
Dodo cukup terkejut dengan pernyataan bosnya ini. Tapi dia juga ngga bisa bilang apa-apa, karena bosnya yang tahu kejadian sebenarnya.
"pak, saya akan menyelidiki hal ini untuk bapak, tapi sekarang mendingan bapak pulang dan istirahat. karena takutnya bapak jadi sakit" ucap Dodo
"iya benar do, aku baru aja mau bilang sama kamu, tolong selidiki laki-laki yang bersama meta tadi, yang mengaku korbannya Sinta. kapan dan bagaimana kejadiannya" tutur Daniel
"baik pak, tapi sebenarnya Rio juga sudah dapat sedikit informasi tentang siapa dia, tapi kita belum tahu tentang kejadian penjebakan itu"
"kamu tenang aja bro, kita pasti bantu Lo kok, kita juga tahu kegalauan kamu kok" tambah Rio, Daniel hanya manggut-manggut.
"sebaiknya sekarang kita pulang ya pak, karena sudah malam"
"hahahaha kayak kita ngga pernah begadang aja do" ucap Daniel lagi seperti ucapan putus asa membuat Dodo dan Rio hanya bisa pasrah.
"bro, Dodo benar, besok kita urus lagi ya. sekarang kita pulang dulu. Atau kamu masih ingin disini ngga apa-apa, istirahatlah." karena Rio melihat Daniel enggan bergerak
"ngga, aku ingin kita minum disini sampai pagi"
"tapi aku ngga nyediain minuman keras bro"
"Carikan Dodo"perintahnya", Rio dan Dodo saling pandang dan akhirnya Rio mengangguk. Sebenarnya tidak jauh karena disebelah cafe ini ada penjual minuman yang buka dua puluh empat jam.
Tidak sampai setengah jam Dodo sudah kembali dengan dua botol minuman mahal.
Rio yang teman Daniel kuliah diluar negri sebenarnya tidak asing dengan minuman keras, tapi syukurnya dia bisa mengatasi dirinya.
Daniel yang sedang kalut parah langsung menyambar minuman itu dari Dodo. Seteguk..setengah gelas dan akhirnya tandas satu gelas. Kesadarannya mulai melemah, karena sejatinya dia bukan laki-laki peminum.
Rio yang paham hal ini berusaha untuk mengingatkan Daniel.
"jangan terlalu banyak bro, itu malah bisa menambah masalah. yang ada masalahmu tidak ada kelar-kelarnya ntar"
"tenang bro, tidak akan banyak kok" tapi dia meneguk setengah gelas lagi. Rio dan Dodo bingung mau ngapain, karena mereka juga bisa merasakan kalau kali ini Daniel benar-benar kacau.
"bagaimana kalau itu benar anakku bro, aku telah dengan sengaja membuat Yasinta jauh dari anak-anakku karena menariknya ke kantor pusat, berarti aku sudah membuat anakku sengsara kan" Daniel mulai ngomong nyerocos
'ahh berarti pak Daniel sengaja menarik Sinta kekantor pusat, pak Daniel merencanakan semuannya' batin dodo
"aku laki-laki seperti apa ya" ucapnya lagi sambil menunduk
"Aku benci kamu Sinta, kamu sudah buat mamaku meninggal, kamu juga sudah bawa semua cintaku sampai aku ngga bisa jatuh cinta lagi, aku pasti balas kamu" mulutnya menyeringai
"Tapi kenapa setiap dendamku terbalaskan, malah aku yang merasakan sakit Iyas, kenapa"?
__ADS_1
"daniel, kamu jangan begini Daniel. Kalau kamu ingin tahu kebenarannya harusnya kamu gentelmen untuk bertanya sama Yasinta, jangan malah begini"
"hehehe aku cemburu melihat dia dulu jalan dengan bahagia bersama anak-anaknya. Aku ingin dia menderita padahal aku tambah menderita juga melihat dia seperti tadi malam, lucu ya"
"maaf Rio, sepertinya pak Daniel tidak akan bisa berhenti. kita harus menghentikan ini, kita harus bawa dia ke hotel dekat sini, karena tidak mungkin dia pulang dalam keadaan mabuk, takutnya bos besar akan marah"
"iya do, kita harus bertindak ini" Rio pun setuju
Mereka akhirnya memapah Daniel keluar dari cafe Rio menuju mobil Daniel.
"pak, dipertigaan depan kita masuk ke kanan, disitu ada hotel A" ucap Rio sama supir Daniel.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai hotel dan sudah berhasil check in. Begitu sampai dikamar mereka berdua membaringkan tubuh Daniel di kasur empuk itu.
