
Dikantor polisi.Andika menemani Al menjenguk Daniel ditempat tinggal barunya sementara.Setelah sarapan pagi Andika bergegas kerumah Al untuk menjemputnya sekalian menjenguk Lenni yang terbaring sakit ditempat tidurnya.
Ini hari ke empat Daniel bermalam disel.Entah sampai kapan la tinggal disana.
Al dibantu seorang pengacara berusaha mengeluarkan Daniel dengan uang jaminan.Itu dilakukan Al atas permintaan istrinya yang terus menerus merengek supaya Daniel segera dibebaskan dengan cara apapun.Karena kesehatan Lenni semakin menurun dan memburuk beberapa hari terakhir ini sejak Daniel ditahan dikantor polisi.Namun usahanya belum membuahkan hasil hingga sekarang.
Dengan sendunya Al menatap putra semata wayangnya yang kondisi fisiknya semakin kurus berbalut kaos berwarna putih.Keduanya duduk berbincang saling berhadapan dibatasi oleh meja disebuah ruangan kecil.Agak jauh dibelakang Daniel berdiri seorang petugas kepolisian yang bersiaga didekat pintu.
"Haiii nak?,ini Papa bawakan makanan favorit mu!.".Al menyodorkan kantong plastik kedepan Daniel.
"Terima kasih!.".Daniel menggeser kantong plastik itu kepinggir meja supaya bisa leluasa bergerak dan bisa memandangi wajah Ayahnya.
"Bagaimana kabarmu hari ini?.Maafkan Papa,karena belum bisa membantu mu keluar dari sini!.".Al meraih tangan Daniel yang duduk dihadapannya dan menatapnya sendu.
Ini kedua kalinya menjenguk Daniel,ditemani Andika yang selalu setia mendukung dan memberikan semangat padanya.Keduanya selalu datang bersama kesana dengan membawa makanan favorit Daniel.
"Aku baik.Tidak masalah,ini bukan salah Papa.Aku pantas mendapatkan ini semua,Pa.Ini hukuman ku atas perbuatanku sendiri.".Daniel memandangi wajah Ayahnya dan wajah tersenyum tipis,menyembunyikan perasaannya yang ingin menangis sedih.
Daniel berusaha tetap tersenyum dan tegar kala berhadapan dengan ayahnya,untuk menunjukkan jika dirinya baik-baik saja,walaupun suasana hatinya sedang hancur.
Saat malam tiba,Daniel selalu murung didalam ruangan berteralis besinya dan beralaskan karpet tipis seadanya.Selalu merenungi dosa dan kesalahannya sembari duduk dilantai memeluk kedua lututnya.Dalam satu sel,ada dua orang lainnya.Namun Daniel selalu mengasingkan dirinya dari mereka.
Setiap malam Daniel berusaha memejamkan matanya tetapi bayangan wajah ketakutan Alma selalu menghantuinya.Apalagi saat membayangkan darah yang mengalir di urat nadi Alma,hal itu sangat menyiksa batin Daniel.
"Bagaimana kondisi Mama sekarang?,apa beliau sehat?.Aku rindu Mama,Pa.".Daniel dengan seulas senyum tipis yang dipaksakan,pura-pura senang dan tegar.Namun tampak nyata dimata Daniel yang tersirat rasa rindu pada ibunya.
Daniel sudah tahu kondisi ibunya yang sering sakit-sakitan.Namun hal itu tak membuatnya terlepas dari godaan minuman keras dan jerat rayuan gadis-gadis untuk dikencaninya.Al dan dan Lenni sudah tahu wataknya dan tak tinggal diam saja.Keduanya selalu menasehati dan mengingatkannya supaya menjauhi dan menghilangkan kebiasaan buruknya.
