Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
Bab 24.Gelisah dan Cemas.


__ADS_3

Didalam butik diMall.Saat berjibaku dimeja kerjanya.


Pippp.


Tiba-tiba notifikasi ponsel Anayra berkedip tanda ada pesan masuk.Anayra segera mengambil ponselnya yang ada dimeja.Kening Anayra berkerut saat melihat nama pengirim pesan karena merasa tidak pernah mengetik nama itu.


Penolong Tampan.


Aku tunggu sore ini


Bersiaplah!.


Glekkk.


Seketika Anayra menelan salivanya kasar setelah membaca isi pesan itu.Keringat dingin mulai keluar dari celah pori-porinya padahal suhu diruangan itu normal.


"Haaa...Dasar otak kurang se ons,mulai beraksi rupanya!.Sudah seenak jidat membaca pesanku,sudah berani memasukkan nomor kontaknya dan mengetik nama konyol diponselku,sekarang malah menyuruhku siap-siap!.Aaakh...".Umpatnya menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak terasa gatal dan panas saking kesalnya.


Anayra memutar-mutar bola matanya menuntut otaknya untuk mencari ide bagus dan brilian.Bagaimana caranya supaya bisa terbebas dari jerat kesepakatan konyol itu bersama pria pengirim pesan itu.


"Bagaimana ini?,haruskah keserahkan tubuhku ini meski terpaksa?.".Memeluk tubuhnya erat dan menggelengkan kepalanya."Ga boleh,itu dosa Nay'!.Ini kehormatanku satu-satunya.Harga diriku mau ditaruh dimana kalau sampai melakukan hal bodoh itu?.Gimana nanti reaksi ayah dan ibu kalau tau putri kebanggaannya dan kesayangannya sudah jebol gawangnya?.".Anayra bergumam sendiri berdiri dan berjalan mondar-mandir didepan meja kerjanya.


Benar-benar membingungkan dan mengguncang batin Anayra.Tak mungkin melakukan sesuatu yang diluar kehendaknya sendiri.Apalagi sesuatu itu akan menjerumuskan ke lembah dosa dan penyesalan.


"Benar dan ga boleh!.Tapi aku ga bisa berdiam diri saja.Aku harus melakukan sesuatu dan diskusikan lagi soal ini bersama pria itu!.".Anayra menyemangati dirinya sendiri yang mulai gelisah dan cemas.


Berpikir keras supaya bisa selamat dari sesuatu yang bisa membuatnya menyesal seumur hidupnya.


"Mbak kenapa?,mondar-mandir kayak setrikaan aja?.".Tanya Dea dimeja Kassa.


Dea memperhatikan gerak-gerik Anayra yang aneh dan tidak seperti biasanya.Terlihat gelisah dan cemas seperti ada sesuatu yang menggangu pikirannya.Biasanya Anayra diam dan tidak bereaksi seperti itu saat dalam masalah.Terkecuali jika ada Lefrand didekatnya.


Ditanya begitu,Anayra langsung berkilah.''Ga ada Dea,aku cuma pegal.Duduk terus dari tadi.Jangan cemaskan aku!.".Meyakinkan Dea jika keadaannya baik-baik saja.


Anayra menghampiri Dea dimeja Kassa dan berkata."Dea boleh bertanya?.Menurutmu,apa mungkin orang memberikan hukuman yang ga masuk akal dan minta imbalan atau balasan atas pertolongannya dengan cara harus menyerahkan dirinya?.".Mimik Anayra serius.


Dea mengerti dan paham kemana arah pembicaraannya.Awalnya Dea merasa curiga dan aneh,namun ditepisnya dan berpikir positif.Bahkan rikuh untuk menjawabnya tetapi Anayra meminta pendapatnya.


