Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
Bab 51.Dijodohkan.


__ADS_3

***


Langit tampak terang benderang saat Khaffa mengurung diri didalam kamar apartemennya.Tetapi bukan tanpa sebab dan alasan.


Badan meriang,kepala pusing,hidung meler dan maag kambuh.Inilah yang dirasakan Khaffa saat ini.Selain raganya yang sakit tetapi jiwanya juga ikut sakit karena cintanya bertepuk sebelah tangan.Ralat,belum terbalaskan.


Khaffa mengurung diri dikamar karena sakit.Bagaimana tidak,Khaffa mengabaikan perutnya yang seharusnya diasupi makanan.Tetapi selera makannya hilang maka tak makan dan tak minum meskipun perutnya meronta-ronta dan tenggorokan kering.Sehingga,rasa sakit pun menjalar kesekujur tubuhnya.Namun bukan hanya itu saja,efek galau juga sebab cintanya belum terbalaskan oleh Anayra.


Maka membuat Khaffa meringkuk ditempat tidur berbalut selimut tebal.Jangankan untuk keluar dari rumah,untuk beranjak pun rasanya tak mampu apalagi berdiri.Energinya seolah terkuras habis dan melemah.


Bahkan ponselnya yang terus menerus berdering Riccy berkali-kali menghubunginya tak dijawabnya.Dia enggan untuk berbicara apalagi membicarakan soal pekerjaan.Meskipun sudah mengirim pesan sebelumnya untuk tak mengganggunya,tetapi Riccy tetap saja menghubunginya.


Khaffa abai akan tugas dikantor sebab yakin jika Riccy bisa menangani pekerjaan yang menumpuk dikantornya.Riccy sudah bertahun-tahun lamanya bekerja sebagai asistennya,maka Riccy bisa diandalkan.Meskipun kadang kala seperti orang bodoh dan konyol,alias berlaga pilon.


Selain itu,juga ada Khaira yang membantu Riccy dikantornya yang sudah mahir diposisinya sebagai sekertaris.Sehingga tidak perlu mengkhawatirkan soal pekerjaan.


Khaffa bisa bernafas lega sebab kejadian yang menimpa Anayra adalah murni kecelakaan,setelah diselidiki dari bukti direkaman cctv di TKP.Jadi,Khaffa tak harus pusing lagi memikirkan itu.


Anayra dan penabrak memilih jalan kekeluargaan dan berdamai.Mereka saling meminta maaf dan saling memaafkan.Dan Anayra pun memutuskan untuk tak melanjutkan kasusnya.Anayra menyadari jika kejadian itu adalah kesalahannya dan kecerobohannya sendiri.


Dilorong apartemen,Rena datang tergesa-gesa menuju bilik apartemen putranya.


"Abang,dimana kamu?.".Serunya saat membuka pintu.


Tak ada jawaban dan tampak sepi suasana didalam.Rena heran,setahunya Khaffa tak kerja dan ada diapartemen.Menurut informasi dari Riccy dan Khaira.Tetapi tak seorang pun yang tahu jika Khaffa sakit.


"Dimana dia,kenapa sepi?,di rumah hantu aja banyak hantunya tapi kenapa disini kayak dipulau tak berpenghuni.Apa dia pergi?.".Rena menyelonong masuk kedalam ruang tamu.


Rena celingukan mencari-cari keberadaan Khaffa diseluruh sudut ruangan.Tetapi tak kelihatan juga dan terakhir mencarinya ke kamar Khaffa.


"Astaghfirullah,abaaang.Ini kamar apa TPS alias tempat pembuangan sampah?.".Pekik Rena dan geleng-geleng kepala saat melihat kamar Khaffa berantakan.


Rena tak habis pikir oleh ulahnya dan geram melihat tissue bekas berserakan dan pakaian kotor berceceran dilantai.Ditambah tirai jendela masih tertutup rapat dan lampu masih menyala padahal hari sudah siang.


Khaffa sangat apik,rapi dan bersih.Maka Rena heran dan aneh melihat kamar Khaffa yang tak seperti biasanya.


Cekatan Rena memunguti pakaian kotornya dan menyapu lantai kemudian menyingkap tirai jendela dan mematikan lampu.Dia tak biasa melihat ruangan kotor dan berantakan dan tak mungkin membiarkan kamar putranya dalam keadaan seperti itu.Setelah selesai lalu menghampiri Khaffa ditempat tidurnya.


