Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
124.Rasa dihati yang membingungkan.


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah,sepulang dari kantor,Khaffa singgah ke restoran.Tanpa merasa curiga dan merasakan sesuatu yang janggal,sejak kepergian nya meninggalkan basement, sebuah mobil mengikutinya yang ditumpangi seorang pria.


"Selamat malam,Pak Khaffa?.".


Khaffa dikagetkan kehadiran seorang pria berpenampilan rapi dan berkelas,aktivitas makannya pun terhenti saat baru menyantap makanannya belasan menit yang lalu.


Khaffa mendongak menatap pria yang berdiri dihadapannya,dan mulai menjadi salah satu relasi bisnisnya sekarang ini."Tuan Franstian,anda makan malam disini juga?.".


Waktu memang sudah menunjukkan pukul 20:00,masih ada waktu untuk makan malam.


"Benar.Senang sekali bisa berjumpa dengan anda disini.".Franstian tampak senang,terlihat dari raut wajahnya yang mengulas senyuman."Jika tidak keberatan,boleh aku ikut bergabung?.".Kesempatan ini takkan disia-siakan nya.


"Silahkan,jangan sungkan!.".Tanpa merasa keberatan dan penuh kesopanan,Khaffa menunjuk kursi kosong di seberang nya.


"Terima kasih.".Penuh wibawa dan karisma Franstian duduk dihadapan Khaffa.


Ini kesempatan yang tepat untuk Franstian mencari tahu ruang lingkup Khaffa dan Anayra.Usahanya mengikuti mobil Khaffa yang dilakukan anak buahnya atas perintahnya cukup membuahkan hasil.


Tanpa instruksi dari Franstian,Khaffa melambaikan tangan untuk memanggil pelayan restoran,dan memesankan makanan sesuai permintaan Franstian.


Franstian intens menatapi Khaffa,aura dingin nya samar terlihat di wajahnya yang tegas."Ini suatu kehormatan untuk ku,bisa makan malam bersama pengusaha sukses seperti anda.".Berbasa-basi dengan ramah,demi menjaga niat terselubungnya.


Itu tak dipungkiri Khaffa,tetapi itu semua bukan suatu kebanggaan baginya.Prestasi yang diraihnya memang hasil kerja keras nya sendiri dan kinerjanya yang mengagumkan,tetapi itu bukan hal yang membuat Khaffa puas dan bahagia.


"Anda terlalu berlebihan,tuan Franstian.".Merendahkan diri,Khaffa tak ingin menjadi besar kepala karena suatu pujian."Maaf!,aku agak risih mendengar pujian.Tapi,kurasa tuan Franstian seperti nya lebih hebat dari ku.Bisa memproduksi sendiri produk marketing anda.".Proposal yang diajukan Franstian tadi sore,menjadi bukti nyata yang dilihat nya dari seorang Franstian.


Franstian begitu senang,dan mengulum senyumnya mendapat pujian dari orang sehebat Khaffa."Anda terlalu memuji ku.Aku hanya menyumbang ide saja,dan pegawai ku yang mengerjakan nya..".Pura-pura merendahkan diri,untuk menarik perhatian Khaffa.


Khaffa mulai tertarik,dan menjadi ingin lebih mengenal jauh Franstian."Pegawai seperti kotak kosong dan kertas polos,jika kita tidak mengisi nya dan memberinya ilmu.Benar bukan,tuan Franstian?.".Mengungkapkan pendapat nya,dan menarik satu alisnya keatas.


"Aku setuju.".Franstian mengangguk."Tapi aku keberatan,Pak Khaffa terlalu formal.Jadi,panggil saja aku Frans!.".Tak ingin menjaga jarak dan ingin mendekatkan diri dengan Khaffa.


ltu terdengar aneh bagi Khaffa,sebagian besar orang sangat ingin dihargai nya.Suatu kehormatan bagi orang lain jika Khaffa menyematkan panggilan,dan seperti direndahkan jika Khaffa memanggil nama saja.


