
_________
Tiiin.
"Oh Gosh,Abang pulang.Aku harus sembunyi.".Khaira mengintip di balik tirai jendela kamar saat terdengar suara deru mesin mobil.
Mobil Khaffa tiba dihalaman rumah pulang dari kantor,Khaira langsung mengunci diri di dalam kamar.Rasa cemas dan takut akan mendapat peringatan keras atau omelan dan sederet pertanyaan tentang dirinya dan Lefrand,membuat nya kelabakan.
Galau dan gelisahnya Khaira,memikirkan nasib cintanya yang seakan terancam putus,hingga berjalan mondar-mandir di kamar.
"Bagaimana ini?.Seharusnya aku bermalam saja dirumah Mia.".Khaira mematikan lampu kamar,berhambur naik ke tempat tidur dan bersembunyi dibalik selimut tebalnya."Kuharap Abang bisa mengira jika aku tidak pulang ke rumah.".Tiba-tiba kepikiran mobilnya yang terparkir di halaman."Ya ampun,mobiiilll.".Ditengah kepanikan berteriak sekencang-kencangnya.
Namun menyadari suara teriakan nya akan mengundang Khaffa ke sana,Khaira langsung membekap mulut sendiri.
Konyol dirinya saat ini,harus bermain petak umpet untuk menghindari kakaknya.Tak habis pikir karena takut dimarahi Khaffa,dan di suruh memutuskan hubungan cinta nya dengan Lefrand,sampai mengunci diri di kamar.
Dari ruang tamu,setengah sempoyongan Khaffa menguatkan diri berjalan masuk kedalam rumah dengan berpegangan pada dinding ruangan.Tenaga nya dari hari ke hari,dan dari waktu ke waktu kian melemah.Kepala pusing dan berputar efek kurang tidur.
Rena tak sengaja melihat Khaffa di ruang tengah,dan urung saat akan masuk ke kamar.Berlari cepat mendekati Khaffa dan memegang nya,sebelum Khaffa jatuh dan ambruk dilantai."Abang,kamu tampak tidak baik-baik saja?.Wajahmu pucat,seperti mayat hidup.".
"Mami,papah aku ke kamar!.Aku tidak kuat berjalan.".Khaffa tertatih dibopong Rena menaiki undakan anak tangga menuju kamarnya.
Tiba dikamar,Rena langsung membantu Khaffa merebahkan tubuhnya,ditempat tidur beralaskan sprei putih."Sebaiknya kamu istirahat saja dirumah,jangan memaksa diri untuk bekerja.Biarkan Khaira mengambil alih pekerjaan mu.Abang terlalu menyiksa diri,Mami tidak suka.".Rena tahu,Khaffa membenamkan diri nya dan berlari pada pekerjaan,untuk mengalihkan perhatiannya yang terus memikirkan Anayra.
Alasan lainnya,Rena begitu menyayangi putra satu-satunya,maka tak ingin melihat Khaffa sakit.Hatinya akan ikut sakit juga dan sedih pula.
"Aku merindukan istri ku.Setiap saat nafasku terasa sesak dan berat.Aku tidak sanggup lagi menanggung beban dihati ku.".Khaffa menangis sedih diatas pangkuan hangat sang ibu yang duduk di tepi tempat tidur nya.
Beban yang dipikul dan dirasakannya saat ini semakin besar dan berat.Seperti menahan benda yang bobotnya mencapai berton-ton.Hidup tanpa Anayra disisi nya bagaikan tak bernyawa,dan seakan seperti berjalan dipadang pasir yang tandus dan gersang.Kehilangan arah tujuan hidup,terasa berat dan lelah dalam melangkahkan kaki.
"Mami mengerti penderitaan mu,nak.Kuatkan dirimu,demi istri mu.Mami yakin,Anayra baik-baik saja.Firasat Mami mengatakan itu.".Rena mencoba menghibur hati Khaffa,walaupun harus sedikit berbohong dan mengelus-elus punggung Khaffa.
Namun hatinya sungguh tak berniat begitu.Rasa cemasnya akan kesehatan Khaffa memaksanya untuk berbohong.
