
Daniel bersama dua pria yang disayanginya tiba di rumah sakit.Bergegas menuju ruang perawatan Lenni.Daniel masuk sendiri,Andika dan Al menunggu diluar.
Sedih dan iba hati Daniel saat menatap wajah ibu tercinta diranjangnya.Lenni berbaring dan terpejam dalam kondisi menyedihkan,semakin lemah,wajahnya semakin pucat dan keriput.
Berat badan Lenni semakin turun dan kurus akibat digerogoti penyakitnya.Jiwanya pun terguncang saat Daniel ditahan.
Sebutir air mata bening berhasil lolos dari mata Daniel."Mama,ini aku.Bangunlah!,aku disini bersama Mama.".Mengelus punggung tangan Lenni lembut dan penuh kasih sayang.
Mata Daniel teralihkan memandangi selang infus dan oksigen yang terpasang di anggota tubuhnya.Ikut merasakan sakit dan ngilu.
"Mama pasti kesakitan.Aku rindu Mama,apa Mama merindukan ku?.".Menatap wajah ibunya yang tampak menyedihkan."Mama harus sembuh dan sehat.Jangan menyerah,lawanlah penyakit Mama.".Dengan suara seraknya,karena tak kuasa menahan rasa sedihnya lagi.
Daniel duduk dikursi dan melipat kedua tangannya bertumpu diranjang Lenni.Kepala Daniel tertunduk kebawah dan bertengger ditumpuan tangannya.Menangis tersedu dibalik tumpuan tangannya.
Daniel dipenuhi rasa sesal dan bersalah hatinya.Selama ini telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan baik bersama ibu dan ayahnya.Waktu untuk bercanda ria dan tertawa bahagia bersama mereka.
Acuh dan kurang perhatian tetapi peduli.Daniel tak pernah melepaskan rasa tanggung jawabnya sebagai anak.Selalu mencukupi kebutuhan keduanya dan membelikan barang mewah untuk mereka.
Tetapi bagi Lenni dan Al,itu bukan poin utama.Tanpa pemberian dari Daniel bisa mendapatkan dan membeli yang diinginkannya.Limpahan materi keduanya lebih dari cukup,bahkan lebih.Al dan Lenni bukan hanya meminta perhatian secara lahir tetapi secara batin.Mengharapkan Daniel selalu peka akan nasehatnya dan peduli terhadap orang tua.Selalu hangat dan mau menghabiskan waktu bersama keluarga selama ada kesempatan dan waktu.
Jari Lenni bergerak pelan saat didengarnya suara putra kesayangannya yang selama ini dirindukannya.Perlahan Lenni membuka matanya dan memicingkan matanya saat penglihatan terasa silau oleh cahaya lampu.
"Abaaang...".Lenni memanggil putranya dengan pelan,hampir tak terdengar.
Sekuat tenaga Lenni mengangkat tangan kanannya dan membelai rambut Daniel."Nak,kamu disini?.".
Daniel mendongak dan terperanjat berdiri."Mama bangun?.Mama bisa melihat ku dan mendengarku?.".Meraih tangan kanan Lenni dan menatapnya dengan penuh rasa senang dan binar bahagia,akhirnya ibunya bangun dan sadar.
Lenni sangat mengharapkan kedatangan Daniel.Saat merasakan kehadirannya,Lenni terbangun dari tidur lamanya.
Lenni mengangguk pelan."Tentu nak.Kamu menjenguk Mama?,kamu akan pergi lagi?.". Ketakutan akan Daniel pergi lagi dan kehilangannya.
"Tidak!,aku akan tetap disini menemani Mama.Sampai Mama sembuh dan sehat,aku janji!.".Daniel berjanji dihadapan ibunya dan membelai puncak kepala Lenni.
"Benarkah?,yakin?.".Lenni tak percaya begitu saja.
Daniel mengangguk mengiyakan."Aku bebas dan bisa tidur nyenyak bersama Mama sekarang.Ini bukan yang Mama mau?.".
"Syukurlah!.Mama senang mendengarnya!.Jangan pergi lagi!,tetaplah disini bersama Mama.".
"Tentu.Aku akan terus disini,hingga Mama bosan melihat ku dan sampai Mama mengusirku keluar.".
