
***
Pagi hari Anayra berjalan tergesa-gesa diarea parkir lantai dasar gedung Mall atau basement,menuju bilik lift berdinding kaca tebal,usai memarkirkan motor maticnya khusus kendaraan beroda dua.
"Seperti nya aku terlambat.Huhhh...Tidak ada gunanya menyalahkan motorku.".Menggerutu saat kakinya menginjak bilik lift khusus,selain lift umum.
Anayra datang terlambat karena ban motor maticnya mendadak bocor ditengah perjalanannya menuju ke Mall.Terpaksa tadi harus menghentikan perjalanannya untuk mampir ketempat tambal ban.
Deggg.
Jantung Anayra berdegup kencang saat melihat seorang pria tampan berbalut setelan jas berdiri dengan gagahnya didepan pintu lift.Tersentak kaget melihat Khaffa pagi-pagi sudah ada disana,dan berdiri dengan menenteng tas kerja ditangannya.
Saat merasakan kehadiran seseorang,Khaffa langsung menoleh dan memandangi Anayra tanpa merubah posisinya."Heiii,apa yang kamu lakukan disini?.".Mengerutkan keningnya dan bertanya dengan nada dingin.
Khaffa terheran melihat wajah gadis yang dikenalnya ada disatu tempat yang sama dengannya.
"A-aku mau naik lift,mau keatas!.".Anayra sedikit gugup menjawabnya,dan dengan keberanian yang belum terhimpun penuh menatap Khaffa.
"Siapa yang memberi mu ijin menaiki lift ini?.".Khaffa menarik satu alisnya keatas seakan meminta penjelasan dari Anayra.
Pertanyaan Khaffa membuat dahi Anayra mengernyit aneh."Memangnya kenapa?.".Anayra dengan ketusnya dan tak hentinya memandang Khaffa.
"Karena kamu tidak bisa menaiki lift ini!.".Penuh ketegasan Khaffa menjelaskan.
"Lantas aku harus bagaimana?.".Anayra menjadi kesal karena penjelasan Khaffa itu.
Tak ayal,Khaffa menjadi geram.Tidak suka melihat sikap Anayra yang ketus,tidak sopan dan lancang.Posisinya sebagai CEO terasa diremehkan oleh Anayra.
"Kamu tidak lihat pintu besar disana itu?,apa matamu rabun,hahhh?.".Khaffa menunjuk sebuah pintu besar yang jaraknya sekitar 15 meter dari lift.
Anayra mengikuti arahan Khaffa dalam seketika ingat dan sadar.
Kenapa aku bisa lupa jika semalam melewati pintu itu?...Anayra menepuk keningnya.
"Maaf Pak aku lupa!.".Anayra menjadi kikuk dan salah tingkah."Tapi kenapa aku tidak bisa menaiki lift ini?.".Merasa aneh dan heran karena baru kali dilarang menaiki lift,serta ingin tahu alasannya.
"Ingat ini baik-baik!.Lift ini khusus untuk CEO,atasan dan staff-staff Marsgroup,kamu paham?!.".Khaffa mengeratkan gigi-giginya saat menahan kekesalannya karena Anayra terus menerus bertanya dan mengusik ketenangannya.
Di mall memang ada peraturan seperti itu,namun Anayra tidak mengetahuinya mengingat masih baru disana.
"Aneh!?.Kenapa harus ada peraturan seperti itu?.Dibutik pusat tidak ada peraturan seperti itu.".Anayra bergumam sendiri dan geleng-geleng kepala alasannya.
"Kamu pikir siapa dirimu?.Jangan berani memprotes saat berhadapan dengan ku!.".Khaffa menunjuk-nunjuk wajah Anayra, dan memasang raut wajahnya yang garang.
Acuh dan santai saja Anayra menyikapi nya.Berusaha tetap tenang dan sabar menghadapinya walaupun sikap Khaffa tidak membuatnya nyaman.
"Aku sangat sadar betul siapa diriku?.Tapi,bisakah mengingatkan ku tanpa harus bersikap kasar.".Anayra membela dirinya,tak terima Khaffa menunjuk-nunjuk wajahnya seperti itu.
Anayra tersinggung,mentang-mentang Khaffa seorang atasan menjadi meremehkannya karena dirinya seorang bawahan.
"Kurasa ingatan mu buruk!.Rendahkan nada suara mu saat berbicara dengan ku!,dan tunjukkan sopan santun mu saat berhadapan dengan ku!.".Khaffa tak bisa menerima,Anayra malah menyalahkannya.
Mengingat dirinya sebagai CEO dan Anayra hanya staff di butik yang ada di Mall milik keluarganya.Secara otomatis Anayra harus menunjukkan rasa hormat nya,bersikap baik,bertutur kata sopan dan santun.
