Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
107.Nyawa atau uang.


__ADS_3


Kehadiran Sabrina dikantor CEO,mengejutkan Khaira dan Khaffa,terutama Anayra.


Anayra heran dan penasaran akan datangnya Sabrina kesana?.Setahunya Sabrina sudah dicoret dari daftar perjodohan dan secara tak langsung ditolak Khaffa,yakni dengan cara menikahinya.


Tetapi Khaffa 'ngeuh' dan respek akan datangnya Sabrina ke kantornya.Jika bukan karena uang,apalagi.


Namun tak pernah menyangka kalau Sabrina akan berani kembali ke sana.Padahal Khaffa pernah menegaskan,tak takut dengan ancaman Sabrina dan menganggap lelucon permintaannya.


"Kau,duduklah disofa!.".Titah Khaffa dingin dan datar bahkan menatap Sabrina seperti musuh.


Sabrina setengah terpaksa duduk disofa dengan wajah merengut sedih.Niat hati hanya ingin bertemu Khaffa,malah harus adu otot bersama Khaira,dan perang mulut dengan Anayra.Sabrina sangat kecewa tak bisa menang menghadapi Khaira,ternyata Khaira lawan yang tangguh dan sepadan meski usianya lebih muda darinya.


Khaffa beralih menatap Khaira yang berdiri disamping Anayra."Khai,panggil Nichole kemari!.".


"Baik!.".Khaira langsung bergerak cepat mencari Nichole.


Sedangkan Anayra digandeng Khaffa menuju meja kerjanya.Khaffa duduk dikursi dan Anayra berdiri dihadapannya.


Khaffa memutar kursinya kekanan menghadap Anayra dan bersitatap dengannya."Honey,apa kamu terluka?.".Khaffa meneliti bagian tubuh Anayra,tangan,wajah dan kaki tak luput dari perhatiannya.


"Aku baik-baik saja!.".Anayra tersenyum lebar meyakinkan hatinya dan Khaffa senang mendengar itu.


Syukurlah...Khaffa bernafas lega.


Pasalnya,tadi Khaffa datang terlambat dan melewatkan peristiwa genting itu.Khaffa melihat Anayra hampir saja ditampar Sabrina,tetapi untungnya Khaffa datang diwaktu yang tepat dan menggagalkan niatnya.


"Siapa pun yang berani melukai mu,ku pastikan orang itu akan mendapat balasan yang setimpal.".Tandas Khaffa dan sengaja bicara keras supaya Sabrina bisa mendengarnya.


Dipeluknya pinggang Anayra erat-erat dan dielus punggungnya dengan mata saling bersitatap tanpa hirau saat ini tak berdua saja diruangan itu.Anayra balas mencium kening Khaffa dan membelai rambutnya seraya tersenyum manis,tak perduli akan dilihat Sabrina yang duduk disofa.


Sabrina duduk membatu seperti patung arca yang dipahat sempurna dan di warnai.Hanya raut wajahnya yang bicara mengungkapkan perasaannya saat ini.


Sinis menatap Khaffa tatkala mendengar kata sindiran yang ditujukan padanya.Benci dan muak juga sampai memutar bola matanya dan mendengus kasar saat melihat kemesraan Khaffa dan Anayra.Kedua tangannya bahkan mengepal kuat diatas pangkuannya serta giginya bergemeletuk menahan rasa yang mulai bergejolak dihatinya.


Sedih,marah,menyesal dan kecewa bersatu padu dalam hati,ditambah sedikit rasa iri dan cemburu.Entah bagaimana rasanya?.


Untuk apa aku disini kalau cuma jadi obat nyamuk saja?.Mana harus menyaksikan drama melow mereka disana....Lirihnya dalam hati dan beraut wajah sedih.


Panas yang membara dirasakan Sabrina didadanya,sakit di ulu hatinya dan sesak nafasnya.Sabrina ingin berteriak histeris dan menangis sekerasnya untuk meluapkan perasaannya saat ini.Namun tak bisa melakukan itu karena gengsinya lebih besar daripada egonya.