"Benarkah?.".Khaffa mendongak menatap nanar Rena,memastikan jika ibunya tak mungkin berbohong.
"Tentu.".Dengan sangat menyesal Rena menjawab itu,menganggukkan kepala dan memperlihatkan rona wajah yang meyakinkan.
Tatapan Khaffa yang hampa dengan semangat yang terpatah-patah berubah berbinar-binar bahagia.Senyumnya yang kuncup berubah merekah seperti bunga yang baru mekar.
Khaffa menghela nafas panjang,sedikit lega setelah mendengarkan kata penyemangat dari Rena."Aku tak pernah menyangka akan mengalami semua ini.Aku tak pernah membayangkan sesuatu yang buruk menimpa istri ku.".
Rena bernafas lega,Khaffa mulai memperlihatkan tanda-tanda membaik suasana hatinya.Terdengar dari nada bicaranya yang tak memilukan dan tak sedih lagi,tidak seperti sebelumnya.
"Sekarang tenangkan diri dan pikiran mu.Mertua mu dan adik ipar mu akan iba dan patah semangat jika melihat mu seperti ini.".Rena menyelimuti tubuh Khaffa dengan selimut yang masih mengenakan kemeja putih dengan Dasi,dan celana panjang warna moka.
Sebab Khaffa sengaja menyimpan jas dan tas kerjanya didalam mobil.
"Mereka ada disini?.".
Senangnya hati Khaffa dengan keberadaan keluarga istrinya di rumah,sebab beberapa hari yang lalu pamit pulang ke Bandung,untuk mengurus keperluan kuliah Andya diakhir semester.Suasana dirumah akan menjadi terasa ramai dengan adanya mereka disana.
Rena mengiyakan dengan mengangguk pelan."Tiba tadi sore,bersama Andya juga.Mereka tidak tenang jauh dari mu,khawatir dan cemas.".Kali ini Rena bicara apa adanya,tidak berbohong atau mengarang cerita.
Keberadaan keluarga Anayra,disambut baik Rena.Sekarang dirumah ada teman bicara untuk saling meluapkan isi hatinya dan saling menghibur juga.
"Aku ingin bertemu mereka.".Khaffa tak sabaran dan mencoba beranjak dari tempat tidur,namun Rena menahannya.
"Tidak.Mereka sedang istirahat di kamar tamu.Besok saja,ini sudah malam.Kau pun harus mengistirahatkan tubuh dan pikiran mu.".
Kadang Rena suka kesal jika Khaffa keras kepala dan keinginan nya harus dituruti.Namun kali ini tidak,Khaffa menurut dan memilih menidurkan kepalanya diatas bantal.Perlahan senyum tipis pun terukir dibibir Rena.
"Air,aku haus.".Khaffa merasakan tenggorokannya kering.
Dikantor,Khaffa hanya meminum satu kali tegukan saja dan sedikit air minumnya.Bahkan makan siang pun diabaikan.
"Baiklah,tunggu disini!.".
Usai membelai kepala Khaffa,bergegas Rena ke kamar Khaira disamping kamar Khaffa,dan menggedor-gedor pintunya.
Khaira didalam sana sontak panik dan gemetaran ketakutan."Tidakkk.Habislah aku,Abang tidak akan memaafkan ku kali ini.Aku yakin,dia pasti meminta ku menjauhi kak Lefrand.".Dibawah selimut nya bergumam sendirian.
Tak ada respon,Rena pun berteriak sekeras-kerasnya,untuk membangunkan Khaira yang dikira nya sudah tidur."Khairaaa.Cepat buka pintunya.".
Ternyata bukan suara kakaknya,maka tak ayal Khaira bernafas lega dan secepatnya berlari membuka pintu.Terkaget tatkala melihat ibunya tampak panik saat berdiri didepan nya."Iiiya Mi,ada apa?.".
"Cepat ambilkan air hangat untuk Abang mu!.".Kembali Rena menuju kamar Khaffa,untuk menemaninya.
Tergopoh-gopoh Khaira ke dapur mengambil segelas air putih hangat.Rasa panik dan takutnya pun menguap begitu saja.Tergantikan rasa penasaran akan kondisi kakaknya sekarang.
