CINTA DIBALUT DENDAM

CINTA DIBALUT DENDAM
EPISODE 28 GAGAL BICARA


__ADS_3

Hai readers, jangan bosan ya. tinggalkan juga like, coment dan gift kalian. terimakasih.🙏🤗


Keesokan harinya Daniel ingin bicara dengan Yasinta tentang kehidupannya, dari hati ke hati. Sekalipun nanti menyakitkan Daniel ingin mendengar sendiri penjelasan Yasinta. Dan kebetulan hari ini dia tidak ada meeting penting dan Dodo belum pulang dari luar kota, jadi dia akan bicara dengan Yasinta.


"selamat pagi pak" ucap para karyawan saat Daniel tiba di kantornya


"pagi" Daniel langsung menuju lift sampai ruangannya. Disana dia sudah disambut Nana dan Yasinta.


"selamat pagi pak" ucap mereka berdua saat melihat bosnya datang.


"pagi, apa ada yang harus aku tanda tangani" tanya Daniel kepada Nana.


"belum ada pak, cuma bapa harus memeriksa ini karena pak Dodo belum pulang, mereka sedang menunggu ini" ucap Nana sambil menunjukkan satu file yang sangat tebal.


"kapan mereka minta"


"kalau bisa secepatnya pak" jawab Nana


"nanti aja kasih saya kalau saya lagi santai" ucapnya mengembalikan file itu ke Nana.


"Sinta ikut saya keruangan"


" bapak tidak ada jadwal apa-apa hari ini pak" ucap Sinta seperti biasanya karena pasti itu yang akan ditanya.


" apa tadi saya tanya jadwal" ucap Daniel cepat dengan nada meninggi


Sinta yang merasa dibentak langsung ciyut nyalinya.


' Sabar Sinta sabar, dia itu bos, bos selalu benar, kamu jangan baper' batinnya.


'Ayolah hatiku jangan begini Daniel itu bukan yang dulu, jangan sedih itu membuatku makin lemah, tidak ada hal yang membuat Daniel memperhatikan Sinta sekarang, Sinta yang cantik sih tapi terlalu sederhana untuk seorang bos besar seperti Daniel. Sinta yang single parent dan menghidupi papinya dengan sederhana sementara Daniel hidup di komplek perumahan mewah dengan bergelimang harta.


Jangan berharap apapun lagi hati, tolonglah, batin Sinta hampir menangis.


"malah bengong, kamu dengar ngga sih" tanya Daniel datar


"iya pak, dengar" ucap yasinta langsung mengambil tablet di mejanya dan mengikuti langkah Daniel.


"duduk" ucap Daniel saat mereka sudah sampai ruangannya.

__ADS_1


Yasinta patuh dan menunggu Daniel bicara apa, dia takut kalau bertanya nanti dimarahi lagi.


Sedangkan Daniel dia juga bingung mau mulai darimana, akhirnya dia malah menatap Yasinta dengan wajah serius membuat Yasinta makin bingung dan takut.


'Melihat wajah kamu begini kenapa hatiku sangat sakit sinta' batin Daniel


'perlu bicara ngga ya, apa untungnya buat aku, toh biar bagaimana pun dia sudah punya anak, pasti dia bahagia dengan anak-anaknya'


"kamu pesanin dulu saya sarapan, tadi saya ngga sempat sarapan" ucap Daniel akhirnya. Dia juga bingung kenapa jadi ngomong begitu.


Tapi memang dia belum sarapan tadi saat berangkat dari rumah.


"ohhhh iya pak" ucap Sinta dengan senang hati dan langsung berdiri


Melihat Sinta berdiri Daniel terlihat menyipitkan matanya.


"mau kemana kamu"?


"katanya mau pesan sarapan pak"


"terus,"


"kenapa harus disana, disini ngga bisa, kamu pegang tablet itu" ucap Daniel seperti mengintimidasi.


"ohhhhh iya pak" ucap Sinta lesu dan kembali duduk.


Tadi Sinta sudah berpikir bahwa dia hanya disuruh pesan sarapan, dan dia segera bekerja dimeja kerjanya. Tapi itu hanya angan-angan karena Sinta tidak boleh keluar ruangan, akhirnya dia memesan sarapan buat Daniel sesuai selera Daniel saat mereka masih pacaran. Nasi goreng telor dadar diatasnya. Dan semua proses pesanan itu juga langsung didengar oleh Daniel.


"kamu pesan apa tadi"


"nasi goreng pak"


"ternyata kamu masih ingat aja sarapan kesukaan aku Iyas" ucap Daniel menatap Yasinta serius, membuat Yasinta melongo dan baru sadar kalau yang dia pesan adalah sarapan kesukaan Daniel waktu dulu.


