
Seminggu kemudian...
Hari demi hari telah berlalu dan dilalui dengan rutinitas sehari-hari seperti biasanya.Tetapi untuk segelintir orang,hatinya seperti diwarnai awan hitam dan gelap.
Mengapa?...
karena selama itu pula Riccy pergi dan belum kembali ke Jakarta sampai membuat banyak pertanyaan dibenak Khaffa saat la menghubunginya tapi selalu saja tidak aktif.Namun la tidak bisa menemui kekediaman keluarganya sebab disibukkan oleh pekerjaan dan belum lagi ada beberapa masalah dikantor sepeninggal Riccy dan beberapa hal yang harus diurus dan dikerjakannya.Sebab tanpa Riccy membuatnya kewalahan meskipun ada Khaira yang sedikit membantu tapi tetap saja tidak bisa diandalkan seperti Riccy.
Dan terutama Alma,la merasa rindu tapi juga kecewa olehnya sebab tidak ada kabar berita darinya untuk sekedar mengucapkan kata maaf karena belum sempat mengabarinya,untuk mendengarkan ucapan 'selamat malam dan selamat tidur sayang,have a nice dream!' padanya.Kata yang sering terucap dari bibir Riccy saat menjelang waktu tidurnya.Serta sepenggal kalimat lainnya untuk memotivasinya.
Masih teringat dipikiran Khaffa saat dirinya berpamitan akan langsung pulang kekotanya untuk mengunjungi ibunya yang seorang diri disana setelah pulang bekerja.Dan masih terngiang di telinga Alma saat dirinya meminta ijin untuk pergi dan tidak bisa menjemputnya pulang,serta mengucapkan kata perpisahan melalui pesan singkat sebab saat la bekerja ponselnya dalam mode diam.
Khaffa tertegun diruangan Riccy sambil duduk dikursi yang biasa diduduki oleh sahabat sekaligus asistennya.Dia mengusap wajahnya saat menatapi wajah Riccy disebuah figura kecil.Difoto itu ada wajahnya dan wajah Riccy sedang berangkulan dipundak dengan latar pemandangan sebuah gunung yang rimbun oleh pepohonan.Tak percaya jika saat ini Riccy sedang tidak ada karena biasanya dirinya selalu menyetor muka disetiap waktu dan mendengar kicauannya.Tapi kini la hanya bisa menyentuh dan mengajak bicara gambar wajahnya saja.
Sementara dilain tempat...
Alma meringkuk ditempat tidur tanpa mau beranjak dari sana seperti sudah merasa nyaman sambil memeluk figura foto mereka berdua.Hatinya terasa sakit seperti disayat pisau raut saat memikirkannya yang masih misteri keberadaannya,dan dadanya terasa sesak oleh rasa rindunya yang sudah menggunung.Sedih,kecewa,sakit dan rindu menyatu dalam hatinya sampai untuk menangis pun tak bisa karena telaga air matanya seolah sudah mengering.Sebab dua hari yang lalu semalaman la menangis tersedu-sedu meratapinya.Baginya Riccy seolah menghilang bak ditelan bumi karena tidak ada kabar beritanya.
Saat ini Alma sedang off maka la bisa berlama-lama didalam kamar diapartemen milik Lefrand yang sudah beberapa pekan ini ditempati oleh mereka.Dan Anayra masuk pagi tapi seharusnya la masuk siang karena la mempunyai rencana untuk mengajak Alma keluar untuk menghiburnya.Dan sekarang tidak ada lagi kerja lemburan untuk menggantikan hari off lawan shift nya sebab ada perbantuan dari butik pusat untuk menggantikan shift dihari off Anayra dan Alma.
Drttt.
Tersadar saat ponselnya bergetar,Khaffa segera merogoh saku jasnya lalu mengambil ponselnya.
"Gimana?,apa kamu sudah sampai disana?.".
Sudah Boss tapi kosong!,kata tetangganya penghuni rumah itu pindah 5 hari yang lalu.".Jawab seorang pria diseberang sana.
