
Riccy dimana kau?,disini tak ada yang menjagaku.Jika kau ada,mungkin peristiwa ini takkan terjadi padaku?...Alma membatin dan memandangi lalu lalang kendaraan.
Rasa rindu melandanya dan berharap bisa bertemu Riccy lagi.Tetapi entah kapan waktunya?,Alma tak bisa menduga-duga.
Masih pantaskah aku mencintainya,disaat keadaanku seperti ini?...
Diperjalanan menuju markas besar kepolisian.Didalam mobil,Alma dan Anayra duduk dikursi belakang.Khaffa menyetir mobil.
"Alma,kamu baik-baik saja?.".Dari tadi Anayra melihat Alma diam saja dan hanya menatap keluar jendela.
Dalam lamunannya Alma sadar saat Anayra menepuk lengannya.Sontak menoleh kesamping kanannya dan menatap Anayra."Hemh,aku baik.Jangan cemas!.".Menganggguk yakin.
"Kamu yakin akan melakukan ini?,gak berubah pikiran?.".Anayra memastikan jika Alma tak merubah keputusannya.
Ekor matanya langsung melirik Anayra."Kamu meragukan ku?.".Alma tersinggung niat baiknya diragukan Anayra.
"Hahaha...Tentu tidak.Aku percaya,cuma memastikan saja.".Anayra merangkul lengan Alma meredam kekesalannya.
Alma mencebik namun tak marah dan pura-pura kesal saja.Setiap yang keluar dari mulutnya tak mungkin ditarik kembali.Tak terbiasa berbohong dan tak suka bersilat lidah.Alma Tak sampai hati mempermainkan Al dan mendustainya.
Anayra sudah hafal wataknya,sengaja menggoda untuk mengalihkan perhatiannya supaya Alma tak melamun terus.
Anayra menarik tangannya keluar dari lengan Alma lalu meraih tangan Alma dan menggenggamnya."Alma,maafkan aku!.Karena aku kamu harus mengalami ini semua.".Penuh penyesalan dan merasa bersalah karena sahabatnya harus menjadi korban kebiadaban Daniel.
Bukankah seharusnya Daniel melampiaskan amarahnya padanya dan bukan Alma,menurut Anayra.Entahlah,Anayra harus senang atau sedih.Hal ini membuat pikiran dan hatinya benar-benar terkuras.
Khaffa terenyuh melihat interaksi keduanya,menarik nafas dan menghembuskan kasar mendengar kata-kata istrinya.Bingung harus bersikap apa?.Senang istrinya lolos dari ulah Daniel tetapi sedih melihat Alma menjadi korban salah sasaran Daniel.Benar-benar cukup membuat Khaffa frustasi masalah ini.
Kening Khaffa berkerut melihat keduanya dikaca spion mobilnya yang tergantung didepannya.Tetapi diam saja,tak berani bicara apa-apa.
"Lupakan itu!.Anggap ini memang garis takdirku dan jalan hidupku,harus seperti ini.Kamu jangan berkecil hati dan merasa bersalah atas peristiwa yang kualami.".Alma menenangkan hati Anayra dan tersenyum lebar.
Alma tak mau membuat orang-orang disekitarnya khawatir dan cemas jika dirinya murung dan sedih.
"Benar kata Papa Al,hatimu sangat mulia dan lapang.Benarkah kau sahabat ku?.".Anayra menggodanya dan mencolek dagu Alma.
Sifat dan watak Alma sudah Anayra kenal dengan baik.Dibalik sikap ceriwisnya,Alma baik dan peduli terhadap orang lain.
Bibir Alma tersungging keatas,mengesampingkan egonya dan perasaannya saat ini.Keselamatan istri Al atau ibu Daniel lebih penting baginya saat ini.
"Kuharap,kebaikanmu dibalas Allah dengan kebahagiaan Alma.".Khaffa menimpali disela mengemudinya.
Entahlah...Pantaskah ku dapatkan dan bisakah ku raih kebahagiaan?...Alma membatin dan menghela nafasnya.
Rasa gusar dan putus asa disembunyikan Alma dari orang-orang terdekatnya.Alma bersikap tetap tenang dan tersenyum walaupun sebenarnya terasa pahit dan getir hatinya saat ini.
"Aamiin,kuharap begitu.".Alma menanggapinya bijak dengan penuh semangat.
Siapa tahu kalimat do'a yang baik dari orang lain bisa menjadi kenyataan dan benar-benar terwujudkan.
"Kamu pasti lelah,rebahkan kepala mu.".Anayra menepuk pangkuannya menyuruh Alma rebahan.
