
Cahaya jingga kemerahan disela-sela awan menghiasi langit bak lukisan alam yang terlukis alami.Indah dan mengagumkan.
Anayra berganti pakaian di fitting room dan mengenakan outfitnya sore ini,yaitu Jumpsuit berwarna navy panjang selutut dan flatshoes hitam serta Sling bag warna hitam pula.Tak lupa menggerai rambutnya yang ikal dan bergelombang dibagian ujungnya.Bersiap-siap menemani keluarganya shopping sesuai janjinya tadi pagi.
Memoleskan lipbalm dibibirnya dan menambah sedikit riasan tipis diwajahnya.
Merasa puas penampilannya saat ini,Anayra tersenyum dan menatapi dirinya dicermin.
"Kurasa cukup lumayan,jangan terlalu berlebihan.".Segera keluar sembari menyilangkan tas selempangnya menghampiri keluarganya.
Hani,Ridwan dan Andya duduk disofa butik menunggu Anayra,ditemani Alma berdiri disamping sofa langsung teralihkan menatap Anayra.
"lsh,ish,ish cantik nyeu!.".Alma menggoda saat Anayra berjalan mendekatinya.
"Biasa saja.Aku sudah cantik sejak lahir!?.".Anayra tersenyum bangga dan mengibaskan rambutnya bertingkah genit dan centil.
Alma yang tak biasa melihat tingkah Anayra seperti itu terkekeh geli saja.Tingkah Anayra tampak dibuat-buat dan kaku.
Andya memperhatikan tingkahnya yang aneh dan sudah paham betul karakternya menggodanya.
"Apa dia kakakku?,aku tidak bisa mengenalinya.Kurasa aku salah lihat?.".Andya berdiri dan mengernyit aneh menatapi Anayra seolah tak mengenalinya.
Pasalnya kakaknya ini sehari-harinya selalu bersikap ketus,judes dan cerewet.Tetapi perhatian dan baik hati.Maka sangat heran jika Anayra bertingkah laku seperti itu.
Anayra menjadi geram dan memicingkan matanya menatap Andya.
"Sepertinya kamu belum pernah merasakan kepalan tanganku.Kiri kuburan dan kanan rumah sakit,ayo pilih yang mana?.".Menunjukkan dua kepalan tangannya pada Andya.
Alih-alih menjawab,Andya malah terbahak."Ahhhaaa...Kurasa benar,dia itu kakakku!.".Barulah mengakuinya saat Anayra kembali ke sifat aslinya.
Hani yang diam saja sejak tadi angkat bicara melerai keduanya.
"Sudah-sudah.Kalau sudah siap,ayo kita pergi?.".Hani berdiri di susul Ridwan.
"Ayo kita pergi!.Alma,kami pergi dulu!.".Anayra menggandeng lengan ibunya dan pergi setelah diangguki Alma.
Anayra sekeluarga berjalan beriringan menuju pintu keluar butik.
"Selamat bersenang-senang!.".Alma berseru sebelum mereka menghilang dari pandangannya dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Menaiki eskalator keempatnya menuju kelantai atas Mall.Berburu barang diskon yang ada diarea Bazaar atau pameran, memilah dan memilih.Sedangkan Ridwan dan Andya melangkahkan kakinya menuju area 'Men's Clothes'.
Anayra meninggalkan Hani menuju stan pakaian dalam wanita dari berbagai jenis,model dan warna.
Dipilihnya satu set bra dan ****** ***** berwarna hitam bermodel sedikit renda brukat lalu dicobanya bra itu.
"Ukurannya seperti nya sesuai?.".Menempelkan cup bra didadanya menyesuaikan ukurannya.
Tanpa diketahui Anayra,seorang pria tak sengaja melihatnya.Pria itu mendekati Anayra dan menepuk bahunya dibelakang.
Anayra sontak berbalik kearahnya dan refleks menyembunyikan barang itu dibalik punggungnya.