"Kurasa kita belum sedekat itu.".Khaffa tak bisa asal mengakrabkan diri dengan orang yang baru dikenalnya."Mmm,maksudku tidak baik hanya memanggil nama saja.".Cepat-cepat meralat ucapannya,saat Franstian tampak tersinggung dan mengerutkan kening."Sepertinya,anda lebih tua dari ku ?.".Mencari alasan yang tepat,demi menjaga kenyamanan dan perasaan Franstian.


Franstian menyadari sikap Khaffa yang bermaksud baik dan menghormati diri nya."Baiklah,jika anda tidak nyaman.".Jika memaksa,tak mau membuat Khaffa tersinggung dan akan menyulitkan misinya nanti."Wajah tua ku seperti nya memang tidak bisa disembunyikan.".Itu alasan tepatnya untuk membuat Khaffa merasa nyaman.


Khaffa terhenyak,Franstian membuat nya tak enak hati."Tidak!.Maksudku bukan begitu...".Tertahan saat pelayan restoran datang dan menyajikan makanan untuk Franstian.


Melihat Khaffa tampak merasa bersalah,Franstian terpaksa mengakui nya."Aku memang 3 tingkat diatas anda.Dari ulasan majalah yang ku baca,anda masuk dalam 10 besar,sebagai pengusaha muda yang sukses,tampan,populer dan terfavorit.".Franstian pernah mencari tahu biodata lengkap Khaffa,dan tak sengaja melihat profil Khaffa di majalah yang dibaca nya,jauh hari sebelum bertemu Khaffa.


Kali ini Khaffa menanggapi nya dan tersenyum tipis,meskipun risih mendengar itu.Tetapi konyol jika berkelit,dan tak sopan jika menyangkal dan menolak lagi pujian dari Franstian yang memang sudah terbukti kebenarannya."Baiklah Frans,sepertinya kita seimbang dan sepadan sekarang.Lupakan formalitas,dan panggil aku Khaffa.".Tanpa merasa curiga sedikitpun.


"Aku lebih suka itu.".Senyum lebar disunggingkan Franstian,Khaffa mulai membuka diri untuk nya."Oya,kenapa tidak makan dirumah?.".Franstian mencari tahu keberadaan Anayra,disela makannya.


"Istri ku bersama orang tua nya.Tidak enak rasanya jika makan tak ditemani istri.".Tatapan Khaffa hampa dan menerawang jauh,merasa kesepian dan sangat merindukan Anayra.


"Karena itu alasan mu kemari?.".Franstian menyelidikinya dengan hati-hati.


"Disini cukup menghibur hati ku,dan bisa mengalihkan pikiran ku.".Khaffa menutupi rasa sedihnya dan bersikap santai.


Pura-pura peduli,Franstian menghela nafas,seolah bisa merasakan yang Khaffa rasakan."Kau pasti sangat merindukan nya?.".Pertanyaannya dibalas anggukan kecil oleh Khaffa."Kupikir kau belum menikah dan masih melajang.Kau belum pernah mempublikasikan nya.".Sebelum dipertemukan dengan Sera Novi,dirinya tak tahu menahu soal pernikahan Khaffa."Jika aku tidak tau dari media sosial,dari orang yang sengaja mengunggah video mu di Teater.Aku tidak akan pernah tau itu,termasuk orang lain.".Seolah mengetahui hal itu dari media sosial,dan tak menceritakan jika Sera Novi yang menjadi sumber informasi pertama nya.

__ADS_1


Hubungan Anayra dan Khaffa menjadi buah bibir dan trending topik di media sosial.Saat peristiwa yang terjadi di teater di rekam seseorang,kabar pernikahan Khaffa pun mencuat ke permukaan dan menjadi topik hangat pembicaraan orang-orang.


Khaffa tak bisa mengelak dan tak bisa merahasiakan itu lagi.Kabar itu sudah santer terdengar dan tersebar luas,sampai ke telinga nya.Nichole sebagai asisten nya,bergerak cepat menunjukkan rekaman video tersebut pada Khaffa beberapa hari yang lalu.Namun tak bisa berbuat apa-apa dan tak bisa menutup mulut orang-orang.


"Entah lah!,aku tidak tau.Orang tertarik pada status ku,atau pada tindakan ku?.Aku tidak bisa membaca pikiran orang lain.".Khaffa tak bisa menduga-duga sendiri.