Tak bisa berkata-kata lagi sampai langsung menutup ponselnya.Jantung Khaffa seperti ditembus anak panah yang runcing dan tajam.Menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan hatinya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Entah apa yang harus dilakukannya lagi walaupun sudah berusaha mencarinya dengan menyuruh orang kekota asal Riccy untuk menyusul dan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi padanya,karena la tidak bisa meninggalkan pekerjaannya meskipun jaraknya cukup dekat.
Awalnya Khaffa menganggap Riccy cuti karena sehari setelah Riccy sampai disana memberi kabar untuk mengambil cuti selama 3 hari.Tetapi yang Khaffa herankan sampai hari ke 7,Riccy tak jua menunjukkan batang hidungnya dikantor.Tak ayal membuat Khaffa bertanya-tanya,aneh dan bingung ditambah ponselnya sulit dihubungi.
Beranjak berdiri lalu berjalan menuju ruangannya dan mengernyitkan dahinya saat melihat meja Khaira yang kosong dan tidak ada penampakan sosok wajahnya disana.Dan saat membuka pintunya lalu dan masuk lalu terkesiap karena dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis cantik tengah duduk disofa yang ada diruangannya dengan anggun.Gadis itu tersenyum manis saat melihat kearahnya dan sontak berdiri ketika la menghampirinya.
"Haiii,apa kabar?.".Sapa gadis itu ramah sambil mengulurkan tangannya.
Karena Khaffa sangat menjaga attitude nya dan menghargai tamunya,maka la menjabat tangannya tapi sikapnya dingin dan acuh tanpa senyuman.Sebab la tidak mengharapkan kehadirannya.
"Baik!,silahkan duduk!.".Pinta Khaffa sambil mendudukkan dirinya disofa.
__ADS_1
"Maaf aku kemari tanpa ngabari dulu!.".Ucap gadis itu setelah la duduk.
Mengawali pembicaraan dan berbasa-basi untuk mencari simpati Khaffa.
"Ga masalah!.Tapi gimana kamu bisa masuk tanpa seijin sekertarisku?.".Tanya Khaffa dingin sambil mengerutkan keningnya.
Dia pikir tidak harus beramah tamah padanya karena kehadiran gadis itu nyaris membuatnya kehilangan Anayra.Dan gadis seperti ditodong senjata karena Khaffa tidak seperti yang diharapkannya yaitu menyambutnya dengan baik dan ramah.
"Hahaha...Maksudmu Khaira?,dia adikmu kan?,aku udah tau dari Tante Rena kalo adikmu kerja disini!.Tentu saja aku ijin dulu sebelum dia pergi ke toilet!.".Ungkapnya menjelaskan dengan santai menanggapinya.
Barulah Khaffa mengerti karena la melarang siapapun masuk kedalam ruangannya tanpa seijinnya,Khaira atau Riccy.Terkecuali Anayra,jelas kapan saja la bebas masuk dan keluar.Malah la akan senang oleh kedatangannya karena Khaffa sudah menjadi bucin.
"Lalu apa yang membawamu kemari?,dan ada urusan apa sampai datang kekantorku sepagi ini?.".Tanya Khaffa dingin dan datar.
Membuat Sabrina,gadis cantik berpenampilan seksi itu cukup tersentak yang mengenakan gaun terusan berwarna merah tanpa lengan dan panjangnya diatas lutut sampai paha mulusnya terekspos karena terangkat keatas saat la duduk.
Sangat cool tapi bikin gue penasaran**!...Pikirnya sambil menatap Khaffa dengan tatapan sayu.
Dan karena merasa tidak nyaman sontak Khaffa mengalihkan perhatiannya dengan berdehem lalu refleks membuat gadis itu mengerjapkan matanya.Khaffa tidak suka jika ada yang menatapnya seperti itu kalau bukan Anayra.
"Maaf!,aku kemari mau bahas soal perjodohan kita yang belum sempat kita bahas lagi dan juga tergantung!.Masih ingat kan?.".Tanyanya sambil melipat kedua tangannya dan menumpangkan satu kakinya.
Menghela nafasnya panjang karena merasa diingatkan meskipun masih ingat padahal Khaffa sudah melupakan hal itu dan tidak pernah menganggapnya terjadi.Apalagi setelah Mami dan Papi nya memberi tahu jika mereka sudah membicarakan hal itu dengan ayahnya Sabrina.Kedua orang tuanya mengatakan pada Khaffa jika sudah membatalkan perjodohannya dengan gadis yang sekarang duduk dihadapannya dan dibatasi oleh meja.
