
Tanpa terasa hari-hari berlalu begitu cepat. Sekarang putri kembar Daniel Siena reganta dan sieni reganta sudah berumur dua bulan. Mereka tumbuh sangat baik, fisik lumayan gembul berisi apalagi keduannya asi eksklusif dari Yasinta.
Tiap hari pak Riadi dan pak Yusuf bermain dengan cucu kembar perempuannya kalau Loan dan Leon sedang sekolah atau les. Bahkan perusahaan pak Yusuf yang sudah dikembalikan sekarang dipimpin oleh Bram atas permintaan Daniel dan pak Yusuf. Walaupun pak Riadi dan pak Yusuf masih sering dimintai pendapat oleh Bram.
Setiap pagi halaman samping sudah menjadi seperti tempat taman kanak-kanak dan lansia.
"pagi Siena sieni" sapa pak Yusuf
"pagi kakek" sapa baby siiternya sikembar masing-masing.
"sini cucu kakek, hari ini kakek gendong siapa ya, Siena apa sieni nih" godanya. Terlihat bayi-bayi gembul itu pada ketawa mungkin dikirain ngajak becanda.
"pagi" tiba-tiba sapa pak Riadi dari belakang
"pagi opa"
"ternyata opa sudah keduluan nih" ucap pak Riadi
"iya nih opa, kakek juga lagi bingung, hari ini jatah siapa ya yang kakek pangku ya"
"hahaha dasar kakek-kakek, udah ngga ingat kemarin mangku siapa ya" goda pak Riadi sama kedua bayi itu.
terlihat keduanya langsung bergerak dan ketawa.
"opa juga lupa kemarin mangku siapa ya" ucap pak Riadi bingung, apalagi sekarang kedua cucunya dengan kostum yang sama persis.
"hahahaha dasar opa-opa, udah pikun ya, kemarin mangku siapa"? ledek balik pak Yusuf.
"iya nih, jadi pikun ya"
"okelah, yang mana aja deh" ucap kakek Yusuf mengangkat Siena dari strolernya.
Akhirnya mereka memangku masing-masing satu cucu perempuannya.
Bernyayi sambil berjemur, itulah kebiasaan kedua kakek dari kembar ini setiap pagi.
"kakek, opa, kami berangkat sekolah dulu" teriak dua kembar laki-laki itu berlarian dari dalam rumah.
__ADS_1
"sudah mau berangkat" tanya pak Yusuf sambil menyodorkan punggung tangannya.
"iya opa"
"yang pintar ya kakak-kakak" ucap kakek Yusuf menirukan suara anak kecil sambil menggerak-gerakkan tangan Siena.
"oke adekku sayang, kamu cepat besar ya, biar kita sekolah bareng" ucap Loan menowel hidung mancung adiknya yang digendong pak Yusuf.
"oke kakak" ucap pak Yusuf menirukan suara anak kecil lagi.
Lalu mereka beralih ke opa Riadi dan adik kecilnya sambil pamitan juga.
"jangan nakal-nakal ya disekolah" ucap pak Riadi
"rebes opa" sambil mereka mengangkat tangan seperti orang menghormat lalu berangkat dengan supir dan nannynya.
Sebenarnya mereka sudah tidak mau didampingi nannynya, tapi pak Riadi bilang harus, demi kenyamanan mereka. Jadilah nannynya menunggu dimobil bersama supir.
"aduhhh kakak kalian itu nak, kalau sudah berangkat rumah jadi sepi, untung ada kalian lagi" ucap pak Riadi sambil menimang cucunya.
"nanti kalau kalian juga sekolah pasti rumah sepi deh" ucap pak Yusuf juga
"masa iya mereka punya adek lagi"
"kalau mama papanya mau saya sih sangat setuju" celetuk pak Riadi sambil mengangkat baby sieni.
"setuju apa itu om, papi" tanya Daniel tiba-tiba sudah dibelakang mereka bersama menggandeng tangan Sinta.
"om setuju aja, kalau kalian ngasih kembar Dede lagi" ucap om Riadi tenang sambil berdiri mengangkat cucunya.
"haaaaa" Yasinta melongo sementara Daniel hanya diam aja namun senyum dalam hati.
"ohhhh" ucap Daniel menowel pipi putrinya yang dipangku papi Yusuf.
