Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
128.Rasa takut itu sangat menyiksa hati.


__ADS_3

_________


Didalam gedung model agency,Sabrina melakukan pemotretan untuk majalah ternama yang sudah ditandatangani Sabrina kontrak kerjanya.


Fotografer profesional yang memotret Sabrina,dan pengarah gaya pria yang menangani gaya Sabrina,tak puas dan kecewa oleh Sabrina hari ini.Sabrina terus melakukan kesalahan dan tak bisa diandalkan,sehingga harus mengulang adegan saat mengambil gambar.


"Tidak Sabrina.Apa yang terjadi pada mu?.Hari ini penampilan mu buruk sekali,aura mu tidak ada.Kau membuang waktu saja.".Pengarah gaya pria takkan memarahi Sabrina jika hasil kinerja yang Sabrina tunjukkan bisa memuaskan nya.


Suasana hati Sabrina sedang tak baik hari ini,sehingga aura kecantikannya meredup,dan kedewian nya sebagai model sangat kacau.Entah kenapa,Sabrina pun tak tahu.Namun itu berpengaruh pada pekerjaannya.


Sabrina yang berdiri menghadap fotografer,didepan spot yang sudah dirancang khusus,dengan balutan gaun malam indah dan gemerlap bertabur batu Swarovski,serta sepasang heels yang cantik,akhirnya menyerah.


"Bisakah memberiku waktu untuk beristirahat sejenak?.".Pose yang ditunjukkan nya dari tadi selalu dianggap salah dan kurang,sehingga harus berkali-kali mengulang adegan saat gambar nya diambil fotografer.


"Pergilah!.Kuharap kau membaik setelah itu.Pastikan kau mengatasi suasana hati mu.".Sang Fotografer tak tega melihat keadaan Sabrina yang tampak lelah dan lesu.


"Terima kasih.".


Sabrina menuju ke ruangan nya didampingi dua orang wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya.Kedua orang itu bertugas sebagai asisten,penata rias dan penata busana serta rambut.


Tiba didalam,Sabrina berjalan mondar-mandir tak karuan."Ada apa dengan ku?.Perasanku tidak enak sekali.".Cemasnya memikirkan diri sendiri,aneh dan tak biasanya dengan yang dirasakannya saat ini.


Sabrina berusaha menenangkan hatinya dan mengatur nafasnya untuk memulihkan suasana hatinya agar lebih baik dari sebelumnya.


Bercermin dan mengamati penampilan nya,sejenak berlatih tersenyum didepan cermin."Come on,figthing!.Aku bisa melewati hari ini.Semua pasti baik-baik saja.".Perlahan-lahan melangkah menuju lokasi pemotretan dengan menyingsingkan gaunnya yang panjang.


Belum sampai ke ruangan itu,seseorang menarik tangan Sabrina secara kasar.


"Akhhh...".Sabrina terlonjak kaget akan perlakuan orang itu,dan betapa terkejutnya saat melihat wajah seorang pria yang sudah lama tak dijumpainya."Khaffa?,kau disini?.".Rona senang samar terlukis diwajahnya,dan binar bahagia seketika terpancar dimatanya.


Sabrina bersitatap dengan mata seraut wajah pria yang pernah bisa membuatnya jatuh cinta,dan tersenyum,seperti saat ini.


Sebaliknya,tanpa ekspresi yang istimewa,Khaffa memandangi Sabrina dengan pandangan penuh selidik."Apa kau mencoba bermain-main dan mencari masalah dengan ku?.".Rahang bawahnya mengeras menahan gejolak di hati yang menyimpan rasa benci pada gadis yang pernah berurusan dengan nya.


Senyuman kebahagiaan di bibir Sabrina seketika pudar hanya karena Khaffa tiba-tiba menghujani nya dengan sepenggal pertanyaan aneh."Aku?.".Sabrina tak mengerti dengan ucapan Khaffa,hingga menunjuk wajahnya sendiri."Demi apapun,aku tidak mengerti.Apa salah ku?,sampai kau harus repot jauh-jauh kemari untuk mengatakan sesuatu yang tidak ku pahami?.".Sabrina menunjukkan wajah serius untuk meyakinkan Khaffa,dan bingung juga kenapa harus melakukan itu.


