Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
113.Menghirup udara yang sama.


__ADS_3

Tepat jam 12:00 saat waktu istirahat tiba.Khaira melesat dengan cepat menggunakan mobil nya,pergi meninggalkan gedung kantor Mars Group ke gedung lainnya.Tak sabar Khaira ingin menemui pria pemilik hatinya.


Lefrand berdiri dengan tegak menunggu kedatangan Khaira didepan pintu masuk gedung kantor arsitek nya.Saat Khaira datang dan tiba diparkiran,bibir Lefrand melengkung keatas.


Khaira tersenyum manis saat melihat sosok pria yang dicintainya,dan menatap syahdu seraut wajah tampan pria yang berhasil membuat hatinya selalu bahagia."Hai kak?.Kurasa kakak sangat merindukan ku,sampai menuggu disini.".Berbasa-basi saat menghampiri Lefrand.


Tangan Lefrand refleks terulur menggenggam tangan Khaira."Rasa itu sangat menyiksaku.Kenapa baru menemui ku?.Sepertinya aku tersingkirkan,pekerjaanmu lebih penting dibandingkan aku.".Meluapkan kekesalannya karena Khaira tak meluangkan waktu untuknya.


Khaira terlalu sibuk mengurusi pekerjaan,hingga tak ada waktu untuk Lefrand.Jangankan untuk bisa berdekatan,menemuinya saja tidak.Jangankan untuk mengobrol,menelponnya saja tidak.Itu membuat Lefrand kesal dan marah.Khaira lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya,dan tak menghabiskan waktunya bersamanya.Baik sehari atau pun se-jam.


Khaira yang mendengarkan keluh kesah Lefrand menjadi sedih,tetapi hati kecilnya senang,dan ingin sekali tertawa terbahak-bahak."Kakak marah?.".Menatap Lefrand tanpa berkedip dan tersenyum samar.


Khaira senang,Lefrand bersikap posesif dan tak tahu malu menunjukkan rasa cemburunya.Terdengar jelas dari kata-kata Lefrand yang cemburu.Itu artinya,Lefrand begitu mencintainya.Dirinya sangat berarti dihati Lefrand,dan penting bagi Lefrand.


"Yang benar saja,jika aku sampai tidak marah.".Lefrand memasang raut wajah garang."Aku cemburu,bukan marah.".Membuang muka kesamping dan merengut kesal.


Khaira semakin ingin tertawa,tetapi ditahannya."Aku disini sekarang.Ayolah!,kakak tidak pantas merengut seperti itu.Kakak tidak mau menatap ku?.".Merajuk untuk merayu Lefrand."Aku diabaikan dan didiamkan?.Kakak benar-benar marah?.".Terus bertanya untuk mengambil hati Lefrand yang tak mau bicara dan menghela nafas berat."Sepertinya sia-sia datang kemari.Kekasih yang sangat ku cintai tidak menghiraukan ku.Sepertinya dia membenciku.".Memasang raut wajah sedih untuk mencari perhatian dan simpati Lefrand.Namun Lefrand bergeming dan diam membisu."Hahhh....Kurasa sebaiknya aku pergi.Kekasihku tidak mau bicara pada ku.".Menarik tangannya yang digenggam Lefrand.


Saat tangan Khaira akan terlepas,Lefrand segera menariknya kembali dan mengunci tubuh Khaira di dalam dekapannya."Maaf,maafkan aku.Aku terlalu merindukan mu.Tetaplah disini,jangan pergi!.".Berbisik ditelinga Khaira dan menghirup aroma wangi tubuh Khaira yang dipeluknya erat.


"Aku juga.Kakak membuat ku ingin tertawa,tetapi sekaligus membuat ku hampir menangis.Kakak jahat."Khaira memukuli punggung Lefrand."Aku tidak suka dipermainkan,ingin marah jika didiamkan dan benci jika diabaikan.".Air matanya luruh seketika,membasahi pipinya dalam dekapan hangat Lefrand.