Dea berpikir sejenak mencari jawaban yang tepat."Mmmh...Mungkin,kenapa enggak mbak!.Tapi Itu juga kalau dilakukan atas dasar suka sama suka.Sebenarnya ga semua orang begitu sih,tergantung masalahnya.Tapi menurutku lebih baik kita membalasnya dengan cara mengabdikan diri kita,seperti membantunya atau melayaninya,alias jadi upik abu mbak,heee...Memang ga sedikit orang pamrih saat memberi pertolongan.Tapi kenapa mbak tanya soal itu?.".Tanya Dea sembari merapikan gulungan kertas struk dimesin register.


Ditanya malah balik bertanya.Lalu aku harus jawab apa?.Membuatku bingung saja...


"Haaa...Ga ada!,aku cuma asal tanya ga usah dipikirkan!.".Jawab Anayra mengibaskan tangannya supaya Dea menganggap angin pertanyaannya."Fokus saja ke mesin uang itu.Aku kembali ke mejaku.Dahhh!.".Anayra berkelit dan menghindar.


Anayra kembali ke meja kerjanya meneruskan pekerjaannya dan untuk menghindari Dea yang tampaknya mulai mencurigainya.


"Aneh!,kenapa mbak Anayra tanya soal itu?.".Gumam Dea terheran menatap Anayra yang duduk menghadap mejanya disudut ruangan itu.


Pikiran dan perhatian Dea teralihkan saat melihat ada customer mendekat ke meja Kassa untuk bertransaksi.


Dikantor CEO.


Khaira melongo tak percaya."Haaa...Abang,ga salah menyuruh ku membaca dan mempelajari tumpukan buku dan kertas ini semuanya?.".Tanya Khaira memastikan sembari memandangi buku dan dokumen didepannya.


Khaira tercengang melihat buku-buku dan dokumen diatas meja yang diberikan Khaffa untuk dibaca dan dipelajarinya.Tidak habis pikir jika Khaffa akan memberikan tugas yang berat,menurutnya.Benar-benar super tega kakaknya itu.

__ADS_1


Padahal Khaira sangat anti membaca buku setebal itu meskipun kepintarannya bersumber dari buku pelajaran.Terkecuali saat masih sekolah dan kuliah dulu.Lagi pula hari ini hari pertama Khaira bekerja,tetapi sudah disuguhi pekerjaan yang berat.


"Benar dan tepat sekali!.Baca dan pelajari itu semua!.Itu tugasmu hari ini,jadi kamu harus patuhi perintah abang setelah memutuskan kerja disini!.".Khaffa santai dan acuh tanpa merasa iba dan kasihan.


Berdiri dan bersandar didinding didepan ruangannya sembari memasukkan tangannya kedalam saku celananya.Ini kesempatan Khaffa untuk mendidik Khaira.


"Tapi ini penjajahan dan penyiksaan namanya Abang.Ga mungkin aku membaca ini semua meskipun otakku bisa diandalkan.".Protes Khaira menghela nafas berat dan menatap jengah Khaffa.


Mengeluh dan merengut sedih.Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Khaffa akan memberikan pekerjaan yang berat.Dibayangannya Khaffa hanya memberinya tugas ringan sebagai sekretaris.


Duduk dikursi dibalik meja kerjanya dan menerima telepon masuk.Mengatur jadwal kegiatan Khaffa dan menyapa tamu yang akan bertandang ke kantor CEO.Memberikan berkas yang harus ditandatangani Khaffa dan tugas ringan lainnya.Tetapi ternyata bayangan Khaira meleset.


Khaffa yang mendengar keluhan Khaira bukannya respek malah berkata."Sepertinya itu masih kurang.Ok,Abang suruh Riccy menambahkan bukunya lagi!.Kupikir lebih baik lagi kamu menghabiskan waktu mu disini Khai',daripada keluyuran ga jelas.".Saking jengkelnya oleh ulah Khaira yang hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri.


Setelah lulus kuliah,Khaira sama sekali tak memikirkan melakukan hal yang lebih baik dan berguna.Jangankan untuk berbisnis,bekerja saja sepertinya sangat malas.Jangankan bekerja,untuk bangun pagi saja sangatlah sulit.Satu inilah kekurangan Khaira dari sepuluh kelebihannya,yaitu malas.