"Abang ayo cepat bangun!.Kenapa kamu masih tidur dan malas-malasan?.Hari siang bolong begini kok masih selimutan,kayak hidup dikutub aja!.".Oceh Rena menyingkap selimut yang menutupi seluruh badan Khaffa dan hanya kepalanya saja yang menyembul keluar.


Teriakannya tetapi tak jua membuat Khaffa terbangun dari tidurnya.Hal itu tentunya membuat Rena semakin geram.


"Abaaang,jangan molor mulu nanti rejekinya dipatok ayam!.Liat tuh diluar sana,masih baaanyak janda-janda tua yang harus dihormati dan dihargai.".Ucap Rena menirukan gaya penceramah ternama dan mengguncang tubuh Khaffa.


"Euleuh-euleh naha jadi kadinya?.".Ucap Rena menepuk keningnya berlogat kota asalnya.


Walaupun bahasa itu tak digunakannya sehari-hari namun selalu diucapkannya sewaktu-waktu.


Rena sengaja datang ke apartemen Khaffa untuk mengeluarkan uneg-unegnya yang membuncah.Dia mendapat kabar dari Khaira jika Khaffa dan Anayra mendustainya.


"Mami hitung sampai tiga!,kalau kamu ga mau bangun juga,Mami bakalan kirim kamu ke segitiga bermuda!.".Rena mengoceh dan melantur tak terarah saking kesalnya Khaffa tak kunjung bangun juga.


Sementara Khaffa masih betah meringkuk diatas tempat tidurnya dengan posisi membelakangi Rena.Efek kurang tidur selama beberapa hari terakhir ini membuat Khaffa tidur pulas saat ini.Dalam keadaan sakit terus memikirkan Anayra maka tak ayal membuat Khaffa menjadi sudah tidur.


Menautkan alisnya,Rena terheran dan semakin kesal karena Khaffa tak merespon dan melakukan pergerakan sedikit pun.


Geleng-geleng saja Rena melihatnya."Ish,ish,ish...Nih anak tidur apa pingsan?.Apa harus disetrum dulu baru dia bangun!.".Mulai bingung harus berbuat apa.


"Aaah,aku tau.".Cetus Rena saat sebuah ide muncul di pikirannya.


Bergegas Rena keluar dari kamar menuju pantry kemudian kembali kekamar sambil membawa air dalam gelas.Dia punya jurus jitu untuk membangunkan Khaffa dan selalu berhasil karena sudah sering melakukannya.


Crattt.


Perlahan Rena terus menerus mencipratkan air ke pipi Khaffa menggunakan jari tangannya sembari berdiri.Khaffa sontak mengerjap lalu berbalik kearahnya.


"Mhhh...Mami ke na pa?.".Lirih Khaffa lemah dan parau menyipitkan matanya memandang wajah ibunya.


Bisa menebak itu ibunya sebab sudah tahu kebiasaannya dan hanya ibunya saja yang berani melakukan itu.


Rena dibuat terkejut dan heran."Kenapa?.Harusnya Mami yang tanya!.Kenapa kamu ga kerja dan malah asik tidur sambil meringkuk kayak kucing abis beranak!?.Liat ini jam berapa?,sudah hampir bedug Dzuhur abang!.".Bersungut-sungut dan berkacak pinggang.


Khaffa bangkit dan beringsrut duduk."Iyaaa maaf Mi!.Uhukkk.".Dan mengusap wajahnya yang basah.


Rena tercengang melihat wajah Khaffa yang terlihat tirus dan pucat pasi.Penampilan lusuh,mata cekung,bibir menghitam dan pecah-pecah.


Saking khawatirnya,cepat-cepat Rena duduk ditepi tempat tidurnya dan memegang keningnya.Panas,itu yang dirasakannya.


"Ya ampun,abang kamu sakit tapi kenapa ga kabari Mami?.Kamu anggap apa Mami mu ini,hah?.Kayak lahir dikirim lewat email saja,kamu kan punya keluarga disini.".Ucap Rena cemas dan khawatir.

__ADS_1


Sedikit pun tak ada kabar darinya,bahkan menghubungi yang lain pun tak sama sekali.Beginilah jadinya jika Khaffa tinggal sendiri dan tak bersamanya.Rena jadi tak bisa memantau keadaannya.Sakitpun sampai tak tahu menahu.Padahal saat tinggal bersama,Rena selalu siaga dan cekatan merawat kedua anaknya jika sakit termasuk suaminya.


Khaffa diam sebab ingin menelan kepedihannya sendirian dan merasakan kesakitannya sendiri.Tanpa mau merepotkan dan menyusahkan orang lain termasuk keluarganya.Dia tak mau membebani orang lain dan benar-benar ingin hidup mandiri.Usianya yang semakin dewasa menuntutnya untuk berpikir dewasa juga.