"Apa yang terjadi dengan Abang.Kupikir Abang akan menginterogasi ku?.".Khaira menerka saat berjalan di tangga,dan bergegas ke kamar Khaffa menemui Rena yang sudah menunggunya disana.
Rena membantu Khaffa minum air hangat putihnya yang diberikan Khaira."Minumlah air hangat ini!.Abang akan merasa baikan setelah ini.".
Tak menunda lagi,Khaffa menuruti perintah ibunya.Benar saja,tenggorokannya yang perih saat menelan ludah karena kering,kini terasa lebih nyaman.
Selesai minum,Khaffa mengamati Khaira yang terpaku didekat tempat tidur nya.
Menyadari jika Khaffa tengah menatapnya tajam,Khaira pura-pura menguap."Huaaammm,seperti nya aku sudah tidak bisa menahan kantuk.".Pergi dengan langkah panjang menuju ke kamarnya.
Khaffa memandangi Khaira hingga menghilang dari pandangan.Sebenarnya banyak yang ingin Khaffa bicarakan dengan Khaira,namun kali ini membiarkan Khaira lolos dari interogasi nya.
__ADS_1
"Abang,jangan berpikir terlalu keras!.Lihatlah dampaknya!,tubuh mu melemah.Tenaga mu tidak seperti robot yang bisa di isi daya nya cukup hanya dengan mengganti baterai saja.".
Khaffa mendengarkan baik-baik saat ibunya menasehati.Itu ada benarnya,tetapi jika tidak dengan bekerja,Khaffa tak tahu harus berbuat apalagi.Meskipun dikantor tak banyak yang dilakukannya,semua ditangani Khaira dan Nichole.Namun entah kenapa,tenaganya terasa terkuras habis.
"Aku merindukan istri ku,tapi aku tidak bisa melihatnya.Nafasku sesak dan berat menanggung beban dihati ini.".Dipembaringannya Khaffa berkeluh kesah lagi pada Rena.
Entah kemana Khaffa harus mencari Anayra lagi.Jalan pikirannya terasa sangat buntu akhir-akhir ini.
Duduk ditepi tempat tidur,disamping Khaffa lagi,Rena menahan sedihnya tuk kesekian kali.Kini Rena harus ekstra kerja keras untuk menenangkan hati Khaffa.
"Mami mengerti penderitaan mu,nak.Perasaan Mami mengatakan,dia baik-baik saja,jadi jangan khawatir!.".Menyemangati Khaffa meskipun dirinya sendiri merasa putus asa dan putus harapan.
Sebagai kepala keluarga,Andika tak diam saja.Untuk membantu Khaffa mencari Anayra,Andika mengerahkan orang kepercayaan nya.Namun hasilnya sama,nihil.
Mencari satu orang dipermukaan bumi yang luas dan besar ini mustahil dilakukan.Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.Namun tak menyurutkan semangat mereka untuk terus mencari Anayra hingga sekarang dan sampai ketemu.
"Ini salah ku,semua yang terjadi pada istri ku karena kelalaian ku dan kecerobohan ku.Aku suami yang buruk,tidak becus menjaga istri ku sendiri.Jika seperti ini,bagaimana bisa menjaga keluarga ku jika kami memiliki anak?.".Khaffa semakin galau dan gusar lagi.
Baru saja merangkai indahnya bunga cinta bersama Anayra,kini terhempas oleh badai yang besar hingga tercerai berai.
Hari ini pertama kali Rena melihat Khaffa tak berdaya seperti ini,dan berkeluh kesah.Biasanya Khaffa jarang bicara,cenderung tertutup dan diam membisu saat menghadapi masalah.Khaffa selalu memikul beban nya sendiri,menyembunyikan kegalauan dan kesedihannya sendiri.Tak berharap orang lain tahu,dan tak ingin keluarganya ikut merasakan masa-masa sulitnya.
Melihat kondisi Khaffa saat ini yang memilukan,Rena meneteskan air matanya."Tidak,tidak.Ini memang sudah rencana Nya.Anggap ini semua adalah ujian.Jangan menyalahkan diri sendiri,itu tidak benar.".