"Maaf!.".Hanya kata itu yang bisa Lefrand ucapkan dengan lirih dan mengeratkan pelukannya.


Perlahan Khaira melepaskan diri dari pelukan Lefrand."Pantaskah ku maafkan?.".Menatap Lefrand dengan mata masih berkaca-kaca.


"Harus!".Lefrand mengusap pipi Khaira yang basah dengan telapak tangannya.


"Alasannya?.".Khaira menatap mesra wajah pria terkasihnya.


"karena kamu kekasih ku,dan satu-satunya gadis yang ku cintai sepenuh hati ku,saat ini.".Dengan lembut Lefrand membelai pipi Khaira.


"Benarkah?.".Khaira menatap Lefrand dengan mata berbinar bahagia.


"Kamu bisa melihat ku dari mata ku.Dari cara ku menatap mu,dan bisa merasakan dari cara ku memeluk mu.".Penuh rasa cinta dan kasih sayang,Lefrand menatap lekat gadis yang berhasil mencuri hatinya,dengan segenap jiwa mencium kening Khaira.


Khaira terpejam saat merasakan keningnya disentuh bibir Lefrand.Ingin rasanya berteriak bahagia dan bersorak senang.Namun tak bisa,demi menjaga image dan harga dirinya.


"Aku tersanjung.".Khaira menatap sendu Lefrand yang menatapnya lekat-lekat."Kakak sangat puitis dan romantis.".Senyum-senyum mendengar kata-kata mutiara Lefrand.


"Aku bukan penyair dan bukan seorang pujangga.Pria biasa yang jatuh cinta pada gadis muda yang cantik dan pintar.".Perlahan Lefrand mengelus rambut Khaira yang halus dan panjang.


"Kurasa,kakak tidak setua itu.Kita hanya terpaut 5 tahun saja.".pelan sekali Khaira memukul dada bidang Lefrand.


"Kupikir juga begitu.Itu sebabnya kamu memanggil ku 'kakak',bukan Om.".Lefrand mengedipkan matanya dengan genit menggoda Khaira.


Lefrand dan Khaira tertawa renyah bersama,menertawakan kekonyolan sikap mereka barusan.Masuk kedalam,menuju kantor Lefrand dengan saling berangkulan.


Langit diwarnai lembayung senja yang begitu indahnya,hingga bisa menghipnotis mata yang melihatnya.Hari menjelang sore,saat Anayra menjemput Alma ke butik untuk menepati janjinya.Tetapi,sebelum itu Anayra kekantor Khaffa untuk menemuinya sebentar.


Khaffa duduk didepan tepian meja kerjanya,berdecak kagum dan terpesona.Dengan intens memperhatikan penampilan Anayra yang elegan dan cantik.Tetapi menurutnya,itu sangat berlebihan.Gaun semi formal yang melekat ditubuh Anayra,berwarna merah dengan panjang selutut malah akan menjadi pusat perhatian pria lain.


"Haruskah secantik ini untuk menonton di bioskop?.Kamu berlebihan honey,itu akan mengundang tatapan mata pria lain.Aku tidak suka.".Khaffa menggeleng tak suka dengan gaya pakaian Anayra yang berdiri dihadapannya.


Khaffa tak mau Anayra menjadi pusat perhatian pria lain,terutama para pria yang bermata keranjang dan hidung belang.Anayra harus tampil memukau hanya untuknya saja,dan didepannya saja.

__ADS_1


Sebenarnya asumsi Khaffa benar adanya dan Anayra tak memungkiri itu.Tak menutup kemungkinan jika itu bisa saja terjadi.Tetapi terdengar konyol ditelinga Anayra.Bukan tanpa sebab dan tanpa alasan yang jelas,Anayra berpenampilan seperti itu.Bukan maksud ingin tampil cantik untuk mendapat pujian,dan bukan tujuannya untuk mencari perhatian orang lain.