Awalnya ditanggapi Daniel dengan kata 'lya,baiklah',tanpa berani membantah ucapan keduanya,namun kemudian diabaikan begitu saja.Masuk telinga kanan dan dikeluarkan lagi di telinga kirinya,setiap pesan dan peringatan Al dan Lenni.Akhirnya beginilah akibatnya karena acuh dan tak peka.
"Nak,dia sangat ingin menemuimu dan melihat mu disini.Tapi keadaannya tidak memungkinkan!.Dia semakin lemah dan buruk kondisinya sejak kepergian mu.".Al mengatakan apa adanya tanpa berniat menutupinya,sebab Daniel harus tahu kondisi terkini ibunya.
Al mengungkapkan kondisi istrinya yang semakin memilukan dan menyedihkan.Penyakit paru-paru yang diidapnya sejak lama,kini semakin parah.Didalam rintihan menahan sakitnya,Lenni selalu mengingau dan memanggil-manggil nama putra tercintanya,diatas tempat tidurnya dengan mata terpejam setiap malam.
Saat tidur disofa bed,Al selalu terbangun tatkala mendengarkan igauannya.Namun tertidur lagi saat Lenni terdiam.Siang hari Al merawat istrinya dibantu seorang suster,sebab Lenni tak mau dirawat dirumah sakit dan ingin dirumah.Tetapi tentunya dilengkapi peralatan medis lengkap dikamarnya,layaknya dirumah sakit.
Mendengar hal itu,raut wajah Daniel langsung berubah murung dan suram.Jantungnya berdetak keras dan tercengang saking terkejutnya.
"Maafkan aku Pa,kumohon maafkan!.Ini salahku!,aku penyebab kondisi penyakit Mama semakin parah.Jika terjadi apa-apa pada Mama,aku yang pantas disalahkan Pa.".Dengan mata berkaca-kaca merasakan kesedihan yang mendalam dihatinya.
"Maaf Pa,aku tidak bisa menjadi putra yang berbakti pada kalian.Bukannya menyenangkan dan membahagiakan kalian,malah membuat hati kalian sakit dan sedih.Secara tidak langsung,aku menyakiti perasaan Papa dan Mama.".Daniel merengut sedih dengan kepala tertunduk,tak mampu lagi memandang wajah ayahnya yang semakin menua dan keriput dengan rambut memutih.Pria paruh baya yang selalu dibuatnya sedih dan kecewa.
"Ampuni aku,karena perbuatanku yang hina membuat Alma berusaha melenyapkan dirinya sendiri,dan membuat kalian tersakiti.".Daniel terisak-isak tak mampu membendung kesedihannya lagi.
Akhirnya air matanya berhasil lolos keluar dari pelupuk matanya,dengan perasaan penuh penyesalan menangisi perbuatannya,pada Alma dan pada orang tuanya.
Tanpa disadari Al,sebulir air mata jatuh dipipi nya mendengar pengakuan Daniel,buru-buru Al menyeka nya.Sebagai ayah tentu saja ikut merasakan pahit dan getirnya perasaan putranya.Hati ayah mana yang tega melihat keadaan putranya sekarang ini.Bagaimana pun baik buruknya Daniel,tetapi tetaplah darah dagingnya sendiri.
"Bagi Papa dan Mama,kamu anak yang baik dan berbakti.Tetapi kamu cuma tersesat dan salah jalan saja,nak.Maafkan Papa!,ini salah Papa juga karena kurang memperhatikan dan memperdulikan mu.".Untuk menguatkan hati Daniel,Al menepuk-nepuk punggung tangan Daniel.
Al merendahkan diri dan menyalahkan dirinya sendiri walaupun tak salah.Al tak mau memojokkan dan membuat suasana mental putranya semakin memburuk sebab orang yang dimiliki serta paling dicintai dan disayanginya saat ini adalah istri dan anaknya.Selain adiknya,Andika dan keluarganya.
