
Dikediaman Franstian.
"Panggil Black dan Boy kemari!.".Franstian menyuruh asistennya memanggil dua orang anak buahnya yang berada di paviliun depan rumahnya.
"Segera tuan.".Asisten pria itu secepatnya ke paviliun dan memanggil dua orang yang dipercaya Franstian untuk melakukan misi penting.
Diiruang kerja pribadinya,Franstian duduk dikursi.Dua orang anak buah Franstian berdiri tegak menghadap nya,dan siap mendengarkan perintah sang majikan.
"Lakukan sesuai instruksi ku!,dengan rapi dan bersih.Jika bukan kabar baik yang ku dengar dari kalian,jangan berani menghubungi ku!.".Intonasi suara bass Franstian yang tegas dan serius,tak bisa dibantah lagi oleh kedua orang berperawakan sedang berkulit gelap dan putih itu,serta lebih muda dari Franstian.
Rencana yang telah dibuat sebelumnya akan dilakukan Franstian mulai hari ini.
"Baik.".Tak mengulur waktu lagi,kedua pria itu pergi dengan tergesa-gesa menuju mobil yang sudah disiapkan untuk melakukan tugas penting mereka.
Franstian bergeming,beralih ke ruang tengah dan menarik nafas panjang saat menyandarkan tubuhnya disofa."Rumah ini terlalu besar untuk ku,dan terasa sepi.".Ketiadaan Sera Novi disisinya membuat Franstian kesepian dirumah besarnya itu.
Walaupun sang asisten,beberapa anak buah dan seorang art ada dalam satu area rumah yang sama menemani nya.Tetapi terasa berbeda dengan tidak adanya Sera Novi disana.Semalam pun Franstian tidur sendirian karena Sera Novi pergi berlibur.
Seraut wajah gadis dilayar ponsel yang dipegang Franstian,ditatapnya lekat-lekat."Sayang sekali,wajah cantik mu mungkin akan menangis menahan rasa sakit.".Franstian mengagumi kecantikan wajah gadis yang akan menjadi target misi balas dendam kekasihnya.
Jika dibandingkan dengan Sera Novi,gadis di ponselnya itu lebih anggun dan lebih menarik perhatiannya.Namun,Franstian lebih menyukai gadis yang liar,nakal dan agresif seperti Sera Novi.
Sera Novi selalu memberikan kepuasan dan kesenangan saat diatas ranjang.Itu yang membuat Franstian tak bisa berpaling dari Sera Novi dan merasa terikat kuat pada daya tarik nya.
"Seandainya kau bukan istrinya,mungkin kau tidak harus mengalami itu.".Franstian menyesalkan akan ikatan antara Khaffa dan Anayra."Sayang,takdir mu ada ditangan ku.".Seringai iblis nya menyempurnakan rahang tegas nya.
Setiap yang diucapkan Franstian akan menjadi kenyataan,bukan hanya omong kosong belaka atau lelucon.Sejak pertemuan pertamanya dengan Khaffa,Franstian sudah merencanakan sesuatu untuk melancarkan aksi balas dendam Sera Novi.Tanpa sepengetahuan Khaffa,Franstian pun menyuruh seseorang untuk mengawasi setiap gerak-geriknya dan membuntutinya.
Penuh rasa sesal Franstian mengelus layar ponselnya,seolah mengelus wajah gadis itu."Maaf!.Terpaksa harus ku harus melukai mu.".Jika bukan karena rasa cintanya pada Sera Novi,Franstian sebenarnya enggan melakukan itu.
Bagaimana pun kejamnya perangai Franstian,tetapi tak serta merta melukai orang lain tanpa alasan yang jelas.Franstian pernah membujuk Sera Novi untuk mengurungkan niatnya.Namun rayuan maut bibir manis Sera Novi,Franstian luluh kembali karena dibutakan rasa cinta dan ancaman Sera Novi.
Sera Novi bersikeras agar Franstian membalaskan dendam nya.Jika tidak,maka akan pergi dari kehidupan nya dan mengakhiri hubungan mereka yang baru terjalin.
Franstian menggeser galeri foto nya dan tersenyum miris melihat wajah kekasihnya."Sera,tidak seharusnya ku lakukan itu.Tapi,ini untuk membuktikan rasa cinta ku padamu.".Dihempasnya rasa ragu dan bimbang dihatinya saat ini,untuk melakukan hal yang bisa membuat orang yang dibenci Sera Novi terluka,bahkan mungkin bisa kehilangan nyawa.
