
đŸ’•SALAM SEHAT SELALU SEMUANYA...Mohon dukungan nya dengan memberikan Like,vote dan komentar nya untuk penyemangat ku... Terima kasih.
***
Suasana semakin tegang dan semakin memanas diruang tamu yang luas dan mewah itu.Semua terdiam dengan isi pikirannya masing-masing.
Penjelasan ringkas Al disambut baik Khaffa dan Anayra."Apa yang kamu pikirkan tentang ini?.".Khaffa meminta pendapat Anayra,dan menatap istrinya lekat-lekat.
Bibir Anayra merekah sempurna."lni awal yang baik untuk menyatukan mereka.".Rasa antusiasme nya melihat Daniel dan Alma bersama, tentunya akan mendukung rencana para orang tua.
Khaffa bisa menangkap sesuatu dibalik ucapan istrinya."Aku yakin,kamu pasti sudah tau ini akan terjadi.Kamu tidak terkejut sama sekali.".Khaffa geleng-geleng kepala,tak habis pikir Anayra merahasiakan itu darinya.
Melihat Anayra tampak tenang dan senang,Khaffa beranggapan Anayra sudah mengetahui yang direncanakan para orang tua.
"Maaf!,itu permintaan Mami.".Selain meminta maaf dan senyum-senyum,tak ada yang bisa Anayra lakukan lagi.
Anayra memang sengaja membiarkan Khaffa mengetahui hal itu dengan sendirinya,melihat dan mendengar dengan mata dan telinga nya sendiri.Tanpa harus bersusah payah menjelaskan nya.Demi kelancaran rencana itu harus membungkam mulutnya,meskipun pada suaminya sendiri,dan demi menjaga amanah ibu mertuanya.
Khaffa mendengus kesal dan memalingkan wajahnya saat bersitatap dengan istrinya.
Daniel tubuhnya mendadak terasa lemas dan tak berdaya.
Ya Tuhan,aku baru menyadarinya sekarang'...
Meremas rambutnya kuat-kuat merutuki kebodohannya.
Jika sang ayah tak memberitahunya,mungkin takkan pernah tahu hal itu.Sungguh,tak terpikirkan sama sekali soal itu selama ini.Pikirannya terlalu fokus pada rasa penyesalan nya menodai Alma,hingga Alma berniat mengakhiri hidupnya sendiri,kesehatan ibunya,pekerjaan dan penjara.
Benarkah di sini telah hidup benih dari Daniel**?...
Alma meraba perutnya yang rata,terpejam untuk merasakan kehadiran janin didalam rahimnya.
Bagaimana ini?,aku belum siap untuk ini.Apa yang harus ku lakukan?....
Bingung harus berbuat apa?,Alma belum siap menerima kenyataan yang terjadi padanya saat ini.Apalagi harus hamil diluar pernikahan yang sah.Ini bukan perkara mudah baginya,dan membuat batinnya tertekan.
Belum lagi janin yang dikandungnya benih dari Daniel,adalah buah dari hasil pemerkosaan.Maka,kehadiran calon bayi yang belum tentu benar terbukti keberadaannya itu,sama sekali tak pernah diharapkan Alma.
Alma terdiam memutar otaknya untuk berpikir keras."Aborsi.".Kata yang tak pernah ingin diucapkannya,bahkan tak pernah terlintas dipikirannya selama hidupnya,terpaksa terlontarkan dari mulut nya."Jika benar aku mengandung anaknya Daniel.Aku akan akan menggugurkannya.".Menghela nafas pasrah,tak pernah menyangka akan melakukan hal ini,sungguh ini diluar kehendak nya sendiri.
Semua mata tertuju padanya dan terperangah saat mendengar kata-katanya yang tegas dan serius.
Plakkk.
"Anak bodoh,tolol!.Dimana akal sehat mu,hahhh?.".Alma menahan tangisnya saat pipinya terasa nyeri dan memanas,akibat mendapat tamparan keras dari tangan ibunya."Ibu mana yang tega membuang bayinya sendiri yang bahkan belum dilahirkan nya ke dunia?.".Ita menggeram,sebelumnya tak pernah semarah ini pada putri semata wayangnya ini.
Sebenarnya lta bisa merasakan yang putrinya rasakan,tetapi itu bukanlah jalan keluar yang terbaik,pikirnya.Naluri seorang ibu itu sangat kuat,akan selalu menjaga dan menyayangi buah hatinya,namun Alma malah berpikir sebaliknya.Itulah yang membuat lta marah.