"Terima kasih!.Papa dan Mama bagaikan malaikat pelindung buatku,selalu memberikan segalanya untuk ku.Sejak kecil aku tidak pernah merasa kekurangan apapun,seumur hidupku.Tapi aku belum bisa membalas kebaikan kalian.Aku tolol,payah dan tidak berguna,Pa.".Daniel memukuli dadanya menyalahkan dirinya sendiri dengan nada bicara yang terdengar memilukan.
Sadar dan menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatannya selama ini.Momen terbaik bersama kedua orang tuanya la lewatkan begitu saja dengan bekerja dan melakukan hal-hal tak bermanfaat yang bisa merusak citranya.Namun Daniel baru sekarang la sadar dan terlambat setelah semua sudah terjadi.
__ADS_1
"Jangan menyalahkan diri sendiri,nak!.Kamu tetap putra kebanggaan Papa dan Mama,tidak pernah melawan dan membangkang.Tetapi hanya suka acuh dan tidak hirau saja,dengan kata-kata kami.".Dengan bijaknya Al menanggapi Daniel dan tersenyum lebar.
"Benar Pa,begitu lah aku.Selalu abai pada pesan,perintah dan peringatan kalian.Sekarang,aku sudah menanggung akibatnya,atas dosa dan kesalahan yang kulakukan.".Daniel berbicara dengan pikiran menerawang jauh.
Teringat pada setiap kesalahan yang dilakukannya.Selalu berkencan dengan sembarang wanita,menenggak minuman keras dan yang paling fatal memperkosa Alma hingga membuatnya berusaha mengakhiri hidupnya sendiri.Ulahnya juga mengantarkan ibunya semakin buruk kondisinya dan parah sakitnya.
"Sudahlah!.Apapun kesalahan dan dosa mu,Papa dan Mama tetap tulus dan ikhlas menyayangi mu.Rasanya baru kemarin kami menggendong mu,melihatmu mulai merangkak dan belajar berjalan.Sekarang kamu telah berubah dewasa,tetapi bagi kami,kamu tetap putra kecil kami yang suka manja dan cengeng.Hehehe...".Al terkekeh tatkala teringat akan hal itu.
Al memberikan putranya semangat dan kekuatan untuk menghibur hatinya meskipun sangat menyakitkan.Al berusaha menyembunyikan kesedihannya didepan Daniel.lngin terlihat tegar dan kuat supaya bisa menyalurkan energi positif untuk putranya yang tampak kacau.
Saat Daniel kecil,Al dan Lenni sangat dimanjakan dan selalu terpenuhi segala keinginannya sampai membuat Daniel menjadi bocah manja dan cengeng.Saat sekolah dasar dulu,Daniel bahkan dijuluki 'Si Eunyeng' karena sedikit-sedikit suka menangis dan cengeng.Namun seiring berjalan usianya,Daniel remaja mengubah image yang melekat di dirinya sebagai bocah manja dan cengeng.Julukan yang disematkan teman-teman sepermainannya dulu.Kini Daniel menjelma menjadi sosok pribadi yang tampan dan tangguh,dengan perawakan tinggi dan atletis.
Daniel tersenyum tipis saat bayangan itu terlintas dipikirannya,"Papa mau menghibur ku atau meledekku?.Aku dulu memang begitu,tapi tidak sekarang Pa!.Usiaku lebih dari 30 tahun jadi tidak cocok lagi julukan itu.".
Al bernafas lega,perasaan Daniel mulai membaik.Walaupun diakui jika perbuatan Daniel telah membuat perasaannya dan istrinya terpukul dan tersakiti.
Mendengar kata-kata bijak ayahnya,Daniel seperti mendapatkan suntikan vitamin sampai menyunggingkan senyumnya.Daniel senang,seburuk apapun perangainya,tetapi tak membuat orang yang dicintai dan disayanginya mengasingkan atau membencinya.
