
Mereka terdiam beberapa saat dan Daniel masih asyik melihat foto Yasinta dan anak-anaknya. Sungguh wajah anak-anaknya sangat menggemaskan.
"maaf pak Daniel, saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, saya ingin istirahat. dokter menyarankan saya untuk istirahat empat hari lagi kedepan. ini surat dokternya pak" ucap Yasinta sambil mengambil surat itu dari tas kerjanya dan memberikannya ke Daniel.
"baiklah kamu istirahatlah, tapi kamu harus pindah ke kamar yang lebih layak sin, nanti akan ditanggung kantor budget untuk biaya kontrakanmu"
"maaf pak, bukankah bapak sudah berjanji akan mengembalikan saya ke pabrik, jadi saya tidak butuh kontrakan lagi disini"
"tapi semua itu butuh proses kan Iyas" bujuknya. Karena sekarang Daniel malah terpikir untuk membuat Yasinta tinggal dikota J bersama anak-anak mereka. biarlah aku agak licik dikit, batin Daniel.
"Selama proses itu biarlah saya tinggal disini pak, lagian ini baru saya perpanjang beberapa hari yang lalu"
"ya sudah terserah kamu aja" Daniel akhirnya mengalah.
Kembali Daniel melihat foto anak-anaknya dengan Yasinta.
'anak-anakku kalian tunggu , papa akan jemput kalian, kalian harus hidup bahagia' batin daniel
dddrrrtt ddrrrt ddrrrt
terlihat dilayar handphone Yasinta yang tergeletak dilantai, Bram calling...
Yasinta langsung mengangkat panggilan itu dihadapan Daniel.
"hallo kak Bram"
"hallo sin, aku sudah otw ya, mungkin sepuluh Lima belas menit sampai ya"
"ok kak, aku sudah siap-siap"
"jangan lupa obat sama vitaminmu"
"ok pak dokter, siap" ucapnya tersenyum.
"bye bye" ucap mereka barengan.
"siapa, Bram lagi"
"iya pak",
"mau kemana" seolah-olah dia lupa kalau Yasinta ingin pulang ke daerah T.
"saya mau pulang pak, saya istirahat dirumah aja sama anak-anak saya, tapi kak Bram ngga bolehin naik motor dia mau antar saya" jelas Yasinta.
__ADS_1
"kenapa malah minta tolong Bram, kenapa ngga ngomong sama Dodo"
"saya ngga enak pak, takut dikira ngga tahu diri"
"Sinta, kamu adalah karyawan kantor, jadi sudah wajar kalau kantor handle semua saat kamu sakit"
"terimakasih pak Daniel, tapi sekarang kak Bram sudah menuju kesini, sudah terlanjur janjian"
"baiklah, tapi nanti tolong kabari begitu sampai rumah, setidaknya kepada Dodo"
"baik pak"
Sebenarnya Daniel sangat enggan untuk beranjak dari tempat itu, tapi Yasinta masih harus istirahat, dia tidak mungkin memaksa Yasinta. Daniel bangkit dari duduknya masih memegang figura foto Yasinta dan kedua anaknya.
"boleh aku minta foto kalian ini Iyas"
"buat apa pak"
"ayolah Iyas, darah itu sangat kental, aku sangat merindukan mereka"
"nanti bapak akan dapat anak yang lebih lucu dari ibu Cyntia"
"Saya tidak membahas anak siapa pun, saya sedang membahas anak kita. Tolonglah Iyas, suatu saat saya ingin ketemu mereka"
"baiklah, figura ini tetap saya bawa"
"terserah bapak, itu ngga berarti apapun sama bapak, tapi tolong jangan sampai anak-anak kena imbas dari urusan orang dewasa."
"apa maksud kamu"
" jangan sampai ibu Cyntia mengusik anak-anak saya pak, kami orang ngga mampu, akan sangat gampang bagi orang kaya membolak balikkan keadaan"
"Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Cyntia, orang tuannya hanya rekan bisnis saya doank"
"Saya hanya berusaha melindungi anak-anak saya pak, jangan sampai ibu Cyntia merasa terusik, saya ngga suka itu, "
"hmmmm baiklah" kembali Daniel harus mengalah sama Yasinta. Entah kemana dendam Daniel selama ini, dia yang ingin bahkan berharap Yasinta menderita meninggalkannya, malah sekarang lebih menderita melihat penderitaan Yasinta.
Saat Daniel berjalan kearah pintu dia melihat Bram datang dengan pakaian santai, kaos kerah dan celana Levis.
"Sudah sin" tanya Bram agak kencang supaya mereka berdua dengar. Dia sudah tahu Daniel lagi didalam dari Dodo asisten Daniel didepan.
"ohhh hai pak Daniel arganta, CEO dari grup arganta, ternyata lagi disini, ngga salah nih seorang CEO mengunjungi karyawannya sampai ke rumah, kostan sesempit ini lho" ucap Bram enteng tanpa memikirkan perasaan siapa-siapa.