"itu nanti aku bicarakan dulu deh sama mama Sinta, soalnya nanti terlalu rame , om sama papi ngga bisa istirahat deh" lanjut Daniel
"ngga kok, malah om senang kalau seperti sekarang, ramai." ucapnya senyum sumringah
__ADS_1
"liat nanti deh"
"om papi, saya jalan duluan ya, saya sarapan di kantor soalnya pagi sekali harus ketemu orang dari India om, siang dia sudah akan kembali ke negaranya, pengen lihat pengajuan mereka dulu" ucap Daniel masih menggoda putrinya.
"Apa Sinta sudah ingin kerja lagi, makanya ngga mau punya Dede lagi? kalau ingin kerja, kerja aja nak, mengenai kembar biar om sama papi yang urus, biarpun kita lansia pasti bisa, nanti kalau mereka haus tinggal bawa ke kantor bentar" ucap om Riadi senang.
Yasinta menatap suaminya Daniel, karena bingung mau jawab apa. Sebenarnya dia ingin memberikan asi eksklusif dulu sampai enam bulan, ini demi kembar.
"nanti aja om rencananya, tunggu Siena dan sieni selesai asi eksklusif, mungkin sekitar enam bulan" jelas Sinta.
"toh uang belanja dari papa mereka ngga kurang kok" lanjut Sinta lagi sambil senyum niatnya becanda.
"emank Daniel ngasih kamu uang belanja, bukan ngasih uang hasil usaha" tanya om Riadi becanda, karena memang kalau alasannya karena duit sudah pasti Sinta tidak perlu bekerja. Bahkan om Riadi dengan depositonya bisa aja menghidupi mereka tanpa bekerja.
"hehehe Yasinta itu bukan cewek yang doyan belanja om, kalau dia mau dia bisa ambil semua kartu itu, sisain aja satu buat aku. Kalau ngga ambil semua juga ngga apa-apa, ada Dodo yang selalu bersamaku. Tapi mana mau dia, karena dia bukan seperti cewek diluaran sana, aku malah pernah kasih sama dompet-dompetnya dia ngga mau, belum butuh katanya, iya ngga yang" ucap Daniel sambil menarik Yasinta ke dalam pelukannya dari samping.
Yasinta hanya tersenyum, dia ngga menanggapi suaminya lagi.
"tapi apa kalian tidak mau memikirkan nambah dedenya kembar lagi, biar lebih rame lagi. nanti kami bantu urus kok" ucap pak Riadi lebih serius, namun hanya ditanggapi senyum oleh pak Yusuf.
"saya pikir cukuplah om, ini juga sudah rame, anak empat. Jaman sekarang anak paling banyak tiga orang om, ini udah empat masa mau nambah lagi, malu kali om" ucap Sinta sangat sopan.
"kok malu sayang, kita kan suami istri, bodo amat apa kata orang" langsung celetuk Daniel sama Sinta.
"iya sih nak Sinta, jangan mikirin apa kata orang. Menurut om sih memang masih kurang rame karena dari dulu dari kecil om sudah kesepian, tapi Sinta benar juga, empat anak kayaknya sudah cukup, ya sudahlah yang tua ngalah. Lagian yang empat ini aja semua jadi orang kalian sudah hebat", ucap om Riadi akhirnya.
"Semoga semua cucuku ini bisa membanggakan keluarga, karena papa mamanya juga orang yang sangat sayang keluarga" ucap pak Yusuf tulus
"amin" ucap Sinta
"ya sudah sayang, saya jalan dulu ya takut telat. Dahhh putri-putri papa, jadi anak baik dirumah ya, jangan menyusahkan mama sama opa-opa" ucap Daniel sambil mencium putrinya bergantian lalu beralih mencium punggung tangan om dan papi Yusuf.
Seperti biasa Sinta akan mengantar Daniel sampai ke mobil. barulah dia mulai aktifitas mengurus kembar.
"Sayang ucapan om Riadi tadi jangan dipikirkan ya, menurut saya anak empat sudah sangat seru, terimakasih" ucap Daniel senyum sebelum menutup kaca mobilnya dan supir melajukan mobil Daniel.
Yasinta masih terpaku ditempatnya
__ADS_1
"Terimakasih Tuhan untuk semua kebahagiaan ini" doa Yasinta tulus.
Hai readers, jangan lupa like, coment dan vote ya. Terimakasih.🙏