"Terima kasih untuk pengertian Papa!,seburuk apapun perbuatan ku.Papa tidak pernah menyudutkan ku,malah memberiku semangat.Aku tampak buruk dan kacau dihadapan Papa sekarang ini.Aku malu pada kalian,pada diriku sendiri dan pada orang lain,terutama Alma.Banyak orang yang tanpa ku sadari,sudah ku sakiti selama ini!.".Daniel merenungi dosa dan kesalahannya.
Terbersit dalam hatinya untuk tak pernah menyentuh minuman yang mengantarkan nya ketepi jurang kehancuran.Namun tak berhasil,malah menyeretnya masuk kedalam penjara.
"Pa,maukah Papa memaafkan dosa dan kesalahan putramu yang bejat dan hina ini?.".Dengan nada menghiba dan memohon Daniel menggenggam tangan ayahnya.
"Tentu,Papa memaafkan mu.Tapi lebih baik lagi,jika kamu meminta maaf pada Alma dan orang tuanya.Mereka yang paling disakiti selain kami.".Al mengingatkan Daniel.
Daniel tersadar mendengar ucapan Al."Benar,tentu akan kulakukan itu.Menurut Papa,Alma akan sembuh dan sehat kembali?,apa dia dan orang tuanya mau memaafkan kesalahan dan mengampuni dosaku?.".Menerka dan berharap dalam hatinya jika Alma dan orang tuanya akan memaafkan dan mengampuni dosa dan kesalahannya.
"Entahlah,kita lihat saja nanti.".Al menggedikkan bahunya."Papa lupa,Alma sudah siuman beberapa hari yang lalu.Papa dengar dari Om Andika,dia akan pulang hari ini.".Al merasa diingatkan.
"Benarkah?.Alhamdulillah,syukurlah!.Aku senang mendengarnya.".Daniel bernafas lega."Tolong urus biayanya selama dirumah sakit,Pa!.".Daniel bersemangat dengan wajah sumringah memohon penuh harap.
Kabar yang sangat dinantikan Daniel,terdengar juga ditelinganya.Akhirnya Daniel bisa bernafas lega,Alma sudah sadar dan sehat.Bahkan Daniel bisa tersenyum senang dan bahagia karena Alma hari ini akan pulang.
"Tentu,tanpa disuruh pun Papa akan melakukannya.Papa langsung menghubungi pihak rumah sakit dimana Alma dirawat dan mentransfer sejumlah uang kebagian Administrasi untuk biaya perawatannya.".Al menjelaskan.
Esok harinya setelah Daniel ditahan.Al berinisiatif menghubungi pihak rumah sakit setelah mencari tahunya dari Andika dan Rena.Tergerak hatinya untuk melakukan itu setelah tahu Alma berasal dari keluarga sederhana,dan bentuk rasa tanggung jawabnya sebagai ayah Daniel.
Kebetulan,Al mengenal direktur utama rumah sakit itu,sehingga niatnya berjalan lancar tanpa dipersulit.
"Terima kasih Pa!.Papa memang pengertian dan paham harus berbuat apa.Maaf!,aku terus merepotkan Papa,Mama dan Om Andika.".Daniel tertunduk lesu.
Daniel merasa dirinya sudah banyak mengecewakan,tetapi ayah dan ibunya tak pernah mengeluhkan soal dirinya.
"Sudahlah.Jangan dipikirkan terus soal itu!.Lebih baik,jaga dirimu disini sampai kamu menghirup udara bebas,supaya kamu bisa menemani Mama mu nanti,dan bisa meminta maaf,pada Alma dan keluarga nya.".Al mengelus puncak kepala Daniel dengan penuh rasa sayang.
Al tak punya kekuatan lagi untuk memarahi dan menghardik Daniel,mengingat usianya yang tak muda lagi.Kesehatannya dan kondisi istrinya lebih penting saat ini.
Daniel perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Al."Aku akan melakukan permintaan Papa.Sampaikan salam ku dan rasa terima kasih ku pada Om Andika!.".