Dengan manja Anayra memeluk Khaffa."Aku istri mu,sudah sepantasnya menjaga image mu sebagai seorang CEO.Harusnya senang melihat istri berpenampilan menarik,bukannya mengomentari ku.".Merajuk untuk mengambil hati Khaffa,dan mengelus punggung Khaffa untuk menenangkan hati Khaffa."Aku tidak mau nama baik suamiku tercemar,dan dikatai orang-orang,jika aku sampai mempermalukan mu.".Membelai dada bidang Khaffa yang dibalut kemeja warna hitam dengan lembut,hingga membuat Khaffa menarik nafas dalam-dalam dan menghela nafas panjang.


Sebagai istri dari suami yang menjabat CEO,Anayra berpikir untuk menjaga penampilannya demi menjaga nama baik Khaffa.Tak mau mempermalukan suaminya dari orang-orang yang sudah mengetahui status mereka,dan takut mendengar orang-orang yang mencemooh Khaffa.Jika Khaffa tak bisa membahagiakan istrinya dan tak bisa memfasilitasinya dengan barang mewah,maka Khaffa yang akan mendapat hujatan.Secara,Khaffa pengusaha dan CEO yang kaya raya.


Sulit Anayra bayangkan jika sampai terlihat biasa saja dan sederhana.Meskipun tak terbiasa dengan itu semua dan merasa risih.Sebagian orang pasti menilainya buruk,ingin pamer dan sombong.Tetapi,demi Khaffa,hatinya tergerak untuk melakukan itu.Namun,siapa sangka jika Khaffa tak suka dan tak menerima akan niat baiknya.


Nada bicara Anayra yang terdengar manja,berhasil membuat Khaffa luluh dan melunak hatinya.Terdiam saat mendengar dan mencerna kata-kata Anayra.Kata-kata yang terdengar logis dan masuk akal ditelinganya.Mulai memahami dan menerima alasan yang dikatakan Anayra.Walaupun tak suka Anayra dipandang pria lain.Khaffa saja hatinya terasa meleleh saat melihat penampilan Anayra,apalagi orang lain.


Dengan penuh rasa cinta dan sayang,Khaffa balas memeluk Anayra erat-erat dan mengecup puncak kepala Anayra."Sejak kapan kamu seagresif ini?.".Menatap Anayra istrinya dengan tatapan aneh,karena tak biasanya Anayra beraksi lebih dulu.


Khaffa mengalihkan pembicaraan,bukannya menjawab pertanyaan Anayra.Khaffa benci dan takut membuat Anayra sedih dan murung.Menyakitkan bagi Khaffa,jika sampai melihatnya seperti itu.Tetapi anehnya,Khaffa senang melihat ekspresi wajah Anayra saat marah-marah.


Sebenarnya Khaffa sendiri merasa heran dengan jalan pikirannya sendiri.Disisi lain ingin membuat Anayra selalu tersenyum bahagia.Tetapi disisi lain,suka melihat Anayra merengek dan merengut kesal.Kadangkala,Khaffa menjadi pusing sendiri saat memikirkan hal itu.


Anayra menanggapinya lain,menurutnya Khaffa tak suka saat dirinya berusaha bersikap romantis dan agresif."Tidak suka,aku melakukan ini?.".Menatap wajah suaminya yang ketampanannya semakin menawan dan mempesona,dengan tatapan heran.


Ketampanan Khaffa semakin terpancar dan auranya semakin bersinar dimata Anayra,semakin membuat Anayra cinta dan sayang.Dimata Khaffa pun sama,penampilan Anayra semakin menarik dan bisa mengimbanginya.Semenjak menikah dengannya,Anayra selalu menjaga penampilan,selalu membuatnya terpana dan terhipnotis.Meskipun terkadang egois dan keras kepala,ingin menikmati sendiri saat Anayra berpenampilan sangat memukau.


