Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
120.Tangisan sedih dan bahagia.


__ADS_3

Selamat membaca kakak...💕


***


Gadis cantik yang liar dan kasar.Kamu mengubah hidup ku menjadi tidak karuan seperti ini.Mengusik tidur nyenyak ku,dan menguasai separuh pikiran ku...


Daniel dan Alma saling bersitatap dalam keheningan,dengan ritme jantung yang berdebar tak beraturan.


Karena mu aku membenci diriku sendiri.Aku merasa bodoh dan tidak berguna,saat ini.Aku hampir tidak ingin melanjutkan hidup ku,dan tidak bisa menghirup udara dengan bebas.Nafasku terasa sesak,dan jantungku terus berdebar tidak menentu saat bersama mu.Jika kamu bukan pria yang ku benci,mungkin aku sudah jatuh cinta pada mu...


Alma menelan salivanya kasar,tangannya yang memegangi setiap sisi kursi,meremas kuat-kuat menahan rasa yang bergelora dihatinya.


"Apa yang kamu pikirkan?.".Melihat Alma terdiam,Daniel menjadi penasaran akan yang Alma renungkan.


Alma tersadar dari lamunan saat Daniel membuyarkan nya."Aaapa yang kamu lihat?.".Menjadi gugup kala mendapat tatapan Daniel yang menghanyutkan,dan balik bertanya bukannya menjawab pertanyaan Daniel.


Daniel masih bergeming,tak jua bergeser ke kursinya dan terus menerus menatap gadis cantik yang telah menarik perhatian nya."Kamu.".Dimatanya,Alma seperti pelangi yang bersinar terang dan indah,menyinari dan mewarnai hidupnya yang suram dan kelam.


Daniel sering bertemu dengan gadis-gadis cantik dan seksi.Tetapi entah kenapa?,Alma tampak berbeda dimatanya,dari gadis-gadis yang pernah dikenalnya dan pernah dikencaninya.


Daniel terus menebar pesonanya yang membuat Alma semakin rikuh dan salah tingkah."Aaaku mau keluar.".Tangan kirinya mencoba membuka pintu mobil tetapi terkunci otomatis.


Alma mendadak panik karena tak bisa membuka pintunya.


Melihat Alma mencoba melarikan diri dari nya,tetapi tak bisa.Daniel menahan tawanya dan tersenyum smirk"Kamu tidak bisa pergi...Sayang.".Sikap dingin yang Daniel tunjukkan membuat Alma heran.


Namun tatapan mata Daniel semakin mengintimidasinya."Biarkan aku pergi!,aku takut.".Mencoba membujuk Daniel.


"Tidak semudah itu.".Daniel menjawab dengan aura yang tegas dan serius.


"Kumohon!?.".Memelas,meminta belas kasih Daniel.


Daniel iba,tetapi tak bisa membiarkan Alma pergi."Itu tidak akan berhasil!.".Wajah Alma yang memelas tak mampu meluluhkan hatinya.


Daniel tetap mempertahankan egonya,untuk menahan Alma agar tak pergi dari sisinya.


"Apa yang harus ku lakukan?.".Demi bisa pergi,Alma mencoba membuat penawaran.


"Diam saja dan turuti aku!.".Daniel bersikukuh dan tetap teguh dengan pendiriannya,demi niat baik yang ingin dilakukan nya.


Alma tak bisa bersabar lagi."Kamu mengancam ku dan ingin menculikku?.".Memicingkan matanya tajam dan menunjukan aura kemarahan.


Alih-alih takut,Daniel tersenyum miring melihat ekspresi wajah Alma."Jangan berpikir yang tidak-tidak!.Aku hanya tidak suka dibantah!.".Menepis dugaan Alma.


Alma tak bisa menahan diri lagi."lni pemaksaan,aku tidak su...Mmphhh.".Teriakan Alma menghilang seiring Daniel membungkam Alma.


Daniel terpaksa mencium Alma untuk membuat Alma diam,dan tak mengoceh terus menerus.


