
Author POV.
Belasan menit sebelumnya.Khaffa bersiap-siap untuk pulang.Seperti biasa la merapikan dulu berkas-berkas yang berserakan dimeja dan mematikan laptopnya serta lampu ruangannya,tak lupa la mengunci pintunya.Akhir-akhir ini la pulang belakangan dibanding Riccy dan Khaira yang pulang lebih awal.
Riccy pulang jam 7 malam dan Khaira pulang jam 5 sore,itupun jika memang tugas mereka sudah selesai dan tidak ada lagi yang harus dikerjakan termasuk dengan kegiatan Khaffa.Tetapi tentu saja jam pulang kerja mereka sewaktu-waktu bisa berubah jika memang diperlukan dan sesuai permintaan Khaffa.
Setelah selesai dengan rutinitasnya,Khaffa meluncur kebasement menggunakan lift.Sesampainya disana Khaffa keluar sambil menenteng tas kerjanya dan melangkah menuju mobilnya.Suasana basement sudah sangat sepi dan tersisa beberapa orang Securicor Parking saja ada diposnya dan diarea gedung Mall.
Khaffa memang sengaja keluar dari sarangnya jika dirasa semua pegawai-pegawai sudah pergi meninggalkan area gedung Mall,terutama pegawai yang berjenis kelamin perempuan.Sebab jika la pulang diwaktu yang sama,pasti akan membuat ricuh oleh dan menarik perhatian mereka.
Sebagian besar pegawai wanita pasti akan menatapnya dengan tatapan terkagum-kagum dan terpesona sambil berbisik-bisik tentangnya saat la berjalan diantara kerumunan mereka.Namun itulah yang la hindari dan risih dengan hal itu.Maka dari itu la terakhir keluar dari gedung kantornya.
Namun tiba-tiba langkah Khaffa tertahan saat akan masuk kedalam mobilnya,sebab la melihat sosok gadis yang dikenalnya sedang berdiri diarea parkir motor.Kening Khaffa mengkerut karena terheran melihatnya berdiri dan menendang ban motor sambil mengoceh tak jelas dan samar karena jaraknya cukup lumayan jauh darinya.
"Kenapa dia masih disini?,apa dia ga takut sendirian disini?.".Gumam Khaffa sambil membuka pintu mobil lalu memasukkan tas kerjanya dan menyimpannya dijoknya kemudian menutup pintunya kembali.
Suasananya memang sudah sangat sunyi dan sepi setelah jam kerja semua pegawai usai.Sembari memasang raut wajah penasaran Khaffa berjalan dengan langkah panjang menghampiri gadis itu.lngin mencari tahu sendiri yang terjadi padanya.
Saat dekat dengannya,Khaffa menepuk pundaknya dari arah belakang tetapi segera membungkamnya dengan tangannya ketika gadis itu berteriak histeris karena terkejut.
Anayra POV.
"Kenapa kamu masih disini?.".Tanya tuan CEO itu padaku saat aku berbalik kearahnya.
Jarak kami sangat dekat sampai kepalaku harus mendongak saat menatapnya karena perawakannya yang tinggi dan tegap.Bahkan aku bisa mencium aroma wangi mint dari hembusan nafasnya saat berbicara dan juga aroma parfum maskulin yang bukan pertama kalinya terendus oleh indera penciumanku yang menyeruak dari dalam tubuh dan jasnya sebab dia berdiri tepat dihadapanku.
Ahhh...
Kenapa aku suka sekali dengan aroma parfumnya?.Kadang-kadang aku merasa terhipnotis saat didekatnya dan terbawa suasana olehnya tetapi aku masih bisa mengontrol diriku.
"Mmm,ban motorku bocor Pak!.".Jawabku sambil mundur selangkah dan menunjuk ban motorku.
Dia refleks melihat kearah ban motorku dan mencermatinya dengan seksama.
"Ayo ikut aku,aku antar kamu pulang!?.".Ucapnya dengan nada rendah.