"Benar,ini ujian.Ujian terberat ku.Tapi aku tidak sanggup lagi bertahan hidup,tanpa Anayra.".Tanpa disadari Khaffa,setitik air menyembul di pelupuk matanya,dan akhirnya turun ke pipinya.
Keputus asaan tampak nyata dimata Khaffa.Sebagai ibu,Rena bisa merasakan semua yang dirasakan putranya.
Untuk menunjukkan rasa sayang dan pedulinya pada Khaffa,Rena mengecup kening putranya berkali-kali.
"Ikhlaskan agar semua menjadi mudah.Jangan putus asa dan patah semangat putra ku!.Kami disini semua akan terus berusaha mendukung mu.Mari kita berjuang keras bersama,mencari Anayra hingga ketemu,ok!?.".Berusaha menguatkan hati Khaffa agar tegar dan bersemangat kembali seperti sediakala,dan menyembunyikan perasaan gundah gulana nya sendiri.
Layaknya putri sendiri,Rena sangat menyayangi Anayra.Tak menganggap nya menantu,melainkan juga bagian penting dalam kehidupan keluarga nya.Hadirnya Anayra ditengah keluarga kecilnya membawa pengaruh baik dirumah nya.
Khaffa mencerna semua nasehat ibunya dan berusaha untuk memahami nya.Tertegun dengan mata menerawang jauh,tatkala memandang hampa langit-langit kamar nya.
"Baiklah.".Demi
Khaffa akan mencoba berdamai dengan keadaan,dan pasrah menerima kondisi jalan takdir yang harus dilaluinya.Berserah diri dan ikhlas jalan terbaik untuk Khaffa saat ini,karena tak ingin terpuruk lebih dalam lagi ke tebing kehancuran.
Usahanya berhasil,spontan Rena mengucapkan kalimat syukur kepada Sang lllahi Rabby,disertai senyum dan tangis haru.Senang dan lega perasaannya sekarang melihat Khaffa mulai tenang dan damai.Tidak menunjukkan ekspresi kesedihannya lagi.
_________
Hari ini outlet baru usaha milik Franstian mulai dibuka,sesuai waktu yang sudah ditentukan dan disepakati bersama Khaffa.
Franstian hanya memantau sebentar tempat usaha yang digelutinya di Mall,yang ditunggu dan dijaga 3 pegawai gadis muda.Usai itu diniatkan dalam hati untuk menemui Khaffa dikantor CEO nya.
Pikirnya,seharusnya Khaffa berjuang keras dalam rangka misi pencarian dan penyelamatan diri istrinya.Melihat Khaffa tenang-tenang saja,itu mengundang rasa penasaran dan tanda tanya besar dibenak Franstian.
"Selamat datang Frans.Apa kabar?.".Khaffa beranjak berdiri menyambut baik kedatangan Franstian dengan berpikir positif dan menyalaminya.
Drama sedihnya yang bukan sandiwara atau pura-pura semata semalam saat menangis sedih dihadapan sang ibu,diabaikan dan dilupakan.Kekuatan dan motivasi tidak harus datang dari orang lain,melainkan orang terdekat.
Ini efek dari pengaruh positif kata-kata bijak sang ibu yang menjadi motivator nya.Membangun rasa percaya diri dan rasa optimisme yang tinggi.Semua akan menjadi mudah jika menerima ujian dengan ikhlas.Ringan dalam memikul beban dihati,dan ringan dalam melangkahkan kaki.
"Baik,terima kasih.Bagaimana dengan mu?.Kau baik-baik saja?,apa telah terjadi sesuatu?.".Berdiri didepan meja kerja Khaffa,Franstian menduga-duga.
"Maksud mu?.".Franstian menodongnya dengan pertanyaan aneh,Khaffa pun tak mengerti dan mengerutkan kening.
"Mungkin...Kau kehilangan sesuatu atau semacamnya?.".Tanpa sadar,Franstian mengatakan hal yang bisa menjerumuskan nya pada lubang kecurigaan Khaffa.
"Kehilangan sesuatu?.".Ingin mengatakan iya tetapi dipendamnya.Apa aku terlihat tampak menyedihkan karena itu?.".Khaffa mulai merasakan keanehan dari sikap Franstian,apalagi tutur katanya.
