
Saat tiba didepan pintu ruangan kantor.Daniel mengetuk pintunya."Masuk!.".Terdengar sahutan dari dalam.
"Selamat pagi?.Aku mengganggumu?.".Daniel menyapa pria yang duduk dikursi kebesarannya.
"Kupikir siapa?,biasanya masuk tanpa harus mengetuk pintu dulu.Ini sudah hampir siang,tidak cocok disebut pagi.".Khaffa menyambutnya dengan ocehan 'nyeleneh'.
"Ya ampun,ketus sekali.Sambutan yang menyenangkan.".Daniel menyindir Khaffa,tetapi tak memasukkannya kedalam hati.''Aku lebih tua dari mu,mana sopan santun mu?.".Duduk dihadapan meja kerja Khaffa.
"Ada apa datang kemari?,tidak untuk mengajak ku bersaing lagi,bukan?.".Khaffa melirik Daniel sekilas dan mengalihkan pandangannya lagi menanda tangani berkas-berkas dimeja.
Terakhir kali datang ke kantor,Daniel mengajaknya bersaing untuk mendapatkan cinta Anayra.Hal itu masih teringat terus dipikiran Khaffa.
"Cihhh,kau masih mengungkit soal itu?.".Daniel tersenyum miring,tetapi tak menanggapi serius."Tenanglah,wanita mu takkan kurebut dari mu!.Harga diri ku akan turun,jika merebut istri orang lain.Itu bukan gayaku.".Dengan santai dan tenang.
Daniel memperhatikan Khaffa yang tengah sibuk.Matanya teralihkan pada bingkai foto ukuran kecil dimeja yang ada didepannya,foto Khaffa bersama Anayra saat menikah.
Khaffa tak menyerah menyerang balik ucapannya."Tapi julukan Don Juan masih tetap melekat.Aku ingin tertawa mendengarnya.".Mengulum senyum,menahan tawanya dengan julukan Daniel yang menurutnya menggelikan.
"Berhentilah meledek ku!.Jangan bersikap sinis.".Daniel melemparkan tutup ballpoint pada Khaffa yang tergeletak dimeja."Aku datang membawa kedamaian.Jadi,bersikap baiklah pada kakak mu ini.".Menggeleng tak mengerti,Khaffa memperlakukannya seperti musuhnya.
Tetapi Khaffa melakukan itu karena ada alasannya.Rasa kesal pada Daniel masih menghantui Khaffa.
Khaffa mendesah,sadar akan sikapnya."Baiklah,katakan!.Apa mau mu?.".Malas mendengar Daniel mengoceh tak jelas lagi.
"Sejak kapan panggilanmu berubah pada ku?.".Daniel tersenyum masam saat Khaffa melupakan panggilan Abang nya.
Namun Khaffa tak menggubrisnya."Aku tidak ada waktu untuk berbasa-basi.".Menghela nafas berat dan menatap Daniel dengan wajah malas.
"Ya ampun,lihatlah dirimu?.Semakin besar kepala saja,ck,ck,ck.".Membuat Daniel geleng-geleng kepala melihat sikap Khaffa yang tak ramah dengan kedatangannya.
"Aku tidak bisa sabar lagi.Jangan membuang waktu ku percuma!.".Khaffa semakin menjadi-jadi,semakin bersikap ketus dan dingin.
"Baiklah.Aku datang untuk mengemis pekerjaan!?.".Daniel mengalah,tak mau berdebat panjang lagi.
"Telinga ku tidak salah dengar?.Harta mu menipis dan usaha mu bangkrut?.".Khaffa menyindirnya dengan nada tenang dan menatap lekat wajah pria berkulit lebih putih darinya.
Sama sekali Daniel menyangkalnya."Aku bosan tidak melakukan apapun.Ada tempat untuk ku disini?.Kantormu cukup luas,sepertinya muat untuk menampung satu orang lagi.".Memperhatikan setiap sudut ruangan Khaffa,yang luas dan cozy.