Pak Riccy."Anayra terperangah melihat Riccy sudah berdiri didekatnya.
"Haiii,apa yang kamu lakukan disini?.".Riccy berbasa-basi dan melirik benda yang disembunyikan Anayra.
"Seharusnya aku yang menanyakan itu.Ini area khusus wanita.Tidak pantas Pak Riccy ada disini.Sebaiknya Pak Riccy pergi!."Anayra mengibaskan tangannya menyuruh Riccy pergi saking malunya.
Bukannya pergi Riccy malah bergeming lalu berkata.
"Tenang saja.Aku tidak akan tergoda,kecuali melihat dengan isinya!.".Acuh dan datar Riccy otaknya traveling kemana-mana.
Perkataan Riccy yang melenceng tak ayal membuat Anayra emosi.
"Dasar otak mesum!.Sepertinya satu paket.Boss sama asisten sama mesumnya!.".Geleng-geleng kepala dan memutar tubuh Riccy dan mendorongnya pergi dari area itu.
Riccy pergi meninggalkan area itu dan tertawa cekikikan."Apa enaknya melihat yang kosong.".
Mungkin jika melihat dengan isinya,Riccy akan lebih antusias dan senang.
Anayra fokus kembali memilih setelan pakaian dalam dengan menggerutu."Mengganggu kesenangan orang lain saja.Untungnya CEO itu tidak disini.".
Jika Riccy bersama Khaffa tadi,pasti Anayra lebih malu lagi dan pipi nya merah seperti udang rebus.
"Mukaku mau disimpan dimana?.".Anayra bersungut-sungut dan berjalan menuju Kassa untuk membayar item yang dipilihnya.
Setelah puas berjalan-jalan,berputar-putar dan berbelanja.Keempatnya memasuki area food court untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sembari membawa paper bag ditangan masing-masing.
Duduk dan memesan makanan saat pelayan datang untuk mencatatnya.Pelayan itu memberikan secarik kertas pada Anayra kemudian pergi.Anayra bangkit berdiri menuju ke Kassa untuk bertransaksi terlebih dahulu sebelum menyantap makanannya.
Setelah menu pesanan datang dan disajikan oleh pelayan,langsung menyantapnya dengan lahap.Anayra tak berhenti tersenyum saat menyantap makanannya,senang bisa makan bersama keluarga tercinta lagi setelah sekian lama berpisah karena tuntutan pekerjaan.Momen ini tentunya sangat dan selalu dirindukan Anayra.
"Kak,kami akan pulang esok lusa.Jaga dirimu baik-baik disini.Jika pulang,ibu harap kamu membawa gandengan!.".Hani disela-sela makannya.
"Aamiinkan saja!.Bagiku ucapan ibu adalah do'a.".Menanggapi santai dan tenang disela-sela menggigit ayam gepreknya."Tetapi,menyendiri adalah pilihan terbaik untuk ku saat ini.".ltu yang terlintas di benak nya.
Anayra belum berniat mencari pengganti Lefrand sampai sekarang.Belum mau melepaskan status lajangnya dan gelar jomblonya.Masih betah melajang dan ingin menikmati kesendiriannya dulu saat ini sampai menemukan jodohnya.
Jika sudah bertemu dengan pria yang tepat,baik,setia,membuat Anayra nyaman,serius dan 'gentleman'.Berani melamarnya langsung pada orang tuanya,maka barulah akan melepaskan gelar itu.
Lagipula Anayra masih ingin menata hatinya yang dulu pernah dikhianati oleh Lefrand.Namun,kini Lefrand datang kembali dan menawarkan cintanya lagi hingga hati Anayra goyah dan gundah.
Ditambah lagi Khaffa yang tiba-tiba muncul dalam kehidupannya dan mengutarakan cintanya,membuat Anayra semakin galau,bingung dan bimbang.
"Malu kali,cantik tapi jomblo!.Truk saja gandengan.Kurasa stok pria belum habis di muka bumi ini.".Andya yang tahu status Anayra ikut berkomentar,dan tersendat-sendat nafasnya.
