Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
Bab 53.Menjenguk.


__ADS_3


Di kediaman keluarga Andika Alyandra.


Setelah berbincang dan mengeluarkan uneg-unegnya pada Khaffa.Jam 3 sore,Rena pamit pulang kekediamannya sebab Andika,suaminya terus menerus menghubunginya untuk segera pulang.Tetapi berjanji akan segera kembali nanti.


"Gimana kondisi Abang Mi?.".Andika menoleh saat Rena datang dan menghampirinya yang duduk dikursi teras.


Menikmati panorama taman didepan rumah sembari membaca sebuah buku ditemani secangkir kopi hitam dan kue pisang bolen favoritnya.


"Alhamdulillah mendingan Pi!,setelah minum obat resep dari Dokter Yudi!.".Rena duduk disamping Andika dan menyimpan tasnya dimeja.


Sebelumnya Rena menyuruh sopir pribadinya membeli obat di apotek terdekat dari gedung apartemen.Setelah Khaffa minum obat,tak lama tertidur dan Rena pulang.


"Abang itu sikapnya kayak Rocker tapi hatinya pink kayak Cherrybelle.Keliatan keras dan kuat fisiknya tapi padahal benyek dalemnya!.".Andika meletakkan buku dimeja kemudian mencomot kue pisang bolennya dan melahapnya.


Rena langsung tergelak."Hahaha...Papi ada-ada saja,kok kayak Cherrybelle sih Pi?,dari mana Papi tau mereka?.".Rena heran ternyata diam-diam suaminya bisa tahu grup beranggotakan gadis-gadis cantik itu.


Andika menelan habis makanannya lalu menirukan gaya girlband itu bernyanyi."Itu Papi dengar dari si Khai' kalo lagi dandan didepan meja riasnya dia suka nyanyi.'You are beautiful,beautiful,beautiful kamu cantik-cantik tapi rada sengklek'.Begitu katanya Mi!.".


Rena tergelak lagi tak kuasa menahan tawanya saat melihat tingkah suaminya yang lucu."Hahaha...Kok Papi tau kalo dia suka nyanyi itu sih?.".Sebab Rena tak pernah mendengar Khaira bernyanyi.


Sebagai ibu rumah tangga,setiap pagi Rena sibuk mengurus ini dan itu,termasuk urusan makanan.


"Ya jelas tau lah,orang kita sebelahan kamarnya sama si Khai'.Dia juga kan pintu kamarnya selalu terbuka lebar kecuali malem,jadi Papi dengar dia nyanyi waktu lewat didepan kamarnya.".Andika menjelaskan dan teringat saat lewat didepan kamarnya Khaira.


Tak sengaja Andika mendengarnya bernyanyi sembari merias wajahnya saat Khaira bersiap akan pergi kerja.


"Memangnya Papi dengar dia nyanyinya begitu?.".


"Ya iyalah masa ya iya dong!.Orang suaranya nyempreng dan melengking kayak sandal bolong!.".


"Sundel bolong Pi!.".Rena mengkoreksi ucapan Andika dan tangannya meraih kue pisang bolen dipiring lalu memakannya.


"Sama saja,yang penting ada bolongnya!.".Sanggah Andika disela-sela menyeruput kopinya.


"Ahhh iyalah terserah Papi yang penting Papi HEPllI!.".Rena dengan nada tinggi dan keras waktu mengucapkan kata HEPI.


Kini gantian Andika yang tergelak."Hahaha...Awas nanti pita suara Mami putus!,kalo putus siapa yang jadi alarm buat bangunin Papi untuk sholat subuh?,hahaha...".Kelakar Andika seraya meletakkan cangkir kopinya.


"Ish,ishhh...Papi meledek Mami ya?,kayak suara dengkuran Papi merdu aja padahal percis kayak suara radio butut!.".Rena berdalih membalas meledeknya dan mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha...".


"Yuk Pi,kita ke kamar!,Mami cape nih.".Ajak Rena beranjak berdiri dan menenteng tasnya.


"Asiaap!.".Andika merangkul pinggang istrinya dan membawanya masuk kedalam langsung menuju kamar utama yang ada dilantai bawah.


Dan di Mall.


Anayra POV.


Mataku tak henti melirik terus jam ditanganku karena aku sudah tidak sabar ingin segera pulang tapi kenapa waktu terasa bergerak lambat?.


Klik.


Saat jarum jam panjang tepat diangka 12 dan jarum pendek diangka 5.Tanpa ba-bi-bu lagi aku segera menyambar tasku lalu berdiri dan melangkahkan kakiku.


"Aku pulang duluan ya!.".Pamitku pada semua rekan kerjaku lalu berjalan pergi.