Amarah Khaffa memuncak dan tak terelakkan lagi seiring dengan berkelitnya Sabrina dari pertanyaannya.Tentu saja,kedatangannya ke sana untuk mencari tahu Anayra.Tetapi Sabrina berlagak bodoh.


"Jangan pura-pura bodoh!.Aku tau,kau yang bermain di belakang ku.Hanya kau yang mempunyai keberanian cukup tinggi untuk melakukan sesuatu yang licik dan keji.".Khaffa mencoba menahan emosinya yang membuncah hingga mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Sabrina yang mendapat tatapan tajam dari Khaffa,mengerutkan keningnya.Mencoba mencerna kata-kata Khaffa yang klise,dan berpikir keras mencari jawaban dari pernyataan Khaffa.Hasilnya gagal,sama sekali tak menemukan jawaban nya.Namun apa pun itu,Sabrina mengerti jika Khaffa sedang menghadapi masalah rumit yang berhubungan dengan Anayra.Sehingga melimpahkan biang masalah itu pada nya,dan jika dirinya lah penyebabnya.


Khaffa pun tanpa alasan yang jelas melampiaskan amarahnya pada nya.Sungguh,itu semua membuat Sabrina bingung dan heran.Tetapi ini salah nya juga,karena pernah terlibat dalam situasi yang pelik dengan Khaffa dan Anayra.


Namun Sabrina mulai sadar dan mengerti,Khaffa menemuinya pasti karena suatu alasan.Tak mungkin Khaffa sukarela datang jauh-jauh hanya ingin bertemu dengannya saja.Sabrina sadar diri jika Khaffa begitu membencinya.


Tatapan Sabrina yang tadinya lembut,berubah liar dan balas menatap Khaffa dengan sinis.Pikirannya sempat berspekulasi jika Khaffa mencarinya untuk urusan hati.Menduga sendiri jika Khaffa berubah pikiran,ingin berbaikan dan menerima permintaannya kala ingin dinikahi Khaffa.


"Aku memang bukan wanita baik-baik,tapi bukan berarti aku kejam.Dan satu hal lagi yang harus kamu tau,sama sekali aku tidak berniat untuk terlibat dalam masalah lagi dengan mu,sejak hari terakhir kita berjumpa.Apalagi aku tidak mengerti dengan masalah yang kau hadapi saat ini.Tapi jika kau bersedia menceritakan,akan ku dengarkan dengan senang hati.".


Tanpa merasa keberatan dan terbebani akan hal itu,Sabrina menyunggingkan senyumnya untuk menarik perhatian Khaffa jika dirinya akan menjadi pendengar yang baik dan setia untuk Khaffa.Diwaktu ini juga dan khusus untuk hari ini saja,Sabrina rela mengorbankan waktunya dan meninggalkan pekerjaannya sekarang demi mendengarkan cerita Khaffa.


Khaffa bingung,Sabrina terus menunjukkan sikap dan gelagat yang membuatnya penasaran.Sabrina terlibat atau tidak dalam penculikan Anayra,dan ada hubungannya dengan masalah itu atau tidak,itu menjadi tanda tanya besar dibenak Khaffa."Apa kau pikir aku akan percaya?.Jika bukan dirimu,lalu siapa yang mencoba menyakiti istri ku,Anayra?.".


Mendengar nama yang disebutkan Khaffa,hati Sabrina seketika terasa memanas.."Aku tidak cukup banyak waktu untuk menjawab pertanyaan mu yang aneh.Maaf!.Aku harus pergi.".Tanpa ingin mendengarkan penjelasan Khaffa tentang yang dialami Anayra,Sabrina meninggalkan Khaffa di area ruang tunggu,menuju ruang pemotretan.


Khaffa kecewa harus pulang sia-sia.Niat hati mengorek informasi dari Sabrina malah harus menelan ludah pahit.Secercah harapan untuk mencari petunjuk akan keberadaan Anayra menjadi sirna.


________


Sehari setelah Anayra diculik,akhirnya Khaffa mengungkapkan jika Anayra dibawa pergi oleh orang yang menyamar menjadi anak buahnya pada orang-orang terdekatnya.Penculikan Anayra tak bisa disembunyikan Khaffa lagi dari orang-orang terdekatnya,terutama dari orang tua dan mertuanya,tak lain orang tua Anayra.


