
"Maaf pak Daniel, saya sudah menyampaikan semuannya kemarin sama bapak, saya mohon pengertian bapak sedikit saja untuk kami yang lemah. Mungkin bagi bapak tidak akan berdampak apa-apa, tapi bagiku hidupku serasa naik roalcoaster pak, jantung tidak bisa tenang. Dan saya tidak mau itu, sekarang saya harus bisa mengambil keputusan yang tidak mengganggu hidup anak-anak saya dan juga papi saya"
"maaf nak Sinta, bukanya om mau bela Daniel, tapi disini Daniel melakukan itu juga karena dia tidak tahu yang sebenarnya terjadi, dan sekarang dia ingin memperbaikinya"
Yasinta tahu papinya lagi tertekan, dia harus pasang badan untuk papinya. Apapun yang terjadi dia tidak boleh membiarkan papinya tersakiti dimasa tuannya.
"Maaf om, dalam hidup ini sudah terlalu banyak yang saya lewati, banyak pelajaran yang saya dapat juga. Tidak semua niat baik kita dinilai baik oleh orang yang berbeda. Saya tahu pak Daniel bukan orang jahat tapi bukan berarti juga orang-orang yang berada disekitar pak Daniel bisa menerima semua masa lalunya"
"sin, aku ...."
"mama kakek, we coming" ucap anak Yasinta yang baru pulang dari sekolah. Sontak mereka semua menatap kedua bocah lucu yang baru pulang sekolah tersebut, mereka masih keringatan dengan tas rangsel masing-masing dipunggung.
Om Riadi sampai sesak terharu melihat kedua bocah yang baru masuk itu, dia yakin itu adalah kedua cucunya. Daniel juga sangat terharu, tapi dia merasa tidak asing dengan wajah kedua anak ini.
'pernah lihat dimana ya' batinya sepintas
"gimana sekolahnya" tanya Yasinta saat anaknya Salim tangan
"ITS eazy mama, kita sangat pintar" ucap Loan sambil menatap Leon
"gampil ma pelajarannya" dukung Leon sambil kedua anak itu melakukan toz.
Mereka semua yang diruangan itu sangat terhibur dengan tingkah sikembar, tapi tidak bagi Daniel, dia sangat sedih melihat anaknya sudah sebesar ini tapi baru dia ketahui.
"kakek kok sedih" tanya Loan menatap pak Yusuf intens saat mereka Salim seperti biasa pulang sekolah.
"ngga sayang kakek ngga sedih, kecuali Loan bandel kakek baru sedih."
"janji kek, Loan dan Leon tidak akan bandel, betul Leon" ucap Loan berjanji deidepan kakeknya dengan mengangkat dua jari seperti huruf v.
"asiap kembarku" dukung Leon. Lalu pak Yusuf mengusap kepala mereka bergantian sambil malah meneteskan air mata.
__ADS_1
"oh iya anak-anak mama yang ganteng, kasih salam donk sama om Dodo dan kakek ini dan pak Daniel bos mama" ucap Yasinta sambil menunjuk mereka satu-satu karena Dodo yang tadinya duduk diteras kini bergabung melihat kedatangan sikembar.
Sementara hati Daniel agak sakit mendengar Yasinta memperkenalkannya sebagai bosnya saja bukan sebagai ayah mereka.
"halo om ganteng namaku Loan, nama om siapa"
"halo boy, ini om Dodo"
"aku Leon om" diikuti Leon dibelakang Loan
"hallo kakek, namaku Loan, ini adekku Leon, kami senang ketemu kakek" ucap Loan sambil memegang tangan Leon, membuat om Riadi sedih sampai menitikkan airmata melihat kelucuan cucu-cucunya walaupun mereka hidup sederhana.
"sini sayang, cucu-cucu kakek, kalian sudah bikin kakek sangat senang dan bahagia"
"bahagia bukanya tersenyum kek, kok malah menangis" tanya Loan membuat semua orang ikut menitikkan airmata haru.
"kakek sangat terharu nakkkk" ucap kakeknya
"apa mama bahagia juga seperti kakek ini, kok jadi pada menangis ya, Loan apa dunia sudah terbalik" ucap Leon sama Loan
"iya kali Leon, mungkin orang dewasa begitu kali, kita kan masih kecil" ucap mereka satu sama lain seolah didunia lain lalu beralih ke Daniel.
