
Sepeninggal perawat,Anayra makan sebelum minum obat.Ditambah perutnya memang terasa lapar sebab belum terisi makanan lagi saat dipesta kemarin malam.
Lefrand memaksa ingin menyuapinya tetapi Anayra menolak."Ayo makan Ana!?.Kamu dengar kata suster tadi kan?,kamu harus makan sebelum minum obat nya!.".Lefrand menyodorkan sendok berisi makanan kemulut Anayra namun ditangkisnya.
"Biar aku makan sendiri mas!.Aku bukan anak kecil yang harus disuapi!.".Anayra menarik piring berisi makanan dari tangan Lefrand.
"Tapi kamu lagi sakit Ana'.".Lefrand menjauhkan piringnya dari Anayra.
"Kepalaku yang sakit,bukan tanganku!.Sini makanannya!.".Anayra berusaha terus mengambil piringnya lagi dari tangan Lefrand.
Akhirnya Lefrand mengalah dan memberikan piring itu,sebab tak mau membuat Anayra kesal dan marah.
Perlahan Anayra menyendok makanannya dan dimasukkan kedalam mulutnya sedikit demi sedikit.Tanpa merasa canggung lagi didepan Lefrand.
Dengan setianya Lefrand menemaninya makan hingga habis.Sesekali Lefrand menyeka sudut bibir Anayra dengan tissue yang ternodai makanan.
Lefrand melakukannya dengan senang hati dan penuh kasih sayang.Bahkan setiap ucapan Anayra yang terdengar sakit ditelinganya diabaikannya.Menguap begitu saja seakan tak pernah didengarnya dan tak pernah diucapkan Anayra.
"Makanlah pelan-pelan Ana'!.Tenang saja!,aku ga akan merebut makananmu.".Ucap Lefrand saat Anayra tergesa-gesa makannya.
"Mas,duduklah saja disofa sana!.Jangan melototiku terus!.Apa enaknya cuma jadi penonton saja?.".Protes Anayra kesal sambil menunjuk sofa karena Lefrand terus memperhatikannya makan.
"Sudah kukatakan tadi pagi bukan?.Aku akan menjagamu,merawatmu,terus disini bersamamu disampingmu.Jika perlu,aku akan siaga selama 24 jam dan bermalam disini untuk menemanimu!.".Ungkap Lefrand penuh semangat.
"Jangaaan!!!.Ga harus sampai segitunya juga kaliii...Nanti mas malah ambil kesempatan dalam kesempitan waktu aku tidur dalam keadaan terbaring sakit!.".Seloroh Anayra berkelakar menggodanya namun ditanggapi serius oleh Lefrand.
"Apa maksudmu Ana'?.Kamu berpikir negatif tentangku?.Kamu lupa kalau kita pernah jadi sepasang kekasih dan hampir bertunangan!?.Kalau aku mau macam-macam mungkin sudah kulakukan sejak dulu.Tapi aku ga pernah melakukannya karena aku menghormatimu dan mencintaimu.".Lefrand berkilah dan menautkan alisnya tanda tak terima asumsi negatif Anayra tentang dirinya.
"Reaksimu terlalu berlebihan mas!.Jangan marah!,aku cuma becanda dan asal bicara saja.".Dalih Anayra lalu tersenyum lebar dan menggelitiki perut Lefrand setelah meletakkan piringnya dimeja.
Sembari tertawa kegelian Lefrand berkata."Diamlah Ana,jangan menggodaku terus!.Jangan sampai aku membalasmu,nanti pasti kamu akan kewalahan menghadapiku!.".Ancam Lefrand memegangi kedua tangan Anayra.
Refleks Anayra tertunduk diam,terang saja.Sebab tak mau Lefrand melakukan itu karena bisa berakibat fatal bagi keduanya.Mungkin Anayra bisa tahan tetapi tidak untuk Lefrand.
Saat melihat wajah Anayra ditekuk kebawah,Lefrand menyunggingkan senyumnya lalu berkata."Kenapa diam?,kamu takut Ana'?.".Ucap Lefrand lembut sambil memandanginya.
"Mmas,aaku mau minum obatnya.Tolong ambilkan obatku dan minumnya!.".Mengalihkan perhatiannya.
