan wajah kebingungan Khaira memperhatikan Lefrand dan menyeruput minumannya.
Masih berkutat dalam kebingungan dan keterkejutan,Lefrand memberanikan diri bertanya walaupun takut mendengar jawaban nya."Apa kabarnya kakakmu sekarang Khaira?,apa dia masih berhubungan dengan Anayra?.".Menyelidikinya karena penasaran.
Sejak kepulangan Anayra dari rumah sakit dan mengantarnya ke apartemennya,Lefrand memang belum sempat bertemu lagi dengan Anayra.Saking sibuknya mengurus pekerjaan bersama Reza dalam proyek barunya.
Lagipula memang tidak pernah menanyakan soal hubungan Anayra dan Khaffa pada Anayra,Alma atau yang lainnya.Lefrand tidak ingin sakit hati,iri dan cemburu.Meskipun Anayra sekarang menganggapnya kakak,tetapi tidak dipungkiri jika rasa cinta dihatinya masih menggebu pada Anayra.
Entah sampai kapan mampu melepaskan Anayra dari hidupnya dan merelakannya pergi dari dalam hatinya.Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
"Mmm,mungkin sebaiknya kakak tanya langsung sama kak Anayra saja nanti!,heee...".Khaira tak mau asal bicara.
Sempat terpikir untuk memberikan bocoran,tetapi setelah dipikir lagi,itu bukanlah haknya untuk mengatakannya.Lagipula Khaira tidak mau melihat Lefrand semakin syok.
Jawaban yang klise tetapi masuk akal,namun cukup mengecewakan.Lefrand membuang mukanya kesamping kanannya supaya Khaira tidak bisa melihat wajah kecewanya.Padahal sudah memasang telinganya baik-baik dan menyiapkan hatinya untuk mendengarkan hal-hal yang tidak mengenakkan,tidak membuatnya nyaman,dan kemungkinan terburuknya palingan menjadi syok.
Tetapi Lefrand mengalah dan mencoba memahami alasan Khaira."Ya,mungkin sebaiknya begitu!.Apa kamu mau pulang sekarang?.".Menoleh menatap Khaira.
"He'em,tapi aku ada janji bersama Mia!.Kami mau pergi ke suatu tempat!.".Khaira mengambil ponselnya didalam tasnya dan menekan tombol ponselnya untuk menghubungi Mia.
__ADS_1
"Mia aku on the way sekarang!,kamu tunggu sampai aku tiba disana ok!.".
Tanpa ada jawaban yang pasti dari orang diseberang sana,Khaira langsung mematikan ponselnya.
"Boleh ku minta nomor ponselmu?.".Lefrand meminta nya dengan hati-hati saat Khaira akan memasukkan ponselnya kembali kedalam tas.
Tanpa rasa ragu Khaira langsung menyerahkan ponselnya dan spontan disambut baik oleh Lefrand.Menekan nomornya dan melakukan panggilan ke ponselnya sendiri.
Drttt.
Ponsel didalam saku jasnya bergetar.Tanda jika nomor kontak Khaira sudah masuk."Tolong save nomorku!.".Lefrand menyerahkan ponsel Khaira kembali.
Khaira mengangguk mengiyakan sembari memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Kamu mau pergi sekarang?,mau ku antar?.".Lefrand menawarkan siapa tahu jika Khaira butuh tumpangan.
Jika begitu maka tanpa keberatan akan mengantarkannya sampai ketempat tujuannya.
Menggelengkan cepat kepalanya dan berkata."Gak usah!,aku bawa mobil sendiri!.".Mengulas senyum manisnya menjaga hati Lefrand supaya tak tersinggung karena menolak tawarannya.
Gawat jika Lefrand mengantar dan tahu misinya nanti bersama Mia.Misi besar dan rahasia,untuk mengungkap kebenaran dan kebusukan seseorang yang penting dalam hatinya.
Lefrand tentu tak bisa memaksa dan tidak kecewa juga."Ok,hati-hati!.Sampai jumpa Khaira!?.".Saat Khaira beranjak dari duduknya.
