
Di gedung megah dan elit,didalam ruangan apartemen yang bergaya modern dengan warna interior dinding yang didominasi warna putih hitam dan ditunjang furniture berwarna hitam dan abu.
Khaffa sudah siap dengan setelan jas warna coklat muda melekat ditubuhnya untuk didalam kamarnya.Anayra dan Rena masih berada dipantry tengah sibuk dengan kegiatan memasaknya.
Setelah selesai,Anayra menghidangkan hasil kelihaiannya dalam mengolah masakan dimeja makan didampingi Rena disampingnya.
"Mmm,sepertinya enak!.Nak,tolong panggilkan Abang dikamarnya!?.".Rena mengamati makanan yang tertata dimeja makan.
Tampak tergiur oleh aroma wangi dan tampilan masakan Anayra.Memberinya poin plus untuk Anayra.Walaupun pintar memasak bukan kriteria utama dalam menilai gadis untuk menjadi calon istri Khaffa.Tetapi Anayra berhasil membuat Rena terkesan.
"Baik!.".Anayra segera pergi ke kamar Khaffa menuruti permintaan Rena
Klek.
Baru saja Anayra akan mengetuk pintu kamar Khaffa,tetapi sang empunya kamar sudah membuka pintu dan menampakkan dirinya.
Kenapa aku menyukai wajah tampannya?,apa dia selalu sesempurna ini?...Bathin Anayra bertanya-tanya memandanginya.
Terpukau penampilan Khaffa yang selalu terlihat sempurna dimatanya.Entah kenapa hati kecilnya selalu dibuat takjub melihat penampilan Khaffa dibalik sikapnya yang dingin,datar dan angkuh.
Karena merasa risih dipandangi terus Anayra,Khaffa langsung menelisik penampilannya sendiri dan mencari letak kekurangannya.
Kenapa dia melihat ku seperti itu?,ada yang salah dan aneh penampilan ku?...Khaffa menatap Anayra yang berdiri dihadapannya.
Anayra menatapnya tanpa berkedipi dengan pikiran berkelana.
"Ekhm,ada apa?.Kenapa melihatku seperti itu?.".Khaffa membuyarkan lamunannya dengan bahasa yang formal dan kaku bahasa tubuhnya,untuk menjaga imagenya sebagai seorang CEO.
Saat berhadapan dengan orang lain,Khaffa selalu bersikap seperti itu,kecuali jika didepan orang terdekatnya.
Anayra menjadi salah tingkah dibuat nya"libu memanggil anda untuk sarapan Pak!.Beliau sudah menunggu dimeja makan!.".Dengan kikuknya.
"Ssst,jangan memanggilku Pak!.Mami nanti mendengarnya.".Khaffa meletakkan jarinya dibibir Anayra.
Khaffa takut jika sandiwara yang dibuatnya sendiri akan terbongkar dan ketahuan ibunya.Jika begitu,maka tamatlah riwayat mereka berdua dan Rena akan mencaci makinya habis-habisan.
"Kenapa harus memboho-...".Anayra karena masih tidak terima dengan permainan yang dibuat Khaffa.
"Kita bahas ini nanti!.".Khaffa menggeleng pelan,meminta Anayra diam.
Berlalu dari hadapan Anayra menuju meja makan.Meninggalkan Anayra yang berdiri mematung ditempatnya dan merutuk.
"Gak punya sopan santun.Aku dianggap apa?.".Merengut kesal dan berkacak pinggang memandangi punggung Khaffa.
Anayra pergi menyusulnya ke sana.Dimeja makan Rena sudah duduk bersampingan dengan Khaffa.
"Duduklah!.Jangan sungkan dan canggung.Kita makan bersama!.".Rena menunjuk kursi kosong dihadapannya saat melihat Anayra berdiri saja.
Anayra tampak segan dan ragu-ragu untuk duduk,risih makan bersama mereka.Sadar jika derajatnya tak sebanding dan berbeda dengan mereka.Mempunyai latar belakang ibarat bumi dan langit.Posisi Khaffa pun sangat jauh diatasnya.
''Duduklah!.".Khaffa menginstruksi Anayra.
"Baik!.".Dengan cepat duduk dihadapan Rena tanpa pikir panjang lagi.
Khaffa tersenyum samar,Anayra langsung patuh pada perintahnya.Aneh dan heran tetapi membuatnya senang.