Khaira terperanjat dikursi kerjanya dan refleks menutupi bahan lemburnya dimejanya menggunakan kedua tangannya.Sampai tubuhnya condong kedepan."Jangan bang!,aku akan baca dan pelajari semuanya.Janji!.".Khaira tiba-tiba bersemangat dan jarinya membentuk huruf V untuk meyakinkan Khaffa.


Ini jalan terbaik untuk menghentikan aksi kakaknya.Jika tak begitu maka siap-siap saja Khaira menghabiskan seharian penuh jam kerjanya dimeja kerjanya,bahkan mungkin lebih.Membaca kata demi kata,per paragrarf nya dan setiap halamannya.


Tak terbayangkan jika Khaffa menambahkan buku-buku itu lagi.Kepala Khaira pastinya bisa meledak dan pecah dan bukan hanya itu saja, intensitas waktu untuk bersenang-senang dan memanjakan dirinya secara otomatis menjadi berkurang.


Senyum Khaffa melengkung keatas,ternyata Khaira langsung merespon baik dan cepat.Bisa diajak kompromi dan patuh."Hmh...Gadis pintar!.Kamu harus patuh pada abang kalau mau jadi sekertarisku.Kamu harus cerdas dan juga disiplin.Lakukan tugasmu dengan baik dan jangan berani membantah Abang lagi kalau mau uang sakumu kembali dan transferan ke rekening mu lancar lagi!.".Tegas Khaffa dan menekan Khaira.


Khaffa masuk kedalam ruangannya setelah dirasa cukup untuk menasehati dan mengingatkan Khaira.


Sedangkan sang adik menatapnya tajam hingga Khaffa menutup pintu ruangannya dan mengoceh."Heuh...Punya abang satu tapi super tega.Apa abang suka begitu juga kalau ngobrol sama orang lain?.Acuh dan dingin.Dihhh...Pantesan dia ga punya sekertaris,kalau pun ada pastinya ga akan ada yang tahan lama kerja disini.".Oceh Khaira dan tangan nya bergerak mengambil salah satu buku.


Dibuka sampulnya dan dibaca halaman demi halamannya tanpa terlewati.Berusaha memahami setiap suku katanya yang tercatat disana dan mempelajari semua ilmu yang tertanam dibuku itu.


Meskipun Khaira termasuk gadis yang pintar dan cerdas.Tetapi tidak untuk hal yang berkaitan dengan pekerjaan.Selama ini yang Khaira tahu hanya bersolek, memanjakan diri,belanja dan bersenang-senang.


Menghabiskan uang jatah bulanannya yang diberikan Khaffa bernominal cukup banyak hingga puluhan juta,bahkan bisa lebih dari itu.Kadang jika masih kurang atau habis,tinggal menengadahkan tangan meminta pada orang tuanya.Jika tidak secara langsung,tinggal kirim pesan atau telepon minta ditransfer.Maka permintaannya akan terkabul dan keinginannya tercapai.


Secara,Khaira putri satu-satunya seorang salah satu konglomerat di jakarta.Tak mungkin kekurangan uang,takkan takut kesusahan dan kesulitan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.


Khaffa memperhatikan gerak-gerik Khaira dari dalam ruangannya melalui dinding tembus pandang itu.Khaffa bisa melihat situasi dan kondisi diluar namun orang lain tidak dapat melihat aktivitas Khaffa.


Khaffa tersenyum senang bisa membuat perubahan tahap awal sedikit demi sedikit untuk mendidik Khaira meskipun caranya keras dan bertolak belakang dengan keinginan Khaira."Hmhhh...Gadis tengil dan manja.Maaf Khai' mulai hari ini kamu harus belajar mandiri dan cari penghasilan sendiri!,jangan terus mengandalkan pemberian Abang,Mami dan Papi.Abang melakukan ini supaya kamu berpikir dewasa dan merasakan kerja keras penuh tetesan keringat,biar kamu tau caranya menghargai jerih payah orang lain.".Gumam Khaffa seraya menatap punggung adiknya yang sibuk memelototi lembaran buku.


