Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
122.Lembaran baru hidup Daniel dan Alma.


__ADS_3

Readers...Give a vitamin!.Happy reading...😘


***


Bukan tanpa alasan semua orang melakukan sesuatu,baik itu benar atau salah.Begitu pun dengan Daniel,keinginan nya yang bersikeras untuk merubah pikiran Alma.Bukan semata-mata karena egonya dan demi kebahagiaan orang tua nya.Bukan pula hanya untuk mempertahankan nyawa calon anaknya dalam rahim Alma.Melainkan juga untuk menyelamatkan Alma dari dosa besar jika melakukan aborsi,dan karena sebuah asa.


Dirumah yang sederhana dikawasan perumahan.


Pernikahan Alma dan Daniel digelar cukup mewah dan hanya dihadiri orang-orang terdekat dan disekitar saja,5 hari kemudian.Lebih cepat lebih baik hal itu dilakukan,jika tidak,akan menjadi aib jika kabar kehamilan Alma tersebar luas.Selain itu,jika dilakukan saat perut Alma membesar,nama baik Alma dan keluarga nya akan tercemar,apalagi anak yang dikandung Alma pun membutuhkan seorang ayah.


Dikamar Alma,wajah Alma disapu riasan alami yang tetap memancarkan aura kecantikan nya oleh Make up artist,di iringi senyuman masam.Tubuhnya yang masih tampak ramping dibalut kebaya pengantin yang cantik,dan membuat Alma semakin mempesona.


"Alma,kamu sahabat ku yang paling cantik dan baik.".Anayra berdiri di belakang Alma yang tengah duduk dikursi meja rias Alma."Keinginan ku hanya satu,melihat mu bahagia.Tolong,lupakan masa lalu agar kita bisa melangkah lurus ke depan nya.".Mata nya bersitatap di cermin,dengan Alma.


"Terima kasih.Aku berharap sama.".Alma tak bisa mengiyakan,takut tak bisa menepati ucapannya sendiri.


Anayra terheran melihat Alma yang murung,tak seulas senyum pun menghiasi wajahnya yang cantik."Kecantikan mu akan pudar jika memamerkan wajah murung seperti itu.".Tak baik jika dilihat orang lain,dan akan beranggapan seperti dikawin paksa,pikir Anayra.


"Aku lupa cara tersenyum.".Alma menjawab dengan lelucon,dan tersenyum.


"Ayo!.Pangeran mu sudah menunggu.".Anayra membawa Alma ke area ijab kabul.


Daniel sang mempelai pria,memakai setelan jas pengantin terlihat gagah dan tampan,dipadu senyuman bahagia.Sementara keluarga besarnya,mengenakan pakaian formal.


Ditenda besar yang terpasang di halaman rumah Alma.Daniel mengucapkan kalimat ijab kabul dengan lancar dan lantang yang dilakukan dengan wali nikah Alma yakni ayah Alma sendiri,Ceppy.Seperangkat alat sholat dan mas kawin berupa satu set perhiasan,serta uang mahar yang setara u membeli sebuah mobil,menjadi pelengkap ikrar pernikahan.


Sehari setelah proses pernikahan usai digelar,dan setelah Daniel dan Alma telah sah menjadi pasangan suami istri.Daniel memboyong Alma untuk tinggal bersama dirumah kediaman keluarganya,agar bisa menjaga Alma sepenuhnya dan juga bentuk rasa tanggung jawabnya sebagai suami.Selain itu,pekerjaan nya di Jakarta pun menjadi faktor lainnya.


Sebagai istri,Alma harus menuruti keinginan suami,dan mengikuti kemana pun suami nya membawa nya pergi.


Daniel dan lta saling bertatapan dengan penuh arti saat Daniel dan Alma berpamitan.


"Tolong jaga putri kami satu-satunya,dan perlakukan dengan baik!.Kami percaya kan Alma pada mu,nak.".Ita berpesan sebelum melepaskan Alma pergi.


Alma dalam pelukan ibunya menangis tersedu.Ini awal dari perjalanan menuju hidup baru nya bersama Daniel sebagai suami istri dan calon ibu,dan akhir dari masa kesendirian nya sebagai gadis lajang.


Ceppy berdiri menghadap Alma dan lta yang berusaha untuk tegar,akhirnya terisak.Tak kuasa menahan rasa sedih sekaligus bahagia.Ita yang lebih dulu berlinang air mata mengusap pipinya yang basah.


