
Hai readers, jangan lupa like n koment ya. terimakasih.
I LOVE YOU ALL
Setelah gagal membujuk Bram, Daniel dan Dodo memutuskan pulang, karena ini sudah sore bahkan malam.
Besok paginya Yasinta bangun pagi seperti biasa. Sebenarnya dia masih ingin tidur sekarang, apalagi kalau mengingat kantor sudah terbayang wajah Daniel, wajah orang yang ingin dia hindari sekarang.
Tapi Yasinta kembali harus semangat kalau ingat wajah anak-anaknya.
'aku ngga boleh kalah dengan masalah, aku harus menang. berdoa aja Daniel mengizinkan aku balik ke pabrik' batin Sinta, lalu segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Tapi kepalanya tetap aja agak berat.
'mungkin karena aku terlalu banyak beban terus kurang tidur' batin Yasinta
Sekitar tiga puluh menit berikutnya Yasinta berangkat ke kantor dengan motornya.
Sementara dirumah Daniel sudah terlihat Dodo sang asisten dan juga supir Daniel didepan.
Hari ini Daniel janjian untuk ketemu langsung dengan orang suruhannya.
"do, semua jadwalku atur ulang dulu yang pagi sampai siang, kalau yang sore lihat keadaan, nanti aku kabarin"
"baik pak, tapi bapak mau kemana",
"Saya ada urusan dulu, saya pergi sama supir aja, kamu handle kantor aja"
"oh iya pak, tapi...." Dodo terlihat bingung menyampaikan
"tapi apa do"
"kemarin Yasinta bilang ingin ketemu bapak, kalau boleh dan ngga kena finalty dia ingin kembali ke pabrik pak, kalaupun kena finalty kalau bisa katanya dipotong gaji dia tiap bulan di pabrik"
"apaaaa" pikiran Daniel jadi tambah ruwet. kenapa Yasinta menghindarinya, dan apa katanya tadi mencicil finalty itu dengan memotong gajinya di pabrik. Bisa sampai tua dia ngga kelar-kelar, pikir Daniel.
"iya pak, tapi semua keputusan ada ditangan bapak"
"huhhhh masalah yang satu belum ketemu titik terang nambah lagi masalah lain" ucap Daniel menerawang ke depan.
Dodo hanya diam karena dia bingung mau nanggapi gimana.
__ADS_1
"Nanti aja kita bahas, saya mau pergi dulu sama supir, kamu ke kantor sama pak Amir aja, tapi nanti dia langsung suruh pulang, soalnya om ingin check up ke dokter, dia hanya mau sama Amir" jelas Daniel
"baik pak, terus kalau ditanya sama Yasinta harus gimana pak"
"nanti saya ke kantor"
"baik pak, kalau begitu saya juga pamit" ucap Dodo sambil berbalik menuju mobil dan berlalu dari rumah mewah Daniel.
Tidak sampai setengah jam pak Dodo sudah sampai di kantor.
"pagi pak Dodo" ucap Nana dan Sinta hampir berbarengan.
"pagi, Nana pak Daniel siang baru ke kantor, apa ada yang urgent"
'hahhh berarti saya kayaknya tidak bisa ketemu dia donk' batin yasinta.
"kalau siang pak Daniel ke kantor ngga apa-apa pak, mereka menunggu kita sampai sore, yaitu dari PT Giona, yaitu suplier bahan kita di kota B"
"ohhh ok, Sinta kamu ikut dulu ke ruangan saya"
"baik pak" ucap Sinta sambil membungkuk.
"silahkan duduk Sinta" ucap Dodo menunjuk sofa diruangannya sambil dia duduk di kursinya.
"terimakasih pak"
"tidak usah terlalu formal" ucap Dodo bangkit mendekati Sinta di sofa.