"Ok kak!,makasih buat traktirannya!.".Khaira menyeruput caramel machiato nya dulu hingga habis tak tersisa didepan Lefrand tanpa rasa canggung dan ja'im lagi.
Lefrand menelan salivanya kasar saat memandangi bibir Khaira yang belepotan.
Gadis ini gak ada ja'im-ja'imnya sama sekali.Luar biasa...Lefrand mengernyit heran.
"Akhhh...".Mendesah nikmat dan menjilati bibirnya yang belepotan sampai membuat mulut Lefrand terperangah dibuatnya.
Khaira cuek dan acuh saja tanpa menghiraukan situasi dan kondisi disekitarnya."Bye kak!.Heee...".Malah cengar-cengir dan berlalu pergi meninggalkan Lefrand.
Lefrand menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menggelengkan kepalanya.Aneh dan heran oleh tingkah konyol Khaira.Lefrand pikir Khaira gadis lugu dan akan menjaga imagenya sebagai seorang adik CEO.Tak lain putri pemilik Mall setelah tahu identitas Khaffa dan Khaira juga.
Ditempat lain.Selama perjalanan pulang,Anayra tidak berkicau sedikitpun.Khaffa sudah mencoba membujuk dan merayunya,bahkan menggodanya supaya Anayra tidak murung dan sedih tetapi tetap tidak berhasil juga.
Hingga sesampainya digedung apartemen Anayra masih seperti itu.Mengunci bibirnya rapat-rapat seperti di lem silikon.
Saat didalam lift Anayra menekan tombol 15 dan Khaffa menekan tombol 13.Saat itulah ketika lift berhenti dilantai 13 Khaffa segera menarik tangan Anayra keluar dikala pintu lift terbuka.
Anayra terhenyak dan tidak bisa menghindar pergi.Terlambat sebab pintu lift sudah tertutup rapat,belum lagi kesulitan oleh heelsnya ditambah tenaga Khaffa sangat kuat sedangkan Anayra hanya gadis lemah yang pura-pura kuat dan tegar.Tampak keras diluar tetapi lembut dan lunak didalamnya.
Anayra pasrah saja berjalan mengikuti langkah Khaffa menyusuri lorong apartemen hingga kepintu bilik apartemennya.Saat Khaffa membuka pintunya Anayra langsung menerobos masuk kedalam dan melewatinya lebih dulu,membanting tubuhnya duduk disofa dan merengut sedih.
Khaffa menghela nafasnya dan geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.Khaffa menghampirinya setelah menutup pintu."Honey,kamu marah?.Kenapa dari tadi kacangin aku terus?.".Duduk bersimpuh dan menggenggam tangannya.
Menatapnya sayu dan menanyakan alasannya.Khaffa bingung dan heran dibuatnya.Anayra sedari tadi diam dan bergeming.
Anayra tidak menghiraukan dan tidak menggubris pertanyaannya."Aku rasa sebaiknya hubungan kita jangan dilanjutkan,kupikir ini gak akan berhasil!.Mungkin lebih baik turuti saja kemauan ibumu!.Itu lebih baik daripada melawannya.".Anayra menerawang jauh,bingung akan hubungan antara dirinya dan Khaffa.
Galau dan putus harapannya seketika.Sikap Rena yang ditunjukan padanya sangat berbanding terbalik dengan Sabrina.Masih terngiang-ngiang ditelinganya saat Khaffa mengatakan jika ibunya akan menerima dengan senang hati dan menyambutnya baik.
Khaffa langsung tersentak kaget.Benar-benar gila,tidak mungkin dan mustahil akan melepas Anayra begitu saja.Susah payah dan harus kerja keras untuk mendapatkan cintanya Anayra yang baru saja diraihnya.Tetapi mudahnya Anayra mengatakan itu.Bukankah itu sama saja akan sia-sia usahanya itu?.
Khaffa tak bisa membayangkan nasibnya nanti jika itu benar-benar terjadi.Anayra adalah alasan kebahagiaannya saat ini,separuh nafasnya dan belahan jiwanya.
"Sttt,jangan katakan itu honey!.".Khaffa menggelengkan kepalanya dan menekan bibir Anayra dengan jari telunjuknya.