Alma menggeleng dan alih-alih menjawab malah dipandangnya lekat wajah Anayra."Maafkan aku!.Saat terbangun dari tidur panjang ku,aku marah dan kesal pada mu.Kamu pasti terkejut?.".Teringat saat baru tersadar dan siuman.
Flashback on.
Alma geram meneriaki Anayra dan mengusirnya keluar dari ruang perawatannya.saat baru terbangun dan melihat Anayra.''Keluar dari sini.Pergilah!,aku gak sudi melihat wajah mu.Karena mu aku menderita,kamu penyebab peristiwa ini.''.Memarahi Anayra dengan posisi duduk diatas ranjangnya.
Anayra terkejut dan ketakutan.Anayra melihat Alma seperti monster,seakan bukan dirinya lagi,dan meracau bak orang terganggu jiwanya.
Orang tua Alma tak tinggal diam,keduanya menenangkan Alma.''Kendalikan dirimu nak!.Tenanglah!.''.
Alma malah menunjuk-nunjuk wajah Anayra yang berdiri didekat pintu.''Harusnya kamu yang disini,bukan aku.Harusnya kamu yang kehilangan kesucian bukan aku.Aku benci kamuuu!.Aaargh...''.Alma berteriak histeris seperti melihat sesuatu yang mengerikan.
Dalam lamunannya sesaat Alma tersadar.Mengerjapkan mata dan menggelengkan kepalanya cepat.Mengusir bayangan itu yang saat terlintas dipikirannya.
Kala itu Alma shock dan labil hingga tak berpikir jernih.Kondisinya juga belum pulih benar dan belum stabil.Alma seperti orang tak normal dan tak waras,seperti dirasuki jin sampai melemparkan setiap barang yang ada didekatnya,didepannya dan yang dilihatnya.Bantal,peralatan makan bahkan buah dalam keranjang yang didapat dari Lulla saat menjenguknya kesana.
Anayra menghela nafasnya saat mengingat peristiwa itu.Tak lupa saat-saat itu tetapi tak mau diingat lagi dan lagi,dan dibayangkan terus menerus."Sudahlah,lupakan juga.Aku memakluminya,itu wajar kamu lakukan.Bagaimana pun aku penyebab...".
Buru-buru Alma merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Anayra dengan kaki masih berselonjor dibawah seraya berkata."Ahhh,kurasa kamu benar.Sepertinya aku lelah dan masih mengantuk.Bangunkan aku saat sampai disana!.".Alma cepat-cepat menghentikan ucapan Anayra yang mulai melenceng dan membahas itu lagi.
Alma enggan membahas masalah yang bisa menguras energi,pikiran dan emosinya lagi.
Melihat tingkah Alma,Anayra mencebik."Kamu ini munafik.".Mencolek hidung Alma,sebelumnya Alma menampiknya dan menggelengkan kepalanya.
Sedangkan yang dicolek malah cengengesan dan menutup matanya.
__ADS_1
"Tidurlah!.".Anayra membelai puncak kepala Alma pelan dengan lembut dan penuh rasa sayang.
Alma dan Anayra saling menyayangi satu sama lain.Persahabatan yang terjalin lama semakin erat lagi.Walaupun banyak rintangan yang harus dilalui dan sering berselisih paham tetapi tak membuat hubungan itu putus.
Khaffa terharu melihat kedekatan dan keakraban Anayra dan Alma.Momen seperti ini menjadikannya teringat pada Riccy yang sampai sekarang belum terlacak jejaknya.Sesaat hati Khaffa merindukan Riccy dan saat-saat kebersamaan mereka.
Dimana dia sekarang?.Kenapa dia mengganti nomor kontaknya?,hingga sulit dihubungi.Riccy pasti mengganti ponselnya juga?,sampai tidak terlacak GPS nya...Khaffa bergumam dalam hatinya.
Sampai sekarang,Khaffa berusaha terus dan tak berhenti mencari keberadaan Riccy.Orang kepercayaannya yang ditugaskan untuk mencarinya terus memberikan informasi tetapi masih sama jawabannya.Ini pertama kalinya bagi Khaffa bisa gagal dalam menyelesaikan masalah dan kesulitan dalam memecahkan misteri dibalik pergi dan hilangnya Riccy.
"Persahabatanku dan Riccy memang aneh,tidak seperti Anayra dan Alma yang lembut.Maafkan aku Riccy.".Khaffa menghela nafasnya saat teringat kisah persahabatannya.
