
Setelah memilih sangat banyak, Yasinta masuk kamar dan istirahat sementara Daniel dan om Riadi masih antusias memilih semua perlengkapan, jangan sampai ada kurang.
"saya rasa sudah om" ucap Daniel
"hmmmm, iya keknya sudah lengkap, nanti kalau ada yang kurang juga seiring waktu gampang lah"
"iya om" ucap Daniel melihat semuanya sudah seperti kapal pecah.
"bilangin BI Ida aja sama yang lain yang beresin" ucap pak Riadi
"iya om" lalu Daniel beralih menatap Dodo.
"do beresin pembayarannya ini, kalau sudah selesai panggil BI Ida", ucap Daniel
"baik pak" ucap dodo sambil meminta dibuatin nota oleh SPG boutiq tersebut.
SPG itu dengan semangat menulis semua barang yang dipilih Daniel, rata-rata kali dua karena bayi mereka kembar.
Belanja Daniel dan Sinta hampir sama dengan omzet seminggu boutiq tersebut dan Dodo langsung membereskan pembayarannya.
**
Dua Minggu sudah berlalu setelah belanja itu. Kehamilan Yasinta yang sudah besar membuat Sinta sudah susah bergerak bahkan untuk membalikkan tidurnya dari miring ke kiri ingin miring ke kanan Sinta sudah tidak bisa sendiri, harus dibantu oleh Daniel. Tidurnya juga sudah tidak pernah pulas, bahkan sudah sering mengeluh sakit pinggang dan kram.
Daniel kadang tidak tega kalau melihat Yasinta kesusahan, makanya dia selalu begadang selagi Yasinta belum tidur. Takut Yasinta merasakan sakit pinggang dan minta punggungnya diusapin atau kakinya dipijitin.
Dan hari ini Daniel dan Sinta kembali melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Karena bayi Yasinta termasuk besar dan sudah bulan kedelapan hari ini dokter Cyntia sudah menganjurkan untuk menentukan tanggal operasinya.
Sebenarnya Sinta ingin melahirkan normal, tapi mengingat dulu betapa menderitanya Yasinta saat lahiran sikembar pak Yusuf menyarankan Yasinta untuk Caesar aja.
flash back
"sebaiknya kamu Caesar aja nak, papi ngga tega melihat kamu kayak dulu lagi, papi ngga kuat lagi sin."
"emank dulu gimana Pi"
"dulu sebenarnya dokter udah saranin Caesar, tapi kita ngga punya duit, akhirnya Sinta tetap berusaha normal, sampai dia harus jongkok tiap hari"
"sayang jangan mikirin apa-apa ya, yang penting kamu dan kembar sehat selamat" ucap Daniel mengusap rambut Sinta.
"iya nak, sebaiknya kamu Caesar aja ya, ada kita semua disini nemanin kamu"
"Lagian sekarang ada suami kamu yang biayain, kamu tinggal menyiapkan mental mu aja" tutur pak Yusuf yang sebenarnya.
"ya sudah, besok kita bilang dokter biar Caesar aja" ucap Yasinta yakin membuat semua orang lega.
flashback off
"bagaimana pak, apa sudah ada rencana tanggal caesarnya"? tanya dokter Cyntia
"belum dok, sesuai anjuran dokter aja, saya ngikut"
"baik pak, bagai mana kalau saya sarankan di tanggal ini, karena bayinya juga sudah cukup siap untuk dikeluarkan" ucap dokter lagi sambil menunjuk tanggal kalender.
"bagaimana sayang, kamu setuju ngga"? tanya Daniel lembut sama istrinya.
"setuju aja kak, Bu dokter juga pasti sudah tahu yang terbaik"
__ADS_1
"hmmmm" ucap Daniel mengangguk
"baik dokter, kami setuju untuk operasi Caesar di tanggal ini"
"baik pak, kita jadwalkan ya"
"baik dok"
"berarti tiga hari lagi ibu atau bapak harus konfirmasi lagi ya pak, kalau ada atau tidak perubahan"
"baik dok" ucap Daniel yakin.
Setelah pulang dari dokter Daniel mengajak Yasinta ke taman, niatnya supaya Yasinta lebih refresh untuk melahirkan empat hari lagi.
"sayang kita duduk di taman dulu yuk"
"boleh kak, asyik kali" ucap Sinta juga antusias
Tapi begitu mereka tiba di taman Yasinta malah minta pulang aja, dia ingin rebahan. Hal-hal begini sudah terbiasa Daniel hadapi selama kehamilan Yasinta yang sekarang, gampang berubah-ubah.