Khaffa merasa terbebani jika terus menyembunyikan hal itu dari mereka.Baik atau buruknya,mereka harus mengetahui hal itu.Cepat atau lambat,ketidak adaan Anayra pasti dipertanyakan.Sehingga Khaffa pun tak bisa menutupi atau merahasiakan itu lagi.


Keluarga Anayra langsung bertolak dari Bandung ke Jakarta saat mendapat telepon dari Khaffa jika sesuatu telah terjadi pada Anayra.Saat tiba disana dan mengetahui jika putri nya diculik,Hani pingsan.Syok mendengar kabar yang mengguncang batinnya.


Alma dan Daniel pun segera berkemas setelah dihubungi Al tentang Anayra,saat masih berada di villa.Secepatnya menuju Jakarta dengan dipenuhi tanda tanya besar dibenak mereka.


Pencarian terus dilakukan Khaffa dan anak buahnya selama tiga hari terakhir ini.Arya dan rekannya mencari nama pemilik kendaraan yang membawa Anayra pergi dari petunjuk yang didapat dari cctv.Tetapi nihil hasilnya,dan tak menemukan titik terang.Identitas pemilik mobil itu tak terlacak,sehingga keberadaan Anayra masih belum diketahui dan belum bisa ditemukan.


Kendati demikian,Khaffa belum berniat melaporkan penculikan Anayra pada polisi.Melibatkan polisi hanya akan memperkeruh suasana dan mempersempit ruang gerak nya,sehingga tak bisa bertindak dengan leluasa.


Tepat pada jam 5 sore ini,Rumah Andika didatangi keluarga inti Anayra dan keluarga inti Daniel.Khaffa sengaja mengumpulkan orang-orang terdekatnya untuk membahas tentang Anayra disana.


"Bagaimana jika kita melaporkan hal ini pada pihak berwajib?.".Kasus hilangnya Anayra dirasa cukup berat dan serius bagi Khaira.


Lainnya pun berpendapat demikian.Tetapi tak berani menyerukan suaranya.Orang tua Anayra dan orang tua Khaffa,sepenuhnya melimpahkan masalah itu pada Khaffa.Yang berhak membuat keputusan atas hal itu adalah Khaffa,menurut mereka.


"Tidak.Jika melibatkan polisi,maka pelaku akan lebih bersikap hati-hati.Jika pelakunya merasa tersudut,bisa membahayakan keselamatan Anayra,dan kemungkinan akan disakiti.Pelaku pun akan semakin menjaga jarak lagi dan menjauhkan Anayra dari kita.Jika itu terjadi,maka kita akan semakin kehilangan jejaknya.".Bukan tanpa alasan Khaffa tak melaporkan hal itu hingga sekarang.

__ADS_1


Sembilan orang lainnya dari sebelas orang yang menempati posisi duduk disofa masing-masing yang ada diruang tamu,bisa mengerti dengan penjelasan Khaffa.


"Lantas,harus bagaimana kak?.".Andya yang termuda di ruangan itu ingin tahu tindakan yang akan dilakukan Khaffa selanjutnya.


Rasa takut dan cemas akan kakaknya membuat Andya gelisah dan tak bisa tidur nyenyak.Namun Andya tak bisa membantu apa pun,atau melakukan sesuatu.Selain diam dan menunggu saja kepulangan Anayra.


"Tetaplah diam dan bersikap tenang!,seolah tidak terjadi apa-apa.Masalah Anayra,itu urusan ku.Akan kupikirkan cara lain untuk mencari keberadaannya.".Sejak Anayra diculik Khaffa berpikir keras mencari petunjuk dari semua bukti yang didapatnya.


Pernyataan Khaffa tetapi tak mampu membuat Alma tenang.Pasalnya,Anayra pasti sangat ketakutan dan kesepian.Bahkan mungkin saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja dan disakiti oleh sang pelaku penculikan.Itu bagian terburuk yang dipikirkan Alma saat ini.


"Jangan terpaku pada waktu.Bagaimana jika kita terlambat dalam bertindak?.Aku khawatir Anayra...".