Alma terbelalak kala bibirnya dilumat Daniel dengan lembut,dan tak bisa berkutik saat Daniel mencekal kuat tangannya.Ditambah seat belt yang membelit tubuhnya,semakin membuat nya kesulitan bergerak.


Daniel menekan kepala Alma yang bersandar di kursi,bibirnya terus ******* dan menghisap bibir Alma yang terasa manis.


Dalam himpitan tubuh Daniel,dan dalam pagut*n bibir Daniel,Alma menegang saat tubuhnya terasa dialiri arus listrik kala bersentuhan dengan Daniel.Alma ingin melepaskan diri tetapi tak bisa,akhirnya tanpa pikir panjang menggigit bibir bawah Daniel untuk menghentikan permainannya.


Alhasil Daniel melepaskan ciumannya dan tangan Alma."Akkkhhh...".Duduk tegak kembali dikursi kemudinya,dan memegangi bibirnya yang terasa perih dan sakit."Payah.Apa hanya itu yang bisa kamu lakukan?.".Menatap tajam Alma yang tengah bersilang tangan dan menatap lurus kedepan.


Daniel kecewa,bukannya ciuman nya bukan dibalas Alma,malah mendapat gigitan keras Alma.


"Itu akibat kelancangan mu!.".Alma marah dan tak terima,tanpa permisi Daniel menciumnya begitu saja.


"Itu karena kamu tidak bisa diam!.".Daniel memutar balikkan keadaan.


"ltu karena kamu tidak...".


"Diamlah!.".Terpaksa Daniel menghardik Alma lagi,dan menarik kepala Alma.


Alma terperangah kala Daniel mengecup bibir nya sekilas."Heiii...".Menutup mulut dengan tangannya takut dicium Daniel lagi.


"Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang lebih dari itu,lagi!.".Daniel kembali ke posisi duduknya dengan wajah acuh tak berdosa.


Kesabaran Daniel mulai menipis.Alma tak mau berhenti bicara,dan terus mengulur waktunya untuk pergi.Namun merasa beruntung,situasi ini dijadikan kesempatannya untuk mencium Alma.


Alma terdiam dan pasrah menuruti keinginan Daniel.Takut dengan ancaman Daniel yang akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.Takut kejadian yang lalu terulang lagi,saat kehilangan kesuciannya.


Rasanya lebih manis jika dilakukan dalam keadaan sadar...


Senyum tipis terukir di bibir Daniel.Hati nya senang tak terhingga bisa mencium Alma,tanpa pengaruh minuman keras.


Usai memasang seat beltnya kembali Daniel melajukan mobilnya,dan tak hirau akan Alma yang menatapnya tajam.


Pria arogan dan egois...


Alma mengulum bibirnya yang terasa membengkak akibat ulah Daniel.Tetapi,cium*n yang dilakukan hanya beberapa detik itu cukup membuat Alma terbuai dan terlena,kala Daniel melakukan nya dengan lembut.Tidak seperti kala pertama kali bertemu saat kesuciannya direnggut paksa Daniel,kasar dan brutal.


Riccy pergi,lalu Daniel datang.Aku benci hidup ku,aku benci mereka...


Alma menerawang dan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat,diatas pangkuannya.


Di gedung Mars Group.


Pegawai resepsionis langsung membungkuk hormat saat berpapasan dengan Khaffa di lobby."Selamat pagi,Pak!?.".Berdiri tegak kembali dan tersenyum ramah pada Khaffa yang berjalan melewatinya.


"Pagi!.".Khaffa tersenyum tipis dan berjalan terus menuju lift khusus CEO.


Pegawai resepsionis itu menatap aneh Khaffa yang masuk kedalam lift khusus CEO."Apa itu model terbaru?.".Mengernyit heran melihat dasi yang dipakai Khaffa.


Saat tiba diruangannya,Khaffa meletakkan tas kerjanya dimeja,dan berjalan menuju pintu.