"Akan Papa sampaikan,dia menunggu dimobil.Baiklah,Papa rasa jam berkunjung sudah habis.Papa akan pergi sekarang,ingat jaga hati dan pikiranmu!.Kamu anak Papa yang hebat dan kuat,Papa yakin kamu bisa melewati ini semua.".Al beranjak berdiri.
Daniel segera bangkit untuk memeluk ayahnya.Dengan penuh kasih Al membalas pelukannya.
"Baik Pa,terima kasih sudah mengunjungi ku disini.Hati-hati Pa!.".Sembari menguraikan pelukannya.
__ADS_1
Dengan tersenyum tipis,Daniel melambaikan tangannya melepas kepergian sang ayah,dan memandangnya dengan lekat sampai Al keluar dari ruangan berukuran kecil itu.Usai itu,Daniel menuju sel nya kembali,didampingi seorang petugas dan menenteng kantong plastik berisi makanan.Namun sebelumnya,kantong plastik itu diperiksa oleh petugas terlebih dahulu dengan teliti.
Diparkiran,Andika duduk dikursi kemudinya di dalam mobil.Tengah serius membaca koran saat menunggu Al.Andika tak ikut masuk,karena tak mau merusak momen Al dan Daniel.Jika ada disamping Al,Daniel akan merasa segan.Takkan bisa leluasa walaupun mereka dekat dan akrab.Hanya saja mereka jarang bertemu.
Saat melihat kedatangan Al,Andika langsung melipat korannya dan meletakkannya dijok belakang mobil.Andika memandangi Al yang datang menghampirinya,dan membuka pintu mobil.
"Bagaimana keadaannya?.Dia baik-baik saja?.".Andika memandangi Al yang mendudukkan dirinya dikursi sampingnya.
"Baik.Tapi kurasa dia tidak bisa tidur dengan nyenyak,dan kurang makan.Wajahnya pucat dan kurusan.".Al mengungkapkan kondisi Daniel saat ini dan menarik seat beltnya lalu memasangnya.
"Mungkin dia stress.hingga tidak ***** makan dan kurang tidur.Maklum saja,ini pertama kalinya dia tinggal ditempat seperti itu.Tapi aku yakin,dia kuat dan bisa menjaga dirinya dengan baik.".Andika menenangkan hati Al.
Dengan baik Andika mengenal Daniel.Dimata Andika,Daniel sosok anak yang kuat dan tangguh.Menilai dari cara kerjanya DiHotel yang dipimpin Daniel.Sedikitnya Andika tahu hal itu dari kesuksesan dan keberhasilan Daniel,sebagai seorang Presiden Direktur.
"Aku tidak tega melihatnya seperti itu.Jika bisa,aku ingin menggantikan posisinya.Aku sudah tua,hidupku tidak lama lagi.Lebih baik,aku saja yang dipenjara.".Al merasa putus asa dan sedih.
Tak kuasa menahan rasa sedihnya,Al meneteskan air matanya yang ditahannya sejak tadi.
Akhirnya bendungan air mata yang ditahannya sejak tadi jebol juga.Dia tak tega dan tak kuasa melihat separuh hatinya dan belahan jiwa nya mendekam di sel tahanan sementara.
Andika segera mengambil tissue didashboard dan diserahkan pada Al.Perlahan Al menyeka pipinya yang basah.
"Abang jangan cemas soal itu!.Percaya padaku!,dia pasti tidak akan lama tinggal disana.Aku punya firasat untuk itu.Lebih baik Abang fokus pada kesehatan mu dan kesehatan istrimu!.Jika Abang lemah dan sakit,bagaimana nasib istrimu nanti?.".Andika mengatakan hal yang membuat Al tersadar.