"Mi,to long ambil kan mi num aku haus!.".Pinta Khaffa sambil mengusap-usap lehernya.


Segera Rena beranjak mengambil minum untuk Khaffa dipantry dan secepatnya kembali.Perlahan menyodorkan gelas kemulut Khaffa untuk membantunya agar mudah meneguknya.


"Abang,ayo kita kerumah sakit sekarang!.".Pintanya saking khawatirnya.


Dia tak mungkin membiarkan keadaan putranya memburuk dan semakin parah.Naluri seorang ibu akan merasakan sedih dan sakit jika melihat anak-anaknya sakit atau apapun itu.


"Ga Mi,tolong panggilkan dokter saja!.".Khaffa menggeleng pelan menolak ajakan ibunya.


Rena semakin risau tetapi tak mau memaksanya.Dia tahu jika Khaffa tak bisa menahan rasa sakitnya dan jika keadaannya tak memungkinkan untuk dirawat dirumah,maka dengan sendirinya akan meminta diantar ke Dokter atau rumah sakit.


"Baiklah kalau itu maumu!.Kenapa kamu menyiksa diri dan ga ngabari Mami?.Coba kalo Mami ga cepat kemari,kamu pasti udah kayak rempeyek,kurus dan kering.".Rena menggerutu dan menekan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Ponselnya diletakkan di telinga nya."Selamat siang Dok',tolong datang sekarang keapartemen anakku nanti aku share lokasinya...Ya terima kasih!.".Segera mematikan ponselnya mengakhiri panggilannya.


"Abang tidurlah lagi,Dokter on the way kemari.Nanti Mami bangunkan kalau Dokternya sudah sampai disini!.".Dibelainya kepala Khaffa penuh cinta dan sayang.


Bagaimana pun keras dan cerewetnya Rena,tetapi tetap lah seorang ibu.Anak-anaknya bagi Rena adalah separuh nafasnya dan belahan jiwanya.


Perlahan Khaffa merebahkan dirinya kembali ditempat tidur.Sedangkan Rena keluar menuju pantry membuat bubur.Tadinya niatnya datang mau memarahi Khaffa habis-habisan,jadi urung saat melihat kondisi kesehatan Khaffa yang tak baik-baik saja.


"Ahhh,kejadian ini terulang lagi seperti waktu dia galau ditinggal nikah mantannya si Verra yang mata duitan itu!.Untung saja mereka ga berjodoh dan ga menikah,malah si Verra yang nikah duluan tapi si Abang jadi galau gegara ditinggal menikah!.".Ocehnya dan meletakkan panci kecil diatas kompor listrik lalu menyalakannya.


Teringat akan kondisi Khaffa yang sama saat galau dan patah hati ditinggal menikah kekasihnya.


"Tapi syukurlah sekarang sudah move on dan sudah lupa sama dia!.Tapi kenapa dia bisa sakit sekarang?,patah hati sama siapa?.".Rena berkoar sendiri.


Raut wajahnya bingung dan heran.Rena terus mengaduk-aduk beras yang sudah dicucinya terlebih dahulu lalu menambahkan sedikit bumbu sebagai perasa saat dirasa sudah lembut.


Dokter yang dihubungi Rena tadi akhirnya tiba di apartemen Khaffa.Dokter berkemeja kotak-kotak warna hitam berdiri didepan pintu sembari menenteng tasnya berisi peralatan medisnya.Dokter yang menjadi langganan keluarganya.


Saat terdengar bunyi bel pintu,Rena berjalan tergesa-gesa dari pantry untuk membuka pintu.


"Halo,apa kabar Dokter?.".Sapa Rena ramah pada pria bertubuh tambun yang berprofesi sebagai Dokter itu.


"Baik!,Bu Rena apa kabar?.".Jawab pria berusia 45 tahunan.


"Alhamdulillah baik juga!.Silahkan masuk!.".Menutup pintu setelah Dokter itu masuk dan berjalan.


Dokter itu mengikuti Rena menuju kamar Khaffa.Sesampainya didalam,Rena dan Dokter itu menghampirinya.


"Abang ayo bangun,Pak dokter sudah datang!.".Ucap Rena menepuk-nepuk lengan Khaffa.


Dalam tidurnya Khaffa terhenyak dan mengerjap kemudian beringsrut mau duduk.


"Mas Khaffa tidur saja,ga usah bangun!.".Cegah Dokter saat Khaffa mau duduk.


