Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
126.Kesabaran berbuah manis.


__ADS_3

Tok,tok,tok.


Anayra segera berlari menuju pintu saat mendengar suara ketukan dipintu rumah orang tua nya,dan membuka pintunya.


"Selamat siang nona.Kami diutus tuan Khaffa untuk menjemput nona.".Seorang pria berwajah terkesan garang menyapa Anayra.


Anayra termenung melihat dua wajah pria asing didepannya,yang merupakan orang utusan Khaffa untuk menjemputnya.


"Apa kalian Budi dan Arya?.".Tanpa merasa curiga Anayra menyebutkan nama yang disebutkan Khaffa saat mengiriminya pesan,jika Arya dan Budi adalah orang yang akan mengawal kepulangannya.


"Benar nona.".Salah satu dari pria itu menjawab dengan tegas,berlagak acuh dan santai,tak memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan.


Bodoh nya,Anayra percaya begitu saja dan membiarkan kedua pria itu menunggunya di luar."Baiklah.Tunggu sebentar,aku berpamitan dulu pada keluarga ku.".Anayra meninggalkan dua pria yang berdiri didepan pintu menuju ruang TV yang menyatu dengan ruang tamu."Ayah,ibu.Kurasa sudah waktunya aku pergi.".Menghampiri orang tua nya yang asyik menonton acara televisi.


Ridwan yang duduk disofa melirik sekilas ke pintu,disana melihat dua pria yang tak dikenalnya."Kenapa bukan suami mu yang menjemput?.".


Jika Khaffa yang menjemput Anayra,itu lebih baik,pikir Ridwan.


"Kurasa dia sibuk,sehingga mengutus orang kemari.".Anayra melindungi nama baik suaminya di mata sang ayah.


"Yakin itu utusan suami mu?.".Ridwan memaklumi kesibukan Khaffa,tetapi perasaannya tak enak dengan kedatangan kedua pria itu.


Anayra memicingkan matanya menatap sang ayah yang meragukan itu."Ayah mencurigai anak buah suami ku?.".


"Lupakan.Baiklah,sampaikan salam kami pada semua.".Ridwan mengukir senyuman,menyingkirkan rasa ragu dan curiga nya,karena tak ingin membuat Anayra cemas.


Saat melintasi mobil yang terparkir didepan rumahnya,sepulangnya dari kampus.Andya menelesik keelokan mobil sport warna hitam,dan sekilas melihat plat nomor kendaraan itu.


"Siapa yang seenaknya parkir mobil sebagus ini didepan rumah ku?.".Saat menoleh ke teras rumah,matanya menatap dua orang pria berjas hitam yang bersiaga."Pasti mereka pemilik mobil berlogo keren ini.Harganya juga pasti sangat mahal.Aku harus memasang tarif mahal untuk biaya parkirnya.".Bicara sendiri dan mengoceh tak jelas.


Usai mengagumi mobil itu,Andya memasuki halaman rumah,dan menepikan motor nya.Saat melewati dua pria yang berdiri di teras,Andya keheranan.Kedua pria itu memasang raut wajah seram dan dingin pada Andya,tanpa berkata-kata.


Tiba didalam rumah,Andya menghampiri keluarga nya."Kakak siapa mereka?,orang-orang itu aneh dan menakutkan.".Menanyakan soal keberadaan kedua pria yang baru dilihatnya itu.


Anayra teralihkan saat berbincang dengan orang tua nya."Mereka bodyguard yang diutus kakak ipar mu,untuk menjemput ku.".Anayra menepuk dadanya dengan bangga,merasa menjadi orang penting karena baru kali ini dijemput dan dikawal bodyguard.


Namun hal itu tak membuat Andya kagum,dan bukan itu yang dipikirkannya."Yang benar saja?,tampangnya sangat antagonis.Lebih cocok menjadi mafia kejam atau pembunuh bayaran.".Firasat Andya mengatakan seperti itu.