"Aku tidak suka satu ruangan dengan orang lain,terutama melihat wajah pria dikantor ku.Itu mengganggu ku.".Khaffa terus bersikap sinis,tetapi tetap tenang dan santai cara bicaranya.
"Anak ini,kamu membuat ku kesal saja.".Daniel mengangkat tangan kanannya keatas seolah ingin menjitak kepala Khaffa.Namun karena tak sampai,Daniel tak melakukannya.Mungkin jika posisi Daniel berdiri,pasti Khaffa meringis kesakitan saat ini."Dulu selalu merengek untuk mengajak mu bermain,merajuk untuk ku gendong dan selalu mengikuti langkah kaki ku.".Mengungkit masa kecilnya dulu.
Usia mereka yang terpaut 2 tahun lebih membuat keduanya sangat dekat saat masih kanak-kanak.Khaira saat itu belum lahir,sehingga Khaffa menjadi kesepian.Maka,mau tak mau lengket pada Daniel.
Namun seiring berjalannya waktu,dan usia mereka beranjak dewasa.Intensitas waktu mereka untuk bertemu menjadi berkurang,bahkan jarang.Disibukkan aktivitas dan pekerjaan masing-masing.
"Aku malas berdebat.Jika ingin menanyakan soal pekerjaan,tanyakan pada Khaira atau Nichole!.".Khaffa menyarankannya dan fokus kembali pada kegiatannya.
"Sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat.Pemilihan waktunya salah.".Daniel menggaruk kepalanya yang tak gatal,melihat ekspresi wajah Khaffa yang dingin dan datar,sikapnya pun acuh."Kehadiran ku disini seperti nya tidak pernah kau harapkan.".Menghela nafas panjang,karena merasa diabaikan.
"Kenapa susah payah membuat alasan dengan mencari pekerjaan?.Aku tau,kau masih punya cukup banyak uang.Menggelikan sekali.".Khaffa tersenyum miring,akan kekonyolan Daniel yang mengada-ada dan mengarang alasan.
"Sepertinya aku tidak pandai berbohong.Aktingku ketahuan.".Daniel terkekeh,merasa tertangkap basah.
"Baiklah.Apa yang membawa Abang kemari?.".Akhirnya Khaffa luluh dan melunak.
Menghentikan aktivitasnya dan menatap Daniel dengan hangat.
"Itu yang ingin ku dengar dari tadi.Sulitkah memanggil ku itu dan bersikap ramah pada ku?.".Daniel mencibir Khaffa hingga membuatnya mendengus kasar saat perkataannya memancing kekesalan Khaffa.
"Aku berubah pikiran.Lakukan sesuka mu.".Khaffa beranjak dari duduknya dan berjalan kedepan,menghindari Daniel.
"Aishhh...Begitu saja marah.".Daniel bangkit menghadangnya dan merangkul pundaknya."Kita duduk dengan tenang disana.".Mengajak Khaffa duduk bersama disofa."Aku sudah lama tidak bermain-main dengan mu.".Mengacak-acak rambut Khaffa saat sudah duduk di sofa.
"Konyol sekali.Aku bukan anak kecil lagi yang bisa diajak main.".Khaffa merapikan rambutnya dengan jemari tangannya.
"Santai lah!.Kamu tegang sekali berhadapan dengan ku?.Aku bukan musuh mu,dan bukan saingan mu lagi.".Daniel memprotes sikap Khaffa yang tegang dan kaku."Kau ada masalah disini?.".Menatap Khaffa dengan penuh selidik.
Dengan santainya Khaffa menjawab."Sebelum Abang datang kemari,suasana hatiku baik.Pikiran ku pun tenang.".Melipat kedua tangannya didada dan bersandar di bahu sofa.
Daniel menjadi gemas dibuatnya dan ingin sekali menjambak rambutnya."Astaga...Sikapmu berlebihan pada ku.Mana Khaffa yang ku kenal dulu?.".Geleng-geleng tak percaya,tak habis pikir Khaffa masih bersikap seperti itu.
"Lantas,apa mau mu?.".Khaffa mulai tak sabar.
