
Sulit dipercaya,Khaffa pikir takkan pernah bertemu Riccy lagi.Susah payah mencari keberadaan Riccy yang pergi tanpa alasan yang jelas.Namun,dengan sendirinya Riccy datang menemuinya tanpa diduga-duga.
Tergesa-gesa Khaffa menghampiri Riccy."Kau masih hidup?.".Ditatapnya tajam pria yang membuatnya kelabakan dan kelimpungan selama kepergian pria itu.
Riccy menunjukkan senyum dibalik wajah sedihnya."Aku disini,Boss.".Tersirat nyata ada
"Kupikir kau sudah mati.".Perlahan Khaffa mengangkat tangan kanannya.
"Ampuni aku!.Kumohon!?.".Riccy tiba-tiba bersikap seperti orang yang ketakutan.
Khaffa mengernyit heran saat Riccy menyilangkan kedua tangannya menutupi wajahnya yang ketakutan."Aishhh...Kau pikir aku ingin memukuli mu?.Konyol sekali,jangan buat aku benar-benar ingin melakukan itu!.".Diacak-acak nya rambut Riccy yang mulai agak gondrong."Kapan terakhir kali mencukur rambut mu?.".Menggeleng tak percaya melihat Riccy ada dihadapannya saat ini.
"Maafkan aku!.".Riccy tertunduk menghindari tatapan mata Khaffa yang terasa menusuk jantungnya.
Khaffa bernafas lega,sahabat yang selama ini dicarinya dalam keadaan baik-baik saja."Aku senang kau masih hidup.".Menatap Riccy dengan penuh kerinduan.
Riccy terharu dengan sambutan Khaffa yang baik dan hangat meskipun masih tetap sama ekspresi wajahnya,dingin dan datar."Maaf!,aku pergi tanpa alasan.".Dengan nada penuh penyesalan.
Perasaan Khaffa sangat senang bercampur haru.Susah payah selama ini mencarinya dengan menyuruh seseorang.Namun tak pernah mendengar kabar baik,tetapi dengan tiba-tiba Riccy muncul disana.Tiada angin dan tiada hujan.Sungguh mengejutkan hati Khaffa.
Kini,Riccy berdiri dihadapannya,hingga membuat Khaffa menggeleng tak percaya."Kemana dan dimana kau selama ini?.".Dengan wajah penuh selidik."Aku tidak suka kau repotkan.Menyusahkan saja.".Khaffa menjadi marah dan geram.
"Maaf!."Entah ke berapa kalinya Riccy mengatakan itu hingga telinga Khaffa terasa jengah mendengarnya."Sesuatu telah terjadi.Aku menyesal pulang ke rumah menemui ibuku.Tapi aku bahagia,bisa menemani lbu disaat-saat terakhirnya.".Riccy mengungkapkan hal yang membuat Khaffa terkejut,dengan perasaan sedih yang begitu mendalam dan penuh penyesalan.
Tak pernah menyangka,kepulangan nya ke rumah untuk menjenguk ibunya adalah hari terakhirnya di Jakarta,dan terakhir kalinya melihat Alma dan Khaffa.Harus menghadapi pernikahan terpaksa yang tak pernah diharapkan nya dengan gadis tak dikenal nya dalam keadaan mengandung,akibat ulah dari pria lain.Tetapi Riccy senang,di detik-detik terakhir ibunya menghembuskan nafas terakhirnya,selalu ada disamping ibunya.
Riccy menekuk wajahnya,menyembunyikan tatapan sedihnya.Merasa aneh dan risih menunjukkan raut wajah itu didepan Khaffa.
Khaffa tanpa ba-bi-bu merangkul Riccy."Maafkan aku!,aku tidak tau soal itu.Kenapa tidak mengabari ku?.Bodoh!,aku kau anggap apa?.".Khaffa meluapkan perasaannya kecewa dan sedihnya.