Kau memang sangat menyedihkan,terpisah jauh dari istri dan calon anak mu...
Itu dibenarkan dalam benak Franstian tatkala menatap Khaffa lekat-lekat.
"Te-tentu tidak,hanya saja sedikit aneh saja.".Berkelit menghindari pertanyaan Khaffa,Franstian menjawab seadanya dengan terkekeh dan menggaruk pelipisnya.
Kupikir kau yang aneh.Ada apa dengan nya?...
Insting Khaffa langsung bereaksi menangkap gelagat aneh Franstian dan absurd.Rona wajahnya menerka-nerka akan sikap Franstian yang menunjukkan gelagat mencurigakan.Siapa nyana mungkin Franstian ada hubungannya dengan penculikan Anayra.Meskipun kemungkinannya kecil.Hal itu membuat Khaffa berpikir keras.
Khaffa tak ingin Franstian tahu jika dirinya mencurigai Franstian,sontak membuyarkan lamunan sendiri dan mengalihkan perhatian Franstian."Baiklah,Silahkan duduk!.Lupakan tentang aku!,dan apa yang membawa mu kemari?.".
Sudah diijinkan dan dipersilahkan,maka Franstian duduk berhadapan dengan Khaffa senyaman mungkin.
"Bagaimana kabar istri mu?.".Franstian sedikit berbasa-basi.
Mendengar kata istri disebut,Khaffa begitu terhenyak nya,dan bingung harus menjawab apa."Dia...Baik.Tapi seperti nya dia tidak ingin keluar rumah.Kurasa dia sedang menikmati perannya sebagai istri.".Raut wajah sedihnya rapat-rapat disembunyikan Khaffa,dengan mengulum senyum.
Alasan itu Khaffa buat untuk mengelabui Franstian,dan menutupi yang sebenarnya.Khaffa tak begitu mengenal Franstian,maka tak berani berbicara banyak tentang masalah pribadinya.
"Dia pasti wanita yang cantik.Aku penasaran ingin mengenal nya.".Franstian berlagak polos didepan Khaffa,namun dalam hati menertawai Khaffa.
Sinyal ketakutan Khaffa yang lemah akan ketakutan kehilangan Anayra berubah kuat."Tidak.Nanti kau merebutnya dari ku.".
"Ha,ha,ha...Yayaya,aku mengerti sekarang.Dia pasti sangat cantik.".Franstian dalam hati berharap tak membongkar rahasia nya sendiri,jika dirinya sudah melihat wajah istri Khaffa dan mengenalnya,yakni Anayra yang kini berada dalam genggamannya.
Bukan hanya itu saja,bahkan sudah saling berinteraksi dan intens bertatapan.Terlebih jika sampai mengungkapkan jika Anayra tengah mengandung benih Khaffa saat ini,maka tamatlah riwayat nya.Khaffa tidak boleh mengetahui hal itu untuk sementara waktu,dan mungkin juga untuk selamanya.
__ADS_1
Memikirkan itu semua,Franstian tertegun sejenak,dan fokus kembali pada Khaffa.
"Dugaan mu benar.".Berbinar iris Khaffa saat membayangkan wajah Anayra yang kini jauh di mata,namun selalu ada dilubuk hatinya.
Hal itu pun tak dipungkiri Franstian.Anayra memang sangat memikat hati dan mempesona,begitu dirinya melihat nya.
"Ahhh,kau membuat ku iri saja.".Tak jemunya Franstian terus bersandiwara dihadapan Khaffa,dan mengibaskan tangannya,pura-pura jengah.
Meskipun dalam hatinya tertawa bahagia dengan penderitaan yang ditutupi Khaffa dibalik sikapnya yang tenang dan santai.
Kau pasti berjuang keras untuk pura-pura bahagia didepan orang lain.Betapa malangnya dirimu Khaffa.Aku ikut prihatin...
Franstian menurunkan pandangannya,saat Khaffa memergokinya tengah menatap nya sinis.Meneruskan pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Khaffa,sebelum Khaffa menyadari sesuatu dan agar tak fokus terus pada Anayra.