"Berjanjilah untuk tidak menertawakan ku?.".Daniel memintanya dengan sangat pada Khaffa sebelum mengungkapkan niatnya.
Khaffa mengernyit heran,belum mengatakan apapun Daniel sudah memintanya berjanji."Haruskah?.".Ingin memastikannya.
Khaffa menatap Daniel dengan wajah aneh,tak biasanya Daniel seperti itu.
Daniel mengangguk mengiyakan dan menepuk dadanya sendiri."Demi menjaga harga diri ku dan image ku.".Tak ingin harga dirinya jatuh jika Khaffa sampai menertawakannya.
__ADS_1
"Aneh.".Khaffa menyeringai tipis dengan pernyataan Daniel."Berhentilah bersikap konyol,cepat katakanlah!.".Kesabarannya telah habis.
Daniel tertegun sejenak,dan menghela nafasnya."Bagaimana cara menaklukkan hati Anayra?,maksudku wanita?.".Dengan cepat meralatnya.
Namun terlambat,Khaffa terlonjak kaget mendengarnya dan menarik kesimpulan jelek."Abang berniat berselingkuh dengan istri ku?.".Bukannya ingin menertawakan,Khaffa malah menjadi marah.
Refleks tangan Daniel menepuk bagian belakang kepala Khaffa."Payah!.Pikiranmu kotor dan dangkal sekali.".Menepis prasangka buruknya.
"Lalu apa maksud mu bertanya itu?.".Khaffa menjadi penasaran dibuatnya.
Daniel membisikkan sesuatu ditelinga Khaffa hingga mengundang tawanya."Hahaha...Abang,menyukainya?.Ya ampun,aku hampir kehabisan kata-kata.Sepertinya Serigala telah jatuh cinta pada mangsa buruannya.".
"Apa maksud kata-kata mu itu?.".Daniel merengut kesal."Asal menebak saja.".Berusaha menepis anggapan Khaffa.
"Kau tidak bisa mengelaknya.Aku tau,Abang tidak pandai berbohong.".Khaffa melihat jelas diwajahnya,Daniel tak bisa menyembunyikan perasaannya.
"Bukan seperti itu,ini karena ibuku.".Bersikukuh Daniel menepisnya.
Jika bukan karena Lenni yang mendesaknya,Daniel takkan melakukan itu.Tetapi hatinya sangat penasaran,Anayra dan Alma sangat sulit ditaklukkan hatinya.Sehingga Daniel merasa tertantang untuk menaklukkan hati Alma,karena Anayra tak mungkin didekatinya lagi dan telah menjadi istri Khaffa.
"Alasanmu tidak masuk akal.".Khaffa menggeleng cepat,tak percaya begitu saja.
Mengingat Daniel pernah berusaha mendekati Anayra,dan merenggut kesucian Alma.
"Haishhh,kenapa tidak percaya pada ku?.".Daniel memutar matanya jengah,karena Khaffa meragukan ucapannya.
"Baiklah,buktikan sendiri jika benar tidak mencintai Alma.".Khaffa menantangnya yang membuat Daniel berpikir.
"Bagaimana caranya?.".Daniel tertegun sesaat.
"Kenapa bertanya pada ku?.Kau lebih pengalaman dari ku.".Khaffa mengerutkan kening heran,Daniel pura-pura tak mengerti dan berlaga bodoh,atau memang benar adanya.
Meskipun ucapan Khaffa tak jelas,tetapi Daniel bisa paham kemana arah pembicaraannya.Namun tak terima dengan perkataan Khaffa."Jangan mulai lagi.Gadis-gadis yang ku kencani tidak sama dengan Alma,mereka sangat berbeda.".Membandingkan Alma dan gadis-gadis satu malamnya.
Jelas sangat berbeda jauh sekali,Alma masih suci saat ku melakukan itu...Pikir Daniel.
Secara tak langsung dan tak disengaja,Daniel membela Alma.Daniel tak menyadari itu,namun Khaffa yang menyadarinya.
"Bahkan kau membelanya,dan tau banyak tentang Alma.Sulit ku percaya,padahal kalian tidak pernah berpacaran.".Khaffa geleng-geleng kepala tak percaya.
