
Sabrina,Shenna dan Zira duduk bersama dikursi taman belakang rumah Sabrina.Ketiga sahabat itu menikmati pemandangan taman menjelang sore.Disisi kanannya ada kolam renang yang luas dan gazebo kecil.
Hari ini ketiganya baru bisa berkumpul lagi setelah disibukkan pekerjaan masing-masing.Sabrina ada pemotretan untuk majalah wanita dan fashion show sehingga intensitas bertemu berkurang dan tak bisa sesering dulu.
"Sa,serius bokap Lu pergi ke luar kota hari ini?.".Shenna mengeluarkan sebotol minuman dari tasnya.
"Yes,sure!.Gue baru saja antar Papa ke bandara.So,kita bisa party disini,dirumah gue!.Hahaha...".Sabrina tertawa senang dan berjingkrak bahagia diatas tanah berumput hijau.
Pasalnya Dani pergi sehingga Sabrina bebas dan leluasa.Setelah mengantar Dani ke bandara,Sabrina langsung menghubungi Shenna dan Zira untuk datang kerumahnya.
Dani pergi menemani Reyhan untuk kunjungan kerja ke Bali.Sepulangnya menjenguk Daniel mampir dulu kerumah untuk mengambil koper berisi pakaiannya dan lainnya yang sudah disiapkan sebelumnya.Namun Dani tak menyinggung hal itu pada Daniel.
"Kita putar musiknya.Zira,Lu ambil gelas!.".Shenna memutar musik melalui ponselnya dan dihubungkan ke speaker aktif milik Sabrina.
Suara musik pun menggema ditaman.Shenna bangkit menghampiri Sabrina dan jingkrak-jingkrak bersama nya mengikuti alunan musik.
"Wuuuu....".Sorak Sabrina dan Shenna berjoget ria.
Zira pergi ke dapur untuk mengambil gelas dan kembali lagi ketaman.
Diteras depan rumah,mbok Asih menutup kedua telinganya saking bising dan berisiknya."Allahu Akbar,dasar bocah gendeng.Wong edan,sore hari begini memutar lagu begituan.Harusnya lagu qosidahan.".Saat suara musik beritme cepat menggema sampai terdengar kesana.
Setibanya ditaman,Zira meletakkan gelas di meja.Shenna segera menuangkan isi botolnya ke dalam tiga gelas,setengahnya saja."Sorry sis',cuma ini yang mampu gue beli!.".Shenna menyerahkan gelas pada Sabrina yang berisi bir.
"I'ts ok!.No problem!.".Sabrina meraih gelas itu dan meneguknya sedikit."Ahhh...".Desahnya nikmat sehabis minum."Let's dance together!.".Sabrina menarik tangan Zira yang berdiri didekat Shenna,dan kembali menari seolah diatas lantai dansa bersama Zira.
Shenna membawa gelas miliknya,dan cepat menyusul keduanya.Menari dengan lincah dan memegang gelas ditangannya.Ketiga nya sangat menikmatinya seolah 'party' di 'Night Club'.
Mbok Asih berjalan menuju taman belakang,dibalik pintu berkaca tebal mengintip aksi anak majikannya.
"Welehhh,welehhh...Kalau tuan besar tau pasti kena damprat anak-anak itu.Bagusan juga sholawatan.".Mbok Asih geleng-geleng kepala dan memegangi dadanya,shock melihat kegaduhan mereka dan bergegas pergi kedapur."Ada-ada saja anak-anak jaman now.".Mengeluarkan sayuran dan lauk pauk dari dalam lemari pendingin dan meletakkannya dimeja.
Mbok Asih menyiapkan bahan masakan untuk makan malam Sabrina nanti.
Ditaman."Sa,berhasil atau belum ketemu Boss Mall itu?.".Shenna bertanya tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Nasib gue belum mujur!,selalu sial setiap kesana.Harapan gue bertemu Khaffa,malah bertemu Lefrand!.".
