
***
Khaffa POV.
Pagi ini,aku berinisiatif menjemput keunit apartemennya,mengajak berangkat bersama ke tempat kerja.Ku amati penampilanku dari atas sampai bawah saat berdiri didepan pintu.
"Semoga saja mata pandaku gak terlihat kentara.Jangan sampai dia tahu kalau aku tak bisa tidur nyenyak semalam.".Gumamku.
Jujur saja,ku tidak bisa tidur karena memikirkannya semalaman.Rasa rindu menyerangku dimalam hari setelah mengantarnya pulang.
Entahlah!,apa hanya aku saja yang tak bisa tidur nyenyak atau dia pun sama?.
Saat fajar menyingsing dan matahari pagi terbit tadi,segera ku kirimi pesan dengan alasan 'kita berangkat kerja bersama,kita searah dan satu tempat kerja'.Padahal itu hanya alasanku saja ingin bertemu dengannya.
Ahhh...Sepertinya aku sudah menjadi bucin!.
Sekiranya penampilanku sudah rapi,segera ku tekan belnya.
Tettt.
"Assalamu alaikum Alma?.".Sapaku ramah saat melihat wajah Alma menyembul keluar dari balik pintu.
Seperti baru bangun tidur dan matanya menyipit masih terkantuk-kantuk tanpa sadar tamu yang datang dan aku yang berdiri dihadapannya.
"Waalaikum salam!,huaahhh...".Sahutnya bermimik muka lucu dan menguap lebar ditengah kesadarannya.
Bersetelan kimono bermotif bunga.Tiba-tiba kulihat raut wajahnya berubah kaget dan salah tingkah.
"Ehhh,ma-maaf Pak,kukira bukan Pak Khaffa.Aku baru bangun tidur jadi belum on!,hehehe...".Gelagapan dan cengar-cengir saja saat sadar.
"Maaf,ada apa Pak Khaffa kemari?.Mencari siapa?,apa mencariku?.".Terheran-heran melihatku disini dan tersenyum narsis seakan aku mencarinya.
Kurasa dia tidak tahu niatku kemari dan kupikir dia tidak tahu momen indah tadi malam.Momen aku melamar Anayra langsung pada orang tuanya.Mungkin Anayra belum sempat memberi tahunya karena dia pulang malam.
Seketika ku teringat padahal baru kemarin meminta data diri Anayra pada Riccy dan sudah mengantonginya.Tetapi ternyata takdir benar-benar memihakku dan nasib baik menjemputku.Baru kuniatkan untuk mengunjungi kediaman keluarganya,malah bertemu dengan mereka tanpa disengaja diMall.
Puji syukur kupanjatkan dalam hatiku atas rencana Sang Maha Kuasa yang indah ini karena ridhonya semua terjadi begitu cepat.Rasa sakitku beberapa hari yang lalu pun seakan tak pernah kurasakan.
"Assalamu alaikum Calmiku?.".Anayra menyambutku dengan wajah berseri-seri.
Syukurlah Anayra datang tepat waktu dari belakang Alma sehingga aku tidak perlu repot-repot menjawab pertanyaan Alma.
"Waalaikum salam,honey kamu sudah siap!.".Tanyaku dan dia mengangguk pelan.
Kali ini aku terpana oleh penampilannya.Menguncir rambutnya yang panjang berbalut seragam lengkap,setelan rok span dan blazer yang warnanya senada,biru toska.Heels berwarna putih senada dengan kemejanya serta tas tangan berwarna putih pula.Wajahnya terlihat segar dan penampilannya tampak sempurna dimataku.Dan sepertinya hanya aku saja yang tidak bisa tidur nyenyak semalam.
"Pppak Khaffa kkkenapa memanggilmu honey Nay'?.Aapa kalian sudah...?.".Ekspresi wajah Alma tampak syok menunjukku dan Anayra.