"Aku tidak akan seperti itu!,jika anda tidak memulainya.". Anayra tak terima Khaffa memutar balikkan fakta.
Jika Khaffa tak berbicara dingin dan tidak ketus,tak mungkin membalasnya dengan sikap serupa.
Dengan wajah ganas dan hati yang memanas,Khaffa menghadap Anayra dan menyondongkan badannya kedepan.
Anayra refleks menyondongkan badannya kebelakang,saat wajahnya akan bersentuhan dengan wajah Khaffa.
"Camkan dan dengarkan aku baik-baik!.Aku CEO disini,jadi berhak membuat peraturan disini!.Semua pegawai yang bekerja diMall ini harus mematuhinya termasuk kamu,kecuali jika kamu tidak bekerja disini,mengerti!?.".Suara Khaffa yang menggelar membuat Anayra merinding ketakutan.
__ADS_1
"Ji-jika ti dak?.".Anayra memberanikan diri bertanya,penasaran dengan yang terjadi,dan yang akan dilakukan Khaffa jika tak mematuhi peraturan nya.
"Jika berani melanggarnya.Siap-siap saja menerima hukuman dariku.Kamu akan mendapat peringatan keras dariku,jika kesalahan mu fatal,aku akan mendepak mu dari sini!?.".Khaffa memicingkan matanya tajam menatap Anayra,dan Anayra tidak berkedip menatapnya.
Entah apa yang merasukinya sampai menakutkan seperti ini?...
Tubuh Anayra bergidik ngeri hingga mengeluarkan cairan keringat kala mendengar ancaman Khaffa.
Khaffa memasang ekspresi wajah menakutkan seperti seekor serigala yang siap menerkam mangsanya dengan gigi dan taring tajamnya,menakuti Anayra dan ingin membuat nya jera.Agar Anayra tak berani bersikap lancang lagi pada nya dan tak melakukan kesalahan apapun,yang bisa memancing emosinya.
Setelah puas mengintimidasi Anayra,Khaffa menegakkan badannya kembali dan segera masuk kedalam lift saat pintu lift terbuka.Senyum kemenangan terukir dibibirnya saat melihat ekspresi wajah Anayra yang ketakutan.Khaffa merasa puas dan senang,berhasil membuat Anayra tidak berkutik ditempatnya dan diam membisu.
Sepeninggal Khaffa,Anayra menegakkan badannya kembali dan melirik Khaffa sekilas sebelum pintu lift tertutup rapat.Tersentak melihat Khaffa yang tengah menatapnya tajam dan tersenyum smirk.
"Cihhh.Dia angkuh dan dingin sekali.Dia pikir dia saja makhluk paling kaya dan berkuasa dinegeri ini.".Anayra menghela nafas kesalnya dan mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya.
Hatinya merasa panas kala diliputi rasa amarah.Marah dan dongkol berbaur menjadi satu.
Baru kali ini aku bertemu pria seperti dirinya...
Anayra tak memungkiri,kedudukan Khaffa jauh diatasnya.Tetapi tak bisa menerima sikap Khaffa tadi yang besar kepala dan menyombongkan dirinya.
Bukankah seharusnya seorang atasan itu harus bersikap bijak dan menjaga wibawanya.Namun sikap Khaffa sangat jauh berbeda.Anayra pikir,seharusnya Khaffa memberi tahunya dengan baik-baik dan lembut,tanpa harus menekan dan mengancamnya.
Anayra berbalik arah menuju pintu yang dimaksud Khaffa tadi.Masuk kedalam dan menaiki puluhan anak tangga menuju kelantai atas dimana butik berada.Hentakan demi hentakan sepatu hak tingginya beradu dengan lantai anak tangga.
Hoshhh,hoshhh.
Nafas Anayra ngos-ngosan dan tersengal-sengal saat tiba dibutik.Letih dan terasa pegal kakinya,usai menaiki puluhan undakan anak tangga.
Santi,Melly dan Dea sudah standby lebih dulu.Kondisi ruangan butik sudah rapih dan bersih.
"Assalamualaikum?,maaf aku telat!.".Anayra masuk kedalam dan berjalan tertatih-tatih,merasakan sakit dan perih dikakinya.
"Waalaikum salam.".Ketiga juniornya serempak menoleh pada Anayra.
"Mbak kenapa?.".Melly terkejut melihat Anayra meringis kesakitan dan berjalan tertatih-tatih.
"Kakiku sakit Mell',aku tidak kuat menaiki tangga memakai heels setinggi ini.".Anayra mendudukkan dirinya dikursi kerjanya dan perlahan melepaskan sepatunya,untuk melihat bagian pergelangan kakinya yang lecet dan memerah."Aku terbiasa naik lift,disini harus melewati puluhan anak tangga.Payah sekali!.".