Sialnya,Anayra tak terima dengan perkataan Adiknya dan marah."Bicara sekali lagi,sepatuku akan masuk ke dalam mulut mu.".Anayra menunjuk sepatu yang dipakainya,yang siap untuk menyumpal mulut Andya.


Ridwan yang menyaksikan perdebatan keduanya menggaruk pelipisnya diiringi helaan nafas panjang."Selain bertengkar,apa yang bisa kalian lakukan?.Seperti Tom n Jerry saja.Bukannya saling berpelukan,sebelum berpisah.".


Ridwan tak bisa bersabar lagi.Setiap hari harus melihat pertengkaran keduanya,biasanya acuh saja.Tetapi kali ini harus melerai keduanya.


"Berpelukan."Dengan tingkah nya yang pecicilan,Andya berhambur memeluk Anayra.


"Adikku yang tengil.Kamu harus menjadi orang sukses,agar bisa membahagiakan ayah dan ibu.".Anayra menepuk punggung adiknya yang ada didalam dekapan nya.


"Kenapa harus aku?.Kakak kan punya atm berjalan?.".Andya tak terima Anayra menyerahkan tanggung jawabnya pada nya,dan menunjuk wajahnya sendiri.


"Itu tugas mu sebagai anak laki-laki.Aku sudah menyelesaikan bagian ku.Ingat!,siapa yang membiayai kuliah mu sekarang?.".Anayra memainkan kedua alisnya menggoda adiknya dan tersenyum smirk.


"Itu tugas mu sebagai kakak ku.".Andya memutar balikkan keadaan,dan tersenyum menang.


Waktu yang dibuang percuma dengan perdebatan konyol Anayra dan Andya,membuat Hani gemas."Apa bodyguard mu akan dipotong gajinya jika terlambat mengantar mu pulang,kak?.".Hani asal bicara saja untuk melerai putra dan putri nya.


"Ya ampun...lbu benar,aku lupa.".Anayra merasa diingatkan dan menepuk keningnya sendiri."Suamiku orang yang sangat menghargai waktu.".Bergegas ke kamar mengambil tasnya dengan panik dan tergesa-gesa ketempat semula.


Ridwan,Hani dan Andya keluar untuk mengantar kepergian Anayra dan mengucapkan kata perpisahan.


"Hubungi kami jika sampai dirumah!.".Ridwan mengingatkan putrinya.


"Baiklah,aku pergi.Assalamu alaikum?.".Bergantian Anayra memeluk orang-orang terkasihnya.


"Waalaikum salam.".Orang tua Anayra dan adiknya menjawab salam saat Anayra melangkah pergi menuju mobil yang diparkir didepan rumah.


Salah satu pria yang menjadi utusan,membuka pintu mobil untuk Anayra,dan satu lagi berperan sebagai sopir.


"Hati-hati,kak!.".Andya mengucapkan kata perpisahan dan memasang raut wajah sedih.


Anayra tertahan saat akan masuk ke dalam mobil dan menoleh ke belakang."Sampai jumpa lagi.".Melambaikan tangan dan tersenyum manis kala menatapi wajah-wajah orang yang disayanginya satu persatu.


Tak mau membuang waktu lagi,Anayra masuk ke dalam mobil tanpa rasa ragu."Terima kasih.".Menyunggingkan senyum pada pria itu saat menutup pintu mobil,tanpa merasa curiga sedikitpun.


Setelah mengantar Anayra,Hani, Ridwan dan Andya masuk rumah kembali.


Kala teringat komentar istrinya tadi,Ridwan menjadi penasaran."Darimana ibu tau jika mereka akan dipotong gajinya?.".


"Dari buku novel yang ku baca.Kalimat itu biasanya digunakan CEO untuk mengancam pegawai nya.".Dengan penuh rasa percaya bangga Hani menjelaskan itu.


"Ouh...Ayah pikir ibu pernah mengencani CEO,seperti menantu kita.".Ridwan terkekeh saat dugaannya salah.


"Itu memang ku harapkan terjadi,jika ibu tidak bertemu dengan ayah lebih dulu.Separuh hidup ku,ku habiskan bekerja diladang,bukan dikantor.".Hani mendadak menjadi kesal menjawab pertanyaan suaminya.