Khaffa bisa merasakan yang saat ini Riccy rasakan.Selain Riccy sebagai sahabatnya,Riccy adalah orang yang paling dekat dengannya.Bagi Khaffa Riccy sangat penting,selama bertahun-tahun lamanya selalu mendampinginya dan membantunya.Sikap Riccy yang penyabar dan mentalnya kuat menghadapi sikapnya yang keras.Mampu membangkitkan rasa sayang dalam hatinya untuk Riccy.
Riccy tersenyum tipis melihat wajah pria yang selalu dirindukan ocehannya,usai Khaffa melepaskan rangkulannya."Maafkan!,pria bodoh dan tolol ini.Aku merindukan mu Boss!?.".
Mendengar intonasi suara Riccy yang menyedihkan,Khaffa menjadi terharu."Menggelikan,aku jengah mendengar kau terus meminta maaf.Seperti bukan dirimu saja,aku jadi ingin menampar mu.".Mengekspresikan perasaan rindunya dengan mencibir dan memaki Riccy.
Khaffa tak pandai mengungkapkan perasaan bahagia dan senang dengan kosa kata yang halus.Namun tak masalah bagi Riccy,dari tatapan mata Khaffa,Riccy bisa melihat itu semua.Bahkan Riccy tersenyum senang mendengar nada bicara Khaffa yang keras dan kasar,itu artinya Khaffa bersikap wajar dan berpikir waras.Aneh memang akan tingkah polah sahabat satu-satunya ini,Riccy malah akan berpikir yang tidak-tidak jika Khaffa bersikap sopan,lembut dan ramah pada nya.
"Boss,tidak mengundang ku masuk?.Apa aku orang asing dan kehadiran ku tidak diharapkan?,hingga membiarkan ku berdiri terus disini?.".Riccy merasakan pegal dan lelah juga,saat harus membelah jalanan yang panjang berkilo-kilo meter jauhnya.
Khaffa tersadar,namun bukan dirinya jika tak mengerjai Riccy dan tak bersikap ketus."Kau masih mengharapkan aku berbelas kasihan?."Mengingat Riccy sudah menyusahkan dan merepotkan nya saat mencari Riccy.
Khaffa memicingkan matanya,menatap pria yang statusnya membingungkan itu.Mau disebut mantan asisten,tetapi Riccy belum mengundurkan diri.Mau dianggap masih asistennya,tetapi Riccy menghilang begitu saja dan tak melakukan tugasnya dengan baik disisi Khaffa.
Khaffa tak tega melihat ekspresi wajah Riccy yang bibirnya seperti kuncup bunga belum mekar."Ayo,masuklah!.".Merangkul pundak Riccy yang tingginya sebatas telinganya,dan tersenyum lebar.
Benar-benar membuat Riccy jantungan dan geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku Khaffa yang berubah-ubah setiap waktu.Mau dulu atau sekarang,masih tetap sama.Tetapi,Riccy sudah bisa menerima baik dan buruknya sifat sahabatnya itu.
Saat masuk,Riccy duduk dihadapan Khaffa dan mengawasi setiap sudut ruangan yang tampak mewah itu.Yaaa,jika dibandingkan dengan ruang kantornya saat bertugas sebagai asisten Khaffa.Rindu melanda hati Riccy,dan bayangan saat mengerjakan tugasnya diruangan itu,menari dipelupuk matanya.
Khaffa menyilangkan kedua tangannya dan menumpangkan satu kakinya dengan duduk bersandar di sofa."Jika ingin minum,ambil lah sendiri.Kau bukan tamu ku yang sengaja ku undang.".Dengan nada dingin dan datar Khaffa menawari Riccy.
Riccy yang duduk dengan santai,menyeringai tipis."Sepertinya aku tidak diharapkan disini.".Dengan berat Riccy menghela nafasnya dan memasang raut wajah kecewa.
