Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
97.Kepulangan Alma.


__ADS_3

Dikediaman Al didalam kamar,Lenni meracau tak jelas dan memanggil-manggil nama Daniel sedari tadi diatas pembaringannya.Suster yang merawatnya kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa selain menenangkan nya.Tetapi la tak abai,terus memantau kondisi nya.


"Daniel...Danieeel...Kemari lah nak!.".Igau Lenni memanggil nama kecil putranya dan tangannya menggapai-gapai di udara seolah melihat bayangan Daniel dimatanya.


"Sus ter di mana anak ku?.Suruh dia kema-...".


"Bu,ibu...".Perawat yang disewa dan ditugaskan untuk merawatnya terkejut saat Lenni pingsan dan tak sadarkan diri.


Suster yang duduk didekat tempat tidurnya mengguncang lengan Lenni,namun tak ada sahutan dan tak merespon.Lenni terkulai lemas.


"Ya ampun,ibu pingsan.".Perawat menjadi panik dan gelisah,untuk memeriksa detak jantungnya,perawat meletakkan stetoskop didada Lenni."Detak jantungnya masih terdeteksi baik dan normal tapi kondisinya tidak stabil,tensi darahnya menurun.Ibu harus dibawa kerumah sakit,sepertinya kondisi nya makin parah.".Saat memeriksa denyut tensi darahnya.


Cekatan menghubungi Al dengan ponselnya,untuk memberitahukan kondisi Lenni."Hallo,maaf Pak!.Kondisi ibu menurun,sebaiknya dibawa kerumah sakit sekarang!.".


"Baiklah,hubungi segera pihak rumah sakit untuk mengirim ambulan kerumah!.".


"Baik Pak!.".Segera melaksanakan perintah Al menghubungi pihak rumah sakit terdekat di tempatnya bertugas.


Dalam waktu 20 menit disisa perjalanan nya,Andika dan Al tiba dirumah kediaman Al.Keduanya tergesa-gesa keluar dari dalam mobil dengan paniknya dan segera berlari masuk kedalam rumah menuju kamarnya setelah menepikan mobilnya dihalaman.


"Bagaimana suster?.".Al saat tiba dikamar dimana Lenni dirawat.


"Pak,ambulan dalam perjalanan kemari,kita tunggu saja!.".


"Lalu bagaimana istri ku?.".


"Sebelum pingsan tadi,ibu memanggil terus nama Daniel berulang kali.".


"Baiklah!,terima kasih!.".


Al duduk disamping tempat tidur untuk menemani Lenni,wajahnya tampak khawatir dan cemas.Perasaan takut kehilangan menghantuinya.Dengan lekatnya Al memandangi wajah istrinya yang semakin tirus dan pucat.Erat-erat Al menggenggam tangannya.


Andika kasihan dan iba,tak kuasa melihat Al bersedih."Bang,aku tunggu diluar sampai ambulan datang!,tenangkan dirimu!.".Andika menepuk-nepuk punggung Al,untuk menenangkan dan menguatkan hati Al.


Tanpa jawaban,Al hanya menganggukkan kepalanya.Saat menuju keluar,Andika menghubungi Rena.


"Assalamu alaikum Pi,ada apa?.".


"Mbak Lenni pingsan,dia akan dibawa kerumah sakit sekarang.".


"Ya Allah...Mami akan segera kesana.".


"Langsung saja kerumah sakit 'Mi!.".


"B**aik!.".


Andika segera menutup panggilan telepon selulernya.Usai itu menghubungi Khaffa dikantor nya.Reaksi Khaffa pun serupa seperti Rena,kaget dan terkejut.


Sementara dirumah sakit,Anayra berbincang dengan Alma disofa saat kedua orang tuanya sedang keluar.


"Al,kenapa harus minta mas Lefrand yang jemput kemari?.".Anayra tahu itu dari Alma sendiri.


Saat tahu Alma akan pulang,Lefrand langsung menawarkan diri untuk menjemputnya.Kemarin Lefrand bertanya kabar Alma melalui telepon genggam selulernya pada Alma,saat tahu Alma sudah sadar dan pulih.


"Bukan aku yang meminta,dia yang mau dan menawarkan diri!.".Apa adanya Alma mengatakannya.


Begitulah Lefrand,meskipun Alma sahabat Anayra,dan hubungannya dengan Anayra sudah berakhir,tetapi perhatiannya tetap sama pada Alma.Masih menganggap Alma teman.


