
Dikantor CEO.
Khaffa perasaannya merasa tak nyaman dan gelisah saat terpikirkan sesuatu.Aktivitasnya terhenti saat tengah memeriksa laporan keuangan perusahaan."Sebaiknya aku menjemput nya.".Mematikan dan melipat laptopnya dimeja.
Khaffa bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya dengan langkah panjang.Tak bisa ditutupi rasa takut dan cemas diwajah tampannya.
Khaffa berniat menjemput Anayra ke teater.Khaffa pikir,Anayra pasti terkejut melihat kedatangan Riccy.Mungkin bisa jadi akan bertindak yang sama seperti dirinya,marah dan memaki Riccy.Khaffa tak mau itu terjadi,dan khawatir Anayra membuat keributan besar di teater yang nantinya akan mengundang perhatian orang-orang disana.
Dikediaman keluarga Andika.
Rena dan Andika,serta Al dengan Lenni bersiap diri untuk makan malam bersama.Lenni tampak tak sabar menunggu kedatangan orang-orang yang disayanginya.
"Sempurna...Tak ada yang kurang.".Lenni memperhatikan menu makanan yang tersaji di meja makan."Kerja yang bagus!,aku sangat berterima kasih,Rena.".Memuji masakan hasil olahan tangan Rena yang berdiri disampingnya.
"Sengaja ku siapkan menu istimewa,khusus untuk malam ini.".Rena merendahkan diri dan meletakkan vas bunga Tulip ditengah meja,untuk memperindah tampilan meja makan.
Lenni berjalan menuju ruang tamu,bersama Rena"Kuharap,semuanya berjalan sesuai rencana.".Dengan sangat antusias dan optimis,Lenni mengharapkan rencana nya berjalan lancar.
Untuk mengisi waktu luang saat masa penantian,mereka bercerita tentang kisah cinta di masa lalunya.
Diarea teater.
Keributan yang dilakukan para gadis-gadis cantik itu,menjadi perhatian dan tontonan orang-orang disekitarnya.Namun tak ada yang berani melerai dan tak mau mencampuri urusan mereka.Hanya menyimak dan mendengarkan saja,dengan ekspresi wajah terheran-heran.
Alma dan Anayra,Sera Novi dan Lenna,tampak berakting dengan sangat baik dan begitu memukau,dalam memerankan karakternya masing-masing.Jika mereka aktris,pasti akan mendapatkan penghargaan bergengsi.Sayangnya,mereka hanya gadis-gadis yang terlibat dalam kesalahan pahaman dan perselisihan.
Sera Novi terkejut melihat wajah pria yang berdiri disampingnya,"Ppak Riccy?.".Melongo tak percaya,pria yang menjadi topik pembicaraan di Mall ada dihadapannya saat ini.
Alma terpaku,hingga tak bisa berkata-kata.Lidahnya terasa kaku untuk bicara,atau hanya untuk memanggil namanya saja.Alma merasakan kakinya gemetar dan jantungnya berdetak kencang,sangat terkejut dan gugup.Akhirnya,kakinya tak mampu menahan beban tubuhnya lagi,terasa lemas dan tak bertenaga.Saat melihat sosok yang seringkali hadir dalam mimpi nya,hingga perlahan tubuhnya merosot ke bawah dan terduduk di lantai.
Riccy,kamu datang dan pergi sesuka hati mu...Dalam benak saja,Alma baru bisa memanggil nama nya dan berkata-kata.
Riccy tak terima melihat Alma akan ditampar Sera Novi,rasa panas kini menjalari hatinya."Lakukan itu padaku!,jika kamu berani?.".Menggertak gadis yang dikenalnya selalu mencari perhatian pria-pria,dan menatapnya dengan penuh kebencian.
Sera Novi merasa seperti disudutkan dan disalahkan Riccy."Dia yang menamparku lebih dulu.".Menunjuk Alma yang duduk dilantai,wajahnya tampak kebingungan dan terheran-heran,tanpa mengalihkan pandangannya dari Riccy.