"Berdo'alah!,agar Anayra selamat dan cepat ditemukan.".


Alma kesal dan bersidekap,Khaffa tiba-tiba memotong pembicaraan nya.Apalagi mendengar kata-kata nya.


"Yang benar saja.Apa itu akan berhasil,dan bisa membuat Anayra kembali dengan selamat?.".Terang saja Alma geram,bisa-bisanya Khaffa hanya menyuruh berdo'a saja,tanpa melakukan apapun saat Anayra dalam bahaya."Kurasa,berusaha akan lebih baik.".


Khaffa sudah berusaha keras untuk menahan emosinya.Namun saat Alma berani meninggikan suaranya,Khaffa kehilangan kendali dan tak bisa mengontrol emosi lagi.


"Kamu tau siapa yang kita bicarakan?.Anayra istri ku,dan aku suaminya.Aku yang lebih terpukul dan sangat kehilangan nya.Jadi,tidak mungkin aku diam saja.Aku tau apa yang harus dilakukan.Mengerti?.".


Jika bukan karena rasa sayangnya pada Anayra,Alma tak mungkin membuat Khaffa marah.


"Maaf!.Aku hanya cemas,dan takut sesuatu yang buruk,terjadi pada Anayra.".Itu alasan Alma sebenarnya.


Alma terus berbicara ketus,Khaffa jengah dan semakin menggeram ."Kamu pikir aku tidak?.Semua yang disini pun pasti merasakan hal yang sama seperti mu.".lngin rasanya Khaffa meninggalkan ruangan itu jika hanya ada Alma dan dirinya,tetapi tak bisa.


Orang yang ada diruang tamu dan yang menghadiri pertemuan keluarga itu,terus mengamati Alma dan Khaffa yang saling bersilang pendapat.Ada yang pro dan ada yang kontra,tetapi tak berani berbicara.


Hani didalam dekapan Rena yang matanya juga sembab karena tangisannya,terus tersedu-sedu.


"Aka,tenangkan dirimu!.Alma,ingat kondisi mu!,nak.Jangan terlalu berpikir keras dan jangan cemas!.".Al tak nyaman menyimak perdebatan Khaffa dan Alma,keduanya saling bertolak belakang dan bersikeras dengan pendapat nya masing-masing.


Jika tak mengingat kondisi Alma yang tengah hamil,Al tak akan ikut campur dan takkan melerainya.Jika Alma tertekan dan stres,pasti akan mempengaruhi perkembangan janin diperutnya.Itu semua membuat Al khawatir.


"Alma,ikutlah dengan ku!.".


Alma mengikuti langkah suaminya saat Daniel menuntunnya dan membawanya ke salah satu kamar tidur khusus untuk tamu di kediaman Andika.


Mendengarkan perdebatan sengit antara istri dan sepupunya yang terjadi didepannya,Daniel tak bisa berdiam lagi dan hanya menjadi penonton saja.Jika dibiarkan saja,akan semakin rumit dan panjang urusannya.Sehingga tak menemukan jalan keluar yang terbaik dari pertemuan itu.


Tiba dikamar,Daniel menarik Alma kedalam dekapannya,dan Alma hanya menurut saja."Alma,aku tau perasaan mu saat ini.Tapi jangan egois,masalah ini tidak mudah untuk semua.Mengerti?.".


Alma tak menjawab,sama sekali tak tertarik dan tak perduli ucapan Daniel.


"Khaffa butuh dukungan kita,bukan tekanan.Aku tau,kamu cemas dan khawatir akan nasib Anayra.Tapi kurasa,Khaffa lebih dari itu.Pasti sangat ketakutan akan kehilangan Anayra.".Daniel berusaha bersikap adil,tak membela dan tak memihak siapa pun,serta tak berniat memojokkan Alma.


Alma terenyuh,Daniel memberinya pengertian dengan lembut."Itu spontanitas.Aku tidak berpikir panjang.".


"Aku mengerti.Jangan dipikirkan lagi!.".Daniel melampiaskan rasa sayangnya dengan membelai rambut panjang Alma yang digerai."Pikirkan saja kesehatan mu dan bayi kita.".


