
Ternyata pertemuan dua pengusaha itu tidak seribet yang dibayangkan pak Riadi sebelumnya. Dia sampai berpikir untuk menambah pengacara untuk menggugat kasus ini kalau kesepakatan dengan kekeluargaan tidak tercapai.
Tapi siapa yang menyangka bahwa keluarga Fariza sangat welcome dan mudah diajak untuk bicara. Mereka langsung menemukan satu kesepakatan dengan tanpa perdebatan.
Setelah pembicaraan serius, urusan pribadi antara ibu Mirna dan pak Yusuf juga sudah clear. Semuanya saling membuka hati sehingga tidak perlu ada perdebatan lagi.
Setelah semuanya clear mereka semua makan siang bersama di hotel mewah twins grup. Sungguh sangat berakhir dengan indah dan penuh canda tawa.
Daniel yang tidak bisa lama-lama meninggalkan Yasinta langsung pamit duluan.
"Maaf semuanya, mungkin untuk makan siangnya saya tidak bisa bergabung, karena ada kerjaan saya yang sangat penting" pamit Daniel sama semuanya.
"ohhh baik pak Daniel, silahkan" ucap pak Fariza
"kalau begitu saya pamit undur dulu" ucapnya sudah berdiri
"iya, hati-hati di jalan" ucap pak riadi
"iya om, papi"
Daniel langsung melajukan mobilnya menuju rumah mewahnya. Begitu sampai depan rumah dia langsung mencari istrinya.
"Dimana nyonya"
"nyonya ada di kamar tuan"
"dikamar, tumben" ucap Daniel seperti untuk diri sendiri. Tapi dia ngga mau mikir lama-lama, dia langsung masuk kamar mereka.
"sayang" sapa Daniel saat membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"iya," ucap Sinta yang sedang duduk senderan di kepala tempat tidur itu.
"kamu kenapa, ada yang sakit"? tanya Daniel khawatir melihat istrinya seperti meringis.
"ngga, cuma cape,.punggungnya pegal"
"pegal gimana sayang" tanya Daniel khawatir.
"usapin punggungnya kak" pinta Yasinta sambil merengek. Maklumlah walaupun masih enam bulan usia kehamilannya tapi hamil Yasinta terlihat sudah sangat besar karena ini adalah baby twins.
"ohhh iya, iya," ucap Daniel selalu semangat lalu duduk dibelakang Yasinta.
"sini sayang" sejujurnya Daniel tidak tega melihat Yasinta tidak nyaman begitu. Dengan telaten Daniel mengusap punggung Yasinta dan Yasinta berbalik membenamkan wajahnya di dada bidang Daniel. Mungkin karena dari tadi merasa begah, saat bersentuhan dengan kulit dada Daniel Yasinta mulai ngantuk.
"apa begini nyaman sayang" ucap Daniel sambil mengusap punggung Yasinta dan mencium pucuk kepalanya.
"hmmmm" hanya itu yang di dengar oleh Daniel.
"anak-anak papa jangan nakal ya didalam sana, kasihan mamanya" ucap Daniel sama kedua anaknya sambil mengusap perut buncit Yasinta.
"sayang kamu mau makan sesuatu ngga" tanya Daniel melihat Yasinta sudah bisa tenang. Tapi Sinta tidak menjawab, dengan perlahan Daniel mengangkat kepala Yasinta untuk menghadapnya.
__ADS_1
'Oalah ternyata dia tidur' gumam Daniel
Akhirnya dia mengangkat Yasinta dengan perlahan ketengah tempat tidur mereka. Daniel ingin membenarkan selimutnya saat tangan Yasinta menarik lehernya lebih dekat sampai nempel di wajahnya.
'Apa sekarang anaknya ingin selalu bersama papanya ya' batin Daniel
Dengan perlahan Daniel mengatur posisinya memeluk Yasinta supaya mereka tetap bersentuhan kulitnya. Sepertinya kedua anaknya lagi pengen didekat-dekat papanya. Daniel mengusap-usap rambut agak panjang Yasinta, dia juga mengecup bibir Yasinta yang sedang tidur.
Terlalu nyaman dengan posisi itu membuat Daniel juga ikut tertidur pulas. Mereka kebangun satu jam kemudian karena Sinta merasa lapar.
Daniel yang merasakan pergerakan Yasinta perlahan membuka matanya. Dia sangat kaget karena ternyata dia juga ketiduran disiang ini.
"ehhhh maaf sayang, aku ketiduran juga, kamu mau apa? mau makan?"
"hmmmmm lapar" ucap Sinta sambil turun dari tempat tidur
"mau makan apa" entah kenapa setiap Sinta ingin makan sesuatu Daniel sangat antusias untuk menyiapkannya.