Sembari tersenyum miring Lefrand melepaskan tangannya lalu beranjak mengambil obat dan air minum dalam gelas.Sesuai janjinya,Lefrand memperlakukannya dengan baik dan lembut seperti seorang perawat dan pelayannya.
"Ayo tidurlah biar cepat pulih!.".Ucap Lefrand setelah Anayra meminum obatnya sambil menepuk dan membenahi bantalnya untuk Anayra tidur.
Saat Anayra berbaring,Lefrand cekatan menyelimutinya lalu berkata."Ana',aku pulang dulu kerumah untuk berganti pakaian dan membawa baju gantimu.Nanti aku kembali bersama Alma.".Seraya membelai kepalanya penuh kasih sayang.
"Hemh,terima kasih mas!.Tenang saja,mas jangan khawatir dan santai saja.Disini ada suster yang merawatku.".
"Baiklah,tidurlah!.Sampai nanti Ana!.".Ucap Lefrand sambil tersenyum manis.
Perlahan Lefrand mencondongkan badannya kedepan Anayra.
"Eiitsss,mau apa mas?.".Cegah Anayra menahan dada Lefrand saat tubuhnya membungkuk kearahnya.
"Cuma mau mengucapkan selamat tidur!.".Kilah Lefrand lalu spontan mencuri ciuman dikening Anayra saat lengah kemudian berlari menuju pintu dengan wajah berseri-seri.
Rasa cintanya yang masih menggebu dihatinya pada Anayra membuat Lefrand tak bisa mengendalikan dirinya.Walaupun tak pernah melewati batasannya namun cukup membuat Anayra terkejut.Pasalnya sudah memutuskan untuk tak menerima cinta Lefrand kembali.
"Masss!!!.".Pekik Anayra histeris terkaget-kaget.
Sembari tersenyum tipis Lefrand berjalan dikoridor menuju pelataran parkir lalu pergi dengan mobilnya.Sementara Anayra mulai tertidur dengan pulasnya karena pengaruh obat.
Sedangkan Khaffa merenung didalam kamar diapartemennya.Lekat-lekat memandangi foto Anayra diponselnya.Kemudian membersihkan dirinya dikamar mandi.Sejak semalam Khaffa belum sempat berganti pakaian.Bahkan belum makan dan minum juga tidur.
Setelah selesai,beranjak menuju pantry lalu memakan makanan yang dibelinya melalui aplikasi online.Duduk dikursi meja makannya dan melahapnya.Kemudian tidur dikamarnya untuk melepaskan rasa lelahnya dan kantuknya yang ditahannya sejak semalam.
Khaffa mengistirahatkan tubuhnya ditempat tidur empuk dan luasnya.Setelah menemani Anayra semalam suntuk dan akhirnya terpejam disampingnya dalam posisi duduk.
***
3 hari kemudian.
Anayra POV.
3 hari terkurung disini dengan aroma obat dimana-mana.Sialnya,aku harus meminum butiran itu selama disini.Ditemani jarum infus yang selalu setia menempel di tanganku.Tapi aku senang akhirnya bisa pulang hari ini.Aku Ingin cepat kembali bekerja dan melakukan kegiatan lainnya.
Namun naasnya,aku kecewa karena dia tak kunjung muncul juga dihadapanku,padahal berharap dia akan datang menjengukku.Tapi sedetik pun dia tak menampakkan batang hidungnya.
Hanya mas Lefrand dan Alma yang rutin mengunjungiku.Dan orang tua mas Lefrand serta Bu Lulla menyetor wajahnya dan menjengukku secara bergantian setiap hari.Juga teman-temanku yang lainnya.
Sebenarnya bukankah harusnya aku senang tidak bertemu dengannya?.Pasalnya,dialah penyebab aku harus terbaring disini,itu sisi negatifnya.Tapi sisi positifnya,ini sudah takdir dari Sang Khaliq.
Aku duduk termenung disofa sembari membuang nafas kasar menunggu mas Lefrand kebagian administrasi.
Srkkk.
"Kamu sudah selesai berkemas,Ana'?.".Tanya mas Lefrand dan aku mengangguk mengiyakan.
"Ok!,kita pulang sekarang kalo kamu sudah siap!.".Mas Lefrand datang setelah selesai dengan urusannya.
Kemudian membawakan barang-barang pribadiku dikoper bekas pakaian ganti dan yang lainnya selama disini.