"Tapi kami pernah tidur bersama dan melakukan itu.".Tanpa sadar Daniel mengatakannya.
"Menjijikan.Bahkan kau mengakuinya.".Khaffa memandang Daniel dengan rendahnya."Bukan tidur bersama,kau yang memaksa melakukan itu.".Mengoreksi perkataan Daniel.
Kebingungan akan perkataannya sendiri dan berpikir keras untuk mengingat ucapannya tadi.Sialnya,Daniel lupa itu.
Khaffa tersenyum smirk dan berdecih."Cihhh,sampai melupakan kata-katanya sendiri.Kurasa dia tidak sadar mengatakannya.".
"Sudahlah,jangan berdebat lagi.Kau mau membantu ku atau tidak?.".Daniel menatap Khaffa dengan wajah harap-harap cemas.
Berharap Khaffa bisa membantunya,dan cemas Khaffa menolaknya.
Alih-alih menjawab,Khaffa malah mencibirnya."Playboy sejati meminta saran dariku.Aku terharu dan tersentuh.Ini suatu kehormatan bagi ku.".Menunduk hormat pada Daniel,dan tersenyum lebar.
Namun Daniel menganggapnya lain."Sepertinya kau sangat menikmati,dan senang sekali meledek ku?.".Bingung dengan sikap Khaffa yang terus memandangnya buruk.
Memperhatikan ekspresi wajah adik sepupunya yang tampak senang.
"Baiklah.Aku mengalah.".Khaffa sudah cukup puas mengerjai Daniel."Pertama,cari tau yang disukainya!.Kedua,hobby dan cita-citanya,ketiga apa warna favoritnya?.".Memberikan saran yang membuat Daniel mengernyit aneh.
"Apa itu perlu?.Kurasa cara itu kuno dan sudah biasa ku dengar.".Daniel menggeleng tak percaya,Khaffa memberikan saran yang biasa saja.
"Itu dasarnya saja.Tapi Abang,tidak perlu melakukan itu.".Khaffa membuat Daniel semakin pusing.
"Lantas,kenapa kau mengatakannya?.".Daniel semakin bingung dengan jalan pikiran Khaffa dan menepuk keningnya sendiri.
"Untuk menguji mu saja.Apa benar yang dikatakan orang-orang,jika kau seorang Don Juan,si pecinta wanita dan suka gonta-ganti pasangan?.".Dengan nada mencibir Khaffa mengatakannya.
Daniel menghela nafas panjang."Sepertinya aku salah memilih orang.Aku menyesal datang kemari.".Merengut sedih dan kecewa.
"Datanglah pada orang tuanya untuk melamarnya.Aku yakin,Alma akan menerima mu tanpa pikir panjang.".Khaffa tak tega mengerjai Daniel lagi dan memberikan saran sesuai pengalaman pribadinya."Tapi itu dugaan ku saja.".Tiba-tiba menjadi ragu.
"Itu saja?,semudah itu?.".Daniel geleng-geleng kepala tak percaya akan saran Khaffa dan tersenyum lebar,ternyata semudah itu caranya."Tapi aku tidak bisa melakukannya.".Perlahan senyum Daniel menghilang dan menggelengkan kepalanya,merasa tak mampu dan tak sanggup melakukannya.
Lebih baik aku melawan preman daripada berhadapan dengan orang tua Alma...Pikir Daniel.
"Kupikir kau bisa?.Sikapmu sangat percaya diri sekali.Aku terkecoh.".Khaffa dapat melihat kepercayaan dirinya,mengira Daniel mampu dan sanggup.Namun ternyata itu palsu,dibalik sikap Daniel yang meyakinkan.
"Tapi,kenapa tidak pernah terpikirkan hal itu oleh ku?.".Daniel mengkerutkan kening bingung.
"Karena kau bodoh.Untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika IQ mu rendah dan dibawah rata-rata?.".Dengan santai Khaffa mengatakannya.