Andya merasakan kepedasan dari sambal ayam gepreknya dan bibirnya sampai kemerahan.
"Aku tidak butuh komentar pedasmu.Lagipula yang mengantri mengemis cinta ku,banyak!.Mau kusebutkan satu-satu?.".Anayra menyanggah cepat dan menyesap es teh botolnya menggunakan sedotan.
"Yang benar saja.Aku tidak pernah melihat nya.Lagipula,aku tidak tertarik mendengar namanya.".Andya berkilah.
"Ya ampun,aku tidak percaya.Adikku meragukan ku.".Mendengar adiknya mencibir,Anayra berdecak kesal.
"Lagu lama itu,dan akal-akalan Kaka.Bisanya jika banyak yang mengantri,tetapi setiap pulang ke rumah selalu sendirian!.Tukang kredit mungkin yang antri.".Andya meledek dan menyindir kemudian meminum air mineralnya didalam botol.
Ridwan dan Hani yang menyimak saja dari tadi terkekeh geli.Kedua anaknya bagaikan minyak dan air,tak bisa bersatu.
Anayra terpancing emosinya seketika dan melempar Andya dengan gulungan tissue.Pasalnya,adiknya ini selalu asal bicara dan suka usil.
"Jangan merengek jika atm mu ku blokir.Biar kamu mati gaya.".Anayra menggertak dan melototi Andya karena kini kesabaran telah habis.
Sebagai kakak yang sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri,Anayra tentunya mengambil alih tugas sang ayah dan menanggung biaya kuliah Andya.
Andya tersentak kaget dan refleks memegang tangan Anayra.
__ADS_1
"Kakak tidak serius kan?.Aku hanya bercanda,jadi jangan masukkan ke hati.Maaf kak!,kita damai!.Piiis...".Andya memelas dan mengangkat tangan kanannya membentuk huruf V.
Namun tak digubris Anayra dan memutar matanya jengah.Anayra melanjutkan makannya lagi.Ridwan dan Hani hanya geleng-geleng kepala saja melihat interaksi keduanya yang selalu tak akur.Seperti Tom and Jerry jika berdekatan.
Usai makan,Anayra dan keluarganya bangkit berdiri dan berjalan menuju lift.Turun kelantai bawah menuju pintu keluar.Tetapi tanpa diduga dan disadari Anayra,Khaffa ada dilantai yang sama dan tengah menatapnya heran.
Khaffa mengernyit heran melihat Anayra jalan bersama orang yang tak dikenalnya.
"Siapa mereka?.".
Khaffa menelisik wajah orang-orang yang tampak asing dimatanya.
Anayra tak memperhatikan sekitarnya dan malah asyik berbincang dengan Hani.
"Hari ini melelahkan sekali, tapi menyenangkan.".Menatap wajah ibunya yang tersenyum bahagia,dan Anayra pun turut bahagia melihat nya.
"Benar!.Ibu cukup puas dan senang sekali bisa menghabiskan waktu di akhir pekan disini,bersama kalian.".Hani sudah lama tak menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya,khususnya dengan Anayra.
Tiba-tiba Anayra terkesiap saat Khaffa berdiri dihadapannya dan menyapa.
"Haiii Anayra?.Seperti nya belanja nya banyak sekali.Apa kamu memborong semua yang ada disini".Khaffa berbasa basi dan tersenyum manis.
Satu persatu ditatapnya wajah-wajah yang ada didekat Anayra,dan menurunkan pandangan pada tiga paper bag besar ditangan Anayra.
"Ehhh,i-iiya!.Mmm,tidak.".Anayra kikuk dan salah tingkah."Ini bukan hanya milikku saja.".Menjelaskan jika barang yang dibeli nya bukan hanya milik nya sendiri.
Ada milik orang tua nya dan adiknya juga didalam paper bag itu.