Khaffa dan Riccy menunjukkan persahabatan keduanya dengan candaan konyol dan ledekan kasar.Namun yang paling sering makan hati dan paling banyak dirugikan adalah Riccy.Sifat Khaffa keras sehingga sering memaki dan membentaknya.Sedangkan Riccy sangat sabar dan tak berani melawannya.
Sifat Riccy dan Khaffa memang beda.Riccy luar biasa sabarnya dalam menghadapi Khaffa yang kadang kasar,dingin dan acuh,egois dan keras kepala.Tetapi disamping itu,chemistry diantara keduanya sangat kuat.Saling membantu,peduli dan perhatian satu sama lain.
Dipantulan kaca mobilnya Khaffa tersenyum bahagia dan menatap istrinya."Honey,kamu pasti lelah.Pejamkan matamu,akan ku bangunkan nanti!.".Dilihat dari wajah Anayra yang tampak letih dan lelah.
Khaffa bisa merasakan jika Anayra terkuras tenaganya.Selain harus melayaninya sebagai istrinya dirumah,dan menyiapkan kebutuhannya tetapi mengurus masalah lainnya.Usai itu,Anayra langsung pergi kerumah sakit untuk merawat Alma setelah selesaikan tugasnya.
Anayra tersentuh oleh perhatiannya dan membalas tatapannya disana."Sayang,kalau aku tertidur pulas.Kamu akan kesepian dan gak ada teman bicara.".Tersenyum manis pada suami yang sangat dicintainya.
Anayra sangat bersyukur bisa menjadi istri Khaffa,walaupun terasa pedas diawal tetapi manis akhirnya.Baik Khaffa maupun Anayra tak pernah menyangka akan saling jatuh cinta dan berkencan,berjodoh dan menikah lalu tinggal bersama sebagai pasangan suami istri.
"Itu lebih baik,aku tidak bisa fokus mengemudi jika kamu mengganggu ku.".Khaffa membuat alasan supaya Anayra tertidur.
Walaupun mengajak Anayra berbincang dan sesekali meliriknya,Khaffa tetap bisa fokus mengemudi dan menatap jalanan ibukota saat menjelang sore hari.
"Baiklah,aku akan tidur sebentar?.Kamu puas?.".Memberikan senyuman lebar pada Khaffa.
Akhirnya Anayra manut dan mengalah.Jika membantahnya,Khaffa akan terus mengoceh.Anayra sudah tahu wataknya.
"Mimpikan aku!.".Khaffa mengedipkan mata kirinya dan tersenyum manis.
"Tidak ada waktu untuk itu.Aku bosan melihat wajah suamiku setiap hari.Kenapa harus melihat mu dimimpi ku juga?.".Anayra merengut kesal tetapi pura-pura.
"Tapi aku tidak bosan melihat mu.Kamu mengharapkan pria lain datang dimimpimu?.".Khaffa berasumsi sendiri dengan nada marah.
"Kurasa begitu.".Anayra terus tak berhenti mengerjai dan menggodanya.
"Aishhh,padahal setiap hari aku memimpikan mu.".Khaffa melototi Anayra yang menatapnya dikaca spion.
"Setiap hari melihat ku,apa itu tidak cukup?.Sampai saat tidur pun memimpikan ku?.".Anayra tersenyum masam tetapi dalam hati sangat senang."Sepertinya suamiku sangat mencintai ku.".
"Itu benar,karena aku sangat mencintaimu.".Khaffa mengatakannya dengan lantang.
"Aku tau.Tidak perlu mengatakannya lagi.".Anayra tersenyum puas melihat ekspresi wajah suaminya.
"Honey,kamu?.".Khaffa menjadi gemas dan geram.
Anayra tak kuasa menahan gelinya."Hahaha...Senang sekali mengerjai mu,sayang.Ekspresi wajahmu sangat menakutkan,tapi aku gemas melihat nya.".
Khaffa bernafas lega mendengarnya."Huhhh...Kupikir kamu serius.".
"Aku mencintaimu,tuan suami.".Anayra tersenyum manis dan menatap Khaffa dengan mesranya dicermin.
Senyuman perlahan terukir di bibir Khaffa."I love you more.".
Hatinya mulai tenang kembali.Anayra berhasil membuat jantung Khaffa berdegup kencang.
Dipangkuan Anayra,sejak tadi Alma mendengarkan percakapan mereka.Mengulum senyum dan menahan tawanya.
"Heiii,berhentilah bersikap manis dan romantis didepanku.Aku geli mendengarnya.Telingaku gatal tau!?.".Alma jengah dan merasa terganggu oleh kemesraan Anayra dan Khaffa.