"Ga perlu pak,aku mau memesan ojol saja!.".Ucapku menolak dengan halus.
Pura-pura menolak karena gengsi padahal hatiku bersorak senang.
"Kenapa kamu suka membantah ucapanku?,apa kamu ga takut diam disini sendirian?.Kalau kamu nanti naik ojol malah makin lama lagi dan berbahaya juga dijam segini seorang gadis naik kendaraan umum!.Jadi lebih baik kamu ikut aku sekarang!.".Ucapnya menyentakku lalu melengos pergi.
Memang benar apa yang dikatakannya.Tetapi kenapa dia peduli padaku dan mencemaskan keselamatanku.
Sembari menggeleng aku berkata,"Eitsss,jangan baper dan ge'er!.Dia cuma mau menolongku saja seperti sebelumnya waktu aku pingsan.".Gumamku sambi merenung.
Ku tebas rasa itu dalam hati dan pikiran ku.Dan kuusir jauh-jauh karena asumsi ku yang berlebihan.
"Heiii,cepatlah ini sudah malam!.Jangan buang waktuku lagi!.".Katanya membuyarkan lamunanku.
Akupun terpaksa menuruti dan mengikutinya.Aku masuk kedalam mobilnya dan duduk disampingnya.Sebenarnya aku ingin duduk dibelakang dan bersantai tapi dia pasti memprotesku dengan alasan 'bukan sopir'.
Huuuh.
'Seandainya saja dia tahu kalau aku gugup dan tegang saat didekatnya'.Keluhku dalam hatiku sambil memasang seat belt.
Dia menstarter kemudian menancap pedal gasnya tanpa hirau dan acuh saja.
Didalam mobil aku menatap lurus kedepan dan dia melirikku sekilas kemudian tangan kirinya bergerak menekan tombol diperangkat yang menempel didashboard mobil.
Sesaat kemudian terdengar suara alunan musik yang dinyanyikan oleh Tiara Andini.Suatu kebetulan yang tidak disengaja sebab ini adalah lagu favoritku dan aku belum bisa move on dari lagu ini.
"Tolong jangan diganti Pak!.".Ucapku memohon saat tangan CEO akan menggantinya dan refleks tangannya terhenti.
"Kamu suka lagu ini?.".Tanyanya sambil menatapku dengan wajah datar.
Dan aku mengangguk saja tanpa berkata-kata.
"Kenapa?.".Tanyanya sambil menarik satu alisnya keatas.
"Entahlah!.".Ucapku sambil menggedikkan bahuku.
"Mungkin liriknya mewakili suasana hatiku.".Sambungku sambil menoleh memandang wajahnya sekilas.
Dan keningnya mengkerut terheran mendengar ucapanku.
"Apa karena dia?.".Tanyanya dengan raut wajah penasaran.
Namun aku paham maksudnya dan siapa yang dibicarakannya.Tak lain adalah mas Lefrand.
"Kepooo!.".Jawabku singkat mengelak.
__ADS_1
Ditanggapi senyuman tipis dibibirnya tetapi membuatku cukup terpesona.
'Kenapa wajahnya semakin tampan saja saat tersenyum.Membuat hatiku meleleh'...Gumamku dalam hati.
Tak bisa ku pungkiri jika pria yang duduk disamping ku ini yang berbalut setelan jas warna abu muda ini tampan dan nyaris sempurna wajahnya.
"Oiya,maaf Pak!.Apa anda sudah menjelaskan pada ibu anda tentang hubungan kita yang sebenarnya?.".Tanyaku penasaran saat teringat hal itu.
Tetapi dia diam saja,tidak bereaksi dan tidak menjawabku.
Huuuft...Membuatku hanya bisa menghela nafas saja.
Aku bisa menduga pasti dia belum menjelaskannnya pada ibunya.