Daniel berdiri disamping Ceppy dengan penuh keyakinan menganggukkan kepalanya."Tentu.Alma menjadi tanggung jawab ku.Sudah seharusnya aku menjaganya dengan baik dan menyayangi nya,begitu juga dengan calon anak kami.".Ikrar Daniel tak hanya dari lisan saja,tetapi dalam hati pun berjanji demikian.


Ita dan Ceppy merasa lega dan bahagia menyerahkan Alma pada Daniel tanpa ragu lagi.Bagi mereka,Daniel pria yang baik dan tepat untuk Alma tanpa melihat ke belakang lagi.Awalnya yang dirasakan pahit oleh mereka,kini terasa manis.


"Saatnya kalian pergi!.Ibu mu tidak akan berhenti menangis,jika kalian tetap disini.".Ceppy menggoda istri nya hingga lta mencebik.


"Ibu,ayah.Maaf!.Aku membuat kalian sering meneteskan air mata.".Alma mendekap orang tua nya bersamaan,merasa selalu membuat mereka bersedih hati dan cemas.


Alma teringat akan yang kebaikan dan kasih sayang kedua nya,yang paling menyakitkan adalah kesedihan kedua nya,saat mengenang kembali keberadaan nya dirumah sakit.


Daniel terenyuh,ingin melakukan hal serupa tetapi canggung dan hanya bisa melihat saja.Disamping itu Daniel sangat senang,sikap orang tua Alma yang begitu baik menyambut nya sebagai menantu,tanpa melihat dosa dan kesalahan yang dilakukannya di waktu yang lalu.


Ini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Daniel dalam menilai sikap sang mertua yang sama sekali tak pernah disangka-sangka.Pikirnya,orang tua Alma akan ikut membenci nya dan tak pernah menerima sebagai menantu.Ternyata dugaan dan ketakutan nya ini salah.


Usai mencium punggung tangan lta dan Ceppy,Daniel dan Alma masuk ke dalam mobil yang dihalaman rumah.Ita menangis tersedu melepas kepergian anak dan menantunya,dan tangan melambai sebagai ungkapan perpisahan.


Di perjalanan,Daniel merenung,memikirkan sesuatu.Malam pertama yang diharapkan dilaluinya indah bersama Alma,harus dilewati dengan tidur terpisah.Alma ditempat tidur dan Daniel beralaskan sofa,ditemani bantal dan selimut.


Flashback on.


"Tempat tidur ku kecil,tidak muat untuk dua orang.".Alma menyerahkan bantal dan selimut pada Daniel."Tidurlah disana!.".Menunjuk sofa yang cukup panjang dikamarnya.


Daniel melihat tempat tidur Alma sekilas,dan tersenyum miring.Sebenarnya cukup untuk berdua,hanya saja akan kesulitan bergerak dan akan saling berdekatan.


Dia mau menghindari ku...


Daniel pikir,Alma tak ingin bersentuhan dengan nya dan menghindari melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.


Melihat aura wajah Alma yang dingin dan tak bersahabat,Daniel memilih mengalah dan menuruti keinginan Alma.


Tanpa mengukir kenangan indah,Alma dan Daniel melewati malam pertama ditempat tidur nya masing-masing.Alma bis tidur dengan tenang dan nyenyak,tetapi tidak bagi Daniel.Merasa diacuhkan dan tak dianggap oleh Alma,semalam Daniel gelisah hingga sulit tidur.Dini hari Daniel baru bisa terpejam saat rasa kantuknya datang.


Flashback off.

__ADS_1


Daniel tersenyum saat diotak nya tercetus ide bagus."Alma,kita akan mampir ke suatu tempat.".Disela mengemudinya,Daniel memandangi gadis yang kini sah dan halal untuk disentuhnya.


Alma menoleh Daniel dengan aura dingin dan tak bersemangat."Terserah.".Pasrah saja Daniel akan membawanya ke mana.


"Tersenyum lah!.Itu baik untuk kesehatan dan berpengaruh pada perkembangan anak kita.".Sebesar apapun Alma membenci dirinya,Daniel berusaha berperan sebagai suami yang baik.


Nafas Alma terasa sesak mendengar kata-kata tulus yang diucapkan Daniel.Itu ada benarnya dan tak dipungkiri nya,tetapi itu semua tak sesuai harapannya.Jika saja ayah dari anaknya ini Riccy,hatinya pasti akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa.Jika saja pria yang menjadi suaminya ini Riccy,senyum nya takkan pernah menghilang dari bibirnya.


Alma mengatur nafasnya yang seperti menahan beban berat dihati nya."Pikirkan saja dirimu sendiri!.".


