Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
Bab 1.Awal bertemu.


__ADS_3

*****


Pagi hari,Anayra membuka kembali album kenangan manis dan indah nya bersama pria yang statusnya kini sebagai mantan kekasih didalam kamar.Satu persatu Anayra membuka lembaran album dan menatap lekat seraut wajah pria yang masih belum bisa dilupakan Anayra hingga sekarang.


"Dia pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan.".Anayra mendesah panjang tatkala teringat akan pria yang pernah mengisi hatinya yang hampa dan hari-harinya yang hambar.


Pria itu pergi meninggalkan nya tanpa seucap kata perpisahan usai memporak-porandakan hatinya,menghancurkan mimpi dan harapannya.


Kala peristiwa setahun lalu yang menyakitkan masih terekam jelas di memori kepalanya,Anayra tersenyum miris.


"Saat ini mungkin kami sudah tunangan,bahkan mungkin sudah menikah.Tapi takdir tidak mengijinkan kami untuk hidup bersama.".Tanpa terasa,air matanya luruh seketika."Jika saja itu tidak pernah terjadi.".Anayra menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.Menahan suara isak tangis agar tak terdengar oleh orang tua nya yang tengah duduk bersantai di ruang tengah.


Betapa malang nasibnya.Dua Minggu sebelum hari pertunangan digelar,Anayra harus menggigit jari karena kecewa.Pertunangan yang sudah direncanakan bersama sang kekasih dan hampir didepan mata,terpaksa harus dibatalkan dan tak pernah terlaksana.


Seperti tersambar petir rasanya ketika memergoki sang kekasih bercumbu bersama gadis yang tak lain adalah mantan kekasih dari sang kekasih.Dengan mata kepala sendiri Anayra melihat kedua nya bercumbu dikamar dan di rumah yang akan ditinggali nya bersama pria yang akan menikahinya nanti.


***


Sore hari,Anayra berpakaian usai mandi.Hari ini Anayra akan kembali ke Jakarta sebab besok harus bekerja.Sengaja Anayra pulang ke Bandung untuk menghabiskan waktu cutinya bersama keluarga tercinta.


Setelah siap,Anayra berjalan keluar dari kamar sambil menenteng tas ransel jinjing,lalu mendekati ibunya yang sibuk di meja makan sedang membereskan peralatan makan bekas sarapan pagi tadi.


"Sudah siap kak?.".Sang ibu menyapa sambil mencuci peralatan makan yang kotor.


"Hemhhh..".Anayra mengangguk mengiyakan dan berlalu keruang tengah dimana ayah dan adiknya berada diikuti sang ibu dibelakang."Aku pamit pergi,ayah,ibu,adek jagalah diri kalian disini!.".Dengan takjim dan penuh rasa sayang Anayra mencium punggung tangan orang tuanya dan memeluk adik laki-laki satu-satunya.


"Kamu yang harus menjaga diri disana!.Hidup dikota itu sangat berat dan keras.Apalagi kamu seorang gadis.".Sang lbu mengingatkan Anayra dan membelai rambut putri kesayangannya.


"Pintarlah menjaga dirimu baik-baik!.Jangan lupakan kewajiban mu setiap waktu nya!.".Sang ayah menimpali dan menepuk-nepuk pundak Anayra,dengan perasaan berat melepas putrinya pergi jauh dan tak bisa mengawasi nya setiap hari.


"Aku mengerti!,tidak harus diingatkan lagi.Tinggal disana bukan kali pertama untuk ku.Hampir dua tahun aku hidup dikota itu.".Saat melihat jam ditangannya,sekarang inilah waktunya Anayra untuk pergi."Aku harus pergi,Assalamu alaikum?.".


"Waalaikum salam.".Serempak tiga orang yang disayangi Anayra menjawab dan mengantar nya keluar.


Sesampainya diteras Anayra melambaikan tangan dan tersenyum manis sebelum menghilang dari pandangan mereka.Anayra menyetop taksi untuk pergi ke stasiun kota.


Setibanya di stasiun,Anayra terkejut melihat antrian panjang di loket.


"Ya ampun,antriannya panjang sekali.".Gadis berambut panjang diikat ekor kuda itu melongo tak percaya.


Demi tiketnya yang sudah dipesan,terpaksa Anayra berdiri dibarisan panjang itu.Berdiri sambil menjinjing tas ransel ditangannya didepan loket pembelian tiket distasiun besar pusat kota Bandung.


