Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
Bab 36.Penolakkan Khaffa dan Anayra.


__ADS_3

"Kenapa Mami menyuruh kami segera menikah?.".Khaffa protes dengan keputusan ibunya yang mendadak tanpa berdiskusi lebih dulu.


Raut wajah Rena mendadak terheran dan merasa aneh mendengar ucapan Khaffa.Bukankah seharusnya senang dan bahagia sebab tujuan dalam suatu hubungan percintaan pria dan wanita dewasa adalah menikah.Menurut Rena.


"Untuk mengikat hubungan kalian biar lebih kuat lagi dan supaya ga terusik sama siapapun!.Apa Abang mau kalo kekasihmu diganggu terus sama mantannya,hah?.".Dalih Rena mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Khaffa.


Ucapan ibunya memang masuk akal dan bisa diterima Khaffa.Namun tetap saja tidak sejalan dengan pikiran dan keinginannya.Khaffa seperti ditodong senjata oleh ibunya sendiri karena secara mendadak dan tiba-tiba saja membicarakan soal pernikahan.


"Ttentu engga Mi,tapi itu kan urusan Anayra.Bukan urusanku dan juga Mami!?.".Khaffa berkelit mencari alasan.


Sebab la belum siap untuk kearah sana dan hatinya belum yakin juga untuk menikah.Lagipula la dan Anayra hanya pura-pura saja dan belum lagi la harus menjaga hati Anayra yang belum tentu menyetujui usul ibunya.


"ltu jadi urusan kamu dan Mami juga sebab dia kekasihmu!.".Tegas Rena tidak mau kalah sambil menunjuk Anayra kemudian menunjuk Khaffa.


Dikursinya,Anayra tertunduk lesu sambil menggigit bibirnya dan meremas-remas jarinya.Hatinya merasa tidak nyaman dan tenang mendengar hal itu.Terang saja sebab mereka bukan kekasih 'sungguhan' dan hanya 'settingan' atau pura-pura saja.


"Tapi kami baru dekat dan belum saling mengenal seutuhnya Bu,jadi kami belum siap untuk itu!.".Ucap Anayra beralasan sambil mendongak menatap Rena.


Anayra mulai angkat bicara mencoba untuk mengalihkan perhatian Rena karena la masih teringat dengan statusnya sebagai kekasih pura-pura Khaffa.


"Itu ga masalah!.Kalian kan bisa pacaran setelah menikah,bukannya itu lebih baik lagi?.Dalam agama Islam malah dianjurkan untuk menikah dulu baru pacaran!.".Tutur Rena tidak kehabisan akal sambil tersenyum lebar merasa menang dalam perdebatan.


Mencari alasan yang tepat demi ingin melihat Khaffa segera berumah tangga dan segera melepaskan status lajangnya.


Ta'aruf kan buat orang yang benar-benar agamis,sedangkan apalah aku ini?...Pikir Anayra sambil menghela nafasnya.


Sedangkan Khaffa menyimak saja sembari berpikir sambil jarinya mengetuk-ngetuk meja.


"Benar Bu!,memang dalam Islam ada proses ta'aruf,tapi kita boleh menolak kalo merasa ga ada kecocokan.Allah mempermudah dan ga mempersulit hambanya meskipun itu baik untuk dilakukan.Tapi kembali pada diri kita masing-masing,apakah hati kita bisa menerimanya atau menolaknya?.Kita ga boleh memaksakan kehendak kita pada orang lain karena bila memang berjodoh pasti akan bersatu dengan sendirinya atas seijin Allah SWT tentunya.".Ungkap Anayra dengan serius namun lembut tutur katanya.


Mengutarakan pendapatnya dan membagi sedikit ilmu.Bukan bermaksud untuk menggurui hanya untuk sekedar mengingatkan saja.Rena dan Khaffa tercengang mendengar penuturan Anayra yang membuat mereka terkesan.Dan Anayra menghela nafasnya setelah memberanikan diri mengemukakan pendapatnya.