Dia menggandeng tanganku seperti mau menyeberang jalan selama berjalan menuju ketempat parkir.Sebenarnya aku risih sebab aku baik-baik saja dan bukan anak kecil lagi.Aku sudah menolak tapi dia keukeuh memaksaku.
__ADS_1
"Mas tolong lepasin tanganku!.Aku bisa jalan sendiri dan aku bukan anak kecil lagi!.".Protesku kesal menepis tangannya.
"Baiklah kalo kamu ga mau aku gandeng,biar aku gendong supaya cepat sampai kemobil!.Abisnya kamu lelet banget jalannya Ana',kayak kura-kura manggul karung beras!.".Kilahnya dan mempercepat langkahnya.
Aku hanya bisa pasrah dan memutar bola mataku jengah.Aku menurutinya dan mengikuti langkahnya saja.
Kami masuk kedalam mobil setelah memasukkan koper dibagasi kemudian pergi.
Diperjalanan,keningku berkerut tanda heran karena jalur yang kami lalui berlawanan arah menuju rumah tinggal ku."Lho!,mas kita mau kemana?,ini kan bukan jalan kerumahku?.".Tanyaku heran.
"Nanti kamu akan tau sesampainya disana!.".Jawabnya acuh dan santai.
Aku menautkan kedua alisku,bingung dan terheran.Tapi arahnya aku hafal dengan jelas dan terasa pernah melewatinya.
"Mas,kenapa arahnya kesini?.Bukankah ini jalan menuju apartemen?.".Tanyaku ketika ingat.
"Dari mana kamu tau Ana'?.".Tanyanya sambil tersentak kaget.
"Aaku tau karena pernah melewatinya!.".Jawabku sekenanya sambil cengengesan.
Lagi-lagi aku tersentak ketika dia membawaku masuk kearea parkir apartemen.
"Ayo turun Ana'!.Kita udah sampai!.".Setelah menepikan mobilnya.
Dia keluar kemudian membukakan pintu mobil untukku.Aku keluar dengan banyak pertanyaan dihatiku.
Semakin dia membawaku masuk kedalam gedung,semakin jantungku berdebar tak karuan.Aku memejamkan mataku ketika didalam lift dan cemas akan berhenti dilantai berapa.
Aku membuka mataku dan menghela nafas panjang.Merasa lega sebab tidak berhenti dilantai yang sama dimana dia berada.Kamipun segera keluar sebelum pintu lift tertutup.
Cklek.
Sesampainya dipintu bilik apartemen nomor 155 dia membuka pintunya.
"Masuklah Ana'!.".
"Tunggu mas!.".Aku mencekal lengannya sebelum dia masuk kedalam.
"Kenapa mas membawaku kemari?,aku punya rumah sendiri meskipun bukan milikku!.".Tanyaku bingung dan heran.
"Masuk dulu!,nanti juga kamu tau!.".Mas Lefrand menarik lenganku.
"Ga mas!,jawab dulu pertanyaanku!?.".Pintaku menahannya.
"Ishhh,kamu keras kepala Ana'!.Cepat masuklah!.".Sentaknya.
Lefrand menarik paksa lenganku untuk masuk kedalam ruangan apartemen yang gelap gulita.Aku merinding dan bergidik seram.Apa yang akan dia lakukan padaku?.
"Mas kenapa gelap,cepat nyalakan lampunya!,aku takut.".Pintaku memeluk lengannya.
Preeetttt.
Sembari terlonjak kaget aku memandangi wajah-wajah juniorku yang meniup terompet dan wajah-wajah yang lainnya.Sukar dipercaya,semua berkumpul disini walaupun formasinya tak lengkap.
"Surpriiise!!!.".Pekik semuanya serentak.
"Haaa...".Aku ternganga dan terbelalak seperti orang bodoh.
"Selamat dataaang!.".Seru semuanya menyambutku.
Alma,Ines,Ani dan Dea serta ibu Lulla dan putrinya ada disini dan lebih terkejut lagi saat melihat kedua orang tuaku dan adikku ada disini juga.Aku menutup mulutku karena tak percaya melihat mereka semua.
Kulihat ruangan didekorasi dengan indah.Ada bunga-bunga sebagai pemanis dan balon-balon berbentuk huruf ucapan 'Selamat Datang' tampak menghiasi ruangan.