Kasih sayang dan perhatiannya memang tidak ditunjukkan jelas.Khaffa malah cenderung keras dan selalu menentang keinginan Khaira jika menurutnya itu tidak baik.Namun berbeda dengan orang tuanya yang selalu menuruti setiap keinginan adiknya.Terutama sang ayah.


Bagi orang tuanya,Andika dan Rena.kebahagiaan kedua anaknya adalah hal yang paling utama.Mereka akan memberikan yang terbaik untuk kebutuhan anak-anaknya selama mereka mampu dan ada.Apalagi harta kekayaan yang dimilikinya tentu diprioritaskan untuk kedua anaknya.Mereka ingin anak-anaknya tidak merasakan hidup dalam kekurangan dan kesusahan seperti yang pernah mereka rasakan dulu.


Tetapi meskipun berlimpah harta namun juga dermawan dan peduli pada orang lain yang kurang beruntung.Selalu membantu dalam kegiatan sosial dan yang lainnya.


Setelah sekian lamanya membaca setiap barisan kata-kata dibuku itu,akhirnya Khaira berada di titik jenuh nya dan berdecak kesal."Ckkk...Kepalaku pusing liat setiap kata-katanya,gimana bisa aku baca buku setebal ini?.Belum lagi yang lainnya.".Khaira merutuk disela-sela kesibukannya membaca dan menatap ketebalan buku itu serta memandangi buku-buku yang bertumpuk dimeja.


Jenuh dan bosan melihat huruf-huruf dan kata-kata dibuku itu.Sesekali Khaira menguap dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.menselonjorkan kakinya dibawah meja dan menggeliat untuk melepaskan rasa lelah dan mengusir rasa jenuhnya.


Sungguh super tega dan tak berhati nurani kakaknya itu.


Klek.


Riccy terkikik geli melihat penampakan Khaira yang ada didepannya saat baru keluar dari ruangannya.Khaira terlihat lesu dan tidak bersemangat.Kepalanya pun terkantuk-kantuk dan geleng-geleng kepala untuk mengusir rasa kantuknya.

__ADS_1


Riccy berdiri didepan meja Khaira dan memandangnya lucu meskipun dalam hati merasa iba dan kasihan."Kenapa Khai'?,kayaknya kamu bersemangat sekali dan sangat menikmati pekerjaan yang diberikan abangmu!.".Riccy meledek Khaira yang duduk termangu dan menopang dagunya dimeja.


Khaira memutar matanya jengah melihat Riccy berdiri didepannya seraya memegang sesuatu ditangannya.


"Mata kakak rabun ya,menikmati apanya?!.".


"Pelajari Khai'!,ini untuk kebaikanmu juga.Dia melakukan ini karena sayang sama kamu.".


"Hmmh,kurasa begitu.Tapi aku malas dan ga sanggup kalau harus baca semuanya,bukannya lebih baik kalau praktek langsung kak?.".Khaira mengemukakan pendapatnya sembari tertunduk lemah.


"Iya benar,tapi bukannya lebih baik kalau kamu tau ilmunya dulu sebelum melakukan sesuatu?.Pelajari ilmunya dulu baru praktek.Ayo semangat Khai'!,kamu pasti bisa.".Riccy menyemangatinya meskipun merasa iba melihat Khaira diperlakukan keras oleh Khaffa,keras dalam mendidiknya.


Khaira mendongak menatap Riccy dan menganggguk.Benar adanya yang dikatakan Riccy.


"Ok kak!.".Ucap Khaira sambil melingkarkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.


Khaira melanjutkan kegiatannya yang terhenti.Riccy tersenyum melihat Khaira yang mulai bersemangat.Dia lalu berjalan masuk kedalam ruangan CEO.


Klek.