"Iyuhhh,panas sekali.Kaki ku pegal lagi.".Suhu ruangan itu terasa panas dan membuatnya gerah,Anayra mengipasi wajahnya menggunakan telapak tangan.Kakinya terasa pegal efek berdiri terus lalu Anayra stretching.


Orang-orang terus menatapnya tanpa henti,Anayra menjadi risih karena itu.Sekilas Anayra menelisik penampilan nya yang berbalut Skinny jeans,hoddy warna krem dan sepatu sneaker.


"Tidak ada yang aneh.".Benda-benda yang melekat ditubuhnya menunjang penampilannya yang kasual dan tak tabrak warna,tetapi orang-orang terus memperhatikan penampilan nya.Anayra jadi heran.


Lama menunggu akhirnya Anayra bernafas lega gilirannya telah tiba.Baru juga Anayra akan melangkah ke depan loket,tetapi diluar dugaan tiba-tiba seorang pria datang dari arah samping menerobos antrian dan menyela,sontak langkah Anayra tertahan


"Ya ampun.Tidak sopan..".Anayra geleng-geleng kepala melihat sikap lancang pria didepannya.


"Selamat sore mbak.Tolong tiketnya atas nama Khaffa Alyandra,aku sudah reservasi sebelumnya.".Pria berperawakan tinggi dan atletis berbicara pada pegawai loket.


"Baik,tunggu sebentar!.".Pegawai loket mengalihkan pandangan pada komputer didepannya.


Wajah Khaffa tak bisa dilihat dari belakang,Anayra pun terpaksa hanya melototi punggung Khaffa saja.


Benar-benar tidak sopan dan tidak punya etika.Menyebalkan sekali...


Anayra merutuk dalam hati dan memasang raut wajah jutek saking kesalnya.


Khaffa yang berbalut jaket blouson warna abu tua dari merk ternama itu bersikap acuh dan dingin.Tak perduli dengan gadis yang dibuatnya kesal dan menggerutu dibelakang.


Karena kesal,Anayra menepuk bahu Khaffa agar Khaffa berbalik.Refleks Khaffa berbalik kearahnya lalu Anayra pun melampiaskan kekesalannya.


"Heiii...Bukankah seharusnya itu giliran ku?.Di mana sopan santun mu,hemh?.".Anayra menatap tajam Khaffa,tak terima gilirannya dicuri.


Sesaat Khaffa terpaku melihat kecantikan Anayra namun tampak tak bersahabat,ketus dan jutek.Membuat Khaffa merinding."Maaf!,aku buru-buru.".Mencelos berbalik ke depan,fokus pada niatnya kembali.


Sejenak Anayra terpesona melihat ketampanan Khaffa.Namun raut wajah Khaffa yang dingin dan datar,Anayra geleng-geleng dan memutar matanya jengah.


"Ya ampun.Jika meminta maaf ada gunanya,untuk apa ada hukum dan kantor polisi?.".Sengaja menyindir Khaffa agar Khaffa jera dan kapok.Tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Khaffa tetap acuh.Pura-pura tak mendengar ocehan Anayra.Mungkin Anayra hanya ingin mencari perhatiannya saja.Tak sedikit gadis-gadis yang ingin berkenalan dengan modus receh demi bisa mendekatinya.Khaffa yakin,Anayra sama seperti gadis-gadis itu.


Jujur Khaffa akui,Anayra cukup menarik,cantik dan salut karena keberaniannya.Namun Khaffa tak perduli.Rasa trauma mendinginkan hatinya dan menjauhkan diri dari urusan cinta.


"Silahkan,ini tiketnya!.Keretanya ada dijalur 2 dan akan berangkat sesuai jadwal."Pegawai itu menyerahkan selembar tiket KA pada Khaffa dan memberi petunjuk.


"Terima kasih!.".Khaffa mengambil tiket,usai itu pergi dengan tenang dan santai,tanpa perduli akan tatapan Anayra yang memicing tajam,saat menatapnya.


Bibir Anayra merengut melihat keangkuhan Khaffa."Pria itu angkuh sekali.Sulitkah mengucapkan kata terima kasih?.".Mencelos maju ke depan loket lalu bertransaksi.