Franstian bisa menangkap maksud Khaffa."Kurasa kedua nya.Peristiwa berdurasi pendek itu cukup menarik untuk disimak.".Berseloroh dan tertawa kecil,untuk menghibur hati Khaffa."Itu kesempatan untuk menaikkan pamor dan pendapatan perusahaan.Jika itu terjadi pada ku,aku akan senang sekali dan akan ku manfaatkan.".Jiwa bisnisnya dipamerkan.


Khaffa mengerti yang dimaksud Franstian."Aku tidak bertujuan untuk itu.".Menepis nya santai dan menyantap makanannya kembali.


"Lupakan!,itu hanya lelucon ku saja.".Franstian mengibaskan tangannya,dan merasa tak enak hati karena asal bicara saja.


"I'ts ok!.".Tak dipermasalahkan Khaffa.


Yang terpenting bagi Khaffa saat ini bisa menyingkirkan Sera Novi dari tempat kerjanya.Khaffa tak mau Sera Novi berulah lagi di Mall yang melibatkan anayra,dan tak ingin melihat wajahnya lagi yang membuat nya menjadi muak dan geram.


Setelah makanan pesanan nya telah disajikan pelayan,Franstian memakannya,dan melanjutkan pembicaraan.


"Sepertinya,gadis itu telah membuat kesalahan?.Aku yakin,kau tidak akan memarahi nya tanpa alasan yang jelas?.".Franstian mengorek informasi sedikit seputar peristiwa yang melibatkan Sera Novi,gadis yang kini dicintainya dan bahkan kerap berhubungan intim tanpa ikatan suci pernikahan.


Franstian melabuhkan cintanya pada Sera Novi sejak pertemuan pertama nya di Night Club',dan saat itu juga memadu cinta untuk pertama kalinya dengan Sera Novi yang dalam keadaan mabuk.


Awalnya Sera Novi terkaget dan marah saat terbangun dari tidurnya disamping seorang pria dalam keadaan tanpa busana,dan mengingat kejadian tadi malam yang dilakukan pria disampingnya itu.Namun Franstian berhasil menenangkannya dan meyakinkan hatinya.Kekuasaan dan kekayaan yang Franstian miliki membuat Sera Novi luluh dan menerima cinta Franstian dengan syarat tertentu.


Franstian terkejut akan syarat tak masuk akal yang diajukan Sera Novi.Sialnya,Franstian tak bisa menolak karena tak bisa berpaling dari pesona Sera Novi dan kepalang tanggung sudah sangat tergila-gila pada gadis yang memberinya kepuasan itu.Franstian bersedia melakukan apapun untuk gadis nya itu,bahkan berniat membalaskan dendam Sera Novi demi membuktikan rasa cinta nya pada gadis yang telah menjadi bagian dari hidupnya,saat ini.


"Itu hanya kesalah pahaman saja.Saat itu suasana hati ku sedang tidak baik.Emosi ku tidak stabil dan tidak terkendali.".Amarah membakar hati Khaffa saat itu,hingga tak bisa mengontrol diri atas perlakuan nya pada Sera Novi.


"Jika gadis itu tidak membuat masalah dengan istri ku,aku tidak akan mempermalukan nya di area terbuka.".Khaffa menjelaskan permasalahan yang sebenarnya,dan menyesali perbuatannya.


Bagaimana pun Khaffa manusia biasa.Sedingin apa pun sikapnya,Khaffa memiliki perasaan,dan tak berniat kasar jika ketenangannya tak terusik,dan amarahnya tak terpancing.


"Sefatal apa kesalahannya?.".Hal itu membuat Franstian penasaran,dan ingin tahu versi Khaffa.


Sera Novi menutupi alasan sebenarnya dan Franstian tak tahu soal itu.Demi mencari perhatian dan simpati Franstian,maka Sera Novi membuat alasan lain.


"Dia berusaha menyakiti istri ku.".Khaffa mengungkapkan kebenaran nya dan menggeram,kala rekaman video dari cctv berkelebat di pikirannya.


"Ouh...".Franstian baru mengetahui alasan sebenarnya dan cukup terkejut.


Itu menjadi kata terakhir Franstian untuk menutup pembicaraan.Dengan tenang dan hening,menyantap makanan nya masing-masing.