"Dipikir-pikir,ayah juga tidak kalah keren dari menantu ku,saat muda dulu.".Ridwan dengan narsisnya bergaya penuh wibawa dan berkarisma,bak seorang CEO,menirukan gaya Khaffa.


"Yayaya...Jika dilihat dari atas bukit.".Hani berlalu ke dapur dan menyeringai,menertawai tingkah konyol suami nya.


Diperjalanan.


Sang sopir melajukan mobil sportnya ke arah berlawanan,menuju ke Jakarta.Anayra duduk santai dan bersandar dikursi belakang sendirian mengetik ponselnya lalu mengirim pesan singkat pada Khaffa.


Pria yang menjadi sopir saling berpandangan dan memberi isyarat dengan pria yang duduk disampingnya,yang berperan sebagai pengawal.


Ditengah perjalanan,pengawal turun.Beralih duduk di belakang bersama Anayra,agar bisa melancarkan aksinya."Nona,maaf!.Ponsel nona harus ku sita.".Mengambil paksa ponsel Android dari tangan Anayra.


Anayra mengernyit aneh dan heran,mulai merasakan kejanggalan dari gerak-gerik mereka yang mencurigakan."Kenapa?.".Menatap penuh selidik pria bermata sipit yang kini duduk disampingnya.


"Untuk menghilangkan jejak.".Mata sipit pria itu memberikan tatapan yang sulit diartikan Anayra dan menyeringai seperti iblis.

__ADS_1


Anayra tercengang mendengar pengakuan pria itu.Apalagi saat melihat seringai yang menyeramkan,menghiasi wajah garang pria itu."Maksud mu?.".Anayra terheran dan mendadak menjadi bingung dengan situasi dan kondisi yang dihadapi nya saat ini.


"Maaf nona,aku mengganggu kesenangan mu.lni tidak menyakitkan,aku hanya ingin membantu nona,agar bisa menikmati perjalanan,dengan tenang.".Pria itu beramah-tamah sebelum melancarkan aksi nya.


Tetapi konotasi katanya yang terdengar klise dan aneh,tak ayal membuat Anayra panik dan menjadi ketakutan.Menyadari jika dirinya dalam bahaya.Apalagi saat pria itu menuangkan sedikit cairan dari dalam botol ke sapu tangan.


"Siapa kalian?.Apa yang kalian inginkan dariku?,dan apa salahku.Aku tidak punya urusan dengan kalian.".Anayra berusaha menghindar dan menangkis tangan pengawal itu saat mengarahkan sapu tangan yang dipegangnya ke arah wajah nya.


"Aku utusan dari langit.".Si mata sipit menakuti Anayra dengan wajah devilnya.


"Kumohon,lepaskan aku dan biarkan aku pergi!.Jika kalian butuh uang,suamiku pasti akan memberikannya.".Anayra menghiba untuk membujuk pria itu dengan ekspresi wajah ketakutan.


Anayra berharap bisa terbebas dari cengkeraman pria itu jika di iming-imingi uang.


"Aku memang butuh uang,tapi aku akan mati jika melepaskan mu.".Pria itu berusaha membungkam mulut Anayra dengan sapu tangan.


Sialnya,tawaran menggiurkan Anayra tak mempan dan tak mampu merubah pikiran pria itu.Usahanya agar bisa bisa melarikan diri telah gagal,dan itu membuat Anayra putus asa.


"Cepatlah sedikit!.Kita tidak punya banyak waktu.".Rekan setim pria itu yang berperan mengemudikan mobil dan berkumis tebal,berteriak.


"Baiklah.".Si mata sipit menganggukkan kepalanya pada rekan kerja nya.


Anayra semakin ketakutan dan tertekan."Jangan menyakiti ku.Ampuni aku!,ku mohon!?.".Meminta pengampun agar bisa lolos dari cengkeraman pria itu


Wajah Anayra yang tampak menyedihkan,tak bisa membuat pria sipit itu untuk mengurungkan niatnya dalam melakukan tugas dari sang majikan.