Namun Riccy tak percaya begitu saja."Dia tidak akan melakukan itu,jika kamu tidak mengusik nya lebih dulu.".Membela Alma dan menghempaskan tangan Sera Novi secara kasar.
Riccy kenal betul karakter Alma.Meskipun tampak ceriwis,tetapi hatinya baik dan lembut.Takkan berani berbuat kasar jika ketenangannya tak terusik.
"Anda membelanya dan masih menganggap dia kekasihmu?,setelah pergi begitu saja?.".Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Sera Novi yang terasa menohok hati Riccy.
Berita terkait kepergian Riccy,memang menjadi tanda tanya besar dibenak para pegawai Mall.Menghilangnya Riccy pun bukan rahasia lagi,hampir semu penghuni gedung kantor dan gedung Mall tahu hal itu.
"Aku tidak harus menjawab pertanyaan mu.Kamu bukan siapa-siapa ku!.".Riccy menjawab pertanyaan Sera Novi dengan cibiran."Enyah!,sekarang juga dari hadapan ku.".Mengusir Sera Novi dengan nada yang menekan dan tatapan yang mengerikan.
Riccy,kamu datang diwaktu yang tepat.Tapi terlambat.Kamu tidak ada disaat Alma membutuhkan mu...
Perasaan yang sangat disesalkan dan disayangkan Anayra,karena Riccy baru datang sekarang.Menatap sedih Alma,yang harus mengalami hal buruk,dan menatap iba Riccy yang akan kehilangan Alma,pastinya.Pikir Anayra.
Anayra yang sejak tadi terduduk di lantai,masih bergeming ditempatnya.Sebelum Riccy datang,Anayra akan bangkit berdiri.Namun saat melihat Riccy,Anayra begitu terkejut dan mengurungkan niatnya untuk berdiri.
Lenna yang diam membisu saja sejak tadi,dengan wajah bersemu merah,karena malu mengikuti Sera Novi pergi yang membawa rasa panas dan nyeri di pipinya,dan rasa sakit dihatinya.Kecewa,tak bisa membalas perlakuan Alma,dan marah karena merasa dipermalukan saat mendapat gertakan dari Riccy.Niat untuk menonton film bersama Lenna,menjadi gagal dan berujung pahit.
"Gue gak akan diam saja,akan ku balas mereka berdua.".Diliputi rasa amarah,Sera Novi menggumamkan kalimat itu,dan berjalan menuju toilet dengan wajah geram diikuti Lenna dibelakangnya.
Sera Novi menyalahkan Alma dan Anayra atas kejadian yang dialaminya.
Khaffa datang dari arah lift,dengan tergesa-gesa menghampiri Anayra yang berusaha berdiri."Kamu baik-baik saja,honey?.Apa yang terjadi?.".Membantu Anayra berdiri dan memegang kedua bahunya.
"Aku baik-baik saja,ini cuma salah paham.".Anayra menenangkan hati Khaffa yang terlihat tampak cemas dan khawatir.
__ADS_1
Riccy bak pangeran,berjongkok dihadapan Alma dan menatapnya penuh dengan rasa rindu."Aku datang,Alma sayang.".Riccy berkata lirih dan mengulurkan tangannya untuk membantu Alma berdiri.
Perlahan Alma mengulurkan tangannya dan memegang tangan Riccy,dengan mata tak berkedip Alma,terus menatap Riccy."Ini benar kau?.".Alma ingin memastikan jika yang dihadapannya ini adalah Riccy.
Bukan khayalan atau mimpi.Benar-benar nyata dan bukan halusinasi.
"Ini aku,Riccy.Ayo,berdirilah!.Kamu akan kesemutan,jika duduk seperti itu terus.".Pelan-pelan,satu tangan Riccy mengangkat bahu Alma,dan satu tangan lagi memegang tangan Alma.
Alma tak mengalihkan pandangannya dari Riccy.Penuh tanda tanya dan rasa tak percaya melihat Riccy datang begitu saja,tanpa disangka-sangka nya.
"Riccy,apa yang terjadi?.Aku melewatkan sesuatu?.".Khaffa penasaran dengan yang terjadi pada Alma dan Anayra.