Lenni tersenyum lebar saking senangnya."Anak nakal!.".Mencubit pipi Daniel karena gemas."Kamu agak kurusan.Apa tidak diberi makan?,apa makanan disana tidak enak?.".Menatap putra satu-satunya dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Aku terlalu merindukan Mama,jadi selera makanku hilang!.".
"Bohong!.".Lenni menggeleng tak percaya.
"Aku serius!.".Daniel meyakinkan Lenni."Mama jangan mencemaskan ku,pikirkan kesehatan Mama sendiri!.".Tak mau ibunya banyak pikiran dan membuat kondisinya buruk.
Lenni menganggukkan kepalanya."Baiklah,Mama percaya.".Memamerkan senyum manisnya."Siapa yang membebaskan mu?.Maksud Mama,kenapa kamu bisa bebas semudah itu?.".Menyadari jika perbuatan putranya sangat buruk.
Daniel terdiam sejenak."Alma,dia mencabut gugatan dan membatalkan kasus kami.Dibantu Papa,Om dan pengacara.".
"Benarkah?.Apa karena Mama alasannya?.".Lenni menduga-duga.
"Selebihnya itu,kurasa.".Daniel mengungkapkan kebenarannya yang membuat Lenni terkejut."Mama jangan khawatir dan memikirkan soal itu.Saat ini yang terpenting,Mama segera pulih dan pulang kerumah.".Daniel takut kehilangan ibunya.
"Baiklah!.Jika kamu memaksa!.".Lenni tersenyum sumringah seolah tak terjadi apa-apa dan tak merasakan kesakitan lagi.
"Dimana Papa mu?.".Lenni celingukan mencari-cari Al.
"Diluar,bersama Om Andika dan keluarganya.".Daniel menjelaskan posisi orang-orang terdekatnya dan disayanginya.
Lenni terkejut mendengarnya."Mereka semua disini?.Sepertinya Mama merepotkan kalian!?.".Senyum dibibir Lenni perlahan menghilang.
"Tidak sama sekali.".Daniel menggenggam erat tangan ibunya."Jika Mama merasa seperti itu,Mama harus cepat sembuh.Untuk upah lelah dan untuk membalas budi perhatian mereka!.".
"Do'akan saja!.Mama berharap sama seperti mu.".Dengan bijak dan penuh harap.
Saat merasakan kering ditenggorokannya,Lenni menjadi haus dan dahaga."Air,tolong ambilkan Mama minum!.".
Sigap dan cekatan Daniel mengambil air dalam gelas diatas lemari kecil disamping ranjang.Memberi minum Lenni menggunakan sendok,sedikit demi sedikit.
Penuh kasih sayang Daniel merawat Lenni dan terus disampingnya.Lenni mulai ada kemajuan dan kondisi mendingan.Kehadiran Daniel berdampak positif bagi Lenni.
__ADS_1
***
Tiga hari berlalu.Akhirnya,setelah kurang dari satu pekan Lenni dirawat.Pagi hari ini Lenni diperbolehkan pulang atas seijin dokter.Daniel dan Andika mengurus administrasi sedangkan Al menemani Lenni dan bersiap untuk pulang.
Daniel dan Andika kembali keruang perawatan Lenni.
"Ma,Pa ayo pulang!.Semua sudah selesai.".Daniel meraih tas ransel jinjing berisi barang-barang milik Lenni,pakaian dan lainnya.
"Mau ku gendong?.".Daniel menawarkan diri karena ibunya masih tampak lemah.
"Tidak perlu.Mama kuat.".Lenni turun dari ranjang dipapah Al menaiki kursi rodanya.
Al mendorong Lenni dikursi roda keluar menuju mobil yang terparkir di area parkir rumah sakit.Daniel memangku Lenni dan mendudukan Lenni dikursi belakang ditemani Al.Daniel bertugas sebagai sopir.Sedangkan Andika menggunakan mobil sendiri.Mobil Daniel dan Andika beriringan keluar dari pelataran parkir itu menuju jalan raya kearah rumah kediaman keluarga Al Devandra.
Rena dan Khaira bersama Anayra dan Khaffa sudah 'standby' disana.Menunggu kedatangan mereka dan menyambut kepulangan Lenni.