Sama sekali Khaffa tak mengerti suasana hatinya saat ini.Riccy ingin diperlakukan baik dan hangat.Pasalnya,baru bertatap muka lagi dengan Khaffa setelah berminggu-minggu tak berjumpa.
"Kau sahabatku,jadi jangan berharap ku perlakukan baik.Aku tidak sudi melayani mu,kau yang seharusnya melayani ku.".Khaffa mencari alasan,rasa egois dan gengsi meliputi hatinya.
Riccy yang duduk dengan santai terkesiap dan menjadi berprasangka buruk."Kenapa?.".Mengernyitkan kening heran.
__ADS_1
Sikap Khaffa sangat membingungkan Riccy.Entah Riccy harus senang atau sedih.Khaffa berhasil membuat senyum dibibirnya datang dan pergi.
Cepat-cepat Khaffa menjawabnya."Karena aku Boss mu,dan kau asisten ku.".Dengan intonasi suara yang tegas menekankan dan mengingatkan Riccy.
Riccy tersenyum miring mendengar pernyataan pria yang kadang-kadang dipanggilnya 'Boss' itu."Kamu tidak pernah berubah.Aku tidak terkejut,tapi jengah mendengar kosa kata mu yang kaku dan baku.".Melipat tangannya di dada,mengikuti gaya Khaffa.
Berpikir seperti itu karena biasanya menggunakan bahasa santai,dan saling memanggil Lu dan Gue.
Gaya bicara Khaffa berubah karena Khaffa pikir,sekarang saat untuk berubah.Mengingat usianya bukan remaja lagi dan sudah menikah.
Intonasi suara Riccy yang meninggi dan sikap Riccy yang meniru dirinya,Khaffa menjadi geram dan geleng-geleng kepala."Cihhh,pria ini sepertinya sudah bosan hidup.".Membalas Riccy dengan menyeringai seperti serigala yang siap menerkam."Bersikap sopan lah pada pria yang sudah menikah ini.".Dengan raut wajah angkuh Khaffa menampilkan cincin yang tersemat di jari nya.
Riccy terkejut mendengar pengakuan Khaffa."Apa?.Benarkah?.".Melongo tak percaya,tetapi melihat dengan jelas dan nyata cincin yang melingkar dijari Khaffa.
Tak mungkin Khaffa berdusta dan mengarang cerita.Apalagi cincin pernikahan dijari Khaffa tak mungkin cincin biasa saja.Lagipula Khaffa sebelumnya tak pernah memakai cincin.Riccy tahu,Khaffa sangat risih memakai perhiasan.
Menepuk dada bidangnya Khaffa tersenyum bangga."Aku bukan pria melajang lagi.Gelar jomblo ku sudah ku buang jauh-jauh.".Menyombongkan diri dengan statusnya saat ini.
Senyum bahagia mengembang sempurna dibibir Riccy dan menatap Khaffa dengan mata berbinar-binar."Congratulation!.Aku turut bahagia.".Namun tak lama,perlahan senyum itu sirna.
Mengingat statusnya saat ini yang sama seperti Khaffa.Tetapi bedanya,Riccy tak bisa bereaksi serupa seperti Khaffa.Netra mata Khaffa tampak bahagia dan senyumnya penuh rasa bangga,berbanding terbalik dengan nya.Bahkan cincin kawinnya tak dipakainya,Riccy melepaskannya dengan sengaja menyimpannya dimobil.
Tanpa membahas soal itu lagi,Khaffa mengalihkan topik pembicaraan."Kau belum menjawab pertanyaan ku?.Aku ingin tau tempat persembunyian mu?.".Dibuat penasaran dengan keberadaan Riccy selama ini.
"Haruskah ku jawab?.".Dengan raut wajah angkuh,Riccy mengangkat satu alisnya.
Tak ayal membuat Khaffa mendengus kesal."Tidak perlu,jika kau keberatan.Tapi ini terakhir kalinya kau menginjakkan kaki mu disini.".Menggertak Riccy karena terus membuatnya jengkel.