"Halo pak, namaku Loan, bapak hebat ya, jadi bos. kalau besar nanti aku ingin seperti bapak, menjadi bos perusahaan mama" ucap Loan membuat Daniel ingin menangis dan berteriak bilang bahwa dia akan jadi bos besar diperusahaan mereka.
"Tapi jangan suka marahin mama kita ya pak, kita mohon banget" ucap Leon dengan meletakkan kedua tangannya didada, membuat hati Daniel makin remuk redam bertubi-tubi.
Dia hanya bisa mengangguk mengiyakan pernyataan kedua buah hatinya, walau hatinya sebenarnya tidak terima dengan pernyataan anak-anaknya. Hatinya sangat sakit mendengar kedua buah hatinya memohon kepadanya supaya tidak memarahi ibu mereka.
"janji ya om" ucap mereka barengan menyodorkan jari kelingkingnya.
"janji" ucap Daniel sedih apalagi anak-anaknya kali ini memanggilnya om.
__ADS_1
"mama dengarkan, bosnya mama ini sangat baik, pasti mama tidak akan dimarah-marah, jadi nanti mama bisa kerja bagus, terus gajian, terus kita ....." teriak Loan dia gantung, terus disambung oleh leon " kita jalan-jalan ke kebun binatang" ucap Leon girang.
"asyik-asyik" ucap mereka berdua berjoget melihat yang disana menahan tawa kecuali Daniel lagi.
Daniel merasa menjadi laki-laki paling tidak berguna dalam hidupnya, bahkan hanya untuk jalan-jalan ke kebun binatang mereka harus nunggu Yasinta gajian. Hatinya ingin menangis sekeras-kerasnya.
"Anak-anak sekarang ganti baju dulu ya, terus ditemani Bu Imah makan, mama sama kakek sedang ada yang dibicarakan"
"ok mama, asiap mama" ucap keduanya, lalu langsung menurunkan tas mereka dan menggantungnya dipaku yang telah disediakan didekat meja belajar mereka dipojok ruangan. Lalu keduanya membuka kaos kaki dan menaruhnya disepatu masing-masing, lalu meletakkan sepatu mereka dirak sepatu belakang pintu. Lalu keduanya masuk kamar dan ganti baju rumah yang kembar walau bahanya sangat sederhana, bahkan mungkin pembantu Daniel pakaiannya lebih bagus.
Kembali hati Daniel teriris melihat pakaian kedua anaknya. Selama proses itu orang-orang yang diruang tamu diam dengan pikiran masing-masing sampai Dodo membisikkan sesuatu ke kuping Daniel.
"anak-anak ini dulu anak-anak yang kita temui saat pulang sekolah pak, waktu pertamakali kita ke pabrik, yang begitu bapak sapa mereka langsung lari" bisik Dodo mengingatkan.
"ohhh iya iya, pantes aja tadi aku merasa tidak asing" Daniel manggut-manggut mengingat kejadian itu. Ternyata Tuhan sudah mempertemukan mereka dari lama tapi mereka tidak sadar. Ikatan batin itu memang sangat kuat, batin Daniel.
"neng Sinta juga makan dulu aja, kan masih harus minum vitamin" bi Imah mengingatkan
"iya mama ayo makan dulu, nanti mama sakit lagi" tarik Leon
"iya nak Sinta makan dulu lalu minum obat Jangan terlewat, nanti malah sakit"
"iya om, Pi Sinta makan duluan ya" ucap Yasinta ke pak Yusuf, suasana diruangan ini benar-benar kaku. Semua orang bingung untuk memulai pembicaraan.
Lalu Sinta dan kedua anaknya duduk di karpet lusuh yang digelar bi Imah dilantai dekat pintu dapur. Terlihat bi Imah menyajikan makanan dengan lauk seadanya ada telor dan sayur bayam bening kesukaan Yasinta akhir-akhir ini.
Melihat itu lagi-lagi hati Daniel menangis, anaknya makan hanya dengan lauk seadanya jauh dari kata empat sehat lima sempurna. Sementara Daniel makan siang dan makan malam saja direstoran mewah yang berbeda yang harganya bahkan sama dengan gaji Yasinta sebulan.
'apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku pada kalian'
Hai hai hai selalu like dan coment ya. terimakasih.
__ADS_1
I LOVE YOU ALL🙏🤗