CINTA DIBALUT DENDAM

CINTA DIBALUT DENDAM
EPISODE 17 MASIH FLASHBACK


__ADS_3

Hai readers yang baik, jangan lupa tinggalkan like, vote dan comentnya ya. terimakasih.


I LOVE YOU ALL🙏🤗


Setelah bertengkar dengan ayahnya pikiran Yasinta benar-benar kacau. Ini pertama kali dia melawan atau berdebat dengan orang tuannya separah ini. Tapi dia juga benar-benar tidak mau kehilangan Daniel, sudah terlalu banyak suka duka hubungannya dengan Daniel, dan sekarang saat mereka sudah saling mengerti dan mulai membangun mimpi, papinya akan memutuskan begitu aja.


"Iyas, kamu mau kemana" tanya Daniel lembut saat Yasinta mulai keluar dari rumahnya.


"saya lagi ingin sendiri kak, saya rasanya ingin hilang aja dari dunia ini" ucapnya sudah berurai airmata.


"Iyas kenapa kamu jadi rapuh begini, mana iyasku yang selalu tegar menghadapi masalah, bahkan saat menghadapi saingannya" ucap Daniel menguatkan Yasinta.


"aku ngga tahu kak, aku ngga tahu" ucap Yasinta sudah jatuh dipelukan Daniel. Daniel tahu saat ini Yasinta benar-benar rapuh, dia dapat merasakan itu saat Yasinta memberikan dirinya dipeluk erat Daniel, sebelumnya selain ada moment-moment tertentu tidak gampang bagi Daniel memeluk Yasinta.


"Sinta masuk, dan kamu Daniel pulang sana" ucap pak Yusuf berdiri di pintu rumahnya sementara Daniel dan Yasinta ada dekat pintu gerbang.


"maaf om, tapi saya tidak bisa meninggalkan Yasinta lagi begini" ucap Daniel sopan


"hehhh gayamu, memang siapa kamu, aku yang lebih tahu putriku, biarkan dia, kamu bukan siapa-siapa dia lagi, kalian putus, kami masih bisa mengurus dia" ucap Yusuf sengit.


Mendengar omongan papinya Yasinta yang tadinya sedang ada dipelukan Daniel menggeliat dan menatap papinya.


"papi jahat, papi sudah berubah" ucap Yasinta sambil menangis dan hendak berlari keluar.


"pak, jangan kasih dia keluar" ucap papinya sama pak satpam yang berjaga di gerbang depan.


"papi tolong jangan begini sama Iyas Pi, dia juga manusia masa dikurung" ucap Daniel berusaha memohon.


"aku sudah bilang kamu pulang" teriak pak Yusuf sama Daniel. Daniel jadi bingung, sebenarnya kalau mengikuti egonya dia akan segera berlalu dari tempat ini, tapi gimana dengan Yasinta, dia masih terguncang, Daniel ingin selalu menemani Yasinta dalam keadaan apapun. Daniel merasa lebih baik dia yang menderita daripada melihat Yasinta sedih dan menangis.


"Iyas, kamu masuk dulu, besok kita bicarakan lagi ya, aku pulang dulu" bujuk Daniel


"hmmm" ucap Yasinta mengangguk


"nanti aku hubungi ya" ucap Daniel


"hmmm" Yasinta kembali mengangguk


Lalu Daniel berlalu dan menaiki motornya dan berlalu dari rumah Yasinta dengan galau.


Sementara Yasinta masih bengong ditempatnya berdiri dengan berurai air mata. Pak Yusuf juga tidak memaksa Yasinta untuk masuk, dia hanya berpesan sama satpam agar jangan sampai Yasinta keluar rumah.

__ADS_1


Lebih dua jam Yasinta duduk menangis diteras rumahnya. Tapi tetap dia tidak menemukan jalan keluar yang memungkinkan bagi hubungan dia dan Daniel. Karena terlalu cape menangis Yasinta ingin istirahat dikamarnya.


Tapi saat dia ingin masuk ke kamarnya dilantai atas sayup-sayup Yasinta mendengar papinya lagi teleponan diteras samping rumah. Dia tidak tahu apa maminya juga ada disana.


"iya pak, iya pak, terimakasih banyak lho pak" suara pak Yusuf lalu diam sejenak karena Yasinta ngga dengar suara orang disebrang.


"iya pak pasti, anakku orangnya baik, pasti nanti dia bisa menyesuaikan diri. dia juga gampang kok bergaul" suara pak Yusuf lagi


"iya pak saya usahakan secepatnya, saya harus pisahkan dulu dia dengan pacarnya itu" jelas banget Yasinta mendengarnya.


"kasih waktu dua Minggu sampai sebulan lah pak" suara pak Yusuf lagi.