Khaira mencari Nichole diruang kerja bekas Riccy yang dialihkan menjadi ruang kerja Nichole.Ruangan itu saling berhadapan dengan ruang CEO dan dibatasi jarak sekitar 3 meter.


Khaira membuka pintunya dan berdiri disana tanpa masuk kedalam.Nichole menoleh saat terdengar pintu dibuka.


"Pak Nichole,keruangan CEO sekarang juga!.".Memandangi Nichole yang berdiri didekat mesin printer.


"Baik Bu!.".Nichole menghentikan aktivitasnya dan bergegas pergi menuju ruang CEO.


Khaira usai dari sana pergi ke toilet,sedangkan pria keturunan Tionghoa itu gerak cepat menuju ruang CEO dan mengetuk pintunya.


Tok,tok.


"Masuk!.".Masuk saat terdengar suara sahutan Khaffa dari dalam.


Khaffa dan Anayra perhatiannya langsung teralihkan pada Nichole dan menatapnya intens.


Nichole yang berdiri didepan meja pimpinannya dan menghadap CEO nya,tampak gugup mendapat tatapan itu dan tegang juga takut dimarahi Khaffa."Maaf,aapa aanda memanggilku Pak?.".Mengatur nafasnya menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang.


Khaffa menelisik riak wajahnya sejenak dan beralih ke media yang ada dimeja."Kau tegang sekali,santai saja!.".Berbicara tanpa menatap wajah Nichole dan malah fokus menulis nominal angka dikertas cek.


Khaffa menanda tangani dan merobek kertas itu lalu diberikan pada Nichole."Cepat cairkan ini!,dalam waktu 30 menit harus kembali kemari!.".


Nichole langsung meraihnya dari tangan Khaffa.Saat melihat nominal angka dikertas itu,mata sipitnya terbelalak lebar.Bukan main terkejutnya dan penasaran juga.

__ADS_1


Untuk apa uang sebanyak ini...Ingin bertanya langsung tetapi hanya bisa berkata dalam hati.


Nichole bergeming,tak hirau akan waktu yang singkat untuk melakukan tugasnya.


Melihat itu Khaffa angkat bicara."Waktu terus berjalan!.Tiktok,Tiktok...Cepat pergilah!.".Menyentak membuyarkan lamunannya sampai Nichole terkesiap ditempat dan langsung mengangkat kepalanya menatap Khaffa.


"Baik Pak!.".Tanpa ba-bi-bu lagi bergegas pergi meninggalkan ruang CEO.


Nichole berlari panjang keluar dari gedung kantor menuju Bank untuk mencairkan cek itu yang harus selesai dalam waktu 30 menit.


"Benar-benar merepotkan,bagaimana bisa cuma memberi ku waktu setengah jam?.".Rutuknya dijalan.


Untungnya saja lokasi Bank yang tertera di cek hanya terhalang 2 gedung dari sana.Maka tak menghabiskan waktu lama berlari menuju ke Bank itu.


Sabrina bisa melihat interaksi Khaffa dan Nichole tetapi tak tahu percakapan mereka.Tak bisa mendengar jelas suara mereka dan terdengar samar-samar saja ditelinganya.


Khaira yang ada di toilet berdiri menghadap cermin diatas wastafel.Termangu menatap foto pria tampan dilayar ponselnya."Benarkah kata-kata Sabrina?,haruskah ku percaya?.".Bergumam sendiri dengan pikiran berkelana jauh."Kutanyakan pada siapa soal itu,kak Anayra atau kak Lefrand?.".Berpikir sembari menopang dagunya dengan tangan kanan dan tangan kiri melipat didada.


Kata-kata Sabrina bagaikan ajimat berduri,berhasil membuat Khaira penasaran dan menjadi tak bisa fokus bekerja.Peristiwa hari ini cukup mengejutkan Khaira dan menyita pikirannya.


Anayra terheran-heran saat menyuruh Nichole mencairkan sejumlah uang yang sangat.Tadi Anayra sempat melihat saat Khaffa menulis barisan angka di cek itu."Sayang,untuk apa itu tadi?."Akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Nanti ku ceritakan.".Jawaban yang berhasil membuat Anayra kehabisan kata-kata dan terdiam.Jika sudah begitu Anayra tak berani bertanya lagi.