"Kenapa bertanya soal itu pada ku?.Aku hanya datang diwaktu yang tepat saja.".Riccy menatap Khaffa aneh dan heran,bukannya mencari tahu soal itu pada Anayra atau Alma,malah pada dirinya.
Pasalnya,Riccy tak tahu awal mulanya keributan bisa terjadi.
"Sayang,kita lanjutkan dikantor saja.Lihatlah!,mereka terus memperhatikan kita.".Anayra mengajak Khaffa,karena malu sejak tadi menjadi pusat perhatian orang-orang.
Khaffa menjadi salah tanggap."Apa yang kukatakan tadi,kamu pasti menjadi pusat perhatian.".Marah karena Anayra tak mendengarkan nasehatnya tadi.
Anayra paham maksudnya."Bukan ini alasannya.".Menunjuk baju yang dipakainya,yang menjadi sumber kemarahan Khaffa."Kamu tidak akan mengerti.Ayo,ikuti aku!.".Anayra menarik tangan Khaffa,sebelum melangkah pergi,menoleh pada Riccy dan Alma."Kak Riccy,urus Alma!.Alma,selesaikan urusan kalian!.".Berlalu pergi meninggalkan Riccy dan Alma yang terdiam ditempatnya,memandangi kepergian Anayra dan Khaffa.
Khaffa terus mengikuti Anayra,menuju kantornya dengan wajah kebingungan.
Suasana menjadi hening.Alma dan Riccy,terdiam tanpa kata dan tampak kikuk."Aku tau tempat yang cocok untuk kita bicara.".Riccy mengajak Alma pergi ke tempat yang lebih leluasa untuk berbincang,tempat yang hening dan sepi,tanpa harus merasa terusik dan tak harus memperdulikan tatapan mata orang lain.
Riccy terpikirkan membawa Alma ke atas atap gedung kantor Mars Group.Untuk berbincang-bincang,dan mengeluarkan seluruh uneg-uneg yang mengganjal di hati masing-masing selama ini.
Setibanya di atap,Alma tak kuasa membendung rasa marah,rasa sedih dan rasa rindunya pada Riccy.Rasa yang memenuhi seluruh ruang hatinya."Untuk apa datang kemari?,kenapa baru datang sekarang?.Kamu membuatku sedih dan menangis terus,setiap malam.".Alma terus memukuli dada Riccy dengan,meluapkan perasaannya yang sudah membuncah,diriingi air mata yang mengalir deras membanjiri pipinya.
Riccy terdiam dan bergeming.Pasrah menerima perlakuan Alma,tertunduk diam tak sanggup melihat Alma yang menangis tersedu.Riccy mengakui,kepergiannya ini salah dan telah menyakiti hati Alma.
"Aku senang,kamu baik-baik saja!.Kupikir kamu sudah tiada.".Namun sangat melegakan hati Alma,Riccy ternyata baik-baik saja."Kenapa tidak pernah menemui ku,hemhhh?.".
Alma bukannya mereda,tangisnya malah semakin menjadi,saat kepalanya bersandar didada Riccy.Tangannya melingkar dipinggang Riccy erat,mengunci tubuh Riccy,seakan tak mau melepasnya lagi."Kamu akan pergi lagi?.".Bertanya disaat mulai reda,suara isaknya terdengar jelas ditelinga Riccy.
Perlahan Riccy mengurai pelukannya dan menatap Alma dengan mata berkaca-kaca."Alma,nama mu masih terukir di sini.".Riccy menunjuk dadanya sendiri,dan Alma paham maksudnya."Sampai detik ini,aku tidak pernah berhenti mencintai mu.Aku tetap mencintai mu.".Sepenuh hati Riccy mengungkapkan perasaannya.
Alma terdiam dan bingung,harus bahagia atau sedih mendengar itu semua.Kata-kata yang selalu ingin didengar dari mulut Riccy.Tetapi kata itu,kini tiada artinya lagi.