Alma mulai merasakan kenyamanan dalam dekapan hangat Daniel.Tangannya terangkat ingin balas memeluk Daniel,tetapi diurungkan.


Diruang tamu.


Khaffa dan lainnya masih membahas soal Anayra.Ridwan sejak tadi sedikit pun tak berbicara.Bingung dengan situasi dan kondisi sekarang,tiba-tiba terjadi dan tak pernah disangka-sangka tragedi penculikan akan menimpa putri nya.Namun hatinya merasa sakit seperti terluka teramat sangat dalam dan menganga lebar.


"Semoga kak Anayra baik-baik saja,Papi.Aku cemas sekali.".Khaira mencari ketenangan dengan memeluk Andika.


Andika pun merasakan hal yang sama dan berharap sama."Abang,keselamatan Anayra kami percayakan semua pada mu!?.".


"Aku tidak akan menyerah sampai tetes darah penghabisan.".Begitu geramnya Khaffa hingga mengeratkan gigi nya dan mengeraskan rahangnya,tak sabar untuk segera menemukan Anayra dan menghabisi pelakunya.


"Kuharap,sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Anayra sebelum Abang bisa menemukannya.".Andika dan lainnya tak berani melakukan apapun tanpa seijin Khaffa,dan tak mau bertindak gegabah.


Semua orang disekitar Khaffa sangat berharap banyak pada Khaffa,agar bisa menemukan Anayra secepatnya.Rasa cemas dan khawatir akan keselamatan diri Anayra setiap saat senantiasa menghantui mereka,terutama Khaffa.


Apakah Anayra masih hidup atau tidak sekarang,itu selalu dipertanyakan mereka,dibenak masing-masing.


_________


Entah berapa lama dan dimana dirinya disekap,Anayra tak tahu.Setahunya hanya bisa merasakan keheningan dan kelembaban udara diruangan yang tak bisa dilihat wujudnya,terasa gelap gulita dan hitam saja.Anayra pun hanya bisa mencium sesuatu yang tidak sedap dan suara tikus berlarian.


Serrr.


Deggg.


Saat sesuatu yang terbang melintasi wajahnya,Anayra berdebar ketakutan dan gemetaran.

__ADS_1


Tangan,kaki dan tubuh terikat tali dikursi hingga Anayra tak mampu bergerak sedikitpun.Mata ditutupi kain dan mulut tertutup lakban.Hingga tak bisa bicara dan tidak bisa melihat apapun,termasuk melihat wajah orang yang hilir mudik dan keluar masuk diruangan itu.


Penutup mulutnya akan dilepas jika diberi makan dan minum oleh pengawas diruangan itu,meskipun hanya satu kali saja dalam sehari.Tubuhnya akan terbebas dari jeratan tali,jika ingin ke kamar mandi,itu pun dengan pengawalan ketat dan gertakan menakutkan.Serta dalam keadaan mata tertutup.


"Bagaimana jika kita mencicipi dulu kemolekan tubuh gadis itu?.".


"Kau bosan hidup?.Tuan besar akan mencabik-cabik tubuh mu.".


"Mungkin dia ingin mencicipinya lebih dulu sebelum kita,ha,ha,ha....".


"Aku tidak bisa mengendalikan diri.Ingin sekali melihat tubuhnya yang mulus dan menggairahkan,ha,ha,ha...".


"Diamlah!.Sepertinya tuan besar datang.Cepat keluar!.".


Sayup-sayup Anayra mendengarkan perbincangan beberapa orang pria diluar ruangan.Mendengar ucapan orang-orang itu,Anayra merinding ketakutan dan gemetaran.


Jika itu terjadi,maka tamatlah riwayatnya.Tubuhnya akan kotor dan ternodai,sulit untuk mencucinya hingga benar-benar bersih.Nama baiknya akan tercemar,dan statusnya sebagai istri Khaffa kemungkinan akan berakhir.


Krieeet.


Dalam hitungan detik Anayra dikejutkan lagi saat mendengar suara pintu dibuka,dan ketakutan setengah mati akan nasibnya sekarang.Masihkah diberi kesempatan untuk hidup dan melihat wajah-wajah orang yang dicintai,disayangi dan dirindukan nya?.Itu masih tanda tanya.


