
Pagi itu Yasinta ingin berangkat kuliah, dia sudah rapi dengan tas kampusnya. Dia berjalan dan turun ke lantai satu rumahnya, dimana biasanya papi dan maminya duduk minum kopi atau sekedar minum teh.
"pagi Pi, pagi mi" sapa Yasinta ceria
"pagi sayang" balas maminya dengan muka sendu sedangkan papinya menunjukkan wajah yang kurang enak, dan bahkan tidak menjawab sapaan selamat pagi dari Yasinta.
"papi kenapa" spontan tanya Yasinta karena melihat papinya menunduk dengan wajah sendu.
"Sinta" ucap papinya setelah diam dari tadi
"iya pi" jawab Yasinta bingung dan duduk disofa sebelah kanan papinya.
"apa...." terlihat papinya sangat tahu
"ada apa Pi, ngomong aja" ucap Sinta
"apa papi boleh minta tolong" bahkan ucapannya terlihat sangat tidak yakin. begitu juga maminya memilih menatap papinya dengan sendu.
"minta tolong apa Pi"
"papi..." papinya tidak bisa berbicara lagi terlihat matanya sudah sembab.
"ada apa sich mi, saya mau ngampus nih, Daniel sudah jemput"
Melihat suaminya kesulitan untuk mengutarakan masalah mereka maminya Sinta pun membantu suaminya. Biar bagaimana pun harus disampaikan cepat atau lambat, pikir maminya Sinta.
"Begini sin, kemarin proyek papi yang di kota K bermasalah, dan akhirnya ditutup paksa oleh warga. papi rugi besar karena semua uang sudah dicurahkan kesitu"
"terus"
"papimu kekurangan dana sekarang buat menutup kerugian itu"
"terus, maksudnya papi mau jual aset kita"
"seandainya dijual juga ngga cukup Sinta menutupi semua"
"terus"
"papi ada kolegannya yang nawarin pinjaman yang sangat besar, tapi...."
"tapi apa mi"
"dia minta kamu jadi istri anaknya"
"hahhhhhhhh" ucap Sinta masih melongo.
"iya sin, makanya papi susah ngomong sama kamu" ucap maminya lembut
"tapi papi sama mami kan tahu aku sama Daniel"
"sin, realistis aja nak, apa yang kamu harapkan dari Daniel, dia bisa apa? dia mana bisa bantu papi sekarang" ucap papinya emosi karena pikirannya lagi kacau sehingga semua jadi serba salah.
"Pi, maksud papi apa, dari dulu papi tidak pernah beda-bedain orang dari nilai materi" ucap Sinta juga tinggi. Dia ngga menyangka papi sama maminya sekarang menilai Daniel begitu. Daniel memang bukan orang kaya tapi Daniel juga bukan orang yang susah-susah banget. mamanya yang seorang janda punya warung nasi sederhana.
Tapi memang pikiran papinya yang lagi kacau pak Yusuf malah membentak Yasinta.
__ADS_1
"kamu mulai menggurui orang tua ya, tahu apa kamu tentang hidup. pokoknya mau ngga mau kamu harus putus sama Daniel dan menikah dengan Fariz" ucap pak Yusuf sok keras dan berlalu karena ngga kuat melihat kesedihan putrinya, tapi nggada jalan lain, perusahaanya harus jalan terus dan kemana cari pinjaman hampir satu triliun.
"mi aku ngga mau mi" ucap Sinta sudah menangis
"maaf nak, mami ngga tahu harus bilang apa, mami juga bingung"
"tolong dong mi, masa iya aku putus sama Daniel"
"terus papimu gimana sin"
"masa gada jalan lain sich mi"
"untuk saat ini gada nak"
Sinta bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar rumah. Lalu dia masuk ke dalam mobilnya dan keluar dari rumah mewah itu.
'gila ini gila', bagaimana aku harus putus sama Daniel, bagaimana' teriak Sinta di dalam mobilnya.
Sampe kampus Sinta memarkirkan mobilnya tapi tidak keluar dari mobil. Dia sudah menangis dibelakang stir.
Tidak berapa lama motor Daniel memasuki parkiran kampus juga. Melihat mobil Sinta Daniel langsung mendekatinya.
tok tok tok
Ketokan di kaca mobilnya menyadarkan Sinta dari kekacauan pikirannya. Lalu dia menurunkan kaca mobilnya.
"Iyas, kenapa, kamu nangis, tadi minta jemput, aku kerumah kata pak satpam sudah jalan" ucap Daniel sambil membuka pintu mobil dan duduk disebelah Sinta karena melihat Sinta enggan untuk beranjak.