"Rahasia!.".Bisik Anayra ditelinga Alma menyela ucapannya berlalu keluar dan melangkah pergi.Dibelakang ku mengikuti langkahnya.
"Heiii,Nay' kamu hutang penjelasan padaku!.".Teriak Alma dibelakang sana berkacak pinggang dan membulatkan matanya.
Aku dan Anayra hanya tertawa-tawa saja dan masuk kedalam lift.Tersentak kaget saat mendapati lift kosong melompong.Itu artinya hanya kami berdua didalam sini.
Deg,deg,deg.
Beginilah disetiap aku berdekatan dengannya.Aku menghela nafasku untuk mengatur detak jantungku yang berdebar cepat dan keras,kulihat dia tampak tenang-tenang saja.
Aku seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta.Gugup dan canggung,tapi berusaha untuk tetap tenang.
"Ekhm,honey kamu cantik sekali hari ini!.".Pujiku membuka obrolan agar tidak risih dan canggung sambil meliriknya sekilas.
"Oya,apa cuma hari ini saja aku cantik?.Kemarinnya enggak?.Kurasa penglihatan mu buruk sekali.".Tanyanya menoleh padaku dan merengut marah.
"Kamu selalu cantik setiap hari dan setiap waktu.".Ucapku spontan tersenyum manis.
"Terima kasih Calmiku!.".Katanya datar menatap lurus kedepan.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.Akhhh,kenapa dia bisa sesantai itu bahkan tidak balas memujiku.Kulihat dia malah cekikikan saja.Keningku berkerut heran,apa dia menertawakanku?.
"Honey,kamu menertawai aku?.".Tanyaku penasaran.
"Aapa?,enggak!.Dikira kamu lucu?,gak sama sekali!.".Ucapnya saat tersadar dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tetapi semakin membuat ku bingung dan terheran."Lalu apa yang kamu tertawa kan?.".
Berpikir sejenak lalu berkata."Mmm,aku cuma ingat kejadian kemarin pagi,waktu Calmiku masuk kedalam lift,aku sembunyi dipojok sini.".Ucapnya menunjuk sudut lift saat mendapat tatapan mataku yang seolah menuntutnya untuk menjelaskan.
Tidak mungkin aku tidak terkejut."Kamu sengaja menghindari ku?,apa tampangku seperti monster sampai kamu menghindari ku,hahhh?.".Menggelitik pinggangnya sampai kegelian dan tertawa cekikikan.
"Calmiku,stop!.Aku menyerah!,kamu menang!.".Pintanya meronta-ronta mencoba menghindariku.
Tetapi ku tak berhenti dan semakin menggelitiknya hingga tubuhnya menggelinjang dan meliuk-liuk.Tiba-tiba tubuhnya oleng akan terjatuh akibat heelsnya yang ketinggian tak mampu menopang dan berdiri seimbang.
"Aaakh...
geppp.
Sigap ku menangkap dan merangkulnya,tanpa disengaja dan direncanakan saling berpelukan.Aku memeluk pinggangnya dan dia merangkul leherku.
Wajah saling berdekatan hingga terasa hembusan nafasnya yang tersengal-sengal menyapu wajahku.Seketika pikiranku berimajinasi liar dan darahku berdesir panas.Wajar saja,aku pria dewasa normal yang mempunyai hasrat pada lawan jenis.Apalagi pada gadis secantik dia.
Kutatap mata indahnya yang menyejukkan dan menenangkan.Ku telan salivaku kasar saat melihat bibirnya yang tipis dan merah alami dengan polesan lipbalm aroma mint.
Entah kenapa refleks kepalaku bergerak dan condong kearah wajahnya.Tanganku tanpa instruksi semakin memeluk erat tubuhnya.1...2...3...Wajahku semakin mendekat dan matanya terpejam seolah pasrah dan siap menerima kehangatan ciumanku.
Tinggg.
Sial,momen romantis kami tertahan saat pintu lift terbuka lebar.Ku hela nafas kecewa dan kulepaskan tanganku yang melingkar dipinggangnya.Menjadi salah tingkah dan rikuh lalu membenahi penampilan kami.