Alma memahami itu,dan tak memungkirinya perkataan ibunya benar adanya.Tetapi mentalnya tak sekuat fisiknya,belum bisa menerima kenyataan yang ada."Ibu pikir ini mudah untuk ku?,hamil diluar nikah?.".Menatap nanar ibunya yang duduk disampingnya."Tidak sama sekali!.".Menggelengkan kepalanya berulang kali."Pernikahan tidak semudah membalikkan telapak tangan,apalagi aku harus menikah dengan pria yang tidak pernah ku cintai,bahkan sangat ku benci.".Menekan kalimat terakhirnya dan menatap pria yang dibencinya.
Daniel tertunduk pasrah,diam seribu bahasa dan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.Batinnya berkecamuk dan pikiran nya tak karuan.Semakin gusar dan putus asa mendengar penuturan Alma.
Sudah mencoba untuk menyingkirkan Alma dari hati dan pikirannya namun tak berhasil.Sudah berusaha membalas kata-kata Alma yang kasar dan ketus,dengan perlakuan serupa.Tetapi hatinya tak bisa membencinya,dan tak bisa berpaling dari Alma.Ini cinta atau bukan,Daniel tak tahu.Namun rasa takut kehilangan Alma mendera hatinya,dan menghantui pikirannya.
Dirinya merasa bodoh dan tolol saat ini.Otaknya terasa buntu hingga tak mampu berpikir jernih dan tak bisa berbuat apa-apa,bahkan untuk bicara pun sangat sulit.
"Tapi akan menjadi dosa besar jika menggugurkan janin yang tidak berdosa dan tidak bersalah itu.".Ceppy angkat bicara,tak ingin tinggal diam saja.Jika hanya menjadi penonton dan pendengar saja,takkan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang pelik dan rumit ini."Tidak perduli hasil dari hubungan apapun,bayi itu tetap tercipta suci dan murni.".Alma terdiam saat mendengar penjelasan ayahnya."Jika kamu bersikeras melakukannya,kamu tidak lebih dari seorang pembunuh!.Bagaimana pun,dia anak mu juga?.".Ceppy terus berupaya untuk merubah pikiran Alma,matanya yang tegas diliputi percikan api amarah yang membara saat menatap putrinya yang tertegun disampingnya,tengah mencerna kata-katanya.
__ADS_1
Sebagai ayahnya,Ceppy harus menyadarkan dan mengingatkan tindak tanduk putrinya.Jika sang anak berbuat dosa dan kesalahan,maka orang tua akan ikut menanggung beban dosanya pula.
"Alma,ku mohon!.Pikirkan lagi keputusan mu!.Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari!.".Daniel memberanikan diri untuk bicara,dan memelas pada gadis yang menjadi korban kebiadaban nya.
Saat merenungkan perkataan Ceppy,Daniel sadar akan hal tersebut.Jika Alma melakukan aborsi,maka calon darah dagingnya itu takkan pernah terlahir ke dunia dan takkan pernah dilihatnya.
Alma tersenyum miring akan perkataan Daniel."Diamlah!,tutup mulut mu!.Kamu tidak akan mengerti!.".Tanpa merasa canggung dan ragu,menghardik Daniel dihadapan para orang tua."Kamu tidak akan merasakan apa yang kurasakan saat ini.".Sesak rasanya nafas nya dan geram,melihat pria yang telah memporak-porandakan hatinya,kebahagiaannya dan masa depannya.
Sebelum Daniel masuk kedalam kehidupannya,Alma memiliki segudang mimpi,harapan dan cita-cita.Namun kini semua hancur lebur dan luluh lantak,semenjak Daniel datang tanpa pernah diharapkannya.
Mendapat tatapan mata yang menakutkan dari Alma,Daniel tertunduk lesu tak berani bicara lagi sepatah kata pun.
"Daniel benar Alma,kamu harus berpikir ulang sebelum mengambil keputusan,dan sebelum bertindak.".Rena ikut berpartisipasi menyerukan pendapatnya.
Rasa pedulinya pada Alma dan Daniel,Rena tak mau diam saja dan melihat Alma melakukan hal bodoh,dan bisa disesalinya seumur hidupnya nantinya.Apalagi saat ini,Rena mengharapkan tangisan bayi dirumahnya,dan ingin segera memiliki cucu dari buah hati Anayra dan Khaffa tentunya.Namun sayangnya,kabar gembira dari Anayra dan Khaffa belum sampai juga ke telinga nya.
