
Setelah mendengar penjelasan Bram hati maminya Cyntia sangat gundah.
'Ternyata suamiku meninggal karena ingin menyelamatkan putrinya'
'apa yang telah aku lakukan, bagaimana jika Daniel memberikan video itu ke publik'
'kenapa aku percaya begitu saja sama cyntia'
'aku harus menuntaskan ini' batin maminya Cyntia.
Malam harinya dia tidak bicara sama Cyntia, dia langsung tidur. Dia takut tidak bisa menahan diri lalu memarahi anaknya juga.
Besok paginya begitu bangun, dia ingin berbicara dengan pak Riadi. Dia ingin minta maaf sekaligus mewakili Cyntia dan almarhum suaminya.
"Bram, tolong hubungi pak Riadi, saya ingin bicara walaupun hanya lewat telepon"
"baik nyonya"
dddrrrt dddrrrt
"hallo"
"hallo, selamat pagi pak Riadi, apa kabar"?
"aku baik, disana gimana Bram, semua baik-baik aja kan pasca kepergian Indriawan"
"iya pak"
"oh iya Bram, kemarin nyonya Indriawan ke kantor Daniel lagi, terus terang saya dan Daniel sangat terganggu Bram, apa lagi kami lagi sibuk mengatur syukuran Daniel dan istrinya"
"iya pak, kami mohon maaf untuk itu, saya juga baru dengar dari nyonya, mungkin nyonya hanya dengar satu pihak"
"iya Bram, saya cukup menyayangkan itu, tapi juga saya ingin tidak ada kejadian ini lain kali. Saya minta maaf, kalau suatu saat Cyntia bikin ulah lagi saya akan bertindak, karena biar bagaimanapun saya tidak mau anak dan cucu saya hancur"
"iya pak Riadi, sekali lagi tolong maafkan nona Cyntia"
"hmmmm terus ini ada apa, pasti kamu tadi telepon saya punya tujuan kan"?
"iya pak, ini nyonya Indriawan sebenarnya ingin ketemu dengan pak Riadi"
"ohhhh begitu, tapi maaf Bram dalam dua hari ini saya tidak bisa, karena dirumah akan ada syukuran untuk Daniel dan cucuku"
"ohhh begitu ya pak"
"iya Bram, paling saya bisanya Minggu depan"
"ohhh begitu, Minggu depan nyonya rencananya sudah pulang pak"
"ya sudah lain kali saja, masih banyak waktu kan"
"baik pak, nanti coba saya kasih tahu nyonya dulu"
__ADS_1
"ohh iya, boleh"
"tapi seandainya nyonya ingin bicara lewat telepon bagaimana ya pak"
"ohhh begitu, silahkan saja"
"baik pak, terimakasih"
Lalu Bram menemui nyonya ya diruang kerja suaminya bersama Cyntia.
tok tok tok
"masuk"
"permisi Bu"
"iya Bram, gimana" ucapnya dengan aura kepemimpinannya.
"iya nyonya, mungkin untuk bertemu baru bisa Minggu depan, tapi kalau nyonya ingin bicara lewat telepon, boleh katanya"
"ohhh begitu, ya sudah nanti aja saya telepon, kamu duduk dulu Bram"
"baik nyonya" Bram duduk disofa ruangan itu.
"Bram, saya sudah bicara dengan pengacara bapak, dan sudah dijelaskan semuanya. Termasuk keinginan bapak"
"maksudnya nyonya" tanya Bram sementara Cyntia hanya diam.
"begini, besok lusa saya sudah pulang, jadi saya titip Cyntia sama kamu. tolong kamu bimbing dia untuk jadi pemimpin perusahaan. Selagi dia belum bisa maka kamulah yang dipercayakan oleh bapak. Tolong jangan kecewakan almarhum, apapun caranya Cyntia harus bekerja diperusahaan"
Beda lagi dengan Cyntia, dia tidak ingin bekerja. Dia tidak ingin punya tanggung jawab.
"mom, mami kan tahu aku ngga suka kerja di kantor Daddy" ucapnya, membuat maminya terpancing emosi, dan wajahnya sudah berubah sangat serius menatap Cyntia.
"terus yang kamu suka kerja dimana" tanyanya pelan namun penuh tekanan, dan pertanyaan itu yang tidak bisa dijawab Cyntia karena dia tidak ingin bekerja dan memiliki tanggung jawab.
"mom" rengek Cyntia
Tapi maminya sudah sangat emosi dari kemarin setelah mengetahui pergaulan Cyntia.
"jawab pertanyaan mami, kamu suka kerja dimana",ucapnya makin serius dan terlihat tidak sedang mode becanda.
"iya..iya.. Cyntia belum bisa tentukan mi mau kerja dimana, Cyntia ingin santai dulu" ucapnya takut-takut, dan benar aja maminya langsung berang mendengar jawaban Cyntia.