"Heiii Nay',kenapa kamu bengong kaya sapi ompong?.Awas nanti lalat masuk kemulutmu tuh!.".Ucap Alma sambil menepuk lenganku menyadarkanku.
Spontan mengerjapkan mataku dan mengatupkan mulutku.
"Selamat datang Anayra!,senang sekali liat kamu sehat dan bisa pulang!.".Ibu Lulla merangkulku.
"Alhamdulillah,ayah senang bisa ketemu kakak!.".Ayah memelukku dengan eratnya.
"Syukurlah anak gadis ibu sehat juga!.".Ibu membelai rambutku dan aku berhambur memeluknya.
"Kenapa ayah dan ibu kemari?.Kapan kalian datang?.Kenapa ga kabari aku dulu kalo mau kemari?.".Cecarku bertubi-tubi.
Aku merasa senang ada mereka disini meskipun terkejut.Tapi aku tidak heran pasti Alma yang mengabari mereka.
"Kak',kami datang tadi pagi.Mas Lefrand menjemput kami kerumah dan cerita kalo kakak kecelakaan.Ayah dan ibu panik tapi mas Lefrand bilang kakak udah baikan dan bisa pulang sore ini.".Ucap Andiya adikku menjelaskan semuanya.
Takkk.
"Auwww...".Andya meringis kesakitan saat kujitak kepalanya.
"Apa kamu ga ikut panik juga?,kenapa cuma ayah dan ibu yang panik tapi kamu enggak?.".Tanyaku kesal dan berkacak pinggang.
"Memangnya aku harus bilang wowww gitu?.".Protes adikku dan melengos duduk disofa.
Ayahku Ridwan Haryadi berusia 51 tahun dan ibuku Hani Hidayani sebaya dengan ayah usianya.Sebab mereka seumuran dan satu angkatan saat sekolah dulu.Mereka teman sekolah yang tadinya musuhan lalu berteman kemudian menjadi pasangan.
Dan si bengal Andya Putra Haryadi tapi kece dan pintar,berusia 20 tahun yang kini mengambil kursus di HMTC diBandung untuk mengais ilmu dibidang otomotif.
__ADS_1
Setelah melewati itu.Kami duduk disofa ruang tamu sambil menyantap makanan yang sudah disediakan oleh lbu dan Bu Lulla.
Kami bersenda gurau dan tertawa-tawa.Apalagi ada Daveena ditengah-tengah kami yang membuat suasana semakin ramai dan terhibur oleh celotehannya yang seperti duplikatnya Alma.
"Nay',ada good news buatmu!.".Ucap Alma sumringah disela-sela obrolan kami.
Aku mengernyit tidak mengerti.
"Kita akan tinggal disini mulai hari ini?.".Pekiknya.
"Haaa...".Aku selalu saja ternganga kalau mendengar sesuatu yang mengejutkan.
"Benar Ana'!.Ini apartemen yang pernah kuceritakan,aku pernah tawari kamu tinggal disini.Tapi kamu tolak.".Mas Lefrand angkat bicara dan menjelaskan hal itu.
"Tapi aku ga punya uang banyak untuk biaya sewa apartemen ini mas!.".Kilahku disela makan puding coklat ku.
Mas Lefrand tersenyum miring dan berkata."Kamu meledekku Ana'?,apa maksud kamu?.Kamu kira aku sewain apartemen ini?.".
Tetapi aku makin tak mengerti dan mengernyit bingung.
"Gretongan Nay',tenang aja!..".Alma menjelaskan dan menaik turunkan alisnya.
"Tapi kenapa?.". Penasaran alasannya.
"Anggap saja ini bentuk permintaan maafku Ana'!.Aku merasa bersalah,karena kebodohanku kamu jadi celaka.Kita juga pernah dekat dan hampir tunangan tapi aku sendiri yang menggagalkannya!.".Mas Lefrand murung dan kecewa.
Dan seketika aku merasakan yang sama."Ttapi mas,aku...".
"Jangan menolak Ana'!.Kumohon tinggallah disini!!!.".Memohon dan memelas.
"Ummm.Baiklah!,tapi dengan syarat,lupakan soal kemarin dan masa lalu kita!.".
Senyum mengembang dibibirnya dan mengangguk.
"Sudah-sudah dramanya!,ayo kita makan lagi nanti keburu basi!.".Ibuku menyudahi dan kami pun makan lagi.