Sampai membuat kepala Sabrina geleng-geleng sambil berdecak karena tanpa tedeng aling-aling Khaffa melontarkan kata-kata itu dengan kerasnya.
"Ck,ck,ck...Kenapa nada bicaramu begitu?,kayak ga suka sama kedatangan ku kemari!.Aku tau itu dari papaku tapi mereka berunding bertiga aja tanpa melibatkan kita berdua!,khususnya aku sebab aku yang dirugikan disini!.".
"Maksudmu apa?,cepat katakan dengan jelas jangan bertele-tele!?.".Dengan tegas karena khaffa tidak mau berlama-lama dengannya.
"Wahhh,kamu sangat ga sabaran rupanya ya?.Santai aja kenapa!,ga usah nyolot gitu!.".
Sabrina tidak gentar menghadapi sikap Khaffa yang berang itu.
"Jangan buang waktuku lagi!,kalau kamu ga mau kuseret keluar dari sini!.".Gertak Khaffa menekannya.
Tapi tak bisa membuat Sabrina bergeming atau merasa takut karena tekadnya sudah bulat dengan maksud kedatangannya kesana.
"Ok!,dengarkan aku baik-baik!.Saat ayahmu menghubungi ayahku untuk membahas perjodohan kita,tentu saja ayahku sangat senang bukan?,meskipun kita belum ketemu dan saling kenal dan walaupun aku tau tentang kamu sedikit!.Tapi cukup membuat aku dan ayahku senang sampai mengumumkan kabar itu pada sanak saudara dan kerabat ayahku!.Tapi kemudian Om dan Tante ngebatalin sampai membuat aku dan ayahku malu dan saat ini kami kayak ga punya muka!.Cukup jelas apa maksudku?.".Ungkap Sabrina lalu tersenyum samar sampai membuat Khaffa percaya dengan ucapannya.
__ADS_1
Wajah Khaffa sangat serius saat mendengarkan dengan seksama setiap kata yang meluncur keluar dari bibir Sabrina tanpa menyela dan tanpa berkedip saat menatapnya dengan tajam.Sembari berpikir dan mencerna kata-katanya yang terdengar jelas ada sesuatu yang diinginkannya.
"Lalu apa maumu!.".Tanya Khaffa to the point.
Sebab la paham ada udang dibalik batu dan ada maksud tertentu dibalik ucapannya Sabrina.Dan karena la sudah sering bertemu dengan orang-orang seperti itu.
"Aku mau mengiyakan pembatalan perjodohan kita tapi ada syaratnya!.".
"Katakan sekarang lalu pergilah secepatnya dari ruangan ku!.".Ucap Khaffa tidak mau berbasa-basi lagi.
"Saham 50 persen disini!.".Ucap Sabrina dengan tegasnya dan serius.
Itu penawaran terbaik yang sudah dipikirkannya selama sepekan ini setelah menimbang-nimbang karena la telah jatuh cinta padanya.Tetapi mengingat sikap Khaffa yang terlihat sangat gigih untuk menikahi Anayra maka la memutar otak untuk mendapatkan hatinya tapi kalaupun tidak berhasil.Seenggaknya la bisa mendapatkan separuh kekayaan untuk uang ganti rugi atau kompensasi dan memanfaatkan situasi tersebut.
"Hemh,enak saja!...Kamu mau memerasku!,tentu saja aku ga sudi!.Dan jangan pernah berani bermimpi!,sebab aku dan ayahku yang bekerja keras membesarkan tempat ini!.Jadi jangan berharap kalau kamu akan mendapatkan sepeserpun dariku atau ayahku!.".
Seenaknya saja Sabrina datang dengan permintaan konyolnya yang membuat Khaffa geleng-geleng kepala karena tidak habis pikir dengan jalan pikirannya.Dengan mudahnya meminta saham yang tentu nominalnya tidak sedikit itu jika dihitung-hitung.
"Ok,no problem!.Kalo maumu begitu maka perjodohan kita dilanjutkan jika penawaranku ga bisa kamu penuhi!.Bukankah impianmu untuk untuk menikahi Anayra secara otomatis akan hilang!?.".