Kata-kata Sabrina sampai membuat Shenna dan Zira terlonjak kaget.
"Lefraaand?.".Keduanya terbelalak dan tercengang,hingga gelas yang dipegang Shenna dijatuhkan kebawah,saking terkejutnya.
"Serius?.Lu baik-baik saja?.".Shenna memutar tubuh Sabrina dan menelisik penampilannya.
Sabrina memutar bola matanya jengah dan menghela nafas kasar."Come' on,yang benar saja.Gak mungkin dia berani mencelakakan gue!.Semarah-marahnya dia,tapi hatinya baik.Gak mungkin dia menyakiti gue,right?.".Berkacak pinggang pada Shenna dan meyakinkan jika Lefrand tak melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Sedikit nya Sabrina tahu sifat Lefrand,walaupun pernah mengancamnya dan menyuruhnya pergi dari lndonesia sampai waktu yang sudah ditentukan.Jika tidak,maka Lefrand akan melakukan hal yang tak diduganya.Sabrina takut akan ancamannya dan menurutinya pergi sampai membatalkan kontrak kerja bersama Lulla.Lagi pula ada 'job' diluar negeri,tetapi Sabrina takut untuk pulang sebelum waktunya meskipun ancaman Lefrand hanya gertakan saja.
Naasnya,Dani tak tahu menahu peristiwa itu dan kelakuan bejat putrinya yang telah menjadi biang keladi atas perpisahan Lefrand dan Anayra.Dani menyangka Sabrina pergi ke luar negeri memang bekerja dan berkarir di dunia modeling nya.Ambisi Sabrina untuk menjadi model terlihat kentara dan tak pernah menyinggung soal kisah asmaranya.Bahkan Dani tak kenal sosok Lefrand sebab Sabrina tak pernah bercerita.
"Percaya.Gue bisa liat itu.Gak ada yang cacat ditubuhmu.".Shenna percaya setelah memastikannya sendiri jika Sabrina baik-baik saja.
"Jangan diam saja!.Bicaralah.".Shenna menoyor kepala Zira saat melihatnya diam saja.
"Sorry!,gue speechless.".Zira menggedikkan bahunya melengos pergi dan duduk dikursi taman.Zira meminum isi gelasnya sedikit."Fyuhhh...Rasanya aneh sekali.".Ditumpahkannya ketanah sisa minumannya saat Sabrina dan Shenna lengah dan sibuk mengobrol.
Zira tak mau lagi ikut campur urusannya.Lebih baik jadi pendengar saja daripada buang-buang tenaga dan pikirannya untuk hal-hal yang tak penting.Namun tak bisa menjauhi dan menghindari kedua sahabatnya.Selama ini Shenna dan Sabrina berjasa dan banyak membantunya.Zira gadis broken home sejak masih duduk di bangku SMA,sehingga suka menyendiri karena minder oleh keadaan keluarganya.
Saat itu lah Shenna dan Sabrina mengulurkan tangannya menjadi teman.Sejak itu ketiganya bersahabat dan Zira tak kesepian lagi.Namun harus menerima ke bok-brokan keduanya,tetapi bisa menjaga dirinya dan tak terbawa arus buruk keduanya.Diantara mereka,Zira agak berbeda dan hanya ikut-ikutan saja.
"Ayo cerita!.Apa yang Lu dan Lefrand lakukan saat bertemu?.Katakan,apa yang kalian bicarakan?.".Shenna sangat penasaran tentang pertemuan pertama Sabrina dan Lefrand kembali setelah lama tak berjumpa sejak peristiwa kelam setahun silam itu.
Shenna menarik lengan Sabrina dan mendudukkannya dikursi.Shenna duduk disampingnya dan Zira dihadapannya.Akhirnya Sabrina terpaksa menceritakan pertemuannya di Mall dan makan bersama Lefrand.Shenna dan Zira mendengarkan ceritanya dengan serius dan seksama.