"Mas,a-apa kita akan tinggal bersama?.".Tanyaku sekenanya mengingat ini adalah apartemennya.
Pukkk.
Mas Lefrand menimpuk kepalaku dengan koran.
"Ga mungkin lah!.Kamu mau liat aku digorok sama ayah dan ibu kita,hah?.Meskipun aku berharap begitu.".Mas Lefrand merengut.
Dan aku hanya terkekeh melihatnya.
"Mas Lefrand,semisalnya mbak Anayra menolak mas.Aku siap kok jadi sandaran hati mas!.".Celetuk Santi dengan gaya genitnya dan menunjuk dirinya sendiri.
Matanya dikedip-kedipkan dan bibirnya diruncingkan.
"Jangan mimpi kamu San',ngaca dulu noh!.Muka kayak roti bulukan gitu mau jadi sandaran hati,jadi ganjeulan pintu Kaliii!.".Sanggah Melly dan mengarahkan cermin kecil kewajah Santi.
Dea tertawa terpingkal-pingkal."Hahaha...Bukan jadi ganjeulan pintu,tapi jadi gantungan kunci!.".
"Dan kalian jadi Bebegig sawah hahaha...".Balas Santi pada Melly dan Dea lalu tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa kami pun meledak menertawakan mereka.Mereka memang selalu saling serang dan menyerang balik tapi tidak sampai bermusuhan.Begitulah cara kami berinteraksi untuk menghangatkan suasana.
"Oya mas,kenapa sebelumnya ga tinggal disini?.".Kusandarkan punggungku dan memeluk bantal sofa.
"Aku ga mau kesepian dan tinggal sendirian disini,jadi lebih baik bersama ibu dan ayah.Tapi sayang,mbak Lulla dan Davy sudah pindah lagi kerumah mereka,sebab mas Gellard sudah balik dari Aussie!.".Ungkap mas Lefrand lalu murung dan sedih.
Kini aku mengerti alasannya.Sejak hubungan kami terputus,kami sudah tidak pernah berbagi cerita tentang hari-hari kami dan saling mencurahkan isi hati kami.Maka dari itu,aku tidak tahu apa yang dialaminya dan dirasakannya saat ini.Kecuali rasa cintanya padaku.
"Om,aunty kenapa kalian ga tinggal bareng aja?,kan biar ga kesepian!.Om and aunty juga jadi bisa sering ketemu kan?.".Cicit Daveena gadis kecil bermata hazel itu dengan lugunya.
"Husttt!.Ga boleh gitu juga Dav'!.".Bu Lulla mencolek pipi putrinya yang duduk disampingnya.
"Kenapa?.".Tanya Davy dengan gaya sok ingin tahunya.
"Kkamu belum cukup umur untuk tau!.Kamu makan aja masih disuapin,kekamar mandi juga harus ditemenin.Dan kadang-kadang masih suka ngompol dikasur tapi suka kepo!.".Ungkap Bu Lulla menerangkan sampai membuat Davy menghentakkan kakinya karena kesal ibunya mengejeknya.
"Dan KoBe!.".Imbuh Alma lalu melahap risole nya.
"Ishhh,mommy jangan buka kartuku!.Aku kan jadi malu!.Lagian apa itu KoBe Tante Al',aku ga ngerti?.".Celoteh Davy membuang mukanya kesamping.
"Kokolot Begog.".Jelas Alma lalu tertawa cekikikan.
Tawa kami semakin pecah dan menggelegar didalam ruangan hingga menitikkan air mata disudut mataku seraya tersenyum bahagia bisa melihat mereka disini meskipun formasinya kurang lengkap karena tidak ada Indah,Ani dan Ines.Dan dia...
Dia yang kini seatap gedung denganku.Seketika membuat hatiku bertanya.
Apa yang dilakukannya saat ini?...
Benarkah yang diutarakannya ketika dipesta itu?...
Mimpikah kala itu ketika menciumku?...
Haruskah percaya kata-katanya?...
"Huuuh...".
__ADS_1
Aku menarik nafasku dalam-dalam lalu menghempasnya perlahan untuk mengusir rasa gundah gulana dihatiku.
Sungguh,sejak perawat mengatakan jika dia menjagaku semalaman.Setelah mengungkapkan perasaannya dipesta kala itu.Membuatku menjadi sering memikirkannya.