"Ouhhh...".Anayra ber- oh ria dan manggut-manggut.


"Aku keluar sebentar!,gak pa pa kan kutinggal sendirian?.".Anayra memegang punggung tangan Alma.


"Pergilah!,aku bukan anak batita yang masih disusui!.Siapkan saja uang yang banyak dimeja,untuk menyuapku.".Alma mencandai Anayra tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Mendengar kata-kata Alma yang nyeleneh,Anayra berpikir Alma sudah sehat."Kurasa kamu sudah benar-benar sehat.Aku senang kamu normal kembali.".Beranjak dan berlalu keluar menuju ke bagian Administrasi meninggalkan Alma yang ternganga.


"Ya ampun,apa yang dikatakannya itu?.Dia menganggapku orang gak waras?.".Mendengar kata-kata Anayra,Alma menggeleng tak percaya."Ingin sekali,aku mencakar wajahnya.".Tangan Alma mencakar-cakar seolah sedang mencakar wajah Anayra dengan gigi bergemeletuk.


Saat berjalan dilorong,Anayra berpapasan dengan Lefrand."Mmasss Lefrand...".Anayra memandanginya dan tersenyum kikuk.


Ini pertama kalinya Anayra dan Lefrand bertemu,setelah Anayra menikah dengan Khaffa.


"Haiii Ana',apa kabar?,lama kita tidak jumpa.''.Lefrand tersenyum manis dan mengulurkan tangannya.


Dengan tatapan yang sulit diartikan Lefrand menatap Anayra.Tersimpan rasa yang sulit dijabarkan.


"Kabarku baik.".Dengan wajah bersemu merah Anayra menjabat tangannya."Kamu sudah sampai disini?.

__ADS_1


Anayra menjadi teringat kejadian konyol menjelang akad pernikahannya dengan Khaffa,saat Lefrand mengiranya sedang berbadan dua.


"Bagaimana keadaannya?.".Lefrand menunjuk perut Anayra yang rata.


Anayra paham maksudnya dan menjadi salah tingkah."Iiitu,emmm...Emhhh,maaf aku lupa mau ke administrasi.".Cepat-cepat berlalu pergi dari hadapan Lefrand,menghindari pertanyaan Lefrand yang sulit dijawabnya.


Pergi dengan langkah panjang karena kebingungan dan risih ditanya soal itu.Sebab,itu hanya karangan Khaffa semata dan omong kosong belaka.Namun Anayra enggan mengungkapkan dan menceritakan kebenaran soal kehamilan palsunya itu.Tetapi segan juga untuk berbohong dan melanjutkan sandiwara kehamilannya.


Anayra tak mau membuat Lefrand menjadi geram dan naik pitam,hingga menghujani Khaffa dengan kemarahannya.Kemungkinan terburuk Lefrand akan bersikap kasar pada Khaffa.Maka Anayra tak mau itu terjadi.Biarlah cerita itu tersebar luas,toh mereka sudah resmi menikah.


Sesampainya dibagian administrasi,Anayra menanyakan biaya tagihan perawatan Alma selama dirawat dirumah sakit,pada pegawai loket.


"Selamat siang,ada yang bisa saya bantu?.".Pegawai loket berdiri dibalik mejanya.


"Maaf,saya mau menanyakan soal seluruh biaya perawatan atas nama Alma Putri di VlP room.".Anayra berdiri dihadapan bilik loket.


"Baik,tunggu sebentar!.".Sang petugas mencarinya dilayar monitor komputernya.


Anayra merogoh tasnya untuk mengambil kartu berwarna gold dari dalam dompetnya.Diwaktu bersamaan,Lefrand datang menghampirinya dan melakukan hal yang sama.Mengambil dompet di saku belakang celana nya dan mengeluarkan kartu berwarna hitam.


Lefrand saat mau menuju Alma diruang perawatan,berbalik arah menyusul Anayra dan diurungkan niatnya untuk menemui Alma.Lefrand berpikir untuk membantu Anayra.


"Biar aku yang membayar tagihannya!.".Bersamaan dengan Anayra menyodorkan kartunya pada pegawai loket.


"Kenapa kemari?,kupikir menemani Alma?.".Anayra mengerutkan kening heran melihat Lefrand berdiri disampingnya.