Khaffa tersenyum samar,melihat bibir Anayra yang meruncing."Aku suka,tapi ini dikantor.Jangan menggoda ku dan memancing hasrat ku!.Kamu tau betul?,aku tidak bisa menahan diri saat didekatmu.Terkecuali jika kamu tak memancing ku.".Mencium kening Anayra dengan lembut,untuk sedikit melampiaskan rasa panas yang menjalari tubuhnya.


Bukan tanpa sebab juga,Khaffa mengatakan itu.Sejak tadi berusaha keras menahan hasratnya yang terus dipancing Anayra.Apalagi saat merasakan kehangatan tubuh Anayra yang dalam dekapannya.Gerakan sekecil apapun dari Anayra,tak ayal berhasil membuat junior Khaffa tergerak untuk bangkit.


Sebelum menikah,Anayra berhasil membuat jantungnya berdebar kencang dan hasratnya bergejolak.Sesudah menikah,Anayra semakin membuat Khaffa ketagihan dan terus membuatnya menuntut untuk meminta haknya.


Tak pernah merasa bosan untuk menyalurkan hasratnya,dan tak pernah lelah untuk melakukan itu lagi dan lagi.Bahkan tak memberi Anayra kesempatan untuk beristirahat saat melakukan itu ditengah malam.Meskipun Anayra sudah tampak kewalahan dan kelelahan.


Namun tak setiap hari,Khaffa melakukannya.Jika Anayra merespon dan suasana hati Anayra sedang baik saja.Jika Khaffa sedang egois dan keras kepala,kadang-kadang suka memaksa.Saat hasratnya sudah membuncah dan sudah di ubun-ubun kepalanya.Saat keinginannya tak bisa ditahan dan dibendung lagi.


Tetapi terkadang,Anayra dibuat pusing dengan jalan pikiran Khaffa,dan bingung menghadapi sikap Khaffa.Entah apa yang sebenarnya keinginan suaminya itu.Jika saja bisa menebak isi hati dan pikiran Khaffa,Anayra takkan kesulitan dan tak Menduga-duga.


"Sayang,hari ini kita pulang bersama?.".Anayra masih betah berlama-lama di dekapan hangat Khaffa.


Secara tak langsung Anayra memastikan Khaffa untuk tak bekerja lembur hingga malam,hari ini.Demi melancarkan rencana yang telah dibuat dirumah.Namun,Anayra tak mau mengundang kecurigaan Khaffa.Maka dari itu,membuat alasan yang aman.


"Baiklah,aku akan menunggu mu.".Khaffa mengabulkan permintaannya dan tak menaruh rasa curiga sama sekali.


Anayra melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang Khaffa,dan melirik jam tangannya.Saat melihat waktu,Anayra menjadi teringat akan janjinya."Kurasa sudah saatnya aku pergi.Alma pasti menunggu ku.".


"Tidak memberi ku hadiah?.".Khaffa mengingatkan saat Anayra akan pergi.


Anayra mengerti dengan isyarat yang dikatakan Khaffa,meskipun tak menunjukkannya dengan jelas."Disini ada Khaira?.".Celingukan mencari-cari adik iparnya.


"Untuk apa mencarinya?.".Khaffa menjadi bingung dan heran.


"Untuk ini.".Anayra spontan merangkul leher Khaffa dan menci*m bibirnya.


Khaffa tak tinggal diam dan tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.Dengan lembutnya membalas lum*tan bibir Anayra yang manis dan kenyal.Diruangan yang sepi dan kedap suara dua insan yang sedang dimabuk cinta,dengan hangatnya saling melepas rasa rindu.Suara des*han kecil mengiringi kemesraan mereka.


Setiap hari bertemu,tinggal dirumah dan atap yang sama.Tidur diatas tempat tidur dan di kamar yang sama,tak cukup bagi Khaffa dan Anayra untuk memadu kasih.Rasa saling merindukan selalu menyerang keduanya setiap saat dan setiap waktu.