"Tenanglah,ga usah cemas!.Besok aku akan mengatakannya pada ibuku.".Ucapnya kemudian namun sepertinya aku tidak yakin dengan ucapannya itu.
"Janji!.".Ucapku seraya menunjukkan jari kelingkingku untuk memastikan dia bisa konsisten dengan ucapannya.
Dia berpikir sejenak lalu menganguk pelan tanpa berniat menautkan jarinya dijariku.
"Ok fix!.".Ucapku sambil menarik tanganku kebawah.
Tetapi kenapa wajahnya terlihat kecewa dan sedih.Seperti bertolak belakang dengan keinginanku.Mungkinkah kata-kataku salah dan menyinggungnya?.
Dia lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan kirinya.
Sepanjang perjalanan aku melihat pemandangan kota yang masih ramai.Banyak PKL dan stan makanan yang masih menjajakan dagangannya.Bahkan banyak pasangan muda-mudi yang masih berjalan-jalan dan nongkrong diluar sana.
Tikkk,tikkk.
Tidak berselang lama terdengar rintik-rintik lalu disusul gemericik air hujan diatap mobil.Air hujan perlahan mulai mengguyur dan menyapu jalanan.Kulihat orang-orang diluar sana berlarian dan mencari tempat untuk berteduh.Kutatap langit yang mendung dan hitam karena hari semakin larut malam.Dan kudengar suara gemuruh disertai kilatan cahaya seperti akar yang menjalar diatas langit sana.
Karet wiper dikaca jendela mobil mulai bergerak-gerak menyeka air hujan.Tuan CEO dengan konsentrasi penuh menatap jalanan.
Namun aku bisa memetik hikmah dari apa yang kualami saat ini.Jika saja ban motorku tidak bocor tentu aku menggunakan motorku untuk pulang dan pastinya kebasahan dan kedinginan dibawah guyuran air hujan.Meskipun jas hujan selalu siap dibagasi motorku,tetapi aku selalu membiarkan tubuhku kebasahan karena terlanjur basah oleh derasnya air hujan.
Jdeeerrrrrrr.
Tiba-tiba suara sang halilintar menggema diudara dan menggetarkan bumi diiringi kilatan cahaya yang panjang menyambar alam.
"Kyaaa...".Aku berteriak histeris sambil memejamkan mataku dan menutup telingaku dengan kedua tanganku.
Refleks tuan CEO menginjak rem dan menghentikan mobilnya secara mendadak.
Greppp.
Dia merangkulku kedalam pelukannya dan refleks aku membenamkan kepalaku didada bidangnya yang hangat.
"Tenanglah,jangan takut!.Ada aku disini!.Kamu aman bersamaku.".Ucapnya lirih ditelingaku sambil mengeratkan pelukannya dan menepuk-nepuk punggung ku.
Deg,deg,deg.
Membuat Jantungku berdebar cepat tak karuan bdan kudengar juga suara jantungnya yang berdebar-debar kencang.
'Perasaan apa ini?.Kenapa jantungku dan jantungnya berdebar ga karuan begini?'...Bisikku dalam hati.
Pelukannya begitu hangat kurasakan disaat AC mobil mendinginkan dan membekukan tubuhku ditimpah udara diluar yang dingin dan mencekam.
Perlahan ku mendorong tubuhnya dan refleks diapun bergerak mundur kebelakang.
"Maaf!.".Ucapnya lirih sambil tersenyum tipis.
Pipiku mungkin memerah saat ini entah karena malu dan gugup.Tapi beruntung udaranya dingin hingga memudarkannnya.Dia lalu memasang sabuk pengaman kemudian melajukan mobilnya kembali.
"Kamu takut petir?.".
"Yaaa!.".Jawabku singkat.
"Kenapa?,karena trauma atau-...".
"Suaranya yang seolah memecah gendang telinga ku dan kilatan cahaya nya seakan mau menyambar ku!.Sebagian orang pasti berpikir sama denganku,bukankah anda juga pasti berpikir begitu Pak?.".