Saat pria bermata sipit itu akan menempelkan sapu tangan ke wajahnya,Anayra berteriak sekerasnya."Tolooong...Aaakhhh...".Teriakan Anayra perlahan menghilang dan tubuhnya melemah saat tak sadarkan diri akibat obat bius.


Pria itu merogoh ponselnya di saku jasnya dan menelpon."Sesuai rencana,Boss.Semua berjalan dengan baik dan lancar.".Melapor pada majikannya jika tugasnya telah berhasil dilakukan.


Saat sebuah sedan berwarna putih tengah melaju dengan kecepatan sedang,sayup-sayup pria yang menjadi sopir mendengar suara teriakan yang berasal dari mobil yang berpapasan dengan mobilnya dari arah berlawanan.Karena penasaran,pria itu melirik sekilas mobil itu dan gambar kalajengking tertangkap iris matanya yang terletak di sisi kanan mobil itu.


"Sepertinya aku mendengar teriakan seorang gadis.".Pria berkaca mata itu menerka-nerka yang baru saja didengarnya,dan mengerutkan kening.


Pria itu merasakan hal yang aneh,untuk memastikan itu lalu menepuk lengan rekan nya."Apa kau mendengar seseorang berteriak minta tolong?.".Menoleh pada rekan yang duduk disampingnya.


Pria yang mengikat rambut gondrong nya melepaskan earphone yang menutupi lubang telinga nya."Mata mu bermasalah?.Aku sedang mendengarkan musik.".Menunjukan earphone yang terpasang ditelinga nya tadi.


"Otakmu yang bermasalah.Kita sedang melakukan misi penting untuk menjemput nona CEO Mars Group,bukan untuk bersantai.".Menghardik rekan kerja setimnya tanpa mengalihkan pandangannya saat menatap jalanan.


"Aaahhh,kau mengusik ketenangan ku saja.".Si rambut gondrong memerosotkan bahunya kebawah dan membuang nafas kasar.


Tak ayal pria berambut gondrong itu menghentikan keasyikannya saat mendengarkan musik dari aplikasi ponselnya.


Digedung kantor.


Khaffa duduk di kursi kerjanya mengamati satu set perhiasan berwarna perak yang indah dan berkilau yang tersemat dikotak warna hitam.


"Aku yakin,dia akan menyukai kejutan dari ku ini.".Matanya teralihkan pada notifikasi ponselnya yang berkedip sedari tadi,tanda beberapa pesan telah masuk.


Ponselnya yang diletakkan di meja diraihnya.Satu persatu dan dengan cermat membaca pesan singkat yang dikirim ke nomor pribadinya.


Kurang lebih dua jam yang lalu Khaffa baru menelpon orang-orang itu,tetapi kini sudah bersama istrinya.Waktu dan jarak tempuh dari Jakarta ke Bandung cukup jauh dan memakan waktu cukup lama


Belum lagi persiapan yang harus dilakukan istrinya dan waktu yang diperlukan saat kembali ke Jakarta.


Alasan yang itu menjadi bahan pemikiran Khaffa.Karena itu pula Khaffa menjadi panik dan cemas."Ada yang tidak beres.Sesuatu pasti telah terjadi pada Anayra.".Rasa takut menyelimuti hatinya,dan secepatnya menelpon orang suruhannya."Dimana istri ku?.".


"Kami masih dalam perjalanan ke rumah mertua Anda,tuan.Sebentar lagi kami tiba disana.".


Tanpa mendengarkan penjelasan lain lagi,Khaffa menutup panggilan dan menekan nomor kontak Anayra.Namun nihil,ponsel Anayra tidak aktif.Khaffa semakin putus asa,tetapi tiba-tiba terlintas untuk menelpon mertuanya."Assalamu alaikum.Maaf Ayah,Anayra masih disana?.".


"Tidak.30 menit yang lalu dijemput oleh orang yang kakak kirim kemari.".


"Apa?.Tidak mungkin.".Khaffa terkejut dan menggeleng tak percaya.