Gertakan Khaffa yang terdengar seperti ancaman ditelinganya.Riccy malah sengaja menggoda dan menguji kesabaran Khaffa."Nada ancaman mu masih sama seperti yang dulu.Sangat menakutkan.".Memasang raut wajah pura-pura ketakutan dan bergidik ngeri.
Ini momen yang sangat dirindukan Riccy,mendengar semua ocehan Khaffa dan nada bicaranya,terutama wajah merah padamnya saat Khaffa menahan amarah.Bagi Riccy itu sangat lucu dan menggemaskan,namun tidak dengan sebelumnya.Bahkan Riccy merasa bosan dan jengah melihatnya.
Riccy yang tak berhenti menatap Khaffa dengan intens tersenyum lebar."Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini,Boss.Kamu tidak pernah berubah,masih Khaffa yang ku kenal dulu.".Ungkapannya mengundang desisan panjang dibibir Khaffa."Aku tinggal di kota kecil,sekarang aku mengelola Toko Bakery yang diberikan ibu mertuaku.".Pernyataan Riccy berhasil mengubah ekspresi wajah Khaffa menjadi terkejut-kejut dan terperanjat berdiri.
"Maksudmu,kau sudah menikah?.Itu alasan mu pergi dari sini?.Kapan?,kenapa tidak mengatakannya?.".Khaffa terus mencecari Riccy dan bergegas cepat menghampiri Riccy.
Namun mendengar pengakuan Riccy,seketika menyulut emosi Khaffa dan menjadi menggeram saat teringat sesuatu yang di alami Alma.
Dengan satu tarikan kekuatan otot tangannya,Khaffa meraih kemeja Riccy hingga Riccy terbangun dari duduknya."Kau tau,apa yang terjadi pada Alma saat kau pergi?.Kau akan menyesal setelah mendengarnya.".Menatap tajam Riccy yang terkejut-kejut dengan perlakuan kasarnya saat mencengkram kemeja Riccy kuat-kuat.
Riccy yang bersitatap dengan Khaffa,dalam jarak yang sangat dekat menjadi mengernyit aneh."Apa Alma sudah tiada?.".Menatap Khaffa dengan tatapan meminta penjelasan.
Riccy belum tahu menahu kabar Alma terkini,sehingga menjadi salah menduga.
Kuharap itu tidak benar....Berharap dalam hati jika dugaannya salah.
"Kau mengharapkan dia mati?.".Dengan kuatnya Khaffa mengeratkan cengkeramannya dan semakin menajamkan penglihatan matanya.
Riccy ketakutan setengah mati melihat wajah Khaffa berubah beringas.Seakan seperti ingin menelannya bulat-bulat.
Namun mendengar jawaban Khaffa yang dipahami Riccy,sontak Riccy menghela nafas panjang,merasa senang dan lega."Syukurlah,dia masih hidup?.Maaf!.Aku tidak ada saat Alma dirawat di rumah sakit.Tidak ada didekatnya saat Alma kecelakaan.".Meratapi penyesalannya dan pasrah yang akan dilakukan Khaffa pada nya.
"Kau tampak sangat menyedihkan.".Secara kasar Khaffa mendorong tubuh Riccy hingga terhempas di sofa."Kau pikir insiden yang dialami Alma itu kecelakaan?.".Penuh dengan amarah Khaffa mengatakannya.
Pernyataan Khaffa yang terdengar tak jelas dalam sekejap menjadikan alis Riccy saling bertaut."Apa maksud perkataan mu itu?.".Dengan gugup memberanikan bertanya dan bangkit berdiri dengan tegaknya dihadapan Khaffa.
Khaffa melengos pergi dan duduk di kursi kerjanya."Untuk apa bertanya?,masih peduli padanya?.".Dengan nada acuh tak acuh.
Riccy menyusul Khaffa,dan duduk dihadapannya."Ku mohon,jangan membuat ku semakin penasaran!?.".Menghiba dengan tatapan menuntut penjelasan dari Khaffa.