Selesai membayar,Anayra pergi menuju area peron KA setelah melewati petugas KA terlebih dulu untuk memeriksa tiketnya.Melangkahkan kaki kearah KA yang sudah ada dijalurnya dan sesuai jurusan keberangkatan.

__ADS_1


Didalam gerbong kereta,Anayra celingukan mencari nomor kursi penumpang sesuai yang tertera ditiket.Saat menemukannya,cepat-cepat menghampiri kursi itu.Menyimpan tas ransel di tempat penyimpanan barang lalu duduk di kursi penumpang.


Tanpa disadari Anayra,sejak tadi sepasang mata pria memperhatikan gerak-geriknya sambil menautkan kedua alis.


"Huuuh...Melegakan,akhirnya aku bisa duduk.Pegal sekali kakiku.".Anayra bernafas lega bisa duduk juga setelah lama berdiri.


Pelan-pelan memijat betisnya yang terasa pegal dan menselonjorkan kakinya dengan santai.


"Ekhmmm...


Anayra tersadar saat terdengar suara deheman pria yang duduk disampingnya,dan refleks menoleh pada pria itu.


Dia lagi?.Ya ampun,kebetulan sekali.Kenapa bisa duduk bersamanya.Ahhh,sial...


Anayra tersentak melihat seraut wajah pria yang dikenalnya sudah duduk disampingnya lebih dahulu,sebelum dirinya.Tak lain dan tak bukan pria itu adalah Khaffa yang menerobos antriannya.


Khaffa berdehem karena risih duduk dikursi yang sama dan berdekatan dengan Anayra.Gadis yang memasang raut wajah jutek,bicara ketus dan menyindirnya tadi.


"Sepertinya budaya antri dinegeri ini tidak berlaku untuk orang yang tidak waras dan tidak punya etika.".Anayra kembali menyindir Khaffa,masih belum puas melampiaskan kekesalannya.


Ya,bagi Anayra budaya antri harus ditegakkan demi kedamaian.Bisa dikatakan kesialan yang membawa untung,karena bisa membalas keangkuhan Khaffa.


Paham Anayra menyindirnya,sontak Khaffa menoleh dan menatap tajam Anayra."Kamu bicara padaku?,yang kamu maksud aku?.".Menunjuk wajahnya,meminta penjelasan Anayra.


"Matamu buta?.Adakah orang lain lagi selain kamu disini?.Payah sekali.".Dilihat dari situasi memang hanya ada mereka berdua yang duduk dibarisan kursi itu saat ini.Siapa lagi jika bukan Khaffa.


Hati Khaffa memanas dan menjadi berang seketika,mendengar ucapan Anayra."Kurasa telinga mu tuli,sampai tidak mendengar permintaan maaf ku tadi.".Balik menyindir Anayra dengan nada tak kalah ketus.


Anayra mengakui itu,tetapi tak menyerah begitu saja.


"Tidak bisakah mengucapkan terima kasih sebelum pergi?.".Dengan nada yang menekan,mengingatkan dan melototi Khaffa.


Bukannya melunak hatinya,Khaffa malah semakin geram melihat sikap Anayra dan mendengar nada bicaranya."Kurasa kamu sudah melebihi batasan.".Menggeleng tak percaya,Anayra berani berbicara ketus dengan intonasi suara yang tinggi."Bisakah berbicara baik-baik dan pelan?,kemana attitude mu?.".Tak habis pikir,baru kali ada gadis yang berani melawan dan bersikap lancang padanya.


Khaffa cukup kagum pada gadis disampingnya itu.Namun Khaffa tak terima,Anayra sudah melebihi batasan.Bersikap kurang ajar dan tak sopan.


Alih-alih menjawab,Anayra memutar matanya jengah.Khaffa malah balik bertanya,bukannya mengucapkan kata yang ingin didengarnya.


Tentunya hal itu membuat Anayra jengkel dan marah."Apa itu alasan mu untuk memutar balikkan keadaan?.Kenapa aku yang disalahkan disini? ".Menyerang balik Khaffa dan membalas tatapannya yang sinis.


Khaffa menelisik wajah Anayra yang tampak lugu dan baik.Khaffa pikir,sikapnya pun pasti lembut dan sopan.Namun sayang sekali,ternyata dugaannya itu salah.


