CINTA DIBALUT DENDAM

CINTA DIBALUT DENDAM
EPISODE 106 SAKIT


__ADS_3

"sudah sayang" tanya Daniel begitu Yasinta mengambil tas kerjanya dari lemari tas


"sudah kak"


"ayo"


Mereka langsung masuk mobil Daniel dengan Daniel yang menyupiri.


"pak supir libur kak"


"bukan" ucap Daniel sambil memasang safety belt mereka dia dan Yasinta. hampir tiap hari itu dia lakukan kalau hanya pergi berdua dengan Yasinta.


"terus kok kak Daniel yang menyetir"


"aku yang suruh mereka ke kantor, aku mau kita berduaan dulu"


"ihhhh aneh deh"


"ngga sayang, aku ingin kesuatu tempat" ucapnya serius


"kemana"


"nanti aja, kamu juga akan tahu kalau kita sudah sampai"


"terserahlah"


Daniel melajukan mobil perlahan di jalan komplek itu lalu bergabung dengan kendaraan lain di jalan besar.


Setelah sekitar tiga puluh menit mereka sampai di perumahan tempat rumah ibunya Daniel dulu. Tapi tunggu, rumahnya dulu yang mana ya, sudah banyak perubahan.


"ini rumah ibu ya kak, tapi dulu belum begini, kakak renovasi ya"


"hmmmm, kebetulan tahun kemarin yang sebelah kiri dijual jadi aku beli sekalian"


"ohhh, sultan mah bebas" ledek Yasinta sambil senyum.


"istrinya sultan juga bebas" balas Daniel juga sambil menarik tangan Yasinta.


"ayo masuk," ucap Daniel saat mereka tiba didepan rumah itu. Ternyata sudah ada satu orang laki-laki agak tua yangembuka pintu.


"silahkan pak"


"terimakasih"


Daniel dan Yasinta mamasuki rumah yang penuh kenangan itu. Cuma semua kenangan itu sudah sedikit samar, karena Daniel sudah merenovasi rumah tersebut.


"ini kamar kita" tunjuk Daniel


Yasinta terlihat sedikit sedih karena mengingat kembali ibu mertuannya. Dia sangat bangga dengan ibu mertuanya itu dulu.


"coba aja ibu masih ada"


"iya sayang, tapi ibu sudah tidak ada. makanya aku ingin papi yang tinggal disini, gimana menurutmu"


"papi mau ngga"?


"ya itulah nanti kita bujuk sayang, soalnya saya lihat kembar juga sangat menyayangi papi, kalau jauh disana terbatas oleh jarak"


"terserah kakak aja"

__ADS_1


"gitu donk, terserah kakak, tapi kamu setuju kan"?


"iya kak"


Setelah melihat rumah almarhum ibunya Daniel mengajak Yasinta untuk ke kantor, tapi tidak lama karena mereka hari ini ingin ke rumah pak Yusuf.


**


Seminggu sudah berlalu, pak Yusuf juga sudah setuju untuk tinggal dikota J setelah mendengar cerita mereka tentang kembar. Dia tinggal dirumah almarhum ibunya Daniel. pak Riadi dan kembar kadang datang hanya sekedar bermain dan pak Yusuf main catur bersama besannya.


Seperti hari ini pak Yusuf yang datang kerumah besar Daniel dan Yasinta. Karena ini weekend Daniel dan Yasinta tidak ke kantor, dan rencananya Yasinta akan menemani papinya untuk mencari dan membeli sebuah rumah untuk masa tua papinya.


Pak Yusuf pagi-pagi sekali sudah sampai dirumah Daniel. Lalu berolah raga ringan bersama pak Riadi dengan jalan santai disekitar komplek.


"kembar masih mandi kayaknya, bagaimana kalau kita jalan santai dulu" ajak pak Riadi


"oh boleh pak, tubuh tua kayak kita memang sudah harus olah raga" ucapnya sambil mereka ketawa bersama.


"sepertinya sebentar lagi bukan kita yang momong cucu, tapi cucu yang momong kita" ucap mereka sambil ketawa berbarengan.


Akhirnya mereka berdua keluar dari rumah sambil jalan santai. Sekitar satu jam berjalan mereka baru sampai dirumah sudah mendengar teriakan kembar.


"mama, mama" teriak kembar


Pak Riadi dan pak Yusuf yang baru tiba di rumah saling tatap dan bingung kenapa cucu-cucu mereka menangis.


"Loan Leon, kenapa" tanya pak Yusuf melihat kedua cucunya ada diluar kamar Daniel bersama pengasuh mereka.


"mama kek, mama, mama ngga mati kan"


"hahhhh, mama kenapa memang nak" tanya pak Riadi bingung.


"mama ngga mau gerak opa" ucap loan


Mendengar penuturan kedua cucu mereka, pak Yusuf dan pak Riadi segera membuka pintu kamar Daniel.