Nichole yang berdiri di depan pintu ruangan CEO,tak jadi mengetuk pintu saat Khaffa membuka pintu."Maaf!,apa anda mau kopi,Pak Khaffa?.".Mengikuti langkah kaki Khaffa yang panjang menyusuri lorong kantor.


"Tidak!.".Khaffa tetap menatap lurus kedepan,tak menoleh sekilas pun pada Nichole yang berjalan di belakangnya.".Ada sesuatu yang lebih penting,dari pada kopi.".Masuk kedalam ruangan khusus tempat pemantauan cctv.


Khaffa berniat memeriksa rekaman cctv yang terjadi di teater kemarin.Khaffa merasakan hal yang ganjil kala Anayra dan Alma terduduk di lantai Teater dengan wajah terlihat menyedihkan.


"Selamat pagi Pak!?.".Petugas yang berjaga di ruangan itu membungkuk hormat pada pimpinan perusahaan.


"Cari rekaman kejadian di Teater kemarin sore!.".Khaffa berdiri gagah dengan penuh wibawa dan karisma dihadapan pegawainya.

__ADS_1


"Baik.".Perintah tegas Khaffa tak bisa ditentang pegawai laki-laki itu,dan segera melakukan tugasnya.


Dengan teliti dan cermat,Khaffa mencari rekaman video yang diputar dimonitor.Saat yang dicarinya ditemukan,Khaffa menggeram."Gadis itu.Berani mencari masalah dengan ku.".Tanpa berkata-kata pergi meninggalkan ruangan itu.


Nichole terus mendampingi Khaffa kemana pun kakinya melangkah.Nichole pun melihat rekaman itu saat berdiri disamping Khaffa.


Gadis itu pasti tidak akan lolos dari amarah Pak Khaffa...


Nichole menjadi gelisah memikirkan tindakan yang akan dilakukan Khaffa pada gadis pembuat onar di Teater yang tertangkap kamera tersembunyi.


Setibanya diruangan CEO.Khaffa mendapati Khaira tengah menyusun berkas laporan di meja kerjanya."Ini berkas-berkas yang harus ditandatangani.Abang,nanti siang kita gladi resik untuk jamuan makan siang bersama para pemilik gerai di Aula.".


Khaffa acuh dan tak menggubris Khaira,tak tertarik sedikit pun dengan pekerjaan nya saat ini.


"Apa sesuatu telah terjadi?.".Khaira mengernyit heran melihat Khaffa yang mendudukan dirinya dikursi dengan mendengus kesal.


Bukkk.


Amarah terlihat jelas oleh Khaira disorot mata dan wajah Khaffa,saat memukul meja dengan kepalan tangannya."Nichole,lakukan sekarang juga yang harus kamu lakukan!.".


"Baik.".Nichole yang bergeming dihadapan meja Khaffa,mengangguk mengerti.


Tanpa menunggu instruksi lagi dari Khaffa,berlalu pergi untuk melaksanakan titah majikannya.


Khaira penasaran dengan yang terjadi pada kakaknya."Abang...".


Khaffa saat ini tak ingin diganggu,suasana hatinya tak baik."Khaira,sebaiknya kamu keluar jika tidak ingin ku marahi!.".Mengibaskan tangannya,mengusir Khaira.


Mendengar kata Khaffa yang tak enak didengar,Khaira memutar matanya."Baiklah.".Takut terkena imbas dari kemarahan Khaffa."Tapi betulkan dulu dasi mu!.".Khaira melenggang pergi dengan anggunnya dan senyum-senyum sendiri melihat dasi Khaffa yang tak beraturan dan tampak acak-acakan.


"Oh my Gosh...Anayraaa...".Khaffa tak bisa menahan dongkolnya saat melihat penampilannya di kamera ponsel,Dasinya tersimpul asal,tampak kacau dan berantakan.


Sesampainya ditujuan.Di Klinik khusus Ibu dan Anak.