Nun jauh di kota berbeda.Aulia semakin kacau saja kondisinya.Pengalaman pertama kehamilannya ini sangat menyiksa.
Aulia meringkuk di atas tempat tidurnya.Tak mampu berdiri dan lemah sekali tenaganya.Riccy didapur membuat bubur untuk Aulia,benci tetapi tak tega dan iba.Bagaimana juga Aulia istrinya yang harus dirawat dan dijaganya.
Setelah matang Riccy membawa semangkok bubur diatas nampan ke kamar Aulia dan meletakkan nampan itu dinakas.
"Aulia,makanlah!.".Riccy duduk di tepi tempat tidur Aulia.
Pelan-pelan Aulia bangun dibantu Riccy dan bersandar di bahu tempat tidur disangga bantal yang diletakkan Riccy dibelakang punggung Aulia.
"Kamu bisa makan sendiri?.".Menyuguhkan bubur itu dipangkuan Aulia.
"Gak mau,aku gak bisa menelan makanan.Perutku mual terus.".Aulia menutup mulutnya.
"Paksakan untuk makan,demi anakmu itu.".Menunjuk perut Aulia yang belum terlihat buncit.
Aulia menggeleng pelan dan menurunkan tangannya."Percuma,aku pasti memuntahkannya lagi.".
"Keras kepala.Akan kusuapi,buka mulutmu.".Riccy memaksa dan meraih sendoknya.
Aulia menatap Riccy sejenak dan membuka mulut lebar-lebar saat Riccy menyodorkan sesendok bubur kemulutnya.
"Mas sangat membenciku?.".Setelah menelan habis makanannya.
"Jika mau,sebelum anak ini lahir,mas boleh menjatuhkan talak padaku!.".Aulia berdusta dan tak sungguh-sungguh mengatakannya.
Hatinya sangat berat mengatakan itu.Tetapi melihat wajah Riccy yang selalu dingin dan datar,terlintas itu dipikiran Aulia.
Riccy terhenyak menatap Aulia tanpa berkedip.Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?.Rasanya sakit sekali?...
Riccy tetap tenang meresponnya walaupun awalnya terkejut."Kamu yakin?.Kenapa?,apa alasannya?.Karena aku terpaksa menikahimu yang berbadan dua?.".Dengan ekspresi wajah datar dan dingin.
Karena aku mencintaimu!.Kamu dingin tapi peduli padaku.Tapi aku sadar kamu gak mencintai ku dan mencintai gadis lain...
"Aku gak mau mengekangmu dalam hubungan terpaksa ini.Biarkan aku menanggung beban dosaku sendiri!.".Aulia terpaksa berbohong lagi.
Dalam waktu belum sebulan,Riccy sudah berhasil mencuri hati Aulia.Meski sikapnya dingin dan datar.Selama menjadi istri Riccy,diam-diam Aulia selalu memperhatikan Riccy dan menyimpan rasa cinta dihatinya.
Tetapi Aulia takut dan tak mau semakin dalam lagi sakit hatinya jika terlalu dalam mencintai Riccy.Maka dari itu berniat melepaskan Riccy meski berat.Aulia juga sadar,apalagi saat ini ada gadis yang telah dicintai Riccy lebih dulu sebelum Aulia masuk kedalam kehidupannya.
Walaupun Riccy tak suka pernikahan dan hubungan ini tetapi tak melepaskan rasa tanggung jawabnya sebagai suami Aulia.Namun tak pernah menyentuh Aulia dan menafkahi secara lahir saja.Hati Riccy masih terpaut pada Alma hingga sekarang.
Apakah rasa ini wajar atau tidak?.Entahlah,Riccy pun bingung.
Sejenak Riccy tertegun dan berpikir."Baiklah,jika itu maumu.Aku akan pergi,tapi takkan menceraikan mu.Ku tunggu sampai anak itu lahir.".Riccy tak sampai hati menceraikan Aulia disaat kondisinya seperti ini.
Aulia menatap sendu Riccy dan mencengkram erat selimut menguatkan hatinya.Senang sekaligus sedih,senang Riccy mau mendampingi hingga melahirkan dan sedih akan kehilangan Riccy untuk selamanya saat hari itu tiba.