"Aku tidak tega melihat mu membayar tagihan sendirian?.Biaya yang harus dikeluarkan pasti cukup lumayan besar.".Lefrand mencari alasan.


Terang saja.Selama lebih dari sepekan Alma dirawat diruang VIP.Saat itu Daniel sengaja memasukkan Alma ke ruang itu tanpa pikir panjang.Daniel ingin memberikan fasilitas yang terbaik untuk nya,atas rasa bersalah dan rasa tanggung jawab akibat ulahnya.


"Memang kenapa?,uangku lebih dari cukup untuk itu,kurasa masih tersisa banyak.".Anayra dengan rasa percaya diri tinggi menjelaskan itu.


Kata-kata Anayra terdengar angkuh ditelinga Lefrand."Aku tidak meragukan soal itu.Tapi itu uang suami mu,bukan uangmu.".Bibir Lefrand tersenyum miring saat menyindir Anayra.


"Ckkk....Sama saja,uang suami ku milik ku.Aku istrinya,berhak memiliki harta yang dia miliki.".Anayra tak mau kalah dan membela dirinya.


Lefrand mendesis."Shhh...Mau pamer padaku?,jika kamu istri dari seorang pengusaha kaya raya?.".Dengan sarkastiknya dan menarik satu alisnya keatas.


Kekesalan Lefrand tak terkendali lagi.Tak terima Anayra memuji Khaffa didepannya secara tak langsung.Pasalnya,Lefrand masih menyimpan rasa dendam pada Khaffa.Terang saja,Khaffa merebut Anayra darinya dan bahkan menikahinya.


Itu membuat Lefrand sakit hati dan patah hati.Meskipun Khaira menggantikan posisi Anayra dihatinya saat ini.Tetapi rasa itu masih membekas di benak Lefrand.


"Maaf!.Biayanya sudah dibayar lunas.".Sela pegawai di loket.


"Apa?,sudah dibayar lunas?,siapa yang membayarnya?.".Anayra melongo tak percaya memandangi pegawai loket.


"Atas nama tuan Al Devandra!.".Jelas pegawai wanita itu.


Senyum dibibir Anayra merekah tatkala mendengarnya dan paham maksudnya."Baiklah.Aku mengerti,terima kasih mbak!.".Anayra memasukkan kartunya kembali kedalam dompetnya.


Begitupun juga dengan Lefrand melakukan hal yang sama.


"Al Devandra,siapa dia Ana'?.''.Lefrand dengan wajah penasaran karena baru mendengar namanya yang terdengar asing ditelinga nya.


"Iiitu...Mas tidak perlu tau,dia salah satu kerabat dekat saja.Sudahlah,ayo kita ke ruangan Alma!,kasian sendirian disana.".Anayra mengalihkan perhatian Lefrand.


Tak mau mengungkapkan jati diri Al Devandra yang sebenarnya dan juga Daniel.Lefrand masih belum tahu sosok Daniel yang menodai kesucian Alma dan nama ayahnya.


"Orang tua Alma kemana?.".Lefrand tanpa hirau lagi soal nama itu dan menyusul langkah Anayra menuju ruangan Alma.


"Mereka ke kantin mencari makan!,tadi ibu Alma mengeluh lapar.".Anayra mengungkapkan.


Ditanggapi Lefrand dengan anggukan kepala nya.Berjalan dilorong rumah sakit keduanya berbincang.Setibanya diruang Alma,orang tuanya sudah standby lagi disana.


"Sudah selesai makan nya?.".Anayra meletakkan tasnya dimeja.


"Sudah!.Oiya tadi kami ke bagian administrasi sebelum ke kantin,katanya tagihan Alma sudah dibayar lunas!.Ibu dan bapak kaget setengah mati!.".Ungkap ibu Alma saat mendudukkan dirinya disofa.


Sebelum kekantin,keduanya menyempatkan diri kebagian administrasi karena penasaran dengan jumlah tagihannya.Saat tahu jumlahnya membengkak,cukup membuat keduanya tercengang.Namun jauh-jauh hari Anayra sudah mewanti-wanti untuk tak memikirkan hal itu dan mengatakan yang akan menanggung beban biayanya adalah dirinya,atas seijin Khaffa tentunya.