Anayra tak menyia-nyiakan kesempatan dan memasang telinganya baik-baik saat terdengar suara derap langkah kaki lebih dari satu orang yang berjalan mendekatinya.


"Bagaimana dengan mobilnya?.".Suara bariton pria asing yang baru kali ini didengar Anayra.


"Sudah kami urus.".Suara pria pengawas yang sudah biasa didengar Anayra,bahkan sudah pernah melihat wajahnya dan berinteraksi dengan nya.


"Kerja kalian bagus.Aku tidak sia-sia memberi kalian gaji yang besar.".


"Terima kasih,Boss.".


"Apa kamu mau menyapa nya,sweet heart?.".


Tak,tak,tak.


Suara hentakan kaki yang mengenakan heels terdengar jelas oleh Anayra saat berdiri dihadapannya.


Suara sepatu wanita,siapa dia?...


"Tidak.Memandangnya saja seperti ini sudah cukup membuatku senang dan puas.".


Suara itu,sepertinya aku mengenalinya...


Anayra bisa merasakan kehadiran wanita yang berjarak dekat sekali dengan nya.


"Tapi mungkin aku akan mengucapkan kata perpisahan jika waktunya tiba,untuk yang terakhir kalinya.".


Sungguh,itu sangat menyiksa batin Anayra saat wanita itu berbisik ditelinga nya,dan pelan-pelan meraba pipi nya yang basah bekas linangan air mata.


Apa maksudnya?.Apa aku akan dibebaskan atau mati?...


"Siapkan diri mu!.Mungkin besok atau lusa kau tidak akan bisa melihat matahari dan bulan lagi.Huuhhh...".


Anayra bergidik ngeri dan berdebar kencang jantungnya kala mendengar kata-kata wanita yang menakuti nya.Tatkala wanita itu sengaja meniup daun ditelinga nya,Anayra semakin tegang dan tersentak kaget.


Sesaat terasa berat dan sesak nafas Anayra saat memikirkan ajalnya akan tiba.Wajah-wajah ceria orang terkasih nya berkelebat membayangi pikiran nya.Takut tak bisa hidup bersama Khaffa lagi dan bercanda ria dengan nya,dengan keluarganya serta yang lainnya.


Seandainya saja dirinya memiliki ilmu bela diri,mungkin saat diculik Anayra akan melakukan perlawanan.Jika saja memiliki ilmu sihir,mungkin saat ini bisa menghilang dan melarikan diri.Tidak terkurung dan tidak terikat lagi.Sayangnya,dirinya hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan.


Kenapa dia menculikku dan menyekap ku disini.Apa yang diinginkannya?.Apa dia ingin membalas dendam?...


Tak ayal mengundang rasa penasarannya akan motif yang dilakukan oleh orang disekitarnya ini,terutama wanita yang bisa dikenalinya.


Anayra pun berharap,seandainya saja ada seseorang yang menemukan keberadaan nya disana.Bisa menyelamatkannya dan membawanya pergi dari tempat yang asing dan menakutkan.


"Jaga dia!.Jangan ada satu pun dari kalian yang berani menyentuh nya!,tanpa seijin ku.".


"Baik,tuan.".


Satu persatu Anayra mendengarkan suara langkah kaki orang-orang meninggalkan nya sendirian di ruangan tertutup itu.


Aku merindukan mu,sayang.Aku disini.Tolong selamatkan aku...


Air mata Anayra luruh seketika membasahi pipinya,saat rasa rindu melanda hatinya pada sang suami tercinta.Ingin sekali memeluk Khaffa dan mengadukan perasaannya sekarang.


Ayah,ibu,Andya,Papi,Mami,Khaira,Alma.Aku ingin bertemu kalian,aku kesepian...


"Hiiiksss...".Anayra terisak kala mengingat kembali kenangan manis yang ditorehkannya bersama keluarga dan sahabatnya.

__ADS_1


Peluang waktu untuk melarikan diri sangat banyak,tetapi tak bisa dilakukan nya.Ingin berteriak minta pertolongan pun tak bisa,selain menunggu keajaiban dan penyelamatan dirinya yang dilakukan Khaffa dan lain nya.


__ADS_2