Tangannya mendadak terasa lemah dan terkulai kebawah,hingga tak menghiraukan suara seruan ayah mertuanya di ponselnya.


"Siapa yang berani menusuk ku dari belakang,dan membawa istri ku pergi?.".Menjadi bertanya-tanya akan kepergian Anayra.


Untuk mencari tahu siapa sosok yang membawa Anayra pergi,Khaffa menelpon salah satu orang yang dipercaya untuk menjemput Anayra.


"Seseorang telah menculik istri ku.Kalian terlambat,cepat putar balik dan cari mobil yang membawa istri ku pergi.".Menghardik keras dengan hati dipenuhi rasa amarah.


Dimobil sedan putih.Budi yang meloudspeakerkan ponselnya saat Khaffa menelpon,terkejut dan saling bersitatap dengan Arya.


Arya yang mengemudi langsung putar balik,dan mencari mobil yang ditumpangi Anayra."Seseorang telah berani bermain di belakang Big Boss.".Terlintas itu dipikirannya.


"Bagaimana kita mencarinya?.Melihatnya saja tidak pernah.".Budi kebingungan akan permintaan Khaffa.


Arya yang menjadi sopir,teringat akan sesuatu yang berhubungan dengan hal itu."Kurasa mobil bergambar kalajengking itu.Aku yakin,tadi mendengar teriakan seorang wanita,dan itu pasti istri Big Boss.".


Melihat Arya yang tampak meyakinkan,tak ayal membuat Budi percaya."Tunggu apalagi?,cepat kejar dan hajar mereka jika kita berhasil menangkapnya!.".Penuh semangat yang menggebu-gebu mengintruksi Arya.


Arya menginjak pedal gas mobil dengan kecepatan cukup tinggi.


"Kita akan kehilangan jejak jika cara mengemudi mu seperti ini."..Budi berteriak karena Arya mengemudikan mobil nya kurang cepat,menurutnya


Dengan kecepatan penuh Arya melajukan mobil,mengikuti instruksi Budi.


"Aaakhhh...Kita akan cepat mati jika secepat ini.".Budi histeris dan berteriak ketakutan,hingga memejamkan mata dan memegangi kursi.


"Bisakah kau diam?.Aku sedang konsentrasi.Lebih baik amati mobil sport hitam bergambar kalajengking.".Arya kesal dengan ocehan Budi yang mengganggu konsentrasinya saat beraksi dijalanan.


"Bagaimana aku bisa melihatnya?.Bukankah kau tadi melihat gambar itu disisi kanan mobilnya?.".Budi mengingatkan Arya jika ciri khas mobil yang dilihatnya dari arah berlawanan,dan secara otomatis gambar itu terletak ada disisi kanan.


"Baiklah,aku akan berkendara di sisi kanan.pegangan yang kuat!.".Arya melaju cepat seperti pembalap profesional saat membelah jalanan yang cukup ramai dengan kendaraan.


Arya menikung setiap kendaraan yang ada dilaluinya di depan tanpa rasa ragu dan takut,menirukan aktor yang ditonton nya difilm aksi favoritnya.

__ADS_1


"Aku masih ingin hiduuup.".Sekerasnya Budi berteriak ketakutan hingga memiringkan tubuhnya dan berpegangan pada pintu mobil.


Arya tak memperdulikan Budi yang histeris ketakutan dan terus melakukan pengejaran.Misinya saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa istri sang Big Boss.


_________


Di villa.


Alma mencuci peralatan makan bekas makannya karena bosan tak melakukan apapun.Tetapi tiba-tiba saja gelas yang dipegang nya tergelincir ke bawah dan pecah.


Alma memandangi pecahan gelas dilantai."Ada apa ini?.Kenapa aku ceroboh sekali?.".Berjongkok dan memunguti pecahan gelas itu."Akhhh..."Meringis saat jarinya tergores pecahan yang tajam,dan mengamati jarinya yang terluka.


Diruang tengah,Daniel tak sengaja mendengar teriakan Alma dan secepatnya berlari menghampiri Alma saat akan pergi ke luar.