__ADS_1
Khaffa lebih memilih fokus pada laptopnya dibandingkan menjawab pertanyaan Riccy.Tak mau amarahnya semakin meledak-ledak saat menjelaskan dan mengungkapkan yang terjadi pada Alma.
Riccy tak sabar menanti jawaban Khaffa."Haruskah ku bersujud?.".Demi mendengar jawaban dari Khaffa tentang yang dialami Alma,Riccy rela melakukan itu.
Khaffa melirik sekilas Riccy yang memelas sedih dan tatapannya tampak menghiba."Temuilah Alma.Kau akan tau jawabannya darinya.".Tanpa mengalihkan pandangannya."Cari dia di lantai 5!,istriku bersamanya.Kurasa sebentar lagi mereka keluar dari teater.".Tangannya terus bergerak menekan tombol-tombol di laptop.
Khaffa enggan menjelaskannya sendiri.Tak semudah itu Riccy bisa mendapat jawabannya.Khaffa ingin Riccy berusaha sendiri sekuat tenaganya.Terlalu mudah untuk Riccy mengorek informasi dari nya.Tetapi selain itu,berat dan sulit bagi Khaffa untuk mengatakan hal yang ingin diketahui Riccy.
Mengecewakan tetapi cukup melegakan hati Riccy mendengar itu,karena menjadi tahu keberadaan Alma saat ini."Terima kasih.Aku hargai itu.".Senyumnya yang semula kuncup berubah menjadi mekar.
Tak mau mengulur waktu lagi Riccy bergegas pergi dengan berlari ke tempat yang disebut Khaffa.Tak sabar ingin melihat wajah gadis yang masih dicintainya hingga kini.
Di teater.Alma dan Anayra berada di ruangan yang gelap gulita.Namun saat film yang diputar sudah berakhir,lampu-lampu serentak menyala dan bersinar terang membuat wajah cantik mereka terekspos.
Alma berjalan keluar dari beriringan dengan Anayra."Filmnya memuaskan.Aku cukup terhibur.Tapi yang terpenting,bisa melihat wajah aktornya yang tampan.Aku sangat mengharapkan bisa mendapatkan pria seperti itu,tubuh yang atletis,dada yang bidang dan tangan yang berotot.Aku sampai menahan nafas ku saat melihat perutnya yang seksi dan sixpack.".Saat membayangkan itu,Alma pipi Alma bersemu merah dan senyum-senyum sendiri.
Penuh semangat yang menggebu-gebu Alma mengomentari film yang dibintangi aktor tampan.Tetapi yang paling menarik perhatian Alma adalah aktornya,yakni Jhonny Huang.
Anayra jengah dengan celotehan sahabatnya yang berjalan disampingnya,dan hanya geleng-geleng kepala saja.Tetapi Anayra senang,bisa menghabiskan waktunya bersama Alma dengan menonton film.Paling terpenting adalah bisa menghibur hati Alma.
Semenjak menikah,sebagian waktunya hanya difokuskan untuk Khaffa,dan diperuntukkan mengurus keperluan Khaffa dan sebagainya.Maka,menanggap ini sebagai bentuk pembalasan atas waktu kebersamaannya dengan Alma yang terbuang.Apalagi sekarang jarang bertemu,hingga menyulitkan Anayra untuk bisa mengobrol dengan asyik dan leluasa.
Dua orang gadis tiba-tiba muncul dan menghadang Anayra dan Alma,hingga langkahnya tertahan berjalan menuju lift.
"Wah,wah,wah...Lihatlah!,siapa yang kita temui disini?.".Sera Novi melipat tangannya didada dengan angkuhnya,dan memperhatikan penampilan Alma dan Anayra dengan tatapan sinis."Suatu kehormatan bisa bertemu dengan dua gadis penguasa Mall.".Sera Novi membungkukkan badan pada Anayra.