Dimarkas besar kepolisian,beberapa belas menit yang lalu."Terima kasih Pak Fakhrul atas bantuannya.Berkat anda,aku bisa bebas.".Daniel menjabat tangan pria berprofesi pengacara itu.
Fakhrul menjabat tangan Andika dan Al serta Khaffa dan Anayra.
"Sama-sama,tapi yang paling berperan besar atas kebebasan mas Daniel adalah mbak Alma!.Tapi,kurasa dia tidak ada disini,sepertinya sudah pulang?.".Kata-kata Fakhrul membuat semua sadar jika Alma tak ada disana dan tak lagi bersama mereka.
Saat ini Al,Andika dan Daniel berdiri dipelataran parkir markas besar kepolisian,termasuk Khaffa dan Anayra.Semua mencari Alma tetapi nihil,Alma tak ditemukan.Sedangkan Fakhrul pamit pergi sejak tadi.
"Ya ampun Alma,kamu pergi kemana?.".Anayra cemas menautkan jari jemarinya.
Anayra bingung bisa lengah dan tak tahu jika Alma pergi,padahal tadi Alma berdiri disampingnya.Mungkin saking fokusnya menyaksikan drama haru tadi sampai tak sadar akan kepergian Alma,termasuk yang lainnya.
"Kurasa Alma pulang ke apartemen.Papi,Papa Al dan bang Daniel,pergilah kerumah sakit menemui bunda.Aku dan Anayra akan mencari Alma.".Khaffa mengusulkan.
"Baiklah!.Itu ide bagus.".Andika mengangguk setuju.
"Kabari aku jika menemukan dia!.".Daniel menjadi cemas dan khawatir.
Merasa bersalah dan berpikir jika dirinya penyebab Alma pergi.Daniel sudah berganti pakaian memakai kemeja abu muda dan celana hitam panjang.
"Tentu.Ayo!.".Khaffa menggandeng tangan Anayra dan masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Andika,Al dan Daniel tak mengulur waktu lagi.Masuk kedalam mobil untuk pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Andika.Bergegas dua mobil warna hitam dan putih itu meninggalkan tempat area parkir kearah yang berlawanan.
Langit berawan cerah disore hari.Disebuah taman,Alma duduk sendiri di bangku ayunan.Perlahan mengayun tubuhnya,sontak tubuhnya terayun dan bergerak maju mundur.
Alma mendongak keatas memandang langit dan burung-burung yang terbang disana,membentuk formasi yang indah."Bagaimana nasibku sekarang?.Bagaimana masa depan ku nanti?.".
Bingung akan nasibnya sekarang dan masa depannya nanti.Akan bahagia atau sebaliknya,bisa tegar dan kuat menjalani hidup atau malah semakin lemah.Teka-teki hidupnya sungguh sulit ditebaknya,dan tak tahu akan seperti apa nantinya.
Suasana ditaman itu ada beberapa anak kecil bermain disana.Dua anak laki berusia 6 tahunan bermain perosotan,satu anak perempuan mengayuh sepedanya berusia 9 tahunan memutari lahan taman itu,diikuti gadis kecil usia 7 tahun bersepatu roda dibelakangnya.
Alma tertarik mengawasi gerak-gerik anak-anak itu,menjadi hiburan tersendiri baginya.Senyum dibibirnya terukir keatas.
Gerakan Alma terhenti saat seorang gadis kecil berkepang dua dan bersepatu roda itu menghampirinya."Tante sudah gede tapi main ayunan.Gak malu ya?.".Ledeknya lugu dan polos.
Alma tersenyum manis menatap wajah gadis kecil yang cantik itu.".Tante cuma mencobanya dan sepertinya sangat kuat.Tante rindu masa kecilku.Dulu,waktu Tante se usia mu suka main ayunan.".