Sejak menikah dengan Khaffa,secara otomatis nasib Anayra berubah drastis.Sebagian aset yang dimiliki Khaffa bernilai fantastis dan mencapai milyaran menjadi miliknya dan atas namanya,terkecuali apartemen dan mobil.


Mendengar hal itu Anayra dan Lefrand saling berpandangan dan tersenyum tipis.Teringat tingkah konyol keduanya didepan bilik loket tadi.


"Siapa yang membayarnya?.Tagihannya pasti besar bukan?.Nay',apa kamu yang membayarnya?.".Alma memandang Anayra dengan penuh selidik.


Dibalas gelengan kepala oleh Anayra.Begitu juga Lefrand saat Alma menunjuk dirinya.

__ADS_1


"Bukan aku!.".Sangahnya cepat dan menggelengkan kepalanya.


"Jika tidak salah,namanya...Al,Al De-vandra.".Ayah Alma dengan terbata saat menyebutnya dan ingat-ingat lupa saat duduk disamping istrinya.


''Siapa dia?,aku tidak mengenalnya!.Tapi nama belakangnya terdengar tidak asing?.Kurasa seperti pernah mendengar nama itu,tapi aku lupa.".Alma berpikir untuk mengingatnya.


Sepertinya Alma penasaran sekali soal Papa Al...Anayra terkaget-kaget.


"Emmh,Alma sudahlah jangan dipikirkan!.Anggap saja itu rejeki anak sholehah,ok?.Rejeki yang tidak disangka-sangka.Sebaiknya kamu siap-siap untuk pulang.".Anayra buru-buru mengalihkan perhatiannya dengan wajah panik.


Seperti nya Anayra sengaja merahasiakan identitas orang itu.Apa orang yang membayarnya adalah pria yang menodai Alma...Lefrand tertegun.


Menyimak ucapan Anayra dan melihat ekspresi wajahnya.Lefrand berasumsi demikian,karena menurutnya sikap Anayra janggal dan tak wajar.


Dengan sengaja Anayra mengubah topik untuk merahasiakan hal itu dari Alma.Tak mau Alma terganggu pikirannya dan rusak suasana hatinya jika tahu identitas Al Devandra adalah ayahnya Daniel.Tak lain pria yang sudah merenggut paksa kehormatannya.


"Baiklah!,aku akan siap-siap.".Alma manut dan mengalah.


Beranjak dari duduknya dan meraih pakaian gantinya yang sudah disiapkan dimeja.Bergegas masuk kedalam toilet diruangan itu.Orang tuanya sibuk membenahi tas ransel yang akan dibawa pulang.Tas ransel berisi pakaian Alma dan peralatan lainnya.Lefrand bergeming duduk diatas ranjang kosong bekas perawatan Alma dengan pikiran berkelana.


Dilain tempat,Lenni dalam perjalanan menuju rumah sakit ditemani Al didalam mobil ambulan.


Al terus memegangi tangan istrinya sambil memandanginya dengan sendu.Bahkan air matanya kini menetes keluar.Tak bisa menahan rasa sedihnya.Al terpukul dan terasa disayat hatinya.Takut kehilangan istri yang dicintainya.Wanita yang mendampinginya selama 35 tahun lebih itu.


Sejak Daniel dilahirkan,Lenni tak bisa mempunyai anak lagi dan tak bisa hamil lagi karena kandungannya lemah.Bahkan beberapa kali keguguran,saat Daniel masih balita.Sejak itu pula kesehatan nya terganggu lalu memutuskan mengangkat rahimnya supaya tak bisa mengandung lagi.Itu semua tentunya atas persetujuan Al.


Demi cintanya yang besar pada istrinya.Al tak keberatan soal itu.Nyawa istrinya lebih berharga dari apapun,baginya.


"Bertahanlah sayang!.Jangan menyerah dan tetaplah hidup dan tetaplah disisiku!.Temani aku sampai ku menutup mata dan jangan pergi sebelum aku pergi!.".Lirihnya dengan suara serak disela isak tangisnya.


Dibelakang ambulan,Andika mengikutinya dengan mobilnya sendiri.Sedangkan Rena sudah menunggu dihalaman parkir rumah sakit didalam mobil.Diperjalanan, saling berkomunikasi dengan Rena dan juga Khaffa.


Setibanya didepan rumah sakit,Lenni langsung dikeluarkan dan dibaringkan diatas bangkar.Cepat-cepat didorong oleh petugas medis menuju lGD


Diruang VIP.