"Benar yang dikatakan Anayra Mi!,kami belum siap untuk menikah sekarang Mi!.".Ucap Khaffa bersemangat.


Seperti mendapat dukungan dari Anayra.Khaffa langsung menimpali dengan cepat.Bagaimana pun pernikahan itu butuh persiapan lahir dan batin bukan hanya sekedar persiapan materi semata.


"Ingat Abang,usiamu ga muda lagi!?.Apa kamu mau nunggu sampai rambutmu ubanan dan memutih baru menikah,hah?.".Sentak Rena.


Rena keukeuh dengan pendiriannya dan terus berusaha mendesak Khaffa untuk menuruti keinginannya.Sebenarnya Rena merasa bosan mengingatkan Khaffa terus menerus soal usianya yang seharusnya sudah cukup untuk menikah.Sebelumnya juga Rena sudah berulang kali menjodohkan Khaffa dengan gadis pilihannya dari putri-putri temannya atau teman suaminya.Bahkan ada yang mengajukan sendiri dari rekan bisnis suaminya untuk menjadi istri Khaffa.Tetapi dengan berbagai macam alasan yang sama Khaffa selalu menolaknya.Entah itu belum siap atau belum menemukan yang cocok dan belum waktunya.


"Mi,Abang akan menikah kalo waktunya tiba tapi ga sekarang!.Tolong jangan mendesak Abang terus Mi!.''.Khaffa memohon dan memelas.


Tidak mudah baginya untuk melakukan pernikahan dan menjalani bahtera rumah tangga dengan sembarang wanita.Dia harus meyakinkan hatinya pada seorang wanita yang menurutnya pantas dan cocok untuk menjadi istrinya.Jika syarat itu semua sudah terpenuhi maka barulah la akan menikah.


Karena kesal Rena memutar matanya jengah.Sebab lagi-lagi Khaffa menolak dan mencari alasan.Sementara Anayra masih bergeming ditempatnya karena percuma saja ikut bersuara sebab pendapatnya saja tidak dihiraukan oleh Rena.Dia terdiam seraya menyaksikan interaksi Ibu dan anak yang masih berdebat terus.Hatinya berharap perdebatan ini segera berakhir karena merasa tertekan.


Tetapi entah sampai kapan?.


"Selalu itu saja alasanmu!.Apa mungkin kamu baru akan menikah setelah liat Mami dan Papi rata dengan tanah,hah?.".Ucap Rena sambil memasang raut wajah sedihnya.


Tentunya membuat Khaffa terhenyak dengan perkataan lbunya yang asal bicara itu.Rena begitu karena putus asa sampai akhirnya keluarlah kata-kata itu dari mulutnya.


"Mamiii,jangan katakan itu!.Abang paham perasaan Mami dan Papi yang sangat berharap agar Abang cepat menikah dan memberikan cucu untuk kalian,tapi-...".


"Maaf,saya permisi pamit harus bekerja Bu!?.".Ucap Anayra menyela ucapan Khaffa sambil berdiri.


Anayra tidak mau mengganggu percakapan Khaffa dan Rena yang mulai intern.Dan juga percuma jika la tetap disini karena Rena tidak mau menyerah dan bersikukuh dengan pendiriannya dan keinginannya meminta Khaffa untuk menikah.Anayra sebenarnya tidak keberatan dengan keinginan Rena tetapi dengan catatan tidak dengan dirinya Khaffa harus menikah.

__ADS_1


"Baiklah!.kita bahas lagi nanti.".Rena menunda percakapannya.


Menghentikan pembicaraan sebab merasa tidak nyaman membahas soal itu diRestoran.Lagi pula mereka sudah terlalu lama disana.


"Maaf!,saya pamit duluan mau isi kartu jam masuk kerja!.".Ucap Anayra sambil membungkukkan badannya untuk menunjukkan rasa hormatnya pada Rena.


Anayra menatap Khaffa sejenak yang duduk disampingnya kemudian pergi tergesa-gesa dengan perasaan kacau-balau.