"Aku juga suka main ayunan.".Gadis yang berdiri dihadapan Alma menunjuk ayunan yang diduduki Alma.
"Kamu mau naik?.".Alma menawarkan dan dibalas anggukan kepala anak itu.
"Baiklah,ayo naik!.".Alma turun dari ayunan dan mengangkat anak itu,mendudukkannya di ayunan dan mendorongnya pelan.
"Kamu sering main disini?.".
"Iya...".Tanpa merasa canggung anak itu didorong Alma.
"Siapa namamu?.".
"Bunga.".
"Nama yang indah dan cantik seperti bunga.".Alma memujinya sampai gadis kecil itu tertawa.
"Tante juga cantik?,tapi kenapa Tante sedih?.".Bunga membuat Alma kelabakan menjawabnya.
Bunga memperhatikan Alma sejak tadi saat main sepatu rodanya.
Alma berjalan maju ke depan dan berjongkok sejajar dihadapannya saat ayunan itu terhenti."Bunga,kalau kamu sudah besar nanti.Jadilah anak yang baik dan belajar yang rajin!.Jangan percaya orang asing yang gak dikenal.Tante harap,kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai nanti!.".
"Ehmmm?...".Kening Bunga berkerut bingung tak mengerti ucapan Alma.
"Kamu akan paham maksud Tante saat kamu sudah dewasa nanti.Kenalkan,namaku Alma,senang bisa berjumpa dengan mu,Bunga.".Mengenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
Bunga menyalaminya dan tersenyum manis lalu menunjuk gadis yang mengayuh sepedanya.Itu kakakku,namanya Mega.".
Alma bernafas lega."Syukurlah kamu ditemani kakakmu.Cepatlah pulang kerumah usai main disini.Jangan main terlalu jauh,sampai jumpa Bunga.".Alma berdiri dan melambaikan tangannya saat akan pergi.
Kakaknya Mega menghampirinya."Dek,ayo pulang!.Kata Bunda jangan terlalu lama,kata Bunda juga jangan bicara dengan orang asing.".Gadis kecil berambut pendek dan berponi itu mengingatkan.
"Tapi Tante Alma baik.Aku tau namanya,jadi Tante Alma bukan orang asing.".Bunga beranjak berdiri dan menyusuri jalan pulang kerumah.
Menggunakan sepatu rodanya meninggalkan Mega.Dengan cepat Mega menyusul adiknya dibelakang menaiki sepedanya,tanpa berkata-kata lagi.
Alma berjalan sendiri menyusuri jalan setapak menuju apartemen.Taman itu tak jauh dari gedung apartemen dan Alma setiap hari melewatinya saat pergi dan pulang kerja.
Sesampainya di dalam gedung bertingkat itu,Alma masuk kedalam.Seorang pria menyapa Alma yang berdiri didekat pintu masuk."Selamat sore,mbak Alma!.".Tersenyum ramah Security apartemen itu.
Alma menjawab pria yang sudah dikenalnya itu."Selamat sore Pak Dejan.Anda tampan sekali hari ini!.".Berhenti dihadapan pria bertubuh tinggi itu.
Dejan cengar-cengir mendapat pujian dari Alma"Terima kasih,baru mbak yang mau memujiku.".Jujur dan polos,tanpa merasa rendah diri dan malu.".
Alma tersenyum saja mendengar celotehannya dan tak berkomentar.
"Dari mana mbak?.".Dejan penasaran saat melihat Alma datang sendiri dari arah taman dengan berjalan kaki.
Biasanya Dejan melihat Alma datang dari arah basement usai memarkirkan motornya saat pulang kerja.
"Jalan-jalan ditaman.".
"Maaf Mbak,hampir sepekan tidak melihat Mbak?.Kupikir pindah tempat.".Dejan tak tahu menahu peristiwa yang Alma alami.