"dan, ada apa dan" tanya pak Riadi bingung dan khawatir melihat Yasinta yang masih tidur dan sedang diperiksa dokter. Sedangkan Daniel, dia hanya memakai celana kolor saking bingungnya tadi.


"ngga tahu om, tadi aku juga masih tidur, ternyata Sinta pingsan didepan pintu" ceritanya terlihat sangat khawatir bahkan bicaranya aja sudah bergetar.


"terus, kamu tahunya gimana"?


"dia sudah jatuh om, terus pintunya langsung jedar karena terdorong tubuh sintanya kali"


Pak Yusuf mendekati Yasinta, terlihat muka Yasinta sangat pucat.


"sin, bangun sayang, jangan buat papi takut, kasihan kembar noh"


Tapi Yasinta tetap diam seribu bahasa, dan dokter citra terlihat sangat serius menangani Yasinta. Dokter citra adalah referensi dari dokter keluarga mereka di kota S.


"tadi malam dia makan kan"? tanya pak Yusuf


"makan kok Pi, kami malah makan di restoran Padang yang dekat kantor, karena katanya dia sudah lapar"


"Bagaimana cit, menantu saya kenapa"tanya pak Riadi serius


"Sepertinya ibu Sinta kelelahan om, harusnya dia belum bisa lelah. oh iya pak Daniel saya sarankan ibu Yasinta kita bawa sekarang ke rumah sakit, karena saya ingin memastikan diagnosa saya. Sebaiknya kita langsung kerumah sakit sekarang"


"begitu ya dok"

__ADS_1


"iya pak, lebih cepat lebih baik, semoga tidak ada apa-apa"


"baik dok, om titip kembar dulu ya" ucap Daniel sama om Riadi. Lalu dia menuju ruang ganti mengambil kaos dan celana pendek.


"pak Amir tolong antar Daniel ke rumah sakit" perintah pak Riadi sama supir yang ada dirumah


"baik tuan"


Setelah mengganti pakaiannya Daniel langsung mengangkat Yasinta keluar dari kamar mereka.


"papa, mama kenapa" tangis kembar menghadang langkah Daniel didepan pintu kamarnya


"anak-anak sama opa dulu ya" ucap Daniel melanjutkan langkahnya


"tapi kami mau sama mama, please" mohon kembar


"Loan Leon kita akan bersama mama nak, tapi biarkan papa bawa mama dulu ya, mama ngga apa-apa kok"


"Hulk hukk hukkk mama ngga mati kan kek" ucap Loan diangguki Leon juga


"nggalah, makanya kalian harus berdoa supaya mama sehat kembali" bujuk pak Yusuf sambil memeluk keduanya. Keduanya langsung saling pandang dan mereka akhirnya berdoa bersama.


"Tuhan, sembuhkan mama, Loan dan Leon janji tidak akan nakal lagi amin" keduanya saling tatap masih sesenggukan. Pak Riadi ngga tega melihat kedua cucunya menangis.


" Anak-anak daripada menangis, mendingan sekarang kita susulin mama dan papa kalian, oke"


"iya opa, iya, ayo" ucap keduanya semangat.


Sementara Daniel masih memangku kepala Yasinta di jok belakang mobilnya. dan dokter citra langsung menghubungi rekan kerjanya dirumah sakit.


ddrrrt ddrrrt


"halo"


"hallo, dokter Cyntia, saya ada pasien urgent, tolong siapkan USG sepuluh menit lagi"


"baik dokter citra"


Benar aja belum sampai sepuluh menit mereka sudah sampai di rumah sakit yang dimaksud.


Disana sudah ada petugas yang menyiapkan bed untuk Yasinta, tapi Daniel ingin menggendong istrinya sampai ruangan dokter.


"ya sudah mari pak Daniel" dokter citra langsung menuju ruangan dokter Cyntia yang dokter SpOG.


"Dokter Cyntia, ini pasiennya"


"Silahkan pak" dokter langsung menunjuk bed pasien kepada Daniel, Daniel yang langsung mengerti meletakkan tubuh Yasinta disana.


Daniel merapikan rambut Yasinta dan mencium keningnya.


"bangun sin, jangan buat aku takut sin, aku sangat takut sekarang" ucap Daniel pelan dikuping istrinya.


"sebentar ya pak, kita periksa ibunya dulu"


"silahkan dok"


Lalu seorang perawat mengolesi seperti gel keperut Yasinta lalu dokter menggerakkan alat kecil itu diatas perutnya Yasinta. Dokter Cyntia dan dokter citra saling pandang dan tersenyum.


Terimakasih masih setia membaca karya ini.

__ADS_1


Jangan lupa like dan coment


I LOVE YOU ALL🙏🤗


__ADS_2