Sinta menatap Daniel sangat dalam. Airmatanya sudah menetes di pipinya.
"hukhukhuk... dan, kamu benaran cinta sama aku" tanyanya sambil sesenggukan.
"lho pertanyaan apa itu, ngga mutu. kamu masih sangsi dengan cintaku"
"papiku mau menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya" ucap Sinta datar tapi bagai petir ditelinga Daniel
"apa" Daniel kaget banget.
"iya dan, aku harus bagaimana"? ucap sangat-sangat sedih
"aku ngga mau kita pisah Iyas" ucap Daniel juga sedih. Dia bingung juga mau ngomong apa tiba-tiba ada kejadian begini. Dia sangat mencintai Sinta, dari sekian gadis yang mengejarnya. Tapi dia harus lebih tegar, kasian Sinta, gumam Daniel.
"kamu sudah bicara sama papi kamu tentang hubungan kita"
"sudah kak, tapi papi kayaknya gelap mata karena duit, itu bukan papi yang biasanya" ucapnya sesenggukan.
"ya sudah, nanti coba kita bicara baik-baik sama papi ya, aku juga ngga mau kita putus"
"terus kalau papi ngga mau gimana kak"
"nanti kita cari solusi dulu, jangan langsung menyerah, kita harus optimis bisa bersatu" ucap Daniel yakin
"yang pasti aku ngga mau kita berpisah" ucap Daniel yakin.
"aku juga ngga mau kak, aku ngga mau" Yasinta makin menangis histeris didalam mobilnya itu.
__ADS_1
"sekarang kita masuk kelas dulu Yo" ajak Daniel lembut
"aku ngga mau kak, aku ngga bisa belajar, aku mau bolos"
"lho kamu sudah sampai kampus Iyas, ngapain bolos"
"aku ngga bisa konsentrasi kak"
"kamu yakin bolos" tanya Daniel meyakinkan
"hmmmmm" jawab Sinta sambil mengangguk
"ya sudah kita disini aja, aku akan temani kamu"
"kakak bolos juga"
"ya iyalah, masa cantikku ini lagi sedih aku tinggalin" ucap Daniel
"makasih ya kak"
"sama-sama Iyas" ucap Daniel mengusap kepala sinta.
Setelah Sinta sedikit lebih tenang Daniel menghubungi temannya dikelas buat izinin mereka berdua.
"sekarang kita pulang atau mau nongkrong"
"kita nongkrong bentar terus pulang kak" Yasinta memang lebih sering memanggil Daniel dengan sebutan kakak sementara Daniel memanggil Sinta dengan panggilan sayang Iyas.
"ok, jangan terlalu dipikirin lagi, berdoa aja hubungan kita sampai ke pernikahan, ok" bujuk Daniel berusaha menghibur Yasinta padahal dia sendiri sebenarnya sangat bingung.
'bagaimana kalau benar dia dan Yasinta dipisahkan'
Daniel sangat tidak sanggup, minimal untuk saat ini, Daniel sangat takut dengan kenyataan itu.
Sore harinya Yasinta pulang kerumah, terlihat kedua orang tuannya sedang duduk diruang tamu.
"sore Pi, mi" sapa Daniel sambil menyalami papi dan maminya Yasinta, walaupun papinya terlihat sudah tidak bersahabat.
"Sinta, gimana yang papa bicarakan tadi pagi"
"Pi, Sinta ngga bisa Pi, Sinta...." Yasinta diam sejenak karena ragu.
"Pi Iyas dan aku saling mencintai, aku tak mungkin membiarkan Yasinta menikah dengan orang lain, tolonglah Pi" mohon Daniel
"huhhh apa yang bisa kamu janjikan untuk Sinta, kamu masih kuliah, keluargamu pas-pasan, apanya yang bisa diandalkan" papa Yusuf sengaja menghina Daniel habis-habisan.
"papi" teriak Sinta
"kenapa, apa yang papi bilang benarkan, makan apa kamu kalau menikah dengan dia, apa dia mau menumpang hidup dirumah ini, jangan-jangan itu tujuannya" ucap pak Yusuf makin kasar.
"papi jahat" ucap Yasinta ngga tahan.
"ayo kak dan, kita nongkrong aja, pikiranku lagi mumet banget"
"Yasinta" panggil Daniel tetap lembut
__ADS_1
"kalau kakak ngga mau aku sendiri aja" ucap Yasinta dan berlalu.