"Kakak teman kak Anayra?.".Andya baru kali ini melihat Khaffa,terang saja ingin tahu,dan menunjuk Khaffa.
Khaffa spontan memperkenalkan diri."Oiya,salam kenal saya Khaffa!.".Mengulurkan tangannya menyalami ketiganya secara bergantian.
"Saya ayah Anayra,ini ibunya dan ini adiknya!.".Ridwan mengenalkan satu-persatu.
Bukan kepalang terkejutnya Khaffa.Entah suatu kebetulan atau keberuntungan bisa bertemu dengan orang tua Anayra didalam Mall tanpa diduga.Secercah harapan pun mulai menghinggapi hatinya.
Tanpa ba-bi-bu Khaffa meraih tangan orang tua Anayra kembali dan mencium punggung tangannya.
Ridwan dan Hani terheran melihatnya,sementara Anayra terperangah dengan mata berdekip-kedip.
"Senang sekali bisa bertemu bapak dan ibu disini.".Senyum Khaffa mengembang menghiasi wajah tampannya.
"Yayaya...Senang juga bisa mengenal mu.".Ridwan menanggapi.
"Maaf!.Jika berkenan,bisakah meminta waktunya sebentar?.".Khaffa memintanya dengan halus dan sopan.
Anayra tak bergeming saat mendengar perkataan Khaffa yang aneh dan tak wajar bahkan menurutnya janggal dan mencurigakan.
"Pak Khaffa mau apa?.Ada perlu apa?,katakan disini saja!?.".
Melihat sikap Anayra yang dingin dan ketus,tak ayal Ridwan menjadi marah.
"Kak,jangan begitu!.Tidak sopan!.".Ridwan mencekal lengannya dan menggelengkan kepalanya tanda melarang Anayra bersikap lancang dan menyuruhnya diam.
"Tapi...".
Ridwan segera mengangkat tangan nya,sebelum Anayra berbicara panjang.
"Tentu nak,tapi dimana kita akan mengobrol?.".Ridwan menanggapi dan mengabulkan permintaan Khaffa.
"Jika tidak keberatan,saya mau mampir kekediaman Anayra?.Ada hal penting yang mau saya sampaikan,pada ibu dan bapak.".
Deggh
Anayra terlonjak kaget memegang dadanya disaat jantungnya berdebar hebat.Terkejut saat Khaffa menyinggung kediaman nya dan akan menyampaikan sesuatu yang penting pada orang tuanya.Seketika pikirannya melanglang buana.
"Tentu,silahkan datang saja keapartemen dijalan Rajawali Sakti no unit 155 lantai 15.".Ridwan memberi tahu alamat tempat tinggal Anayra sekarang.
Khaffa terkesiap.".Apa?.".Iris matanya yang tajam bergerak cepat menoleh pada Anayra.
Lokasi apartemen tersebut merupakan tempat tinggalnya,bahkan berbeda 2 lantai diatasnya.Khaffa memicingkan matanya menatap tajam Anayra dengan sejuta pertanyaan tertanam dibenaknya.
Anayra menelan salivanya kasar dan menundukkan kepalanya menghindari tatapan Khaffa.Mengatur nafasnya dan menetralisir detak jantungnya.Akhirnya keberadaannya dan tempat persembunyian barunya diketahui Khaffa.Baru tadi pagi bermain petak umpet dan menghindarinya tetapi malah ketahuan juga dengan sendirinya tanpa disengaja.
Anayra menyembunyikan hal itu sebab tidak ingin Khaffa berpikir macam-macam tentang dirinya.Menduga jika Khaffa akan berpikir Anayra mengikutinya atau mendekatinya dan pindah ke apartemen yang sama.Kata lain tidak mau Khaffa ge'er dan salah paham.
Khaffa mengangguk mengerti.
''Baik.Saya tahu tempat itu.Apa bapak dan ibu masih lama disini?.".