Alma berdecih melihat kekonyolan Sera Novi."Jangan bersikap konyol.Aku tau,kamu mengejek nya.Jangan pura-pura sok baik dan bersikap manis didepan ku.".
Sera Novi menatap salut dan kagum,Alma berani melawannya dengan lantang.Namun,tertawa saat mendengar kata-katanya.
Cepat-cepat Sera Novi menepis dugaan Alma."Kamu salah paham,aku tidak sedang ingin berbuat baik saat ini.".Memamerkan senyum palsu dan menatap rendah Alma.
Lenna yang bergeming disamping Sera Novi,teringat akan sesuatu."Apa ini gadis yang suka kamu ceritakan itu?.Penjerat para staff dan atasan disini,tanpa kita tau?.".Mencermati Anayra yang menjadi tokoh utama yang dimaksudkan Sera Novi."Aku tidak percaya,begini rupa gadis yang telah memikat hati CEO dibelakang kita,dengan sembunyi-sembunyi?.".Mengungkapkan hal yang membuat Anayra dan Alma mengernyit tak mengerti.
Anayra mendengar kata-kata Lenna yang terdengar menyakitkan dan memancing emosi nya,dengan pelan mendorong tubuh Lenna ke belakang."Jangan mencari masalah dengan ku!.Aku tidak pernah mengganggu mu.".Dengan tajam ditatapnya wajah gadis yang tak lain rekan kerja Sera Novi.
Lenna tersentak kebelakang saat mendapat perlakuan seperti itu,dan terdiam,tak berbalik menyerangnya.
Sera Novi yang menyimpan dendam pribadi pada Anayra,menggeleng tak percaya."Astaga...Kasar sekali.Kamu akan terkejut jika aku mengungkapkan jati diri mu pada pegawai disini,dan pasti tidak akan berani mendorongnya seperti ini.".Membalas perlakuan kasar Anayra yang dilakukan pada sahabatnya dengan mendorong tubuh Anayra hingga terpental kebawah dan terduduk di lantai.
Dari arah lift.
Riccy keluar dengan jantung berdegup kencang setibanya di tujuan,dan membuang nafas panjang "Aku tidak pernah segugup ini.".Berjalan diarea teater yang luas,mencari-cari Alma dan Anayra.
Alma tercengang melihat Anayra meringis kesakitan,dan geram akan sikap Sera Novi.Namun bukan menolong Anayra,malah terbersit untuk membalas dan secepat kilat menampar pipi Sera Novi.
Plakkk.
"Akh...".Sera Novi berteriak dengan keras,tak bisa menghindar saat tangan kanan Alma mendarat di pipinya.Refleks Sera Novi mengusap pipinya dan memandang Alma dengan mata diliputi kilatan amarah dan tampak kemerahan."Aku tidak suka dilawan dan diperlakukan kasar seperti ini.".
Alma tak bisa diam saja dan menjadi tersulut emosinya."Jangan pernah berani melukai Anayra!.Kamu akan berhadapan dengan ku.".Melototi Sera Novi yang mukanya memerah,menahan amarah ditambah hadiah tamparan keras tangan Alma.
Dada Sera Novi bergemuruh dan tersengal-sengal nafasnya,hingga payud*ara montoknya naik turun merasakan amarah yang bergejolak dihatinya."Jangan ikut campur urusan ku.Kamu akan menyesal,berani melakukan ini padaku.".Tangan Sera Novi terangkat untuk membalas perbuatan Alma."Mata dibalas mata,gigi dibalas gigi.".Dengan nada menggeram dan wajah beringasnya.
Alma memejamkan matanya dan menahan nafas saat Sera Novi siap menyerang balik dengan menamparnya.Namun saat tangan Sera Novi mengayun diudara,dan tepat akan mengenai pipi Alma.Tiba-tiba tertahan saat tangan seseorang mencekal lengannya.
***
Terima kasih,berikan tanda like dan komentar nya...😘
__ADS_1