Saat melihat tangan Alma terluka dan mengeluarkan darah,Daniel terkesiap."Jangan menyentuhnya lagi!.Biar aku yang membersihkan itu.".Berjongkok disamping Alma dan memperhatikan tangan Alma yang terluka.


Tanpa pikir panjang,diraih Daniel tangan Alma dan tanpa merasa jijik,dihisapnya jari telunjuk Alma yang terluka dan berdarah itu.Alma terenyuh dengan perhatian Daniel,dan menatapnya intens.


"Ikuti aku!.".Daniel menuntun Alma ke kamar dan menyuruhnya duduk di tempat tidur.


Mengambil kotak P3K di di laci meja,dan mengambil plester lalu ditempelkan di jari manis Alma,penuh rasa sayang.Tanpa berucap sepatah kata,Alma diam-diam memandangi wajah Daniel yang duduk bersimpuh dihadapan nya.


Menyadari jika Alma mencuri pandang pada nya,Daniel balas menatap Alma."Biarkan Bu Dewi yang mengerjakan tugas rumah.Jika butuh sesuatu,bisa memintanya pada ku.".


"Kenapa kamu selalu baik pada ku?.".Sikap Daniel yang selalu mengalah dan memberinya perhatian membingungkan Alma.


"Haruskah ku jawab itu?.".Daniel balik bertanya,merasa itu tidak perlu untuk dijawab karena sudah jelas alasannya.


"Baiklah.Aku pergi saja.".Alma beranjak berdiri merasa tersinggung dan tak ditanggapi serius oleh Daniel.


"Heiii,kenapa jadi semarah ini?.".Daniel mencegah Alma pergi dengan mencekal tangan Alma dan menyuruhnya duduk kembali."Kamu istri ku,sudah sepantasnya ku perlakukan baik dan memberikan mu perhatian.Apa aku salah?.".


"Istri yang tidak pernah kamu cintai?.".Alma menyilangkan kedua tangannya dan menarik sudut bibir kirinya keatas


"Tentu tidak.".Daniel panik,dan menutup mulutnya dengan tangan nya,karena salah berucap kata.


Tetapi terlambat,jawaban Daniel terlanjur didengar Alma dan mengejutkannya."Aku mengerti sekarang.".


"Maksudku,tentu tidak benar!.Kamu salah Alma.Aku....Mencintai mu.".Daniel memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.


Sayangnya,ungkapan Daniel tak membuat Alma terkejut,apalagi senang."Sepertinya kamu ragu-ragu mengatakan nya.".Mencebikkan bibirnya,mencibir Daniel dan menatapnya sinis.


Sakit rasanya hati Daniel.Tetapi rasa sakitnya diabaikan.


Tangan halus Alma digenggamnya dan dan dikecupnya lembut."Alma.Entah sejak kapan rasa cinta ini hadir dihati ku.Meskipun kamu tidak menganggap ku ada dan sering mengabaikan ku.Tapi aku yakin,rasa cinta ini nyata ku rasakan,saat menatap mu dan saat ada didekat mu.".Iris mata syahdunya menatap netra Alma.


"Omong kosong.Persetan dengan cinta mu.Aku yakin,kamu hanya ingin menggoda ku saja dan ingin membuat hati ku goyah.Setelah berhasil meluluhkan hatiku,kamu pasti akan menertawakan ku.".Hal itu menghantui pikirannya.


Perkataan Alma yang menohok,mengundang rasa kecewa dan rasa amarah dihati Daniel."Alma,hentikan spekulasi buruk mu tentang aku!.Jika seperti ini terus,sebaiknya...".


Secepatnya Alma memotong perkataan Daniel."Baik,mari kita berpisah.".Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa ragu membuat keputusan sepihak.


Keseriusan diwajah Alma dan kata-kata tegasnya begitu mengejutkan Daniel"Apa maksud mu?.".Daniel mengkerutkan kening nya dan menatap aneh Alma,tak mengerti jalan pikiran Alma yang tiba-tiba mengajaknya berpisah.