"Wajah cantik mu terlihat baik.Tapi sayang,sifatmu bertolak belakang."Sampul yang bagus memang suka menipu.Terlihat bagus tetapi isi ceritanya tidak baik dan tidak menarik.".Khaffa sengaja menyudutkan Anayra."Ck,ck,ck aku terkecoh.Semua yang kulihat dari mu itu,palsu.".Tunjuk Khaffa ke muka Anayra.


Tanpa berkedip Anayra menatap Khaffa,dan terperangah mendengar kata-katanya.Bukannya mengalah dan mengakui kesalahannya malah balik marah-marah dan menghinanya.


Hati Khaffa semakin terbakar emosinya dan tatapan matanya semakin memicing tajam,tatkala mendengar ocehan Anayra.


"Sebaiknya kamu diam!,sebelum kesabaranku habis.".Menghardik Anayra dan memberikan tatapan yang mengerikan."Aku tidak bisa bersikap baik pada gadis kasar dan lancang.".Tegas Khaffa.


Kepulangannya dari rumah Oma dan saudara dari sang ibu,malah diwarnai drama panjang dan tak menyenangkan.Ingin duduk tenang,santai dan nyaman namun malah sebaliknya gara-gara Anayra.


Ibu Khaffa berasal dari Bandung dan pindah ke Jakarta setelah menikah dengan Andika,ayahnya yang berasal dari Jakarta.Namun,sesekali Khaffa ke Bandung jika senggang dan tak sibuk.


Anayra memutar bola matanya jengah,merasa tak dihargai Khaffa."Baiklah.Anggap saja kamu berhutang pada ku,dan kita impas.".Membuang muka dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Anayra diam dan mengalah demi kebaikan.Tak lama mengambil ponsel didalam tas selempang dan memainkan Game untuk menaikkan moodnya yang turun.


Khaffa mengalihkan perhatian dan pikirannya memandangi pemandangan alam diluar jendela.Mendinginkan hati nya yang terbakar emosi oleh Anayra.Untuk menenangkan pikirannya,Khaffa mendengarkan musik dengan earphone terpasang ditelinga sambil terpejam.


Diam-diam Anayra mencuri pandang saat Khaffa tampak tertidur pulas."Kurasa dia sengaja memasang itu ditelinga nya,untuk menghindari ku.".Anayra terus mengamati wajah Khaffa.".Dia terlihat lebih tampan dan tenang,saat tertidur.".Menatapi wajah Khaffa dengan tatapan mata terkagum-kagum."Tapi sikapnya membuatku merinding saja,dingin tapi buas.".Mengingat sikap Khaffa tadi yang tak menyenangkan,Anayra bergidik ngeri.


Ditilik dari wajah Khaffa diatas rata-rata,Anayra tak memungkiri jika tertarik dan terpesona.Tetapi Khaffa bukan tipe pria idamannya.Saat memikirkan sikap Khaffa saja,membuat Anayra bergidik ngeri.


Khaffa yang menjadi pusat perhatian Anayra,tak bergeming sama sekali.Khaffa tertidur pulas dan sibuk dialam mimpinya diiringi musik.


Anayra fokus kembali pada aktivitas untuk memainkan game.Meskipun tak jemu dan tak bosan memandangi wajah Khaffa,yang enak dipandang.Namun Anayra muak membayangkan sikap arogan dan keras kepalanya Khaffa.


Suara peluit petugas KA berbunyi,tanda kereta siap berangkat.Kereta Api mulai bergerak perlahan dijalurnya sesuai dengan jurusan dan tujuan keberangkatan.Kereta Api berhenti disetiap stasiun sesuai dengan rute perjalanannya.Perjalanan dari kota Bandung kekota Jakarta cukup jauh dan lama meskipun tidak selama menggunakan transportasi roda empat.


Selama diperjalanan,Anayra dan Khaffa sibuk dengan dunianya masing-masing.


Akhirnya Anayra dan Khaffa bisa bernafas lega,saat KA berhenti di stasiun besar dipusat kota Jakarta.Anayra dan Khaffa bersiap dan keluar dari gerbong KA.Menenteng tas ranselnya masing-masing berjalan kearah yang berbeda.


Anayra menatap wajah Khaffa sekilas dengan tatapan sinis."Nafasku rasanya sesak saat ada didekat nya.".Berjalan pergi usai itu.