"Yaaa,benar!.Tapi aku laki-laki jadi reaksiku ga mungkin seperti mu!.Bukankah sangat memalukan kalau reaksi ku berlebihan sampai teriak histeris seperti itu?.".
"Mungkin ya dan mungkin juga enggak!.".Jawabku gamang sambil tersenyum tipis.
Tak ada lagi pertanyaan darinya atau pun jawaban lagi dariku.Hening dan sepi tanpa suara kemudian,kami terdiam dan terpaku ditempat duduk masing-masing dengan isi pikiran masing-masing disisa perjalanan kami hingga tanpa terasa sampai juga ditujuanku.
Sesaat setelah menepikan mobilnya didepan rumahku.
"Terima kasih Pak!.".Ucapku sambil menoleh padanya dan tangan kiriku memegang 'handle' pintu mobil.
__ADS_1
"Tunggu!.".Ucapnya mencegahku dan refleks aku terdiam.
Badannya bergerak memutar kebelakang lalu tangan kirinya meraih sesuatu dijok belakang.
"Ambillah!,ini untukmu,anggap saja ini sebagai hadiah dan bentuk ucapan terima kasihku sebab kamu membuat makanan untuk ku setiap hari.".Ucapnya seraya menyerahkan kotak didalam paper bag.
"Haaa...".Aku melongo tidak percaya.
'Hadiah untuk ku katanya.Telingaku ga salah dengar kan?'...Gumamku dalam hati sambil tertegun.
Trkkk
Dia menjentikkan jarinya menyadarkanku lalu berkata,"Ambillah!,tanganku mulai pegal dan kram!.".
Refleks aku tersadar dan perlahan tanganku terulur mengambilnya.Saking terkejutnya sampai kehabisan kata-kata.
"Te terima kasih Pak!.".Untuk yang kedua kalinya aku mengatakannya dan dia mengangguk saja menanggapi ku.
"Baiklah,aku pamit Pak!.".Ucapku seraya tersenyum dan membuka pintu kemudian keluar lalu melangkah pergi setelah menutup pintu mobilnya tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
Sebab bisa gawat jika dia melihat pipi ku yang merah merona saking terenyuh dan tersentuh oleh perhatiannya.
Bergegas aku masuk kedalam rumah yang sepi karena Alma pasti sudah terlelap dalam mimpinya.Tetapi kulihat meja tamu berantakan bekas bungkusan makanan.Ini pasti kerjaan Alma dan sudah kebiasaannya setelah mengemil lalu tidur.
Segera aku membereskannya dahulu kemudian membuangnya ditong sampah.Setelah selesai karena tidak sabar untuk membuka kotak yang diberikan CEO itu.
"Alhamdulillah.Dalam satu hari aku dapat dua kejutan.Rejeki nomplok ini mah!.".Ucapku sambil tersenyum sumringah.
Aku terpana melihat sepasang sepatu hak tinggi berwarna putih dengan manik-manik batu kecil didepannya.Aku bisa menduga harganya pasti mahal karena terlihat dari merk-nya.
"Ck,ck,ck...Alma pasti iri padaku kalo liat sepatuku ini.".Gumamku sambil tersenyum sumringah.
Kemudian ku mencobanya dan ternyata pas sekali dikakiku.Tetapi darimana dia tahu ukuran kakiku?.
"Haaa...Yayaya,aku ingat sekarang!.".
Teringat saat dia menyuruhku membuka sepatuku ketika diruangannya.Daya ingatku memang tajam.
Tetapi sayangnya ku tinggalkan gaun yang diberikan mas Lefrand dibutik sebab aku takut membawanya pulang menggunakan motorku.Dan kupikir pasti akan kerepotan membawa kotak sebesar itu.
"Hoaaam...".Aku menguap dan mulai mengantuk.
Segera aku masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan wajah,tangan dan kakiku kemudian berjalan ke kamarku dengan membawa kotak sepatu ditanganku.Aku berganti pakaian lalu menghempaskan tubuhku ditempat tidur.