"Jangan naif.Aku tau isi hati mu dan keinginan mu sekarang.".Itu terlintas begitu saja dibenak Alma,jika Daniel ingin berpisah.


Hati Alma yang masih diselimuti kabut keraguan dan kebencian pada Daniel,terus menerus mengintimidasi Daniel.


Daniel tak bergeming,dan terperanjat berdiri."Alma...".


Betapa marahnya Daniel pada Alma hingga memanggil nama Alma dengan lantang.


"Aku sudah berusaha bersabar dan bertahan untuk tidak melakukan hal-hal yang ingin kulakukan sejak kita menikah.Tapi kali ini,aku tidak bisa menahan diri lagi.".Tanpa ba-bi-bu lagi Daniel membaringkan tubuh Alma dan memegang kedua tangan Alma.


Penuh hasrat yang membara Daniel menciumi seluruh wajah dan leher Alma dengan paksa.Rasa yang ditahannya selama ini tak bisa dikendalikan lagi dan telah melewati batas kemampuannya.


"Ku mohon,jangan lakukan ini!.Jangan sakiti aku!.".Disela isak tangisnya Alma memelas dan memohon dibawah kungkungan Daniel.


Daniel tak menghiraukan Alma yang mengiba,dengan brutalnya ******* bibir Alma,dan tangannya berjelajah di tubuh sintal Alma.


"Hikkks..."Air mata Alma semakin mengalir deras dan menangis tersedu hingga tubuhnya bergetar saat hatinya merasa terguncang.


Rasa trauma saat mengingat peristiwa diperkosa Daniel merasuki hati dan pikiran nya.


Daniel tersadar dan menghentikan ciuman nya."Maaf!.Maafkan aku!.".Melepaskan diri Alma dan terduduk di tempat tidur,disamping Alma yang terbaring dalam kondisi terlihat menyedihkan.


Alma terdiam dan hanya menangis disisi Daniel.Tak mampu berkata-kata usai mengalami hal yang bertentangan dengan keinginannya.


"Bicaralah!,Alma?.".Daniel tak bisa melihatnya seperti ini terus.


"Kenapa kejadian ini harus terulang lagi?.Hikkks...".Alma berkata lirih dan tersedu-sedu.


"Salahkah aku meminta hak ku?.".Intesnya Daniel memandangi Alma.


"Baik.Lakukanlah keinginan mu!.".Alma melunak dan bersikap pasrah.


Intonasi nada Alma seperti terpaksa mengatakan nya,begitu menusuk hati Daniel."Tidak.".Daniel menggeleng lemah.".Aku tidak bisa melakukan itu jika hati mu menolaknya.".


Saat Daniel akan beranjak dari tempat tidur,Alma segera menarik tangan Daniel dan mengunci tubuh Daniel dengan cara memeluknya.


Mata Daniel terbelalak saat Alma menci*mnya dan ******* bibir nya.Tak disangka-sangka tangan Alma melepaskan kancing kemejanya satu persatu,dan membukanya hingga terlepas dari tubuhnya.Mendapat perlakuan seperti itu Daniel bingung.Diam membisu dan hanya menerima saja saat Alma memberinya ciuman manis dan lembut.


Alma melingkarkan tangannnya dileher Daniel dan menarik tubuh Daniel bersamaan saat membaringkan tubuhnya sendiri ditempat tidur,tanpa melepaskan pagut*nnya dibibir Daniel.


"Alma?.".Daniel menggumamkan nama Alma dan menatap sendu Alma saat merasakan sesuatu menjalari seluruh tubuhnya.


Melihat tatapan Daniel yang sangat berh*srat,Alma tak bisa menghindar lagi.


Ditatapnya lembut manik hitam Daniel tajam dan meneduhkan hatinya."Lakukanlah!.".Mencoba berdamai dengan dirinya sendiri dan diri Daniel.

__ADS_1


Alma berusaha membuka pintu hatinya saat ini,yang tertutup rapat dan terkunci dengan kuatnya,untuk menerima Daniel yang kini berstatus sebagai suaminya.


__ADS_2