"Kamu benar!.Tapi entahlah,aku sanggup melalui ini semua atau tidak?.Anakku dipenjara dan istriku terbaring sakit dirumah.Sejak Daniel ditahan,dia tidak pernah keluar dari kamar sampai sekarang.Kini kondisinya semakin turun dan lemah.Hanya tidur saja,tanpa menunjukkan kemajuan.".Al membeberkan kondisi sang istri.
Berbagai cara sudah dilakukan olehnya demi kesembuhan Lenni.Namun peralatan medis yang lengkap,obat-obatan dan suntikan vitamin pun tak ada gunanya.Sebelumnya Lenni pernah menjalani kemoterapi tetapi sekarang menolak melakukannya.Bagi Lenni hanya Daniel yang bisa menjadi obat penyembuh rasa sakitnya.
"Sabarlah bang!.Semua yang terjadi sudah tertulis di skenario Tuhan.Tetapi yakinlah,semua pasti ada hikmahnya.Selama Abang terus berdo'a dan berusaha,tidak ada kata mustahil untuk mbak Lenni sembuh.Soal Daniel,nanti akan ku pikirkan caranya.".Andika menepuk-nepuk punggung Al berusaha menenangkan hati Al.
Sebenarnya Andika tak tega melihat keadaannya namun berusaha menyembunyikan rasa itu didalam lubuk hatinya yang terdalam.Andika tak mau membuat suasana menjadi semakin dramatis jika ikut menangis.Perlahan Andika menghirup nafasnya dalam-dalam untuk menguatkan hatinya kala melihat kakaknya yang bersedih hati.
Suasana hening sejenak.Al mengatur nafasnya yang tersengal untuk menetralkan perasaannya,dan Andika bersandar dikursinya menatap pemandangan diluar sembari menunggu Al tenang.
"Apa Daniel sudah tahu,jika dia sudah diturunkan dari jabatannya?.".Andika memandangi Al yang meraih botol minuman mineralnya disampingnya.
Al merasakan tenggorokannya kering.Perlahan Al meneguknya sedikit setelah melepas tutupnya untuk menenangkan hati dan pikirannya.Mungkin dengan minum air,akan membuatnya merasa lebih baik.
"Kurasa dia sudah bisa menduganya,Daniel tahu aturan hotel.Siapapun yang terlibat masalah,khususnya jika berurusan dengan hukum,pasti akan dilengserkan dari kursi kepemimpinannya.".Al meletakkan botol itu kembali ketempatnya.
Beberapa hari yang lalu,salah satu wakil dari pihak hotel datang kerumahnya.Untuk memberikan surat pemecatan resmi setelah tersebar luasnya berita Daniel ditahan.
Sebelumnya para atasan hotel mengadakan rapat dadakan untuk membahas tentang pemecatan Daniel tanpa mengikut sertakan Al.Namun Al tak keberatan sama sekali sebab sudah tahu aturan itu.
Sebelumnya juga wakil presiden direktur yang ditunjuk sebagai pengganti Daniel oleh para pemegang saham hotel lainnya,sudah mengirimkan pesan singkat pada Al jika Daniel dipecat.Kini telah diambil alih posisi Daniel olehnya,dengan persetujuan pihak-pihak terkait tentunya.
Diam dan pasrah saja Al menerimanya tanpa melakukan perlawanan.Al tahu konsekuensi yang harus diterima Daniel.
Beberapa tahun yang lalu,Al yang menjabat posisi presiden direktur saat Daniel masih berkuliah.Tetapi setelah Daniel lulus,Al mengajukan diri bekerja dihotel dan saat itu juga Al pensiun.
Saat itu Daniel langsung ditunjuk sebagai Presiden Direktur.Para pemegang saham yakin jika jiwa kepemimpinan Al dan cara kinerja nya akan menurun pada Daniel.
"Ayo kita pulang!,aku tidak bisa meninggalkan Lenni dirumah terlalu lama.".Al mengajak Andika.
"Baik.".Dengan cepat Andika melakukan permintaan Al melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir markas besar kepolisian.
__ADS_1