Anayra segera melepaskan diri saat aksi Khaffa berubah liar,hingga meremas payud*ra dan membelai punggungnya.Jika seperti itu,hancurlah sudah semua rencananya menonton film di bioskop bersama Alma.


"Kurasa ini cukup.".Anayra menyeka bibir Khaffa yang ternodai lipstik warna Nude'nya."Aku akan terlambat jika berlama-lama berdua dengan mu.Kemungkinan buruknya,mengingkari janji dan membatalkan rencana ku bersama Alma.Hingga ujungnya-ujungnya,berakhir di tempat tidur.".Berpikir seperti itu karena sudah sering terjadi,namun di situasi dan kondisi yang berbeda.

__ADS_1


Khaffa tersenyum lebar mendengar penuturan Anayra."Kurasa kamu semakin mengenalku dengan baik,honey.Tapi aneh,lebih memilih pergi dengan Alma daripada tetap bersama ku disini.".Menatap Anayra dengan pandangan hasrat yang mulai menggebu-gebu dan sialnya,khaffa tak bisa menyalurkannya.


Khaffa iri dan cemburu.Merasa dikesampingkan dan dinomor duakan oleh Anayra.Sebagai suami,Khaffa ingin selalu menjadi yang nomor satu dihati Anayra dan diutamakan kepentingan lebih dulu,dari yang lainnya.


Anayra bisa melihat itu dimatanya,tetapi pikirannya saat ini fokus pada Alma."Heiii...Berhentilah berasumsi berlebihan.Aku tidak setiap hari jalan bersama Alma.".Mulai kesal karena Khaffa selalu bersikap egois."Dia sahabatku,untuk apa dicemburui?.".Menekankan hal itu dengan tegas.


Hati Khaffa tak memungkiri itu,dan mengakuinya."Aku tidak iri dan tidak cemburu,hanya protes saja.".Tetapi mulutnya menepisnya dan berdusta,tak ingin Anayra mencibir dan meledeki."Baiklah,maafkan aku!.Pergilah!,sebelum aku merajuk dan menahanmu lebih lama lagi disini.".Tak tega mendengar Anayra merajuk terus,dan tak sampai hati melihat bibir Anayra merengut terus.


Selain itu,Khaffa mencoba mengalah dan membiarkan Anayra pergi.Walaupun berat hati Rasanya.Tetapi,rasa cintanya yang besar pada Anayra berhasil mengalahkan egonya.


Saat Anayra akan pergi,Khaffa berubah pikiran dan menggandeng tangan Anayra menuju keluar dari ruangannya."Aku akan mengantar mu.".


Anayra mengikuti langkahnya hingga masuk kedalam lift khusus CEO.Dengan setianya Khaffa mengantar Anayra hingga ke lantai satu Mall.


"Sampai disini saja.".Anayra tak mau Khaffa mengantar hingga ke butik.


Tak mau mengundang perhatian banyak orang disana.Terutama para pegawai yang bekerja di Mall.


"Aku tau.Tidak perlu mengingatkan lagi.".Khaffa perlahan melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Anayra.


"Sampai nanti!.".Anayra menghadiahi Khaffa senyuman yang manis,dan berbalik ke depan meninggalkan Khaffa didepan lift.


Tanpa diduga,dari arah belakang diarea toilet.Seorang gadis hendak kembali ke gerainya,namun langkahnya tertahan saat melihat kemesraan Anayra dan Khaffa."Apa yang gadis butik itu lakukan disini?.Kenapa bisa bersama Pak Khaffa?.".Gadis itu terkejut-kejut memandangi Anayra dan Khaffa yang terlihat intim dan mesra,apalagi saat melihat penampilan Anayra yang elegan dan cantik.