"Aku sudah siap,kita pulang!.".Alma dengan penuh semangat."Kepalaku pusing mencium bau obat terus.Ototku kaku dan pegal karena tidur terus,otakku juga stresss tidak bisa melihat dunia luar!.Membosankan dan mengerikan.".Alma mengeluarkan keluh kesahnya dan menyilangkan tas selempangnya.


"Kurasa kita kurang beruntung,sekalinya liburan,dirumah sakit.".Anayra mengeluhkan nasibnya yang sama malangnya dengan Alma dan merengut sedih.


Sedih karena pernah merasakan hal serupa,pernah bermalam di rumah sakit saat insiden yang dialaminya.Tetapi bernafas lega masih diberi kesempatan untuk hidup dan bisa melewati itu semua.


Alma dan orang tuanya tertawa geli,termasuk Lefrand.Tatkala mendengar celotehan Anayra yang memilukan,tetapi terdengar menggelikan.Tak mengulur waktu lagi,beriringan mereka berjalan keluar.


Ditempat parkir.Saat Andika datang dan tiba diparkiran,Rena mengenali mobilnya.Bergegas Rena keluar menghampiri Andika.


"Suruh Pak Jani pulang!.Nanti Mami pulang bersama Papi.".Andika berdiri dihadapan Rena memberikan perintah.


"Baik.Cepat kita masuk ke IGD!.Temani mas Al disana!.".Rena menyuruh Andika pergi duluan.


Rena menghampiri mobil Li*v*na putih miliknya,dan menyuruh Jani sopir pribadi untuk pulang.Sopir yang mengantarnya ke undangan pernikahan putri salah satu temannya.Usai itu Rena segera menyusul Andika yang berjalan lebih dulu menuju pintu masuk rumah sakit.


Kebaya warna peach dan rok motif batik berwarna senada masih melekat ditubuhnya serta sanggul dikepalanya.Dengan langkah setengah berlari menggunakan heels pendek,Rena mengejar Andika.


Dilorong,Al ikut mendorong bangkar yang ditiduri Lenni hingga masuk keruang IGD.


Perawat menghadang Al saat akan ikut masuk kedalam."Silahkan tunggu diluar!.".Berdiri dipintu masuk ruang pemeriksaan menunggu kedatangan Dokter.


"Dokter,tolong selamatkan istri saya!?.".Al memohon pada Dokter yang akan masuk ke ruang pemeriksaan.


"Kami akan berusaha semampu kami.".Dokter masuk kedalam ruangan itu.


Perlahan perawat menutup pintunya.Al duduk dikursi menunggu Lenni.Rena dan Andika berjalan dilorong menuju IGD untuk menyusul Al.Namun diwaktu bersamaan,berpapasan dengan Anayra dan Lefrand yang menenteng tas ransel Alma ditangannya.Serta Alma yang diapit orang tuanya berjalan menuju pintu keluar.


"Mami,Papi.Kalian ada disini?.".Anayra terkejut melihat ayah dan ibu mertuanya dirumah sakit.


Anayra belum tahu soal kondisi Lenni terkini.Tak ada kabar berita yang diterimanya tentang hal itu dari siapa pun,termasuk dari Khaffa.


"Bunda Lenni masuk lGD!,beliau pingsan!.".Andika menjawabnya.


"Ya Allah,benarkah itu?.".Anayra semakin terkejut dan mendadak panik bercampur sedih.


Walaupun baru mengenal sosok Lenni dan baru sekali berjumpa dengannya.Anayra merasa sudah dekat dan akrab dengan Lenni.


"Alma,syukurlah kamu sudah sehat.Maaf,Tante belum sempat menjenguk lagi.".Rena menggenggam tangan Alma yang berdiri dihadapannya.


Ini kali ketiga mereka bertemu.Rena cukup lumayan mengenalnya sejak bertemu di akad pernikahan Khaffa dan Anayra.Kedua saat Rena menjenguknya namun Alma belum sadar kala itu.

__ADS_1


"Tidak masalah Tante!.Jika boleh tau,siapa yang masuk IGD?.".Alma penasaran dengan orang yang dibicarakan Andika.


Andika,Rena dan Anayra saling berpandangan.Lefrand dan orang tua Alma memandangi ketiganya dengan ekspresi wajah terheran-heran.


__ADS_2