"Alma...Dengar nak!,jika kamu melakukan itu maka ayah dan ibumu akan menanggung beban dosa mu juga.Kamu tidak ingin itu terjadi,bukan?.".Alma terhenyak mendengar penuturan Al yang lembut,dan tanpa penekanan.
Selain itu,Al berharap bisa merubah keputusan Alma untuk menyelamatkan nyawa calon cucunya yang ada di dalam rahim Alma.
"Benar!,itu benar Alma.".Lenni membenarkan dan mengangguk menyetujui usulan suaminya.
Alma semakin merasa tersudut akan nasehat Al,Rena dan yang lainnya.Takut,bingung dan merasa serba salah.Saat rasa itu melanda hati Alma,malah dibuat terkejut tatkala Lenni tiba-tiba duduk bersimpuh kehadapan nya.
"Kasihanilah!,wanita tua ini.Usiaku mungkin tidak akan lama lagi.Entah sampai aku bisa bertahan hidup.".Air mata Lenni berderai-derai dan menengadahkan kedua tangannya meminta belas kasihan Alma."Dulu aku tidak bisa mengandung dan melahirkan lagi karena penyakit ku.".Lenni menatap Alma dengan mata berkaca-kaca dan pikiran berkecamuk."Kumohon,selamatkan cucu ku!.".Menangkupkan kedua tangannya,mengharapkan Alma untuk memenuhi permohonannya."Menikahlah dengan putra ku!,demi bayi dalam kandungan mu dan demi wanita tua ini!.".
Alma tergerak hatinya,dan memapah Lenni untuk berdiri dan mendudukkannya kembali ke tempatnya semula.Menghapus air mata di pipi Lenni yang telah basah dengan telapak tangannya tanpa berkata-kata,hatinya tak tega melihat air mata seorang ibu mengalir deras karenanya.
Daniel yang duduk disamping Lenni terenyuh melihat Alma dan ibunya.Rasa penyesalan dihatinya semakin mendera tatkala melihat ibunya harus memohon dan menghiba karenanya.Ini semua takkan pernah terjadi jika dirinya tak pernah melakukan hal yang bodoh dan biadab itu.
"Maaf!.".Satu kata terpaksa harus diucapkan Alma dengan rasa penyesalan yang mendalam,tak bisa mewujudkan keinginan Lenni."Beri aku waktu untuk memikirkan semua ini!?.".Tangannya mengengam erat tangan Lenni,dan matanya yang berembun menatap sendu Lenni.
Menghadapi ujian ini sungguh tak mudah baginya.Hamil diluar nikah dari pria yang tak pernah diharapkan kehadirannya,berat rasanya.Sekarang,dituntut harus menikah dengan pria itu,tentunya tak bisa diterima begitu saja.Menjalin hubungan tanpa disadari rasa cinta akan hambar dan tawar rasanya,pikir Alma.
Menikah satu kali seumur hidupnya adalah mimpi dan harapannya.Menikah dengan pria yang dicintainya dan mencintainya adalah cita-citanya.Itu yang selalu menjadi prinsip hidupnya selama ini kala beranjak dewasa.
Melihat ibunya memohon dan menghiba seperti itu,Daniel tak tega dan tak bisa berdiam diri lagi.Apalagi jawaban Alma sangat jelas,tak langsung menggubris permintaan ibunya sama sekali.
"Mama,kita pulang!.".Daniel beranjak dari duduknya,wajahnya merah padam akibat menahan amarahnya.".Jangan pernah mengemis pada siapa pun,dan jangan membuang waktu disini!.".Mengulurkan tangannya pada sang ibu,tetapi sorot matanya yang tajam menatap gadis yang berjongkok dihadapan ibunya.
Alma tertunduk diam tak bergeming tatkala mendengar sindiran Daniel yang ditujukan pada nya.Bibirnya tertutup rapat dan tubuhnya terasa kaku,tak bisa bergerak.
"Tapi...".Lenni mendongak menatap putranya yang berdiri tegak disampingnya.
"Aku tidak bisa menunggu lagi!,ayo pergi!.".Daniel menarik lengan ibunya dan membawanya pergi meninggalkan ruangan yang penuh dengan ketegangan,panas dan mengesalkannya melihat kekonyolan yang dilakukan ibunya.