Sinta hanya diam, tidak berusaha mengelak dan juga tidak mengiyakan.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan hidupmu Sinta, kenapa kamu bisa bekerja dikantor saya. Apa suamimu tidak menafkahimu," tanya Daniel membuat Yasinta kelabakan karena tidak menyangka bahwa Daniel akan menanyakan hal ini.


Tapi Yasinta hanya diam aja, tidak terlihat gugup atau sedih atau ekspresi lain, dia hanya berekspresi tenang.

__ADS_1


'ayo minta maaf Sinta, dan jelaskan semua yang kamu alami, setidaknya biar aku tidak penasaran lagi dengan kehidupanmu setelah menikah dengan duda kaya itu' batin daniel


Tapi Sinta masih mematung seperti tadi, ekspresinya juga tidak berubah, sehingga Daniel memancing dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.


"atau kamu berubah haluan karena kamu tahu aku sudah sukses kamu menggunakan wajah polosmu untuk menggodaku,lalu kamu meninggalkan suamimu. atau kamu dicampakkan suamimu, lalu kamu pikir aku masih menerimamu" Daniel diam sejenak lalu bicara lagi" aku ngga tertarik sama sisa orang" ucap Daniel sarkas. Daniel sendiri bingung dengan dirinya kenapa dia bisa bicara sekasar itu sama Yasinta.


Berbeda dengan Yasinta, mendengar ucapan Daniel yang menghinanya sedemikian rupa, dia sudah tidak marah lagi, dia sudah membentengi hatinya mati-matian dengan patokan Daniel sebagai bosnya, dia harus nurut, bos ngga pernah salah. Yang penting gajiku lumayan untuk menghidupi anak-anakku.


'terserah kamu ngomong apa dan, aku juga ngga akan menjelaskan apa-apa lagi. cukuplah aku sudah memiliki anak-anakku. kalaupun aku jelaskan sesuatu kamu belum tentu percaya dan yang pasti kamu pasti akan menghina papiku, aku tidak membiarkan itu terjadi. Papiku sudah menderita dan kehilangan segalanya, tidak boleh ada yang menghinanya lagi. mungkin aku tidak bisa mengembalikan perusahaan papiku, tapi paling tidak aku bisa menjaga hati papiku untuk tidak disakiti.'batin Yasinta.


Dia terlihat sangat tenang, tidak tertawa tidak sedih sangat biasa.


"iya pak" ucapnya entah untuk apa, apa untuk kata-kata hinaan Daniel atau untuk mengiyakan Daniel sebagai bos.


"Hehehe kamu masih sok.polos juga ya, dan juga terlalu berkhayal Sinta, secinta-cintanya saya sama kamu tidak mungkin saya kembali mencintai wanita karyawan saya sendiri dengan dua anak pula" ucap Daniel ketawa mengejek.


'Aduh kenapa aku ngomong begitu banget sih, pasti Sinta sangat sedih' batin Daniel membuang wajahnya dari hadapan Sinta.


Tapi kenyataan yang dia lihat berbeda, sungguh berbeda Yasinta masih bisa senyum dan tetap tenang.


tok tok tok


"masuk"


"ini pesanan bapak" ucap salah satu resepsionist yang langsung mengantar pesanan Daniel dari kurir dibawah.


"makasih mba" ucap Yasinta sangat ramah sekalipun hatinya sangat sakit.


"oh ya pak, bapak mau sarapan sekarang? saya siapin dulu pak" ucap Yasinta sambil berlalu kelemari mini diruangan Daniel tempat alat-alat makan dan minum sang pimpinan.


"silahkan pak, saya tinggal dulu" ucap Yasinta


"kamu jangan keluar, temani saya makan" ucapnya sebagai perintah yang tidak bisa dibantah.


'Dia pasti ingin menghina aku lagi, ayolah kak dan sisakan sedikit rasa kasihanmu untukku, aku tidak akan berani mengharapkan cintamu lagi, tapi setidaknya jangan terlalu menyakitiku, karena aku tidak akan bisa membencimu, kamu yang telah menitipkan hadiah indah dirahimku dulu' batin Sinta hampir menangis.


Melihat wajah Sinta yang sangat tertekan akhirnya Daniel membiarkan dia keluar ruangan lagi.


"kamu boleh keluar sekarang" ucap Daniel.

__ADS_1


Gagal sudah usaha Daniel untuk bicara dari hati ke hati. yang ada dia semakin menyakiti hati Yasinta.


__ADS_2