Anayra dan Khaffa terlonjak kaget."Kupikir kamu tidur.Cepatlah menikah jika iri dan cemburu.".Anayra menepuk bokong padat Alma.
Alma tersenyum kecut dalam posisinya.Kata-kata Anayra begitu menusuk jantungnya namun Anayra tak sadar akan ucapannya dan acuh saja.
"Maaf,Alma!.".Khaffa diam dan fokus menatap lurus kedepan.
Kadang kala Khaffa dibuat bingung dan bimbang.Disisi lain Alma sahabat istrinya dan Daniel sepupunya yang berperan penting untuk kesembuhan Tante nya,Lenni.
Rasa benci dan marahnya pada Daniel mulai surut dan lenyap.Saat ini yang terpenting baginya dan dipikirkannya adalah Al dan Lenni.Khaffa sangat menyayangi keluarga besarnya baik dari sang ayah atau ibunya.
Alma dan Anayra akhirnya tertidur pulas sejenak.Selama hampir satu jam waktu tempuh perjalanan,akhirnya sampai ditujuan.
Setibanya disana dipelataran parkir mobil Khaffa membangunkan gadis dibelakangnya."Kita sampai.Honey,Alma,Bangunlah!.".
__ADS_1
Setelah mematikan mesinnya dan membuka seat beltnya,Khaffa keluar.
Tertidur lelap sesaat cukup membuat Anayra dan Alma bisa beristirahat dari segala rutinitas dan masalah yang dihadapi.Anayra dan Alma mengerjap dan membuka matanya perlahan.
Anayra menguap dan menggeliat untuk merenggangkan ototnya"Alma ayo turun!.". Anayra membuka pintu mobil dan keluar.
Alma beringsrut duduk tegak menyandarkan punggungnya sejenak dan menyusul Anayra keluar.
Disamping mobil Khaffa ada mobil Andika.Khaffa menghampiri keduanya yang sudah keluar lebih dulu keluar dan 'standby' didepan mobil.
"Ayo masuk,kurasa Pak Fakhrul sudah sampai dan menunggu didalam.".Andika mengajaknya saat Alma dan Anayra mendekat dan siap masuk.
Berjalan beriringan menuju gedung besar itu dan masuk kedalam kantor.Al dan Andika menghampiri seorang pria dikursi.Ketiganya saling berjabat tangan.Khaffa,Anayra dan Alma menunggu didekat pintu masuk.
"Siapa dia?.".Alma menunjuk Pria bertubuh cukup gemuk dan agak pendek.
Pria yang sudah duduk dikursi ruang tunggu berusia lebih muda dari Andika dan Al.
"Pengacara keluarga Papi.Dia yang mendampingi Daniel.".Anayra berbisik pelan.
"Ooohhh...".Alma hanya ber oh ria.
Diperjalanan,Andika menghubungi Fakhrul untuk segera meluncur kesana.Dalam waktu singkat Fakhrul tiba disana sebab kantornya tak jauh dari markas besar itu.
Melewati petugas Customer Service Andika dan Al menyampaikan maksudnya,kemudian menghadap atasan disana diruang Kapolres dibantu Fakhrul.Khaffa,Anayra ikut bergabung sebagai saksi dan Alma sebagai korban.Fakhrul sigap menyerahkan berkas-berkas diperlukan yang berhubungan dengan hal tersebut.
Mengikuti peraturan yang berlaku disana dan sesuai prosedur.Alma mengutarakan niatnya mencabut gugatan dan menghentikan kasusnya dengan alasan sukarela dan tanpa paksaan.Ada sesi tanya jawab dengan Alma dan Daniel ditempat yang berbeda oleh salah satu petugas disana.Pertanyaan yang berkaitan dan bersangkutan dengan kasus itu.
Alma dan Daniel menjawab pertanyaannya lancar dan jujur.Apa adanya sesuai kenyataan yang ada dan terjadi saat itu.Tanpa ditutup-tutupi,tak ada yang dirahasiakan dan tak disembunyikan sedikitpun.Cerita keduanya teralur dengan baik sesuai yang tertangkap direkaman kamera cctv.
Kecuali adegan panas yang dilakukan Daniel pada Alma dikamarnya tak ada,sebab tak dipasangi kamera kecil tersembunyi itu.Kamar pribadi Daniel adalah area privatnya dan untuk menjaga privasinya maka tak dipasangi cctv.Terkecuali kamarnya,semua area lainnya bisa terekam.