Jika saja Alma mengiyakan keinginan ibunya,Daniel takkan pernah semarah ini,mungkin malah akan sangat berterima kasih.Jika saja dirinya mampu melakukan hal serupa seperti ibunya,bersimpuh dan memohon pengampunan Alma untuk bisa memaafkan kesalahan yang dilakukannya,dan bisa mengabulkan harapan ibunya saat ini.Tetapi,saat mendengar jawaban Alma tadi,ibunya saja tak digubris Alma,apalagi dirinya.Pikir Daniel.
Lenni akhirnya pasrah dan mengalah.Tak mau dan takut terjadi keributan di rumah adik iparnya,Lenni memilih pergi bersama Daniel.
Al bangkit berdiri,"Maaf!,kami harus pergi.".Mengikutinya istri dan putranya meninggalkan rumah itu dengan wajah murung.
Daniel pergi menggunakan mobilnya membawa rasa kecewa dan luka dihati yang tak berdarah,tetapi sangat sakit rasanya.Tangannya memukuli setir mobil berulang kali,mengabaikan rasa sakit ditangannya yang menghantam benda keras.
Selama perjalanan,Al sedih melihat istrinya menangis tersedu didalam dekapannya.Sang sopir yang mengemudikan mobil milik Al bertanya-tanya dalam hatinya yang terjadi pada majikannya ini,Lenni yang duduk dibelakangnya bersama Al.
Saat Khaira pulang dan tiba dirumah."Apa yang dilakukan mereka disini,malam-malam begini?.".Khaira terheran melihat mobil Al dan Daniel keluar dari halaman rumahnya,di malam hari tanpa menaruh rasa curiga,Khaira masuk ke dalam rumah dan saat melewati ruang tamu,tertahan langkahnya melihat wajah-wajah tegang dan sedih dari orang-orang yang dikenalnya."Ada apa dengan mereka disini?,auranya tegang sekali?.Apa terjadi sesuatu?.".Tertegun sejenak saat berdiri dari kejauhan diruang tamu.
__ADS_1
Tak mau ambil pusing memikirkan wajah kusut pemilik orang tua nya dan orang tua Alma,Khaira berlalu menuju kamarnya.Membasuh muka,mencuci tangan dan kakinya dikamar mandi.Usai itu berganti pakaian dengan setelan tidurnya,dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur.
Aktifitas hari ini melelahkan tubuh Khaira,dan diserang rasa kantuk.Khaira tertidur pulas dengan memeluk guling dan berselimut kain tebal.
Dikursi taman."Menangislah!,itu lebih baik.Air mata yang mengalir masih bisa dihapus,air mata yang tertahan menggoreskan luka dihati yang takkan pernah hilang.".Anayra menenangkan hati Alma yang duduk bersandar dipundaknya.
Alma menangis sesenggukan,meratapi nasibnya yang malang saat ini.Terasa tak ada ujungnya dan belum juga berakhir.Bahkan ini sebuah permulaan dari babak baru kehidupannya,yakni menjadi calon ibu dari pria pencuri kesuciannya.
Alma merasa serba salah,entah harus bagaimana sekarang.Selain menangis dan menangis,tak ada yang bisa dilakukannya saat ini.
***
Pagi hari telah menjelang,dan fajar menyingsing diufuk Timur sana.Usai melaksanakan ibadah subuh berjamaah,Anayra membuatkan kopi untuk suaminya didapur.
Kembali kekamar membawa secangkir kopi ditangannya."Satu sendok teh gula satu sendok makan kopi.".Anayra menyodorkan cangkir dimeja untuk Khaffa yang duduk bersantai dikursi balkon tengah menikmati pemandangan alam di pagi hari yang cerah ini.
"Kasihan Bunda dan Daniel,sepertinya harapan mereka tidak akan pernah tercapai.".Khaffa berbicara tanpa menatap istrinya yang duduk dihadapannya,lebih tertarik memandangi senja di pagi hari yang menghiasi cakrawala saat memikirkan Daniel dan ibunya.
"Hemhhh...".Berat rasanya Anayra harus menghela nafas kecewa seperti ini."Kasihan Alma,cita-cita menjadi istri dari pria yang dicintainya tidak akan pernah diraihnya.Harapannya menikah dengan Riccy tidak akan pernah terwujud.".Wajah cantiknya di pagi hari semakin terpancar kala sinar mentari menerpa wajahnya,tetapi sorot matanya yang indah menukik tajam menatap Khaffa.
Khaffa lebih memikirkan Daniel dan ibunya,ketimbang Alma.Itu membuat Anayra kesal dan kecewa.