"Ekhm...Aayo kita keluar!.".Ucapku gugup melangkah dan dia mengikutiku di belakang.
Sesampainya diarea parkir kuhampiri mobilku dan membukakan pintu untuknya.Baru kali ini aku melakukannya,dulu aku tidak seperti ini pada cinta pertamaku.Mungkin bisa dikatakan aku pria dingin dan acuh.
Aku masuk dan duduk dikursi kemudiku.Tak lama ku menginjak pedal gasnya.
Ku akan sedikit bercerita tentang kisah cinta pertamaku saat masih kuliah dulu.Aku pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis cantik dan pintar.Dia adalah bunga dikampus kami dan sifatnya ramah serta pandai bergaul sehingga membuatnya mudah dekat dengan siapapun.Kadang,sifatnya itu membuat banyak mahasiswa pria yang salah paham saat mendekatinya.Mereka mengira jika dia meresponnya padahal tidak.
Verra Queensa Anjani gadis yang ternyata diam-diam menyukaiku dan sebaliknya.Suatu hari kami dipersatukan saat acara pesta perpisahan senior kami.Kala itu kami didaulat sebagai panitia pengurus acara itu dan sejak itulah kami mulai dekat dan saling mengungkapkan perasaan.
Selama lebih dari 3 tahun kami menjalin tali kasih saling mencintai dan menyayangi.Hari-hari kami lewati dengan mengukir kenangan yang indah dan penuh kebahagiaan.Namun pada akhirnya,hubungan kami kandas seketika saat aku menerima surat undangan pernikahan berwarna gold.
Dia akan menikah dengan pria blasteran saat kulihat nama yang tercantum dikartu itu,kupikir mungkin pria itu lebih baik dariku.Hubungan yang kami bangun bertahun-tahun lamanya usai sudah disaat aku baru meniatkan hatiku untuk melamarnya dan disaat baru menduduki kursi jabatanku sekarang ini.
Namun semua bisa kulalui berkat dukungan dan semangat yang diberikan keluargaku serta sahabatku.Kubenamkan pikiranku pada pekerjaan selama masa kegalauanku itu.Tetapi,kini ku bisa tersenyum bahagia melihat wajah gadis yang duduk disampingku ini,gadis yang akan menjadi istriku,ralat baru calon istri.
Didalam mobil aku membuka pembicaraan."Honey,sejak kapan kamu pindah ke apartemen?.Siapa pemiliknya?.Apa kamu menyewa apartemen itu bersama Alma,atau membelinya?.".Tanyaku penasaran hingga membuat dia tersentak kaget saat memainkan ponselnya.
Setahuku,tempat tinggalnya bukan disini dan mengontrak dirumah kecil.Sehingga aku bingung secara tiba-tiba dia menetap diapartemen yang sama denganku.
"Uangku gak sebanyak itu dan gak cukup mampu menyewa apalagi membeli.".Jawaban yang klise tetapi aku paham maksudnya.
"Lantas,siapa pemiliknya dan kapan pindah kesana?.".
"Se-sejak pulang dari rumah sakit dan apartemen itu milik...Mas Lefrand!.".Ragu-ragu dan gugup menjawabnya dan perlahan menoleh menatap ku.
Ciiit.
Aku menginjak rem menghentikan mobilku dan menepi dipinggir jalan.Dia terlonjak kaget dan memegang dashboard.
''Apa sedalam itu dia mencintaimu sampai menyuruhmu tinggal disana dan memberikan fasilitas yang mewah?.Apa kamu juga masih mencintainya sampai menerima tawaran baiknya?.".Penuh amarah ku bertanya-tanya dan menatapnya penuh selidik.
Cemburu dan iri,mungkin kata itu yang tepat kurasakan saat ini.