Setelah bermediasi lama dan melalui proses panjang,akhirnya pengajuan itu disetujui.Alma menandatangani surat pernyataan pembatalan kasus dan Daniel dibebaskan bersyarat dan dirumahkan.Untuk mengikuti hukum yang berlaku,Daniel harus mengikuti syarat dan peraturannya.Dilarang bepergian ke luar negeri dan keluar kota.Harus wajib lapor sesuai waktu yang ditentukan.
Daniel terkejut saat disuruh keluar dari selnya,dan lebih terkejut lagi saat melihat Alma ada disana.Satu persatu dipandangnya wajah orang-orang yang terikat darah dengannya,termasuk Anayra.Bagaimana pun kini Anayra iparnya.
"Papa...".Daniel berhambur memeluk Al.
"Anakku,akhirnya kamu memeluk Papa.".Al membalas dan merangkulnya erat.
Entah kapan terakhir kali Daniel memeluknya.Semakin beranjak dewasa Daniel semakin terasa jauh dari Al dan tak pernah memeluknya erat lagi.Saat pulang kerumah hanya menyapa dan pergi keluar hanya pamit saja.Namun Al dan Lenni tak pernah mempermasalahkan hal itu.
Andika dan Khaffa terenyuh melihat keduanya tetapi tersenyum bahagia,akhirnya usaha dan kerja kerasnya membuahkan hasil.Tanpa sadar Anayra menitikkan air matanya dan menyekanya,sedih dan terharu menyaksikan momen itu.Anayra ikut andil bagian dari masalah pelik dan rumit itu.
Alma tertunduk diam dan memalingkan wajahnya.Perasaannya campur aduk dan pikirannya tercerai berai saat ini.Perlahan Alma mundur ke belakang,selangkah demi selangkah.Saat tiba di pintu berlari cepat keluar dengan berurai air mata.
Al melepaskan pelukannya."Selamat datang,Papa senang melihat mu bebas.".Menatap sendu wajah putra kesayangannya dan menangis senang bercampur sedih.
Daniel tersenyum lebar dan berbisik lirih."Aku mau pulang Pa,ingin bertemu Mama.".Daniel menatap lekat wajah ayah yang selalu dikecewakannya dengan mata berkabut.
"Mari kita pulang!.".Al mengangguk mengiyakan.
Andika dan Khaffa menghampirinya."Alhamdulillah,Om senang kamu bebas.".Andika memegangi kedua bahu Daniel dan menatapnya dengan mata berbinar bahagia.
"Selamat menghirup udara segar.".Khaffa menyapanya dan menyunggingkan senyum tipis.
"Terima kasih dan maaf!.".Daniel mengangkat tangan kanannya kearah Khaffa.
Mengerti maksudnya,Khaffa menautkan tangan kanannya ditangan Daniel sebagai ungkapan salam pria sejati.Itu hal yang kerap dilakukan keduanya saat-saat momen tertentu dulu.Namun seiring waktu disebabkan banyak faktor,semakin jarang dilakukan dan jarang bertemu.
Diangguki kepala Khaffa."Lupakan,aku pun minta maaf.".
Saat Anayra berjalan mendekatinya."Kenalkan,ini istriku!.Abang pasti mengenal nya,bukan?.".Merangkul pinggang Anayra erat-erat.
"Aku tau,hai Anayra?.".Daniel tersenyum tipis memandang Anayra dan mengulurkan tangannya.
Ada rasa malu dan rasa bersalah dimata Daniel.Namun sikap Anayra bersahabat dan tersenyum pada Daniel.
"Jangan berjabat tangan,itu tidak perlu.".Khaffa menepis tangan Daniel saat mau menyentuh tangan Anayra.
"Cihhh...Tanganku bersih!.Lihatlah!.".Daniel menunjukkan telapak tangannya."Jangan cemas,aku tidak akan merebutnya darimu.".Meninju pelan bahu Khaffa dan terkekeh-kekeh.
Daniel paham maksud Khaffa sehingga berasumsi begitu.Namun Khaffa tak serius dan hanya bercanda.
"Milikku takkan kuberikan pada siapapun.Langkahi dulu mayatku jika ada yang berani melakukan itu.".Merangkul Anayra erat dari belakang seakan takut direbut orang lain dan takut kehilangannya.
"Hisss....".Daniel mendesis dan tersenyum smirk.
__ADS_1
Anayra kebingungan melihat interaksi kedua saudara itu.Begitukah cara komunikasi mereka?.Konyol sekali....Keningnya berkerut heran.
Andika dan Al tertawa saja menyaksikan keduanya.Namun mereka tak menyadari jika Alma sudah pergi,karena senang melihat kebebasan Daniel.