Dengan tatapan sedih Khaffa menatap punggung Anayra.Hatinya merasa bersalah karena telah melibatkannya dalam lelucon konyolnya dan memberikannya kesulitan hingga terjebak dalam masalah yang serius ini.


"Abang,apa kamu mencintainya?.".Rena saat memperhatikan tatapan mata Khaffa pada Anayra.


"Haaa...Mmm...Mi' sebaiknya kita pergi!.Abang masih banyak pekerjaan!.Abang kekasir dulu Mi!.".Khaffa mengalihkan pembicaraan karena bingung menjawab pertanyaan ibunya.


Entah apa yang dirasakannya saat ini pada Anayra.Dia dalam kebingungan antara mencintai Anayra atau tidak.Tetapi merasa kehilangan saat Anayra pergi dan merasa merindukan saat-saat kebersamaannya dengan Anayra.Entah itu cinta atau bukan tapi yang jelas saat ini la belum siap untuk melepas masa lajangnya.


Pikiran Khaffa menyadari jika hubungan mereka tidak baik dan tidak akur juga.Anayra selalu bicara ketus padanya dan suka melawannya tapi itulah yang membuat la penasaran pada Anayra.Meskipun Anayra telah menarik perhatiannya dan suka menatapnya diam-diam tapi la belum yakin jika ada rasa cinta dihatinya.


Bergegas Khaffa meninggalkan Rena yang duduk termenung menuju Kassa.Tetapi saat mau membayarnya,ternyata Riccy sudah membayar semuanya termasuk dengan dimeja Anayra tadi.Karena penasaran Khaffa lalu menoleh pada meja Riccy tetapi ternyata sudah kosong.


"Ayo Mi,kita kekantor!.".Ajak Khaffa pada Rena setelah kembali dari Kassa.


"Huuuh...Apa Abang tau?,gara-gara kalian Mami sampai lupa makan.Pergi saja duluan nanti Mami nyusul!.".Ucap Rena sambil memberi isyarat dengan tangannya menyuruh Khaffa pergi.


Rena memutuskan untuk tetap diRestoran karena ingin mengisi perutnya yang kosong dan menahan laparnya sejak tadi.


"Baiklah,Abang pergi duluan ya Mi!?.".Ucap Khaffa kemudian mengecup kening ibunya lalu berjalan keluar dari Restoran itu dengan hati dan pikiran berkecamuk.


Sepeninggal Khaffa dari hadapannya.Rena merenung dan berpikir keras.


"Sebenarnya apa yang terjadi antara mereka?,katanya dekat tapi kok menolak untuk menikah?.Bukannya harusnya senang kalo mereka segera menikah?.Kayaknya benar yang dikatakan Khaira!,ga ada chemistry diantara mereka malah saling acuh dan ga ada kemauan untuk menikah.Aneh!!!.".Ucapnya sambil menopang dagunya dimeja.


Saat muncul ide dipikirannya,Rena kemudian merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.


💌 Putri Kecilku.


Khai',awasi Abang mu.


Selidiki hubungan Abangmu dan Anayra.


Segera mengirim pesannya tetapi pesan itu belum terbaca.


"Kayaknya dia lagi sibuk.".Gumamnya sambil menghela nafasnya.


Saat teringat dengan niatnya,la segera memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya.


Diruangan lain didalam butik.


Sembari duduk dikursinya,Alma menatap sengit Anayra,penuh selidik dan penasaran.Dia menggelengkan kepalanya karena merasa dikhianati oleh Anayra dan telah tega menyembunyikan kebenaran atas semua yang terjadi tetapi la tidak mengetahui apapun.


"Huuuh,baiklah Al'.Aku tau kamu mau tanya apa?.".Ucap Anayra seraya memutar kursinya kearah Alma disela-sela kesibukannya.


Mengalah karena merasa tidak nyaman sebab Alma sedari tadi memandanginya terus sampai la tidak bisa fokus bekerja.


"Ternyata kamu paham apa mauku Nay',ayo jelasin semuanya dengan detail tanpa ada yang ditutupi dan terlewati!?.Jangan menyembunyikan apapun dan secuilpun!.".Tegas Alma tidak sabar dan penasaran.