Khaffa tidak suka Anayra menjadi pesimis dan tidak optimis."Kenapa kita harus menyerah sebelum perang?.Apa ini karena Mami?.".Khaffa terus mengamati wajah Anayra dan melihat reaksinya.
Ingin tahu tanggapan Anayra walaupun sudah tahu dan bisa menerkanya.
__ADS_1
"Karena restu ibu itu penting buatku!.Kalau Mami mu ga mau dan ga bisa menerimaku,maka aku harus mundur bukan!?.Untuk apa mempertahankan hubungan yang tak direstui!?.Seperti masak sayur tanpa garam,akan hambar dan tawar.".Anayra beralasan dan menatap mata Khaffa yang teduh.
Berat,sungguh berat dan terpaksa Anayra mengatakan itu.Namun alasannya itu menjadi bagian terpenting dalam hubungan mereka kedepannya nanti.Jika memang berjodoh,ditakdirkan bersatu dan menikah.
Khaffa mengerti dan bisa menerima alasannya.Tetapi tak mau menyerah begitu saja."Ayolah hon',jangan pesimis seperti itu!.Aku yakin Mami mau merubah pikirannya,dan Papi yang akan mengurus soal Mami,jadi bersabarlah sebentar!.".Khaffa memelas dan memohon.
Walaupun tidak seratus persen yakin jika Rena akan menerima dan merestui.Tetapi tak ada kata mustahil akan bersatu dan berjodoh jikalau sudah suratan takdir Tuhan.Khaffa menanamkan itu dalam hatinya.
Namun kata-kata Khaffa tak mampu meyakinkan Anayra."Entahlah,aku ragu meskipun Papi mu mau menerimaku!.".Anayra beringsrut duduk tegak dan menarik tangannya yang digenggam Khaff.
Menutup wajahnya dengan telapak tangannya.Menutupi rasa gusar dan putus asanya.Khaffa terenyuh dan iba melihatnya,tak mungkin diam saja.Ingin sekali memeluk erat Anayra dan membenamkan kepalanya didada bidangnya.Tetapi tak memiliki keberanian untuk melakukan itu,tak mau membuat suasana hati Anayra semakin buruk lagi,menurutnya.
Benar-benar bingung harus berbuat apa?.Akhirnya yang dilakukan Khaffa duduk disamping Anayra dan membelai rambutnya penuh cinta."Tolong percayalah padaku,beri aku kesempatan untuk meyakinkan Mami!.Kumohon jangan putus asa!.Aku mencintaimu honey,jangan lepaskan aku,dan jangan pergi dariku!.Apa rasa cintaku gak cukup kuat dan gak mampu untuk menahan mu'?.".Khaffa melepaskan tangan Anayra yang menutupi wajahnya sendiri dan mengangkat dagunya keatas supaya bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Anayra menatap Khaffa sendu."Bukan begitu!.Aku merasa gak percaya diri saja saat ini!.".Hanya itu alasan yang bisa dikatakan Anayra supaya Khaffa tak cemas dan menenangkan hatinya.
Khaffa tersenyum samar.Menangkup kedua pipi Anayra dengan kedua telapak tangannya dan menatapnya lekat."Percayalah padaku,kita pasti bisa melewati ini semua!.Anggap saja ini ujian untuk mendapatkan kelulusan!?.".Khaffa meyakinkan dan memberikan semangat karena tidak mau kehilangannya disaat baru berlabuh di hati Anayra.
Setelah mencerna kata-katanya,Anayra menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.Khaffa menyunggingkan senyuman lebar saking senangnya.Akhirnya Anayra mau berdamai dengan hatinya yang berselimut kabut keraguan dan insecure juga.
"Kamu tau honey',bedanya coklat dengan kamu?.".Khaffa main tebak-tebakan untuk mencairkan dan menghangatkan suasana hati Anayra yang sedih.
Anayra paham niat Khaffa tetapi tak menganggapnya serius."Konyol!,jangan berpikir terlalu keras untuk menghiburku!.".Tersenyum miring mengejek Khaffa.
"Pertanyaan ku mudah!.Jawab saja!,apa keberatan untuk menjawabnya?.".Khaffa kesal merasa tak dihargai usahanya.