"Abang ini makanan favoritmu,Anayra yang memasaknya.".Rena menjelaskan.
''Hmmh...Aku tau!.".Khaffa sudah bisa menduganya.
"Anayra,tolong ambilkan makanannya untuk Khaffa!.".Rena menyodorkan piring kosong pada Anayra setelah mengisi piringnya sendiri terlebih dahulu.
"Baik!.".Anayra manut saja seperti seorang ART yang melayani majikannya dan meraih piring ditangan Rena.
Dia canggung sekali.Seperti pelayan saja...Khaffa mengamati gerak-gerik Anayra yang tampak canggung.
Anayra fokus saja menyiduk nasi goreng kedalam piring Khaffa.Rena senyum-senyum sedari tadi,terus menerus menguji Anayra.Ada alasan yang tersembunyi dibalik sikapnya itu.
"Buka mulutmu!,makanlah yang banyak!.Bukankah suka sekali masakan ku!.".Anayra menyuruh Khaffa membuka mulut dan menyuapinya.
Berakting demi mengabulkan permintaan Khaffa untuk berperan menjadi kekasihnya didepan Rena,walaupun berat hati dan terpaksa melakukannya.
Khaffa terkejut,refleks membuka mulutnya dan terpaksa memakannya.
Sikapmu berlebihan.Aku tidak minta disuapi...Khaffa melototi Anayra sembari mengunyah makanan.
Aku melakukan tugasku dengan baik bukan?...Anayra tersenyum smirk memandangi Khaffa.
"Mmm,enak sekali.Cocok dengan selera kita.Anayra,sepertinya kamu lulus untuk menjadi calon istrinya Abang.".Rena mengejutkan Anayra dan Khaffa.
Rena merasakan ada kecocokan antara Khaffa dan Anayra.Menilai Anayra lulus seleksi setelah melewati ujian.Sebagai calon kandidat satu-satunya dalam proses pencarian jodoh untuk putranya,dan sebagai calon menantunya.Rena terobsesi untuk melihat Khaffa menikah dan ingin segera memiliki cucu diusianya yang semakin menua ini.
Menuntut Khaffa untuk segera menikah karena anak pertamanya.Tidak mungkin menikahkan Khaira,sikapnya saja masih labil dan kekanak-kanakan.Pikirannya saja belum dewasa dan belum bisa mengurus dirinya sendiri,apalagi mengurusi suaminya nanti.
Uhukkk,uhukkkk.
Anayra dan Khaffa tersedak dan terbatuk secara bersamaan,disela-sela makannya,terkejut dengan ucapan Rena.Tidak menduga jika sandiwara cinta yang dilakukan mereka berdua akan ditanggapi serius.
__ADS_1
"Kalian bisa tersedak bersamaan?.Ayo minumlah!.".Rena menautkan kedua alisnya."Wahhh,kalian benar-benar kompak dan serasi!..".Rena menggoda keduanya dengan mata berbinar dan senyum-senyum.
Anayra dan Khaffa segera meminum air digelasnya masing-masing dengan jantung berdebar tak karuan.
"Bukan kompak,tapi terkejut.Aku tidak bisa makan dengan tenang,mendengar Mami bicara terus.".Khaffa mengkoreksi dan protes.
Meletakkan gelas dimeja dengan penuh amarah.Tidak mungkin menerima begitu saja perkataan ibunya karena hubungannya dengan Anayra hanya sebatas pura-pura atau 'settingan' saja.
"Apa salahnya dengan ucapan Mami?.Memangnya kalian tidak berniat untuk menikah?.Mami rasa kalian cocok,usia Abang sudah pantas untuk berumah tangga.Anayra juga tidak terlalu muda untuk menjadi seorang istri.".Ungkap Rena dengan tegas dan serius mengucapkannya.
Tidak sabar menantikan momen yang diharapkannya terjadi.
Terang saja membuat Khaffa dan Anayra saling berpandangan,tetapi berusaha tetap tenang menyikapinya.Tidak mau menimbulkan kecurigaan Rena.
Kenapa kacau begini?.lni diluar skenario.Kenapa dia melibatkan aku dalam permainan konyolnya ?...Rutuk Anayra dalam hatinya dan menatap tajam Khaffa.