Terpaksa dan mau tidak mau akhirnya menceritakan yang telah terjadi diRestoran sesuai dengan yang didengar dan disaksikan oleh Alma.Dari awal pertemuannya dengan Khaffa kemudian saat la selalu ditindasnya dan memberi hukuman padanya.Ketika memintanya untuk pergi bersamanya keapartemennya dan memasak untuknya.

__ADS_1


Bagaimana la bisa mengenal Rena dan bisa bermalam diapartemen Khaffa.Kemudian ketika Khaffa menyebutkan bahwa la Kekasihnya pada Rena sehingga Rena pun beranggapan demikian meskipun itu hanya pura-pura.


Dengan detail dan seksama Anayra bercerita.Sembari manggut-manggut Alma mendengarkan dan memasang telinganya baik-baik.Matanya pun menatap Anayra tanpa berkedip.


Setelah selesai,Alma terenyuh oleh cerita Anayra dan matanya mulai berkaca-kaca karena sedih dan tersentuh.Hatinya merasa iba dan kasihan melihat sahabatnya yang tampak tegar dan kuat itu.Alma melihat Anayra tampak santai dan seperti tidak terjadi apa-apa.Tetapi ternyata Anayra menyimpan sebuah cerita yang membuat hatinya termehek-mehek.


"Hwaaa...Kamu bikin aku mewek Nay'!.Kenapa kamu baru cerita sekarang Nay',aku hampir salah sangka tau?.Aku sahabatmu jadi berbagilah cerita tentang masalahmu dengan ku dan jangan memikul bebanmu sendirian,ok!?.Apa gunanya aku,apa kamu ga menganggapku sahabat lagi Nay'?".Cetus Alma tiba-tiba menjadi 'mellow' sambil terisak-isak dan sesenggukan.


Saat air bening menetes dipelupuk matanya,tangannya segera mengusapnya.Tetapi Anayra malah cekikikan saja melihatnya.Sebab itu tidak sesuai dengan 'skill' nya Alma yang kelihatan energik,genit dan centil.Selain itu Alma juga cerewet,asal bicara tetapi humoris dan selalu menghiburnya.


Bagaimana pun periang dan cerianya sifat Alma,tetapi la akan tersentuh hatinya dan akan meneteskan air mata saat mendengar kisah sedih yang menimpa sahabatnya atau siapapun yang dekat dengannya.


"Bukan gitu Al'!.Aku belum sempat untuk cerita karena kejadiannya mendadak.Dan aku ga mau membuatmu ikut sedih memikirkan aku.".Anayra bicara apa adanya menenangkan hati Alma sambil menepuk-nepuk punggung tangannnya.


Tak bermaksud untuk menyembunyikan hal itu dari Alma.


"Tapi aku kan jadi bingung dan heran tadi waktu diRestoran.Aku bengong aja disana kayak orang bego.Untung aja ga bulukan dikacangin kayak gitu.Emangnya enak digituin?,biji buah dipelak ditanah jadi pohon,coba kalo aku dipelak jadi apa hayooo?.".Oceh Alma bertubi-tubi sambil berkacak pinggang.


"Teganya kamu Nay' nyembunyiin soal itu dariku dan mas Lefrand!.Dia pasti kecewa berat dan sakit banget hatinya sekarang lebih dari aku.Tadi kamu liat sendiri kan reaksi dia gimana,heuhhh?.".Sambungnya sambil menarik satu alisnya keatas.


"Dadaku aja nyesek apalagi dia!.".Gumam Alma.


Membuat hati Anayra seperti dipukul palu karena merasa diingatkan oleh sikapnya pada Lefrand.Matanya sampai membulat sempurna dan jantungnya berdegup kencang.Kemudian menghela nafasnya karena la merasa bersalah dan merasa berbuat jahat.