Daniel galau,niat baik nya tak ditanggapi baik oleh Alma.Sikap Alma terkesan acuh dan dingin,bahkan ucapan nya terdengar angkuh.Tetapi Daniel tak perduli,saat ini yang terpenting bisa memiliki Alma seutuhnya.Entah bagaimana akhir nya nanti akan kisah hidupnya bersama Alma.Akan selamanya dalam membangun biduk rumah tangga,atau hingga anaknya lahir saja,sesuai harapan Alma.


Karena ini hari pertama nya sebagai pasangan suami istri,Daniel harus menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.Namun naasnya,malam pertama nya tadi malam,dilewatkan dengan tidur terpisah.Daniel disofa,Alma ditempat tidur walaupun dalam satu kamar yang sama.


Daniel menghubungi pengurus sekaligus penjaga villa untuk menyiapkan makanan.Ini momen yang tepat pikir Daniel,untuk saling mengenal lebih dekat satu sama lain dengan Alma,yakni bermalam di villa.Apalagi dibagasi mobil sudah tersedia pakaian ganti,milik Alma dan dirinya.


Hari menjelang sore saat tiba disebuah villa.Tetapi suasana di villa itu masih tampak asri dan udaranya terasa sejuk.Jika dilihat dari sisi baiknya,tempat itu sangat nyaman,menyenangkan dan menarik hingga akan merasa kerasan tinggal di sana,meskipun suasananya terasa sepi dan jauh dari pemukiman penduduk.


"Masuklah duluan!,aku akan membawa barang-barang kita.".


Alma keluar lebih dulu sesuai perintah Daniel,dan masuk ke dalam villa yang terlihat mewah meskipun model bangunan nya klasik."Baru kali ini aku menginjakkan kaki di villa sebagus ini.".Alma terpukau melihat interior ruangan dan furniture nya,mata nya begitu terpesona dan bibirnya berdecak kagum.


Setiap hiasan villa itu disentuh Alma,dan foto-foto yang melekat di dinding tak lolos dari penglihatan nya,dengan bibir tak henti tersenyum.


Saat melihat kedatangan anggota keluarga dari pemilik villa yang diurusnya.Pria dan wanita berusia kurang dari setengah abad menghampiri Daniel."Selamat datang Den?.".Penuh dengan keramahan menyambut Daniel.


Daniel menoleh pada saat tengah mengeluarkan barang-barang dibagasi."Terima kasih!.Pak Akbar,Bu Dewi maaf!.Aku tiba-tiba datang dan mendadak kemari tanpa direncanakan sebelumnya.".Satu persatu menjabat tangan kedua nya.


"Tidak masalah Den!,kami senang senang melayani Aden.Villa ini kesepian dan merindukan pemilik nya.".Akbar suami dari Dewi menatap wajah yang baru dilihatnya lagi setelah sekian lama.


Pasangan suami istri itu telah mengabdikan diri menjaga dan mengurus villa sudah bertahun-tahun lamanya.Sejak Daniel,Khaffa dan Khaira masih remaja.


"Aden,selamat untuk pernikahan nya.Maaf!,kemarin kami tidak datang ke pernikahan Aden.Bertepatan dengan pernikahan keponakan?.".Dewi mendapat undangan pernikahan dari Orang tua Daniel tetapi tak bisa menghadirinya.


"Aku mengerti.Tidak perlu dipikirkan!.".Daniel memandangi wajah-wajah yang lama tak dijumpainya.


"Semoga sakinah,mawadah dan warohmah.".Akbar mendo'akan dengan tulus "Ijinkan saya membawanya,Den!?.".Sebagai orang yang dipercaya dan dipekerjakan keluarga Daniel dan Khaffa,harus sigap dan cekatan.


"Baik.Akan segera kami lakukan.".Akbar dan Dewi memandangi punggung Daniel yang berjalan masuk ke dalam villa,usai itu pergi untuk mengerjakan tugasnya.


Daniel datang membawa dua koper besar ditangannya."Itu foto ku saat masih kecil.".


Alma dikejutkan Daniel hingga bingkai foto kecil yang dipegangnya terjatuh,saat tengah memandangi seraut wajah sosok anak kecil yang lucu.Untung nya,kaca figura nya tidak pecah.


Daniel berjongkok dihadapan Alma untuk mengambil figura nya dan berdiri kembali."Alma...Aku ini tidak mudah bagi mu untuk menerima ku.Jika tidak bisa menganggap ku suami,hormati aku sebagai ayah dari anak kita.".Iris matanya bersirobok dengan mata Alma yang menatap nya sendu.