Hatinya mendadak panas dan dadanya bergemuruh.Dan Khaffa melakukan hal yang sama dengannya namun keningnya berkerut.
Kurasa dia marah.Lihat saja,matanya seperti mau menelanku hidup-hidup...Khaffa membuang pandangannya menghindari tatapan Anayra.
Cemas dan takut Anayra akan marah lalu menjelaskan hubungan mereka yang sebenarnya pada ibunya.
"Mi,sebaiknya kita makan dulu!.Nanti Abang terlambat ke kantor!?.".Khaffa untuk mengalihkan perhatian ibunya supaya tidak fokus pada topik pembicaraan yang membuat hati dan pikiran mereka kalang kabut.
"Ya sudah,habiskan dulu makannya! kita bahas itu nanti.".Rena mengalah saat melihat keduanya tampak kebingungan.
Mungkin mereka belum siap untuk menikah...Pikir Rena.
Ketiganya melanjutkan makan dengan tenang,tanpa membahas soal itu lagi.Usai itu,Anayra membantu merapikan dan membereskan peralatan makan yang kotor dan mencucinya.
Tak sampai disitu saja,melipat dan merapikan selimut disofa tamu yang berantakan bekas pakainya dan Khaffa.Tanpa rasa malu dan rendah diri.Anayra berpikir dan terlintas dalam hatinya jika Khaffa ternyata baik juga mau menyelimutinya.
Dibelakang,Rena dan Khaffa menyaksikan semua yang dilakukan Anayra.Berdiri dengan raut wajah berseri-seri.
"Lihat!.Anayra rajin,cekatan dan pintar masak.Apa lagi yang kurang darinya.".Rena berbisik pada Khaffa dan memperhatikan gerak-gerik Anayra.
Khaffa tak menjawab,hanya mengulum senyumnya.
Kupikir juga begitu.Tapi itu saja tidak cukup.Belum ada rasa cinta dihatiku saat ini...
Berlalu meninggalkan ibunya menuju ruang tamu dan duduk disofa.Rena menepuk keningnya dan memutar matanya jengah saat Khaffa tidak menanggapinya."Anak itu,dinginnya kelewatan.".
Saat melihat jam ditangannya,Anayra tercengang.Waktu telah beranjak siang."Ya ampun,sudah siang.".Anayra menghampiri Rena."Maaf!,aku pamit pulang.Nanti siang harus bekerja.".Berdiri didepan Rena meminta ijin pulang.
Selain itu,Anayra merasa tidak nyaman berlama-lama ada ditempat itu dan ingat akan bekerja.
Khaffa hanya mengangguk mengiyakan dan beranjak dari duduknya.
Sebelum pergi,Anayra mencium punggung tangan Rena.Khaffa melihat itu dan tersenyum tipis.Hatinya tersentuh dan senang,merasa tenang dan damai juga melihatnya.Rasa itu tiba-tiba hadir dibenaknya tanpa disangka-sangka.
Assalamu alaikum?.".Anayra.
"Waalaikum salam!.".
"Aku pergi!.".Khaffa mengecup kedua pipi Rena.
Menunjukkan rasa kasih sayangnya pada wanita yang telah mengandung,melahirkan dan membesarkannya.
Khaffa dan Anayra bergegas pergi keluar dari apartemen.Setibanya diluar,Anayra berjalan lebih dulu dengan langkah panjang.Kesal dan marah pada Khaffa.Terus berjalan tanpa menoleh kebelakang hingga dipintu lift barulah berhenti.
Tinggg.
Pintu lift terbuka,dengan cepat Anayra masuk disusul Khaffa dibelakang.Suasana tampak hening dan sepi bahkan terasa tegang dan mencekam.Khaffa dan Anayra saling menjaga jarak dan berdiri disudut lift.Terdiam dan saling acuh.
"Kamu marah padaku?.".Khaffa memberanikan diri untuk bertanya dan menoleh menatap Anayra.
Anayra bergeming,acuh dan tak hirau.Tidak berniat menjawabnya.Raut wajah merengut dan menatap lurus kedepan.Ingin meledakkan amarahnya yang dipendam sejak tadi,tetapi ditahannya karena menghormati Rena.
"Maaf!.".Khaffa dengan wajah penuh penyesalan."Bicaralah,kenapa diam saja!?.".Sentak Khaffa,mulai tidak sabar dan kesal karena Anayra tidak menggubrisnya sama sekali.