"Boss,ini laporan keuangan perusahaan bulan ini!.".Riccy menyerahkan berkas laporan pada Khaffa.


Khaffa menerima dan menyimak isi laporan keuangan perusahaan yang diberikan Riccy.


"Good!.Gue rasa ada peningkatan setelah butik itu bergabung disini.Pemasukannya bertambah.Butik itu baru sepekan disini tapi cukup berpengaruh besar rupanya.".Tutur Khaffa setelah membaca rinciannya.


Riccy mengangguk setuju dan tak menyangkalnya."Benar Boss,gue rasa juga begitu!.Oya Boss,jangan terlalu membebani Khaira,kasian dia belum terbiasa!.Bukannya lebih baik melatihnya langsung dilapangan daripada diberi materi sebanyak itu?.".Protes Riccy teringat kata-kata Khaira.


Khaffa sontak menoleh dan menatap tajam Riccy."Kenapa lu selalu nentang sikap gue?.Apa yang gue lakukan selalu salah dimata lu!.Apa lu benar-benar sudah bosan kerja disini?.".Sentak Khaffa dan membanting berkas laporan yang ada ditangannya ke meja saking geramnya.


Riccy tersentak kaget tetapi tak takut dan berkata."Maaf Boss!.Baiklah aku pamit!.".Riccy keluar dari ruangan CEO dengan mimik wajah lesu.


Tetapi bukan karena tersinggung melainkan sedih pendapatnya tak digubris Khaffa dalam membela Khaira.


Riccy memang selalu menyikapinya tenang sebab sudah terbiasa menghadapi sikap Khaffa yang keras.Meskipun hal itu bertentangan dengan hati nuraninya,tapi bagaimanapun memang bukan urusannya.Namun dia hanya sekedar mengingatkan Khaffa sebagai sahabatnya.Diterima atau tidak pendapatnya,itu terserah Khaffa karena semua keputusan sepenuhnya ada ditangan Khaffa.


Khaira melihat Riccy seperti itu lantas menertawakan seakan-akan membalas cibiran Riccy tadi."Hahaha...Kenapa muka kakak asem gitu?,tadi nyemangatin aku,tapi sekarang malah kakak yang lesu!.Apa abang marah kak?.".Khaira berbalik meledek Riccy.


Riccy menggedikkan bahunya seolah berkata 'Apalagi selain itu'.Niat hati ingin membela Khaira malah dimarahi habis-habisan oleh Khaffa.Untungnya Riccy bukan pria berperasaan sensitif.


Tetapi alih-alih menjawab pertanyaan Khaira malah berkata."Siap-siaplah Khai',kamu harus kuat dan tahan banting kerja disini!.Patuhi abangmu!.Jangan bicara hal-hal yang ga penting kalau mau aman dan tenang kerja disini,mengerti maksudku Khai'?.".Riccy memberi nasehat untuk kebaikan Khaira dan supaya kuat menghadapi Khaffa.


Selain itu,mengingatkannya supaya tidak mengalami kesulitan selama bekerja sebagai sekertaris kakaknya.Itu karena Riccy peduli dan sayang seperti seorang kakak pada adiknya.


Khaira menganggguk memahami yang dikatakan oleh Riccy."Thanks Kak,saranghae!!!.".Dan memberikan tanda hati ditangannya menirukan gaya ala orang Korea.


Senyum dibibir Riccy terbit lagi dan masuk kedalam ruangannya kembali teringat akan setumpuk pekerjaan lainnya menunggu disana.


Riccy dan Khaira memang dekat semenjak persahabatannya dengan Khaffa terjalin.Riccy sudah mengganggap Khaira seperti adiknya sendiri karena tidak mempunyai adik perempuan.Dia hanya mempunyai kakak laki-laki yang usianya terpaut 4 tahun dengannya.Sudah menikah dan sudah mempunyai anak pula berumur 2 tahun.


***


Author:


Sehat dan semangat terus ya Readersku...Saranghae!!!.💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2