"Tidak,kami mau pulang sekarang.Jika terlalu lama disini,bisa kalap belanja nya,hehehe...".Ridwan terkekeh sampai perut buncitnya kembang-kempis.
Khaffa menanggapinya santai dan tersenyum manis."Baik.".Mengangguk dan sekilas melirik jam tangannya."Sekitar jam 8 malam,saya akan mampir kesana.".
Ridwan mengangguk mengiyakan."Silahkan.Akan kami tunggu kedatangan mu.Jika begitu,kami pamit pulang?.".
"Silahkan Pak,Hati-hati!.".Khaffa mempersilahkan dengan sopan dan menyunggingkan senyum manisnya.
Hani,Ridwan dan Andya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar Mall.Sedangkan Anayra dan Khaffa saling berhadapan dan bersitatap.Beradu netra dan beradu pandang dengan sorot mata yang tajam,setajam silet.
Anayra kamu hutang penjelasan padaku...
Khaffa ingin mengatakan itu,tetapi hanya memendam nya dalam hati.
Awas jika Pak Khaffa macam-macam**...
Anayra ingin mengancam Khaffa,tetapi tidak berani.Membuang muka dan berlalu pergi dari hadapan Khaffa.
Anayra keluar dari gedung Mall menyusul keluarganya.Pulang bersama menggunakan gr*b yang sudah dipesannya sejak tadi.
Khaffa memandanginya hingga luput dari pandangannya."Kenapa dia menyembunyikan tempat tinggalnya sekarang dariku?.Kamu akan mendapatkan hukumannya nanti,Anayra.".Lalu melanjutkan langkahnya menuju lift.
###
Hari menjelang malam saat Anayra gelisah dan gugup ditengah penantiannya.Berjalan mondar-mandir didekat pintu dan sesekali melirik jam dinding diruang tamu.Menerka-nerka yang akan disampaikan Khaffa pada orang tuanya nanti.
"Kakak,kenapa mondar-mandir terus?,kepalaku pusing melihatnya.".
Andya jengah melihat Anayra seperti kurang kerjaan,saat dirinya tengah duduk disofa dan memainkan game diponselnya.Meskipun fokus,namun sesekali memperhatikan gerak-gerik Anayra sedari tadi.
"Fokus saja pada ponselmu!.".Anayra.
Tettt.
Saat terdengar bel pintu berbunyi,Anayra terhenyak dan langsung menatap pintu.
__ADS_1
"Apa itu dia?,kenapa datang secepat ini?.Kupikir masih ada waktu setengah jam lagi.".Heran dan aneh sebab Khaffa datang sebelum waktu yang dijanjikan tiba.
Waktu baru menunjukkan jam 7:30 WIB.Anayra mengernyit heran dan menjadi takut jika tamu itu benar-benar Khaffa.
"Kak,buka pintunya!.".Titah Hani yang duduk disofa menikmati acara TV.
Tetapi Anayra malah menggelengkan kepalanya berulang kali tanda menolak dan melarang siapapun membuka pintu.
"Biar aku Bu!.".Andya beranjak dan berinisiatif untuk membuka pintu.
"Jangan Dek!.".Cegah Anayra saat Andya melangkahkan kakinya sontak Andya duduk kembali.
"Kamu kenapa sih kak,aneh begitu?.Takut yang datang debt kolektor?.".Hani berdiri dan berjalan menuju pintu.
Akhirnya Hani yang membukakan pintunya.Anayra hanya cengar-cengir kuda dan menatap ibunya disana.Namun berubah panik dan gugup.Melongokan kepalanya saking penasaran melihat wajah tamunya.
Benar saja.Kegugupan dan ketakutan Anayra bertambah saat pria yang datang adalah Khaffa.
Khaffa berdiri didepan pintu dan tersenyum manis lalu berkata."Assalamu alaikum?.".Sapanya ramah.
Hani menatap pria tampan dihadapannya dan membalas salamnya."Waalaikum salam,silahkan masuk nak!.".Membuka pintunya lebar-lebar.