Dengan mata berkabut air mata,menatap sendu Riccy yang tengah menatapnya lekat.Alma terheran,saat Riccy mengangkat dagunya dengan tangan kanan Riccy.Terhenyak saat Riccy memiringkan kepalanya,dan semakin memangkas jarak darinya hingga wajahnya akan berdekatan.
"Jangan lakukan itu!.Maaf!.".Spontan Alma mendorong tubuh Riccy,hingga tersentak ke belakang.
Alma paham yang akan dilakukan Riccy.Alma takut tak bisa menahan diri,saat Riccy menciumnya nanti.Apalagi,bayangan wajah Daniel saat mencumbunya,tiba-tiba muncul di pikirannya,seiring Riccy akan mencium bibirnya.
Riccy mengernyit bingung dan menatap heran Alma."Kamu membenciku?.".Menduga Alma membencinya,karena menolak diciumnya.
Alma berbalik kesamping,menatap pemandangan indah ibu kota,diterangi lampu-lampu yang bersinar dibawah langit berwarna gelap dari atas atap.Pandangan matanya menerawang jauh,saat menatap awan yang menghitam,polos tanpa dihiasi bintang-bintang.Seakan mewakili isi hatinya yang kosong saat ini.Tak memiliki harapan untuk meraih kebahagiaan,dan tak mempunyai keberanian untuk mencintai seseorang.
"Kamu lihat,warna langit diatas sana?.".Alma mengalihkan perhatian Riccy,hingga mendongak menatap langit yang hitam."Gelap dan polos.Seperti itulah,hatiku saat ini.".Menarik nafas dan membuangnya secara perlahan,untuk mengatur suasana hatinya yang menangis sedih dan ingin menangis."Jika bukan Bulan yang meneranginya,aku takkan pernah tau,akan kemana saat ini.Akan kehilangan arah,dan sulit untuk melangkah.".Mengumpamakan nasibnya sendiri,yang tak tahu harus melangkah pergi ke mana.
Alma merasa kehilangan arah dan putus harapan,untuk melanjutkan hidup.Bahkan pernah berusaha mengakhiri hidupnya sendiri,saat kehilangan kesuciannya.
Riccy menghela nafas berat,bisa merasakan beban berat yang sama,seperti yang dipikul Alma."Ini salah ku.Jika aku tidak pergi,pasti bisa menjaga dan melindungi mu.".Riccy sangat menyesali kesalahannya."Apa yang terjadi terjadi pada mu,akulah penyebab nya.".Mengakui kesalahannya sendiri,meskipun terlambat.
Riccy pikir,Alma mengalami kecelakaan karena dirinya.Alma pikir juga,Riccy sudah mengetahui peristiwa yang di alaminya.
"Ini sudah takdirku,harus kehilangan sesuatu yang penting,bagi seorang wanita.".Alma mengutarakan sesuatu yang membuat Riccy tertegun dan mengkerutkan kening,tak memahami arah pembicaraannya.
Riccy menautkan kedua alisnya,logikanya bisa menangkap yang diucapkan Alma.Secepat kilat menarik Alma,kearahnya dan menatapnya intens."Apa yang hilang dari mu?.Cepat katakan!.".Menekan Alma untuk menjelaskan yang terjadi padanya,dan tak sabar mendengar jawaban Alma.
__ADS_1
Alma menghela nafasnya panjang,gugup bercampur takut,untuk mengungkap kebenaran yang dialaminya."Aaaku...Bukaaan,gadis,suci lagi...".Memejamkan matanya saat mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan saat mengatakannya,dan tak sanggup menatap mata Riccy.
"Apa?.".Riccy tak bisa untuk tidak terkejut,mendengar pengakuan Alma.
"Aaaku,diper-kosa...". Perasaannya sangat berat saat harus berkata jujur pada Riccy.
Alma menangis tersedu-sedu,dibalik tangannya yang menutupi wajahnya.Harapannya ingin menikah dengan Riccy,dalam sekejap mata sirna,akibat ulah Daniel.Alma pikir,Riccy pasti akan menatapnya jijik dan membencinya.Pria mana yang mau menerima gadis yang pernah dicumbu pria lain,dan tak suci lagi.
