
Setelah keluar dari areal kantor pusat tadi, supir melajukan mobilnya pelan sambil melihat kiri kanan kost-kostan yang dimaksud ataupun ada kost-kostan lain.
Saat mendekati salah satu kampus universitas disitu, Yasinta melihat tulisan menerima kost-kostan.
"pak sepertinya itu ada tulisan menerima anak kost deh" ucap Sinta sambil menunjuk tulisan itu.
"oh iya mba, mari kita tanya" ucap pak supirnya
Lalu bapak supir itu mencari tempat parkir.
"parkir disini aja kali pak, kita sebentar doank kok"
"iya ya mba, kayaknya juga bisa sih, ini bukan jalan protokol kok"
Lalu mereka berdua turun dari mobil dan mendekati rumah yang menerima kost itu.
"permisi pak"
"iya neng, mau cari kostan" ucap pak Udin pemilik kost-kostan itu.
"iya pak, boleh kita lihat" tanya Yasinta
"boleh neng, boleh, buat si neng apa buat keluarga"
"Buat saya sendiri pak, saya baru bekerja didaerah sini, sementara keluarga saya didaerah T, jadi ngga mungkin balik tiap hari" ucap Sinta
"sudah menikah neng"
"sudah pak, anak saya dua"
"ohhh gitu, terus neng mau yang kayak gimana"?
"maksud saya, ada yang full AC sekian perbulan, yang pakai kipas sekian perbulan. dan dibelakang ada kamar kecil-kecil juga, sekian perbulan, tapi kipasnya bawa sendiri dan tidak boleh memasak"
"ohhh boleh lihat pak"
"boleh neng, mari"
"ini yang mahal neng, perabotannya lengkap, ini yang sedang tapi tidak pakai AC, BLA BLA BLA" dan akhirnya sampailah di kamar kecil yang disamping.
"ini yang berapa pak"
"ini palin murah neng, karena hanya ada kasur tipis dan spreinya bawa sendiri"
"ngga apa-apa pak, aku pesan yang ini saja" ucap Yasinta yakin. kamar itu memang kecil, terlihat ada satu kasur lantai single di sana dan satu bantal tanpa guling.di pojok ada kamar mandi kecil. perabotan lain sama sekali tidak ada, mungkin itu hanya empat kali tiga meter.
"apa mba Yasinta yakin kamar ini mba" tanya supir itu juga ragu."apa kita cari kamar lain yang lebih bagus tapi sama harga" bisiknya agak dekat ke kuping Yasinta takut bapak Udin dengar.
"yakin pak, ini aja, tapi amankan pak, terus parkir motor didepan amankan" tanya Yasinta ke pak udin meyakinkan lagi.
"kalau soal keamanan, aman neng, disini ada keamanan khusus kostan ini sama kostan sebelah, kita patungan bayar satpam" jelas pak Udin
"iya pak, saya ambil ini aja, saya langsung bayar bentar lagi, saya kedepan bentar" ucap Yasinta
__ADS_1
berniat mengambil uang di ATM dulu.
"oh iya neng" ucap pak Udin
"pak kita boleh kepasar depan bentar ya pak buat beli ember kecil buat mengepel lantai" ucap Yasinta
"ya sudah, ayo mba" ucap sang supir
"kami pergi bentar ya pak, satu jam lagi kami balik, paling lama" ucap Yasinta meyakinkan.
"baik neng"
Yasinta bersyukur dia langsung menemukan kamar yang cocok dengan keuangannya. yang penting tiga hari dia tidak terlunta-lunta di jalanan.
"Pak kita mampir ditoko perabot bentar ya pak, biar lantainya bisa saya bersihin dulu"
"iya mba"
"Itu pak didepan sebelah kanan ada toko perabot, mampir situ aja biar jangan lama"
"iya mba" lalu mereka berdua turun menuju toko perabot tersebut.
Baru aja mereka mau masuk seseorang memanggil Yasinta.
"sin, Sinta" teriak seorang laki-laki yang baru keluar dari warung makan Padang sebelah.