"Dulu sebelum aku mengenal mu.Aku penasaran bagaimana wujud kantor CEO Mars Group.Apa saja yang ada didalam nya,dan bagaimana rupa sesungguhnya Khaffa Alyandra.Apa ketampanannya sesuai seperti di majalah?.".
Nyamannya Khaffa duduk bersandar dikursi nya,saat menyimak baik-baik ucapan Franstian.Dikalimat terakhir Franstian yang mampu melambungkan kepercayaan dirinya,bibir Khaffa tersungging tipis.
"Lalu sekarang?.".Khaffa penasaran sekali dengan jawaban yang akan Franstian lontarkan.
"Aku terkesan.Ini pantas disebut kantor CEO,dan kau CEO tertampan yang pernah ku temui.".
Ucapan Franstian dianggap guyonan oleh Khaffa hingga menahan tawanya.
"Kita serupa tetapi tak sama.Tetapi ku pikir kau jauh lebih menarik dari ku.Memiliki rahang yang tegas dan sorot mata yang mematikan.Tampak seperti pria berkuasa,tidak mudah memaafkan dan bernyali besar.".
"Oyaaa?.".Franstian menyeringai tak percaya,Khaffa memujinya dengan kata-kata pedas.
"Tentu.Kuharap kau tidak tersinggung?.".Khaffa tak mau berdusta,tak biasa harus berpura-pura baik.
Meskipun kata-kata Khaffa sangat menohok,Franstian menanggapinya dengan santai.
"Itu bukan gaya ku.Tapi ingat,aku tidak mudah memaafkan,seperti kata mu.".Franstian mengingatkan Khaffa tentang dirinya dan mengulum senyum licik.
"Baiklah.Lalu,bagaimana dengan ku?.Berikan komentar mu!?.".Khaffa tak sabar ingin mendengar pendapat Franstian tentang dirinya.
"Ku duga mungkin seperti ayahmu yang memiliki nama julukan,Pria sejuta karisma.Ibu mu,Wanita bertangan emas karena sangat dermawan.".Franstian memperlihatkan wawasannya agar Khaffa terkagum akan sosoknya.
Sulit dipercaya Khaffa,ternyata Franstian begitu mengetahui seluk beluk keluarga nya.Itu semua memang patut dibanggakan Khaffa,memiliki orang tua yang populer karena kebaikan nya,bukan hanya karena kekayaannya dan kesuksesan nya saja.
Namun tak disadari Franstian,pernyataan nya itu malah menguntungkan Khaffa.Menjadi penasaran akan sosok Franstian,dan tak sabar ingin segera mencari tahu data diri Franstian yang sesungguhnya.Namun ditahannya setelah urusan nya selesai dengan Franstian.
"Ayahku memang begitu.Yang paling menonjol adalah memiliki selera kekinian di generasi nya.Gaya ku saja kalah dari nya.".Mengungkapkan dengan senang hati akan kehebatan sang ayah yang dibanggakannya.
Franstian tak heran jika Khaffa rendah hati.Garam tidak akan menetes ke bawah,perumpaan itu cocok untuk Khaffa yang karakternya seperti ayahnya,Andika.Pengusaha sukses yang sudah diketahui dirinya jati dirinya.
"Tidak.Kau salah.Semua yang dimiliki Pak Andika menurun pada mu.Aku yakin orang lain pun berpikir sama seperti ku.".
Dengan gaya yang tampak meyakinkan,Franstian mencoba membuat Khaffa terkesan dan terkesima padanya.Akan ilmu pengetahuan yang dimilikinya,kerendahan hatinya dan kecerdasan dalam bercakap-cakap dengan cara memuja dan memuji Khaffa.
Mulutku terasa panas dan gatal harus melambungkan namanya dan merendahkan diri ku.Bersabarlah.Ini tidak akan bertahan lama.Sebentar lagi dia akan meratapi kematian istri dan calon darah dagingnya...
Perangai licik Franstian menodai kalbunya yang seharusnya suci murni,dan dijaga agar tetap bersih karena pengaruh hasutan dan bisikan setan.
Agar Khaffa tak curiga jika dirinya sedang menggumamkan sesuatu dibenaknya,Franstian bergerak membenarkan posisi duduknya mencari posisi ternyaman.Yakni dengan bersandar di bahu kursi dan menumpangkan satu kaki lalu membenahi penampilannya.