Pengakuan Alma begitu mengejutkan Riccy.Menggeleng tak percaya dengan yang baru saja didengarnya.Riccy tertegun,tak bisa berpikir dan tak mampu berkata-kata.Kedua tangannya jatuh ke bawah,saat mencengkeram kuat bahu Alma.Terasa lemas,dan nafasnya terasa tercekat.Tak ingin mempercayainya,tetapi Alma tak mungkin mendustainya.
Riccy tertunduk lemah."Kamu pasti sangat menderita,saat aku pergi.".Penuh dengan rasa penyesalan yang mendalam.
Jika tetap disisi Alma,dan tidak pernah pergi.Mungkin Alma takkan mengalami hal itu,karena dirinya bisa menjaga dan melindungi Alma.Namun terlambat,semua terlanjur terjadi.Itu yang dipikirkan Riccy.
Riccy bergeming ditempatnya,ingin marah,tetapi bingung harus memarahi pada siapa.Ingin melampiaskan amarahnya pada pria yang merenggut kesucian Alma,tetapi tak tahu harus mencarinya di mana.Bahkan belum mengenal sosok pria itu.Jangankan wajahnya,namanya saja belum tahu.
Tetapi tak terlambat bagi Riccy mengetahu sosok pria itu dari Alma,untuk membalas perlakuannya yang telah melakukan hal yang menyakitkan hatinya.
Sakit hati Riccy rasanya atas tragedi yang dialami Alma."Siapa yang berani melakukan itu pada mu?,katakan!?.".Sekuat tenaga menarik tangan Alma yang menutupi wajahnya."Jika kamu ijinkan,aku akan melenyapkan nya.".Netra matanya menuntut Alma untuk menjawab pertanyaannya,dengan nada bicaranya yang menekan dan menakutkan.
Alma tak bisa berkutik saat Riccy menghimpit dan mengunci tubuhnya dipagar pembatas yang terbuat dari besi.Tak bisa menghindari tatapan Riccy yang sangat penasaran.Alma pun bingung,haruskah mengatakannya atau tidak?.
Alma mencoba berpikir logis,takut terjadi hal buruk pada Daniel,dan tak mau Riccy melakukan sesuatu yang bisa disesalinya."Untuk apa ingin tau?.Kamu ku anggap sudah tiada.Hubungan kita ku anggap sudah selesai,dan berakhir.Sejak kamu pergi,tanpa alasan yang jelas.".Terpaksa Alma mencari alasan untuk mencegah Riccy,dengan tegasnya dan tak sungguh-sungguh mengatakannya.
Alma menangis pilu dalam kurungan tangan Riccy,dengan kepala tertunduk pasrah.Untuk kesekian kalinya tanggul penahan air matanya jebol,tak kuasa menahan beban kesedihannya lagi dan rasa sakit dihatinya lagi.Berat sekali rasanya bagi Alma,dan tak mudah bisa melepaskan dan merelakan pria yang pernah mengisi hari-harinya dengan kebahagiaan,dan mengisi hatinya yang tak bertuan.
Riccy diam membisu seribu kata.Entah harus bagaimana sekarang,tak tahu harus berbuat apa saat ini?.Riccy bagaikan disambar petir tatkala mendengar pernyataan gadis yang membuatnya selalu tersenyum bahagia,dan selalu tertawa setiap mendengarkan leluconnya.Hatinya terasa hancur dan porak poranda,terasa bagaikan diiris-iris saat Alma menyingkirkannya begitu saja dari dalam hatinya secara sepihak,dan mengusirnya keluar dari kehidupannya.
Saat ponselnya bergetar,Alma menghentikan tangisnya dan menyeka air mata yang menggenangi pipinya.Diraihnya ponsel yang disimpan di tas nya,dan diletakkan di telinga nya."Aku segera kesana,tunggu sebentar!.".Dengan suara serak menjawab panggilan telepon dari Anayra,dan menyimpan kembali ponselnya kedalam tasnya.