Foto berikutnya,terpampang sosok wajah pria yang cukup dikaguminya."Kurasa rasa rindu mu tidak akan pernah terobati.Aku minta maaf untuk itu.Kuharap kau mengerti dan tidak marah padaku.".Penuh rasa sesal Franstian menatap lekat foto Khaffa.
Sera Novi berhasil membawa pengaruh besar dalam kehidupan Franstian,dan sekaligus berdampak semakin buruk padanya.Tetapi Franstian tak menyadarinya.
Di pesisir pantai.
Sera Novi bersantai menikmati suasana di tepi pantai bersama sahabat nya,Lenna.Memainkan gemericik air gelombang ombak yang pasang surut menyapu bibir pantai dengan kakinya.
Dari kemarin Sera Novi dan Lenna menghabiskan waktu berdua,dan bermalam di hotel dekat pantai.Saling melepas rindu di waktu luang mereka yang banyak dan tak terbatas.
"Gue pikir,lu jadi pengemis dan tunawisma setelah dipecat dari pekerjaan.Untung nyokap dan bokap gue memiliki usaha sendiri.Gue gak sampai jadi pengangguran.".Lenna yang bernasib sama dengan Sera Novi mengeluhkan nasibnya yang cukup beruntung.
Majikan Sera Novi dan Lenna,memecat keduanya dengan tidak hormat usai Khaffa mengadukan ulah keduanya pada Alma dan Anayra di teater.Bahkan sebagai bukti yang kuat,Khaffa menunjukkan rekaman video pada majikannya.Tetapi,karena Sera Novi yang menjadi otak peristiwa itu bermula dan terjadi.Khaffa menjadikan Sera Novi target utama kemarahannya.
Tanpa ragu lagi majikan keduanya melakukan sesuatu sesuai dengan permintaan Khaffa,dan meminta maaf atas ulah pegawai nya yang sudah dipecatnya.
"Dewi Fortuna masih berpihak pada gue.Ada Franstian penyelamat hidup gue dan pelindung gue.".Sera Novi bahagia dan bangga bisa mendapatkan semua yang diinginkannya dari Franstian.
Franstian memberikan semua yang tak pernah Sera Novi dapatkan dan tak pernah rasakan nya,selama seumur hidupnya.
Sera Novi memiliki keluarga yang hancur berantakan.Kedua orang tua nya berpisah,kedua nya menikah lagi dan memiliki keluarga baru lagi,disaat usia nya beranjak dewasa.Sera Novi lebih memilih hidup mandiri ketimbang hidup bersama kedua keluarga barunya.Tak bisa hidup satu atap,baik bersama saudara dari ibu tiri atau dari ayah tiri nya.
"Sorry!,gue meninggalkan lu,malam itu.".Lenna menyesal telah meninggalkan Sera Novi dalam keadaan mabuk berat di night club.
"Gue berterima kasih untuk itu.Jika bukan karena lu,gue gak semujur sekarang.Jika elu bawa gue pulang ke apartemen,gue gak akan pernah dipertemukan dengan Franstian.".Sera Novi tak menyesalinya sama sekali,malah merasa bersyukur,Lenna tak membawanya pulang ke apartemen milik Lenna.
Hal itu membawa keberuntungan sendiri bagi Sera Novi.Bisa bertemu Franstian dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada sebelumnya,tanpa harus bekerja keras dan membuang waktunya.
__ADS_1
"Miris sekali.Seakan gue gak pernah menawarkan bantuan.".Lenna memutar matanya,pertolongannya merasa diabaikan Sera Novi.
Setelah dipecat,Lenna menawari Sera Novi untuk bekerja di tempat usaha orang tua nya.
"Jika lu salah satu crazy rich di kota ini,gue gak akan menolak.".Sera Novi tak ingin menjadi benalu dikeluarga Lenna yang hanya memiliki usaha konveksi kecil.
"Gue merasa menderita dengan kehidupan gue sekarang.Ironisnya.".Lenna berteriak dan tertawa-tawa,meluapkan perasaannya.
"Gue merasa sial menjadi budak cinta pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan.Ironisnya.".Sera Novi ikut berteriak dan tertawa-tawa,membanggakan diri.
"Dasar gadis parasit.".Lenna mencibir Sera Novi yang ingin menggantungkan hidupnya pada pria kaya raya.
"Simbiosis mutualisme.Saling memberi dan menerima.".Sera Novi mengoreksi ucapan Lenna dan melototinya."Satu hal lagi,Franstian cinta mati dan tunduk.ltu prestasi yang membanggakan,bukan?.".Tersenyum bangga memamerkan kehidupannya sekarang.