Daniel berdiri disisi kiri mobil dan membuka pintunya untuk Alma."Keluarlah!.".Perlahan Alma keluar."Ikuti aku!.".


Alma mengikuti Daniel,namun langkahnya tertahan saat membaca papan nama di gedung bertingkat itu."Untuk apa membawa ku kemari?.".


Daniel berbalik kearah Alma,dengan Pupil mata yang mengecil,menatap sinis Alma."Bukan kah ini yang kamu inginkan?.".


"Maaf?.".Alma tak mengerti maksud ucapan Daniel.


"Aborsi.".Rasa amarah bergemuruh dihati Daniel,kala kata itu harus diucapkannya.


Alma terpaku dan tergagu,bukan senang atau sedih,hatinya terasa sakit mendengar kata itu.


Apa dia berubah pikiran?.Tidak menginginkan anak ini lagi**?...


Meremas tali Sling bag nya kuat-kuat,menahan bendungan air matanya yang hampir rubuh.Dengan kaki diseret-seret mengikuti Daniel kedalam gedung itu.


Dikediaman Al.


"Jangan khawatir!.Tunggu saja kabar baik dari mereka.Aku sudah melakukan bagian ku,sekarang Daniel harus melakukan bagian nya.".


"Baiklah,terserah anda.Aku percayakan semua pada anda.".


"Aku mengerti,terima kasih.".


"Baiklah.Aku akan melakukan persiapan disini.".


Lenni menutup panggilan seluler nya pada lta,bernafas dengan leganya kala duduk ditempat tidur nya.


Al yang baru datang dari dapur mengambil segelas air minum untuk Lenni minum obat,duduk disamping Lenni."lni,minumlah!.".Menyerahkan beberapa butir obat dan air minumnya pada Lenni.


Satu-persatu Lenni menelan obatnya."Sampai kapan aku berhenti meminum obat-obat ini?.".Lenni merasa tersiksa harus terus menelan obat-obatan tanpa batas waktu yang jelas.


Penyakit yang dideritanya belum sehat benar.Tetapi semangatnya untuk tetap sehat tak memudar.Lenni selalu mengikuti saran Dokter untuk meminum obatnya sesuai resep dan dosisnya.


"Jika ingin ingin sehat,Mama harus meminumnya!.".Al memberikan semangat.


"Aku iri saat melihat orang-orang yang sehat.".Sedihnya hati Lenni,kala meratapi nasibnya sendiri,harus menjalani sisa hidupnya dalam keadaan sakit."Miris sekali.Hidupku bergantung pada obat-obatan ini.".Jika bukan karena putra dan suaminya yang selalu memberikan semangat dan dukungan,Lenni tak pernah ingin hidup menyentuh dan menelan obat-obatan itu.


Al iba dan sedih melihat istrinya yang tampak pasrah."Kenapa Mama menghela nafas panjang,tadi?.".Mengalihkan pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Lenni.


"Tidak boleh?.".Lenni mengernyit aneh dan menatap heran suaminya.


"Aku hanya bertanya.".Al terkekeh geli melihat bibir Lenni yang mengerucut."Daniel sudah pergi?.".Al tak menemukan Daniel diruang manapun yang ada dirumahnya.


"Sesuai rencana.".Lenni tadi pagi memberitahu Al rencana mereka selanjutnya.


Mengingat kejadian tadi malam,kala Lenni berakting sangat baik dan tampak alami,Al mengulum senyumnya."Kuharap kerja keras kita tidak sia-sia!.Semalam,aku hampir saja mengacaukannya.".Dirinya yang ikut andil dalam perannya,hampir terkecoh antara akting Lenni.


Al merasa salut dan bangga akan kegigihan Lenni dalam mewujudkan keinginan nya itu."Mama memang jenius.Tapi kenapa,Mama semalam menangis terus menerus?.Bukannya sandiwara sudah berakhir?.".Sejak meninggalkan rumah Andika,Lenni tak berhenti menangis hingga larut malam,itu membuat Al khawatir dan cemas.


