CINTA DIBALUT DENDAM

CINTA DIBALUT DENDAM
EPISODE 58 BERTEMU


__ADS_3

Daniel dan om Riadi akhirnya berangkat ke kota T didampingi oleh Dodo dan pak Amir supir keluarga Daniel dari dulu.


Setelah melewati perjalanan lebih dari satu jam mereka memasuki kawasan pabrik Daniel. Tapi mereka tidak akan masuk pabrik, mereka akan langsung dipandu sang supir pabrik menuju rumah Yasinta.


Sepanjang jalan Daniel dan om Riadi melihat perumahan sederhana menurut mereka, padahal tidak semua orang juga bisa memiliki rumah disini. komplek ini memang komplek perumahan subsidi.


Sampailah mereka didepan salah satu rumah dengan bangunan sederhana, sepertinya belum pernah ada renovasi sama sekali. Tapi didepan rumahnya dipenuhi dengan tanaman dan beberapa jenis bunga lokal yang tumbuh terawat.


Supir kantor yang memandu mereka berhenti dan memarkirkan motornya.


"yang ini pak rumah mba Yasinta" ucapnya mendekati pintu mobil Daniel.


"ok terimakasih" lalu Daniel dan pak Riadi turun dari mobil menuju rumah sederhana itu. Sementara Dodo memberikan perintah dulu kepada supir pabrik itu untuk kembali ke pabrik setelah mengganti uang bensinnya.


Rumah ini terlihat sepi, karena pak Yusuf sedang mandi. biasanya memang pak Yusuf mandi agak siang, karena setelah cucu-cucunya berangkat sekolah, dia akan merawat tanamannya dulu. Sementara bi Imah pasti lagi sibuk memasak didapur.


Yasinta tadi sudah sarapan lalu minum vitamin. Setelah melihat papinya tadi memelihara tanaman sekarang dia ingin tiduran di kamarnya sambil memainkan handphonenya.


"om, rumahnya kayaknya sepi" ucap Daniel memperhatikan sekitar rumah itu.


"iya ya, apa Sinta tidak tinggal disini"


"kita coba aja dulu om"


tok tok tok


"siapa" bi Imah yang masih sibuk didapur menyahut. Karena Yasinta yang sedang main handphone juga dengar dia segera keluar dan ke pintu depan.


ceklek


Yasinta terdiam dan kaget. Didepannya ada seorang pria paruh baya bersama...Daniel orang yang paling dia cintai, ayah dari anak-anaknya dan sekaligus yang paling dia hindari untuk bertemu untuk saat ini.

__ADS_1


'Tapi kenapa dia tiba-tiba ada didepan rumah saya, ini pasti membuat hidupku tidak mudah hari ini' batin Sinta.


"Iyas" sapa Daniel menyadarkan Yasinta dari keterpanaannya.


"ngapain kerumah jelekku" Yasinta to the point


"halo nak Sinta" sapa om Riadi ramah karena dia sudah kenal Yasinta dari foto-foto yang dikasih Daniel.


"halo, tapi om siapa ya, kok tahu nama saya" ucapnya gugup


"maaf Iyas, dia adalah omku, aku yang mengajaknya kemari" ucap Daniel


Yasinta terdiam bengong lagi, omnya Daniel, sepertinya orangnya baik, tapi aku tidak ingin berhubungan dengan keluarga mereka lagi, aku ingin jalani hidupku dan anak-anakku dengan normal. Dan Daniel sudah janji akan melepaskan aku dan anak-anak walaupun dia kadang akan ingin bertemu dengan anak-anaknya.


"siapa sin" tanya pak Yusuf yang baru rapi setelah mandi. Yasinta terdiam makin bingung menjawab pertanyaan papinya. Karena Yasinta tidak menjawab pak Yusuf mendekat kepintu depan. Dan betapa kagetnya dia melihat disana berdiri Daniel dan seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengannya.


Daniel tidak kalah terkejut melihat penampilan papinya Yasinta. Badan yang dulu berisi dan bagus , sekarang kurus dan sepertinya sudah mulai keriput, mungkin juga faktor umur dan faktor keadaan. Sangat jauh dari yang dia bayangkan. Ternyata kehidupan Yasinta semenyedihkan ini.


"nak Sinta, pak, apa boleh kami masuk dulu untuk bicara" ucap om Riadi sopan, sambil melirik kiri kanan mencari cucunya.


"hmmm silahkan om, rumah kami hanya begini" ucap Yasinta. Lalu Yasinta memberikan kursi plastik itu kepada om Riadi dan Daniel, lalu dia mengambil kursi belajar kedua anaknya untuk dia dan papinya.


"tidak masalah nak, rumah hanya benda mati tempat kita berteduh" ucap om Riadi bijak. Padahal dalam hati om Riadi menangis melihat keadaan rumah itu.