Khaffa acuh dan santai berjalan ke area parkir mobil dan menghampiri mobil miliknya.Masuk dan duduk dikursi kemudi,dengan cepat melajukan mobilnya kearah apartemen mewah miliknya.


Anayra menuju area parkir motor dan menghampiri motor maticnya yang terparkir disana.Melajukan motornya setelah menyalakan mesin dan memakai pelindung kepala.Melaju kencang menuju rumah kontrakan,tempat tinggalnya selama menetap dan bekerja di Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan 30 menit,Khaffa sampai diapartemen.Menaiki lift kelantai atas usai memarkirkan mobilnya dibasement.


Setibanya di unit apartemennya,segera membuka pintu dan bergegas masuk kedalam.Dengan kasar menghempaskan tubuhnya disofa,duduk bersandar untuk beristirahat dan melepaskan lelahnya.


Tersenyum masam bibir Khaffa saat mengingat dan membayangkan wajah seseorang."Aaargh...Berhentilah memikirkan gadis itu.".Melampiaskan kekesalannya dengan Mengacak-acak rambutnya sendiri."Payah!.Untuk apa aku meladeninya.Aku tampak konyol,karena ulahnya.".Membuang nafas panjang dengan kasar,menyesali kekonyolan nya sendiri karena harus meladeni Anayra."Akan ku buat dia membayar perlakuannya padaku.Ku pastikan dia akan menyesalinya,dan bertekuk lutut meminta maaf pada ku.".Tersenyum smirk tatkala membayangkan Anayra yang memohon dan berlutut dihadapannya,dengan mata menerawang jauh dan pikiran berkelana.

__ADS_1


Khaffa tak pernah menyangka,kepulangannya dari Bandung dipertemukan dengan Anayra.Gadis lancang dan ketus pertama yang ditemuinya,dan gadis pertama yang berani melawannya.


Sebelumnya tak pernah ada yang berani bersikap lancang,berbicara ketus dan kasar.Selama ini,banyak kaum hawa yang berharap bisa mengenalnya dan bertekuk lutut untuk mendapatkan cintanya.Bahkan tak sedikit yang memuja dan mengaguminya.


Namun rupanya hal itu tak berlaku bagi Anayra.Pria seperti Khaffa harus dilawan dan diberi pelajaran,tanpa harus memandang fisik dan status sosialnya.Anayra pikir,melawan dan menyerang lebih baik daripada ditindas dan dilecehkan.Itu moto hidupnya.


Khaffa bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.Membersihkan dirinya agar lebih segar saat tubuhnya terasa lengket dan berkeringat bercampur debu.


Usai itu,Khaffa berpakaian ditempat khusus menyimpan pakaian dan barang-barang pribadi lainnya.Berjalan ke bed king size nya dan merebahkan tubuhnya disana.


Badan Khaffa terasa lelah dan matanya terasa berat.Sesaat kemudian Khaffa memejamkan matanya dan tertidur pulas.Khaffa harus merefresh tenaga dan pikirannya dengan tidur karena esok harus bekerja.


Ditempat lain.


Anayra sudah sampai dirumah,tepatnya dikontrakan.Duduk disofa dan menata barang bawaannya dimeja tamu yang dikeluarkan dari tas ransel.


Dari arah pintu,seorang gadis cantik masuk kedalam.Usai menutup dan mengunci pintunya,gadis itu menghampiri Anayra.


"Assalamu alaikum,Nay' kamu sudah pulang?.".Alma menyapa Anayra yang tengah duduk di sofa.


"Waalaikum salam.".Anayra menatap wajah gadis berumur sebaya dengannya,tak lain adalah sahabatnya."Kamu baik-baik saja,wajahmu pucat dan tampak lelah.".Mengamati wajah Alma yang pucat dan tak bersemangat.


Alma duduk disamping Anayra."Aku lapar,ada makanan untuk ku?.".Mengambil dan membuka kotak makanan yang disodorkan Anayra dimeja.


"Martabak.".Alma tersenyum sumringah melihat isinya yang berisi makanan favoritnya dari Bandung."Pucuk dicinta ulam pun tiba.".Merasa senang,karena saat merasa kelaparan,Anayra membawa makanan."Kamu sahabat terbaik ku,tau yang ku inginkan saat ini.".Penuh semangat Alma memandangi makanan itu dan menjulurkan lidahnya.