Terus berjalan keluar dari butik dengan langkah cepat karena sangat tidak sabar ingin segera pergi dan pulang ke apartemen karena ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan.


Setibanya dibasement aku segera naik keatas motorku lalu kutarik gasnya setelah menyalakan mesin dan memakai pelindung kepalaku.


Ku arahkan tujuanku menuju jalan keapartemen dan kupacu lebih cepat motorku karena aku ingin cepat tiba disana.


Setelah melewati jalanan ibukota yang macet.Akhirnya sampai juga dan untungnya aku menggunakan motor sehingga bisa menyalip disela-sela mobil dijalan raya dengan 2 jalur arus yang berlawanan arah.


Setelah melewati area parkir untuk memarkirkan motorku lalu setengah berlari masuk kedalam gedung menuju lift dan meluncur keatas setelah menekan nomor lantainya.


"Huuuh...Aku menghela nafasku sejenak saat berdiri didepan pintu salah diunit apartemen.


Dengan jantung berdebar kencang kuberanikan diri membunyikan bel.Tanganku terangkat keatas untuk menekan tombol.


Tettt.


Bel pertama tidak ada respon dari pemilik pintu apartemen ini.Kucoba lagi yang kedua lalu ketiga tapi tetap sama.


"Kenapa dia ga membukakan pintu dan ga keluar juga?.Apa dia pergi?,tapi ga mungkin dia kan sakit!.".Gumamku sambil terheran-heran.


Kucoba menekan nomor sandi pintu ini yang sudah aku ketahui sebab bukan pertama kalinya aku datang kemari karena sipemilik pernah memberitahukanku.

__ADS_1


Klek.


Perlahan aku membuka pintu lalu masuk kedalam dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri.Pandanganku mengedar melihat seisi ruangan yang tampak sepi seperti biasanya sampai tidak kutemukan sosoknya.


"Ahhh,dia pasti ada dikamarnya!.".Ucapku menerka sambil berjalan menuju kamarnya.


Klek.


Perlahan ku buka pintu kamarnya dan masuk.Seketika aku terkesiap saat melihat sosok yang kucari terbaring diatas paribaannya sembari terpejam.Segera aku menghampirinya dan kutatap wajahnya yang tampak pucat itu.Ada lingkaran hitam dibagian matanya serta bibirnya,seketika aku iba dan kasihan melihatnya.


Bagaimana bisa dia tinggal sendirian disaat keadaannya sekarang tanpa ada yang menemaninya dan merawatnya?.


Kuberanikan diri duduk ditempat tidur disampingnya.Tiba-tiba refleks tanganku mengulur memegang keningnya.Hangat,itu yang kurasakan.Kulihat tetesan keringatnya menyembul dari celah pori-pori kulit kening dan lehernya.


"Beneran ini dia,ternyata benar dia lagi sakit?.".Gumamku pelan dan menatap iba wajahnya.


Aku menggeleng seakan tak percaya jika pria angkuh dan dingin ini sakit.Pria yang selalu memasang raut wajah datar dan selalu membusungkan dadanya saat berjalan.Tapi kini dia sakit,terbaring lemah tak berdaya.Terkurung didalam kamarnya tanpa yang menemani disisinya.


"Anayraaa...".Kudengar dia mengigau menyebut namaku dengan suara serak dan lemah,sontak membuatku tersentak.


Baru kudengar dia memanggil namaku sebab sebelumnya dia selalu enggan menyebutnya.Aku terenyuh,disaat raganya merasakan kesakitan,tapi namaku yang diingatnya sampai membuatku bertanya-tanya.


"Apa aku sangat berarti baginya?.Apa benar dia mencintaiku?.Sejak kapan?.".Gumamku pelan.


Sekelebat bayangan melintas dipikiranku ketika kami saling berdebat,ketika dia menindasku dan memerintahku sesuka hatinya.Tapi tiba-tiba dia mengucapkan kata cintanya setelah rakusnya menciumku diteras Hotel kala pesta itu.


Mataku terpejam membayangkan momen itu dan getaran bibirnya seolah masih terasa dibibirku.Pria ini telah lancang menciumku dengan alasan untuk membantuku tapi setelah itu dia mengungkapkan perasaannya.


Kepalaku menggeleng mengusir pikiran liarku.Cepat-cepat kubuka mataku dan menghela nafasku.


Kulihat diatas nakas ada beberapa jenis obat dikemasan plastik dan sepertinya baru diminum satu kali serta segelas air putih tapi tidak ada makanan sedikitpun.


Aku menarik selimutnya yang tersingkap lalu menyelimutinya hingga dadanya.Tapi anehnya dia tak terganggu oleh gerakanku dan malah masih betah terpejam.Aku cemas,khawatir dan penasaran dengan keadaannya,apakah dia baik-baik saja?,apa yang dirasakannya saat ini?.