Khaffa mencium punggung tangan Hani dan masuk sembari membawa dua kotak makanan dikantong plastik.Berjalan masuk dengan percaya dirinya dan tersenyum sumringah.
Hani menyunggingkan senyum manisnya,tidak menatapnya heran lagi dan tak risih juga.Sikap Khaffa yang lembut dan sopan selain parasnya yang tampan menarik perhatian Hani.
"Ini untuk disini,semoga suka!.".Khaffa seraya menyerahkan bungkusan itu.
"Terima kasih.Jadi merepotkan.".Hani mengambilnya."Ayo,silahkan duduk!.".Berjalan menuju sofa dan meletakkan bungkusan itu dimeja kemudian duduk.
Khaffa berjalan melewati Anayra sembari menyunggingkan senyumnya tanpa perduli Anayra yang menyambutnya dingin dan menatapnya sinis seolah Khaffa tamu tak diundang.
Anayra berdiri dan mengepalkan tangannya disamping pinggangnya.
"Dek,panggil ayah dikamar!,kak buatkan minum untuk tamu kita!.".Titah Hani.
Keduanya segera mengikuti perintah Hani.Tak lama Andya muncul bersama Ridwan dan Anayra membawa cangkir berisi teh manis hangat diatas nampan.
"Nak Khaffa sudah datang?.".Tanya Ridwan dan duduk disamping Hani.
Disusul Andya duduk disampingnya.Khaffa segera mencium punggung tangannya lalu duduk kembali.Sementara Anayra meletakkan cangkir dimeja lalu duduk bersihadap dengan Khaffa.
"Nak Khaffa,jadi apa yang membawamu kemari?.".Ridwan langsung pada intinya dan penuh wibawa.
Khaffa menarik nafasnya dalam-dalam dan menghempaskannya perlahan mengusir kegugupannya.Sedangkan Anayra menggigiti bibirnya dengan jantung berdegup kencang menanti Khaffa berbicara.Pikirannya kacau balau saat ini dan perasaannya pun tak karuan.
"Ekhm...Pak,Bu kedatangan saya kemari bermaksud meminta ijin dan restu untuk meminang Anayra.Saya berniat menjadikan Anayra sebagai calon istri saya dan jika Anayra berkenan,akan menikahinya secepat mungkin!.".Tandas Khaffa serius dan tegas.
Ridwan dan Hani refleks saling berpandangan dan melongo tak percaya.Terdiam mencerna kata-katanya.Sedangkan Andya terperangah tetapi tak lama kemudian mengukir senyuman.
Sementara Anayra tampak syok.Matanya lalu terpejam,jari jemarinya saling meremas dan mengigiti bibirnya mendengar penuturan Khaffa.
Tak habis pikir dan tak menyangka sama sekali Khaffa akan benar-benar melakukan itu.Niat dan maksud kedatangan Khaffa kesana ternyata untuk itu.
Anayra salah menduga ternyata Khaffa tak main-main dan akan seberani itu.Padahal dugaannya,Khaffa bernyali kecil untuk mau melamarnya langsung pada orang tuanya.
"Apa nak Khaffa serius dan yakin?,apa benar begitu?.".Tanya Ridwan memastikan dan menatapnya penuh selidik.
"Benar!.Saya serius dan yakin sekali Pak!.".Penuh ketegasan dan keyakinan tanpa keraguan sedikitpun.
"Maaf nak Khaffa!,sejak kapan kalian dekat?.".Ridwan bertanya sebab Anayra tidak pernah mengatakan dan tak pernah mendengar jika dirinya tengah dekat dengan seseorang saat ini.
"Kami sudah lama saling mengenal tapi belum dekat,karena ternyata putri bapak dan ibu ini susah dijinakkan!.".Khaffa berkelakar dan mengulum senyumnya.
Disambut gelak tawa orang tua Anayra dan Andya.Namun Anayra bergeming dan memicingkan matanya menatap sengit Khaffa.