"Aku takut,Alma benar-benar melakukan itu.".Jalan aborsi yang ingin dilakukan Alma menghantui pikiran Lenni.


Al pun merasakan hal yang sama dengan istrinya."Kita lihat saja,seberapa kerasnya Daniel bisa meyakinkan hati Alma dan mengubah keputusannya.".Menggegam erat tangan istrinya yang gemetar.


Kini,Al dan Lenni menggantungkan hidupnya pada Daniel.Bisakah Daniel diandalkan atau tidak?,itu membuat mereka harap-harap cemas.


Ditempat lain.


Pagi hari Aulia sibuk mengurus dirinya sendiri,tanpa pelayanan dan tanpa pendamping.Menyeduh susu dan sarapan pagi ala kadarnya,dengan roti isi.Hari ini Art rumah meminta ijin karena anaknya tengah sakit.


Riccy pergi pergi untuk mengejar cintanya,hal itu membuat Aulia sedih."Aku yakin,aku bisa menjalani hidup ku sendirian,tanpanya.".Berusaha menguatkan hatinya sendiri usai menghabiskan roti dan susunya dengan duduk sendirian di meja makan.


Saat teringat stok susunya habis,Aulia tersadar."Kurasa harus belanja sekarang.Jika tidak,anakku akan kelaparan.".Bergegas menuju kamar untuk mengambil dompet dan ponsel.


Aulia berniat membeli yang dibutuhkan nya di mini market terdekat dengan berjalan kaki.Pasalnya,tak cukup berani untuk menaiki motor dalam keadaan mengandung seperti ini.


Kala membuka pintu rumah,Aulia dikejutkan saat melihat mobil Riccy terparkir dihalaman rumah."Dia,disini?.Kapan dia pulang?.".Mendekati mobil Riccy dan berusaha membangunkan nya,dengan mengetuk kaca jendela mobilnya.


Riccy yang duduk bersandar dikursi kemudi,Retinanya menangkap cahaya yang menyilaukan dari matahari yang menyinari bumi.Perlahan membuka kaca jendela mobilnya,dan menangkap sosok gadis yang telah mengusik tidur nyenyak nya."Assalamu alaikum,Aulia?.".Senyum manisnya dipamerkan pada gadis yang berstatus sebagai istrinya.


Aulia terkesiap,baru kali ini Riccy menunjukkan wajah yang ramah dan bersahabat."Masuklah!.Lanjutkan dikamar.".Merasa kasihan melihat Riccy tidur dalam posisi terduduk seperti itu.


Riccy merasa pegal dan sakit seluruh tulang rusuk dan sendinya,untuk merenggangkan ototnya,Riccy keluar dan menggeliat sejenak."Kamu mau pergi?.".Matanya lekat-lekat menatap gadis yang mulai berisi tubuh rampingnya,tengah membawa ponsel dan dompet.

__ADS_1


"Ke minimarket.".


"Naiklah!,aku antar?.".Riccy membuka pintu mobil untuk Aulia,bergegas duduk kembali di kursi kemudi dan melajukan mobilnya.


"Kenapa tidak membangunkan ku?.".Aulia heran,Riccy memilih tidur di mobil ketimbang ditempat tidur.


"Aku tidak mau merepotkan.".Riccy tak nyaman dan tak tega harus membangunkan Aulia dini hari.


"Masih menganggap ku orang asing?.".Aulia beranggapan seperti itu,mengingat sikap Riccy yang selalu dingin pada nya.


"Aku tidak tega.".Riccy menepis anggapan Aulia.


"Sudah bertemu dengan nya?.". Aulia penasaran dengan yang terjadi antara Riccy dan Alma.


"Alma.Gadis ceria yang sangat ku cintai.".Riccy mengungkapkan jati diri Alma yang tak diketahui Aulia.


Aulia tersenyum getir,dirinya merasa tak berharga dimata Riccy."Lalu,bagaimana?.".