Alma memikirkan permintaan Daniel,dan tertegun sejenak."Aku mau istirahat,di mana kamar ku?.".Mengalihkan pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Daniel yang tak berkedip menatap nya.


"Ruangan ke tiga.Pertama dan kedua milik orang tua ku,Om dan Tante.Keempat Khaffa dan terakhir Khaira.".Tanpa keberatan dan dengan baik-baik Daniel menjelaskan.


Alma mengernyit aneh menatapi Daniel."Aku tidak minta penjelasan tentang itu.".Berlalu pergi usai memberi tatapan yang meremehkan,sinis dan senyuman yang merendahkan diri Daniel.


Selain bersabar dan menghela nafas,tak bisa dilakukan Daniel lagi menghadapi sikap Alma.Daniel menyeret koper dan menyusul Alma ke kamar.


"Ini kamar ku,bukan?.".Alma terheran,Daniel masuk ke kamar yang ditunjuknya tadi.


"Kamar kita.Hanya ini yang tersisa.".Daniel menggedikkan bahunya,tak bisa pergi ke kamar lai selain kamar itu.


"Tidurlah dikamar lain.".Alma tak mau satu tempat,bahkan tak mau satu kamar dengan Daniel.


"Tidak.Mereka akan mencekik ku jika tau.".Daniel sengaja memperlihatkan ekspresi wajah ketakutan untuk mengelabui Alma.


"Aku saja yang tidur dikamar Khaira.".


"Kuncinya ada ditangan Khaira.Ambil lah ke Jakarta!.Tidak ada duplikat nya disini,termasuk kamar lainnya.".Daniel menerangkan jika kunci kamar itu dipegang oleh pemiliknya sendiri.


"Aku tidur diruang tengah saja.".Alma tak melihat satu pun sofa dikamar itu.


"Silahkan!.Setauku tempat ini terkenal angker.Jangan terkejut jika mendengar dan melihat sesuatu.".Daniel menakut-nakuti Alma demi mempertahankan Alma di kamar itu,agar bisa tidur bersama.


"Kamu berusaha menakuti ku?.".Alma tak percaya begitu saja.

__ADS_1


"Terserah.Jika tidak percaya,tanyakan saja pada pengurus tempat ini.".Daniel pura-pura tak perduli.


"Menyebalkan.".Alma mencelos pergi dari kamar menuju dapur dengan hati dongkol.


Meladeni Daniel malah akan membuat suasana hati nya semakin panas dan menambah ketakutannya.


Betapa senangnya hati Daniel bisa mengerjai Alma dan tak memberi nya pilihan lain,selain tidur bersama dengan nya.Disatu tempat tidur dan kamar yang sama.


Daniel mengirim pesan singkat pada Lenni dan Al.Niatnya pulang ke rumah 3 hari setelah pernikahan tak jadi dilakukan,dan memberikan kabar jika saat ini ada di villa bersama Alma.


Alma menghampiri Dewi yang berjibaku di dapur."Ada yang bisa kulakukan?.".Merasa bosan jika berdiam diri saja.


"Non Alma?.".Dewi mengamati gadis yang berdiri disampingnya."Istri Den Daniel?.".Mengulurkan tangannya menjabat tangan Alma yang terdiam dan hanya mengukir senyuman.


"Sepertinya ibu sibuk!?.".


"Non bisa memanggilku Bu De,alias Bu Dewi.".Dewi berkelakar dan tertawa renyah.


"Baiklah,Bu De.".Alma ikut tertawa,ikut mencairkan suasana.


"Tolong dikupas kulit bawang merah,bawang putih dan bawang bombai nya.Non tidak keberatan?.".


"Sama sekali tidak.".Alma menggeleng yakin.


"Terima kasih,ini pisaunya.".Dewi menyerahkan pisau kecil pada Alma."Hati-hati tajam,setajam tatapan mata Den Daniel.".


Dewi membuat Alma terhenyak dan mengulum senyum.Benar,tatapan mata Daniel memang sering membuat jantungnya berdebar kencang dan hati nya meleleh.Jika tak mengontrol diri,Alma akan goyah hatinya,dan luluh lalu jatuh ke pelukan Daniel.Paling fatal,akan jatuh cinta jika berlama-lama menatap mata Daniel.