"oh ya Sinta, mengenai permintaanmu kemarin, saya sudah sampaikan sama pak Daniel kalau kamu ingin kembali ke pabrik. Tapi beliau bilang ingin bicara dulu sama kamu, jadi tunggu beliau ke kantor"
"kira-kira pak Daniel setuju ngga ya pak" tanya Yasinta polos
"kalau itu aku kurang tahu Sinta, kita kan ngga tahu isi hati seseorang. Saya lihat sih pak Daniel lumayan terkejut, tapi hanya sebentar, terus biasa aja ngga koment apa-apa"
"ohhh ya sudah pak, terimakasih ya pak Dodo, bapak sudah membantu saya"
"sama-sama Sinta, saya hanya bisa membantu semampu saya"
"iya pak terimakasih banyak, kalau begitu saya pamit dulu pak" Sinta bangkit berdiri
__ADS_1
"Sinta, bagaimana seandainya pak Daniel ingin bertemu anak-anaknya" tanya Dodo menebak pasti nantinya bosnya ingin ketemu dengan anak-anak Sinta. Sinta terdiam sejenak, tidak tahu harus jawab apa.
"saya tidak mau berandai-andai pak, saya realistis aja. sekarang saya hanya mau bekerja dan cari uang untuk anak-anak saya"
"tapi Sinta biar bagaimanapun mereka adalah darah daging pak Daniel" ucap Dodo pelan. Terlihat Sinta menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya.
"iyahhhh benar pak, itu yang paling berat. aku tahu mereka berhak tahu ayahnya begitu pun sebaliknya, tapi aku juga seorang anak, aku harus melindungi dan menjaga papiku. Aku tahu Daniel sangat benci papi, dan aku tidak mau ada orang yang menghina papiku lagi, termasuk pak Daniel, intinya aku tidak ingin lagi papiku terbebani dengan perpisahan ku dengan Daniel."
Dodo terlihat mendengar dengan seksama ucapan Yasinta. Pasti berat memang, karena biar bagaimana pun hubungan mereka dulu kandas karena papinya Yasinta. Dan sekarang papinya sedang posisi dibawah. Dan mungkin saja Daniel akan merasa diatas angin. Yasinta sangat menyayangi papinya sekalipun papinya pernah salah mengambil keputusan, dia tidak mau papinya terluka. Dia sudah bertekad bahwa boleh pernikahannya dengan Daniel hancur tapi dia ngga mau hati papinya hancur lagi, semua sudah berlalu.....
"baiklah Sinta, saya tidak bisa berkata apa-apa juga, karena memang kamu yang merasakan dan menjalani semuannya. Yang pasti apa yang menurut kamu terbaik saya juga mendukung kamu semampu saya, karena kamu juga tahu saya tidak mungkin membantah pak Daniel"
"iya pak" ucapnya lemah sambil bangkit berdiri. Tapi tiba-tiba kepalanya pusing banget. Sinta masih mencoba melangkah keluar walaupun pusing, tapi begitu sampai pintu sudah tidak sanggup.
"kamu tidak apa-apa sin"
"Ti ..dak apa-apa pak" tapi jalanya terlihat sudah tidak seimbang dan. ..
braaakkk
Sinta jatuh dan tidak sadarkan diri. Dodo yang baru duduk di kursinya kaget melihat Yasinta sudah tergeletak dilantai.karena pintu ruangannya masih terbuka lebar.
"Sinta" teriak Dodo. Nana yang tadinya sedang fokus bekerja juga berlari menuju Yasinta setelah mendengar teriakan Dodo.
"tolongin Nana, panggil supir, bawa ke rumah sakit," karena kantornya baru jadi klinik perusahaan belum beroperasi. Masih bangunan fisiknya doank.
"baik pak"
"Sinta" Dodo menepuk-nepuk pipinya Yasinta. Tapi tidak ada reaksi, dia tetap membisu dengan mata tertutup.
'Pasti Yasinta kecapean dan akhirnya pingsan'batin Dodo.
Tidak berapa lama salah satu security dan supir masuk keruangan itu.
"tolong pak, kita bawa ke rumah sakit" ucap Dodo
Lalu mereka berdua membopong tubuh Sinta, Mereka turun dengan lift khuhus direksi. dengan lift khusus direksi karena ada sidik jari Dodo.
Sampai dibawah mobil sudah menunggu di lobby. Mereka membawa Yasinta dengan mobil operasional perusahaan.
__ADS_1
Sampai dirumah sakit Yasinta langsung dibawa ke IGD dan langsung ditangani oleh dokter.