__ADS_1
"Dan kau terlalu pintar,pintar bicara dan mencibirku.".Daniel memutar balikkan ucapan Khaffa."Apa itu yang kau lakukan pada Anayra?.".Menarik kesimpulan dari saran yang Khaffa berikan,dan memandangnya dengan wajah penasaran.
"Begitulah.".Khaffa mengatakannya dengan penuh percaya diri.
"Aku memang bodoh.Jika aku melangkah lebih dulu,mungkin sekarang Anayra menjadi milikku dan menjadi istri ku.".Daniel merutuki kebodohannya,namun tak serius mengatakan itu.
Tak ayal,Khaffa menjadi berprasangka buruk padanya dan menanggapinya lain."Apa maksud mu?.Hati kecil mu masih menginginkan Anayra?.Dia istri ku,jangan berani mengambilnya dari ku dan membuat ku marah.".Tak mengerti dengan jalan pikiran Daniel."Aku tidak akan tinggal diam,dan tidak segan untuk menghancurkan hidup mu.".Dengan tajamnya menatap Daniel.
Khaffa takkan berdiam diri saja jika ada pria lain yang berusaha merebut Anayra darinya.Anayra sudah menjadi bagian dari hidupnya dan belahan jiwanya.Separuh nafasnya adalah Anayra.
Namun bukannya takut melihat kemarahan Khaffa,Daniel malah senyum-senyum."Baguslah.Kurasa kau sangat mencintainya.Aku senang,melihat kesungguhan mu,dan lega menyerahkan Anayra pada pria yang tepat.".Menepuk bahu Khaffa dengan penuh rasa bangga.
Khaffa memandang aneh Daniel."Sejak kapan Anayra menjadi milik mu?,kapan kalian pernah dekat,hingga menyerahkan dia padaku?.".Kebingungan mendengar perkataan Daniel dan menunjuk dirinya sendiri.
"Hahaha...Aku senang bisa berbalik mengerjai mu.Kita impas.".Daniel tersenyum senang,bisa membalas Khaffa.
Itu dilakukan untuk mengujinya dan seberapa besar Khaffa mencintai Anayra,dan sekuat apa bisa melindunginya.
"Mengada-ada saja.Lakukanlah saranku tadi,tapi jangan terlalu yakin bisa menaklukkan hatinya,dan lamaranmu diterima.Alma tidak selembut yang kau pikir,dan tidak selemah yang kau lihat.".Khaffa beranjak dari duduknya menuju kursi kerjanya kembali.
"Baiklah,aku pergi.Terima kasih,akan ku ingat dan kupikirkan saranmu itu.".Daniel berdiri dan berjalan menuju pintu.Langkahnya terhenti sebelum pergi,memutar badannya kebelakang."Tapi,aku serius saat meminta pekerjaan.".Menatap Khaffa sesaat dan kembali ke posisi semula.
Tanpa berkata-kata lagi Daniel meninggalkan ruangan CEO.
Kurasa dia masih kesal padaku.Bahkan dia tidak menawariku minum...Daniel merutuk dalam hati dan berjalan pergi menyusuri lorong kantor.
Khaffa tertegun usai kepergian Daniel."Haruskah ku percaya semua kata-katanya?.".Dengan pikiran menerawang jauh.
Sesaat kemudian,Khaffa menuju meja kerjanya kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
Ditempat lain.
"Kurasa tidak ada salahnya mencari tahu keadaannya.".Riccy tiba-tiba terpikirkan untuk membuka aplikasi akun media sosial diponsel barunya.
Tangannya bergerak cepat mencari informasi tentang Alma.Di IG dan FB,namun tak menemukan tautan terbaru,bahkan postingannya masih yang dulu.Tak berkecil hati,Riccy mencarinya di akun sosial milik Anayra.
"Alma?.".Riccy terperanjat saat ada diruang kerjanya."Apa benar ini dia?,apa yang terjadi padanya?.".Terkejut melihat foto Alma yang terbaring ditempat tidur rumah sakit dengan selang Oksigen dan jarum infus terpasang dibagian tertentu tubuhnya.