Saat malam tiba,Alma gelisah dan berjalan mondar-mandir dikamar dengan setelan baju tidur."Aku harus bagaimana?.Aku tidak bisa menghindarinya terus,tapi aku takut.".Alma kebingungan sendiri,dan masih takut untuk tidur bersama Daniel.Rasa trauma masih menghantui pikirannya."Aku ada ide.".Bibirnya merekah tatkala sebuah ide muncul di kepala nya,dan tergesa mewujudkan ide nya.


Saat suara pintu dibuka,Alma bergegas naik ke tempat tidur,menyelimuti diri dan pura-pura tidur.


Daniel mengunci pintu,dan keningnya berkerut memperhatikan sebuah permadani digelar di lantai.Bantal dan guling sudah tertata rapi diatas permadani itu.


Melihat itu semua,hati Daniel terasa panas dan kecewa."Haruskah aku melewatkan malam pertama dan kedua?.".Sakit hati nya tak bisa mereguk manisnya malam pertama."Miris sekali.".Senyumnya yang kecut mewakili suasana hatinya."Malam pertama adalah malam terindah,tapi itu tidak berlaku untuk ku.".Pandangannya teralihkan pada tubuh Alma yang tertutup selimut.


Seketika Daniel membuang nafas kasar,merasa diabaikan Alma dan merasa tak dianggap.


Dalam keheningan dan mata terpejam,Alma memasang telinganya baik-baik.Semua kata-kata yang dilontarkan Daniel didengarnya,dan bergumam lirih."Maaf!.".Sebagai istri,tak bisa melaksanakan kewajiban nya dan memberikan hak Daniel,sebagai suaminya.

__ADS_1


Dengan berat hati,Daniel tidur beralaskan permadani,dan hanya berbalut celana Jogger dan kaos hitam,tanpa selimut.Mata Daniel menatapi lampu kamar yang terang benderang dengan pikiran menerawang jauh."Kuharap ada keajaiban,dan bisa melewati semua ujian ini.".Dengan hati penuh harap.


Keheningan didalam kamar mengiringi tidurnya di malam hari,pada hari kedua pernikahan mereka.Harapan Daniel bisa melewatkan malam pertama yang indah dan manis,semanis madu bersama sang istri,takkan pernah terjadi.Bahkan takkan pernah dirasakannya dan takkan terwujudkan.


Menjelang fajar,Alma bangun,menguap dan menggeliat.Saat melihat Daniel tertidur pulas tanpa ditutupi selimut disamping tempat tidur,hatinya merasa iba dan kasihan."Maaf!.Itu terpaksa ku lakukan.Kuharap kamu mengerti.".Perlahan turun dari tempat tidur dan menyelimuti tubuh Daniel yang meringkuk kedinginan.


Pagi hari,Alma berdiri di teras villa dengan berpegangan pada pagar kayu saat menikmati pemandangan alam yang alami disekitar villa.Area taman yang dipenuhi bunga-bunga,pohon palm dan rerumputan hijau,menambah kesejukan udara dan menyegarkan mata.Terhampar luas dan indah sehingga mampu menghipnotis pikiran nya.


Hembusan angin pagi yang sejuk menghampiri tubuhnya.Alma memeluk diri sendiri untuk memberikan kehangatan tubuhnya,dan mata menerawang jauh memandang cakrawala senja yang tak bertepi."Maaf!,jika aku egois.Beri aku waktu untuk membuka hatiku.Aku bingung dengan semua yang terjadi dan ku alami ini.Terpaksa ku menutup diri dari mu.Tidak mudah untuk ku,seperti kata mu.Jika masih ada banyak waktu dan kesempatan untuk kita,tunggulah sampai aku siap!.".Hatinya menangis sedih,menyesali sikapnya sendiri.


Tanpa disadari Alma,Daniel berdiri dibelakang nya dan mendengarkan rintihan isi hati nya.


Daniel tak mampu berkata-kata,helaan nafasnya terasa berat tatkala mendengar isak tangis Alma."Ini masih terlalu pagi.".Penuh rasa sayang menyampirkan pasmina ditubuh Alma yang menggigil kedinginan,dan bersikap acuh seolah tak mendengar apapun.