Nichole secepat mungkin kembali kekantor CEO sesuai instruksi Khaffa.Nichole membuka pintu tanpa mengetuk dan masuk ke dalam tanpa seijin Khaffa.Bukannya lancang,melainkan mengejar waktu.


Koper berisi sejumlah uang yang dicairkan tadi di Bank diletakkan dimeja Khaffa."Ini sesuai instruksi anda Pak!.".Sopan dan hati-hati saat berbicara.


Khaffa tak menanggapi malah melirik jam tangannya."Waktumu terlambat 5 menit!.".Dingin dan datar menatap Nichole yang berdiri didepan mejanya."Haruskah ku potong gaji mu?.".Sambung Khaffa yang membuat Nichole terhenyak sesaat.


Nichole tak berkutik dan diam membisu telah membuat Khaffa kecewa.Berhadapan langsung dengan Khaffa membuat Nichole tegang dan kaku bahkan lidahnya terasa kelu.Tetapi yang paling terdengar miris ditelinga Nichole saat Khaffa berniat memotong gajinya.


Ya Tuhan,telat 5 menit saja harus diperhitungkan dan harus potong gaji segala... Namun mengeluh dalam hati dan menekuk kepalanya kebawah.


Melihat ekspresinya,Khaffa menjadi iba dan mengurungkan niatnya."Tapi kali ini ku ampuni dan ku maafkan!.Aku baik bukan?.".Tukas Khaffa acuh dan santai.


'Double job' yang membawa sengsara.Namun untungnya ada Khaira yang menjadi 'mood booster' nya.


Khaffa berdiri dan mengambil koper berisi puluhan gepok uang kertas berwarna merah.Menenteng koper itu dan berjalan menuju sofa."Honey,pergilah jalan-jalan!.".Pada Anayra yang berjalan disampingnya."Dan kamu juga!.".Saat berjalan melewati Nichole.


"Baik Pak!.".Nichole berlalu pergi menuju ruang kerja pribadinya.


Kalau aku dan Pak Nichole pergi,maka tinggal Khaffa dan Sabrina saja berdua disini...Anayra yang terpikirkan itu menjadi cemas dan takut akan terjadi sesuatu antara mereka.


Tiba-tiba rasa yang tak nyaman hadir di benaknya dan prasangka buruk muncul dipikirannya.


"Sayang,aku disini saja!.".Dicekalnya lengan kanan Khaffa yang berotot dan kekar itu.


Anayra memasang raut wajah cemas dan takut,menatap Khaffa dengan sorot mata yang memelas.


Khaffa mengerti pola pikir Anayra dan bisa menebak isi pikirannya itu."Jangan cemas!,aku tidak akan tergoda!.Kamu yang terbaik dan tercantik dimataku.".Membisikkan kata itu ditelinga Anayra.


Mendengar Khaffa berkata demikian,Anayra menjadi salah tingkah dan tersipu malu."Baiklah!.Aku akan ke butik,menemui Alma saja.".Pasrah dan mengalah.


Khaffa memandangi punggung Anayra yang berjalan pergi keluar dari ruangannya sembari mengulum senyumnya.Tak ada sanggahan dari Anayra seakan membenarkan dugaannya,jika dihati Anayra timbul rasa curiga dan cemburu saat Khaffa akan berduaan saja bersama Sabrina.


Koper ditangannya diletakkan dimeja ke depan Sabrina."Didalam koper itu ada uang tunai sebesar 5 M.Hitunglah sendiri jika ragu,tapi ku pastikan,ini yang pertama dan terakhir!.".Tandas Khaffa dingin dan datar menatap Sabrina.


Sabrina mendongak menatap Khaffa yang berdiri tegak dengan kedua tangan didalam saku celana."Apa maksudmu?.Kamu menyogokku dengan uang?.".Kening Sabrina mengernyit heran.


"Bukankah itu yang kamu inginkan?.".Menarik satu alisnya keatas,bingung,heran dan aneh akan jalan pikiran Sabrina.


Sabrina bingung,harus menjawab apa."Mung kin iya mung kin juga ti dak.Tapi itu cuma alasanku saja.".Terbata-bata saking gugupnya.