Dikira aku binatang buas...
Gumam Anayra dalam hatinya.
Khaffa acuh saja dan melanjutkan kata-katanya."Jadi,maka dari itu saya meminta pada yang lebih berhak atas diri Anayra.Tapi sebelumnya saya sudah mengungkapkan lebih dulu pada Anayra.Dia meminta saya untuk menghadap bapak dan ibu kalau memang benar saya serius.Saat ini,saya mewujudkan kemauan Anayra dan juga niat saya.".Khaffa menegaskan dengan penuh keyakinan.
Anayra terlonjak kaget,mau protes dan marah tetapi urung saat ingat janjinya.Mustahil dan percuma protes juga,Khaffa pasti akan mempunyai sejuta alasan untuk mencegahnya.Apalagi niat Khaffa sangat baik.
"Baiklah,bapak mengerti!.Bapak dan ibu tentu saja menyambut itikad baik nak Khaffa.Tapi soal itu saya serahkan kembali keputusannya pada Anayra seba dia yang akan menjalaninya!.Bagaimana kak,bersedia atau tidak menerima pinangan dari nak Khaffa?.".Ridwan memberi pengertian pada Khaffa dan bertanya pada Anayra tanpa ada paksaan.
Semua serentak menatap Anayra.Sedangkan yang ditatap tampak salah tingkah dan gelagapan karena belum siap untuk ini.Secepat inikah takdir yang harus dijalaninya saat ini.
"Kak,ayo jawab!.Niat baik seseorang jangan ditolak!.Apalagi kak Khaffa gagah dan tampan hehehe...".Goda Andya untuk membangkitkan semangat Anayra.
Khaffa dan yang lainnya harap-harap cemas menunggu jawaban Anayra.Sejenak Anayra menghela nafas panjang dan berdo'a dalam hatinya.
"Maaf!,aku tidak bisa.Ini terlalu mendadak dan tiba-tiba.".Anayra menundukkan kepalanya.
Khaffa dan lainnya tentu terkejut akan jawaban Anayra.
"Anayra,aku tidak akan memaksa.Tapi bukannya kamu pernah berjanji akan memenuhi permintaan ku?.".
Khaffa gelisah dan takut,karena itu meyakinkan Anayra dan berharap bisa merubah keputusannya.
Anayra merenung sejenak dan mengingat janjinya itu saat menjenguk Khaffa di apartemen nya.
"Baiklah!.Aku mengerti dan akan memenuhi janji ku!.".
Khaffa tersenyum senang,akhirnya bisa meyakinkan dan meluluhkan hati Anayra.
"Tapi,keputusan ku ini bukan semata-mata karena janjiku padamu."Anayra menegaskan."Ayah,ibu aku mau mencintai seseorang karena Allah.Bukan karena dia ada apanya,tapi apa adanya dia,tanpa ada embel-embel lainnya.".
Anayra menjeda ucapan nya sejenak,dan mengatur nafasnya.
"Jika memang ini sudah rencana sang Maha Pencipta,garis takdirku dan takdirnya untuk bersama.Maka dengan menyebut nama Allah,serta restu dari ayah dan ibu,aku...Menerima pinangannya!.".
Anayra pasrah dan mengalah,tak mau disebut gadis pengingkar janji atau pendusta.
Semoga keputusanku tepat...
Gumam Anayra dalam hati.
"Alhamdulillah...".Serempak mengucapkan syukur dan mengusap wajah masing-masing.
Wajah keluarga Anayra seketika berubah sumringah dan Khaffa melebarkan senyumnya.Mengungkapkan hatinya yang berseri-seri dan berbunga-bunga.Bahagia tak terhingga.
"Terima kasih!.".Lirih Khaffa singkat menatap Anayra penuh makna dan tersenyum bahagia.
Anayra mengangguk pelan dan tersenyum manis.Menatap Khaffa penuh arti namun masih bingung,harus bahagia atau sedih?.
__ADS_1