'Bangunlah!'.Ingin sekali aku mengucapkan kata itu dan mengguncang tubuhnya tapi aku tak tega.Seketika aku tersadar,beginikah rasanya saat dia menungguiku dirumah sakit?.


"Baiklah,ku rasa sebaiknya pergi!.".Ucapku setelah merasa puas menatap wajahnya.


Aku merasa tenang karena sudah melihat keadaannya dan terbersit didalam hatiku ingin sekali menemaninya tapi akal sehatku tidak mengijinkan.


"Get well soon Pak Khaffa!.".Bisikku ditelinganya dan beranjak dari dudukku.


Geppp.


"Jangan pergi,aku mohon!.".Pintanya memelas dan lemah menatapku sayu.


Aku terpaku menatapnya tanpa berkata-kata,ingin sekali mengatakan sesuatu tapi bibirku terasa kelu.


Aku terlonjak saat tanganku ditariknya sekuat tenaganya,sontak akupun mendarat tepat diatas tubuhnya.


Jantungku berdebar hebat saat aku menindihnya dan dia memeluk pinggangku.Wajah kami sangat dekat dan mata kami saling bertatapan.Bola mata kami berputar-putar saling mengabsen setiap penghuni wajah kami.Membuatku terhipnotis melihat wajahnya.


Cuppp.


Dia mengecup pipiku tanpa seijinku.Sontak aku terkesiap dan mengerjap.


"Ishhh,dasar mesum!.".Umpatku kesal dan meronta-ronta.


Tetapi dia malah mengulum senyumnya seolah tak berdosa.


"Apa kamu mencemaskanku?.".Dia semakin mengeratkan pelukannya dipinggangku.


"Ppak le-lepaskan aku!.".Pintaku gugup dan jantungku berdegup tak karuan.


Astanagara,malah cengar-cengir.Perlahan dia melonggarkan tangannya dan secepatnya bergerak turun dari atas tubuhnya.Aku duduk ditepi tempat tidurnya dan merapikan pakaianku yang tersingkap.


Dia beringsrut duduk dan tiba-tiba...


Geppp.


"Syukurlah kamu baik-baik saja!,aku senang melihatmu sehat kembali.".Lagi-lagi memelukku.


"Ppak ja-jangan seperti ini!.".Pintaku gugup dan menepuk-nepuk punggungnya.


Aneh dan heran,Kenapa dia jadi 'melow' begini?.


"Terima kasih kamu datang menjengukku!.Aku yakin kamu pasti akan datang.".Berbisik ditelinga ku sampai tubuhku merinding.


Tetapi tebakannya benar dan tepat sekali.


'Etdah,bukannya melepaskan pelukannya malah makin erat memelukku'...Keluhku dalam hati.

__ADS_1


Aku meronta-ronta lagi."Pak tolong lepaskan aku dulu!,nafasku sesak!.".Pintaku memprotes sikapnya dan refleks diapun melepaskanku.


"Hahaha...Maaf!.".Dia mengatupkan kedua tangannya.


'Busettt,dia malah tertawa,dasar watados!'...Rutukku dalam hati.


'Tuan CEO,aku tau kamu kamu tampan jadi ga usah ketawa kayak gitu kalo cuma buat memikatku'...Umpatku kesal dalam hatiku.


"Oya Pak,aaku minta maaf sebab menerobos masuk kemari tanpa seijin anda!.Aku tadi sudah tekan bell tapi ga dibuka juga pintunya,jadi aku masuk saja sebab kudengar Pak Khaffa lagi sakit.".Kepalaku tertunduk saking malunya.


Aku berargumen takut dia marah sebab sudah lancang memasuki apartemennya tanpa seijinnya.


"Hmmm,ga masalah!,kamu boleh melakukannya!.".Sontak membuatku terperangah dan mendongak menatapnya.


'Dia ga marah,apa dia sakit gegar otak?.Kenapa dia jadi baik dan lembek gini?'...Pikirku bertanya-tanya.


"Pak Khaffa sakit apa?.".Tanyaku penasaran.


"TBC...".


Aku terperanjat."Astaghfirullah,serius Pak?.".


"Ya,benar!.".Riak wajahnya serius sekali.


"Masya Allah,aku ikut prihatin Pak!.Apa obatnya sudah diminum lagi?.".Menunjuk obat diatas nakas.


"Belum.".Dia menggeleng.


"Kalo gitu ayo cepat diminum Pak!,biar cepat sembuh!.Setauku ga boleh telat minum obatnya,Pak!.".Lugu dan polosnya ku ambil obat tapi dia menahan tanganku.