Apa yang dikatakan Franstian benar adanya,dan tak dipungkiri Khaffa.Tetapi itu salah besar jika Franstian mengira Khaffa terkesan dan terkesima padanya.Khaffa malah jengah mendengar Franstian yang terus membahas tentang dirinya dan keluarganya.
Sehingga tak memberinya kesempatan untuk menelusuri jejak hidup Franstian,yang membuat nya penasaran.Ya,terang saja,sebab Khaffa baru mengenal sosok Franstian.Tak heran jika Khaffa ingin mengetahui jati diri Franstian yang sebenarnya.
"Apa kita akan bercerita tentang kisah ku?.Aku juga ingin tau kisahmu.".Khaffa mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada yang bisa dibanggakan,selain urusan pekerjaan.".Franstian bersikap hati-hati dibalik sikapnya yang tenang dan senyum nya yang menawan.
"Ayolah Frans!.Kau selalu merendahkan diri.Ceritakan sedikit tentang dirimu!.".Khaffa terus mendesak Franstian agar bercerita tentangnya.
"Tidak.".Franstian menolak secara halus permintaan Khaffa."Bagaimana jika kita makan malam saja di restoran tempo hari?.Mungkin disana aku berubah pikiran?.".Sengaja memancing Khaffa agar menerima ajakannya.
"Tidak ada alasan untuk ku menolak mu.Aku akan datang tepat waktu jam 7:30.".
Tak heran jika Franstian melebarkan senyumnya dengan kesediaan Khaffa.Dengan begitu,Franstian bisa mendekatkan diri pada Khaffa.Maka jika sesuatu yang buruk terjadi,Khaffa tak mungkin mencurigai nya atau melimpahkan tuduhan palsu pada nya.
"Ok,deal.Aku tunggu malam ini sampai kau datang.".Franstian beranjak setelah dirasa urusan nya selesai disana dan perlahan berjalan mundur menuju pintu dengan mata masih tertuju pada Khaffa.
"Kau akan bosan jika terlalu lama menunggu.Bagaimana jika aku tidak datang?.".Khaffa sedikit berkelakar dan memandangi Franstian yang terhenti di dekat pintu.
Franstian sedikit membungkukkan badannya sejenak pada Khaffa."Suatu kehormatan untuk ku menunggu pria paling berpengaruh dikota ini,dan seorang pemimpin diperusahaan ternama ini.".
Entah tulus atau tidak Franstian memujinya,namun Khaffa menanggapinya santai."Aku akan besar kepala jika terus disanjung mu.Baiklah,sampai nanti disana!.".
Franstian membalas lambaian tangan Khaffa sebelum melangkah keluar.
"Ok,bye.".Lalu bergegas pergi dari kantor Khaffa dengan hati tertawa-tawa.
Senang dan puas aktingnya berjalan sempurna dalam menghadapi Khaffa.Seringai yang licik pun terus menghiasi wajahnya,dan tersungging di sudut kiri bibirnya.
Usai menatapi Franstian yang pergi menghilang dari ruangannya,Khaffa menarik nafas panjang.Namun keanehan terasa menggelitik hati nya saat melihat gelagat Franstian yang janggal dan perkataannya yang tidak wajar.
"Apa mungkin dia terlibat dalam kasus penculikan Anayra?.Aku harus menyelidiki nya.".Dugaan Khaffa sangat kuat dan yakin jika Franstian adalah dalang dibalik penculikan Anayra.
Semua yang ditangkap oleh indera penglihatan dan pendengarannya mengenai sosok Franstian,menunjukan tanda-tanda jika Franstian ada hubungannya dengan kasus penculikan Anayra.Secercah harapan pun menghampiri hati Khaffa dalam mencari jejak Anayra,walaupun setitik.
__ADS_1
Khaffa segera bertindak dan menghubungi anak buahnya yang bersiaga disekitar gedung Mall dan gedung kantor.Untuk mengikuti Franstian secara diam-diam kemana pun kakinya melangkah.Namun tetap berhati-hati,menjaga jarak dan waspada.