Khaffa sadar akan istrinya yang tengah menatapnya."Jangan menatap ku seperti itu!,menakutkan.Kamu seperti mau mencabik-cabik tubuh ku dan menelan ku bulat-bulat.".Intens memperhatikan istrinya yang merengut dan berkacak pinggang.
Tanpa berkedip Anayra menatapi suaminya yang tampak sangat tampan.Auranya kian terpancar kala Khaffa terbangun dari tidurnya beberapa jam yang lalu,dan saat ini saat-saat yang sangat disukai nya memandangi wajah suaminya ini.Tetapi suasana hatinya yang buruk,mengalahkan keindahan pemandangan didepannya.
"Tentu saja,kamu akan membela Daniel karena dia saudara mu!,tapi Alma sahabatku dan dia yang lebih dirugikan saat ini.".Anayra sekuat tenaganya menahan emosi merendahkan nada bicaranya,mengukir senyuman yang datar dan hambar.
Khaffa tak ingin membalasnya,akan rumit dan panjang urusannya jika meladeni istrinya."Aku tidak suka berdebat dengan mu!,honey.Kamu selalu ingin menang sendiri dan aku harus selalu mengalah.".Tanpa permisi bangkit berdiri dan berlalu pergi meninggalkan istrinya yang terpaku ditempatnya.Saat melupakan sesuatu Khaffa kembali ke balkon dan mengambil cangkir kopi nya."Sayang kopinya.".Menunjuk kopi itu,"Aku takut kamu membuangnya.".Mengambil dan membawanya pergi.
Anayra terperangah dan melongo tak percaya,akan ulah suaminya."Haaahhhh...."Membuang nafasnya dengan kasar."Kupikir dia ingin meminta maaf.".Geleng-geleng kepala karena merasa dikecewakan."Aku tidak percaya,aku menikah dengan pria yang sama sekali tidak sejalan dengan pikiran ku,bahkan tega meninggalkan ku sendirian di sini.".Rasa kesalnya tak terelakkan lagi dan menyusul Khaffa yang masuk ke dalam.
Anayra duduk disofa dengan bersilang tangan dan memandangi Khaffa yang bersandar di bahu tempat tidur,tengah asyik menyeruput kopinya."Kamu tidak akan bisa kenyang jika hanya memandangi ku terus.".Dengan hati menahan tawanya,Khaffa sengaja menggoda istrinya.
Anayra geleng-geleng kepala,bukannya Khaffa merayu atau membujuknya malah mencibirnya."Sepertinya aku menikahi pria yang salah.".Mendengus kesal dan beranjak dari duduknya.
Tergopoh-gopoh berjalan menuju pintu dengan hati dalam lingkaran amarah."Aaakhh...".Anayra berteriak keras saat tangannya ditarik dan terpelanting jatuh ke tempat tidur.
"Jangan pernah mengucapkan kalimat itu!,honey.".Khaffa menghimpit tubuh Anayra yang ada dibawah kungkungan nya dan menatapnya sengit."Kamu tidak pernah tau isi hati ku padamu!?.".Tak suka dengan perkataan Anayra yang terdengar mengiris hati.
Seandainya Anayra ingin tahu,Khaffa rela mengorbankan nyawanya demi dirinya.
Dalam keheningan,Anayra memandangi intens wajah suaminya dan tanpa mengedipkan matanya."Maaf!,aku salah!.".Setengah ketakutan Anayra mengucapkan kata itu pada suaminya yang ada diatas tubuhnya dan saling bersentuhan,hingga hembusan nafasnya menyapu wajahnya.
"Kamu akan ku hukum karena membuat kesalahan!.".Anayra terbelalak akan ancaman Khaffa yang menakutinya dan terdengar garang.
Aaapa dia akan memasungku atau menyekap ku diruangan kosong dan gelap?...
Tanpa ekspresi sedikitpun Khaffa mengintimidasi istrinya dan bersitatap dengannya."Bersiaplah!.Kamu tidak akan ku ampuni!.".Perlahan bergerak dan duduk bertumpu diranjang,diatas paha Anayra.
Anayra merasa ketakutan hingga memejamkan matanya dan menggigiti bibirnya.
Apa dia akan mengikatku diranjang lalu mencambuk ku?.Tidak mungkin,dia tidak akan seberani itu,terkecuali jika suamiku tidak waras...
Masih dalam posisi yang sama,Anayra menanti yang akan terjadi pada nya dan yang akan dilakukan Khaffa.
Bibir Khaffa menyeringai lebar,melihat ekspresi wajah istrinya yang tampak ketakutan.
__ADS_1