Anayra mengalah dan menghela nafasnya."Baiklah!.Mungkin,sama-sama manis!?.".Asal menebak dan tersenyum manis semanis coklat.
"Benar!,tapi bukan itu jawabannya!.".Khaffa menggelengkan kepalanya.
"Lalu?.".Anayra penasaran.
Alih-alih menjawab Khaffa malah menggedikkan bahunya."Bangunlah!,kuantar pulang!.Ayah dan ibu pasti cemas!.".Khaffa beranjak berdiri dan menarik tangan Anayra supaya bangkit dari duduknya.
"Ckkk...Membuatku penasaran dan pusing saja.Untuk apa aku susah payah bertanya kalau gak mau menjawabnya!?.".Anayra mengerucutkan bibirnya hingga membuat Khaffa terkekeh geli dan gemas.
Khaffa berhasil mengalihkan perhatian Anayra.Melihat Anayra bersikap seperti itu,tandanya Anayra sudah membaik dan normal kembali suasana hatinya."Melihatmu marah seperti ini,lebih baik dari pada melihat mu diam dan bersedih.".
"Haissshhh...".Anayra melototi Khaffa dan berkacak pinggang.
"Hahaha...".Khaffa tertawa terbahak-bahak dan merangkul pinggang Anayra."Teruslah marah!.Aku suka melihat ekspresi wajah mu itu!.".Mengacak-acak rambut Anayra dipuncak kepalanya.
Mengajaknya keluar dan mengantarnya pulang ke unit apartemennya yang hanya berbeda 2 lantai saja.
"Mau masuk?.".Anayra mengajak Khaffa kedalam sesampainya didepan pintu.
Tetapi Khaffa menggelengkan kepala,menolaknya."Masuklah!,kamu pasti lelah.Istirahatlah!.".Perlahan Khaffa melepaskan genggaman tangannya yang memegang tangan Anayra.
"Baiklah!,sampai nanti!.Sebut namaku jika merindukan ku!.".Anayra tersenyum nakal,menggigiti bibirnya dan mengedipkan mata genitnya untuk menggoda dan mencandai Khaffa.
Sebenarnya Anayra tak terbiasa untuk berbicara gombal dan bertingkah aneh.Menurutnya konyol dan menggelikan.Anayra kali ini seperti itu untuk membalas kebaikan dan perhatian Khaffa saja.
Khaffa hanya tersenyum saja."Hentikan itu!,jangan menggoda ku!.Aku takut tidak bisa mengendalikan diri dan tidak sanggup menahan diri!.Aku pergi!.".Berlalu pergi dari hadapan Anayra.
Sebenarnya Khaffa masih ingin bersama Anayra dan terus ada didekatnya,akan tetapi Khaffa ingin melaksanakan amanah sang ayah yang harus menjaga sikapnya sebelum sah dan halal.
Sebagai pria dewasa, tentunya Khaffa memiliki hasrat dan hawa ***** setiap didekat gadis cantik.Apalagi didekat Anayra yang notabene gadis yang dicintainya,bahkan akan menjadi calon istrinya dan ingin dinikahinya,harapan Khaffa seperti itu.
Maka dari itu,Khaffa tak ingin berlama-lama berdua bersama Anayra.Sebab,Anayra selalu membuat jantungnya berdegup kencang dan darahnya berdesir.Namun Khaffa berusaha mengendalikan diri untuk tak melakukan hal-hal yang bisa mengecewakan dan menyesalinya.
Tetapi entah sampai kapan Khaffa mampu dan sanggup menahan dirinya?.
Anayra geleng-geleng kepala menatap Khaffa yang pergi begitu saja."Siapa yang gak terpesona melihat senyum nakal ku!.".Masuk kedalam ruangan yang tampak sepi dan dengan tertawa-tawa menuju ke kamarnya."Kurasa dia lupa mengucapkan selamat malam!.".Mengganti pakaiannya dengan setelan baju tidur.
__ADS_1
Membasuh muka dengan air dingin diwastafel kamar mandi,usai itu memeriksa isi ponselnya yang belum disentuhnya sejak tadi sembari rebahan di tempat tidur.