Anayra suatu hari pernah mempostingnya saat Alma masuk rumah sakit karena tragedi yang dialaminya.ltu sudah lama namun Riccy baru mengetahuinya.
"Sebaiknya aku pergi.".Bergegas Riccy bersiap untuk pergi.
Sebelum itu,Riccy pulang kerumah lebih dulu menggunakan mobil,untuk mengambil sesuatu dan barang yang diperlukannya.Aulia terkejut saat Riccy datang dengan tergesa-gesa dalam keadaan panik.
"Apa yang terjadi?.".Aulia tak biasa melihat Riccy sepanik itu.
Aulia mengikuti Riccy ke kamarnya dengan tangan memegang perutnya yang membesar.
Riccy menghentikan langkahnya didalam kamar."Ini.".Memperlihatkan gambar yang ada diponselnya.
"Siapa dia?.".Aulia melihat foto seorang gadis yang tak dikenalnya dan dalam perawatan dengan wajah penasaran.
"Gadis yang kucintai,dan berharap ingin kunikahi.".Tanpa rasa beban Riccy menjelaskan sosoknya.
"Apa?.".Aulia terkejut."Mas,akan pergi ke Jakarta?.".
"Untuk melihat keadaannya,kurasa harus.".Riccy berinisiatif seperti itu.
Aulia mendadak panik dan bingung.Riccy akan pergi meninggalkannya.Menjadi gelisah memikirkan yang harus dilakukannya.
"Mas ingin menemuinya, dan ingin menikahinya?.Tapi kita belum bercerai,aku masih istri mu yang sah?.".Aulia bicara melantur.
"Aulia,berhentilah bersikap menyedihkan.Kamu tau,aku tidak akan pernah bisa mencintaimu?.Tapi aku sadar,kamu istri ku dan aku suami mu.Aku hanya khawatir dan cemas pada nya.".Riccy membuat Aulia terdiam dan mencerna kata-katanya."Maaf,aku tidak akan melepaskan tanggung jawab ku.Tapi aku harus pergi,untuk memastikannya.Biar hatiku tenang.".Beranggapan seperti itu.
Riccy mengambil beberapa helai pakaian dilemari dan memasukkan kedalam koper kecil.Aulia yang berdiri didekat Riccy mengawasi gerak-geriknya,dan berpikir Riccy akan pergi dalam waktu yang cukup lama.
"Baiklah,aku mengerti.Berapa lama disana?.".Aulia sangat penasaran.
"Entahlah.".Riccy dengan masih tetap fokus pada kegiatannya.
Riccy tak bisa memastikan dan menentukan waktunya,akan berapa lama bermalam di Jakarta.
"Jika aku meminta mu jangan pergi?.Mas akan menuruti ku?.".Aulia tiba-tiba mengejutkan Riccy.
"Kenapa?,kamu takut aku tidak kembali?.Aulia,jangan berpikir macam-macam!.Aku akan pulang setelah urusan ku selesai.".Riccy berusaha menenangkan hati Aulia.
"Baiklah,jaga dirimu baik-baik disana.".Aulia mengalah meskipun berat hati melakukannya.
"Kamu yang harus menjaga diri disini.Jangan lupa minum susu dan vitamin mu.".Riccy memegang kedua pundak Aulia yang berdiri dihadapannya,dan menatapnya iba."Aku pergi,hubungi aku jika terjadi sesuatu pada mu.".Riccy melepaskan Aulia dan mengambil kopernya yang ada di atas tempat tidur dan pergi keluar setelah siap.
Aulia mengikuti langkahnya dibelakang,tertahan saat Riccy menginjakkan kakinya dihalaman dan masuk kedalam mobil."Aku tidak bisa mencegahnya.Dia sangat ingin pergi.Kuharap benar,dia akan kembali.".Memandangi kepergian Riccy dengan wajah sedih dan takut.
__ADS_1
Menutup dan mengunci pintu rumah.Aulia menyeduh segelas susu khusus ibu hamil rasa moccha didapur,dan meneguknya secara perlahan.Namun tanpa terasa,sebutir air mata bening jatuh di pipinya.