"litu,aaku...".Alma gelagapan menjawabnya dan ragu mengatakan jika terjadi sesuatu padanya sampai dirawat di rumah sakit.
Tetapi belum selesai bicara,dari arah belakang seseorang memanggilnya."Almaaa...Kamu dari mana?,aku dan suamiku mencari mu.Hampir membuatku jantungan saja.".
"Maaf!.".Alma menyesal karena membuat Anayra cemas dan khawatir.
Anayra memeluk Alma erat."Syukurlah,kamu ada disini dan baik-baik saja!.".Bernafas lega,ternyata Alma ada di apartemen.
Anayra putus asa dan takut Alma akan melakukan sesuatu yang buruk dan menyakiti dirinya sendiri untuk yang kedua kalinya.
"Tenanglah!.Aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi.".Alma menepuk-nepuk punggung Anayra untuk meyakinkan dan menenangkan hatinya.
Khaffa tersenyum senang,Alma pulang ke apartemen dalam keadaan baik.Dejan kebingungan melihat drama didepannya.
"Honey,Alma mari kita pergi.Lanjutkan drama mellow kalian dirumah.".Khaffa risih melihat adegan yang membuatnya terharu dan takut mengundang perhatian orang lain.
__ADS_1
Alma dan Anayra menganggguk setuju."Mari Pak Dejan.".Alma dan Anayra pamit dan melangkah pergi.
Khaffa berjalan melewatinya dan tersenyum tipis pada Dejan,dibalas senyuman lebar Dejan.Khaffa mengikuti Alma dan Anayra dibelakang dan ketiganya berjalan menuju lift.Masuk kedalam lift saat pintunya terbuka dan menekan tombol keatas.
"Alma,kami turun disini!.Tidak masalah,kami tidak mengantar keatas?.".Khaffa bertanya setibanya dilantai unit apartemennya yang berbeda dua lantai dibawah Alma.
"Tentu.Kalian pasti lelah,sebaiknya istirahatlah!.".Alma paham maksudnya dan tak keberatan.
Pintu lift terbuka Khaffa dan Anayra keluar."Alma,nanti aku menyusul,ok.".Anayra memberi isyarat membentuk huruf O jari tangannya saat tiba diluar lift.
"Ok!.".Alma melakukan hal serupa sebelum pintu lift tertutup.
Anayra menyusul Khaffa didepan yang berjalan dikoridor menuju unit apartemennya."Sayang,kita akan bermalam disini?.".Anayra menebak dengan semangatnya.
Dibalas gelengan kepala Khaffa."Kita istirahat sebentar,lalu pulang.".Tangan Khaffa menekan sandi pintu dan masuk usai membuka pintunya.
Anayra kecewa dan merengut sedih."Kupikir akan tidur disini.".Masuk dan menutup pintunya.
Khaffa dan Anayra menghempaskan tubuhnya di sofa dan bersandar untuk melepaskan rasa lelahnya.Seharian ini disibukkan untuk mengurus hal yang menguras tenaga dan pikirannya.
Anayra beringsrut duduk mendekati Khaffa dan memeluk pinggangnya."Sayang,kita menginap disini!.Aku mau menghibur Alma.".Merajuk dan merayunya.
"Mami dan Papi pasti kecewa jika kita tidak pulang kerumah.".Tandas Khaffa.
"Malam ini saja,ku mohon!.".Anayra memelas dan memohon.
"Baiklah!.Tanda terima kasih nya?.".Khaffa menunjuk bibirnya.
Namun Anayra malah mengecup pipinya.
"Imbalanku tidak sepadan,aku kecewa!.".Khaffa merengut dan menceloskan kepalanya kesamping.
"Perhitungan sekali.Apa kau suamiku?,kurasa bukan!.".Pelan Anayra memukul dadanya.
"Jangan meledekku!.".Khaffa memasang wajah devilnya.
"Kamu garang sekali!.".Anayra mencebik.