Khaffa tak hiraukan alasannya."Aku memberikan itu cuma-cuma.Kamu tidak akan pernah mendapatkan itu dalam satu hari.Kurasa uang itu lebih dari cukup untuk mu berfoya-foya dan bersenang-senang selama setahun.".Menyeringai iblis mencibir Sabrina.

__ADS_1


"Ta tapi aaku...".Sabrina sampai bingung harus berkata apa.


"Kau tampak gugup dan ketakutan sekali,tidak seperti saat meminta sebagian saham perusahaan ini tempo hari.Bahkan bicara mu sangat lancar dan lantang saat mengancamku.".Khaffa menyela Sabrina dengan cibiran.


"Bu bukan begitu,sebenarnya aku kemari cuma ingin bertemu dengan mu dan...".


"Kamu benar-benar gadis plin-plan!.Seperti bunglon berubah-ubah setiap saat sesuai keinginanmu.".Khaffa menduga Sabrina seakan-akan tak berpendirian teguh.


Sabrina bangkit berdiri tegak dan berkata."Baiklah,aku akan bicara tegas,lancar dan lantang.Menikahlah dengan ku!?.".Dengan mimik muka serius dan sorot mata memohon.


Khaffa tersenyum miring mendengar permintaan Sabrina."Aku sudah menikah!.".Tetap dingin dan datar menanggapinya.


Sabrina tak menyerah begitu saja."Aku bersedia menjadi istri kedua!.".Obsesinya mengalahkan logikanya.


"Cihhh.Jangan pernah mimpi apalagi berharap!.".Menatap Sabrina dengan tatapan melecehkan.


"Kenapa kamu menolakku?,kupikir aku lebih baik dari Anayra.".Berkilah sembari menunjuk wajahnya sendiri seakan dirinya lebih baik untuk dijadikan istri Khaffa.


Khaffa mendekati Sabrina dan meraih lengannya lalu memelintirnya ke belakang punggungnya.Mata teduhnya yang sudah berubah menjadi kemerahan menatapi Sabrina.


"Shhhh...".Sabrina meringis sakit dan mata sendunya menatap Khaffa yang tampak marah dan geram.


"Berkacalah sebelum berbicara!.Ambil uang itu dan pergi dari sini.Jika tidak,akan kuseret tubuhmu keluar dari ruangan ku.".Khaffa membentak dan mengancam Sabrina.


Dihempasnya kasar lengan ramping Sabrina kesamping.


Sialnya,ancaman Khaffa tak mempan bagi Sabrina."Bagaimana kalau aku tidak mau dan bersikukuh untuk kau nikahi?.".Menentang keras permintaan Khaffa.


Masih bingung dan bimbang memilih uang atau Khaffa.Berambisi akan harta tetapi masih terobsesi pada Khaffa.


Entah apa yang dipikirkan dan diinginkan gadis cantik dan tinggi semampai ini?.Mendengar kata-kata konyol Sabrina membuat Khaffa bingung.Temperamen Khaffa semakin memuncak tatkala terus diuji kesabarannya.Namun kesabarannya sudah hilang dari tadi dan tak bisa bertoleransi lagi.


Dicengkeram Khaffa kuat-kuat leher Sabrina dan hampir mencekiknya."Kamu cari mati ya?.Berani menolak permintaan ku dan melawan perintah ku,itu sama saja dengan bunuh diri dan suka rela menyerahkan nyawa mu padaku!.".


Sabrina tersengal-sengal merasakan sesak nafasnya dan tenggorokannya pun terasa tercekat.


Cekikan tangan Khaffa membuat Sabrina meringis kesakitan juga."Le-lepaskan sakit,nafasku sesak!.Kamu benar-benar mau melenyapkan ku?.".Sekuatnya berbicara dengan nafasnya yang tersisa.


Tangan Sabrina memegang tangan Khaffa yang begitu kuat,berusaha menariknya supaya terlepas dan bisa melepaskan diri.Namun sia-sia saja,usahanya tak membuahkan hasil.Akhirnya Sabrina hanya bisa pasrah menunggu Khaffa melepaskannya sendiri.