"Dasar congkak,elu mau riya didepan gue?.".Lenna menghujani Sera Novi dengan cipratan air pantai.
Untuk menghindari tubuhnya dari basah kuyup,Sera Novi berlarian."Ha...Ha...Ha...Kita impas.".Tertawa dengan perasaan senang bisa membalas kesombongan Lenna karena pernah memamerkan kekasihnya yang kaya raya.
Lenna mengejar Sera Novi dan melempari nya dengan gumpalan pasir.
Sera Novi menghindar saat hampir mengenainya."Payah!.Dasar gadis ringkih,ha,ha,haaa....".
Terengah-engah saat keduanya berhenti setelah berlarian saling mengejar dan saling melemparkan gumpalan pasir.
Disela kelelahannya,Lenna mengatur nafasnya dan menoleh pada Sera Novi."Apa kalian berencana akan menikah?.".Lenna mengetahui hubungan serius Sera Novi dan Franstian,yang lebih dari sekedar pacaran.
Sera Novi bingung menjawabnya."Lihat saja nanti.Masih ada yang harus gue lakukan.".Rencananya saat ini lebih penting dari pada hubungan kedepannya bersama Franstian.
Sera Novi menerawang dan duduk berjongkok memainkan pasir,berharap dalam hati agar Franstian bisa berhasil melancarkan aksi balas dendam nya nanti.Usai itu,baru memikirkan hubungan antara mereka.
Lenna menajamkan penglihatan nya menatap sahabatnya,dan duduk berjongkok disamping Sera Novi."Lu gak merencanakan sesuatu yang buruk,kan?.".Takut Sera Novi melakukan hal yang bisa disesalinya nanti.
Sera Novi yang menyimpan dendam pribadi dihatinya,balas menatap Lenna dengan kening mengkerut heran."Apa lu pikir gue akan diam saja?.".Aura wajahnya berubah memerah.
Sera Novi sadar akan hal itu,tetapi rasa sakit dihatinya tak terelakkan lagi dan sudah membuncah"Rasa sakit harus dibalas rasa sakit.Lu gak akan mengerti yang gue rasakan.".Menggeram dan memicingkan matanya menatap sahabatnya yang berambut sebahu itu.
"Heiii,ingat!.Gue juga menjadi korban disini.Gue dipecat,sama seperti elu.".Lenna menunjuk wajah nya,jika dirinya mengalami hal yang sama dengan Sera Novi.
Tetapi Lenna menyadari kesalahannya,dan lebih memilih bersikap bijak.Pasrah menerima yang terjadi solusi terbaik bagi Lenna,daripada terlibat dalam situasi yang rumit dan panjang.
Hati Sera Novi mengakui dan tak memungkiri itu.Tetapi tak bisa menerima yang telah dialaminya."Lu gak dipermalukan dan gak diperlakukan buruk.Gak seperti yang gue alami.".Saat mengingat itu,saat harus mengalami hal yang menorehkan luka dan rasa sakit di hatinya yang tak terobati,dan yang tak dirasakan Lenna,Sera Novi merenung.
Lenna putus asa dan menghela nafasnya,usahanya untuk mencegah Sera Novi terasa sia-sia."Gue mengerti.Tapi itu karena kesalahan kita sendiri.Pikirkan lagi baik-baik!,ok?.".Merangkul pundak Sera Novi,mencoba memberikan ketenangan hati sahabat seperjuangannya.
Tiga tahun lalu,Sera Novi dan Lenna sama-sama berjuang keras bersama saat melamar pekerjaan.Bahagianya Sera Novi saat diterima bekerja diwaktu bersamaan dan ditempat yang sama,di gerai kosmetik sebagai Leader dan Beauty advisor.Sejak itulah mereka berteman baik hingga sekarang,dan saling memahami sifat masing-masing.
"Entahlah!.".Sera Novi galau dan tertegun.
Haruskah mendengarkan perkataan sahabat nya,atau mengikuti kata hatinya untuk balas dendam.Nasihat baik sahabatnya itu ada benarnya,tetapi rasa ingin balas dendam menguasai pikiran dan merasuki jiwa nya saat ini.
"Gue tau.Hidup yang lu jalani berat.Tapi,gue gak bisa membiarkan lu tersesat.".Lenna berharap Sera Novi berubah pikiran nya."Pikirkanlah sebelum bertindak.Penyesalan akan datang pada akhirnya.".Sebagai sahabat Lenna harus menyadarkan Sera Novi.