"lt's all over!.".Riccy tak bisa menyembunyikan kesedihannya,dan tak mau menutupi yang terjadi padanya dan Alma.


Sedingin apa pun sikap Riccy padanya,tetapi Aulia sedih melihat Riccy seperti itu."Apa karena aku?.".Netra nya membulat,pengakuan Riccy begitu mengejutkannya.


Aulia merasa bersalah,sehingga menyalahkan dirinya sendiri atas kandasnya hubungan Riccy dan Alma.


"Maaf!,tidak bisa ku ceritakan alasannya.Itu bukan urusan mu,tapi bukan kamu penyebab nya.Aku pun tidak bermaksud untuk kembali pada nya,hanya ingin melihat keadaannya saja.".Riccy tak mau Aulia berprasangka buruk,karena itu memberi Aulia penjelasan.


Selain itu,tak ingin membuat Aulia merasa tak nyaman dan tak tenang atas kejadian yang dialaminya.


"Maaf!.".Aulia menyesal karena sudah salah sangka."Aku senang,kamu kembali!.".Tanpa rasa ragu meluapkan perasaannya saat ini.


"Aku senang bisa berjumpa dengan mu lagi.".Riccy menanggapinya dan tersenyum manis.


Ini saatnya untuk ku melupakan Alma,dan membuka lembaran hidup baru bersama Aulia...


Riccy melajukan mobil menuju tempat yang dituju Aulia.Setibanya ditujuan,Aulia berbelanja didampingi Riccy di minimarket.Usai keranjang penuh dengan barang yang Aulia butuhkan,Riccy membayarnya di Kassa.


Usai dari sana,Riccy tak langsung membawa Aulia pulang.Riccy mengajak Aulia berjalan-jalan di pantai kota,untuk menghirup udara segar dan menikmati pemandangan pantai yang indah,bisa memanjakan mata dan merelaksasi pikiran.


Aulia tak hentinya memamerkan senyum bahagia,kala mendapat perlakuan manis dari Riccy,dan senyuman tulus Riccy,tuk pertama kalinya.


Seraut wajah gadis yang muda dan cantik ditatap lekat Riccy yang berdiri disampingnya."Kamu senang?.".


Aulia menyunggingkan senyum bahagia nya dan balas menatap Riccy."Itu karena ada suami ku disampingku.".Ini kali pertama nya merasakan kelegaan dihatinya saat berduaan bersama pria yang diam-diam dicintainya.


"Maaf!.Selama ini aku tidak bersikap baik pada mu.".Riccy menyesal tak memperlakukan Aulia layaknya suami pada istri.


"Aku yang salah.Ini bukan salah mu.Tapi,sebagai teman satu atapku,kamu cukup baik mau menjaga dan merawat gadis lemah dan tidak berdaya ini.".Aulia merendah,tak ingin membuat Riccy terlihat payah didepan nya.


Kata-kata ironis Aulia membuat Riccy sadar akan kebaikan dan kesabaran Aulia dalam menghadapi sikap nya yang dingin selama ini."Aku janji.Tidak akan pergi lagi dari mu.".Sepenuhnya yakin untuk tetap ada disisi Aulia.


"Apa karena patah hati?.".Aulia merasa dirinya menjadi pelarian Riccy yang tak bisa kembali bersatu bersama Alma.


"Semua orang harus menjalani hidup nya masing-masing,mengikuti garis nasib dan takdirnya sendiri.Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untuk kita.".Riccy berpikir logis dan berusaha menerima kenyataan ini.


"Termasuk aku.Kurasa nasib kita sama,tidak beruntung.Tapi,jika mas ingin melanjutkan hidup dan mencari kebahagiaan mu sendiri,aku akan melepaskan mu!.".Aulia tak ingin mengekang pria yang tak pernah mencintai nya.


Sakit,sakit rasanya hati Riccy mendengar kata-kata Aulia."Kamu menyesal,menikah dengan ku?.".


Aulia mengernyit heran dengan pertanyaan yang diajukan Riccy."Seharusnya aku yang bertanya itu pada mu?.".