"santai kamu bilang, santai dulu, sudah berapa usiamu? lulusan mana kamu"? ucapnya memukul meja dan berdiri hendak kekursi suaminya.
"pokoknya Cyntia belum mau kerja" jawabnya ingin beranjak, biasanya maminya akan mengalah dan membujuknya serta akhirnya memberi kelonggaran. Tapi baru berdiri, belum melangkah maminya sudah memberikan peringatan keras yang diucapkan dengan pelan.
"baik kalau begitu, pergi dari rumah ini. Santailah sepuasmu, jalani pergaulan bebasmu. Jangan membawa fasilitas apapun. Bram bawa dia keluar dari rumah ini sekarang dengan hanya baju dibadannya, pastikan semua barang dari rumah ini dan fasilitasnya tidak ada yang kebawa", ucap maminya santai ke arah bram lalu kembali duduk tanpa melihat Cyntia lagi.
Bram kaget dengan perkataan nyonyanya. Biasanya nyonya akan langsung luluh saat putri kesayangannya ini pura-pura merajuk, tapi ini apa tadi, suruh pergi dengan hanya baju di badan. Benar-benar diluar nalar Bram yang sudah lama ikut pak Indriawan.
__ADS_1
"mami tega melihat aku jadi gelandangan" tanya Cyntia sinis, tapi dibalas tatapan lebih sinis oleh maminya walaupun sejujurnya hatinya menangis pilu.
"kenapa tidak, kamu sendiri sudah menaruh kotoran paling bau dikepala mami, dan kamulah penyebab Daddy meninggal. Perbuatanmu telah membuat Daddy pergi secepat itu. Lalu kamu pikir, apa aku harus tidak tega melihatmu sengsara sementara kamu sendiri tidak mau diajak hidup enak" ucap maminya datar tapi sudah meneteskan airmata
"mami akan menyesal" teriak Cyntia keras kepala
"mami tidak akan menyesal. Kenapa mami menyesal, kamu telah membuat Daddy meninggal, kamu membuat aku tidak punya muka dihadapan orang-orang sekitarku dengan perilakumu, lalu apa yang harus mami sesali, mami sudah kehilangan semuanya" ucapnya berlalu dari tempat itu sambil menangis.
Bram yang bingung dengan sikap nyonyanya kali ini masih terpaku ditempatnya.
"Sebaiknya nona minta maaf sama nyonya sebelum semuanya terlambat" ucap Bram juga penuh ancaman.
"diam kamu"
"Sekarang saya akan diam, tapi ingat nona, Saya setia bekerja disini bertahun-tahun karena kebaikan pak Indriawan, kalau karena nona saya yakin nggada yang betah, dan sekarang nyonya sudah mempercayakan anda belajar tentang perusahaan sama saya, jadi anda harus patuh sama saya dan jika anda ingin diajarin jangan sok membangkang, saya tidak suka" ucap Bram berlalu juga dari ruangan itu.
"ahhhhhh" teriak Cyntia menggaruk kepalanya.
Bram yang keluar dari ruang kerja pak Indriawan langsung turun kebawah mencari nyonya yang ternyata sedang duduk ditaman samping sambil menangis.
"maaf nyonya, apa ini tidak terlalu keras untuk nona Cyntia"
"tidak Bram, dia harus dikerasin, aku sudah salah selama ini. terlalu memanjakannya sehingga kepalaku pun diinjak olehnya"
"terus, bagaimana kalau nona nekat nyonya"
"biarkan aja Bram, dia sudah terlalu bebas"
"baik nyonya"
Dan saat mereka sedang berbincang datang Cyntia dengan tas ditangannya.
"Aku akan pergi dari rumah ini, ini kunci mobil dan kartu kredit" ucap Cyntia sombong.
'Ternyata kamu memang ngga tahu diri cyntia' batin maminya.
"Bram, ambil tas itu dan isinya, itu semua bukan haknya, bukan hasil jerih payahnya" ucap maminya tanpa melihat Cyntia.
"mom, ini milik pribadiku, jangan ambil atmku" ucapnya saat Bram mengambil tas itu dan mengeluarkan semua isinya.
"kamu tidak bekerja darimana dapat duit" ucap maminya berlalu dengan sedih. Sementara Bram ingin berlalu dengan membawa tas itu.
"terus aku harus kemana gada ongkos Bram"
"bukan urusan saya nona, anda dengar sendiri tadi kan"
"uhhhhhhh" teriaknya frustasi
"Jadi orang, berusahalah menyenangkan orang lain nona, apalagi itu orang tuamu yang selalu memberikan yang terbaik untukmu, jangan sampai nona menyesal saat kedua orang tuamu telah tiada", ucap Bram membuat Cyntia seperti tersentak.
Halo, terimakasih untuk mengikuti kisahnya.
__ADS_1
Terimakasih untuk like dan comentnya
I LOVE YOU ALL 🙏🤗