Alma mendongak dan memberanikan diri menatap Riccy dengan mata berembun."Maaf!,aku harus pergi.".
Riccy yang bergeming dihadapan Alma,tersadar dari lamunannya dan menatap seraut wajah gadis yang sangat dicintainya."Alma,maafkan aku!.Karena ku,kamu harus mengalami itu.".
"Aku berusaha melepas mu dengan ikhlas.Kumohon,lupakan aku!,untuk kebaikan kita.".Alma memohon dengan sangat.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?.".Riccy mencemaskan masa depan Alma.
"Entahlah.Cemaskan saja dirimu,jangan pedulikan aku!.Aku bukan gadis yang pantas untuk dicintai mu lagi.".Alma berpikir seperti itu karena merasa putus asa dan bingung.
"Aku yang tidak layak kamu cintai.Aku sudah menikah,aku mengkhianati mu lebih dulu.".Alma seperti dihantam gelombang badai yang besar,saat hal itu diakui Riccy.
Dibalik sikapnya yang tenang,Alma menyembunyikan rasa terkejutnya dan rasa sakitnya."Senang sekali mendengarnya.Selamat untuk pernikahan mu.Maaf!,aku tidak datang ke sana.".Sangat menyakitkan hatinya saat harus pura-pura tersenyum bahagia,dan sungguh menyesakkan dadanya.
Tetapi Alma bernafas lega,kini Riccy memiliki teman hidup nya.Hingga bisa memudahkan hatinya untuk melepas Riccy.Perasaan menyesal dan merasa bersalah pun menguap begitu saja.
Riccy terhenyak,begitu terpukul atas yang baru saja yang didengarnya.".Terima kasih.Kuharap,kamu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.".Setulus hatinya mendo'akan Alma.
Harus senang mendengarnya,atau harus sedih,Alma bingung."Baiklah.Mari kita berteman dan saling memaafkan!.".Menanggapinya dengan bijak dan berpikir secara rasional.
Alma mengulas senyum manis dan mengulurkan tangannya pada Riccy.Bagaimana pun juga,Alma tak mungkin bisa membenci Riccy.
Tanpa sepatah kata,Riccy menjabat tangan gadis yang pernah berharap ingin dinikahinya.Jika saja waktu bisa diputar ulang,Riccy takkan melewatkan kesempatan saat Alma meminta kejelasan tentang hubungan cinta mereka,sebelum pulang ke kota asalnya.Takkan pikir panjang lagi untuk mengatakan 'Will you marry me?',sebelum Alma meminta untuk dinikahi.
Dengan netra mata yang menyimpan kesedihan yang mendalam,Riccy menatap Alma."Apa boleh buat!.Kita tidak ditakdirkan untuk hidup bersama.".Membalas senyuman Alma dengan senyuman yang pahit dan getir.
"Aku pergi,selamat tinggal!.".Perlahan Alma menarik tangannya dari genggaman tangan Riccy.
Berat hati Riccy dan terpaksa melepaskan Alma pergi.'Tuhan...Jaga dia untukku dan bahagiakan dia'...Berharap Alma bisa bahagia bersama pria yang mencintai Alma apa adanya,dalam hatinya.
Alma meninggalkan Riccy dengan berderai air mata saat menuruni tangga.Perih rasanya hanya bisa membawa kenangan bersama Riccy,bukan mengarungi mahligai cinta bersama Riccy,seperti yang diharapkannya selama ini.
__ADS_1
Riccy mendongak memandang langit yang semakin gelap,kontras sekali warnanya dengan sinar Bulan yang menghiasi cakrawala.Tersenyum saat bayangan wajah Alma tengah tertawa,terlintas dipikirannya."Aku merindukan saat-saat bersama mu,dan rindu mendengar suara tawa mu.".Kedua tangannya mencengkram kuat saat mengengam teralis besi pagar pembatas."Selamat tinggal,Alma!.".Mengucapkan kata-kata perpisahan yang tak bisa dikatakannya pada Alma,dengan menahan sakit luka dihatinya yang terasa menganga lebar.