__ADS_1
"bukan urusan kamu"
"jadi urusan saya kalau kalian orang kaya menginjak-injak kami yang miskin, ingat itu" ucap Bram memberi ultimatum mengingat gimana kemarin Yasinta dipermalukan.
"sudah kak Bram, sudah gada masalah kok, semua sudah beres,mungkin bulan depan saya sudah di pabrik" ucap Yasinta menengahi sambil berjalan kearah Bram keluar dari kamarnya.
"ya sudahlah cepatan, keburu siang macet, kasian kamu ntar cape"
"iya kak, aku siap-siap dulu, tinggal ganti baju" Yasinta langsung menutup pintu kamarnya yang kecil.
Sementara diluar dua laki-laki ganteng itu sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bram, kamu sangat beruntung dan baik. aku titip Yasinta ya, sepertinya saat ini memang hanya kamu yang dipercaya Yasinta, padahal aku ingin banget mengantarnya pulang tapi dia ngga mau"
"hmmmm" jawab Bram masih agak kesal
"oh ya Bram, apa kamu suka sama Yasinta" tanya Daniel
Bram yang tadinya berdiri sambil membelakangi Daniel kaget dengan pertanyaan Daniel dan langsung memelototi Daniel.
"kalau saja Yasinta bisa cinta sama gue, aku akan sambut dengan bahagia, sekalipun Yasinta itu janda dua anak. Tapi Yasinta itu bukan perempuan sembarangan, dia tidak mudah jatuh cinta. Dan kamu tahu pak Daniel sampai sekarang Yasinta hanya mencintai mantan suaminya yang bodoh itu" ucap Bram dengan sangat geram
"maksudmu" Daniel bingung untuk bertanya
"maksudmu, maksudmu apa. maksudnya kamu mengira Yasinta mencintai Daniel arganta,??? tidak pak Daniel,..tidak.." wajah Daniel jadi berubah muram. "dia mencintai mantan suaminya yang orang biasa, bukan pak Daniel arganta , CEO grup arganta. Orang yang tidak punya perasaan, apakah cukup jelas"
"Bram" Daniel seperti ingin memohon
"sory bro, sekarang kamu sudah memiliki segalanya, sedangkan Yasinta hanya punya keluarganya, tolonglah jangan usik dia lagi. Kamu lihat kan saat dia jadi sekretarismu aja dia sudah menerima penghinaan seperti kemarin, gimana ceritanya jika pacarmu tahu kalian punya anak, bisa-bisa anak Yasinta jadi sasaran. Jadi tolonglah lepaskan Yasinta, mengenai anak ikatan darah itu lebih kuat dari apapun bro" ucap bram.
Daniel tampak berpikir dengan ucapan Bram. Bagaimana kalau Yasinta dan anak-anak menderita karena keserakahan orang dewasa.
"Bram kamu boleh mengatakan aku apa aja tentang kejadian kemarin, kalau kamu tahu aku juga sakit melihat Yasinta disakiti. Bahkan mungkin akulah yang paling sakit. Tapi aku berterimakasih sama kamu, karena ucapan kamu bahwa hewanpun akan melindungi anak-anaknya membuat aku berpikir tentang anak-anakku. Terimakasih bro, aku memang bodoh selama ini",
"memang kamu sangat bodoh bro, masa kamu ngga tau kepribadian Yasinta selama jadi pacarmu. tapi sekarang nggada lagi gunanya bro, Yasinta sudah memutuskan untuk menutup hatinya untukmu begitu dia tahu siapa kamu sekarang."
"Dia hanya berharap bisa keluar dari bayang-bayangmu, bisa menyelesaikan kontrak dengan baik. Tadinya dia berpikir untuk menjual rumahnya untuk membayar finalty itu, tapi masih kurang, karena harga rumahnya tidak seberapa",
"Setelah saya kasih pertimbangan kalau anak-anaknya akan sengsara tinggal ngontrak, makanya dia berubah pikiran untuk menyelesaikan kontrak itu walaupun akan sering tersakiti. Tapi anak-anaknya akan nyaman",
"kamu tahu dan, penderitaan Yasinta itu sudah sangat dalam sampai dia tidak bisa lagi menangis, jadi kalau bisa tolong jangan libatkan dia lagi dalam hidupmu, biarkanlah dia nyaman sekarang walaupun dia tidak hidup mewah, biarlah berjalan alami",
"ahhhhhh" Daniel sangat frustasi mendengar itu. Sebenarnya ucapan Bram benar juga, pasti akan banyak yang mengusik Yasinta kalau Daniel mendekatinya, sementara posisi Yasinta sekarang lemah dan kurang percaya diri karena keadaannya.
__ADS_1
Hai readers, tinggalkan like dan coment kalian ya. terimakasih🙏🙏🤗🤗