Usai Anayra dan Khaffa pergi ke arah yang berlawanan.Gadis itu berjalan menuju gerainya."Gadis butik itu gak pernah kapok dan jera.Gue harus melakukan sesuatu pada nya.".Dengan wajah geram dan nada bicaranya penuh amarah.


Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.Menahan rasa dihatinya yang memanas dan mendidih saat melihat Anayra bisa sedekat itu dengan Khaffa.Itu sangat menyakitkan dan membuat hatinya terbakar api cemburu.Didera rasa Iri karena tersaingi Anayra yang belum lama bekerja diMall,tetapi bisa berdekatan dengan Khaffa.Masa kerjanya yang lebih lama dari Anayra dan lebih dulu menjadi pegawai di Mall,tetapi Khaffa tak pernah sekalipun meliriknya,apalagi berbincang-bincang dengannya.


Niat hati ingin memiliki Khaffa,tetapi tak pernah kesampaian.Diam-diam gadis itu selama ini mengagumi dan menyukai Khaffa.Namun tak bisa mendekati Khaffa dan tak mampu menjangkau hati Khaffa.Sikap Khaffa yang dingin dan acuh sulit dijangkau dan didekati.Bahkan selalu memasang ekspresi wajah dingin dan datar.Tak pernah tersenyum,apalagi menyapa.


Riccy bernafas lega akhirnya tiba ditujuan dengan lancar dan selamat,usai menempuh perjalanan berjam-jam.Riccy menepikan mobilnya di basement,tergesa-gesa keluar dari mobilnya.


Didepan mobil,Riccy berdiri dan menarik nafasnya dalam-dalam.Perlahan menghela nafasnya dan memandangi situasi di sekitarnya."Akhirnya,aku bisa menghirup udara yang sama lagi dengan Alma.Semua masih tampak sama,seperti sebelumnya.".Tak ada yang berubah sama sekali dimata Riccy.


Sebelumnya dan sekarang,tempat itu masih sama saat ditinggalkan Riccy,hampir satu bulan yang lalu.Dengan jantung berdebar-debar karena gugup,Riccy menekan tombol keatas saat berdiri didepan pintu lift.


"Aku gugup sekali.Pertanda apa ini?.Kuharap tidak ada yang harus ku cemaskan.".Riccy menyentuh dadanya yang terasa berdetak keras dan cepat denyut jantungnya.


Saat pintu lift terbuka,Riccy masuk dan menekan tombol bernomor 2.Tibalah Riccy ditempat tujuannya.


Berdiri didepan pintu ruangan yang selalu tertutup rapat dan membuang nafas kasar."Huhhh...Sangat menegangkan.Apa dia akan terkejut saat melihat ku?,akan menangis,memeluk atau mencaci maki ku?.".Menduga-duga sendiri yang belum terjadi nantinya saat akan berhadapan dengan orang yang selalu membuatnya jantungan."Ku harap dia tidak menamparku."Memegang pipinya sendiri dan membayangkan rasa sakit dan panas saat mendapat tamparan keras tangan kuat pemilik ruangan itu.


Perlahan tangan Riccy terangkat maju ke depan untuk mengetuk pintu.


Tok,tok.


Ketukan kesatu tak ada sahutan dari dalam.Kedua kalinya masih tetap sama.Saat Riccy menghitung dalam hati,di hitungan ketiga memutuskan untuk membuka sendiri pintunya.Pada saat tangannya memegang gagang pintu.


"Siapa kau?.".Suara bariton seorang pria yang sangat dikenal Riccy menyapa dan berdiri dari kejauhan.


Riccy menoleh ke samping kirinya dan tersenyum manis pada pria yang lama tak dijumpainya."Hai Boss?.".


"Riccy?,kau?.".Khaffa tercengang melihat wajah pria yang selama ini dicarinya.


***

__ADS_1


Simak terus hingga tamat dan beri author dukungan...Terima kasih 🤗


__ADS_2