'Benarkah bertahun-tahun cucuku hidup dilingkungan begini dengan fasilitas yang sangat minim, sementara dia dan Daniel hidup bergelimang harta. Rumah mewah mereka aja ada dibeberapa kota, setiap mereka membuka cabang pabrik pasti ada rumah mewah dan apartemen. Sementara cucuku hidup dirumah sederhana yang bahkan garasi rumahku jauh lebih mewah.' hatinya menangis apalagi melihat di dinding rumah itu ada foto kedua cucunya dengan piala ditangan, dan diapit oleh pak Yusuf dan Yasinta.


Daniel apalagi jangan ditanya isi hatinya serasa ngga kuat membawa penyesalannya. Darah dagingnya harus hidup jauh dari kata enak dengan fasilitas yang sangat jauh dari kata cukup memadai. Padahal Daniel bisa mentraktir makan teman-temannya sampai puluhan juta dalam semalam, padahal itu digunakan anak-anaknya untuk buat makan berbulan-bulan.


"oh iya pak, bapak pasti papanya Yasinta, kenalkan saya Riadi omnya Daniel" sambil menyalami pak Yusuf disusul oleh Daniel.


"iya pak, saya Yusuf papinya Yasinta"

__ADS_1


"oh iya Sinta, Daniel bilang kamu sempat sakit, gimana keadaanmu nak, sudah baikan" tanya om Riadi


"saya sudah tidak apa-apa om, saya sudah baikan"


"saya tidak sempat lihat kamu kerumah sakit, kamu keburu pulang kesini, makanya om sempatkan jenguk kesini sekalian jalan-jalan biar om jangan dikurung dirumah terus" candanya berusaha mencairkan suasana.


Tapi Yasinta terlihat masih sangat dingin. Sebenarnya disini Yasinta lebih berat memikirkan perasaan papinya, pasti papinya tertekan.


"Maaf neng Sinta tamunya pada minum apa"


Sinta bingung, karena dia tidak tahu om Riadi biasa minum apa, dan apakah dia mau minum sembarangan.


"terserah Bi Imah aja, minuman apa yang ada di kulkas" Bi Imah langsung berlalu kedapur untuk mengambil minuman.


"maaf om, tapi sebenarnya ini ada apa iya, om sampai jauh-jauh datang ke rumah saya" tanya Yasinta to the point karena makin lama kalau didiamkan akan makin kaku.


"nak Sinta, pak Yusuf, Daniel sudah cerita banyak sama saya tentang apa yang terjadi selama ini. terus terang saya kaget mendengarnya, apalagi diantara kalian ada cucu saya. Jadi saya pikir kita harus meluruskan kesalah pahaman ini supaya kita sama-sama tenang, gimana menurut pak Yusuf"?


Pak Yusuf yang masih shock hanyak mengangguk saja.


"Maaf om, maksudnya kesalah pahaman gimana ya, saya malah yang kurang paham".


Om Riadi bingung memulai darimana, akhirnya dia melirik Daniel untuk membantunya bicara.


"Maaf sin, beberapa waktu terakhir ini aku sudah mempersulit kamu, bahkan aku sudah sengaja membuat kamu tersakiti. Semua itu aku lakukan karena aku sangat bodoh. aku pikir hidupmu sangat bahagia saat aku lihat kamu dan anak-anak sedang di mall x waktu itu. Sedangkan aku masih belum bisa menemukan pendamping yang baik walaupun aku sudah kaya dengan materi. Untunglah ucapan Bram diulang tahunku itu menyadarkanku untuk melihat dari sudut pandang lain, bahwa aku lebih rendah dari binatang karena tidak melindungi anak-anaknya. Barulah hatiku terbuka untuk mencari tahu tentang semuannya."


"terus, kemarin kita kan sudah bicara pak. apa arti kesepakatan kita kemarin pak Daniel, sebelum saya pulang kesini. bukankah saya sudah bilang jangan fokus kemasa lalu, jalani aja hidupmu sekarang seperti sebelumnya sebelum anda tahu kami ada, kembalikan saya ke pabrik tanpa finalty itu, mengenai kembar kami sudah hidup cukup baik walaupun kami miskin dan tidak sekaya anda, dengan upah karyawan pabrik anda, tapi kami sudah nyaman. Jadi tolong jangan gunakan kekuasaan anda untuk mengobrak Abrik kehidupan saya dan anak-anak saya. Kalau mengenai anda sebagai ayah mereka biarkan waktu yang akan menjelaskan, ikatan darah itu pasti sangat kuat kok" ucap Yasinta senyum tapi airmatanya sudah tumpah tanpa berusaha dia hapus.


"Sin, apa benar kita ngga bisa perbaiki semuannya"


Hai readers, terimakasih masih setia membaca ya, tinggalkan like dan coment ya, terimakasih.🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2