Santi menghampiri Anayra dan berjongkok dihadapan Anayra yang tengah duduk."Pasti sakit dan perih.Sepertinya lecet dan terluka akibat gesekan sepatu Mbak.".Usai memeriksa kondisi kaki Anayra,Melly tersenyum miris.".Tunggu disini Mbak!.".Santi berlalu untuk mengambil kotak P3K dilaci meja dekat Kassa,dan kembali berjongkok dihadapan Anayra dan menempelkan plester dibagian kaki Anayra yang lecet.
"Terima kasih.Kalian tidak apa-apa?.".Anayra ingin tahu keadaan mereka,mengalami nasib yang sama dengannnya atau tidak.
"Kita sudah antisipasi membawa sandal dirumah,mbak.Kami memakai sandal sewaktu menaiki tangga,dan berganti sepatu disini.".Dea dimeja Kassa nya menjelaskan.
"Tapi,kurasa ini tidak seberapa dibandingkan mereka yang menempati lantai teratas.".Anayra sadar diri,dirinya masih cukup beruntung karena menempati lantai bawah.
"Sulit kubayangkan.Bisa-bisa betisku sebesar gedebok pisang.".Melly saat tengah membenahi hanger yang berserakan dimeja geleng-geleng kepala tatkala membayangkan hal itu.
"Bukan sebesar gedebok pisang,tapi kali mu bisa jadi sebesar kaki gajah bengkak,hehehe...".Santi meledeknya dan terkekeh geli.
"Gajah bengkak gundulmu.".Santi menyolot dan meruncingkan bibirnya.
"Sudah cukup!.Jangan dibesar-besarkan!.Ayo siap-siap!,sebentar lagi Mall akan dibuka.".Anayra menengahi dan melerai keduanya."Semangat!!!.".Memberikan motivasi untuk menyemangati mereka.
"Baik.".Semua menjawab dengan serentak.
Mereka berdiri dan bersiap diposisinya masing-masing.Anayra mulai membuka laptopnya dan mengaktifkannya untuk memulai pekerjaannya.
Ditempat lain diruangan CEO.
Sang pemimpin sudah duduk dikursi kebesarannya,ditemani asistennya yang berdiri didepan mejanya.
__ADS_1
"Riccy,berikan gadis-gadis butik itu peraturan tertulis yang berlaku disini!.".Khaffa memberi perintah saat tengah fokus pada laptopnya yang ada dimeja kerjanya."Aku tidak mau mendengar mereka membuat kesalahan disini.".Menghadapi satu gadis saja Khaffa merasa pusing dan marah dibuatnya,apalagi jika harus menghadapi semua gadis pegawai butik itu.
Riccy mengangguk paham dengan apa yang dimaksud Khaffa."Baik!.".Saat melihat jam tangannya,Riccy teringat akan sesuatu."Boss siap-siap untuk rapat 1 jam lagi dengan para pemilik outlet,untuk membahas perpanjangan kontrak mereka!.".Mengingatkan Khaffa jadwal kegiatan Khaffa hari ini.
"Ok!.Siapkan berkas-berkasnya dan pastikan mereka semua datang tepat waktu!.".Khaffa dengan tegasnya memerintah,tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Khaffa sangat menghargai setiap detik waktunya.Baginya,waktu adalah uang sehingga tak bisa mengganggap hal itu sepele.
"Baik.".Riccy mengangguk hormat dan bergegas Riccy keluar dari ruangan CEO menuju ruangan pribadinya.
Usai mengambil selembar kertas,berjalan kearah lift khusus yang terhubung langsung dengan Mall dan langsung meluncur kebawah.Sesampainya ditujuan,melangkahkan kakinya kearah butik.
"Selamat pagi Pak?.".Melly dan Santi menyapa ramah saat tengah berdiri tak jauh dari pintu masuk.
"Selamat pagi,nona-nona cantik!?.".Riccy membuat Melly dan Santi tersenyum manis.".Terimalah ini!.Tolong dibaca dan dipahami,ok!.".Menyerahkan selembar kertas dari genggamannya pada Melly."Kuharap bisa membantu kalian,dan terhindar dari masalah!.".Pasalnya,peraturan ketat yang diterapkan di Mall,menuntut semua pegawai untuk mematuhi peraturan itu dan harus disiplin jika tak ingin berurusan dengan Khaffa.
Kertas berukuran A4 berisi tulisan berisi poin-poin peraturan yang berlaku diMall itu,dilihat Melly sekilas.
"Baik,terima kasih Pak!.".Santi dan Melly serentak menjawab.