Seketika merasa terpancing dan tersulut emosinya,Anayra menoleh menatap Khaffa dan menatapnya dengan sengit."Kenapa Pak Khaffa melakukan itu semua,dan membohongi ibumu sendiri?.Kenapa harus melibatkan aku dalam permainan konyolmu itu?.".Meluapkan kemarahannya.
"Anggap saja ini lelucon!.".Khaffa berpikir seperti itu,menjawabnya dengan dingin dan datar.
"Ini tidak pantas dianggap lelucon?.Apa menurutmu ini pantas dan benar untuk dilakukan?.Sepertinya kamu senang mengerjai dan menyusahkanku?.".Anayra membentak dan mengepalkan kedua tangannya.
Memprotes tindakan Khaffa yang menurutnya tidak pantas untuk dilakukan.Tega membohongi orang yang lebih tua,apalagi pada ibunya sendiri.
Telinga Khaffa terasa berdenging dan panas mendengar suara Anayra yang tinggi.Menghela nafas panjang supaya hatinya tetap tenang dan santai.Khaffa mengakui dan tidak memungkiri jika yang dilakukannya itu salah.
"Aku terpaksa melakukan itu.Ibuku pasti mencurigaimu dan menganggap mu gadis yang tidak baik,jika aku tidak mengenalkanmu sebagai kekasihku!.".Mencari alasan yang tepat untuk membela dirinya dan untuk menyelamatkan harga diri Anayra.
Jika tidak begitu,pastinya akan tercoreng nama baik Anayra jika ibunya mengetahui hubungan antara mereka berdua yang sebenarnya.
Anayra terdiam mencerna kata-kata Khaffa.Mengerti dan memahami jika saat itu Khaffa merasa terpojok dan bingung.
"Aku mengerti!.Aku hargai itu.Tapi,tolong jelaskan pada ibu anda secepatnya.Aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi dengan anda.?."Tegasnya Anayra memohon dengan sangat supaya Khaffa menuruti permintaannya.
__ADS_1
"Aku paham!.Tenangkan dirimu!,jangan membuang tenaga mu sia-sia.".Khaffa berusaha menenangkan hati Anayra dengan nada santai mengatakannya.
Namun kata-katanya terdengar sindiran ditelinga Anayra dan membuat hatinya tersulut emosi."Mana bisa aku tenang?.Amarahku kutahan sejak tadi!.Bisakah kamu merasakan itu?.".Bukannya tenang,Anayra malah semakin marah.
"Wanita memang merepotkan!.Selain cerewet tapi juga keras kepala!.".Alih-alih menjawab,Khaffa malah berkata demikian dengan cueknya.
Anayra menggeleng tak percaya,tak habis pikir Khaffa beranggapan seperti itu padanya."Hahhh,konyol!.Kamu yang membuatku repot dan kesusahan!.".Saat pintu lift terbuka,Anayra cepat-cepat melangkahkan kakinya dengan panjang.
Diikuti Khaffa dibelakang.Tersenyum melihat Anayra tampak kesal dan marah."Aku membuatnya marah!.Tapi aku suka melihatnya seperti itu!.".Memandangi rambut Anayra yang melambai-lambai mengikuti gerakkan langkahnya.
"Aku antar kamu pulang!.".Khaffa mencekal lengan Anayra saat akan pergi meninggalkannya,sesampainya diluar gedung apartemen.
"Tidak usah!.Aku bisa naik kendaraan umum!.".Anayra menarik lengannya,menolak tawaran Khaffa.
"Jangan keras kepala!,aku hanya ingin menebus kesalahanku.Kamu akan lama sampai di rumah jika naik kendaraan umum.Ayo ikut aku!.".Khaffa menarik paksa lengan Anayra menuju area parkir,dan menuntunnya hingga masuk kedalam mobil.
Pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah duduk dikursi kemudinya.
Ditengah perjalanan,Anayra merogoh tas selempangnya.Teringat pada ponselnya yang sejak kemarin tidak dilihatnya.Ponselnya dalam mode diam saat itu,sehingga tidak tahu ada panggilan atau pesan masuk.
Mata Anayra terbelalak saat melihat belasan panggilan tidak terjawab dilayar ponselnya.Dari Lefrand,terutama dari Alma."Ya ampun,dia pasti marah.Aku sampai lupa padanya.".Lupa mengabari Alma karena ketiduran diapartemen Khaffa.