Riccy dingin dan acuh menyuapinya.Seolah Aulia tak mengatakan apa-apa.Sabar dan pelan Riccy menyuapi Aulia hingga habis.Walaupun ada ART yang membantu dan bekerja disana,tetapi urusan Aulia,Riccy turun tangan sendiri.
"Hari ini cukup banyak makanmu.Kurasa aku harus pergi sekarang ke Toko.Panggil saja Bi Etty kalau perlu apa-apa.".
Saat Riccy bangkit,Aulia mencekal lengannya dan refleks Riccy menoleh."Terima kasih.".Memberi Riccy senyuman manisnya.
"Sama-sama.".Riccy tersenyum tipis.
Aulia meraih tangan Riccy dan mencium punggung tangannya.Riccy terenyuh,walaupun dirinya cuek dan dingin.Tetapi Aulia selalu menghormatinya sebagai suaminya.
Bergegas Riccy pergi sembari membawa nampan kedapur dan meninggalkan rumah menggunakan mobil ke toko bakery nya.
__ADS_1
"Entah,aku harus senang atau sedih.Tapi ini lebih baik.Aku masih bisa melihatnya disini bersamaku sampai waktu itu tiba sudah cukup baik.Tapi,bisakah aku mengendalikan hatiku?.".Aulia memandangi bingkai foto besar diseberangnya bergambar sepasang pengantin yang terpasang didinding dan cincin yang melingkar di jari manisnya.
###
Pagi ini Alma bersiap dikamar untuk mulai bekerja lagi.
Ita menghampiri Alma sembari membawa sekotak besar nasi goreng favoritnya didalam kantong plastik untuk bekal sarapan paginya dibutik atas permintaan Alma sendiri.Alma ingin sarapan bersama teman kerjanya."Yakin masuk kerja sekarang?."Ita meletakkan piring dan gelas dinakas lalu duduk ditepi tempat tidur Alma.
Sedangkan Alma sibuk merias wajah di depan kaca meja riasnya."Hemh.".Alma mengangguk iya."Lebih baik menyibukkan diri dari pada terus meratapi nasibku.Aku jenuh dan bosan disini,berdiam diri tanpa mengerjakan apa-apa.".Berdalih untuk meyakinkan ibunya."Masa pemulihan ku sudah lewat,dan aku sudah sangat sehat.".Memoleskan lipstik berwarna 'Nude' dibibirnya.
Ita memandangi putrinya tanpa berkedip."Maafkan ibu.Selama ini sikap ibu keras dan suka memaksakan kehendak,sampai akhirnya kamu mengalami ini semua.Mulai sekarang ibu janji,tidak akan seperti itu lagi dan akan membebaskan mu memilih jalan hidup mu sendiri.".Ita berkaca-kaca,perlahan air matanya jatuh dan berderai dipipinya.
Menyesali perbuatannya dulu sebagai ibu.Namun Alma tak memusingkan soal itu sekarang.Terlambat untuk menyesali karena sudah terlanjur terjadi dan tak bisa memutar waktu kembali.
Alma duduk disampingnya."Sudahlah Bu!,itu masa lalu dan biarkan berlalu.Aku gak akan menyalahkan siapapun tentang yang terjadi pada ku.Aku akan berusaha tegar dan kuat menjalani hidupku dan takdir ku.".Mengusap air mata yang mengalir dipipi lta.
"Ibu bangga dan bahagia,kamu anak gadis ku yang baik dan kuat.".Ita memeluk Alma erat-erat.
Alma membalasnya dan mengelus punggung ibunya."Aku bahagia memiliki ibu sepertimu dan ayah yang baik.Aku senang dikelilingi orang-orang yang peduli padaku.".Diatas pundak ibunya,Alma menyeka air mata yang menetes keluar begitu saja tanpa seijinnya.
"Kurasa cukup,jangan dramatis lagi.Aku harus kerja.Beri aku semangat.".Alma menunjuk keningnya memberi kode supaya ibunya menciumnya.
Alhasil lta mencium kening Alma."Jaga dirimu disana dan hati-hati dijalan.Oiya,mungkin ayah dan ibu 3 hari lagi disini.Tidak masalah bukan?.".