Sera Novi bergeming,tak bisa berkata-kata lagi.Hati nya mulai goyah,tetapi rencana yang sudah disusunnya baik dan matang dengan Franstian,terlanjur akan dilakukan hari ini.
Di kota lain.
"Kakak,apa yang kamu lakukan diatas sana?.".Hani terkejut saat keluar dari rumah,memergoki Anayra memanjati pohon mangga yang berbuah ranum,yang tertanam di halaman rumah,pagi-pagi.
Anayra menunjukkan buah mangga dikantong plastik yang dipegangnya hasil petikan nya sendiri,penuh rasa senang."Memetik sendiri lebih enak.".Tanpa rasa takut Anayra duduk di dahan pohon.
Hani tak bisa mencegah kebiasaan Anayra sejak masih kecil."Baiklah.Petiklah yang banyak!.".Membiarkan Anayra menikmati kesenangan nya selagi ada di rumah karena jarang pulang,ada baiknya."Bagaimana jika jika suaminya ada disini dan melihatnya seperti itu?.".Hani membayangkan Khaffa saat melihat tingkah laku Anayra.
Anayra sangat antusias untuk memetik sendiri buah mangga.Penuh semangat ingin memakan buah mangga yang masih muda dan masam di pagi hari.Itu tiba-tiba saja terbersit dibenak Anayra,yang sebelumnya tak pernah dilakukan nya.
__ADS_1
Anayra turun dengan hati-hati.Wajahnya sumringah bisa memetik beberapa buah mangga.Menghampiri ibunya yang berdiri diteras rumah,dan ditunjukkan pada ibunya hasil usahanya itu.
"Kenapa muda semua?,tidak baik sepagi ini makan buah yang masam,tidak baik untuk Lambung.".Hani terheran melihat buah yang dipetik putri nya,tak satu pun ada buah yang matang."Kenapa juga harus susah payah manjat ke atas pohon?.Digudang ada alat khusus untuk memetik buahnya.".Tak habis pikir dengan kekonyolan Anayra yang sudah tak muda lagi.
Anayra tahu itu,tetapi sengaja melakukan nya karena rindu akan kebiasaan nya dulu.Biasanya yang menarik perhatian nya pun buah yang sudah matang,tetapi kali ini Anayra tergiur mencicipi buah yang masih muda.
"Aku disini ingin melepas rindu dan bersenang-senang,bukan untuk mendengar omelan ibu.".Anayra acuh berlalu masuk kedalam rumah,meninggalkan ibunya yang terbengong sendirian.
"Ya ampun,apa dia anakku?.".Hani melongo tak percaya mendengar celotehan putrinya yang sudah menikah dan sudah berumah tangga itu."Apa dia mengidam?.".Tak biasanya melihat Anayra makan buah mangga muda sepagi itu.
Tak hirau lagi soal itu,Hani bersih-bersih dihalaman dan menyirami tanaman.Tanpa rasa ragu,Anayra mengupas kulit hijau mangga yang masih mengkal dan memotong daging buah berwarna putih.Memakannya begitu saja tanpa terasa kecut sama sekali dilidahnya.
Anayra menghentikan makannya saat teringat sesuatu."Akhhh,aku lupa.Seharusnya aku siap-siap.".Tergesa-gesa masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berpakaian dikamar.
Semalam Khaffa menghubunginya,jika hari ini akan menjemput nya pulang.
Di kediaman Andika.
Pagi yang cerah tak serta merta membuat Khaffa bersemangat untuk bangun pagi.Selama 3 hari tak didampingi Anayra terasa berat baginya hingga sering bangun kesiangan.Setiap malam susah tidur dan gelisah,lewat dini hari baru bisa tidur.
Tidur sendirian terasa tak nyenyak karena Khaffa tak bisa memeluk istrinya,dan makan pun terasa tak enak rasanya tanpa pelayanan dan tak ditemani istri.
Mata masih dalam keadaan terkantuk-kantuk,Khaffa bangun dengan malas dan terduduk di tepi tempat tidurnya.Tangannya terulur meraih ponselnya diatas nakas.
Prakkk.
Saat bersamaan tak sengaja tangannya menyenggol figura foto kecil,foto dirinya dan Anayra hingga terjatuh dilantai.Khaffa tertegun melihat kaca figuranya yang retak,dan tiba-tiba perasaannya menjadi tidak karuan.