"Bukan begitu!.Dia melakukan itu untuk menebus rasa menyesal dan rasa bersalahnya padaku saja,gak lebih!.Kamu salah paham!.".Jelasnya santai memberi pengertian dan memegang lenganku.
Dan aku menarik sudut bibirku keatas,tidak percaya begitu saja."Hmh.Mustahil,itu cuma akal-akalannya saja untuk menarik perhatianmu agar kamu luluh dan menerima cintanya kembali!.Kurasa kamu terperdaya.".Kataku kesal dan memukul setir mobil.
Dia beringsrut duduk menghadap ke arahku dan menatap ku lembut."Jangan mengira-ngira yang belum tentu benar meskipun itu benar,dan jangan menyimpulkan sendiri sikapnya padaku!.Aku tau dia melakukan itu karena memang masih mencintaiku.Tapi,dia tau perasaanku padanya saat ini dan dia mengerti!.".Sanggahnya dengan intonasi suara yang lembut memberi pengertian untuk meyakinkanku seraya menatapku sendu.
Tapi malah membuatku tidak nyaman dengan ucapannya.
"Apa kamu membelanya?,jangan-jangan benar kamu juga masih mencintainya?.Tapi kamu masih ragu untuk menerimanya kembali?.".Selidikku dan menautkan kedua alisku mengira-ngira.
Dia menggelengkan kepalanya pelan dan menatapku sayu."Tolong percaya padaku!,dan jangan buat aku marah!.Kalau aku masih mencintainya,gak mungkin aku menerima lamaranmu dan duduk disini bersama mu sekarang!.Kuharap alasan ku ini bisa meyakinkan mu!.".Dalihnya dengan tegas dan jelas sambil memalingkan wajahnya.
"****!.".Ku memukul setir mobilku karena menyesal.
__ADS_1
Emosiku tidak terkendali karena rasa cemburu menguasai hatiku hingga tidak bisa berpikir secara logis.
"Maaf!.".Ucapku menoleh menatapnya sendu dan menggenggam tangannya.
Kulihat nafasnya tidak beraturan seperti menahan kekesalannya padaku.
Dia lebih muda dariku tetapi tampaknya bisa mengimbangiku dan bisa bersabar menghadapiku.Pantas saja pria itu sangat mencintainya dan tidak mau kehilangannya.Mungkin itu alasannya,sederhana tetapi membuatnya menjadi sangat istimewa.
Aku tersadar ternyata dibalik sikap brutalnya ada kelembutan dan kesabaran.Dia seperti intan yang terpendam didasar tanah,tampak kasar tetapi lembut dan berharga.
"Dengar,aku tinggal disana sebelum hubungan kita terjalin dan lagi cuma untuk sementara saja!.Kamu paham?.".Ungkapnya tegas dan serius.
Aku mengangguk mengerti dengan ucapannya.
"Baiklah,aku mengerti.Maafkan aku!.Tapi berjanjilah setelah kita menikah kamu harus pindah!.".Pintaku menyentuh puncak kepalanya dan membelainya lembut penuh cinta dan rasa sayang.
Dia mengangguk setuju."Baiklah,tentu saja aku setuju.Itu masuk akal.Ayo!,nanti kita terlambat.".Pintanya dan tersenyum manis.
Segera kutancap gas mobilku tanpa mengulur waktu lagi.
Suasana berubah menjadi sunyi dan sepi seketika.Dia diam membisu dan menyandarkan kepalanya menatap keluar jendela .Aku menghela nafasku saat fokus mengemudi,menyesal dan salah paham.Telah memulai perselisihan hingga akhirnya seperti ini.
Pikiran dan hatiku berkata-kata sesekali meliriknya.'Semoga dia tidak menjauhiku dan menghindariku,tetapi yang lebih kutakutkan jika dia membenciku lalu pergi meninggalkanku sehingga aku pun harus kehilangannya'.
Aku berharap itu tidak pernah terjadi sebab baru saja ku meraih kebahagiaanku.Aku baru akan membuka lembaran hidup baru dan sudah mencatat segudang rencana untuk hidup bersamanya nanti.