Mataku menerawang dan melayang jauh mengingat kejadian didalam mobil.Aku tersipu dan senyum-senyum sendiri sambil menggigit kecil bibirku.Seketika pipiku memanas dan merah merona.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku perlahan lalu berkata."Kenapa aku jadi mikirin dia?.".
Dengan cepat ku menutup wajahku dengan bantal karena merasa malu.Dan kemudian tertidur pulas.
***
Beberapa hari kemudian.Setelah melakukan aktivitas dan rutinitas baru disetiap hariku dengan membuatkan makanan untuk tuan CEO.Aku memutuskan untuk membuatnya dirumahku dengan alasan aku lelah jika harus bolak-balik ke apartemennya.Dia bisa memahami dan menerima alasannya.
Melalui seorang OB yang sudah kukenal kutitipkan makanan itu untuk diberikan padanya.Entah mengapa sejak kejadian dimobilnya membuat ku malu bertemu dengannya dan menjadi menghindarinya.
Tetapi aku dibuat terkejut ketika dia menitipkan sejumlah uang didalam amplop pada OB itu untukk,yang jumlahnya tidak sedikit dengan alasan untuk membeli bahan makanan.
Namun aku berusaha menolak dan berniat mengembalikannya tetapi sebelum aku melakukan itu,dia malah mengancamku melalui pesan singkat diponselku.Jika mengembalikannya maka aku harus mengganti uang yang dikeluarkannya untuk membeli sepatu.
"Huuuhhh...Ini ancaman namanya!.Kalo pamrih kenapa dia belikan aku sepatu itu?.".Dia selalu berhasil membuatku kesal.
Back to butik!.
Hari ini butik membuka outlet hanya setengah hari dengan ijin pihak Mall tentunya.Siang ini kami akan pergi menuju hotel dan harus melakukan persiapan disana sebab petang nanti acara pesta akan dimulai.Aku dan Alma serta keenam junior kami bekerja satu shift khusus hari ini dan kami sudah siap dengan perlengkapan perang serta DC kami didalam koper masing-masing yang sudah dititipkan pada Pak Ikbal didalam mobil.Sopir dari butik pusat yang akan mengantarkan kami menuju hotel.
Alma dan keenam junior ku mendapatkan jatahnya masing-masing,yaitu gaun cantik dari sponsor utama kami yang tak lain adalah ibu Lulla dan sesuai DC tema pesta nantinya.
"Cepetan Nay'!,Pak Ikbal udah nungguin kita dibasement.".
Alma berdiri dibelakangku sambil menyilangkan tangannya tampak tidak sabar ingin segera pergi dengan alasan Pak Ikbal menunggu kami.Sedangkan aku sengaja memainkan anak kunci pintu outlet yang berkaca tebal ini.
"Haish,kenapa lama sekali sih kamu Nay'?.Segitu susahnya ngunci pintu?,kakiku pegal tau!.".
Dibelakang ku Alma mengeluh sambil menepuk pundakku dan aku mempercepatnya sebab gawat jika Alma mengoceh bisa satu bab mungkin ocehannya.
"Selesai,ayo kita pergi sekarang!.".Ucapku sambil berdiri.
Kami melenggang pergi dengan cantik dan banyak pasang mata melihat kami dengan tatapan tidak suka.Apalagi ketika aku berpapasan dengan Leader BA itu,dia memandangku dari atas sampai kebawah dengan tatapan sinisnya tetapi aku tidak menghiraukannya dan acuh saja.
Beberapa puluh menit kemudian.Akhirnya kami sampai dibasement setelah menuruni anak tangga dan kemudian masuk kedalam mobil Alph*rd warna hitam yang sudah disediakan oleh ibu Lulla dan Pak Ikbal sebagai sopirnya.Mobil melaju dan kamipun on the way menuju hotel.
__ADS_1