Alma begitu tergoda saat mencium aroma makanan itu yang menggiurkan dan mengundang seleranya.Anayra dan Alma mulai menyantap makanan favorit mereka.Menikmatinya sembari menatap layar TV.


"Lelah hayati ku.".Alma tiba-tiba berbicara dan menghela nafas berat."Pekerjaanku berlipat ganda karena harus mengambil alih tugasmu.".Mengeluhkan nasibnya dengan mulut penuh makanan.


Kepergian Anayra yang meliburkan diri mengambil cuti selama 3 hari,Alma dibuat kewalahan karena harus mengambil alih tugas Anayra juga.


"Bersyukurlah!,kupikir gajimu jadi berlipat ganda dan dapat bonus juga,bukan?.Seharusnya kamu berterima kasih pada ku.".Anayra mencari alasan untuk menyenangkan hati Alma.


Alma tak memungkiri itu,dalam hatinya."Kurasa kamu benar.Tapi hasil kerja keras ku,tidak sebanding dengan waktu yang ku korbankan.".Menghela nafas berat dan menyeka bibirnya yang belepotan dengan tissue.


Anayra memahami isi hatinya,Alma tampak kecewa tetapi tak bisa berbuat apa-apa."Berhentilah mengeluh.Kamu tidak pandai bersyukur.".Selain bisa menyadarkan Alma,tak ada yang bisa dilakukannya.".Rapihkan dan bersihkan bekas makan mu.".Menunjuk sisa-sisa makanan yang tercecer di meja dan di lantai untuk mengalihkan perhatian Alma.


Bukannya menuruti perintah Anayra,Alma malah meneguk teh hangatnya dan bersendawa.Semakin membuat Anayra berdecak kesal dan geleng-geleng kepala saja melihat tingkahnya.Tak habis pikir dengan tingkah polah sahabat satu-satunya ini,sangat norak dan kampungan.Tak bisa Anayra bayangkan,apa jadinya jika Alma melakukan itu didepan orang lain.


"Berhentilah bersikap konyol,Alma.Kamu membuat ku jijik saja.".Anayra memutar matanya jengah,melihat kekonyolan Alma dan menyikut lengan Alma.


Dimata Anayra,Alma sosok gadis humoris,genit dan centil namun suka usil.Selain itu ada sikapnya yang membuat Anayra jengah,suka asal bicara.Namun yang paling membuat kesal yaitu noraknya.


Alma lebih menomor satukan urusan perut daripada urusan hati.Baginya,cinta nomor kesekian dan tidak terlalu memusingkan soal itu.Namun walaupun begitu,la paling bersemangat maju kedepan saat berhadapan dengan pria tampan.Bahkan sikapnya sangat kentara sekali dengan Anayra.


"Baiklah,cerewet sekali.Kamu seperti ibuku,tidak pernah bisa diam.Tidak membiarkan ku hidup tenang dan membiarkan ku bersikap semau ku.".Alma membersihkan meja dan lantai,usai itu membuang kotak makanan bekas ke tempat sampah yang ada didapur sembari menggerutu.


Usai itu kembali ke ruang tamu,dan menghampiri Anayra."Bagaimana perjalanan mu?.".Duduk kembali disofa dan menyandarkan kepalanya dilengan sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya.Belum lagi perutnya terasa begah,efek kekenyangan."Pasti menyenangkan,bukan?.".Menanti jawaban Anayra dengan mata setengah terpejam,menahan kantuknya.


Alma berpikir seperti itu,karena sering mengalaminya.Melakukan perjalanan pulang-pergi dari Jakarta ke Bandung dan sebaliknya,adalah hal yang paling menarik dan menyenangkan hatinya.


Saat ditanya soal itu,Anayra seketika suasana hatinya berubah menjadi memanas."Aku malas membahasnya,pria itu membuat hari ini hari tersial ku.Entah dosa apa yang kulakukan,hingga bertemu pria yang sombong dan arogan?.".Berkeluh kesah dan memainkan remot tv ditangannya.


Alma serius menyimaknya namun keningnya berkerut tanda tak mengerti,dan terperanjat duduk."Siapa yang kamu bicarakan?.Pria mana?,apa dia tampan?.".Memasang raut wajah penasaran,ingin tahu sosok pria yang dimaksudkan Anayra.