"Jemput istri ku sekarang.Aku kirimkan alamat nya.Pastikan istri ku pulang dengan selamat,dan beri pengawalan ketat.".Meletakkan ponselnya usai menutup panggilan dan setelah mengirim pesan singkat pada orang yang dipercaya nya.
Khaffa meraih figura foto yang terjatuh dari atas nakas dan mengamatinya.Khaffa menjadi tidak enak hati,hingga berinisiatif mengirim orang-orang untuk mengawal kepulangan Anayra.
Khaffa meletakkan fotonya ditempat semula,beranjak dan bersiap diri untuk kerja.Mandi terlebih dulu dilakukan Khaffa,dan berpakaian lengkap dengan setelan jas kerja nya seperti biasa.Khaffa keluar dari kamar dan turun melewati tangga dengan menenteng tas kerja.
Tiba dilantai bawah,Khaffa menghampiri orang tua nya."Mami,Papi,aku tidak akan sarapan.Aku harus mampir ke suatu tempat.".Terbersit dibenak Khaffa untuk membeli sesuatu sebagai kejutan romantis dalam menyambut kepulangan Anayra nanti.
Rena yang duduk di sofa ruang tengah,menunggu Khaffa untuk sarapan bersama menjadi kecewa."Khaira dan kamu sama saja.Hampir setiap hari Khaira melewatkan makan malam dan sarapan pagi dirumah.Kamu semalam lebih memilih makan diluar,dari pada makan bersama orang tua mu?.".Meluapkan kekecewaannya.
Andika menemani Rena sejak tadi disofa,angkat bicara."Biarkan saja.Ini bukan jaman penjajahan,Mami jangan memaksa!.Lagi pula mereka sudah dewasa.".Menyikapinya dengan bijak dan santai."Pergilah!,Mami mu tidak akan berhenti mengoceh.".Andika tak tega dan menyuruh Khaffa pergi,daripada nanti harus mendengar ocehan ibunya.
"Maaf!.Aku pergi,assalamu alaikum.".Khaffa pergi usai mencium tangan ayah dan ibunya.
"Waalaikum salam.".Andika mewakili menjawab salam.
Rena yang merengut terus,beranjak berdiri."Rumah ini kacau sejak Anayra pergi.Khaira bertingkah semaunya sendiri.".Usai kepergian Khaffa,berjalan diikuti Andika menuju ruang makan."Tensi darah ku pasti naik.".Mengomel dan berkeluh kesah tanpa merasa lelah dan jenuh."Harusnya aku menikmati masa tua ku ini.".Duduk dikursi makan dengan hati dongkol.
"Mami....".Andika mulai jengah mendengar ocehannya.
"Apa?.".Rena bertanya dengan intonasi suara yang tinggi,dan tangannya tertahan saat akan mengambil piring makannya.
"Tidak.".Andika mengurungkan niatnya untuk memarahi Rena,dan cengar-cengir kala melihat Rena memelototi nya."Tidak baik marah-marah terus,lebih baik kita makan saja,ayo!.".Menyodorkan piringnya yang tergeletak dimeja makan pada Rena dengan hati-hati,takut Rena marah.
Mengalah sedikit demi kebaikan bukan hal yang sulit dilakukan Andika,walaupun perannya sebagai kepala rumah tangga terkadang merasa diabaikan Rena.Tetapi menjaga ketenangan,kerukunan dan kebahagiaan dirumahnya lebih penting baginya daripada memikirkan egonya sendiri.Kebahagiaan istri dan anak pun menjadi prioritas utama nya.
Melihat senyum Andika yang tampak dipaksakan dan menatapi nya aneh dengan memasang raut wajah masam,Rena menjadi tersinggung."Papi,jangan melihat ku seperti itu.Aku bukan monster yang harus ditakuti.".Tangan Rena bergerak memasukkan makanan ke dalam piring Andika dan meletakkannya didepan Andika,dan matanya tertuju pada suaminya.
"Mana ada monster secantik Mami?.".Andika memberi pujian untuk menyenangkan hati Rena dan berhasil,Rena senyam-senyum dan mengedip-ngedipkan matanya.
Tak membahas panjang itu lagi.Rena dan Andika menyantap makanan yang dihidangkan di meja makan,hasil olahan tangan sang juru masak yang sesuai seleranya dan keluarga nya.
***
Semoga suka kakak...Tolong tinggalkan jejak dan komentar.Lebih baik lagi jika memberi ku rating...Terima kasih 😘
__ADS_1