"makan pecal yang pedas"
"pecal??" tanya Daniel
"hmmmm yang pedas ya"
"ya sudah saya bilang disiapin BI Ida dulu ya"
"ngga mau, kita cari keluar aja" ucap Sinta membuat Daniel terdiam. Kalau Yasinta sudah bilang keluar maka harus keluar, karena Daniel ngga mungkin membantahnya.
"ngga, emank ini kenapa? kakak malu kalau aku pake daster sementara kakak sangat keren" ucap Sinta tersinggung dan sudah dipastikan itu sudah berderai airmata.
"lho ngga, ngga sama sekali,.siapa yang malu mendampingi kamu, toh kamu hamil anakku kan"?
"malu juga ngga apa-apa, ngga usah jadi keluar. aku bilang bibi aja" ucapnya sambil melangkah pergi berlalu dari kamar.
"argghhh" Daniel sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau boleh jujur dia sangat frustrasi sama sikap Yasinta, tapi kembali lagi rasa cintanya lebih besar dari rasa frustrasinya.
"Sayang, maafin papa ya, kalian pasti marah sama papa, tapi papa ngga berniat buat mama marah, maafin papa ya" ucap Daniel akhirnya berjongkok mengusap perut besar Sinta yang sudah duduk di meja makan.
Yasinta tak bergeming, dia hanya diam sambil makan jeruk yang ada diatas meja. Daniel akhirnya menyerah, setelah melihat Sinta makan sayuran pecal yang dibuat oleh BI Ida, Daniel pun bersiap ke kantor. Dia hanya melirik Yasinta yang sedang duduk santai di teras samping.
"Sayang, kamu masih ingin disini, menghirup udara segar dulu ya, aku juga mau donk" Daniel berusaha mencari perhatian.
"kakak di dalam aja, bikin mood aku jelek aja" ucap Sinta yang mulai ngos-ngosan menarik nafas kalau emosi.
Melihat itu Daniel langsung pergi dari sana.
"iya, iya aku pergi dulu ya, jaga anak kita" ucapnya sambil berjalan mundur.Dia ngga mau mood Sinta jelek. Dari balik pintu dia lihat Yasinta kembali duduk dengan mengusap perutnya. Sinta terlihat sudah jauh lebih tenang, sehingga Daniel langsung ingin meluncur ke kantor, tapi sebelum berangkat dia berpesan sama BI Ida.
"Bi, suruh yang lain yang kerja, BI Ida khusus awasin nyonya aja, jangan sampai nyonya stress ya" pesan Daniel
"baik tuan"
__ADS_1
"saya mau ke kantor, kalau ada apa-apa segera telepon saya"
"baik tuan"
Mobil Daniel keluar dari pekarangan rumah saat Yasinta mulai mencarinya.
"bi, kak Daniel mana"?
"kan baru berangkat ke kantor nyonya"
"apaaa, pergi ke kantor"?
"iya nyonya, apa perlu saya hubungi nyonya"?
Yasinta hanya diam tapi meneteskan airmata dan berlalu ke kamar mereka. BI Ida yang bingung pun akhirnya mengikuti nyonya ya kedalam kamar.
"apa nyonya merasakan sesuatu atau butuh sesuatu nyonya"
"huk huk huk BI Ida aja yang perhatian samaku, aku kangen sama suamiku bi, tapi dia malah pergi ke kantor tanpa pamit huk huk huk" Yasinta sudah nangis sesenggukan.
"Oalah begitu toh nyonya, nyonya tenang dulu ya, istirahat, nanti tuan pasti pulang" hibur BI Ida sambil mencari handphonenya.
"saya buatin jeruk hangat ya nyonya" ucap BI Ida dan diangguki oleh Sinta. BI Ida ingin telepon tuan Daniel.
dddrrrtt ddrrrt
"iya bi"
"tuan nyonya menangis, katanya kangen sama tuan, nyonya sampe sesenggukan nangisnya tuan"
"apaaaa, pak putar balik kerumah" perintah Daniel ke supirnya karena mereka masih sangat dekat ke komplek Daniel.
"sayang, sayang" teriak Daniel buru-buru Masuk kamar mereka begitu sampai rumah.
"kakak huk huk huk" Sinta langsung hampir berlari mengejar dan memeluk Daniel. Daniel sampai bengong ditempatnya, tadi dia disuruh pergi oleh Sinta, sekarang dia dipeluk dengan erat, takutnya dia tanggapi dengan pelukan hangat Yasinta menolaknya. bingung🤦
"sayang, kenapa suka sekali menangis, kasihan anak kita" bujuk Daniel akhirnya.
"aku kangen banget sama kakak, jangan tinggalin aku ya"
"hmmmmm" ucap Daniel memeluk erat istrinya dan satu tangannya mengusap perut buncit istrinya.
'ini berat, lebih berat dari memenangkan tender eksport' batin Daniel senyum.
Hai readers
like
coment
vote ya
__ADS_1
Terimakasih