"Rio, bisa ngga titip pak Daniel malam ini, karena masih ada yang mau aku kerjakan"
"terus masalahnya teman kita ini gimana"
"saya akan cari tahu kebenarannya Rio"
"dengan apa"
"pake feeling aja dulu, besok aku akan ketemu Sinta"
"ya mungkin kamu benar, kamu harus gerak cepat biar Daniel ada titik terang, sekalipun pahit yang penting jelas, iya ngga?"
"kalau ini, serahkan samaku" ucap Rio mantap sambil menoleh ke Daniel yang sudah tertidur kayaknya.
"oke, kalau begitu saya permisi"
"hmmmm"
Begitu keluar dari hotel Dodo menemui supir Daniel. Ternyata waktu sudah menunjukkan jam empat subuh.
"pak, apa bapak tahu rumah Yasinta, sekretaris pak Daniel"
"ohhh tahu lokasinya pak, karena pernah drop mba Sinta, cuma persisnya kurang tahu pak"
"ohhh ya sudah, kita langsung menuju kesana ya pak, nanti kita nunggu disana aja sambil tidur dimobil,"
"baik pak"
Lalu Dodo naik ke mobil Daniel menuju kostan yasinta. Begitu mereka sampai waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit.
__ADS_1
Akhirnya mereka parkir dipinggir jalan itu dan tidur sebentar. Persis jam setengah tujuh supir Daniel kebangun. Hari sudah terang benderang. Supir itu membangunkan Dodo.
"pak, pak Dodo, sudah siang pak, katanya mau ketemu mba Sinta"
"ohhh iya pak" ucapnya buru-buru karena langsung ingat misinya.
"kostannya ada disini pak" tunjuk supir itu.
"ok pak" Dodo merapikan sedikit pakaiannya, karena maklum aja semalaman dia sudah cape mondar mandir di acara Daniel.
"pak, bapa saya rekan kerjanya Yasinta, boleh saya ketemu dengan beliau pak"? ucap Dodo sama satpam disana.
"ohhh mba Sinta, ada pak, tunggu dulu disini pak biar saya panggil mba yasinta"
"oke, terimakasih pak"
Tidak berapa lama terlihat Yasinta datang dari kamar yang dipojok. Yasinta kaget kenapa pak Dodo pagi-pagi begini ada di kostannya. Wajahnya masih sembab habis menangis tadi malam.
"pagi pak Dodo, tumben bapak pagi-pagi ada dikostan aku, ini kan hari Minggu, apa ada yang urgent, duduk dulu pak"
"maaf sin, sudah diganggu pagi-pagi", ucap Dodo sambil duduk
"ohhh iya Sinta, untuk tadi mal...." ucapan Dodo masih gantung karena Sinta langsung memotongnya.
"maaf pak Dodo, bisa ngga kita jangan bicarakan yang terjadi tadi malam, karena aku sudah ingin menganggap tragedi itu sebagai mimpi buruk dan aku sama sekali tidak ingin mengingatnya. kalau bapak datang hanya untuk bahas kejadian tadi malam, maaf pak, saya cape",
"ohhh maaf Sinta, aku hanya ingin meluruskan, bahwa itu bukan rencana pak Daniel"
"oh iya" jawab Sinta tersenyum yang susah diartikan.
"iya dan pak Daniel sangat marah"
"marah, marah sama siapa, marah sama aku, makanya mempermalukan aku didepan semua teman-temanku itu"?
"bukan, bukan sama kamu"
tapi siapa lagi, kalau bukan wanita ular itu",
"hehhhh dia buat drama baru lagi? Sudahlah pak Dodo, anda tidak perlu cape untuk menjelaskan samaku karena itu juga tidak ada pengaruhnya. Dan pak Daniel tidak usah sok marah begitu, tidak bagus aktingnya."
"maaf sin, aku bukan bermaksud bela pak Daniel, tapi memang semua rangkaian acara aku yang handle, kamu tahu sendiri kan, dan itu diluar prediksiku. Makanya saat Daniel mengusir meta, saya langsung menginterogasi meta, dan kamu tahu Meta mengakui dia sangat membenci kamu karena dulu kamu idola, dia marah karena cowok-cowok lebih memilih kamu, salahnya pak Daniel hanya dia percayakan untuk mengundang teman-teman kalian semua sama meta" Lalu Dodo diam sejenak.
"waktu mereka bertemu dan membicarakan ini saya juga ikut kok" lalu Dodo diam lagi karena Sinta tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
__ADS_1
Sinta terlihat sudah sangat pasrah dan ikhlas dengan semua keadaan ini. Dia juga terlihat tidak berusaha membela diri. penjelasan Dodo juga sepertinya sudah tidak mempan.
"maaf Sinta, saya sendiri baru tahu kalau kamu adalah mantan istri pak Daniel tadi malam" cerita Dodo berusaha mencairkan kebekuan hati Yasinta.