Tangan dinginnya mengusap air mata yang menetes di pipinya,dan terkejut-kejut Alma menatapi Daniel."Se-sejak kapan disini?.".


"Baru saja.".Daniel berbohong sedikit,demi menjaga kenyamanan gadis cantik disampingnya yang telah sah menjadi istri nya."Tidur mu nyenyak?.".Terpesona saat menatapi wajah cantik alami Alma yang diterpa sinar mentari pagi.


Daniel


Saat rambut Alma yang tergerai meliuk dan melambai dihembus semilir angin,semakin memperlihatkan leher jenjang dan putih mulus,Daniel menelan salivanya.Berdekatan dengan Alma membuat darahnya berdesir hangat,dan itu hal yang menyakitkan nya.Nalurinya sebagai seorang pria sejati dan dewasa,seketika terpancing.Hasratnya yang tak terlampiaskan atas haknya sebagai suami menjadi beban dihatinya.


"Hemh...Terima kasih membawaku kemari.".Panorama alam yang indah dan alami didepannya menjadi pusat perhatian Alma.


"Kamu suka tempat ini?.".Daniel senang,usahanya tak sia-sia mengajak Alma ke villa.


"Cukup menyenangkan hati dan menenangkan pikiran.Tempat ini indah dan sejuk.Bukankah ini ciptaan Tuhan yang tercipta alami?,tanpa rekayasa dan tidak dibuat-buat.Tanpa kebohongan dan kepalsuan.Tidak seperti hubungan kita.".Tanpa seulas senyum,Alma menatap Daniel yang membeku.


"Aku tidak pernah menganggap seperti itu.Aku tulus menikahi mu,jadi jangan berspekulasi jika niatku itu palsu dan penuh kebohongan.".Tanpa nada amarah,Daniel menyangkalnya,demi menjaga suasana hati Alma.


Daniel tak bisa diam saja,jika Alma menuduhnya yang bukan-bukan tuk kesekian kalinya.Kerap kali meyakinkan hati Alma,tetapi tak digubris dan tak ditanggapi Alma.Hal itu membuat hatinya sedih dan kecewa,tetapi tak membuat nya menyerah untuk terus meluluhkan hati Alma.


"Jika hati ku tetap meragukan mu?.".Aura dingin dan sorot mata Alma yang tajam,mengiris hati Daniel.


Berbagai macam alasan menjadi penyebab utama lemahnya kepercayaan Alma pada Daniel.


Daniel bingung dan menjadi serba salah dengan semua yang dilakukan dan dikatakannya pada ibu dari anak nya ini.Alma seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak,kapan pun dan dimana pun.


"Kurasa makanan untuk sarapan pagi sudah siap.Aku akan memeriksa nya.".Tanpa hirau akan kata-kata Alma,Daniel berlalu dari hadapan Alma.


Menghindar lebih baik bagi Daniel.Jika tetap di sisi Alma,akan memantik api amarahnya dan bisa memicu pertengkaran.Itu sangat dihindari Daniel mengingat Alma tengah mengandung.


Melihat kepergian Daniel,Alma berpikir jika Daniel sengaja menghindari nya.Menjadikannya penasaran dengan jawaban Daniel,dan isi hati Daniel yang sesungguhnya padanya."Dia tidak menjawab.Itu semakin membuat ku ragu padanya.".Fokus kembali pada pemandangan didepannya."Bukankah lebih baik,jika terus meyakinkan hati ku?.".Menghela nafasnya yang terasa sesak.


Alma ingin melihat kegigihan Daniel dalam meluluhkan hatinya.Walaupun masih bingung dengan perasaannya sendiri pada Daniel.


"Aneh.Tempat seindah dan semenarik ini tidak bisa membuat nya berpikir jernih.Sayang sekali jika disia-siakan,bukan?.".


Kesempatannya bisa berada di tempat seindah itu tak dimanfaatkan Daniel dengan baik.Alma sangat menikmati waktunya berada di villa itu yang cukup menghibur dirinya dan bisa mengalihkan perhatian nya agar tak fokus pada Daniel.


***


Semoga suka kakak... Terima kasih dan berikan aku dukungan...💕

__ADS_1


__ADS_2