"Percuma,obat itu ga ada khasiatnya dan ga ada efeknya untukku!.".Memegang tanganku dan menatap ku lembut.


"Kenapa?.".Ku tarik tangan ku.


'Apa dia lagi sekarat sekarang,sampai obat pun ga manjur lagi buat nyembuhin dia?'...Aku tertegun.


Kedua tanganku diraih dan digenggamnya."Sebab,kamulah obat yang bisa menyembuhkan sakitku.".Menatapku penuh makna dan arti.


Mataku terbelalak dan terperangah."Haaa...Mmaksud Pak Khaffa aapa?.".Ku menarik tanganku lagi dan seolah tak mengerti.


Dipikir-pikir kami seperti dua kutub berbeda saling tarik menarik.


"Anayra,sakitku bukan sakit biasa tapi karena 'Tekanan Batin Cinta',kamu paham!?.".Mesranya dia mencubit hidungku.


Kata-katanya terdengar konyol dan membuatku tertawa-tawa."Hahaha...Pak Khaffa lagi sakit tapi masih bisa becanda ya!,hahaha...".Aku meninju bahunya pelan untuk menutupi rasa gugup dan terkejutku.


"Ckkk,aku serius!.Aku pernah mengatakan ini sebelumnya kan,apa kamu ga percaya?.".Dia merengut kesal sebab tak dipercaya.


Cepat aku menggeleng."Ga!.".Jawabku singkat dan datar.


Tak mungkin aku percaya begitu saja kata-katanya.Aku tahu diri dan berkaca,aku dan dia sangat jauh berbeda.Lagi pula tak mungkin seorang CEO jatuh cinta pada gadis butik dan sederhana sepertiku.Mudahnya dia menyatakan cintanya begitu saja tanpa alasan yang jelas.Bukankah itu mustahil?...


"Huuuh...".Dia menghela nafas kasar dan menyugar rambutnya kesal.


Gusar dan putus asa terlihat jelas diwajahnya.Seolah dunia akan kiamat hari ini.Sedangkan aku diam saja dan menatapnya heran.


"Aku harus bagaimana biar kamu percaya?,apa harus terjun dari atas balkonku dulu baru kamu percaya,hah?.".Ucapnya dramatis dan menarik satu alisnya keatas.


Tentu saja aku terkesiap."Jangan Pak!,nanti aku yang jadi tersangka utamanya.Dikira polisi aku yang mendoktrin anda untuk bunuh diri!.".Elakku kesal dan berkacak pinggang.


Benar-benar konyol dan tak masuk akal menurutku.Aku menggeleng tak percaya,bagaimana bisa dia berpikir seperti itu.


"Lalu aku harus apa?,haruskah kumeminta mu langsung pada orang tuamu dulu baru kamu percaya?.".Katanya serius dan menggerakkan kakinya bersila.


'Modus,pasti cuma berani dimulut saja!'...Pikirku dan tersenyum miring.


Aku mengangguk mengiyakan."Hmh...Silahkan aja,kalau pak Khaffa berani!.".Aku menantangnya dan menatapnya sinis meremehkannya.


Aku yakin,dia takkan memiliki keberanian sebesar itu.Bagaimana mungkin bisa dia menghadapi orang tuaku jika sikapnya kaku dan dingin begitu?.


Seulas senyum terbit dibibirnya."Kalau aku berani,apa kamu akan menerima cintaku?.".Menaikkan kedua alisnya keatas dan menatapku penuh harap.


Aku bingung harus menjawab apa?.Tapi aku menggeleng pelan."Eng-gak!,tapi aku janji.Kalau Pak Khaffa berani,maka aku akan melakukan semua yang Pak Khaffa minta!.".Kataku serius dan jariku menunjukkan dua jari tanganku saat berjanji.


Kata keluar begitu saja tanpa memikirkan sebab akibatnya.'Ups!,ngomong apa barusan?'...Pikirku menepuk bibirku dan menyesali.


Selamat!!!...Aku masuk kedalam jebakanku sendiri.ltu sama saja aku menjerumuskan diri masuk kedalam lubang buaya.


'Aku sudah terlanjur janji?.Tapi sudahlah,palingan dia minta aku buat masak lagi'...Kataku dalam hati dan menggaruk-garuk kepalaku.


"Benarkah?,apapun itu?.".Memastikan jika aku takkan bohong dan aku menganggukkan kepalaku pelan.

__ADS_1


"Ok deal!.".Mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar sepertinya sangat senang.


Aku terpaksa menjabat tangannya dan menatapnya bingung dan heran.Entah apa yang dipikirannya?,seandainya aku bisa menebak isi pikirannya sekarang ini.


__ADS_2