Alma menepuk keningnya sendiri."Ya ampun,ibu ini.Tentu saja,siapa yang akan melarang kalian?,laporkan padaku!?.".Berkacak pinggang seakan sedang marah."Aku akan memberi nya pelajaran,plak-plak.".Mengayunkan tangan kanannya kekiri dan kenanan seolah menampar seseorang.
Ita tertawa renyah melihat kelucuan putrinya."Sudah-sudah.Pergilah!,nanti terlambat.".Ita bangkit dan memberikan bekalnya.
Alma memasukkan bekalnya kedalam tas punggungnya dan menggunakan heelsnya.Sesampainya diruang tamu."Aku berangkat!.".Mencium punggung tangan lta dan Ceppy lalu pergi."Assalamu alaikum.".Sembari berlari menuju pintu dan keluar.
Ita dan Ceppy menjawab."Waalaikum salam.".Sebelum Alma menghilang dibalik pintu.
Seperti biasa Alma menuju basement melewati lift.Setibanya didepan motornya,Alma membelainya."Aku merindukan mu Scoopy ku.Kamu memang teman setiaku.Maaf,aku mengabaikan mu.Let's fighting!.".Seolah berbicara dengan manusia.
Alma naik,memakai pelindung kepala dan memasukkan kunci kontaknya.Starter dan menarik gas melajukan motornya.Dijalan terus bersenandung kecil sembari menatap jalanan yang ramai.
Saat dilampu merah,motor Alma dan mobil Daniel berhenti bersamaan.Daniel dalam perjalanan pulang ke rumah,sedangkan Alma pergi kerja.
"Alma...".Daniel berteriak saat melihatnya disisi kanannya dan refleks tangannya menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Alma,dimana dia?.".Al dan Lenni celingukan mencari-cari nya saat suara Daniel memanggil Alma terdengar jelas ditelinga Al dan Lenni.
Alma spontan menoleh kesisi kirinya saat tiba-tiba Daniel membuka kacanya.Jantung Alma berdetak keras seperti gendang ditabuh.
Alma memandang Daniel disana dan terkejut melihatnya.Dia...
"Kamu Alma?.".Ita berteriak memanggilnya.
Alma sontak menoleh ke kaca jendela belakang mobil Daniel yang sudah terbuka."Be-benar.".Dengan wajah bingung.
Daniel memberanikan diri menyapanya juga."Alma,ka...".Belum sempat Daniel berkata,klakson mobil dibelakang sudah terdengar saat lampu hijau menyala.
Alma dan Daniel melajukan kendaraannya namun kearah yang berbeda."Gadis yang cantik.Sepertinya anak nya baik,kurasa cocok untuk dijadikan menantuku.".Lenni secara tak langsung menggoda Daniel.
Daniel langsung melirik Lenni dikaca spion mobil yang duduk dibelakangnya.
"Aku sependapat,kupikir juga begitu.Tapi memang begitu kenyataannya,aku sangat mengenalnya dengan baik.Itu sebabnya Abang bisa bersama kita sekarang.".Al ikut bersuara,mengomentari Alma dan sependapat dengan Lenni.
Al yang sudah mengenal baik Alma tak segan untuk memujinya.Sepintas saja melihatnya,Lenni berasumsi sendiri jika Alma baik dan cocok untuk menjadi istri Daniel.
Hatinya seketika menjadi berharap seperti itu.Lenni dan Al sangat mendambakan memiliki putri tetapi tak pernah kesampaian.Maka dari itu mungkin jika Daniel segera menikah,maka selain mendapat menantu tetapi memiliki putri juga.Tetapi berharap Alma yang yang menempati posisi istimewa itu.
Daniel tertegun sembari mengemudi dan menatap ke depan mengawasi jalan.
Pantaskah aku menjadi suami nya?.Aku tau dia gadis baik,tapi aku sebaliknya...
Daniel merasa rendah diri dan hina.Merasa tak pantas menjadi pendamping hidup Alma.
Aku pernah kebutik,bolak-balik ke Mall dan kantor Khaffa.Tapi kenapa tidak pernah bertemu Alma disana?.Entahlah,mungkin saja dia libur atau beda shift...Menduga-duga sendiri.
Daniel mengernyit heran tatkala teringat akan hal itu.
***
Semoga suka ceritanya dan mohon dukung selalu...Terima kasih. 💕
__ADS_1