Khaffa mengernyit heran melihat ekspresi wajah Anayra.Ada apa dengannya?.Kenapa sepanik itu?...
Anayra mendadak panik,Alma pasti akan melemparkan banyak pertanyaan padanya nanti.Benar saja saat membaca pesan dari Alma.
💌 Almaku.
Nay' kamu dimana**?
Kenapa gak pulang kerumah**?
Anayraaa,balas pesanku dan jawab telponku**!
Dengan berat Anayra menghela nafasnya karena Alma tampaknya marah,lalu beralih membaca pesan dari Lefrand.
💌 X Calon Imam.
Ana' kamu dimana**?
Kamu tidak pulang kerumah**?
Jangan buat aku khawatir dan cemas Ana'!
Ana' cepat balas dan jawab telponku!
📱X Calon Imam...Calling
Tersentak saat Lefrand menghubunginya,dengan cepat Anayra menjawabnya.Ponselnya pasti terus bergetar jika tidak menjawabnya.Sebab sudah tahu watak Lefrand,yang tidak akan berhenti dan menyerah jika mode ponselnya dalam mode online.
"Assalamu alaikum?.".
Waalaikum salam, Ana' kamu kemana saja?.Kenapa tidak pulang?,kamu tidur dimana dan dengan siapa?.
"Aku baik-baik saja mas,tenanglah!.Aku dalam perjalanan pulang.Jangan cemas!.".
Syukurlah,Ana' cepat pulang!.Assalamu alaikum.
"Waalaikum salam!.".
Tuttt.
Segera menutupnya setelah Lefrand menutup panggilannya.
Khaffa diam-diam mendengarkan percakapan Anayra.Seketika hatinya tidak nyaman dan iri mendengar nada bicara Anayra yang lembut dan tenang.
Cara bicaranya sangat berbeda.Sebaik apa dirinya dibandingkan aku?.Pentingkah dia bagimu?...Keluh Khaffa dalam hati dan mencengkram kuat-kuat setir mobilnya.
Entah kenapa,Khaffa tidak suka Anayra berbicara lembut pada Lefrand.Tetapi selalu ketus padanya,seakan seperti dipandang sebelah mata oleh Anayra.
Anayra bergeming memandangi jalan yang hilir mudik oleh kendaraan.Dengan santai duduk bersandar dikursi.
Sesampainya didepan rumah."Terima kasih.".Anayra melirik Khaffa sekilas dan keluar dari mobil.
Dengan wajah murung Khaffa menatap lekat punggung Anayra yang berjalan masuk ke pekarangan rumahnya.Terdiam menunggu Anayra sampai masuk kedalam rumah.
Tiba-tiba,Khaffa dikejutkan saat melihat motor sport memasuki pekarangan rumah Anayra.Memicingkan matanya menatap pria yang menaiki motor itu.Tersentak kaget melihat wajahnya saat pria itu melepaskan pelindung kepalanya.
"Bagaimana bisa dia datang secepat itu?.".Khaffa menarik satu alisnya keatas."Berani sekali dia memeluknya!.".Memukul setir mobil dengan kepalan tangannya saat melihat Lefrand memeluk Anayra didepan rumah.
Suhu tubuh dan darahnya berdesir panas dan mendidih.Cepat-cepat melajukan mobil dengan wajahnya merah padam menahan amarah.
Anayra terlonjak saat mendengar suara deru mesin mobil Khaffa yang baru pergi dan sempat melihatnya sekilas."Ku pikir dia sudah pergi.".Bergumam pelan.
Mengira jika Khaffa sudah pergi sejak tadi.Tetapi karena terlalu fokus akan kedatangan Lefrand yang tiba-tiba,hingga tak menyadari jika Khaffa masih ada di sana.
Lefrand dalam waktu singkat tiba dirumah Anayra.Saat itu memang dalam perjalanan kerumah Anayra,untuk memastikan Anayra sudah pulang atau belum.Namun Lefrand tak tahu Anayra pulang diantar Khaffa.
__ADS_1
Menyangka jika mobil yang berhenti didepan rumah Anayra,bukan mobil Khaffa melainkan milik orang lain.Kebetulan lewat dan berhenti sejenak disana.