"Iyaaa,aku tau aku salah!.Aku udah bikin hati kalian amburadul dan acak-acakan.Tapi itu aku lakukan demi kebaikan kalian supaya ga ikut pusing soal aku dan ga mau bikin kalian repot nantinya!.".Dalih Anayra dengan nada lirih dan tatapannya hampa karena pikirannya berkelana.


Tadinya Alma marah tetapi menjadi melunak setelah melihat wajah Anayra tampak murung dan juga sedih.


"No!.Kamu jangan berpikir begitu karena kita adalah sahabat dan udah kayak saudara.Jadi jangan ada lagi rahasia diantara kita,ok!.".Ucap Alma tegas dan dibalas Anayra dengan anggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.


Alma menegaskan dan mengingatkan ikatan mereka berdua yang sudah terjalin sejak lama.Setelah selesai dengan pembahasan itu lalu Alma mengambil sebuah kartu undangan didalam laci meja kerjanya.


"Oiya Nay',tadi bu Lulla nyuruh orang kemari untuk memberikan undangan pesta hari jadi butik nanti.Ada juga buat CEO itu jadi nanti kamu berikan sendiri sama dia ya!.".Ucap Alma seraya meletakkan kartu undangan berwarna putih dengan tulisan huruf berwarna gold dimeja kerja Anayra.


"Kenapa harus aku?.".Protes Anayra seraya menunjuk dirinya sendiri.


Merasa aneh padahal bisa saja menyuruh junior mereka untuk mengantarkan undangan itu.Sebab Anayra ingin menghindari Khaffa dan tidak mau bertatap muka dengannya untuk saat ini.


"Kamu kan kekasihnya,kekasih pura-pura,hahaha...".Ceplos Alma sambil tertawa terbahak-bahak menggoda Anayra.


Menjadikan hubungan Khaffa dan Anayra sebagai bahan guyonannya.Membuat Anayra tercengang karena takut orang lain mendengarnya.


"Hisss,Almaaa.Mulutmu itu.Pelan dong nanti orang lain dengar tau!?.".Oceh Anayra sambil menggeplak Alma dengan buku yang ada dimejanya karena panik.


Sebab Alma berbicara dengan intonasi suara yang cukup keras dan tinggi.


Baru beberapa menit lalu Alma menangis tersedu-sedu.Tapi sekarang malah tertawa terbahak-bahak.Alma tetaplah Alma yang selalu usil dan jahil,selalu ceplas-ceplos gaya bicaranya.Tidak melihat situasi atau pun kondisinya.


"Ups,maaf!.".Ucap Alma sambil membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya saat tersadar.


Dan Anayra menghadiahinya seringai serigala tapi Alma malah terkekeh geli melihatnya.


"Kembali ke lap top!.".Ucap Alma seraya melengos kearah mejanya untuk menghindari tatapan maut Anayra.


Begitupun dengan Anayra fokus kembali menatap layar laptopnya dengan perasaan dongkol.


Anayra mengalihkan pikirannya saat ini untuk fokus bekerja daripada memikirkan hal-hal yang membuat kepalanya berdenyut.Entah apa yang akan terjadi selanjutnya,la tidak mau menduga-duga karena semua yang terjadi padanya diluar dugaannya.Tidak pernah dipikirkan atau direncanakan dan semua terjadi begitu saja.

__ADS_1


Seindah dan sebaik apapun kita berencana tetapi jika Sang Maha Pencipta tidak meridhoi dan tidak mengijinkan tetaplah sia-sia.Namun kita jangan putus asa atau patah semangat karena semua yang terjadi pasti ada hikmahnya dibaliknya.Kita harus yakin bahwa ada sesuatu yang indah yang telah dipersiapkan-Nya untuk kita.Tetaplah berusaha dengan ikhlas dan terus melangkah dijalan-Nya.ltu lebih baik daripada kita melangkah tanpa tujuan.


Banyak hal yang tidak terduga dan tidak disangka-sangka terjadi disekitar kita.Kadang tanpa disadari ada kebaikan atau keburukan disekitar kita.Dan bahkan tidak tahu jika ada bahaya yang mengintai didekat kita.


__ADS_2