Daniel mengalah, akhirnya mereka langsung pulang. Yang penting hati Yasinta senang.
Begitu sampai rumah Yasinta langsung memanggil BI Ida ke kamar mereka.
"BI ikut ke kamar kami dulu" pinta Yasinta
"mau ngapain sayang, katanya tadi ingin rebahan, kamu mau minta pijitin, biar aku aja" ucap Daniel, karena dia pikir Yasinta ingin dipijitin.
"ngga kak, bukan mau dipijitin, tapi bantuin siap-siapin tas, biar siaga besok lusa ke rumah sakit"
"tapi takutnya kamu kecapean, besok- besok aja ya"
"ngga kak, kita harus siaga, kapan aja merasa sakit biar langsung go" jelas Sinta yang di iyakan saja oleh Daniel karena dia anggap Yasinta lebih pengalaman.
"ayo bi" ajak Yasinta masuk kamar mereka diikuti Daniel.
"Emank siapin apa aja sayang, kamu sebutin aja biar bi Ida yang siapin ya"
"hmmmm" ucap Sinta sambil ingin rebahan. Daniel langsung mengatur bantal supaya posisi Yasinta enak.
"sudah sayang, tiduran aja ya, ingatin aku Ama BI Ida aja" ucap Daniel selalu lembut.
"siapin koper yang kemarin itu aja kak, baju bayi masing-masing dua pasang bi, terus kain dan lain-lainya."
"baik nyonya"
Daniel langsung mengambil salah satu koper yang baru dibeli kemarin dan membiarkanya terbuka selagi Sinta menyebutkan apa aja yang penting. Setelah dianggap cukup barulah Daniel dan BI Ida menutup sementara kopernya.
Tanpa mereka sadari ternyata Yasinta sudah tertidur pulas.
"udah bi, keluar aja, nanti kalau ada ingat sesuatu sambil kita tambahkan lagi" tutur daniel
"baik tuan"
Daniel pun membenarkan posisi Yasinta supaya lebih enak tidurnya. Maklum aja akhir-akhir ini memang Yasinta sudah tidak bisa tidur pulas, sebentar-sebentar kebangun dan terlihat kurang nyaman.
"Seandainya aku bisa membawa separoh bebanmu ini sayang" ucap Daniel mengusap rambut Yasinta.
__ADS_1
Daniel mengusap kepala Yasinta lalu Daniel berpindah ke dekat kakinya. Dengan telaten dia memijitin kedua kaki Yasinta. Setelah dirasa pulas Daniel pun keluar dari kamar mereka menemui pak Riadi dan kembar.
"pa, mau ikut main catur ga" tanya Loan
"ngga nak, kalian aja ya, takut mama tiba -tiba bangun"
"emang kalau mama bangun adek kita sudah mau keluar ya pa" kali ini Leon yang bertanya
"mungkin dua hari lagi nak menurut dokter"
"ohhh begitu ya pa"
"tapi kamu sudah siap-siap dan"
"sudah om, tadi barusan sudah siap satu koper"
"iya, soalnya katanya takutnya tiba-tiba dia kontraksi harus segera go"
"iya om, Sinta sepertinya masih ingat pengalaman pas lahiran kembar"
"iya, om ngga kebayang dulu kelahiran mereka dan, penuh kekurangan"
"iya om, Daniel juga sangat merasa bersalah. tapi mungkin Tuhan sudah rencanakan begitu"
"iya nak"
"kakkkk danielllll" tiba-tiba terdengar teriakan Yasinta dari kamar membuat mereka berdua langsung lari masuk.
"sayangggh" Daniel sudah sangat panik melihat Yasinta kesakitan dan bagian bawah dasternya basah
"sayang kamu ngompol"? tanya Daniel bingung
"itu bukan ngompol Daniel, itu pecah ketuban, dia mau lahiraannnnn" teriak om Riadi juga.
"apaaaaaaa" Daniel makin panik
"bawa ke mobil sekaranggggh" perintah pak Riadi juga sangat panik
"telepon Dodo Ida" pak Riadi memberi perintah
"baik pak"
Daniel mengangkat Yasinta perlahan karena juga sudah berat banget. Lalu supir membukakan pintu mobil. Sementara pak Riadi yang yakin itu koper yang mau dibawa kerumah sakit langsung membawa aja, tapi di minta oleh BI Ida saat melihat tuan besarnya bawa koper berat.
"biar saya aja tuan"
"hmmmmm"
Terimakasih readersku
untuk vote
untuk like
untuk comentnya.
🙏🙏
__ADS_1