Khaffa mengangguk saja dan manut pada perintahnya.Dokter itu duduk ditepi tempat tidur dan mengeluarkan isi tasnya,peralatan medisnya.


"Maaf ya,biar saya periksa dulu!.".Sembari membuka kancing piyama Khaffa bagian dadanya.


Dokter memeriksa bagian tubuh Khaffa menggunakan peralatan medisnya.Mulai dari denyut jantungnya dengan stetoskop,urat nadi,mata,lidah dan tensi darahnya serta mengetuk-ngetuk perutnya.


"Lambungnya luka!,mas Khaffa kurang asupan makanan,minum dan stress juga sepertinya!.".Kelakarnya menyindir Khaffa.


Mendengar hal itu,Khaffa hanya tersenyum tipis.Tak mungkin Khaffa membenarkan dugaannya.Dokter itu menulis resep untuk Khaffa.Sementara Rena berdiri saja memperhatikan gerak-gerik keduanya sembari melipat kedua tangannya.


"Bu Rena,maaf ini resep obatnya.".Dokter menyerahkan kertas itu pada Rena.Rena pun menerima.


"Mas Khaffa tolong diminum obatnya secara teratur sampai habis dan jangan telat makan juga!.Semoga cepat sembuh!,dan jangan stress juga!.".Saran Dokter untuk kebaikannya dan menepuk bahu Khaffa.


"Baik Pak!,terima kasih.".Ucap Khaffa mengangguk dan tersenyum tipis.


"Baiklah,saya permisi karena tugas saya sudah selesai disini!.".Ucapnya beranjak berdiri.


"Terima kasih Dokter,mari saya antarkan.".Rena mengantar Dokter itu hingga ke pintu.


"Silahkan diperiksa dulu Dok',takutnya kurang!.".Rena menyerahkan sebuah amplop putih berisi upahnya,refleks tangan Dokter itu terulur mengambilnya.


"Ahhh Bu Rena suka becanda!,yang ada pasti lebih seperti sebelum-sebelumnya.".Kilahnya dan memasukkan amplop kedalam saku celananya.


"Anggap saja itu buat ganti bensin Dokter.Tapi kalau Dokter sudah kebanyakan uang,amplopnya masukin saja ke kotak amal dimesjid!.Hahaha...".Ucap Rena berkelakar dan tertawa renyah.


Rena membukakan pintu untuk Dokter itu.

__ADS_1


Dokter itu tak tersinggung sama sekali dan malah tergelak."Hahaha...Baiklah saya pergi sekarang,terima kasih Bu!.Assalamu alaikum.".Pamitnya melangkah keluar.


"Silahkan Dok',hati-hati!.Waalaikum salam.".Rena menutup pintunya kembali.


Sepeninggal Dokter itu,Rena kepantry mengambil bubur dipanci dan menuangnya ke dalam mangkok.Membawa mangkok itu menggunakan nampan kekamar Khaffa duduk disampingnya menghadap Khaffa.


Khaffa sudah duduk bersandar di bahu tempat tidur,ditopang bantal-bantal untuk menyangga punggungnya.


"Ayo bang makan dulu sebelum minum obatnya!.".Titah Rena menyodorkan sendok kemulut Khaffa.


Telaten dan sabar Rena menyuapinya sedikit demi sedikit.Suapan demi suapan masuk kedalam mulut Khaffa hingga tersisa beberapa sendok saja.Penuh kasih sayang dan perhatian Rena melakukannya tanpa memikirkan usia putranya yang semakin dewasa.


"Udah Mi,abang kenyang!.Perut ku nanti mual kalau kekenyangan Mi!.".Khaffa menutup mulutnya saat Rena akan menyuapinya lagi.


"Habiskan!,tanggung sisa sedikit lagi.Makan itu ga boleh disisain,pamali.Lagian galau juga kan butuh tenaga!.".Kilah Rena memaksa Khaffa dan tanpa disadari kata itu meluncur saja keluar dari mulutnya menyindir Khaffa.


Tetapi Khaffa acuh saja dan tak hirau.Mengira ibunya hanya mengoceh dan bergurau saja.


Terpaksa Khaffa menghabiskannya dan minum obat setelahnya.Rena meletakkan mangkok kosong diatas nakas dan kembali fokus pada niatnya semula datang kesana.


"Abang,ayo sekarang ceritakan sejujurnya sama Mami!?.".Titah Rena melipat kedua tangannya dan menatapnya penuh selidik.


"Cerita apa Mi?.Apa yang harus Abang ceritakan?,Mami mau cari tau tentang apa?".Khaffa menarik satu alisnya keatas tanda bingung dan tak mengerti oleh pertanyaan ibunya.