Riccy sadar,perasaan nya yang sebenarnya tak pernah ditunjukkan pada Aulia."Ku akui,awalnya aku sangat kecewa.Ibu meminta ku berjanji untuk menjaga mu,sebelum menghembuskan nafas terakhir nya.".


Aulia tak heran alasan Riccy menjaga nya dengan baik,sesuai amanah ibunya."Itulah alasan mu tetap bertahan disisi ku.".Tak mungkin Riccy tetap bersama nya atas dasar cinta,pikir Aulia.


Riccy tak menyangkalnya.Itu semakin menguatkan praduga Aulia.


"Aulia,jika masih ada kesempatan untuk ku?.Mau kah tetap bersama ku?.".Riccy tak mau kehilangan Aulia,setelah kehilangan Alma.


Riccy sadar,gadis sebaik Aulia tak baik jika disia-siakan.Hanya saja,nasib Aulia kurang beruntung hingga menjadi korban pria yang tak mau bertanggung jawab.


"Sungguh?.".Aulia ingin memastikan jika Riccy tak berdusta.


"Yaaa.".Tegas dan yakin Riccy menjawabnya.


Aulia tersenyum senang dan bahagia,akhirnya harapannya untuk tetap bersama pria yang menjadi tumpuan hidup nya tercapai."Mau menerima ku dan anakku?.".Sadar diri jika tak sendiri dan bukan gadis lagi.


"Anak kita.Aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri,dan akan melindungi kalian.".Riccy sepenuh hati mau menerima Aulia dan jabang bayi yang dikandungnya.


"Bagaimana dengan perasaan mu?.Aku tidak bisa hidup dengan pria yang tidak pernah mencintaiku!.".Aulia mempertanyakan isi hati Riccy padanya.


Sebelum menjawab,Riccy ingin tahu perasaan Aulia padanya."Apa yang kamu rasakan pada ku?.".


"Aku mencintaimu!.".Aulia tak ragu sama sekali mengungkapkan perasaannya.


"Maukah menunggu hingga rasa cinta ku hadir disini?.".Riccy memegang dada nya,menunjukan keberadaan hatinya pada Aulia.


"Tidak akan menyesal dan tidak akan berubah pikiran?.".Aulia menguji keseriusan Riccy.


"Haruskah ku jawab itu?.Kamu masih ragu,padaku?.".Riccy heran,Aulia tak jua mempercayai kesungguhannya.


Aulia mengukir senyuman manis."Jangan ingkari janji!,jika sudah berjanji.Jika sudah memutuskan untuk tetap disisiku,maka harus tetap disisiku!.".Memberi persyaratan yang tegas demi mengikat Riccy agar tak pergi meninggalkan nya.


Tanpa berkata-kata lagi,Riccy merangkul pinggang Aulia dan mencium bibir mungil istrinya.


Aulia terbelalak,ini adalah ciuman pertama nya dengan Riccy.Seketika Aulia memejamkan mata dan membalas ciuman Riccy.


Riccy perlahan melepaskan Aulia."Apa itu cukup untuk meyakinkan hati mu?.".Syahdunya menatap gadis yang statusnya menjadi istri sahnya.


Aulia tak pernah diperlakukan seperti istri oleh Riccy,melainkan teman satu atap rumah yang harus dijaganya.Bahkan tidurpun terpisah dan berbeda kamar,selama masa pernikahan mereka.


Aulia terharu,seketika air mata bahagia nya menetes."Tidak ada alasan lagi untuk ku meragukan mu!.".Ditatapnya dengan mata berbinar bahagia dan penuh cinta pria yang akhirnya mau menerima segala kekurangannya.


"Terima kasih.".Riccy membelai lembut pipi halus Aulia."Aulia,kamu lah takdirku.".


Aulia membalas nya dengan senyuman menawan.


***

__ADS_1


Semoga suka kakak...Terima kasih like nya.


__ADS_2