Dibalas Riccy dengan angggukkan kepalanya."Ok,aku pergi!.Semangat!,cantik?.".Mengulas senyum tipis.
"Terima kasih,Pak.".Keduanya tersenyum manis.
Riccy meninggalkan butik,dan kembali kegedung kantor.Melly menatap kepergiannya dengan mulut ternganga dan mata melongo.Terpesona akan ketampanan Riccy yang diatas rata-rata,menurutnya.
"Tutup mulut
Lu!,nanti lalat masuk tuh!.".Santi menepuk kening Melly supaya menutup mulutnya."Jangan-jangan Lu 'Bejo',lagi bengong jorok!?.".Mengira Melly sedang melamunkan adegan panas.
"Enak saja!.Gue cuma terlena melihat mukanya yang bening dan licin itu.Kalah sama gue,seperti jalanan belum diaspal.".Melly meraba pipinya yang mulai berjerawat.
"Itu karena Lu malas merawat kulit wajah.Kadang selalu tidur masih memakai riasan,tanpa mencuci muka dulu.".Santi mencibir kebiasaan Melly,karena satu kost an dengan Melly.
"Itu karena gue gak kuat menahan kantuk.".Melly melenggang pergi,dan Santi mengikutinya saat menghampiri Anayra untuk memberikan kertas itu.
"Mbak,ini dari Pak Riccy.".Melly menyerahkan kertas itu padanya.
Anayra menerimanya dan melihatnya tanpa membacanya lebih dulu."Apa ini?."Matanya terbelalak saat melihat tulisannya yang panjang."Daebak!.Ini peraturan Mall atau isi teks UUD?,panjang sekali!.".Terkejut dengan isi peraturan yang tertulis di kertas itu.".Ck,ck,ck.Segitu berkuasa dan hebatnya CEO otak se ons itu?.Lalu aku apa?,hanya butiran beras yang tercecer dijalan.".Anayra tersenyum kecut akan perbedaan dirinya dengan Khaffa,yang notabene CEO Mall itu.
Melihat tulisan berisi poin-poin peraturan Mall yang panjang,Anayra mulai sadar dengan kekuasaan yang dimiliki Khaffa.
Santi dan Melly menutup mulutnya menahan tawanya.Geli saat mendengar celotehan Anayra barusan.
"Kalian baca saja duluan!.Baru melihat tulisannya saja,kepalaku sudah cenat-cenut duluan.".Anayra menyerahkan kertas itu kembali pada Santi dan mendengus kasar.
Cekatan Santi mengambilnya dari tangan Anayra."Anggap saja kita membaca novel,mbak!.".Santi asal bicara tanpa melihat tulisannya lebih dulu."Aigo...".Mata Santi terbelalak melihat tulisannya yang panjang dan menelan salivanya,tak kalah terkejutnya dengan Anayra.
Begitupun dengan Melly yang berdiri disampingnya memasang raut wajah yang serupa.Anayra terkekeh saja melihat ekspresi wajah keduanya.
"Ya ampun.Kita kerja diMall tapi seperti kerja di istana kepresidenan.".Melly geleng-geleng tak percaya.
"Atasan mah bebas.Ingat saja baik-baik aturan ini,jika Lu gak mau berurusan dengan Surat Peringatan!.".Santi mengingatkan Melly dan menekan kata Surat Peringatan nya.
"Benar!.Kuharap kalian tidak membuat masalah dan tidak melanggar nya.".Anayra teringat ucapan Khaffa saat bertemu dengannya didepan lift tadi.
Anayra tak ingin mereka terlibat masalah dan mendapat surat peringatan atau hukuman karena melanggar peraturan itu.Cukup dirinya saja yang mendapat gertakan keras dari Khaffa tadi.Lebih baik dirinya yang mendapat hukuman atau kemarahan Khaffa,jika tak sengaja melanggar nya dan melupakan peraturan itu.
Santi dan Melly manggut-manggut tanda mengerti.Setelah selesai membahas soal itu kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya yang terhenti.Santi dan Melly kembali ke posisinya semula standby didekat pintu butik untuk meyambut costumer karena tidak ada yang harus dikerjakan lagi oleh mereka.
Anayra meneruskan kegiatannya membuat laporan harian dikertas-kertas yang ada dimeja kerjanya.Menulis stok barang yang masuk dan keluar serta menulis rincian pemasukan dan pengeluaran hasil pendapatan penjualan setiap harinya.
Peraturan di Mall itu memang terbilang ketat dan menerapkan kedisiplinan.Bila ada yang berani melakukan pelanggaran-pelanggaran maka mereka akan berhadapan dengan Khaffa dan harus siap menerima sangsi atau surat peringatan darinya.
__ADS_1