"iya pak, iya, saya juga ingin secepatnya supaya proyek saya bisa jalan lagi"


"baik pak"


Yasinta semakin sedih mendengar pembicaraan papinya ditelepon tadi. Papinya ternyata sudah merencanakan semuannya, dia akan memisahkan aku sama Daniel.


'Ya Tuhan kenapa harus begini, kenapa seberat ini' batin Yasinta seolah-olah dunia kurang adil baginya. Papi yang sangat dia sayangi dan menyayanginya tega memisahkan dia dari orang yang dia cintai.


Mata Yasinta sudah bengkak karena menangis sepanjang waktu, dia belum mandi sore bahkan hari sudah malam. Seharian dia belum makan hanya es coklat tadi siang dengan sepotong roti waktu dicafe sama Daniel.


tok tok tok


ceklek


Yasinta mendengar pintunya dibuka, tapi tidak juga membuatnya beranjak dan melihat siapa yang masuk.


"sin" ucap maminya lembut


Sinta tidak menoleh sedikitpun, dia tetap seperti posisi semula.


"sin, kamu belum mandi" tanya maminya lembut, tetap tidak membuat Yasinta bergeming.


"sin, aku tahu kamu marah dan ngga bisa putus sama Daniel. tapi coba kamu pikir, itu buat membantu papimu nak. Lagian nanti kamu disayang banget sama mertuamu, aku yakin lama-lama kamu sama Fariz juga saling mencintai. Fariz itu jadi bandel karena mantan istrinya, makanya ayahnya menginginkan kamu jadi menantunya" tutur maminya panjang lebar.


'mantan istri, berarti dia duda' batin Yasinta tambah menangis.


"coba kamu pikirkan lagi ya nak, demi papi dan perusahaan juga, dan ini demi keluarga kita juga" ucap maminya sambil mengusap kepala Yasinta.


Yasinta makin menangis, malah sekarang maminya sudah mendengar Isak tangisnya. Tapi maminya juga ngga bisa berbuat apa-apa sekarang, karena nilai hutang suaminya sangat besar.

__ADS_1


"Sin, apa pun nanti masalahnya setidak jangan siksa dirimu nak, kamu harus makan" bujuk maminya.


Sinta masih betah diam, cobaan kali ini terlalu berat menurutnya.


"ya sudah nak, mami keluar ya, kalau kamu mau bicara mami ada dibawah" ucap maminya sambil mengusap kepalanya lagi dan keluar dari kamar Yasinta.


Sepeninggal maminya tangis Yasinta pecah di kamarnya.


"Kenapa harus begini, aku ngga mau putus sama Daniel, aku mencintai Daniel" ucapnya histeris.


Tapi tadi papi hanya punya waktu sebulan paling lama, aku harus bagaimana, aku harus melakukan sesuatu. aku ngga mau menikah dengan pria itu, sudah duda lagi, pikir Yasinta.


'mungkin satu-satunya cara, aku harus menikah sama Daniel secepatnya' batin Yasinta yakin


Lalu Yasinta mengunci pintu kamarnya, lalu dia telepon Daniel.


dddrrrtt ddrrrt ddrrrt


"halo Iyas"


"kak dan, bantu aku" ucapnya masih terisak


"iya iya pasti aku bantu, aku harus apa Iyas, kamu jangan menangis lagi" ucap Daniel


"kita harus menikah, kita harus jauh dulu dari keluargaku. papi dalam dua Minggu ini akan memisahkan hubungan kita, aku ngga mau itu, aku akan keluar dari rumah ini kak," ucap Yasinta buru-buru yang membuat Daniel disebrang sampai kaget karena terus terang dia belum berpikir untuk menikah walaupun dia sangat serius dengan Yasinta.


"tapi Iyas"


"tapi apa kak, kak Daniel ngga mau menikahi ku, lalu aku harus menikah dengan duda kaya itu gitu kak" ucap Yasinta marah.


"nggak nggak Iyas, maksud kakak selama ini kita kan belum pernah bicara pernikahan, jadi ini cukup membuat kakak kaget. gimana kalau ini kita bicarakan serius empat mata, jangan lewat telepon, besok kita bicara dikampus ya"


"aku ngga tahu apa aku masih bisa keluar kak" ucap Yasinta menghapus airmatanya.


"gini, kamu jangan terlalu terlihat memberontak ok, biar papi izinin kamu keluar seperti biasa"


"kalau tetap ngga bisa gimana kak"


"kita cari cara lain"


"baik kak"

__ADS_1


"sekarang kamu tidur ya, jangan mikirin apa pun biar aku yang mikirin iya" bujuk Daniel.


Akhirnya Yasinta sedikit lega, semoga niatnya ini jalan terbaik, pikir Yasinta.


__ADS_2