"Ga usah pura-pura pikun atau pura-pura bego!.Khaira sudah cerita semuanya tapi Mami mau dengar dari mulutmu sendiri!.".Rena mendesak Khaffa untuk menceritakan sesuatu yang membuatnya penasaran dan sampai datang menemui Khaffa.


Rena ingin tahu benar tidaknya kabar yang didengarnya itu.


Tetapi Khaffa semakin mengerutkan keningnya,masih tak paham sebab merasa tak bercerita apa-apa pada Khaira."Mi to the point,jangan muter-muter!.Abang sudah pusing makin ditambah pusing lagi!.Liat tuh diatas kepala Abang banyak bintang-bintang!.".Protes Khaffa menunjuk keatas kepalanya.


Refleks Rena mengikutinya namun kemudian menghadiahinya cubitan dilengan Khaffa.Bukannya menjawab,Khaffa malah mencandainya seolah kepalanya pusing dan berkunang-kunang seakan ada bintang-bintang berputar-putar diatas kepalanya.


Sedingin apapun sikapnya dan kerasnya hati Khaffa.Ddepan ibunya,tetap seorang anak yang ingin dimanjakan dan kadangkala bertingkah layaknya anak kecil.Selain itu dibalik sikap acuhnya,Khaffa punya selera humor juga.Selalu mengerjai dan menjahili orang-orang terdekatnya.


"Awww,sakit Mami.".Pekik Khaffa meringis kesakitan sambil mengusap-usap lengannya.


"Orang ditanya serius malah diajak becanda.Kurang kerjaan banget,nanti kualat lho!.".Rutuknya.


"Abis Mami ga jelas nanya nya.Abang kan bukan Ki Joko Lali yang bisa nebak isi pikiran Mami!.".Kilah Khaffa membela diri.


"Ki Joko Bodo abang!.".Sanggah Rena cepat.


"Bodo,emangnya ga disekolahin ya dulu?.".Goda Khaffa usil untuk mengalihkan perhatian ibunya supaya lupa untuk membahas hal yang membuatnya bingung.


Takkk.


Sontak Rena menjitak kepala Khaffa ketika emosinya sudah naik ke ubun-ubunnya sampai Khaffa meringis kesakitan.


"Aduhhh...Sakit Mi!.".Khaffa merajuk dan mengusap kepalanya.


"Abaaang,kapan Mami nanya nya dan kapan kelarnya kamu jawab pertanyaan Mami kalo kamu becanda terus?.".Ujar Rena menyolot dan melotot.


"Maaf Mi,peace!.".Ucap Khaffa mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Sembari mengelus dadanya Rena berkata."Sabar,sabar.Ok,dengarkan Mami!.Abang apa benar hubungan kamu dan Anayra cuma settingan alias pura-pura belaka?.".Tanya Rena menginterogasi.


Deggg.


Tak ayal membuat jantung Khaffa berdegup kencang tatkala mendengarnya.


Darimana Mami dan Khaira tau soal itu**?...Pikir Khaffa terkaget-kaget.


"Be-benar Mi tapi abang jat-....".Jawab Khaffa terbata dan terputus kalimatnya.


"Apaaa???,jadi benar ya?.Kamu mau belajar kuwalat ya?,beraninya bohongi orang tua.Okelah kalo begitu,mulai sekarang lupakan dia dan jangan dekati dia lagi sebab Mami dan Papi sudah punya rencana!.".Tegas Rena terperanjat berdiri menyela ucapannya.


Khaffa mengakui kebenarannya dan tentunya membuat Rena kaget setengah mati.


"Apa?.".Tanya Khaffa menaikkan kedua alisnya keatas.


"Menjodohkan kamu sama anak teman Papi dan Mami!.".Cetus Rena berapi-api.


"Apaaa?.Dijodohkan lagi?.".Khaffa terperanjat dan terbelalak sampai rasa sakit dikepala dan diperutnya kambuh.


Lagi dan lagi ibunya menjodohkan-jodohkannya.Entah ke berapa kalinya itu dilakukan Rena.


"Ughhh,kepalaku pusing Mi!.".Ucap Khaffa memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut-denyut.


Mendadak sakit dan pusing lagi kepalanya mendengar ucapan ibunya,padahal la hampir merasa baikan setelah makan dan minum obat.

__ADS_1


Rena tersenyum puas dan senang setelah meluapkan isi hatinya dan mengutarakan niatnya.Duduk tenang dan santai sembari menyilangkan kedua tangannya.


__ADS_2