Alma duduk di kursi dan mengupas kulit bawang-bawang,mencuci dan mengiris bawang-bawang itu sedikit yang diletakkan di meja dapur,dalam keranjang kecil.Perlahan dan sedikit demi sedikit matanya berair dan kepalanya terasa pusing saat penciuman menghisap aroma aneh.Pedih oleh zat kimia yang dikeluarkan bawang itu,dan perutnya menjadi mual mencium aroma bawang itu.


"Maaf!.Aku tidak bisa meneruskan,tidak tahan aroma nya.".Alma berlari ke kamar meninggalkan Dewi sendirian,dan bergegas masuk kedalam kamar mandi,melewati Daniel yang tengah merapikan dan memasukkan baju-baju dari koper ke lemari pakaian."Hoek,hoek...".


Daniel menghentikan aktivitasnya kala mendengar Alma muntah-muntah dan menghampiri kamar mandi."Kamu tidak apa-apa?.".Mengetuk pintunya yang tertutup rapat."Alma,kamu baik-baik saja?.".Tak ada sahutan lagi dari Alma,Daniel menjadi panik dan cemas dengan kondisi Alma.


"Hoek,hoek...".


Pintunya tak terkunci tetapi Daniel tak berani masuk."Alma,boleh aku masuk?.".Daniel tak tega mendengar Alma terus memuntahkan isi perutnya,akhirnya menerobos masuk dan membantu Alma menepuk punggung nya pelan saat berdiri didepan wastafel.


"Pergilah!.Jangan pedulikan aku!.".Suara Alma yang lemah menyuruh Daniel keluar,dan wajahnya pun pucat pasi menatap nanar Daniel.


Daniel iba melihat Alma."Kamu kelihatannya tidak sehat.Ayo,kita ke rumah sakit!.".Takut terjadi sesuatu pada Alma dan bayinya.


"Tidak!.".Baru maju selangkah,Alma sudah hampir ambruk jika Daniel tak memegangi nya."Bantu aku berjalan ke tempat tidur.".Alma tak memiliki tenaga untuk berjalan menuju tempat tidur selangkah pun.


Tanpa seijin Alma,Daniel menggendong nya ke dan merebahkan tubuh Alma ditempat tidur."Aku panggilkan Dokter.".Daniel terkesiap saat Alma menarik tangannya.


"Tolong,ambilkan minyak ekaliptus di tas ku.".Alma menunjuk tas warna putih nya.


Tanpa berkata-kata Daniel menuruti permintaannya,dan mengambil botol berukuran kecil dari tas Alma."Aku bantu.Kamu tidak bisa melakukannya sendiri.".Menjauhkan botol minyak ekaliptus saat Alma akan meraihnya.


Tanpa perlawanan,Alma membiarkan Daniel mengoleskan minyak beraroma wangi dan menyegarkan itu.Rasa risih dan canggung diabaikan Alma saat Daniel menyentuh pelipisnya.Untuk kali ini,hatinya ingin berdamai dengan Daniel karena tak memiliki tenaga untuk melakukan apapun.Tubuhnya meremang,kala tangan Daniel menyentuh lehernya.


Daniel menelan salivanya melihat kulit leher Alma yang putih mulus dan jenjang"Itu cukup?.".Duduk di tepi tempat tidur dan berdekatan dengan Alma membuat darahnya berdesir,apalagi saat menyentuh lehernya.


Tanpa berkata-kata Alma mengangguk.Perlakuan lembut Daniel cukup membuat hatinya melunak.


Intens nya Daniel mengamati Alma."Kamu menangis?,mata mu merah!.".Terheran melihat mata Alma yang jernih tampak memerah"Alma,apa aku melukai hati mu?,kamu tidak ingin bersama ku dan merasa terpaksa ada disini?.".


"Jangan konyol.Aku mengupasi kulit bawang dan mengirisnya.Untuk apa aku menangisi mu?.".Alma memutar bola matanya kala bersandar di bahu tempat tidur,didepan tumpukan bantal.


Dugaannya ternyata salah,Daniel bernafas lega dan tersenyum kikuk."Kamu merasa baikan sekarang?.".


"Aku mau minum air hangat.".Tenggorokan Alma terasa kering.


"Tetaplah disini.".Daniel secepatnya ke dapur mengambil segelas air hangat.


Saat kembali ke kamar,Daniel terperangah melihat Alma tengah mengolesi dada nya dengan minyak ekaliptus dalam keadaan kancing baju terbuka.Pikirannya berkelana saat matanya tertuju pada buah dada Alma yang berbalut bra warna hitam.


***


Terima kasih,kuharap kalian suka...Love you Readers...🥰

__ADS_1


__ADS_2