Anayra menjadi semakin kesal."Gadis payah!.Giliran membahas pria,sangat respek dan merespon cepat.".Menimpuk kepala Alma dengan buku novel yang tergeletak di meja."Tampan sekali,hingga aku muak melihat nya.".Membayangkan wajah Khaffa yang garang dan membayangkan sikapnya.


"Apa yang dilakukannya?.Kamu tidak pernah semarah ini,saat membicarakan seseorang.".Melihat Anayra tampak emosi,Alma menjadi terheran."Dia bersikap kurang ajar dan macam-macam?.".Sangat penasaran dengan yang terjadi pada Anayra.


Anayra menggeleng."Bukan kurang ajar!,tapi kurang akhlaknya dan tidak tau diri!.".Dengan nada kesal Anayra menjelaskan dan melipat kedua tangannya.


Alma mengernyit bingung."Aku tidak mengerti,ceritakan dengan jelas!?.Kamu membuat kepala ku pusing saja.".Menghela nafasnya dan memutar bola matanya,karena penjelasan Anayra terdengar klise.


Alma menarik satu alisnya keatas,meminta penjelasan Anayra.Dengan wajah penasaran menanti Anayra bercerita.Terpaksa Anayra menceritakan kejadian yang dianggap hari sialnya tadi sore distasiun dan didalam gerbong KA,penuh semangat dan berapi-api.


Tanpa berkedip Alma menyimak dan mendengarkan dengan seksama dan serius.Namun tiba-tiba Alma tertawa terpingkal-pingkal usai Anayra bercerita,hingga mengejutkan Anayra."Hahaha...Sikapmu berlebihan!.Seharusnya bersikaplah yang manis dan lembut,untuk menarik perhatiannya.".Pikir Alma,untuk menghadapi pria seperti Khaffa.


"Aku tidak terbiasa seperti itu.".Anayra mencari alasan untuk membela diri dan mendelikkan matanya dengan bibir meruncing.


"Dasar payah!.".Alma balas menimpuk kepala Anayra dengan buku novel yang tergeletak dimeja,yang digunakan Anayra tadi menimpuk kepalanya."Jika bersikap ketus terus,kamu akan terus menjomblo,seumur hidup.".Mengingatkan Anayra.


Anayra terbelalak dan ternganga."Kamu mendo'akan ku terus melajang?,dan menjadi perawan tua?.".Menjadi berprasangka buruk pada Alma."Bagaimana dengan mu?,kamu sendiri terus menjomblo,hingga sekarang.".Meledek dan menoyor kepala Alma,pelan-pelan.


"Aku malas berdebat dengan mu.Kamu seperti singa betina yang mengamuk.".Alma beranjak dari duduknya,malas meladeni sikap Anayra yang semakin murka."Aku sudah mengantuk.Maaf!,aku tidur duluan.".Melengos pergi ke kamarnya.


"Ya ampun,dia pergi begitu saja,setelah memancing emosi ku!.Sulit ku percaya.".Anayra menggeleng tak percaya dan melototi Alma yang masuk ke dalam kamarnya.


Tak terasa waktu sudah semakin gelap dan malam.Anayra merapikan barang dan membersihkan wajah,tangan dan kakinya dikamar mandi.Masuk ke kamarnya untuk tidur.


Anayra dan Alma bersahabat sejak sekolah dan sudah malang melintang hidup bersama dalam satu atap dan satu tempat kerja serta berasal dari kota yang sama pula.Tinggal bersama disebuah rumah kontrakan kecil dan sederhana dipemukiman padat yang tak jauh dari butik tempat mereka bekerja.


Dengan tekad yang bulat dan kuat keduanya memberanikan diri mengadu nasib di Jakarta dengan harapan bisa merubah nasibnya.


Anayra dan Alma terlahir dari keluarga yang sederhana hingga menuntut keduanya untuk hidup mandiri.Mereka tak mau bergantung pada penghasilan orang tua yang profesinya hanya pegawai biasa.Bukan dari kalangan pengusaha atau pejabat.

__ADS_1


Ayah Anayra bekerja sebagai montir disebuah dealer.Sedangkan ayah Alma bekerja menjadi pegawai ditoko bahan bangunan.Tetapi diwaktu senggang menjadi buruh kuli bangunan atau membuat kusen-kusen saat ada yang memesan.


__ADS_2