Khaffa belum puas mengintimidasi Sabrina."Aku tidak akan mengotori tangan ku,tapi akan ku jadikan kau santapan ikan piranha ku.Paham!?.".Didorongnya wajah Sabrina dengan kasar sampai tubuhnya tersentak mundur ke belakang.


"Uhukkkk...Uhukkk.".Sabrina terbatuk-batuk sesaat setelah terlepas dari cengkeraman tangan Khaffa dan mengusap-usap lehernya.


Khaffa menunjuk koper dimeja dan berkata."Cepat ambil itu dan pergi dari hadapan ku sekarang!.".Disentaknya Sabrina sekerasnya dengan wajah merah padam dan menggeram.


Sabrina bergidik ngeri melihat sorot mata Khaffa yang menakutkan seperti singa siap membunuh mangsanya.Dada Khaffa pun terlihat naik turun saking emosinya.


Khaffa merasakan didalam dadanya bergemuruh hebat.Sulit dipercaya,Sabrina berhasil membuatnya menjadi berang dan beringas bak singa jantan mengamuk.


Sabrina akhirnya mengalah dan menyerah ditambah ketakutan juga.Pelan-pelan menghampiri meja dan perlahan meraih koper kecil berwarna hitam itu yang tergeletak dimeja lalu dipeluknya erat-erat.Berdamai dengan dirinya sendiri dan memilih uang daripada nyawa harus melayang.


Khaffa tak main-main saat mengancam sabrina.Kata-kata yang keluar dari mulutnya bukan sekedar gertakan saja dan benar-benar akan dilakukan tanpa belas kasihan jika emosinya sudah tersulut dan terbakar api amarahnya.


Khaffa memandangi punggung Sabrina yang berjalan tergesa-gesa kearah pintu tanpa berkata-kata.Tetapi Khaffa merasa belum berpuas diri mengancam Sabrina,dalam hatinya masih ada yang mengganjal lalu mengeluarkan uneg-unegnya.


"Dengar!.".Menahan langkah Sabrina saat memegang gagang pintu.Sabrina berhenti dan berbalik kebelakang menatap Khaffa yang berdiri didekat sofa."Jangan pernah berani melukai istriku dan keluarga ku atau siapapun yang ku kenal!.Jika sampai itu terjadi,maka nyawa mu taruhannya!.".


Sabrina merinding ketakutan dan kakinya bergetar tatkala Khaffa mengulang kata ancamannya.Tertegun dan berpikir mencerna kata-kata Khaffa.Kali ini Sabrina memilih diam dan tak berani membantah Khaffa apalagi melawannya.Sabrina sadar sebab nyawa lebih berharga daripada uang.


Tetapi Sabrina bernafas lega,selain nyawanya selamat tetapi mendapatkan uang juga sebagai kompensasi dan pengganti Khaffa.Rasa sakit dipipi dan dikepala akibat ulahnya Khaira menjadi terobati dengan uang 5 M.


Dirasa belum keluar semua uneg-unegnya dan masih ada yang tertinggal dalam hatinya,Khaffa berbicara lagi."Satu hal lagi,jangan pernah berani datang kemari lagi dan menunjukkan wajahmu dihadapan ku!.Camkan itu baik-baik!.".Menunjuk pelipisnya sendiri menekan Sabrina untuk mengingat kata-katanya diotak Sabrina.


Sabrina bergeming dan menatap Khaffa tanpa berkedip.Tanpa sepatah katapun Sabrina berlalu pergi meninggalkan ruangan mewah itu yang terasa bagaikan neraka baginya.

__ADS_1


"Huuuhhh...".Khaffa menghela nafas panjang dan menghempaskan tubuhnya disofa."Benar-benar menguras emosiku!.Kupikir gadis itu sudah menyerah dan tidak berani lagi menampakkan diri di depanku lagi.Tapi nyatanya aku salah.".Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Khaira menuju ruang kerja pribadinya sendiri sepulang dari toilet yang ada disamping ruang CEO.Sementara Anayra dibutik menemui Alma sekaligus juniornya untuk melepaskan rasa rindunya.


__ADS_2