Jika itu terjadi,entah apa jadinya hidupku tanpanya disisiku?.
*End.
Author POV.
Efek perdebatan kecil tadi tetapi cukup berdampak besar.Khaffa tak nyaman melihat Anayra diam saja tanpa berkata-kata sampai membuat hatinya bertanya-tanya.
"Kamu masih marah?.".Khaffa memberanikan diri bertanya dan melirik Anayra sekilas.
Anayra merespon cepat,menoleh dan menatap Khaffa lembut.Tanpa menahan beban dihatinya dan tanpa uneg-uneg lagi."Gak ada alasan lagi untuk marah.Ku kira sudah clear dan selesai masalahnya bukan?.".Tegas dan serius namun lembut tutur katanya.
Khaffa dan Anayra bersitatap.Anayra senang,tak ada lagi kilat kemarahan dimata Khaffa.Begitu juga sebaliknya,Khaffa senang Anayra tampak tetap tenang dan santai seolah tak terjadi apa-apa.
Khaffa mengulas senyum dan berkata.."Kurasa benar!.Tapi kenapa dari tadi mendiamkan ku terus.Aku jadi gak nyaman.".
"Lalu apa yang harus ku lakukan?.Haruskah ku teriak,tertawa atau bernyanyi?.".
"Kupikir itu ide bagus!.Suara mu juga indah dan merdu,waktu bernyanyi di pesta itu.".Merayu Anayra dengan pujian.
"Jadi?.".Menarik kedua alisnya keatas.
"Bernyanyi lah untukku!.".Pinta Khaffa penuh harap.
Suara Anayra saat bernyanyi dipesta cukup mampu menghipnotis Khaffa dan menenangkan hatinya.Walaupun saat itu situasi dan kondisinya tak sesuai harapannya.
Anayra pura-pura berpikir."Mmm...Lain waktu saja!.".Menolak secara halus.
Antara menguji kesabaran Khaffa dan moodnya yang turun bercampur menjadi satu.
Namun Khaffa tak menyerah."Kamu bernyanyi waktu dia meminta,tapi menolak saat calon suami yang meminta!.Tidak adil.".Demi mendengar suara nyanyian merdu Anayra,Khaffa pura-pura marah dan memancing emosi Anayra.
"Jangan mulai lagi!.".Kelopak mata Anayra menyipit menatap Khaffa.
Mencelos kedepan menatap jalan dan berkata."Aku cuma iri bukan cemburu!.".Tukas Khaffa.
"Sama saja!.".Kilah Anayra mencebikkan bibirnya.
"Terserah!.".Khaffa menggedikkan bahunya acuh dan dingin.
Namun dalam hati,Khaffa takut Anayra akan marah besar dan uring-uringan.Tetapi yang paling ditakuti,Anayra mendiamkannya lagi dan terus menerus dalam waktu yang lama.
Melihat Khaffa yang tampak marah dan cemburu walaupun tak jelas diperlihatkan,Anayra menghela nafas panjang dan berkata."Baiklah,sesuai permintaan mu!.".Akhirnya mengalah.
Seulas senyum lebar terukir dibibir Khaffa dan bola mata hitamnya berbinar-binar.Bukan main senangnya hati Khaffa,akhirnya jebakannya berhasil dan permintaannya dikabulkan Anayra.Namun yang paling penting,Anayra tak marah seperti yang ditakutinya.
Sesuai permintaan Khaffa,Anayra mulai bernyanyi penuh penghayatan sembari menatap syahdu Khaffa yang fokus mengemudi.Lagu dari Rossa 'Hati yang terpilih' menjadi pilihan Anayra.
__ADS_1
Khaffa mendengarkan dan menghayatinya.Mau enak didengar atau tidak liriknya.Namun yang penting bisa mendengarkan suara Anayra bernyanyi,itu saja.