"Bram" ucap Yasinta kaget
"kirain tadi saya salah sin" balas Bram
"bukan, aku sekarang bisnis kecil-kecilan dengan perabot plastik. tadi baru antar barang ke toko ini, ehh lapar, makan dulu, ayo ngobrol sambil makan dulu, kamu sama siapa sin, kamu ngga apa-apa kan makan Padang begini"
"ini pak Beno Bram, supir di tempat kerjaku, emangnya kenapa Bram"
"yachhh kamu kan anak orang kaya sin, takut kurang higienis makanannya" ucap Bram sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"kamu belum tahu aku Bram" ucap Yasinta simple
"kalau begitu cerita didalam Yo, sambil makan"
"ayo, ayo pak kita makan dulu, mumpung ada yang traktir" ajak Sinta sama supirnya.
"iya mba Sinta" lalu mereka masuk ke warung Padang itu.
"kamu makan apa sin, aku tadi dah keburu pesan ini, ayo pak, bapak pesan apa silakan"
"saya pesan dulu ya, pak Beno mau apa"?
"maaf mba Sinta boleh ngga aku makan dimobil aja, soalnya mobil tadi itu parkir asal dipinggir jalan, takut jadi masalah"
"oh iya, terserah bapa aja, bungkus aja berarti ya" tanya Yasinta
"iya mba, terimakasih" lalu Sinta berjalan ke etalase masakan lauknya dan memilih buat pak beno juga untuk dibungkus.
__ADS_1
Setelah pak Beno ke mobil Yasinta kembali ke kursinya dihadapan Bram.
"kamu sekarang kerja, terus Daniel gimana, kerja juga. aku dengar kalian sudah menikah" tanya Bram. Bram adalah teman sekampus Daniel sama Yasinta yang dulu sempat juga menaruh hati sama Yasinta, tapi karena Yasinta sudah menetapkan pilihannya sama Daniel, Bram mundur.
"kami tidak bersama lagi Bram" ucap Yasinta pelan tapi bagai petir ditelinga Bram.
'Yasinta dulu yang sangat mencintai Daniel diantara sekian laki-laki yang menaruh hati padanya, dan sekarang cinta itu katanya hancur' batin Bram
"kenapa"
"papaku bangkrut Bram" ucap Yasinta jelas
"terus"
"aduh panjang banget ceritanya Bram"
"apa sulit menceritakannya"
"yachhh begitulah Bram, apa kamu pernah bertemu Daniel"
"ngga sin, kan kuliahnya juga dia tinggal semenjak ibunya meninggal"
"ibunya meninggal"? tanya Yasinta kaget
"iya sin, setelah itu dia tidak kuliah lagi, dan pernah dengar dari Ronal katanya dia sudah tidak di kota J"
"ohhh"
"memangnya apa yang terjadi sich sin, sampai akhirnya kalian berpisah" tanya Bram penasaran." Karena aku tahu sin, kamu adalah cewek yang setia dan Daniel juga sangat mencintai kamu" jelas Bram
"jodohnya ngga panjang Bram"
"maksudnya, kamu cerita dikitlah biar saling berbagi jangan pendam sendiri. oh ya sin, kamu tidak usah takut saya kejar lagi, saya sudah akan menikah, ini usaha bersama saya dengan calon istri saya" ucap Bram ketawa
"saya tahu Bram, saya juga tidak berniat mencari laki-laki lagi selain anakku" ucapnya tegas namun sendu
"kamu sudah punya anak"? tanya Bram karena badan Yasinta masih tetap seperti seorang gadis.
"sudah Bram, dua orang, ganteng-ganteng" ucapnya
"hebat kamu sin"
"terus suami kamu" Bram bingung untuk bertanya dimana suaminya Sinta.
"hehehe baru tadi kita cerita Bram"
"maksudmu, Daniel.... makanya cerita donk" desak bram
"maaf Bram aku sudah ingin menguburnya dalam-dalam, sampai tidak bisa terungkit lagi. Bahkan sebenarnya saya sudah enggan kembali ke kota ini kalau bukan karena pekerjaan, tadinya saya sudah putuskan pindah ke daerah T setelah semuannya habis karena papaku bangkrut"
"terus gimana ceritannya sama Daniel" tanya Bram lagi.
"baiklah aku berbagi Bram, tapi kumohon apa pun yang terjadi jangan sampai ada yang tahu, karena sama kamulah pertama kali saya cerita tentang kehidupanku"
__ADS_1
"aku janji" ucap Bram dengan mengangkat dua jari membentuk v keatas.