Tidak kalah dari Khaffa dan dengan ide cemerlangnya Sabrina melakukan penawaran lagi karena la tidak mau pulang begitu saja dengan tangan kosong.
Tapi tak ayal membuat dada Khaffa naik turun karena merasa emosi dan marah.Dan dalam seketika temperamennya naik hingga kepuncak ubun-ubun kepalanya setelah mendengarkan buah pikiran Sabrina yang licik,menurutnya.
"Benar-benar wanita licik!.Kamu berani melakukan penawaran dengan ku?.Kamu pikir aku takut padamu dan ayahmu itu?.Apa ini ide konyolmu dan ayahmu,hah?.".
"Nope!.Papa ga tau menahu soal ini sebab aku yakin kalo dia tahu pasti akan mencegahku dan melarangku melakukan hal ini.Tapi bukankah Anayra lebih penting daripada separuh pundi-pundi kekayaanmu ini?.".
"Ternyata kamu gadis materialistis karena sangat berambisi untuk mendapatkan separuh harta kekayaanku ini rupanya!.Dan aku salut karena kamu berani mengajakku bernegosiasi!.Ck,ck,ck.Kamu pikir aku dan kedua orang tua ku akan tinggal diam saja tanpa melakukan sesuatu apapun padamu?.".
"Bukan itu alasannya!,karena kurasa aku jatuh cinta padamu!,dan kamu keliatan sangat menarik dimataku!.Sudah jelas sekarang?,jadi bukan cuma karena uang saja sebab aku dan ayahku ga semiskin itu!.Apalagi aku salah satu model tanah air yang paling ngetop dan populer diluar negeri!,maka dari itu mudah bagiku untuk mendapatkan uang banyak!.".Tenang dan santai tanpa beban meskipun saat ini Khaffa tengah memicingkan mata saat menatapnya.
Ternyata nyali putri dari sahabat kedua orang tuanya tapi tidak dikenalnya itu sangat besar sampai Khaffa mendengus kesal dan hidung nya kembang kempis karena kewalahan dibuatnya dan hampir mati kata untuk membalasnya.Dia dan Sabrina memang tidak pernah bertemu sebelumnya.Sebab Sabrina sejak dilahirkan hingga kuliah tinggal dan menetap diluar pulau Jawa bersama keluarganya karena mendiang ibunya berasal dari sana.Dan barulah la kekota Jakarta untuk mewujudkan impiannya dan cita-citanya menjadi model dan kini berhasil diraihnya dan ditambah lagi karena mengikuti ayahnya juga yang sudah menetap di Jakarta setelah mendapatkan pekerjaan dihotel.Karena setelah kepergian ibunya yang telah dipanggil kepangkuan Sang Maha Kuasa dan Sang pemilik ruh membuat la menjadi kesepian.
Dan saking merasa kesepiannya membuat la pergi jauh dari ayahnya untuk melebarkan karirnya diluar negeri sampai lupa waktu dan lupa jika masih ada sosok ayahnya yang masih hidup karena terlalu asyik dan fokus dalam dunia modeling.
"Oiya,dan aku yakin kalo Tante dan Om mau mengabulkan permintaanku sebab kurasa mereka sangat peduli padaku dan ayahku juga sangat menghargai persahabatan mereka!,mengerti!.".Tegas Sabrina tanpa perduli dengan tatapan mata Khaffa yang seperti iblis.
Skak mat Khaffa dibuatnya dan hanya tersenyum smirk saja menanggapinya karena la tidak mau berdebat panjang dengannya.Membuat Khaffa mati kutu dan tidak bisa berkata-kata lagi oleh tingkah lakunya.
__ADS_1
"Baiklah,karena urusanku disini sudah selesai!,maka aku akan pergi sekarang,bye!.".Ucap Sabrina acuh tanpa merasa bersalah dan berdosa sambil beranjak lalu melenggang pergi keluar dari ruangan Khaffa.
Dan Khaffa hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghempasnya keluar dengan kasar untuk meredakan amarahnya.Bukan la tidak bisa melampiaskan kekesalannya pada Sabrina karena la tidak mungkin membabi buta melukai atau menyakiti Sabrina yang notabene seorang wanita.