Khaffa malah tertawa terbahak-bahak."Hahaha...".
"Sayang,malam ini boleh tidur bersama Alma?.".Anayra memberanikan diri mengatakannya.
Khaffa berbalik merengkuh pinggang Anayra."Honey,cukup sampai disini memikirkan orang lain.Pikirkan aku!,aku merindukanmu.".Mengec*p bibir Anayra sekilas dan menatapnya sayu.
"Mari kita bercinta?.".Anayra mengedipkan matanya.
"Jangan menyesal,aku tidak akan mengampuni mu.".Khaffa tersenyum smirk.
"Aku cukup kuat untuk melayani mu.".Dikecupnya bibir Khaffa sekilas.
"Yakin?.Aku akan mematahkan tulang mu hingga remuk.".Khaffa mengecup keningnya.
"Aku takut.".Anayra pura-pura memasang raut wajah ketakutan."Baiklah.Jika seperti itu,sebaiknya kita tunda.".Menggoda Khaffa dan membuatnya kelabakan.
"Tidak!.Kamu harus tanggung jawab!.". Khaffa menunjuk benda dibaliknya celananya yang telah menegang dan mengeras.
Anayra tak bisa menahan tawanya."Baiklah.Tapi,bisakah kita makan dulu?.Aku lapar!.".Anayra merengek kelaparan.
Sibuk mengurus ini dan itu hingga mengabaikan perutnya yang belum terisi makanan sejak tadi.
"Kita makan usai melakukan tugas.".Khaffa menci*mnya dan ******* bibirnya.
Anayra mendorong Khaffa dengan kasarnya,kesal karena permintaannya tak digubris Khaffa."Sayang?.".Membentak Khaffa dengan kerasnya.
"Maaf...Aku tidak bisa menahan diri lagi.".Khaffa ******* lagi bibir Anayra dan mengacuhkan keluhannya.
Akhirnya Anayra mengalah dan membalasnya.Tak bisa menolak keinginan suaminya yang menuntut haknya.Khaffa memaksa Anayra saat hasratnya tak terbendung lagi.Entah berapa hari dan malam dilewati tanpa bercinta,hingga Khaffa ingin menuntaskan hasratnya saat itu juga.
Sibuk dan lelah.Khaffa dan Anayra setiap pulang malam kerumah langsung tidur.Maka tak heran jika Khaffa sangat menginginkan itu.
Disofa,sepasang suami istri itu mengarungi samudera cinta dalam kondisi tanpa busana.Des*h*n dan lenguh*n dua insan itu terdengar merdu.
Seperti prajurit yang berjuang dimedan perang,Khaffa melakukannya penuh semangat dan seperti api berkobar-kobar.
Anayra menikmati setiap sentuhan lembutnya.Matanya terpejam dan tangannya merengkuh pinggang Khaffa.
"Terima kasih.Love you?.".Lembut Khaffa mengecup keningnya setelah mencapai klim*ks.
"Love you too.".Anayra menatap syahdu suaminya yang ada di bawah kungkungan Khaffa.
"Aku siapkan makan.Kupikir masih ada roti burger,beef dan jus mangga?.".Khaffa menawarkan makanan yang masih tersisa didalam lemari pendinginnya dipantry.
"Itu gak buruk,good idea.Kurasa cukup untuk mengganjal perut ku yang lapar.".Menatap mesra suaminya dan tangannya merangkul lehernya.
"Baiklah tuan putri,tunggu disini.Akan kubuatkan.". Khaffa beranjak dan berpakaian.
__ADS_1
Berjalan menuju pantry untuk melaksanakan tugasnya.Anayra segera berpakaian,masuk ke kamar dan membersihkan dirinya dikamar mandi.Khaffa sibuk menyiapkan makanan untuknya dan untuk Anayra.Usai itu membersihkan diri dikamar mandi dan berganti pakaian.Berdua makan bersama diatas tempat tidur.